Heb 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.
Siapa yang bisa menilai orang lain dengan tepat? Itulah yang mereka katakan: dalamnya hati siapa yang tahu? Masalah yang kita temukan adalah kenyataan bahwa kita tidak bisa bertelepati dan membaca pikiran orang lain. Akibat dari masalah ini: orang bisa membohongi orang lain. Ia memanipulasi penampilan dirinya, membuat orang berpikir lain tentang keberadaannya. Dari diri sendiri, orang lantas membangun usaha yang manipulatif, membentuk sistem yang tidak jelas, tidak nampak dalamnya, sampai akhirnya kita tidak tahu lagi apa yang benar-benar bisa dipercaya. Bagaimana bisa yakin akan ketulusan orang lain, sekalipun ia adalah seorang pendeta?
Dari soal kepercayaan, orang mempunyai masalah dalam relasi karena akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa dipercayainya, sebagaimana orang lain juga tidak bisa mempercayainya. Relasi manusia akhirnya mulai berubah menjadi relasi berdasarkan aturan dan norma, bukan kepercayaan. Ketika kita menghadapi seseorang, yang kita harapkan adalah orang itu mengikuti hukum atau peraturan yang sama, sehingga kita bisa menduga apa yang akan dipikirkannya, memprediksi apa yang akan dilakukannya. Kita tidak tahu apakah hatinya suka melakukan itu, atau sebaliknya ia merasa terpaksa – kita hanya menaruh kepercayaan sejauh ada jaminan atas kepercayaan yang diberikan.
Lalu, bagaimana dengan hubungan antara manusia dengan Allah? Bagaimana hubungan itu bisa dilakukan, jika manusia bahkan tidak mampu membangun kepercayaan, bahkan dengan dirinya sendiri? Bayangkanlah, jika seseorang tidak bisa mempercayai dirinya sendiri untuk melakukan hal benar, tidak sanggup mempercayai orang lain untuk berbuat benar – dapatkah ia meyakini bahwa Allah yang serba berkuasa dan tidak terbatas dalam memenuhi keinginan, juga menjadi Allah yang dapat dipercaya?
Pertanyaan ini terbawa dalam berbagai agama dan kepercayaan. Dalam mitologi kuno, entah di asia atau di eropa jaman dahulu, para dewa menjadi sosok berkuasa yang bisa berdusta, memanipulasi, dan bersenang-senang dengan permainannya. Dalam agama besar masa kini pun, ada yang menggambarkan Allah dapat melakukan apapun, termasuk memanipulasi, untuk menghukum orang-orang kafir, atau siapapun juga yang menjadi musuhnya. Memanipulasi musuh itu hal yang diperbolehkan; bukankah itu yang dilakukan dalam setiap peperangan? Hanya saja, ketika orang berhubungan dan 'berperang' dengan kepentingan masing-masing, siapakah yang dapat secara jelas disebut kawan yang berbeda dari lawan? Siapakah yang menjadi kawan dari Allah, dan siapakah yang menjadi lawan-Nya?
Ada begitu banyak pertanyaan. Pemikiran tentang semua ini mengganggu orang sejak jaman dahulu kala, dan itulah yang muncul ketika kita membahas tentang suatu hari perhentian yang disediakan oleh Allah. Siapakah yang dapat dianggap orang yang taat, sehingga layak untuk masuk di hari perhentian yang disediakan TUHAN, Allah semesta alam?
Inilah kebenaran yang diberikan oleh penulis surat Ibrani: bukan Allah yang misterius dan luas dan tak terpahami yang menjadi penilai manusia. Kalau Allah itu sedemikian misterius dan jauh, maka apapun penilaian Allah akan menjadi rahasia-Nya yang tidak terjangkau manusia, menjadi rahasia yang tidak dapat diungkapkan – sampai tiba saat Allah mengungkapkannya sendiri (dan saat itu sudah terlambat bagi orang untuk melakukan sesuatu). Yang menjadi penilai manusia adalah Firman Allah.
Ada dua pengertian dari istilah Firman Allah, yang berjalan bersama dan tidak terpisahkan. Yang pertama, Firman Allah merujuk kepada Tuhan Yesus Kristus, yaitu Firman yang menjadi manusia. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Artinya, Firman itu mempunyai kuasa dan kemuliaan Allah, suatu kesetaraan sehingga kita menyembah Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah, bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus.
Yang kedua, Firman adalah sesuatu bentuk yang dipahami oleh manusia. Jika Allah secara keseluruhan merupakan sesuatu yang tidak terpahami, maka Firman Allah adalah sesuatu yang bisa dipahami manusia, bisa dipelajari, bisa ditaati. Kalau orang tidak memahami Firman Allah, bagaimana ia dapat mentaati-Nya? Firman Allah mengungkapkan sesuatu, menjadi Wahyu bagi manusia, sesuai dengan kesanggupan manusia untuk paham. Demikianlah Tuhan Yesus hadir sebagai sosok yang sepenuhnya dipahami manusia, karena Ia menjadi sama dengan manusia. Ini juga berarti Firman itu sepenuhnya dapat menilai manusia, karena berada dalam kesanggupan manusiawi. Bukankah Yesus hidup sebagai manusia, yang cara hidupnya dapat ditiru oleh manusia lain?
Pertimbangkanlah hal ini: walaupun Tuhan Yesus dapat melakukan berbagai-bagai mujizat, tidak pernah disebutkan bahwa Ia menggantungkan hidup-Nya pada kemampuan melakukan mujizat itu. Ia tidak hidup sebagai penyembuh atau tabib, yang jika sanggup melakukan apa yang Yesus lakukan pasti sudah dari awal menjadi kaya raya dan makmur sejahtera. Ia juga tidak hidup sebagai Guru dan Imam yang diikuti oleh banyak orang, sehingga menikmati kesejahteraan dari tunjangan dari orang banyak; itulah yang dilakukan oleh orang farisi, orang saduki, dan ahli-ahli Taurat. Tidak, Tuhan Yesus besar sebagai tukang kayu, dan kemudian hidup dalam kesederhanaan sedemikian rupa sampai tidak mempunyai tempat untuk menaruh kepala-Nya, kiasan dari kemiskinan yang melingkupi-Nya.
Ironi bukan, kalau sekarang ini justru ada yang berkotbah tentang kekayaan yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Justru Yesus, Anak tunggal Allah, hidup tanpa kekayaan materi dan tidak punya harta apa-apa – hanya jubah saja yang melekat di badan, di mana orang mengundi barang itu sementara Yesus tergantung di atas salib. Kemiskinan bukanlah hal yang asing bagi Allah – demikianlah Dia sanggup menilai manusia, sebagaimana manusia juga sanggup memahami cara hidup-Nya.
Karena manusia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Allah, maka segala sesuatu nyata dihadapan-Nya. Tidak ada pedang yang bisa menebas jiwa dan roh, tetapi kata-kata Firman serta pengertiannya dapat membedakan, di mana tidak ada orang yang dapat mengelak. Firman Allah menjadi sumber yang cukup untuk menjelaskan keberadaan manusia, termasuk hal-hal yang lebih 'modern' karena nyatanya manusia masih sama saja seperti ribuan tahun yang lalu dalam hal nafsu dan keinginan. Kita masih saja ingin menyembunyikan hal-hal seperti ini, namun kata-kata Firman menyatakan kebenaran yang mutlak dan tetap – dan manusia akhirnya tunduk dan mengakui kebenaran betapapun ia tidak menginginkannya!
Satu contoh yang terjadi adalah seperti ini: apakah yang diimani oleh kita tentang Allah? Ada orang yang beriman pada Allah yang memberi, Allah yang menyediakan. Yang dimaksudkannya adalah Allah yang menyediakan segala harta dan sumber yang dibutuhkan, seperti air yang mengalir keluar dari batu yang dipukul Musa. Mereka berharap Allah memberi uang masuk kuliah untuk anak, memberi uang untuk jalan-jalan ke luar negeri saat mereka inginkan, memberi mobil, memberi rumah, memberi segala kemakmuran. Percaya bahwa sebagai "Anak Allah", seharusnya mereka menjadi Pangeran yang mendapatkan segala perkara yang terbaik, entah itu baju yang paling bagus, mobil yang paling baru, atau rumah yang paling mewah. Seharusnya mereka menyadari kuasa yang ada dalam diri, sehingga dengan menumpangkan tangan maka semua penyakit hilang, seperti juga klaim dapat dilakukan atas segala hal yang diinginkan.
Untuk mendapatkan itu semua, konon ada dua hal yang harus manusia lakukan. Yang pertama, hendaklah meminta dengan iman dan jangan ragu-ragu menyatakannya. Jangan ragu, Tuhan pasti memberikan mobil atau uang yang kita butuhkan. Nyatakanlah dan bersikaplah seolah-olah semua itu sudah kita terima. Yang kedua, hendaklah kita pertama-tama memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian-Nya, yaitu persepuluhan dan persembahan, disertai dengan doa dan puasa. Kalau kita lakukan kedua hal ini dengan yakin dan setia, pastilah Tuhan akan memberikan semua yang kita mau.
Apa yang Firman Tuhan katakan? Firman Allah memang memberitahu bahwa Dia memberikan apa yang kita minta dalam iman, tetapi permintaan itu bukan sesuatu untuk kita konsumsi sendiri! Jika doa kita hanya berisi permintaan untuk memuaskan ego dan keinginan sendiri, Tuhan tidak mempedulikannya – jangan salah, itu karena kita sendiri barangkali tidak peduli kepada lingkungan. Sebagai orang Kristen, apakah kita sungguh-sungguh mempedulikan sesama manusia?
Firman Allah berkata tentang hikmat dan kesanggupan yang diberikan secara cuma-cuma, supaya anak-anak Tuhan bisa bekerja dengan lebih baik. Berkat itu diberikan dalam bentuk potensi untuk berproduksi, yang digambarkan dengan perumpamaan tentang talenta. Modal itu menuntut sikap manusia untuk mengerjakannya – di sanalah iman kita diuji. Apakah kita beriman dapat bekerja dengan baik, walaupun kita terbatas dalam pengalaman dan pengetahuan? Apakah kita beriman dapat mampu menangani masalah, walaupun latar belakang kita bukan dari lingkungan yang paling ideal?
Bacalah Firman Tuhan, dan di sana semua keraguan itu terjawab. Tuhan menyediakan segala yang kita perlukan, tinggal sekarang apakah kita memutuskan untuk bekerja atau tidak. Apakah kita masih cukup tekun untuk bekerja, atau kita hanya ingin bersenang-senang saja sambil menikmati hasilnya? Ketika Firman itu datang, mungkin kita ingin menghindar, dengan cara hanya membaca setengah dari kalimat atau ayat yang ada. Tetapi selama Alkitab masih bisa dibaca seluruhnya, kita tidak bisa mengelak dari hujaman pedang kebenaran. Pikiran yang salah dan mau menang sendiri tidak dapat bertahan di hadapan kebenaran Firman Allah. Dan bukan hanya itu saja.
Firman Allah yang dapat dipahami ini, juga memberikan peringatan tentang sebab-akibat yang bisa dimengerti manusia. Kalau manusia taat, ada berkat. Kalau manusia tidak taat, ada kutuk. Firman Allah sanggup menilai manusia sampai ke dalam-dalamnya tanpa kecuali. Pertimbangan dan pikiran hati kita adalah hal-hal yang berbeda secara nyata bagi-Nya, tidak peduli apa kata orang, bahkan kata hamba Tuhan sekalipun. Apapun respon manusia terhadap Firman, kata-kata ini berkuasa dan menentukan jalan kehidupan manusia. Tidak ada yang tertutup, semuanya telanjang di hadapan TUHAN. Dan di akhir kelak, kita semua harus memberikan pertanggung jawaban kepada TUHAN.
Terpujilah TUHAN!