Ibr 6:11-12 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.
Bagi orang yang bekerja, ada tiga kemungkinan sikap yang diambilnya. Kemungkinan pertama adalah melakukan apa yang diharapkan untuk dikerjakan. Ini sikap yang paling banyak diambil; praktis semua karyawan melakukan hal demikian. Orang yang mengambil sikap ini tergantung pada pihak lain untuk menentukan apa yang harus dikerjakannya. Berkualitas adalah memenuhi harapan pihak lain sesuai dengan apa yang sudah disepakati. Dalam sikap ini juga muncul arti dari kata 'patuh' atau 'taat', berkaitan dengan kesesuaian antara perilaku dengan tuntutan pihak lain.
Kemungkinan kedua adalah mengerjakan untuk mencapai suatu tujuan, mengejar mimpi dan harapannya sendiri. Ini sikap para wirausaha, mereka tidak bergantung kepada orang lain untuk menentukan apa yang perlu dikerjakan. Bagi orang yang mengejar harapan ini, bahkan mereka tidak bersedia dibatasi, tidak mau dihalangi untuk mencapai tujuan mereka. Dikatakan bahwa tujuan menghalalkan cara, tanpa memikirkan konsekuensi moral dari tindakan yang diambil. Beberapa dapat menjadi pengubah dunia, sangat besar, sangat kuat dan mempengaruhi semua orang. Beberapa lainnya menjadi perusak, menghancurkan, menimbulkan banyak sekali kematian.
Kemungkinan ketiga adalah mereka yang tidak memikirkan apa yang mereka kerjakan. Mereka berjalan ketika diperintahkan, bergerak ketika disuruh. Mereka tidak berpikir tentang apa yang mereka lakukan, mereka berhenti bekerja saat tidak ada pengawas. Atau, mereka mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, bahkan pada saat seharusnya mereka berubah dalam cara kerja atau berubah tujuan. Mereka tidak tahu sedang memenuhi harapan siapa atau standar apa yang perlu dicapai; hidup adalah duduk dan bernafas serta merasakan, bukan berpikir.
Nah, jika itu adalah sikap dalam bekerja, maka hal serupa juga terjadi dalam urusan iman beriman. Orang bisa menjadi beriman demi memenuhi harapan pihak lain -- harapan orang tua, harapan guru, harapan lingkungan. Orang tampil sebagai 'orang saleh' demi dilihat oleh orang lain di sekelilingnya. Beriman, atau beragama, menjadi pokok identitas, di mana yang penting adalah penilaian orang lain. Lalu, ada lagi orang yang beriman karena hatinya tergerak untuk mencapai sesuatu, mewujudkan sesuatu. Inilah orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk menjadikan pengharapannya suatu milik yang pasti. Melihat apa yang dibayangkan menjadi kenyataan, suatu kepastian -- mencapai apa yang ingin didapat, antara lain masuk ke dalam Surga serta menikmati segala sesuatu di dalamnya.
Urusan tentang mencapai keinginan sendiri ini menjadi pelik, karena tujuan sendiri akan menuntut kekuatan diri sendiri. Kalau seseorang mau mencapai impiannya sendiri, ia tidak bisa mengharapkan tangan orang lain. Ia sendiri yang harus mencapainya. Saat tujuannya adalah keselamatan di dalam Tuhan, maka orang harus berusaha dengan segenap kemampuannya untuk benar dan selamat di hadapan Tuhan -- semua dengan kekuatannya sendiri. Di sisi lain, ketika seorang memenuhi harapan orang lain, mungkin saja terjadi yang dilakukannya adalah memenuhi keinginan atau tujuan pribadi orang lain, tapi dibungkus atas nama Tuhan karena orang lain itu punya pengaruh sebagai pemimpin.
Yang ketiga, orang bisa menjadi Kristen, atau menjadi beragama, tanpa memikirkan apa yang mereka percayai. Agama menjadi identitas, sesuatu label yang melekat begitu saja, tanpa konsekuensi. Mereka kebaktian karena sudah biasa dalam keluarga seperti itu, mereka tidak berpikir tentang Tuhan atau Surga atau neraka. Jika tidak ada yang mengawasi, mereka dapat berhenti percaya, atau sekedar melakukan hal yang sama, seperti berdoa, berulang-ulang tanpa memiliki pikiran apapun mengenai doa atau aktivitas agamawi itu. Mungkin, orang itu bersungguh-sungguh jadi wirausahawan, dan menaruh urusan iman di pinggiran hidupnya -- asal ada saja, iman tidak berpengaruh dalam hidupnya.
Pertanyaannya: kita bersungguh-sungguh untuk apa? Orang yang beriman mempunyai tujuan yang timbul dari harapan, yaitu bersatu dengan Tuhan. Esensi dari keselamatan adalah "sampai ke Bapa di Sorga", memperoleh kedamaian dengan berada di dekat-Nya. Namun, sampai sejauh mana kita mengerti tentang pengharapan itu, apalagi menjadikannya suatu milik yang pasti? Kalau kita bersungguh-sungguh dalam iman, maka acuan yang kita pakai bukanlah tentang memenuhi harapan orang lain (seperti, menjadikan gereja sebagai tempat yang mengasyikkan dan keren), juga bukan memenuhi tujuan yang kita buat sendiri. Acuan bagi kita adalah meneladani mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan oleh Allah. Pengharapan itu dijanjikan oleh Allah, bukan manusia. Kalau manusia yang membuat tujuan dan harapan, bagaimanapun pasti terbatas oleh kemanusiaan dan kedagingan. Entah itu adalah harapan orang lain atau dari diri sendiri, pasti tidak dapat melampaui dunia di sekitarnya.
Dalam bekerja, banyak orang yang melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan, tapi dalam hal iman, banyak yang tidak memikirkannya. Atau ada yang berambisi pribadi dalam membangun kepercayaan, malah menjadi pemimpin sekte dan membuat orang di sekitar mengkultuskan dirinya sebagai pemimpin tertinggi dalam agama. Orang yang tidak berpikir soal agamanya, dapat mengikuti apa saja, bahkan dapat mengikuti segala "apa yang baik" dari semua agama dan "yang penting melakukan hal yang baik" -- karena toh mereka tidak memikirkan soal pengharapan. Hidup adalah duduk dan bernafas serta merasakan, bukan mencari Allah -- kecuali kalau sudah kepepet dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, baru berdoa sebagai "solusi jalan keluar segala masalah".
Oh ayolah, seperti apakah Tuhan dalam pikiran kita?
Indahnya: TUHAN yang mengasihi kita, Dialah yang lebih dahulu merangkul kita dalam anugerah-Nya. Kita tidak memikirkan-Nya, tapi Dialah yang memikirkan dan mencari kita dan menunjukkan Diri pada kita. Kita berharap karena hal itu diberikan-Nya, dan usaha kita bukanlah untuk memperoleh harapan melainkan agar pengharapan itu menjadi suatu milik yang pasti. Itu yang membuat kita giat, yang mendorong kita untuk melangkah lebih jauh di dalam Tuhan. Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar