Selasa, 25 Agustus 2009

Anak-Ku Engkau

Ibr 5:5-6 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini", sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."

Dari jaman dahulu, pengakuan adalah hal yang penting. Pengakuan berkaitan dengan aktualisasi diri, itulah saat seseorang menemukan bahwa keberadaannya 'aktual', artinya sungguh-sungguh bermakna di masyarakat. Kehidupan orang banyak akan berbeda seandainya orang yang aktual itu tidak hadir di sana. Dan betapa banyak orang yang menginginkan dirinya diakui penting! Mereka berlomba-lomba menyatakan diri sebagai orang penting, kadang-kadang dengan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak penting, melainkan jarang orang lain mau melakukannya.

Bagaimana dengan status rohani? Sama juga, ada yang menyukai keberadaan dirinya yang 'penting' sebagai rohaniwan. Tidak bisa dipungkiri, nyatanya orang menyadari 'tingkat' rohani. Maka, ada yang menjadi 'gembala senior' atau 'pendeta senior'. Lain lagi, ada orang yang menunjukkan dirinya memiliki karunia dan melakukan mujizat. Orang demikian tentunya lebih rohani daripada orang awam lainnya, bukan? Jadinya, betapa orang berdoa ingin mendapatkan karunia, supaya bisa buat mujizat, memuliakan TUHAN, sekaligus menempatkan dirinya jadi penting!

Siapa yang bisa menyatakan bahwa peran seseorang benar-benar penting? Di sinilah kita menemukan bahwa secara mutlak, penentuan diberikan oleh TUHAN, Allah Bapa, Allah semesta alam. Jika orang memuliakan dirinya sendiri, dia tidak bisa menilai dengan benar. Bukankah ada orang merasa diri penting, tetapi sesungguhnya peran dia tidak berarti? Waktu yang menjadi penentu, apakah orang ini benar-benar berharga atau tidak. Tetapi Allah tidak dibatasi waktu, Dia mengetahui masa depan sebaik masa lalu.

Panggilan Allah menyatakan pengakuan-Nya. Ketika Harun dipanggil, ia merupakan pilihan yang tepat, sekalipun ada hal-hal yang menunjukkan respon Harun tidak pantas. Itu menunjukkan, TUHAN tidak memilih berdasarkan kesempurnaan manusia untuk suatu fungsi; bagaimanapun juga, manusia memang penuh kelemahan, tidak ada yang sempurna. Tetapi, panggilan itu menjadi berbeda ketika yang dinyatakan bukanlah tentang fungsi, melainkan relasi.

Hal ini perlu kita pahami. Harun dipanggil dalam konteks fungsi, yaitu menjadi imam. Ini adalah suatu peran, sebuah posisi yang diemban, bahkan diwariskan kepada seluruh suku Lewi. Posisi ini bisa dijabat oleh banyak orang, beberapa melakukannya dengan baik, lainnya dengan buruk. Sama seperti posisi yang diberi istilah "Pendeta" di jaman sekarang, beberapa menjadi saluran berkat, tapi ada juga yang mendatangkan kutuk bagi jemaat.

Sangat berbeda keadaannya ketika Allah Bapa memanggil dengan "Anak-Ku Engkau!" Ini adalah suatu relasi, suatu hubungan yang khusus dan khas. Hubungan ini telah dinyatakan dengan jelas pada suatu saat oleh Bapa, seperti yang diketahui oleh pemazmur tentang ketetapan TUHAN: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini." (Mzm 2:7). Relasi yang diakui oleh Allah dan dipahami oleh manusia, menunjukkan kualitas hubungan yang istimewa – sebagai Anak Allah.

Relasi ini juga ditetapkan dalam konteks waktu Allah, di luar waktu manusia. Hubungannya dipertegas dengan sebuah pengakuan lain, yaitu penetapan sebagai Imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Anak TUHAN ditetapkan sebagai Imam yang kekal sesuai dengan peraturan yang penetapannya juga di luar waktu manusia – itulah Melkisedek, yang menerima persembahan dari Abraham.

Kekhususan relasi dan fungsi ini menyatu pada Kristus, tetapi juga menjadi contoh bahwa kita pun memiliki peluang yang serupa, untuk menjadi anak-anak Allah. Tentu kita tidak mempunyai relasi yang khusus itu, atau menjadi Imam untuk selama-lamanya – sebaliknya justru kita dapat turut punya relasi yang istimewa karena Kristus, sebagaimana Dia menjadi Imam bagi kita untuk selama-lamanya. Kita juga mempunyai relasi, bukan hanya fungsi, dengan Bapa.

Renungkanlah: mari kita bersyukur karena Kristus! Maka kita memiliki relasi sebagai anak, yang tidak pernah terputus lagi – apa yang dapat memisahkan kita dari Kristus? Di dalam Dia kita mempunyai perantara yang kekal, karena Dialah Imam yang menjadi Raja, sebagaimana Melkisedek adanya.

Terpujilah TUHAN!

Rabu, 12 Agustus 2009

Mengerti Orang Jahil

Ibr 5:1-4 Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun.

Siapa yang paling baik dalam gedung gereja? Mari kita perhatikan. Ke mana mata kita tertuju? Barangkali, pertama-tama kita akan melihat ke arah mimbar. Bukankah di sana Pak Pendeta berdiri? Dia tentunya, seharusnya, menjadi yang paling baik dalam gedung gereja – walau nyatanya sekarang ini banyak juga orang yang tidak suka pada pendetanya sendiri (tanya kenapa?). Kalau bukan Pak Pendeta yang paling baik, kita melihat orang-orang yang duduk di sisi, mungkin anggota Majelis, mungkin Penatua, mungkin Diaken, atau sebutan apapun bagi mereka yang bertanggung jawab mengurus organisasi gereja. Dan kita mulai menimbang-nimbang, mengukur kebaikan orang...

Bagaimana kita mengukur kebaikan orang, sehingga kita bisa memutuskan siapa yang paling baik dalam gedung gereja? Pada manusia ada yang disebut dengan sekumpulan pemahaman di dalam sebuah sistem nilai, yaitu sistem untuk memberikan penilaian. Cara kerja sistem ini tergantung dari wawasan dunia, yang dibentuk oleh pengetahuan, perasaan, dan pengalaman orang tersebut. Sistem nilai akan mensortir apa yang kita temukan di sekitar kehidupan kita, membuat yang satu penting dan lain tidak penting, menghargai yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Kemudian, ketika sistem nilai ini dihubungkan dengan proses manusia membuat keputusan, kita mendapati apa yang disebut dengan paradigma, yaitu pemikiran yang mendorong dan membatasi perilaku manusia berdasarkan apa yang dilihat dan dipahaminya.

Apa paradigma kita tentang orang yang baik di gereja? Barangkali (karena, setiap orang bisa memiliki paradigma sendiri) kita mempunyai kondisi ideal di mana orang yang baik adalah orang yang tidak bergaul dengan orang yang jahat. Hal ini tidak mungkin terjadi, bukan? Air tidak bersatu dengan minyak. Orang yang berpakaian bersih tidak duduk bersisian di samping yang pakaiannya kotor – nanti kotoran bisa berpindah, bukan? Dan tentu saja kita ingat amsal yang menyatakan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bagaimana nanti orang baik bisa bergaul dengan orang yang tidak baik? Di atas semuanya, orang baik justru bergaul dengan TUHAN, merenungkan Firman itu siang dan malam, mengucapkan pujian dan mazmur serta kata-kata bijak. Itulah orang baik!

Apakah itu yang kita harapkan dari Bapak atau Ibu Pendeta? Begitu juga yang diharapkan dari seorang imam, dan kali ini mari kita melihat imam yang hidup di antara orang Israel. Bukankah dia seharusnya menjadi orang baik yang dikuduskan dari pergaulan yang sesat? Tetapi, apa yang dituntut sebagai tanggung jawab seorang imam adalah menghubungkan manusia dengan Allah. Karena ada begini banyak manusia, orang Israel, yang telah menjadi jahil dan sesat, yang penuh kelemahan dan berdosa – semua itu bermaksud untuk berdamai dengan Allah melalui imam. Sebagai penghubung demi perdamaian, imam harus menjadi orang yang paling baik. Tidak boleh ada cacatnya, tidak boleh ada celanya.

