Minggu, 10 Januari 2016

Perjamuan Kudus

Hari ini, orang Kristen merayakan Perjamuan Kudus. Nah, ini mempunyai banyak penafsiran dan menjadi ritual (beberapa jadi seperti supranatural), namun kalau dipelajari, maksud asalnya adalah sebagai peringatan. Untuk mengingat, seperti yang dikatakan-Nya pada Perjamuan Terakhir itu: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Merayakan Perjamuan Kudus adalah mengingat apa yang Tuhan Yesus telah lakukan.

Dan apa yang dilakukan-Nya, adalah memberi diri ditangkap, disiksa, disalibkan sampai mati. Dikuburkan. Dan pada hari ketiga, kubur itu kosong. Ingatlah, lakukan Perjamuan Kudus untuk menjadi peringatan akan Tuhan Yesus. Inilah peristiwa dalam sejarah, dicatat dalam berbagai manuskrip. Apa yang mau diingat?

Ini adalah perbuatan kasih yang tak terukur, yang dilakukan oleh Tuhan. Manusia, orang-orang -- apapun agamanya -- sering menyebut Tuhan Yang Maha Pengasih, yang kasih-Nya sangat besar. Orang Yunani menyebut itu adalah kasih yang 'agape' -- bentuk kasih yang paling tinggi. Namun, apa persisnya perbuatan kasih yang dilakukan oleh Tuhan?

Ada yang bilang, "Tuhan sangat mengasihi saya karena saya diberkati." Ada yang menyebut soal kesehatan. Atau soal kekayaan. Atau soal kesempatan. Ayolah; jika itu adalah hal-hal yang kita alami, apa yang kita peroleh sangatlah kecil dibandingkan kekuasaan TUHAN. Bagi Tuhan, melakukan mukjizat adalah hal yang tidak terbatas bagi-Nya. Dia itu TUHAN! Melakukan mukjizat itu, bukan bukti kasih agape dari Tuhan.

Mari kita kembali pada peristiwa sejarah ini. Pikirkan hal-hal ini. Yang pertama, kita menemukan bahwa dasar dari kasih agape adalah KEBENARAN. Karena apa yang benar adalah benar. Apa yang sudah ditetapkan, itu telah ditetapkan. TUHAN adalah Pencipta kenyataan; apa yang telah Dia nyatakan menjadi ada, menjadi suatu kepastian, suatu Hukum. Kita melihat bahwa alam diatur oleh hukum-hukum yang tetap, yang matematis. Kasih agape tidak berdasarkan pada perasaan, bukan keputusan yang emosional.

Pengetahuan adalah deskripsi dari kenyataan, dan kebenaran adalah ukuran dari pengetahuan. Jika kita bilang, ini adalah pengetahuan yang benar, artinya pengetahuan itu mendeskripsikan kenyataan yang sebenar-benarnya, sesuai dengan apa yang ada, yang terjadi. Kebenaran yang mutlak adalah pengetahuan yang seutuhnya menjelaskan kenyataan. Bagi Tuhan Yang Maha Tahu, seluruh kenyataan terbuka lebar di hadapan-Nya. Bagi manusia? Ini jadi masalah; manusia tidak mampu mengamati segalanya, seutuhnya. Banyak sisi dari kenyataan yang tersembunyi bagi manusia; kita tidak bisa mengetahui apa isi hati dan pikiran orang lain, bukan? Jadi, bagi manusia ada banyak dugaan dan asumsi. Menebak-nebak. Mencoba-coba.

Kasih manusia didasarkan pada perasaan, bukan atas kebenaran -- karena manusia tidak mampu untuk menyelidiki kenyataan seutuhnya dari manusia lain. Jangankan menyelidiki orang lain, untuk mengerti hati sendiri juga susah kan! Jadi, selalu ada bagian yang tidak diketahui, yang menebak-nebak, juga yang dibuat-buat. Kita mengatakan, "saya mencintai Tuhan", tetapi kita tidak benar-benar mengerti apa artinya itu, bagaimana kenyataan tentang semua pilihan dan perbuatan serta kata-kata kita.

Yang kedua, dalam segala pengetahuan Tuhan, yang mengerti akan segala kenyataan tentang manusia dan dunia -- Dia mengetahui bahwa manusia ini berdosa. Dengan 'berdosa' artinya adalah mati, terputus dari Tuhan yang hidup, karena manusia menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat baginya. Manusia tidak mencari apa yang benar, melainkan apa yang baik. Yang dibanggakan adalah 'baik' dan 'kebaikan', semuanya ditentukan sendiri oleh manusia. Di mata Tuhan, yang mengetahui semua kenyataan, masihkah yang 'baik' itu tetap dinilai baik? Masih bisa menepuk dada menyebut diri baik di hadapan TUHAN, khalik langit dan bumi?

Kalau Tuhan menemukan manusia tidak lagi baik di mata-Nya, Dia dapat membuat ciptaan yang baru. Namun, karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini.... Dia tidak membuat yang baru, Dia juga tidak membengkokkan kenyataan yang telah ditetapkan-Nya, tidak mengubah kebenaran mutlak tentang dosa manusia. TUHAN mengurus dosa manusia dengan mengambil alih hukuman yang seharusnya ditanggung manusia. Dengan demikian, maka manusia dapat jalan untuk kembali berdamai dengan Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Yesus, dan hanya bisa dilakukan oleh Yesus, Putra tunggal Allah, karena syarat dari Dia yang bisa menebus dosa adalah tidak berdosa.

Dia yang tidak berdosa, bersedia mati dengan cara yang paling terkutuk, untuk menanggung dosa kita, manusia yang masih berdosa, yang tidak bisa mengangkat muka baik di hadapan Tuhan. Itulah realita. Itulah yang perlu diperingati.

Apakah ini disebut agama? Dari peristiwa ini, bisa banyak penafsiran, dan dengan begitu timbul agama.... Orang menafsirkan peristiwa Perjamuan Kudus dengan berbagai macam cara. Apapun penafsirannya, tidak mengubah fakta sejarah, kebenaran bahwa pada hari Kamis itu, dua hari sebelum hari Sabbat, Yesus berkumpul dalam Perjamuan Paskah bersama murid-murid-Nya. Kenyataan bahwa setelahnya, Ia melalui proses yang panjang dan menyakitkan, hingga mati dan dikuburkan. Untuk bangkit pada hari yang ketiga. Itu adalah kasih yang tak terukur, yang melampaui semua asumsi manusia tentang 'baik', yang nyata dan benar terjadi.


Supaya manusia tetap mengingatnya, memperingatinya. Selamat hari Minggu!

Tidak ada komentar: