![]() |
| Ruth In The Fields 1876 Merle Hugues |
Musibah dimulai dari
langit dan bumi. Ini adalah kisah keluarga Bapak Elimelekh dan Ibu Naomi, yang
punya dua anak laki2 Mahlon dan Kilyon. Mereka hidup sejahtera dengan tanah
pertanian yang baik hasilnya.
Lalu terjadilah
bencana kekeringan. Bencana, bukan hanya kering semusim saja, melainkan
benar-benar susah. Elimelekh lantas membawa keluarganya mengungsi ke balik
gunung. Di sana tinggal bangsa yang kafir, agamanya beda. Punya budaya berbeda.
Tapi bisa makan di sana, kan?
Di tanah asing itu
mereka hidup, dan datanglah musibah berikutnya. Elimelekh meninggal dunia.
Naomi tinggal bersama kedua anak laki-lakinya. Mereka menjadi dewasa, dan
mendapatkan gadis-gadis dari penduduk setempat.
Sepuluh tahun mereka
hidup, dan datanglah musibah lainnya. Kedua pemuda itu meninggal dunia juga.
Tinggallah Naomi dan kedua menantunya Orpa dan Rut, perempuan-perempuan muda
yang belum punya anak.
Musibah mengundang
musibah. Setiap kali, musibah menghabiskan lebih banyak lagi. Hingga akhirnya,
Naomi tidak punya apa-apa lagi. Ia pun menyuruh kedua menantu perempuannya
pulang ke rumah orang tua mereka; toh usia masih muda -- mungkin masih
duapuluhan, masih bisa menikah lagi.
Bayangkan
kesedihannya. Tiada masa depan. Datang sekeluarga dengan tangan penuh, kini
tangannya hampa. Musibah itu, terasa mengosongkan. Pahit. Naomi mau menghapus
namanya, ia minta agar seterusnya dipanggil Mara saja. Si Pahit.
Dalam ketiadaan,
yang diperolehnya adalah kasih sayang yang mengherankan dari Rut, menantunya
yang masih muda ini. Orpa pulang, tetapi Rut ini tidak mau meninggalkan. Ia mau
menyertai Naomi pulang ke negeri asalnya. "Bangsamu menjadi bangsaku,
Allahmu menjadi Allahku," begitu kata Rut.
Naomi kehilangan
semua yang berasal dari masa lalu, ia kini hanya membawa seorang perempuan yang
berasal dari tanah asing. Seorang yang tidak punya alasan atau harapan apapun
untuk mengikutinya. Seorang yang saat itu akan nampak sangat bodoh. Untuk apa mengikuti
janda yang sudah kehilangan segalanya? Bodoh sekali, si Rut ini! Mengapa tidak
pulang saja, seperti yang dilakukan Orpa?
Yang bodoh itulah,
yang jadi harta terbesar Naomi. Yang meneruskan
kehidupannya.
Tadinya, kehidupan mereka nampaknya tersendiri saja; tidak ada tetangga, tidak ada komunitas. Ketika Elimelekh mengalami kesulitan, ia tidak bahu membahu dengan orang-orang sebangsanya. Mengapa harus pergi ke tanah asing? Di sana, hidupnya berakhir, demikian pula dengan kedua anak lelakinya. Mati sebagai orang asing, di tanah yang asing.
Tadinya, kehidupan mereka nampaknya tersendiri saja; tidak ada tetangga, tidak ada komunitas. Ketika Elimelekh mengalami kesulitan, ia tidak bahu membahu dengan orang-orang sebangsanya. Mengapa harus pergi ke tanah asing? Di sana, hidupnya berakhir, demikian pula dengan kedua anak lelakinya. Mati sebagai orang asing, di tanah yang asing.
Seandainya aja,
seandainya dari awal hidup berkomunitas, saling tolong menolong -- bukankah
hidup menjadi lebih ringan? Kekeringan masih terjadi, tetapi justru karena
bersama-sama, semuanya bisa tetap bertahan.
Berapa banyak dari kita yang mau sendirian, dan memilih untuk pergi keluar, ke tempat asing dan menjadi orang asing karena tidak mau berkomunitas dan saling membantu dengan sesama sebangsa? Kita pikir lebih baik di tanah asing, tapi malah akhirnya kehilangan lebih banyak, hingga hidup menjadi pahit, dipenuhi kepahitan.
Kisahnya Naomi belum berakhir. Ketika Naomi dan Rut sampai di kampung halamannya, mereka masuk dalam komunitas. Bagi Rut, itu adalah komunitas yang sama sekali asing, tetapi ia konsekuen dengan niatnya. Rut mengambil bagian dari aturan yang berlaku -- ia menjadi bagian dari harta waris Elimelekh dan anak-anaknya.
Bayangkan, bagi seorang Rut yang muda, ia menjadi "warisan" yang diserahkan kepada seorang paruh baya kaya raya, yang bernama Boas. Perempuan -- janda -- muda yang menyerahkan diri kepada lelaki paruh baya, untuk suatu budaya yang asing. Sebagai suatu bakti, suatu ketaatan. Rut sama sekali tidak mengenal Boaz sebelumnya. Tidak terbayangkan, bagaimana ia melalui itu semua. Rut hanya melakukannya. Boas sedemikian terkesan dengan bakti Rut, sehingga bersikap baik padanya.
Penutup dari semua tragedi ini adalah, Rut akhirnya menjadi milik Boas, dia ia melahirkan anak-anak yang menjadi cikal bakal raja-raja, hingga Raja yang terbesar di atas muka bumi.
Musibah? Ya.
Tapi Tuhan membuat semua rangkaian kejadian itu untuk mendatangkan yang terbaik bagi rencana-Nya.
Berapa banyak dari kita yang mau sendirian, dan memilih untuk pergi keluar, ke tempat asing dan menjadi orang asing karena tidak mau berkomunitas dan saling membantu dengan sesama sebangsa? Kita pikir lebih baik di tanah asing, tapi malah akhirnya kehilangan lebih banyak, hingga hidup menjadi pahit, dipenuhi kepahitan.
Kisahnya Naomi belum berakhir. Ketika Naomi dan Rut sampai di kampung halamannya, mereka masuk dalam komunitas. Bagi Rut, itu adalah komunitas yang sama sekali asing, tetapi ia konsekuen dengan niatnya. Rut mengambil bagian dari aturan yang berlaku -- ia menjadi bagian dari harta waris Elimelekh dan anak-anaknya.
Bayangkan, bagi seorang Rut yang muda, ia menjadi "warisan" yang diserahkan kepada seorang paruh baya kaya raya, yang bernama Boas. Perempuan -- janda -- muda yang menyerahkan diri kepada lelaki paruh baya, untuk suatu budaya yang asing. Sebagai suatu bakti, suatu ketaatan. Rut sama sekali tidak mengenal Boaz sebelumnya. Tidak terbayangkan, bagaimana ia melalui itu semua. Rut hanya melakukannya. Boas sedemikian terkesan dengan bakti Rut, sehingga bersikap baik padanya.
Penutup dari semua tragedi ini adalah, Rut akhirnya menjadi milik Boas, dia ia melahirkan anak-anak yang menjadi cikal bakal raja-raja, hingga Raja yang terbesar di atas muka bumi.
Musibah? Ya.
Tapi Tuhan membuat semua rangkaian kejadian itu untuk mendatangkan yang terbaik bagi rencana-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar