Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.
(Rom 8:6)
REALITA KEHIDUPAN adalah situasi yang harus dihadapi dan diterima orang, baik suka atau tidak suka. Orang-orang miskin tidak menyukai realita kemiskinannya. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu untuk hidup hari ini. Orang-orang kaya tidak menyukai realita keamanannya. Mereka harus berlindung dan membatasi diri di 'tempat aman' khawatir ada penjahat yang akan segera muncul.
Tetapi orang bisa menginginkan versinya sendiri dari kehidupan, maka mereka membuatnya. Mereka berkata-kata, membuat foto selfie, menunjukkan pada dunia tentang realita yang lain. Ketika kita memperoleh teknologi yang cukup untuk membuat realita baru, dengan cepat semua orang menginginkan teknologi itu, membuat realita itu nyata.
Semua yang berkaitan dengan realita baru ini, berkaitan dengan tubuh. Foto selfie? Nampak lebih cantik. Lebih ganteng. Lebih putih. Atau lebih kaya, difoto bergaya di samping mobil mewah.
Realita sebenarnya? Itu mobil mewah yang kebetulan diparkir di sebelah rumah. Buru2 pakai baju seksi dan makeup seadanya, bawa hp keluar dan shoot dengan aplikasi camera 360 mode beautify.
Hasilnya terus masukkan ke facebook. Yeayy! Banyak like dan jealous jealous...
Ada juga yang membawa realita alternatifnya ke ranah spiritual agamawi. Masih berkaitan dengan tubuh, yang ditampilkan adalah kehidupan seorang yang saleh, baik, bisa dipercaya.
Caranya? Pakai baju panjang. Pakai kalung salib. Pakai kerudung. Pakai apapun yang menunjukkan kesalehan. Lalu, di foto dong, selfie lagi. Selfie lagi beribadah. Selfie saat sedang berlutut. Atau kalau bukan foto sendiri, tolong teman fotoin lah ya.
Dari realita pakai foto-foto yang sebenarnya agak merepotkan, bagaimana kalau langsung tampil saja sebagai orang saleh? Sudah tidak butuh kamera karena kini pakaiannya memang begitu. Di kantungnya ada minyak urapan, dan dengan semangat dikeluarkan bilamana ada kesempatan "membersihkan" satu area dari kuasa gelap. Makasih buat Abigail Yulianti yang membuka wawasan.
Masalah menjadi membesar karena orang ingin lebih lagi: menjadikan realita alternatifnya menjadi nyata. Mereka ingin disebut saleh dan benar karena pakaiannya sudah serba putih. Karena kata-katanya sudah dipenuhi jargon agama, pakai istilah bahasa asing, rasanya sudah jadi "orang kudus" atau "orang suci".
Indonesia punya masalah dengan mayoritas orang beragama yang tidak realistis, mereka tidak mendalami agama, bukan orang-orang yang menguasai teologia, tetapi menguasai bagaimana cara berpidato yang hebat. Paham bagaimana cara bicara kepada publik, pandai bercerita -- bahkan cerita dongeng pun terasa sangat nyata.
Jadi, mereka membaca teks Kitab Suci keras-keras. Mungkin yang dibacanya adalah teks dalam bahasa asli Kitab itu ditulis. Dengan begitu, pendengarnya manggut-manggut terpesona, sambil bilang dalam hati, wah ini orang betul sudah menguasai kitab suci!
Tapi realitanya, ia tidak paham. Ia mengerjakan penafsiran teksnya dengan sangat sembarangan, dibantu oleh aplikasi di hp yang bisa mencari frasa tertentu dengan amat sangat cepat. Yang penting ada bahan untuk disampaikan dan membuat jemaatnya manggut-manggut manut untuk apa saja. Percaya untuk disuruh apa saja.
Keinginan daging itu telah menjatuhkan banyak pemimpin umat dalam kedagingan yang menyedihkan. Mereka menjadi lebih cabul, lebih manipulatif - berbohong, lebih serakah, dan lebih kejam demi melindungi diri. Mereka berlari-lari mengejar nafsu dagingnya, dengan pikiran yang terpatri di realita mereka sendiri.
Benar-benar percaya bahwa apa yang dilakukannya benar. Bahwa realitanya, memang TUHAN menginginkan mereka melakukan segala hal-hal itu, yang membuat terasa enak, nyaman, aman. Bukti ini berkat-berkat Tuhan! Syaratnya adalah harus melakukan ritual ini dan itu, harus berpakaian begini dan begitu, harus berbicara dengan cara tertentu.
Kebanggaannya adalah telah menyelesaikan membaca Kitab Suci. Atau selesai berpuasa. Dan tentunya bangga sekali dengan persembahan dan pemberian kepada orang-orang miskin itu, menikmati mereka menunduk-nunduk mengucapkan terima kasih dan banyak didoakan, supaya sehat, banyak rejeki...
Keinginan Roh lebih sederhana: ingin hidup. Realitanya, menjaga kehidupan hari ini, esok, sampai kekekalan. Menginginkan damai sejahtera, terutama dengan TUHAN, mengalami damai dengan-Nya itu sangat istimewa. Tapi untuk itu, orang harus hidup dalam kebenaran, dalam kejujuran. Dalam realita yang nyata.
Mungkin hanya 'hidup' saja tidak keren. Tidak mewah, tidak mentereng. Foto selfie biasa saja, tidak perlu pakai beautify, dan memang tubuhnya menjadi semakin tua namun semakin bahagia. Karena biasa hidup apa adanya, realistis, jujur, tidak pernah menyatakan diri lebih dari apa adanya.
Dalam Roh dan kebenaran, kita sungguh-sungguh menyembah Allah, Bapa di Sorga. Tidak karena pakaian, bukan karena gaya bicara atau bahasa asing yang dipakai, melainkan karena iman.
Iman yang dipahami, iman yang dipegang, dan iman yang menjadi dasar untuk berlari-lari mencapai tujuan kehidupan: TUHAN. Itulah keinginan Roh.
Apakah kita akan memuaskan keinginan daging, atau keinginan Roh?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar