PEDAGANG bukan hanya sekedar menjual dan membeli. Semua orang yang sudah menjadi pedagang dalam waktu cukup lama, pasti mengetahui hal ini. Bukan kerjanya beli di sini dan jual di sana, begitu saja.
Pedagang yang tulen memilih apa yang mau dijualnya. Reputasi dan nama besar seorang pedagang berkaitan dengan kemampuannya memilih sesuatu yang berharga, beli murah -- jual tinggi, dan kemampuan menemukan pembeli yang tepat, mereka yang membutuhkan dan bisa menghargai sesuatu itu.
Jadi, pedagang bukan sekedar beli semurahnya, lantas jual setinggi-tingginya, tanpa tahu apa yang sedang ia jual, tanpa mengerti apa dan kenapa orang perlu membayar sesuatu itu sekian. Orang yang asal ambil dari grosiran dan jual eceran, itu adalah tukang jualan. Kemarin jual barang A, hari ini jual barang B, dan besok jual barang C.....
Masa bodoh dengan pembelinya. Masa bodoh mereka untung atau rugi membeli barang itu dengan harga segitu. Demikianlah tukang jualan. Makanya, tukang jualan tidak pernah punya nama.
Tapi pedagang bisa punya nama besar. Pedagang adalah agen ekonomi penting di dalam masyarakat, karena pedagang lah yang pergi ke tempat jauh, mencari apa yang benar-benar berharga, indah, penting -- dan dengan itu meningkatkan kehidupan si pembelinya.
Apa yang berharga? Ada dua hal. Yang pertama adalah benda berharga yang diolah manusia. Misalnya, manusia menggali dari tanah dan memurnikan emas. Atau manusia menggosok batu, hingga muncullah berlian. Atau manusia membuat bank dan membuat uang kertas serta sistem perbankan, dan membangun ekonomi modern.
Hal yang kedua adalah benda berharga yang diperoleh dari alam. Permata yang termahal, yang diperoleh begitu saja dari alam, adalah MUTIARA. Tidak ada pengolahan lanjutan atas mutiara; itu adalah benda langka yang ditemukan. Mutiara yang paling indah sangat jarang, hanya diperoleh dari laut di area tertentu, dari kerang tertentu.
Tidak ada manusia yang bisa membuat keindahan mutiara.
Mengambil mutiara bukan pekerjaan mudah -- seringkali kerang yang menyimpan mutiara paling besar dan indah terletak di dasar laut yang lebih dalam. Butuh kekuatan dan keahlian untuk mengambilnya, yang salah sedikit saja bisa kehilangan nyawa!
Maka, ketika seorang pedagang mengetahui ada mutiara yang benar-benar indah, benar-benar berharga -- layak untuk dimiliki para raja atau ratu, tidakkah ia akan berjuang untuk memperolehnya? Sebagai pedagang, ia tahu betapa penting dan berharganya. Dia tahu bedanya, langkanya.
Ketika pedagang itu mendengar keberadaan mutiara istimewa, dia berjuang untuk pergi mencarinya. Ketika menemukan, dia menjual semua miliknya untuk mendapatkan mutiara itu.... Berapapun harga yang dibayarkan, itu adalah beli murah -- jual tinggi sekali.
Dan saat mutiara itu benar-benar dimilikinya, mungkin tidak akan dilepaskannya lagi. Kekayaan dan harta benda bisa hilang untuk dicari lagi, tapi kesempatan memegang mutiara seindah itu, tidak bisa diulangi lagi!
Apa yang berharga seperti mutiara amat langka? Itulah Kerajaan Sorga! Tidak semua orang bisa memahaminya; yang hanya tukang jualan dan bersikap asalan, yang tidak keberatan dengan butiran plastik seperti mutiara -- mereka tidak mengerti nilainya. Hanya orang yang sungguh-sungguh mengerti penting dan berharganya Kerajaan Sorga, bersedia untuk mengejar dan memperolehnya.
Sungguh, Kerajaan Sorga ini jauh lebih berharga daripada mutiara teristimewa di dalam dunia! Seseorang sudah mati untuk mendapatkannya bagi mereka yang mencarinya.
Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
(Mat 13:45-46)
Jumat, 08 Juli 2016
Senin, 04 Juli 2016
Musibah
![]() |
| Ruth In The Fields 1876 Merle Hugues |
Musibah dimulai dari
langit dan bumi. Ini adalah kisah keluarga Bapak Elimelekh dan Ibu Naomi, yang
punya dua anak laki2 Mahlon dan Kilyon. Mereka hidup sejahtera dengan tanah
pertanian yang baik hasilnya.
Lalu terjadilah
bencana kekeringan. Bencana, bukan hanya kering semusim saja, melainkan
benar-benar susah. Elimelekh lantas membawa keluarganya mengungsi ke balik
gunung. Di sana tinggal bangsa yang kafir, agamanya beda. Punya budaya berbeda.
Tapi bisa makan di sana, kan?
Di tanah asing itu
mereka hidup, dan datanglah musibah berikutnya. Elimelekh meninggal dunia.
Naomi tinggal bersama kedua anak laki-lakinya. Mereka menjadi dewasa, dan
mendapatkan gadis-gadis dari penduduk setempat.
Sepuluh tahun mereka
hidup, dan datanglah musibah lainnya. Kedua pemuda itu meninggal dunia juga.
Tinggallah Naomi dan kedua menantunya Orpa dan Rut, perempuan-perempuan muda
yang belum punya anak.
Musibah mengundang
musibah. Setiap kali, musibah menghabiskan lebih banyak lagi. Hingga akhirnya,
Naomi tidak punya apa-apa lagi. Ia pun menyuruh kedua menantu perempuannya
pulang ke rumah orang tua mereka; toh usia masih muda -- mungkin masih
duapuluhan, masih bisa menikah lagi.
Bayangkan
kesedihannya. Tiada masa depan. Datang sekeluarga dengan tangan penuh, kini
tangannya hampa. Musibah itu, terasa mengosongkan. Pahit. Naomi mau menghapus
namanya, ia minta agar seterusnya dipanggil Mara saja. Si Pahit.
Dalam ketiadaan,
yang diperolehnya adalah kasih sayang yang mengherankan dari Rut, menantunya
yang masih muda ini. Orpa pulang, tetapi Rut ini tidak mau meninggalkan. Ia mau
menyertai Naomi pulang ke negeri asalnya. "Bangsamu menjadi bangsaku,
Allahmu menjadi Allahku," begitu kata Rut.
Naomi kehilangan
semua yang berasal dari masa lalu, ia kini hanya membawa seorang perempuan yang
berasal dari tanah asing. Seorang yang tidak punya alasan atau harapan apapun
untuk mengikutinya. Seorang yang saat itu akan nampak sangat bodoh. Untuk apa mengikuti
janda yang sudah kehilangan segalanya? Bodoh sekali, si Rut ini! Mengapa tidak
pulang saja, seperti yang dilakukan Orpa?
Yang bodoh itulah,
yang jadi harta terbesar Naomi. Yang meneruskan
kehidupannya.
Tadinya, kehidupan mereka nampaknya tersendiri saja; tidak ada tetangga, tidak ada komunitas. Ketika Elimelekh mengalami kesulitan, ia tidak bahu membahu dengan orang-orang sebangsanya. Mengapa harus pergi ke tanah asing? Di sana, hidupnya berakhir, demikian pula dengan kedua anak lelakinya. Mati sebagai orang asing, di tanah yang asing.
Tadinya, kehidupan mereka nampaknya tersendiri saja; tidak ada tetangga, tidak ada komunitas. Ketika Elimelekh mengalami kesulitan, ia tidak bahu membahu dengan orang-orang sebangsanya. Mengapa harus pergi ke tanah asing? Di sana, hidupnya berakhir, demikian pula dengan kedua anak lelakinya. Mati sebagai orang asing, di tanah yang asing.
Seandainya aja,
seandainya dari awal hidup berkomunitas, saling tolong menolong -- bukankah
hidup menjadi lebih ringan? Kekeringan masih terjadi, tetapi justru karena
bersama-sama, semuanya bisa tetap bertahan.
Berapa banyak dari kita yang mau sendirian, dan memilih untuk pergi keluar, ke tempat asing dan menjadi orang asing karena tidak mau berkomunitas dan saling membantu dengan sesama sebangsa? Kita pikir lebih baik di tanah asing, tapi malah akhirnya kehilangan lebih banyak, hingga hidup menjadi pahit, dipenuhi kepahitan.
Kisahnya Naomi belum berakhir. Ketika Naomi dan Rut sampai di kampung halamannya, mereka masuk dalam komunitas. Bagi Rut, itu adalah komunitas yang sama sekali asing, tetapi ia konsekuen dengan niatnya. Rut mengambil bagian dari aturan yang berlaku -- ia menjadi bagian dari harta waris Elimelekh dan anak-anaknya.
Bayangkan, bagi seorang Rut yang muda, ia menjadi "warisan" yang diserahkan kepada seorang paruh baya kaya raya, yang bernama Boas. Perempuan -- janda -- muda yang menyerahkan diri kepada lelaki paruh baya, untuk suatu budaya yang asing. Sebagai suatu bakti, suatu ketaatan. Rut sama sekali tidak mengenal Boaz sebelumnya. Tidak terbayangkan, bagaimana ia melalui itu semua. Rut hanya melakukannya. Boas sedemikian terkesan dengan bakti Rut, sehingga bersikap baik padanya.
Penutup dari semua tragedi ini adalah, Rut akhirnya menjadi milik Boas, dia ia melahirkan anak-anak yang menjadi cikal bakal raja-raja, hingga Raja yang terbesar di atas muka bumi.
Musibah? Ya.
Tapi Tuhan membuat semua rangkaian kejadian itu untuk mendatangkan yang terbaik bagi rencana-Nya.
Berapa banyak dari kita yang mau sendirian, dan memilih untuk pergi keluar, ke tempat asing dan menjadi orang asing karena tidak mau berkomunitas dan saling membantu dengan sesama sebangsa? Kita pikir lebih baik di tanah asing, tapi malah akhirnya kehilangan lebih banyak, hingga hidup menjadi pahit, dipenuhi kepahitan.
Kisahnya Naomi belum berakhir. Ketika Naomi dan Rut sampai di kampung halamannya, mereka masuk dalam komunitas. Bagi Rut, itu adalah komunitas yang sama sekali asing, tetapi ia konsekuen dengan niatnya. Rut mengambil bagian dari aturan yang berlaku -- ia menjadi bagian dari harta waris Elimelekh dan anak-anaknya.
Bayangkan, bagi seorang Rut yang muda, ia menjadi "warisan" yang diserahkan kepada seorang paruh baya kaya raya, yang bernama Boas. Perempuan -- janda -- muda yang menyerahkan diri kepada lelaki paruh baya, untuk suatu budaya yang asing. Sebagai suatu bakti, suatu ketaatan. Rut sama sekali tidak mengenal Boaz sebelumnya. Tidak terbayangkan, bagaimana ia melalui itu semua. Rut hanya melakukannya. Boas sedemikian terkesan dengan bakti Rut, sehingga bersikap baik padanya.
Penutup dari semua tragedi ini adalah, Rut akhirnya menjadi milik Boas, dia ia melahirkan anak-anak yang menjadi cikal bakal raja-raja, hingga Raja yang terbesar di atas muka bumi.
Musibah? Ya.
Tapi Tuhan membuat semua rangkaian kejadian itu untuk mendatangkan yang terbaik bagi rencana-Nya.
Minggu, 10 Januari 2016
Perjamuan Kudus
Hari ini, orang Kristen merayakan Perjamuan Kudus. Nah, ini mempunyai banyak penafsiran dan menjadi ritual (beberapa jadi seperti supranatural), namun kalau dipelajari, maksud asalnya adalah sebagai peringatan. Untuk mengingat, seperti yang dikatakan-Nya pada Perjamuan Terakhir itu: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Merayakan Perjamuan Kudus adalah mengingat apa yang Tuhan Yesus telah lakukan.
Dan apa yang dilakukan-Nya, adalah memberi diri ditangkap, disiksa, disalibkan sampai mati. Dikuburkan. Dan pada hari ketiga, kubur itu kosong. Ingatlah, lakukan Perjamuan Kudus untuk menjadi peringatan akan Tuhan Yesus. Inilah peristiwa dalam sejarah, dicatat dalam berbagai manuskrip. Apa yang mau diingat?
Ini adalah perbuatan kasih yang tak terukur, yang dilakukan oleh Tuhan. Manusia, orang-orang -- apapun agamanya -- sering menyebut Tuhan Yang Maha Pengasih, yang kasih-Nya sangat besar. Orang Yunani menyebut itu adalah kasih yang 'agape' -- bentuk kasih yang paling tinggi. Namun, apa persisnya perbuatan kasih yang dilakukan oleh Tuhan?
Ada yang bilang, "Tuhan sangat mengasihi saya karena saya diberkati." Ada yang menyebut soal kesehatan. Atau soal kekayaan. Atau soal kesempatan. Ayolah; jika itu adalah hal-hal yang kita alami, apa yang kita peroleh sangatlah kecil dibandingkan kekuasaan TUHAN. Bagi Tuhan, melakukan mukjizat adalah hal yang tidak terbatas bagi-Nya. Dia itu TUHAN! Melakukan mukjizat itu, bukan bukti kasih agape dari Tuhan.
Mari kita kembali pada peristiwa sejarah ini. Pikirkan hal-hal ini. Yang pertama, kita menemukan bahwa dasar dari kasih agape adalah KEBENARAN. Karena apa yang benar adalah benar. Apa yang sudah ditetapkan, itu telah ditetapkan. TUHAN adalah Pencipta kenyataan; apa yang telah Dia nyatakan menjadi ada, menjadi suatu kepastian, suatu Hukum. Kita melihat bahwa alam diatur oleh hukum-hukum yang tetap, yang matematis. Kasih agape tidak berdasarkan pada perasaan, bukan keputusan yang emosional.
Pengetahuan adalah deskripsi dari kenyataan, dan kebenaran adalah ukuran dari pengetahuan. Jika kita bilang, ini adalah pengetahuan yang benar, artinya pengetahuan itu mendeskripsikan kenyataan yang sebenar-benarnya, sesuai dengan apa yang ada, yang terjadi. Kebenaran yang mutlak adalah pengetahuan yang seutuhnya menjelaskan kenyataan. Bagi Tuhan Yang Maha Tahu, seluruh kenyataan terbuka lebar di hadapan-Nya. Bagi manusia? Ini jadi masalah; manusia tidak mampu mengamati segalanya, seutuhnya. Banyak sisi dari kenyataan yang tersembunyi bagi manusia; kita tidak bisa mengetahui apa isi hati dan pikiran orang lain, bukan? Jadi, bagi manusia ada banyak dugaan dan asumsi. Menebak-nebak. Mencoba-coba.
Kasih manusia didasarkan pada perasaan, bukan atas kebenaran -- karena manusia tidak mampu untuk menyelidiki kenyataan seutuhnya dari manusia lain. Jangankan menyelidiki orang lain, untuk mengerti hati sendiri juga susah kan! Jadi, selalu ada bagian yang tidak diketahui, yang menebak-nebak, juga yang dibuat-buat. Kita mengatakan, "saya mencintai Tuhan", tetapi kita tidak benar-benar mengerti apa artinya itu, bagaimana kenyataan tentang semua pilihan dan perbuatan serta kata-kata kita.
Yang kedua, dalam segala pengetahuan Tuhan, yang mengerti akan segala kenyataan tentang manusia dan dunia -- Dia mengetahui bahwa manusia ini berdosa. Dengan 'berdosa' artinya adalah mati, terputus dari Tuhan yang hidup, karena manusia menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat baginya. Manusia tidak mencari apa yang benar, melainkan apa yang baik. Yang dibanggakan adalah 'baik' dan 'kebaikan', semuanya ditentukan sendiri oleh manusia. Di mata Tuhan, yang mengetahui semua kenyataan, masihkah yang 'baik' itu tetap dinilai baik? Masih bisa menepuk dada menyebut diri baik di hadapan TUHAN, khalik langit dan bumi?
Kalau Tuhan menemukan manusia tidak lagi baik di mata-Nya, Dia dapat membuat ciptaan yang baru. Namun, karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini.... Dia tidak membuat yang baru, Dia juga tidak membengkokkan kenyataan yang telah ditetapkan-Nya, tidak mengubah kebenaran mutlak tentang dosa manusia. TUHAN mengurus dosa manusia dengan mengambil alih hukuman yang seharusnya ditanggung manusia. Dengan demikian, maka manusia dapat jalan untuk kembali berdamai dengan Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Yesus, dan hanya bisa dilakukan oleh Yesus, Putra tunggal Allah, karena syarat dari Dia yang bisa menebus dosa adalah tidak berdosa.
Dia yang tidak berdosa, bersedia mati dengan cara yang paling terkutuk, untuk menanggung dosa kita, manusia yang masih berdosa, yang tidak bisa mengangkat muka baik di hadapan Tuhan. Itulah realita. Itulah yang perlu diperingati.
Apakah ini disebut agama? Dari peristiwa ini, bisa banyak penafsiran, dan dengan begitu timbul agama.... Orang menafsirkan peristiwa Perjamuan Kudus dengan berbagai macam cara. Apapun penafsirannya, tidak mengubah fakta sejarah, kebenaran bahwa pada hari Kamis itu, dua hari sebelum hari Sabbat, Yesus berkumpul dalam Perjamuan Paskah bersama murid-murid-Nya. Kenyataan bahwa setelahnya, Ia melalui proses yang panjang dan menyakitkan, hingga mati dan dikuburkan. Untuk bangkit pada hari yang ketiga. Itu adalah kasih yang tak terukur, yang melampaui semua asumsi manusia tentang 'baik', yang nyata dan benar terjadi.
Supaya manusia tetap mengingatnya, memperingatinya. Selamat hari Minggu!
Langganan:
Komentar (Atom)