Masalahnya, di saat yang sama imam juga harus mengerti orang-orang yang penuh cacat dan cela. Bagaimana ia bisa mengerti mereka? Imam tidak bisa membaca pikiran orang lain, bukan? Dia tidak tahu apa yang benar-benar ada dalam hati orang, dan betapa mudah mata dan telinga manusia dipermainkan oleh penampilan sandiwara! Ada orang yang terlihat bersih sekali, baik sekali, ternyata belakangan diketahui ia mempunyai hati yang busuk, rencana yang jahat, dan tangan yang diam-diam berlumuran darah. Mereka pada awalnya tampil sebagai orang yang bijaksana, siap membela orang miskin, siap untuk berkorban – sampai tiba waktunya mereka tidak mendapat apa yang mereka inginkan, mereka menunjukkan taring kemarahannya dan tidak peduli kalau ada orang miskin yang terluka akibat perbuatannya itu.

Sebaliknya, ada juga yang berpenampilan aneh, dengan rambut yang barangkali jarang sekali dicuci sampai menjadi gimbal, dengan kata-kata yang membingungkan, antara serius dan bercanda tidak ketahuan, tetapi dia bisa menghibur dunia hanya dengan tertawa ha ha ha. Dalam kesempatan lain, bertemu orang seperti itu mungkin mendatangkan perasaan tidak nyaman, meski toh orang sekarang melihat sosok seperti ini sebagai lambang kebebasan yang baik. Jika imam bertemu orang seperti ini, apakah ia tidak lantas berpikir tentang dosa-dosa yang perlu disucikan, dengan membawanya ke hadapan Tuhan?

Jadi kita kembali pada kesulitan imam untuk mengerti orang-orang yang harus diwakilinya. Masalahnya adalah keberpihakan; apakah imam itu memihak manusia, umatnya? Jika ia tidak menjadi pihak manusia, sedangkan ia sendiri masih tetap seorang manusia, lantas bagaimana ia dapat membawa segala pergumulan manusia ke hadapan TUHAN? Sebaliknya, jika ia mau menjadi bagian dari umat yang berdosa, ia sendiri harus mengerti tentang dosa. Bagaimana caranya, mengingat kenyataan bahwa imam sendiri membawa dosa dalam dirinya? Jika imam masuk dalam kehidupan orang-orang itu, ia dapat turut jatuh dalam kesalahan yang sama. Ada seorang pendeta muda yang tadinya mau menolong para wanita tuna susila, akhirnya ia sendiri jatuh dalam percabulan. Dalam kenyataan, manusia tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melindungi sistem nilainya sendiri. Pengalaman dan perasaan bisa mempengaruhi orang dengan kuat sehingga wawasan dunianya berubah, paradigmanya berubah.

Apapun juga kesulitan yang muncul, kita kembali kepada tanggung jawab imam yang sudah ditetapkan baginya untuk mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ini adalah kehidupan yang diperjuangkan, termasuk bagi mereka yang jahil dan berdosa, menempatkan imam di posisi yang penting dan terhormat. Siapa yang bisa mendapatkan kehormatan, itu bukan dari pilihan manusia melainkan ketetapan Allah, seperti panggilan Allah bagi Harun. Panggilan yang sempurna, yang direspon dengan tidak sempurna karena kita tahu betapa Harun justru tunduk pada kehendak bangsa Israel dan membuat patung anak lembu emas, yang mengingkari TUHAN, Allah semesta alam.

Memikirkan demikian, maka kita tahu bahwa sebenarnya tidak ada manusia yang dapat mewakili umat untuk menghadap Allah. Satu-satunya cara adalah Tuhan datang dari Sorga dan menjadi bagian dari manusia, mengerti dengan benar karena Tuhan Yesus tahu isi hati orang, untuk dibawa ke dalam hubungan dengan Bapa di Sorga. Tuhan Yesus menjadi Pahlawan bagi kita sekalian, karena memberikan kehidupan yang kekal bagi orang yang percaya.

Terpujilah TUHAN!

Senin, 10 Agustus 2009

Iman Dari Kepemilikan

Heb 4:14-16 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Bagaimana seseorang dapat melangkah maju dalam hidupnya? Ada dua hal yang menjadi syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang pertama adalah syarat kepemilikan. Syarat yang kedua adalah syarat kesadaran, yaitu sadar tentang kepemilikan itu. Kedua hal ini menjadi kesatuan yang menyatu dan menjadi landasan dari semua keputusan yang diambil manusia, entah dia tahu atau tidak mengenai prinsip ini. Coba kita renungkan.

Misalnya saja, bagaimana seorang bisa melangkah dari tempat ini ke tempat itu? Pertama-tama, syaratnya ia harus memiliki kesehatan dan kekuatan yang cukup. Kalau orang sakit atau lumpuh, membuat satu langkah pun tidak bisa, bukan? Yang kedua, ia harus sadar bahwa ia punya kesehatan dan kekuatan yang cukup, sehingga ia berani melangkah. Ingat tentang orang lumpuh yang disembuhkan oleh Tuhan? Orang itu tidak bergerak sebelum diberitahu Tuhan Yesus untuk bergerak, "Angkatlah tilammu!"

Bagaimana dengan kenekatan manusia, misalnya yang bermain judi? Kedua syarat inipun berlaku: pertama-tama orang harus memiliki kesempatan untuk memenangkan judi itu. Dia bisa memperoleh kesempatan dengan membeli undian, atau memasang taruhan. Yang kedua, dia harus menyadari kemungkinan menang; dalam hal judi seringkali kesadaran ini muncul dari pengalaman orang lain. Bukankah dia melihat ada orang yang menang judi besar-besaran, sehingga menjadi sadar bahwa dirinya pun bisa memperoleh peruntungan yang sama? Kalau ada judi yang tidak pernah dimenangkan orang, tentunya tidak ada seorang pun yang mau bertaruh di sana.

Yang tidak diketahui orang, kesadaran itu sendiri bisa dimanipulasi. Ada bandar judi yang sengaja 'bermain' dengan bawahannya dalam sebuah sandiwara kemenangan judi yang besar, memberi kesan orang bisa menang besar padahal semua itu sudah diatur. Karena itu, kesadaran tidak boleh hanya bertumpu pada pengalaman, tetapi juga pada hikmat dan pengertian.

Dalam hal beriman, prinsip ini juga berlaku. Orang bisa beriman karena memiliki sesuatu dan sadar akan kepemilikan itu. Kita bisa beriman karena kita memiliki Imam Besar Agung. Bagi orang Israel, pengertian soal Imam Besar sangat penting dan mendasar dalam iman, yaitu sebagai penghubung antara manusia dan Allah. Satu kenyataan mutlak adalah: manusia dan Allah terpisah oleh jurang yang sangat lebar dan dalam, sehingga mustahil orang bisa mencapai Allah sendiri.

Untuk menjembatani jurang yang luar biasa ini, ada manusia yang berupaya dengan kesungguhan luar biasa sejak kecil, itu pun dalam rahmat dan berkat Allah, sehingga ia boleh menjadi seorang Imam Besar di masa tuanya. Sudah umum dipahami bahwa imam sama sekali tidak kebal dari salah, sehingga setiap Imam Besar yang masuk ke ruang Maha Suci datang dengan tali dan bel-bel kecil terikat di pinggangnya. Kalau ia berbuat salah dan mati di dalam, orang akan menarik tali itu untuk mengeluarkan jenazahnya. Jadi, kalau orang yang sudah sedemikian keras berusaha sejak kecil dapat mati oleh sebuah kesalahan – dan malangnya, tidak ada yang tahu apa kesalahan yang diperbuat di dalam sana – lantas bagaimana dengan orang-orang awam?

Karena dari sisi manusia tidak ada penghubung yang cukup layak, maka satu-satunya harapan yang benar adalah Penghubung yang datang dari sisi Allah. Inilah yang disebut sebagai Imam Besar Agung – sebelumnya tidak ada Imam Besar yang cukup Agung untuk disebut 'agung', 'great', atau dalam bahasa aslinya, 'mega'. Inilah Imam Besar yang datang melintasi semua langit sampai ke bumi, yaitu Yesus, Anak Allah. Kita sekarang mempunyainya, memiliki jalan, kebenaran, dan hidup!

Satu hal tentang Imam Besar, sebagai penghubung ia harus membawa keadaan manusia ke hadapan Allah. Untuk itu, Imam Besar harus memahami persoalan manusia, tahu tentang kelemahan manusia dan kejatuhannya. Kalau tidak, bagaimana ia dapat menjadi penghubung? Bayangkan saja, seandainya ada sekelompok anak kecil, yang mau memohon sesuatu kepada Sekolah yang dikelola orang dewasa. Tapi yang menjadi penghubungnya adalah sebuah terminal komputer dengan bahasa yang asing, dengan protokol dan prosedur yang telah dipahami semua orang dewasa, tetapi sama sekali asing bagi anak-anak. Bagaimana mereka dapat menyampaikan keluhan, keinginan, persoalan, atau apa pun kepada sekolahnya? Tetapi, kalau ada anak yang maju menjadi wakil, anak itu pun terbatas dalam kekanakannya, sehingga betapapun ia berusaha keras, anak kecil tidak bisa maju menghadapi orang dewasa.

Satu-satunya harapan adalah datangnya seorang dewasa yang ingat bahwa dirinya dahulu juga anak kecil (sekarang banyak orang dewasa yang lupa dia dulu pernah kecil) dan memahami dunia anak-anak. Ia mengerti kelemahan anak-anak, tahu bagaimana pikiran anak-anak, bisa mengenali mana permintaan yang serius dan mana permintaan yang main-main, serta membawa hal-hal esensial yang serius ini ke hadapan dewan Sekolah dengan cara orang dewasa berbicara.

Ini gambaran yang sangat buram, karena kalau bicara antara manusia dan Allah, perbedaannya jauh lebih besar daripada antara anak dan orang dewasa. Di sinilah kita menemukan bahwa Tuhan Yesus hadir sebagai manusia serta mengerti segala kelemahan, sudah turut menerima pencobaan, hanya Ia tidak berdosa. Kita memiliki Imam Besar Agung yang sungguh-sungguh mampu dan menguasai kemanusiaan, tanpa jatuh dalam kelemahannya.

Kalau demikian, apakah kita juga menyadari tentang kepemilikan itu? Ketika kita sadar, maka kita mempunyai iman. Kita bisa melangkah dalam iman, untuk mendekati takhta kasih karunia, sumber kasih dan karunia yang kita butuhkan untuk hidup benar di hadapan TUHAN. Apakah kita sungguh-sungguh menyadarinya?

Kesadaran ini penting, sebagai dasar keberanian kita untuk melangkah karena ada pertolongan yang dapat kita andalkan. Kita perlu menyadari kepemilikian ini sama seperti kita sadar tentang berapa jumlah uang kita dalam tabungan dan investasi, yang mungkin selama ini kita andalkan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita. Apa yang kita miliki dalam Tuhan jauh lebih besar, lebih penting, dan lebih berharga, sekaligus lebih sukar untuk dipahami karena bukan sesuatu yang ada dalam kendali kita.

Tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan Allah sebagaimana kepemilikan yang lain. Sebaliknya, ketika kita memiliki Tuhan, kitalah yang dikendalikan oleh-Nya, melalui Roh-Nya yang menunjukkan jalan kita. Bagi kita sendiri, yang kita harapkan adalah rahmat dan karunia untuk memperoleh pertolongan di setiap belokan, sampai kita menjumpai Tuhan di tempat-Nya. Dialah yang menjadi penghubung, dia yang membawa kita, dan pada Dia juga kita mendapat pertolongan kita!

Terpujilah TUHAN!

Sabtu, 01 Agustus 2009

Penilai Manusia

Heb 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Siapa yang bisa menilai orang lain dengan tepat? Itulah yang mereka katakan: dalamnya hati siapa yang tahu? Masalah yang kita temukan adalah kenyataan bahwa kita tidak bisa bertelepati dan membaca pikiran orang lain. Akibat dari masalah ini: orang bisa membohongi orang lain. Ia memanipulasi penampilan dirinya, membuat orang berpikir lain tentang keberadaannya. Dari diri sendiri, orang lantas membangun usaha yang manipulatif, membentuk sistem yang tidak jelas, tidak nampak dalamnya, sampai akhirnya kita tidak tahu lagi apa yang benar-benar bisa dipercaya. Bagaimana bisa yakin akan ketulusan orang lain, sekalipun ia adalah seorang pendeta?

Dari soal kepercayaan, orang mempunyai masalah dalam relasi karena akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa dipercayainya, sebagaimana orang lain juga tidak bisa mempercayainya. Relasi manusia akhirnya mulai berubah menjadi relasi berdasarkan aturan dan norma, bukan kepercayaan. Ketika kita menghadapi seseorang, yang kita harapkan adalah orang itu mengikuti hukum atau peraturan yang sama, sehingga kita bisa menduga apa yang akan dipikirkannya, memprediksi apa yang akan dilakukannya. Kita tidak tahu apakah hatinya suka melakukan itu, atau sebaliknya ia merasa terpaksa – kita hanya menaruh kepercayaan sejauh ada jaminan atas kepercayaan yang diberikan.

Lalu, bagaimana dengan hubungan antara manusia dengan Allah? Bagaimana hubungan itu bisa dilakukan, jika manusia bahkan tidak mampu membangun kepercayaan, bahkan dengan dirinya sendiri? Bayangkanlah, jika seseorang tidak bisa mempercayai dirinya sendiri untuk melakukan hal benar, tidak sanggup mempercayai orang lain untuk berbuat benar – dapatkah ia meyakini bahwa Allah yang serba berkuasa dan tidak terbatas dalam memenuhi keinginan, juga menjadi Allah yang dapat dipercaya?

Pertanyaan ini terbawa dalam berbagai agama dan kepercayaan. Dalam mitologi kuno, entah di asia atau di eropa jaman dahulu, para dewa menjadi sosok berkuasa yang bisa berdusta, memanipulasi, dan bersenang-senang dengan permainannya. Dalam agama besar masa kini pun, ada yang menggambarkan Allah dapat melakukan apapun, termasuk memanipulasi, untuk menghukum orang-orang kafir, atau siapapun juga yang menjadi musuhnya. Memanipulasi musuh itu hal yang diperbolehkan; bukankah itu yang dilakukan dalam setiap peperangan? Hanya saja, ketika orang berhubungan dan 'berperang' dengan kepentingan masing-masing, siapakah yang dapat secara jelas disebut kawan yang berbeda dari lawan? Siapakah yang menjadi kawan dari Allah, dan siapakah yang menjadi lawan-Nya?

Ada begitu banyak pertanyaan. Pemikiran tentang semua ini mengganggu orang sejak jaman dahulu kala, dan itulah yang muncul ketika kita membahas tentang suatu hari perhentian yang disediakan oleh Allah. Siapakah yang dapat dianggap orang yang taat, sehingga layak untuk masuk di hari perhentian yang disediakan TUHAN, Allah semesta alam?

Inilah kebenaran yang diberikan oleh penulis surat Ibrani: bukan Allah yang misterius dan luas dan tak terpahami yang menjadi penilai manusia. Kalau Allah itu sedemikian misterius dan jauh, maka apapun penilaian Allah akan menjadi rahasia-Nya yang tidak terjangkau manusia, menjadi rahasia yang tidak dapat diungkapkan – sampai tiba saat Allah mengungkapkannya sendiri (dan saat itu sudah terlambat bagi orang untuk melakukan sesuatu). Yang menjadi penilai manusia adalah Firman Allah.

Ada dua pengertian dari istilah Firman Allah, yang berjalan bersama dan tidak terpisahkan. Yang pertama, Firman Allah merujuk kepada Tuhan Yesus Kristus, yaitu Firman yang menjadi manusia. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Artinya, Firman itu mempunyai kuasa dan kemuliaan Allah, suatu kesetaraan sehingga kita menyembah Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah, bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus.

Yang kedua, Firman adalah sesuatu bentuk yang dipahami oleh manusia. Jika Allah secara keseluruhan merupakan sesuatu yang tidak terpahami, maka Firman Allah adalah sesuatu yang bisa dipahami manusia, bisa dipelajari, bisa ditaati. Kalau orang tidak memahami Firman Allah, bagaimana ia dapat mentaati-Nya? Firman Allah mengungkapkan sesuatu, menjadi Wahyu bagi manusia, sesuai dengan kesanggupan manusia untuk paham. Demikianlah Tuhan Yesus hadir sebagai sosok yang sepenuhnya dipahami manusia, karena Ia menjadi sama dengan manusia. Ini juga berarti Firman itu sepenuhnya dapat menilai manusia, karena berada dalam kesanggupan manusiawi. Bukankah Yesus hidup sebagai manusia, yang cara hidupnya dapat ditiru oleh manusia lain?

Pertimbangkanlah hal ini: walaupun Tuhan Yesus dapat melakukan berbagai-bagai mujizat, tidak pernah disebutkan bahwa Ia menggantungkan hidup-Nya pada kemampuan melakukan mujizat itu. Ia tidak hidup sebagai penyembuh atau tabib, yang jika sanggup melakukan apa yang Yesus lakukan pasti sudah dari awal menjadi kaya raya dan makmur sejahtera. Ia juga tidak hidup sebagai Guru dan Imam yang diikuti oleh banyak orang, sehingga menikmati kesejahteraan dari tunjangan dari orang banyak; itulah yang dilakukan oleh orang farisi, orang saduki, dan ahli-ahli Taurat. Tidak, Tuhan Yesus besar sebagai tukang kayu, dan kemudian hidup dalam kesederhanaan sedemikian rupa sampai tidak mempunyai tempat untuk menaruh kepala-Nya, kiasan dari kemiskinan yang melingkupi-Nya.

Ironi bukan, kalau sekarang ini justru ada yang berkotbah tentang kekayaan yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Justru Yesus, Anak tunggal Allah, hidup tanpa kekayaan materi dan tidak punya harta apa-apa – hanya jubah saja yang melekat di badan, di mana orang mengundi barang itu sementara Yesus tergantung di atas salib. Kemiskinan bukanlah hal yang asing bagi Allah – demikianlah Dia sanggup menilai manusia, sebagaimana manusia juga sanggup memahami cara hidup-Nya.

Karena manusia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Allah, maka segala sesuatu nyata dihadapan-Nya. Tidak ada pedang yang bisa menebas jiwa dan roh, tetapi kata-kata Firman serta pengertiannya dapat membedakan, di mana tidak ada orang yang dapat mengelak. Firman Allah menjadi sumber yang cukup untuk menjelaskan keberadaan manusia, termasuk hal-hal yang lebih 'modern' karena nyatanya manusia masih sama saja seperti ribuan tahun yang lalu dalam hal nafsu dan keinginan. Kita masih saja ingin menyembunyikan hal-hal seperti ini, namun kata-kata Firman menyatakan kebenaran yang mutlak dan tetap – dan manusia akhirnya tunduk dan mengakui kebenaran betapapun ia tidak menginginkannya!

