Kita sedang berperang. Walaupun semua nampak tenang tenteram, santai sejuk nyaman, sadarilah bahwa perang belum berakhir. Mungkin kita bertanya, perang apa yang dihadapi? Bukankah kita sedang hidup dalam masa damai, tanpa perseteruan atau perkelahian? Lagipula, anak-anak Tuhan harusnya jadi pembawa damai, bukan?
Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan." Ayah bertentangan dengan anak, saudara sekandung berkelahi, apalagi antara tetangga dan kampung yang jauh. Pertentangan ini bukan hal yang bisa dihindari, betapapun kita tidak menginginkannya. Sumbernya bukan karena persaingan atau perebutan kekuasaan, melainkan karena pertentangan antara yang Kudus dengan yang cemar, antara benar dan salah, antara terang dan gelap. Perang yang tidak bisa dikompromikan atau dinegosiasikan.
Perang adalah pergumulan, di mana ada satu hal yang diperebutkan yang berakhir dengan kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lain. Perang bisa dilakukan dengan membinasakan pihak lawan, namun bisa juga mematahkan harapan dan semangat musuh, tanpa kematian siapapun. Pihak yang menang bisa menguasai wilayah - tanah dan air - bisa menguasai orang pengikut, bisa juga menguasai pikiran. Hitungannya bisa pengaruh, atau kekayaan, atau kemuliaan dan kenikmatan.
Bayangkan jika ada orang yang melakukan penipuan dan kelicikan, hingga ia bisa mencapai kedudukan yang mulia, menikmati segala kesenangan dan kenikmatan. Lalu ada seorang lain yang mengetahui semua dusta, memiliki bukti kejahatan yang dilakukan orang pertama tadi. Kira-kira, seperti apa perbuatan si penipu itu untuk mengamankan dirinya? Selama suaranya terancam terbongkar, si penipu tidak bisa tinggal diam. Ia harus mengenyahkan ancaman, harus menyingkirkan orang kedua. Mungkin, ia harus membuat agar tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan kata-kata orang kedua. Mungkin ia akan membuat fitnah, agar orang kedua diasingkan. Mungkin juga, ia merencanakan pembunuhan terhadap orang kedua.
Semua itu dilakukan hanya karena orang kedua memiliki terang atas kebenaran yang ingin digelapkan. Kegelapan memberi perlindungan atas kejahatan, sedikit terang sudah cukup mengancam hancurnya kegelapan. Terang dan gelap menjadi pertentangan yang tidak bisa didamaikan. Jika kita menjadi orang kedua, apa yang akan kita lakukan? Permusuhan terjadi hanya karena keberadaan kita dan apa yang kita ketahui.
Ada orang yang menghindari permusuhan dan perang dengan cara menjadi orang lain. Berpura-pura tidak mengetahui dan memusnahkan semua bukti dusta. Ada lagi orang yang menafsirkan ulang pengetahuannya, menganggap salah beberapa bagian, membangun ulang pengetahuan baru yang lebih cocok dan tidak terlalu menyinggung atau menantang. Pokoknya, kedamaian dan ketentraman bisa dijaga, dan si penipu itu tidak perlu merasa terancam. Masalahnya kalau si penipu itu marah, dia bisa membunuh dengan semena-mena. Apa yang menjadi sikap kita?
Si penipu itu tak lain dari si iblis sendiri. Dia adalah malaikat yang dibuang, tetapi dia menampilkan diri sebagai raja di antara manusia. Si penipu menyesatkan manusia dengan agama dan kepercayaan buatan, yang dikokohkan melalui cara licik dan kekerasan, paksaan. Dia adalah pembunuh manusia, yang berkuasa lewat manipulasi dan kebohongan. Ketika Tuhan Yesus datang, Ia menyatakan kebenaran. Ia mengusir setan dari manusia, menunjukkan apa sebenarnya setan itu: yang terbuang dan ternista. Iblis tidak mau manusia memahami kebenaran. Ia membuat perang melawan pembawa kebenaran, melawan orang-orang yang berpegang pada Firman Tuhan. Perang ini bukan pilihan kita, maka juga tidak dapat kita hindari.
Tidak ada perang yang mudah. Ada hal-hal yang harus dikorbankan. Tuhan Yesus menghancurkan kuasa maut dengan tubuh dan daging-Nya sendiri. Kita juga harus bersedia memikul salib, juga mengalami kesulitan dan penderitaan. Karena itu, kita harus kuat. Hendaklah kamu kuat, firman Tuhan. Perhatikanlah, sama sekali tidak ada keluhan atau keraguan soal berperang. Yang dinyatakan justru soal kekuatan. Soal persiapan. Kuatlah di dalam Tuhan! Milikilah kekuatan kuasa-Nya! Kita tidak perlu berpikir soal gencatan senjata, atau berdamai dengan iblis. Mahluk ini berniat mengenyahkan anak-anak Tuhan, karena terang yang kita miliki. Kita tidak dapat menjadi gelap, atau menutupi terang yang ada pada kita, tanpa meninggalkan Tuhan yang menyertai kita. Iblis membenci Roh Kudus yang ada pada diri orang percaya. Ia berusaha keras agar kita menolak Tuhan, dengan tipuan yang paling canggih untuk mengacaukan pikiran.
Tipu muslihat Iblis tidak boleh diremehkan atau dianggap enteng. Kalau orang menjadi sombong secara rohani, ia telah terperangkap tipu daya hebat, yang membuat orang tidak sadar betapa dalam kejatuhannya dalam dosa.
Kita terbiasa untuk melihat musuh kita, entah berupa binatang atau manusia atau monster. Kita mempersiapkan diri untuk melawan musuh yang bisa dilihat dan dilukai. Bagaimana kita dapat melawan pikiran yang menyimpang dan emosi yang meledak-ledak? Musuh kita tidak menampilkan wajah yang menyeramkan, sebaliknya tampil begitu baik dan menarik. Kesesatan dipresentasikan dengan logika yang kuat dan masuk akal, sehingga sangat wajar untuk diikuti. Dalam kesesatan itu, kita dihasut untuk membenci sesama manusia. Orang-orang yang dipandang buruk dan jahat, harus dibinasakan. Persis itulah yang diinginkan: dari hukum untuk mengasihi Allah, keluar tindakan yang melanggar hukum mengasihi sesama manusia. Kebencian menjadi masuk akal, demikian juga dengan keputusan untuk melawan dan membunuh para pendosa. Lagipula, bukankah hal yang sama juga diajarkan oleh banyak agama dan kepercayaan lainnya? Pemurnian dan penyucian berarti pemisahan, penghukuman.
Aturan untuk menghukum si pendurhaka adalah aturan yang biasa. Harus jaga kesucian umat, harus menindak pendosa. Sayangnya, banyak orang lupa bahwa hukum itu diberikan dalam konteks Perjanjian. Iblislah yang membawa tindakan menghukum itu keluar dari konteksnya, serta membuat hukuman menjadi norma yang semena-mena. Iblislah yang seharusnya dibenci, harusnya dilawan. Ini adalah perang, yang sudah dimulai sejak manusia mati dalam dosa.
Perang ini sukar, karena kita melawan pihak yang berkuasa. Perhatikan peringatan Paulus: yang dilawan adalah pemerintah, penguasa, penghulu dunia yang gelap. Sosok yang dilawan bukan sosok manusia, melainkan roh-roh -- artinya ada lebih dari satu -- jahat di udara. Melayang, tidak terlihat, namun jahat luar biasa. Penipu, bapa segala pendusta, pembunuh manusia. Dalam perang ini, kita berjuang melawan kegelapan dengan perlengkapan senjata Allah. Melawan gelap dengan terang, artinya berpegang pada kebenaran dan menyatakannya. Memberitakan kabar baik dan kebenaran, sekalipun ada orang-orang yang marah karena rahasianya dibongkar. Kita dimusuhi karena terang yang kita bawa, tentang kebenaran yang paling penting untuk diketahui manusia.
Kebenaran itu adalah, bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya ada keselamatan, selain Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain untuk sampai kepada Allah, hanya Tuhan Yesus saja. Praktis hal ini bertentangan dengan setiap agama dan kepercayaan lain, dan tentunya ada yang marah. Ada yang memerangi, tidak ada tempat aman. Namun, kita bisa menjadi kuat!
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Published with Blogger-droid v2.0.4