Jumat, 08 Juli 2016

Mutiara

PEDAGANG bukan hanya sekedar menjual dan membeli. Semua orang yang sudah menjadi pedagang dalam waktu cukup lama, pasti mengetahui hal ini. Bukan kerjanya beli di sini dan jual di sana, begitu saja.

Pedagang yang tulen memilih apa yang mau dijualnya. Reputasi dan nama besar seorang pedagang berkaitan dengan kemampuannya memilih sesuatu yang berharga, beli murah -- jual tinggi, dan kemampuan menemukan pembeli yang tepat, mereka yang membutuhkan dan bisa menghargai sesuatu itu.

Jadi, pedagang bukan sekedar beli semurahnya, lantas jual setinggi-tingginya, tanpa tahu apa yang sedang ia jual, tanpa mengerti apa dan kenapa orang perlu membayar sesuatu itu sekian. Orang yang asal ambil dari grosiran dan jual eceran, itu adalah tukang jualan. Kemarin jual barang A, hari ini jual barang B, dan besok jual barang C.....

Masa bodoh dengan pembelinya. Masa bodoh mereka untung atau rugi membeli barang itu dengan harga segitu. Demikianlah tukang jualan. Makanya, tukang jualan tidak pernah punya nama.

Tapi pedagang bisa punya nama besar. Pedagang adalah agen ekonomi penting di dalam masyarakat, karena pedagang lah yang pergi ke tempat jauh, mencari apa yang benar-benar berharga, indah, penting -- dan dengan itu meningkatkan kehidupan si pembelinya.

Apa yang berharga? Ada dua hal. Yang pertama adalah benda berharga yang diolah manusia. Misalnya, manusia menggali dari tanah dan memurnikan emas. Atau manusia menggosok batu, hingga muncullah berlian. Atau manusia membuat bank dan membuat uang kertas serta sistem perbankan, dan membangun ekonomi modern.

Hal yang kedua adalah benda berharga yang diperoleh dari alam. Permata yang termahal, yang diperoleh begitu saja dari alam, adalah MUTIARA. Tidak ada pengolahan lanjutan atas mutiara; itu adalah benda langka yang ditemukan. Mutiara yang paling indah sangat jarang, hanya diperoleh dari laut di area tertentu, dari kerang tertentu.

Tidak ada manusia yang bisa membuat keindahan mutiara.

Mengambil mutiara bukan pekerjaan mudah -- seringkali kerang yang menyimpan mutiara paling besar dan indah terletak di dasar laut yang lebih dalam. Butuh kekuatan dan keahlian untuk mengambilnya, yang salah sedikit saja bisa kehilangan nyawa!

Maka, ketika seorang pedagang mengetahui ada mutiara yang benar-benar indah, benar-benar berharga -- layak untuk dimiliki para raja atau ratu, tidakkah ia akan berjuang untuk memperolehnya? Sebagai pedagang, ia tahu betapa penting dan berharganya. Dia tahu bedanya, langkanya.

Ketika pedagang itu mendengar keberadaan mutiara istimewa, dia berjuang untuk pergi mencarinya. Ketika menemukan, dia menjual semua miliknya untuk mendapatkan mutiara itu.... Berapapun harga yang dibayarkan, itu adalah beli murah -- jual tinggi sekali.

Dan saat mutiara itu benar-benar dimilikinya, mungkin tidak akan dilepaskannya lagi. Kekayaan dan harta benda bisa hilang untuk dicari lagi, tapi kesempatan memegang mutiara seindah itu, tidak bisa diulangi lagi!

Apa yang berharga seperti mutiara amat langka? Itulah Kerajaan Sorga! Tidak semua orang bisa memahaminya; yang hanya tukang jualan dan bersikap asalan, yang tidak keberatan dengan butiran plastik seperti mutiara -- mereka tidak mengerti nilainya. Hanya orang yang sungguh-sungguh mengerti penting dan berharganya Kerajaan Sorga, bersedia untuk mengejar dan memperolehnya.

Sungguh, Kerajaan Sorga ini jauh lebih berharga daripada mutiara teristimewa di dalam dunia! Seseorang sudah mati untuk mendapatkannya bagi mereka yang mencarinya.

Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
(Mat 13:45-46)

Senin, 04 Juli 2016

Musibah

Ruth In The Fields
1876 Merle Hugues
Musibah dimulai dari langit dan bumi. Ini adalah kisah keluarga Bapak Elimelekh dan Ibu Naomi, yang punya dua anak laki2 Mahlon dan Kilyon. Mereka hidup sejahtera dengan tanah pertanian yang baik hasilnya.

Lalu terjadilah bencana kekeringan. Bencana, bukan hanya kering semusim saja, melainkan benar-benar susah. Elimelekh lantas membawa keluarganya mengungsi ke balik gunung. Di sana tinggal bangsa yang kafir, agamanya beda. Punya budaya berbeda. Tapi bisa makan di sana, kan?

Di tanah asing itu mereka hidup, dan datanglah musibah berikutnya. Elimelekh meninggal dunia. Naomi tinggal bersama kedua anak laki-lakinya. Mereka menjadi dewasa, dan mendapatkan gadis-gadis dari penduduk setempat.

Sepuluh tahun mereka hidup, dan datanglah musibah lainnya. Kedua pemuda itu meninggal dunia juga. Tinggallah Naomi dan kedua menantunya Orpa dan Rut, perempuan-perempuan muda yang belum punya anak.

Musibah mengundang musibah. Setiap kali, musibah menghabiskan lebih banyak lagi. Hingga akhirnya, Naomi tidak punya apa-apa lagi. Ia pun menyuruh kedua menantu perempuannya pulang ke rumah orang tua mereka; toh usia masih muda -- mungkin masih duapuluhan, masih bisa menikah lagi.

Bayangkan kesedihannya. Tiada masa depan. Datang sekeluarga dengan tangan penuh, kini tangannya hampa. Musibah itu, terasa mengosongkan. Pahit. Naomi mau menghapus namanya, ia minta agar seterusnya dipanggil Mara saja. Si Pahit.

Dalam ketiadaan, yang diperolehnya adalah kasih sayang yang mengherankan dari Rut, menantunya yang masih muda ini. Orpa pulang, tetapi Rut ini tidak mau meninggalkan. Ia mau menyertai Naomi pulang ke negeri asalnya. "Bangsamu menjadi bangsaku, Allahmu menjadi Allahku," begitu kata Rut.

Naomi kehilangan semua yang berasal dari masa lalu, ia kini hanya membawa seorang perempuan yang berasal dari tanah asing. Seorang yang tidak punya alasan atau harapan apapun untuk mengikutinya. Seorang yang saat itu akan nampak sangat bodoh. Untuk apa mengikuti janda yang sudah kehilangan segalanya? Bodoh sekali, si Rut ini! Mengapa tidak pulang saja, seperti yang dilakukan Orpa?

Yang bodoh itulah, yang jadi harta terbesar Naomi. Yang meneruskan kehidupannya.

Tadinya, kehidupan mereka nampaknya tersendiri saja; tidak ada tetangga, tidak ada komunitas. Ketika Elimelekh mengalami kesulitan, ia tidak bahu membahu dengan orang-orang sebangsanya. Mengapa harus pergi ke tanah asing? Di sana, hidupnya berakhir, demikian pula dengan kedua anak lelakinya. Mati sebagai orang asing, di tanah yang asing.


Seandainya aja, seandainya dari awal hidup berkomunitas, saling tolong menolong -- bukankah hidup menjadi lebih ringan? Kekeringan masih terjadi, tetapi justru karena bersama-sama, semuanya bisa tetap bertahan.

Berapa banyak dari kita yang mau sendirian, dan memilih untuk pergi keluar, ke tempat asing dan menjadi orang asing karena tidak mau berkomunitas dan saling membantu dengan sesama sebangsa? Kita pikir lebih baik di tanah asing, tapi malah akhirnya kehilangan lebih banyak, hingga hidup menjadi pahit, dipenuhi kepahitan.

Kisahnya Naomi belum berakhir. Ketika Naomi dan Rut sampai di kampung halamannya, mereka masuk dalam komunitas. Bagi Rut, itu adalah komunitas yang sama sekali asing, tetapi ia konsekuen dengan niatnya. Rut mengambil bagian dari aturan yang berlaku -- ia menjadi bagian dari harta waris Elimelekh dan anak-anaknya.

Bayangkan, bagi seorang Rut yang muda, ia menjadi "warisan" yang diserahkan kepada seorang paruh baya kaya raya, yang bernama Boas. Perempuan -- janda -- muda yang menyerahkan diri kepada lelaki paruh baya, untuk suatu budaya yang asing. Sebagai suatu bakti, suatu ketaatan. Rut sama sekali tidak mengenal Boaz sebelumnya. Tidak terbayangkan, bagaimana ia melalui itu semua. Rut hanya melakukannya. Boas sedemikian terkesan dengan bakti Rut, sehingga bersikap baik padanya.

Penutup dari semua tragedi ini adalah, Rut akhirnya menjadi milik Boas, dia ia melahirkan anak-anak yang menjadi cikal bakal raja-raja, hingga Raja yang terbesar di atas muka bumi.

Musibah? Ya.
Tapi Tuhan membuat semua rangkaian kejadian itu untuk mendatangkan yang terbaik bagi rencana-Nya.