Satu contoh yang terjadi adalah seperti ini: apakah yang diimani oleh kita tentang Allah? Ada orang yang beriman pada Allah yang memberi, Allah yang menyediakan. Yang dimaksudkannya adalah Allah yang menyediakan segala harta dan sumber yang dibutuhkan, seperti air yang mengalir keluar dari batu yang dipukul Musa. Mereka berharap Allah memberi uang masuk kuliah untuk anak, memberi uang untuk jalan-jalan ke luar negeri saat mereka inginkan, memberi mobil, memberi rumah, memberi segala kemakmuran. Percaya bahwa sebagai "Anak Allah", seharusnya mereka menjadi Pangeran yang mendapatkan segala perkara yang terbaik, entah itu baju yang paling bagus, mobil yang paling baru, atau rumah yang paling mewah. Seharusnya mereka menyadari kuasa yang ada dalam diri, sehingga dengan menumpangkan tangan maka semua penyakit hilang, seperti juga klaim dapat dilakukan atas segala hal yang diinginkan.

Untuk mendapatkan itu semua, konon ada dua hal yang harus manusia lakukan. Yang pertama, hendaklah meminta dengan iman dan jangan ragu-ragu menyatakannya. Jangan ragu, Tuhan pasti memberikan mobil atau uang yang kita butuhkan. Nyatakanlah dan bersikaplah seolah-olah semua itu sudah kita terima. Yang kedua, hendaklah kita pertama-tama memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian-Nya, yaitu persepuluhan dan persembahan, disertai dengan doa dan puasa. Kalau kita lakukan kedua hal ini dengan yakin dan setia, pastilah Tuhan akan memberikan semua yang kita mau.

Apa yang Firman Tuhan katakan? Firman Allah memang memberitahu bahwa Dia memberikan apa yang kita minta dalam iman, tetapi permintaan itu bukan sesuatu untuk kita konsumsi sendiri! Jika doa kita hanya berisi permintaan untuk memuaskan ego dan keinginan sendiri, Tuhan tidak mempedulikannya – jangan salah, itu karena kita sendiri barangkali tidak peduli kepada lingkungan. Sebagai orang Kristen, apakah kita sungguh-sungguh mempedulikan sesama manusia?

Firman Allah berkata tentang hikmat dan kesanggupan yang diberikan secara cuma-cuma, supaya anak-anak Tuhan bisa bekerja dengan lebih baik. Berkat itu diberikan dalam bentuk potensi untuk berproduksi, yang digambarkan dengan perumpamaan tentang talenta. Modal itu menuntut sikap manusia untuk mengerjakannya – di sanalah iman kita diuji. Apakah kita beriman dapat bekerja dengan baik, walaupun kita terbatas dalam pengalaman dan pengetahuan? Apakah kita beriman dapat mampu menangani masalah, walaupun latar belakang kita bukan dari lingkungan yang paling ideal?

Bacalah Firman Tuhan, dan di sana semua keraguan itu terjawab. Tuhan menyediakan segala yang kita perlukan, tinggal sekarang apakah kita memutuskan untuk bekerja atau tidak. Apakah kita masih cukup tekun untuk bekerja, atau kita hanya ingin bersenang-senang saja sambil menikmati hasilnya? Ketika Firman itu datang, mungkin kita ingin menghindar, dengan cara hanya membaca setengah dari kalimat atau ayat yang ada. Tetapi selama Alkitab masih bisa dibaca seluruhnya, kita tidak bisa mengelak dari hujaman pedang kebenaran. Pikiran yang salah dan mau menang sendiri tidak dapat bertahan di hadapan kebenaran Firman Allah. Dan bukan hanya itu saja.

Firman Allah yang dapat dipahami ini, juga memberikan peringatan tentang sebab-akibat yang bisa dimengerti manusia. Kalau manusia taat, ada berkat. Kalau manusia tidak taat, ada kutuk. Firman Allah sanggup menilai manusia sampai ke dalam-dalamnya tanpa kecuali. Pertimbangan dan pikiran hati kita adalah hal-hal yang berbeda secara nyata bagi-Nya, tidak peduli apa kata orang, bahkan kata hamba Tuhan sekalipun. Apapun respon manusia terhadap Firman, kata-kata ini berkuasa dan menentukan jalan kehidupan manusia. Tidak ada yang tertutup, semuanya telanjang di hadapan TUHAN. Dan di akhir kelak, kita semua harus memberikan pertanggung jawaban kepada TUHAN.

Terpujilah TUHAN!