Landasan atau dasar apa yang kita gunakan untuk berhubungan dengan orang lain? Apa yang kita pikirkan ketika berjumpa dan berinteraksi dengan orang-orang? Ada beberapa kemungkinan.
Kemungkinan pertama, kita memandang orang lain sebagai... orang lain. Prinsipnya: Anda mengurusi urusan Anda, saya mengurusi urusan saya, walaupun kita berada di tempat yang sama tapi masing-masing memiliki urusannya sendiri. Demi sopan santun dan kebiasaan bermasyarakat kita mungkin saling bertegur sapa dan berbasa basi, namun semua interaksi hanya berada di permukaan dan tidak diijinkan untuk lebih dalam lagi. Hanya urusan yang cukup besar saja yang layak untuk diperhatikan dan dipikirkan.
Kemungkinan kedua, kita melihat orang lain sebagai sumber untuk digali dan memperoleh keuntungan. Prinsipnya: urusan saya adalah membuat Anda memberi keuntungan bagi saya, di setiap tempat dan waktu. Supaya Anda bisa memberi saya apa yang saya mau, maka saya bersedia memberi dulu sesuatu -- mungkin pujian, mungkin perhatian -- yang cukup kecil untuk memperoleh apa yang besar. Orang semacam ini bukan hanya mengambil keuntungan dari satu orang, melainkan dari sebanyak mungkin orang disekelilingnya. Semakin lama orang ini menjadi semakin lihai memanipulasi dan memperalat orang lain.
Kemungkinan ketiga muncul sebagai akibat dari kemungkinan kedua: kita mencurigai orang lain adalah sosok yang mau mengambil keuntungan dari diri kita. Prinsipnya: saya akan melindungi diri dari semua orang, sehingga tidak ada orang yang dapat mengambil keuntungan dari saya, di setiap tempat dan waktu. Supaya saya aman, maka saya hanya bersedia melakukan yang paling minimal terhadap orang lain, serta tidak menganggap semua "hadiah kecil" seperti pujian atau perhatian sebagai sesuatu yang berarti. Orang ini mungkin cenderung akan berkata-kata dengan ketus, judes, dan siap memerangi semua "ketidakadilan" -- kata lain dari "Saya dapat sedikit dari Anda, sebaliknya Anda mengambil banyak dari saya."
Ada yang mengatakan, bahwa dalam realitanya orang-orang berada dalam situasi yang campur baur antara kemungkinan satu, dua, dan tiga. Tetapi, hal itu tidak terbukti terjadi. Manusia tidak memikirkan tentang "keseimbangan" sekalipun dalam kata-katanya disebutkan mau mencari solusi yang "win-win" alias memberi kemenangan pada kedua belah pihak. Apa yang disebut dengan "win-win" adalah situasi yang dipersepsikan memenuhi kepentingan semua pihak, tapi ketika dilihat dari satu sudut pandang pihak yang berinteraksi, pilihannya adalah merasa bisa mengambil keuntungan, atau merasa aman, atau menganggap transaksi yang terjadi hanyalah basa basi.
Bagi orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, situasi-situasi yang muncul akan lebih banyak menimbulkan hal-hal negatif. Prinsipnya hal yang negatif adalah hal yang "mengambil", karena melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang terbatas, langka, dan harus diperebutkan. Kekalahan atau kegagalan memperoleh sesuatu menimbulkan kegeraman terhadap pihak lain yang menang atau berhasil mendapatkan -- tentunya dengan alasan bahwa pihak lain telah berbuat curang dan melanggar "aturan main". Masalahnya, orang yang kalah dan geram ini mungkin akan melakukan manipulasi dan trik yang sama bila ada kesempatan datang padanya. Benar dan salah ditentukan oleh kemenangan dan kekalahan. Kalau menang, berhasil, memperoleh -- maka benar. Kalau kalah, gagal, kehilangan -- maka salah.
Bagaimana jika orang yang kalah berjumpa dengan orang yang menang? Ada kemarahan yang diumbar, diekspresikan. Orang yang marah adalah orang yang emosional -- emosi tidak mempunyai ingatan akan masa lalu, tidak memikirkan tentang masa depan, dan tidak memiliki logika yang cukup selain memuaskan emosinya sendiri. Kemarahan membuat situasi semakin rumit karena masalah yang muncul tidak lagi masuk akal, tidak mengikuti logika atau ukuran yang bisa diterima. Saat ada dua orang saling marah satu sama lain, yang muncul adalah pertikaian yang hebat -- dalam banyak budaya, pertikaian semacam itu dilanjutkan dengan perkelahian yang harus berakhir dengan kematian salah satu, atau dua-duanya.
Banyak orang dalam emosinya hanya mendengar apa yang mau ia dengar, hanya melihat apa yang mau ia lihat. Ketika pikiran dibayangi oleh kemarahan karena kalah atau gagal, yang ia pikirkan adalah dugaan-dugaan suram yang kemudian diterima sebagai kenyataan. Ketika berkata-kata dengan orang lain, apa yang hanya dugaan dan kecurigaan disampaikan dengan penegasan dan nada kepastian, seolah-olah itulah yang memang benar-benar terjadi. Kita menyebut perilaku demikian sebagai fitnah, suatu tuduhan yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan. Malangnya, bagi yang memfitnah apa yang dinyatakannya bukanlah fitnah, melainkan "kenyataannya begitu!" Satu peristiwa kecil sudah cukup menjadi "bukti besar" bahwa dugaannya terbukti -- hanya karena dihubung-hubungkan saja.
Pada akhirnya, orang berpikir bahwa tidak apa-apa untuk melakukan perbuatan jahat kepada orang yang bersalah. Bukankah yang bersalah itu harus dihukum? Perbuatan menghukum oleh satu pihak, selalu dapat dipandang sebagai kejahatan oleh pihak yang terhukum. Orang yang menghukum tahu bahwa perbuatannya menyakitkan atau merugikan atau merampas kebebasan, tetapi ada alasan "supaya orang jahat menjadi jera" dibalik tindakannya. Berbuat jahat kepada orang jahat agar ia tidak lagi menjadi jahat. Agak absurd, namun itulah yang seringkali terjadi: kita melihat mereka yang "memberantas kejahatan" pada hakekatnya adalah penjahat-penjahat itu sendiri.
Manusia memiliki kebutuhan untuk memperoleh "keadilan" di dunia ini, kebutuhan untuk dilindungi dari mereka yang mau menang sendiri dan merampas dari orang lain. Karena masyarakat membutuhkan kepastian akan keadilan maka dibentuklah lembaga pengadilan yang memutuskan berdasarkan hukum, serta para "penegak hukum" yang seharusnya dapat bertindak tanpa emosi, sebaliknya mampu melihat segala peristiwa secara utuh, mengungkapkan kebenaran berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi -- memilah antara apa yang hanya fitnah dengan apa yang benar-benar terjadi. Masalahnya, hal ini juga sangat sukar dilakukan, karena para penegak hukum masih tetap manusia biasa. Masyarakat yang memiliki kekuatan massa dapat menekan agar penegak hukum memberi "hukuman setimpal kepada yang bersalah" sambil menunjuk siapa yang bersalah itu, tanpa pembuktian dan tanpa kepastian, semuanya hanya fitnah.
Kita melihat bahwa hari ini pengadilan adalah tempat yang menakutkan, karena di sana lebih banyak menimbulkan berita tentang mafia dan pemutarbalikkan perkara. Maka kita kembali pada kemungkinan pertama, kedua, dan ketiga, dan terus terbenam dalam konflik.
Ada kemungkinan keempat, yaitu kita memandang orang lain sebagai sesama manusia yang perlu dikasihi -- dan pusat dari kata "kasih" bermakna "memberi". Prinsipnya: saya mengasihi sesama manusia seperti saya mengasihi diri saya sendiri, karena saya telah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Supaya saya bisa memberi dan membawa perubahan nyata dalam kehidupan orang lain, maka saya harus menyatakan kebenaran, bukan emosi. Kebenaran terutama adalah kenyataan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah -- artinya tidak dapat mengharapkan adanya balasan baik dari orang lain -- dan untuk orang-orang yang berdosa ini Tuhan Yesus Kristus telah mati disalib, menebus dosa-dosa.
Ketika dasar dari tindakan kita adalah kasih, maka yang keluar adalah keramahan, yang nampak sebagai kasih mesra antara satu dengan yang lain. Ini adalah bentuk kasih yang tidak mengikat, bukan cinta kasih seperti pada pria dan wanita yang mengikatkan diri menjadi suami istri. Kasih yang tidak mengikat menghubungkan orang-orang yang tidak saling memiliki, yaitu sahabat dengan sahabat, membuat satu sama lain menjadi saudara yang saling menyayangi. Rasa sayang itu tidak mengingini, melainkan hanya memberi agar muncul perbedaan, supaya datang keselamatan atas orang yang dikasihi.
Keselamatan adalah pengampunan di hadapan Allah, dan untuk menjadikannya nyata maka ada pengampunan di hadapan manusia. Orang yang memberitakan keselamatan haruslah orang yang pertama-tama dapat menunjukkan pengampunan kepada orang lain; jika si pemberita tidak dapat mengampuni orang, bagaimana mungkin ia dapat memberi kesaksian tentang pengampunan TUHAN? Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita, maka kita juga harus dapat mengampuni orang lain. Prinsip ini sangat penting karena kenyataan bahwa manusia berdosa berarti manusia akan berbuat salah dan merugikan, baik dalam hal kecil maupun dalam hal besar.
Kemungkinan keempat memberi pertumbuhan dan pemulihan; namun semua ini baru merupakan kemungkinan, suatu pilihan untuk kita ambil. Bagaimana kita memutuskan untuk menjalani kehidupan? Renungkanlah apa yang kita telah pilih untuk bertindak selama ini. Pertimbangkanlah apa yang akan kita lakukan kemudian. Kiranya, apapun yang kita lakukan, kita tetap memuliakan TUHAN, Allah semesta alam.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar