Efesus 6:21-24 Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu.
Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.
Akhirnya, semua perlu mengetahui. Hubungan yang benar-benar akrab tidak mungkin terjadi tanpa mengetahui keadaan yang sesungguhnya satu sama lain. Malah bisa dibilang, ukuran keakraban adalah sampai sejauh mana yang satu tahu yang lain, dengan sesungguhnya. Tidak ada rahasia. Tidak ada yang ditutupi.
Apakah pemimpin jemaat sungguh akrab dengan jemaatnya? Lihatlah, sejauh mana jemaat mengetahui keadaan si pemimpin. Sebaliknya, apakah pemimpin tahu keadaan jemaatnya? Lihatlah, sejauh mana pemimpin mengenal jemaatnya. Kebanyakan berpikir satu arah: pemimpin harus tahu soal jemaat. Kebanyakan orang mau diperhatikan oleh pemimpinnya. Tapi, apakah di arah sebaliknya terjadi pemahaman yang sama?
Mengetahui keadaan dan hal ihwal pemimpin bukan sekedar untuk melayani atau memberi sesuatu bagi si pemimpin. Bukan bermaksud mendorong jemaat tahu apa saja yang pemimpin butuhkan dan inginkan, agar dipenuhi mereka. Bukan! Sesungguhnya, mengenal keadaan dan hal ihwal pemimpin berarti meneruskan semangat dan kegairahan si pemimpin. Meneruskan apa yang menjadi hasrat, dan mengerti apa yang menjadi alasan si pemimpin untuk bertindak, bergerak, bahkan berkorban.
Seorang pemimpin mungkin telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. Banyak pemimpin jemaat kehilangan waktu bagi keluarganya, kehilangan kesehatannya, kehilangan kekayaannya. Menjadi Hamba Tuhan seperti mengambil jalan yang bertolak belakang dengan tujuan-tujuan duniawi, kehilangan kekayaan, harus masuk ke tempat terpencil, mengambil resiko kena penyakit menular, kelaparan, kedinginan.... untuk sesuatu yang tidak selalu jelas atau langsung terlihat.
Lihat saja Rasul Paulus, bukankah keadaan dan hal ihwalnya bukan jalur yang cemerlang dalam ukuran dunia? Dia kehilangan dukungan, malah sebaliknya diburu orang Farisi. Ia berkeliling ke daerah pedalaman, menemukan jemaat kecil di kota terpencil, mengalami sakit mata, mengalami penganiayaan.... ia melakukan semua itu dengan setia. Mengumpulkan uang bagi Yerusalem dengan setia, membawanya ke sana dengan susah, yang berujung penangkapan dirinya. Ditangkap, tidak diadili dengan adil, dipukuli, lalu di bawa ke Roma, dijadikan tahanan rumah. Ujung akhir hidup Rasul Paulus di dunia adalah hukuman pancung.
Rasul Paulus ingin sekali lagi mengunjungi Efesus, namun niatnya tidak kesampaian. Ia menyuruh Tikhikus untuk memberitahu, bukan mengajukan permintaan untuk dukungan atau pemberian, melainkan agar jemaat Efesus terhibur. Hal ihwal yang disampaikan adalah penghiburan -- menunjukkan bagaimana Tuhan tetap memelihara, bagaimana kesulitan bisa teratasi walau kondisi tidak menyenangkan, dan apa sebabnya Paulus tetap berjuang di jalan Tuhan.
Kehidupan mungkin sulit bagi pemimpin jemaat, namun ada damai sejahtera yang dimiliki, yang jauh lebih baik daripada kenikmatan menjadi pemimpin di dunia. Kondisi mungkin tidak terlalu enak, tetapi ada Kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus. Perhatikanlah: iman itu bukan menuju kepada Allah, melainkan dari Allah. Iman yang dari Allah itu membawa juga Kasih dalam kehidupan pemimpin jemaat, dan demikian pula diteruskan bagi jemaatnya.
Kasih karunia, pemberian yang dari Surga bagi setiap orang yang mengasihi Tuhan, merupakan sumber kekuatan yang tidak pernah habis. Karunia itu memampukan, memberikan kesanggupan, untuk melakukan segala hal yang harus dilakukan orang percaya. Yang harus dikerjakan oleh pemimpin, dan itulah yang dapat disaksikan oleh jemaat, agar mereka mengerti bahwa karunia yang sama juga tersedia bagi mereka. Itulah sebabnya, sangat penting untuk membagikan pengetahuan tentang keadaan pemimpin. Sangat penting untuk mengerti -- bukan saja agar terhibur, melainkan juga agar bertumbuh.
Nah, saat ini memang ada saja yang memiliki pandangan lain tentang menjadi Hamba Tuhan atau Pendeta, atau Penginjil atau aktivis.... Hubungan yang dipersepsikan secara populer adalah pertukaran jasa: Hamba Tuhan memberikan pencerahan rohani bagi jemaatnya, sedang jemaat memberikan fasilitas yang baik bagi sang Hamba Tuhan. Dalam hal ini, jemaat tidak benar-benar mengetahui apa kondisi dan hal ihwal pemimpin mereka, kecuali hal-hal seperti sakit, atau mendapat kelahiran anak, atau ada yang meninggal, atau menikahkan, serta segala seremonial lainnya.
Pengetahuan tentang Hamba Tuhan adalah hal-hal yang ada di permukaan, biasanya memberikan sinyal bagi jemaat untuk melakukan sesuatu. Coba pikirkan: adakah kita terhibur karena mengetahui kondisi dan hal ihwal Hamba Tuhan kita masing-masing, serta terbangun secara rohani? Masalahnya, mungkin kita tidak begitu akrab dengan Hamba Tuhan kita sendiri. Mungkin kita tidak mengerti hasratnya, kegairahannya, juga kegalauannya. Hamba Tuhan hanya menjadi orang yang melakukan pelayanan di mimbar, dan sesekali berkeliling dalam pelayanan perlawatan. Kita tidak tertarik untuk lebih dalam mengetahui apa isi hati dan hasratnya, karena kita sibuk dengan hasrat diri kita sendiri.
Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.
Amin, Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.
Akhirnya, semua perlu mengetahui. Hubungan yang benar-benar akrab tidak mungkin terjadi tanpa mengetahui keadaan yang sesungguhnya satu sama lain. Malah bisa dibilang, ukuran keakraban adalah sampai sejauh mana yang satu tahu yang lain, dengan sesungguhnya. Tidak ada rahasia. Tidak ada yang ditutupi.
Apakah pemimpin jemaat sungguh akrab dengan jemaatnya? Lihatlah, sejauh mana jemaat mengetahui keadaan si pemimpin. Sebaliknya, apakah pemimpin tahu keadaan jemaatnya? Lihatlah, sejauh mana pemimpin mengenal jemaatnya. Kebanyakan berpikir satu arah: pemimpin harus tahu soal jemaat. Kebanyakan orang mau diperhatikan oleh pemimpinnya. Tapi, apakah di arah sebaliknya terjadi pemahaman yang sama?
Mengetahui keadaan dan hal ihwal pemimpin bukan sekedar untuk melayani atau memberi sesuatu bagi si pemimpin. Bukan bermaksud mendorong jemaat tahu apa saja yang pemimpin butuhkan dan inginkan, agar dipenuhi mereka. Bukan! Sesungguhnya, mengenal keadaan dan hal ihwal pemimpin berarti meneruskan semangat dan kegairahan si pemimpin. Meneruskan apa yang menjadi hasrat, dan mengerti apa yang menjadi alasan si pemimpin untuk bertindak, bergerak, bahkan berkorban.
Seorang pemimpin mungkin telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. Banyak pemimpin jemaat kehilangan waktu bagi keluarganya, kehilangan kesehatannya, kehilangan kekayaannya. Menjadi Hamba Tuhan seperti mengambil jalan yang bertolak belakang dengan tujuan-tujuan duniawi, kehilangan kekayaan, harus masuk ke tempat terpencil, mengambil resiko kena penyakit menular, kelaparan, kedinginan.... untuk sesuatu yang tidak selalu jelas atau langsung terlihat.
Lihat saja Rasul Paulus, bukankah keadaan dan hal ihwalnya bukan jalur yang cemerlang dalam ukuran dunia? Dia kehilangan dukungan, malah sebaliknya diburu orang Farisi. Ia berkeliling ke daerah pedalaman, menemukan jemaat kecil di kota terpencil, mengalami sakit mata, mengalami penganiayaan.... ia melakukan semua itu dengan setia. Mengumpulkan uang bagi Yerusalem dengan setia, membawanya ke sana dengan susah, yang berujung penangkapan dirinya. Ditangkap, tidak diadili dengan adil, dipukuli, lalu di bawa ke Roma, dijadikan tahanan rumah. Ujung akhir hidup Rasul Paulus di dunia adalah hukuman pancung.
Rasul Paulus ingin sekali lagi mengunjungi Efesus, namun niatnya tidak kesampaian. Ia menyuruh Tikhikus untuk memberitahu, bukan mengajukan permintaan untuk dukungan atau pemberian, melainkan agar jemaat Efesus terhibur. Hal ihwal yang disampaikan adalah penghiburan -- menunjukkan bagaimana Tuhan tetap memelihara, bagaimana kesulitan bisa teratasi walau kondisi tidak menyenangkan, dan apa sebabnya Paulus tetap berjuang di jalan Tuhan.
Kehidupan mungkin sulit bagi pemimpin jemaat, namun ada damai sejahtera yang dimiliki, yang jauh lebih baik daripada kenikmatan menjadi pemimpin di dunia. Kondisi mungkin tidak terlalu enak, tetapi ada Kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus. Perhatikanlah: iman itu bukan menuju kepada Allah, melainkan dari Allah. Iman yang dari Allah itu membawa juga Kasih dalam kehidupan pemimpin jemaat, dan demikian pula diteruskan bagi jemaatnya.
Kasih karunia, pemberian yang dari Surga bagi setiap orang yang mengasihi Tuhan, merupakan sumber kekuatan yang tidak pernah habis. Karunia itu memampukan, memberikan kesanggupan, untuk melakukan segala hal yang harus dilakukan orang percaya. Yang harus dikerjakan oleh pemimpin, dan itulah yang dapat disaksikan oleh jemaat, agar mereka mengerti bahwa karunia yang sama juga tersedia bagi mereka. Itulah sebabnya, sangat penting untuk membagikan pengetahuan tentang keadaan pemimpin. Sangat penting untuk mengerti -- bukan saja agar terhibur, melainkan juga agar bertumbuh.
Nah, saat ini memang ada saja yang memiliki pandangan lain tentang menjadi Hamba Tuhan atau Pendeta, atau Penginjil atau aktivis.... Hubungan yang dipersepsikan secara populer adalah pertukaran jasa: Hamba Tuhan memberikan pencerahan rohani bagi jemaatnya, sedang jemaat memberikan fasilitas yang baik bagi sang Hamba Tuhan. Dalam hal ini, jemaat tidak benar-benar mengetahui apa kondisi dan hal ihwal pemimpin mereka, kecuali hal-hal seperti sakit, atau mendapat kelahiran anak, atau ada yang meninggal, atau menikahkan, serta segala seremonial lainnya.
Pengetahuan tentang Hamba Tuhan adalah hal-hal yang ada di permukaan, biasanya memberikan sinyal bagi jemaat untuk melakukan sesuatu. Coba pikirkan: adakah kita terhibur karena mengetahui kondisi dan hal ihwal Hamba Tuhan kita masing-masing, serta terbangun secara rohani? Masalahnya, mungkin kita tidak begitu akrab dengan Hamba Tuhan kita sendiri. Mungkin kita tidak mengerti hasratnya, kegairahannya, juga kegalauannya. Hamba Tuhan hanya menjadi orang yang melakukan pelayanan di mimbar, dan sesekali berkeliling dalam pelayanan perlawatan. Kita tidak tertarik untuk lebih dalam mengetahui apa isi hati dan hasratnya, karena kita sibuk dengan hasrat diri kita sendiri.
Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.
Amin, Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar