Minggu, 25 Mei 2014

Dosa Itulah

Amsal 16:2  Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. 

Ketika manusia pertama, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, apakah yang sebenarnya terjadi? Kita berpikir, itu karena perbuatan mereka yang salah, tidak melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Tapi, mari kita pikirkan, seperti apa keadaannya, bagaimana kejadiannya. Hal pertama yang perlu dicatat adalah, TUHAN menciptakan manusia serupa dan segambar Diri-Nya. Pada manusia ada suatu hal yang khusus dan istimewa, yaitu kebebasan untuk berkehendak, kebebasan untuk mengelola, kebebasan untuk mengembangkan diri.

Dalam kebebasan itu, manusia tidak diberi kemampuan setara dengan TUHAN. Manusia tidak bisa mengetahui segala sesuatu, seperti TUHAN tahu. Manusia, dari sejak diciptakan, tidak mungkin mengerti apa jalan pikiran TUHAN. Maka, dari semula Manusia bergaul dengan TUHAN, pasti melakukan kesalahan-kesalahan. Hanya dengan demikianlah kehendak bebas itu bisa dinyatakan, yaitu jika manusia bisa berbuat salah. Adam diberi mandat untuk mengurus Taman Eden, segala sesuatu merupakan hal baru baginya. Berapa banyak kesalahan yang sudah diperbuatnya, karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu apa yang menjadi kehendak TUHAN. Namun, TUHAN adalah Bapa yang baik, yang mengajar manusia pertama merangkak, lalu berjalan, dan berlari di dalam Taman yang diciptakan-Nya.

Jadi, dosa bukanlah tentang melakukan perbuatan yang salah. Ketika manusia pertama berada bersama dengan Bapa, perbuatan salah adalah bagian dari pertumbuhan. Bapa akan mengajarkan apa yang baik dan apa yang jahat, dari segala kesalahan yang diperbuat anak-anak-Nya. Manusia pertama sangat bergantung kepada TUHAN untuk semua pandangan baik dan jahat, sama seperti seorang anak yang selalu bertanya kepada orang tuanya.

Dosa dimulai ketika Hawa menginginkan untuk menjadi sama seperti TUHAN, bisa menentukan sendiri apa yang baik dan yang jahat. Dikatakan, "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya." Bukan niat buruk sebenarnya, menginginkan punya pengertian. Masalahnya, TUHAN sudah menegaskan hal ini: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Bacalah kembali perintah TUHAN. Itu bukan larangan menyangkut tindakan yang tidak bermoral. Sebenarnya, ini lebih seperti larangan yang tertulis pada sebotol racun, siapa yang memakannya pastilah akan mati. Jika suatu perbuatan salah dilakukan, TUHAN bisa mengajari apa salahnya dan apa yang harus dilakukan, bagaimana memperbaikinya. Tetapi jika manusia memakan sesuatu yang membuat mereka mati, apalagi yang bisa dilakukan oleh TUHAN? Kematian adalah keterpisahan dari sumber hidup. Tidak ada lagi bersama dengan Yang Hidup. Demikianlah Hawa memakan buah itu, tetapi ternyata nafasnya tidak langsung berhenti, maka Hawa bisa memberikan buah itu kepada suaminya, mereka memakannya bersama-sama.

Yang terjadi adalah, buah itu mengubah manusia secara mendasar. Buah itu memberi kemampuan kepada manusia untuk menimbang sendiri apa yang baik dan apa yang jahat. Reaksi pertama setelah memakan buah itu adalah pengertian tentang diri mereka sendiri: Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Apakah ketelanjangan buruk, atau jahat? Tidak. Dari semula manusia diciptakan, mereka berdua sama sekali tidak berpakaian dan hal ini dipandang BAIK di mata TUHAN. Ketelanjangan bukan hal yang buruk. Seluruh bagian tubuh manusia adalah karya TUHAN yang sempurna, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tetapi manusia, sesudah bisa menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, memutuskan bahwa telanjang dipandang JAHAT di mata mereka. Mereka tidak ingin alat kelamin mereka terlihat, memutuskan bahwa aurat harus ditutupi. Dan demikianlah TUHAN membuktikan bahwa manusia telah memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu. Mereka mati, bukan dalam pengertian berhenti nafasnya, namun harus terpisah dari TUHAN. Karena tidak bisa lagi terjadi, manusia mengikuti apa yang TUHAN nyatakan tentang yang baik dan yang jahat.

Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."

Begini, dosa itu bukan soal melakukan suatu perbuatan, melainkan menilai suatu perbuatan. Orang akan melakukan sesuatu yang baik, yang dipikirnya baik, yang dipercayainya baik. Tetapi dalam ketidakmampuan untuk memahami segala sesuatu, manusia hanya bisa menginginkan. Dalam kebodohannya, manusia mempercayai apa yang ingin dipercayainya, dan dari sana orang menentukan apa yang baik dan apa yang jahat.

Coba saja lihat bagaimana seorang penjahat berpikir. Apakah ia meyakini bahwa dirinya jahat, bahwa perbuatannya jahat? Tidak, ia meyakini bahwa dirinya baik. Ia melakukan kejahatannya atas alasan yang baik. Ia mempercayai bahwa dunia ini begitu tidak adil, sehingga ia boleh melakukan ketidakadilan. Ia percaya bahwa keinginannya harus dipuaskan, walaupun untuk itu orang lain harus menjadi korban. Segala jalan orang bersih dalam pandangannya sendiri!

Jika orang sadar bahwa ia telah berbuat jahat, maka ia bisa dikoreksi dan memperbaiki kelakuannya. Tetapi jika orang tetap berpikir bahwa apa yang diperbuatnya baik, dan didukung oleh orang-orang lain disekelilingnya bahwa apa yang dilakukan adalah baik, bagaimana cara untuk memperbaiki kelakuannya? Apakah hal yang baik bisa diperbaiki?

Karena dosa pada dasarnya adalah menentukan sendiri apa yang baik dan yang jahat, maka tidak ada cara bagi manusia untuk lepas dari dosa. Manusia menimbang sendiri apa yang baik dalam pandangannya, lalu hidup berdasarkan apa yang baik itu. Memang dalam hati nurani manusia masih menyimpan pengetahuan tentang apa yang baik menurut TUHAN, tetapi keputusan akan apa yang baik dan jahat sepenuhnya ada di tangan manusia itu sendiri. Kehidupan seringkali memberi tantangan antara situasi-situasi yang saling bertentangan, di mana manusia harus memilih. Bahkan untuk TUHAN pun, pilihannya masih ada di tangan manusia: bagi TUHAN segala hal yang terbesar dan terbaik! --tetapi apakah yang terbaik itu? Siapakah yang menilainya? Siapakah yang menentukannya?

Kalau manusia berpikir sendiri, bisa saja terjadi pikirannya tentang yang terbaik bagi TUHAN ternyata adalah sampah di mata-Nya. Lihat saja rasul Paulus, sebelum ia bertemu dengan Tuhan dalam perjalanan ke Damaskus, ia merasa menjadi orang yang amat sangat baik. Menjadi orang yang harusnya diteladani semua orang lain, menjadi farisinya orang farisi. Itu seperti menjadi polisinya para polisi, menegakkan hukum Taurat bagi bangsa yang harus ditekan dan ditindas untuk taat. Namun setelah mengenal TUHAN dan mendapat bagian dalam Roh Kudus yang membukakan pikiran, rasul Paulus memandang semua hal lama itu sebagai sampah. Sesuatu yang harus dibuang, ditanggalkan. Memalukan.

Tuhan Yesus sudah memberi syarat ini: barangsiapa hendak mengikuti-Nya, harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya setiap hari. Penyangkalan diri pada dasarnya adalah mengembalikan hak menentukan apa yang baik dan yang jahat kepada TUHAN. Sebagai gantinya, Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran, akan menunjukkan segala hal yang baik dan jahat itu bagi manusia. Tetapi penyangkalan diri itu akan menimbulkan masalah karena tidak lagi sesuai dengan pandangan tentang apa yang baik dari masyarakat, dari dunia. Itu adalah salib yang harus dipikul. Itu adalah konsekuensi dari menjadi berbeda dari dunia. Dan yang ketiga adalah mengikuti-Nya, melakukan apa yang ingin dilakukan-Nya.

Dosa adalah masalah serius, karena pertama-tama dosa tidak dirasakan atau dilihat sebagai masalah. Hanya oleh anugerah TUHAN saja kita dapat lepas dari dosa, yaitu dengan lahir baru, dan bebas dari hukum dosa yaitu maut. Jangan lagi berpikir sendiri tentang baik dan jahat, sebaliknya marilah kita mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.

Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: