Ef 4:29-30 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu
mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
Kata-kata "kotor" dalam bahasa Yunani aslinya disebut "sapros", yaitu kata-kata busuk, tidak berharga. Kata-kata yang lebih baik tidak pernah diucapkan, karena tidak ada nilainya. Sebaliknya mengucapkan kata-kata demikian membuat pendengarnya kehilangan hal baik, seperti menjadi cemas, galau, kesal, atau terhina. Bagi kita sekarang, mungkin kita langsung berpikir bahwa ini adalah kata-kata kotor seperti caci maki atau umpatan merendahkan yang biasa disebut orang di jamansekarang. Namun, agak keliru jika berpikir bahwa Firman Tuhan ini hanya menyuruh kita untuk tidak berkata-kata kotor seperti mengumpat.
Lebih dari itu!
Pertama, kata-kata yang tidak berguna dapat berbentuk kalimat yang manis dan enak didengar. Kata-kata bisa terdengar sangat membujuk, atau memotivasi, namun tidak menyatakan kebenaran. Bisa juga terdengar
sangat simpatik, memiliki nada yang lembut dan menenangkan dari seorang sahabat, sekaligus menghasut dan menimbulkan kemarahan, kebencian. Herannya orang kelihatan senang dibakar menjadi marah,
malah berterima kasih kepada yang "sudah memberi tahu". Kata-kata yang kosong, yang dimanipulasi, diberi alasan-alasan yang nampak logis dan berurutan, bisa mendorong seseorang melakukan hal yang tidak
terpikirkan, menyimpang, bahkan mengerikan, seperti membunuh.
Kedua, setiap orang membawa kuasa kedagingan di dalam dagingnya; suatu sifat buas, serakah, juga ganas. Kemanusia kita menahan keinginan jahat itu tetap di dalam kendali kesadaran, karena Tuhan menaruh
hukum-Nya dan karakter-Nya sendiri dalam hati dan roh manusia. Tetapi, kata-kata yang disusun dan diucapkan dengan cara yang tepat, sanggup membuat seseorang kehilangan kendalinya. Lebih buruk lagi, ia merasa senang ketika nafsu dagingnya bisa disalurkan, bisa diwujudkan. Ada yang berkata-kata, sehingga seorang pria jatuh dalam perjudian dan mengejar keserakahan tiada tara. Kata-kata lain membujuk seseorang
menjadi tidak setia, meninggalkan pasangan hidup yang Tuhan berikan padanya, untuk menikmati gelora nafsu badani antara lelaki dan perempuan.
Kata-kata telah memulai perang antara Allah dan manusia. Kata-kata juga membawa perang antara individu, antar masyarakat, antar bangsa dan negara. Kata-kata membuat orang kehilangan kendalinya dan menjadi
yang pertama menarik picu senjata -- seperti serangan Nazi ke Polandia, atau serangan Jepang ke Pearl Harbor. Kata-kata yang dikeluarkan terdengar baik, memotivasi, dan benar. Padahal itu adalah
kata-kata yang kotor, yang tidak ada harganya, tidak pantas diucapkan, karena tidak mengandung seluruh kebenaran -- hanya separuh atau tidak ada sama sekali.
Kata-kata yang membangun memiliki syarat kebenaran, sehingga pembaca atau pendengarnya dapat bergantung kepada kata-kata itu, serta mengatur hidup sesuai dengan kebenaran yang nyata. Kebenaran adalah saat di mana kata-kata dibuktikan dalam fakta peristiwa, di mana hidup pembaca, pendengar, dan juga yang berkata-kata, terlibat di dalamnya. Kata-kata dikeluarkan dengan isi yang benar, juga pada saat yang benar sehingga tidak timbul salah paham atau salah sangka. Pendengarnya bukan saja mendapatkan hal baik, tetapi mereka mendapatkan kasih karunia. Jika seseorang dapat mengetahui kebenaran, ia mendapatkan
kasih karunia dari Tuhan, sekalipun mungkin secara emosional ia tidak selalu merasa senang dengan apa yang didapatkannya.
Roh Kudus berduka ketika orang menjadi hancur oleh kata-kata yang kotor dan sembarangan. Roh Kudus berduka karena orang menyimpang dari kebenaran, menjauh dari apa yang seharusnya dan telah ditetapkan Bapa di Surga. Jika kata-kata itu dikeluarkan oleh orang yang telah menerima meterai dari Roh Kudus, maka duka-Nya bertambah besar.
Orang-orang yang telah menjadi pengikut Kristus seharusnya memiliki kesadaran bertanggung jawab yang lebih besar untuk membangun, mengangkat kebenaran -- bukan sekedar untuk menyenangkan orang,
melainkan menyenangkan TUHAN.
Di sini tidak dibutuhkan popularitas. Kata-kata yang benar dan membangun seringkali terasa pedas mengkritik, namun kebenaran yang diterima adalah pembebas, bukan penekan. Kata-kata dari TUHAN dapat mendatangkan duka, namun kesadaran yang timbul sesudahnya membuat orang sadar bahwa sesungguhnya ia telah menerima kasih karunia. Anak-anak Tuhan juga seharusnya meneruskan kata-kata yang benar, tidak hanya berkata-kata untuk diterima oleh sebanyak-banyaknya orang atau sekedar untuk berdamai dengan siapa saja.
Marilah kita berkata-kata dengan berani, agar dengan itu kita juga menyampaikan Firman Tuhan dan memuliakan Bapa, TUHAN yang menjadi sumber kebenaran.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Rabu, 22 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar