Selasa, 13 Maret 2012

Renungan Sehari - 13 Maret 2012

Efesus 6:10-12  Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Kita sedang berperang. Walaupun semua nampak tenang tenteram, santai sejuk nyaman, sadarilah bahwa perang belum berakhir. Mungkin kita bertanya, perang apa yang dihadapi? Bukankah kita sedang hidup dalam masa damai, tanpa perseteruan atau perkelahian? Lagipula, anak-anak Tuhan harusnya jadi pembawa damai, bukan?

Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan." Ayah bertentangan dengan anak, saudara sekandung berkelahi, apalagi antara tetangga dan kampung yang jauh. Pertentangan ini bukan hal yang bisa dihindari, betapapun kita tidak menginginkannya. Sumbernya bukan karena persaingan atau perebutan kekuasaan, melainkan karena pertentangan antara yang Kudus dengan yang cemar, antara benar dan salah, antara terang dan gelap. Perang yang tidak bisa dikompromikan atau dinegosiasikan.

Perang adalah pergumulan, di mana ada satu hal yang diperebutkan yang berakhir dengan kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lain. Perang bisa dilakukan dengan membinasakan pihak lawan, namun bisa juga mematahkan harapan dan semangat musuh, tanpa kematian siapapun. Pihak yang menang bisa menguasai wilayah - tanah dan air - bisa menguasai orang pengikut, bisa juga menguasai pikiran. Hitungannya bisa pengaruh, atau kekayaan, atau kemuliaan dan kenikmatan.

Bayangkan jika ada orang yang melakukan penipuan dan kelicikan, hingga ia bisa mencapai kedudukan yang mulia, menikmati segala kesenangan dan kenikmatan. Lalu ada seorang lain yang mengetahui semua dusta, memiliki bukti kejahatan yang dilakukan orang pertama tadi. Kira-kira, seperti apa perbuatan si penipu itu untuk mengamankan dirinya? Selama suaranya terancam terbongkar, si penipu tidak bisa tinggal diam. Ia harus mengenyahkan ancaman, harus menyingkirkan orang kedua. Mungkin, ia harus membuat agar tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan kata-kata orang kedua. Mungkin ia akan membuat fitnah, agar orang kedua diasingkan. Mungkin juga, ia merencanakan pembunuhan terhadap orang kedua.

Semua itu dilakukan hanya karena orang kedua memiliki terang atas kebenaran yang ingin digelapkan. Kegelapan memberi perlindungan atas kejahatan, sedikit terang sudah cukup mengancam hancurnya kegelapan. Terang dan gelap menjadi pertentangan yang tidak bisa didamaikan. Jika kita menjadi orang kedua, apa yang akan kita lakukan? Permusuhan terjadi hanya karena keberadaan kita dan apa yang kita ketahui.

Ada orang yang menghindari permusuhan dan perang dengan cara menjadi orang lain. Berpura-pura tidak mengetahui dan memusnahkan semua bukti dusta. Ada lagi orang yang menafsirkan ulang pengetahuannya, menganggap salah beberapa bagian, membangun ulang pengetahuan baru yang lebih cocok dan tidak terlalu menyinggung atau menantang. Pokoknya, kedamaian dan ketentraman bisa dijaga, dan si penipu itu tidak perlu merasa terancam. Masalahnya kalau si penipu itu marah, dia bisa membunuh dengan semena-mena. Apa yang menjadi sikap kita?

Si penipu itu tak lain dari si iblis sendiri. Dia adalah malaikat yang dibuang, tetapi dia menampilkan diri sebagai raja di antara manusia. Si penipu menyesatkan manusia dengan agama dan kepercayaan buatan, yang dikokohkan melalui cara licik dan kekerasan, paksaan. Dia adalah pembunuh manusia, yang berkuasa lewat manipulasi dan kebohongan. Ketika Tuhan Yesus datang, Ia menyatakan kebenaran. Ia mengusir setan dari manusia, menunjukkan apa sebenarnya setan itu: yang terbuang dan ternista. Iblis tidak mau manusia memahami kebenaran. Ia membuat perang melawan pembawa kebenaran, melawan orang-orang yang berpegang pada Firman Tuhan. Perang ini bukan pilihan kita, maka juga tidak dapat kita hindari.

Tidak ada perang yang mudah. Ada hal-hal yang harus dikorbankan. Tuhan Yesus menghancurkan kuasa maut dengan tubuh dan daging-Nya sendiri. Kita juga harus bersedia memikul salib, juga mengalami kesulitan dan penderitaan. Karena itu, kita harus kuat. Hendaklah kamu kuat, firman Tuhan. Perhatikanlah, sama sekali tidak ada keluhan atau keraguan soal berperang. Yang dinyatakan justru soal kekuatan. Soal persiapan. Kuatlah di dalam Tuhan! Milikilah kekuatan kuasa-Nya! Kita tidak perlu berpikir soal gencatan senjata, atau berdamai dengan iblis. Mahluk ini berniat mengenyahkan anak-anak Tuhan, karena terang yang kita miliki. Kita tidak dapat menjadi gelap, atau menutupi terang yang ada pada kita, tanpa meninggalkan Tuhan yang menyertai kita. Iblis membenci Roh Kudus yang ada pada diri orang percaya. Ia berusaha keras agar kita menolak Tuhan, dengan tipuan yang paling canggih untuk mengacaukan pikiran.

Tipu muslihat Iblis tidak boleh diremehkan atau dianggap enteng. Kalau orang menjadi sombong secara rohani, ia telah terperangkap tipu daya hebat, yang membuat orang tidak sadar betapa dalam kejatuhannya dalam dosa.

Kita terbiasa untuk melihat musuh kita, entah berupa binatang atau manusia atau monster. Kita mempersiapkan diri untuk melawan musuh yang bisa dilihat dan dilukai. Bagaimana kita dapat melawan pikiran yang menyimpang dan emosi yang meledak-ledak? Musuh kita tidak menampilkan wajah yang menyeramkan, sebaliknya tampil begitu baik dan menarik. Kesesatan dipresentasikan dengan logika yang kuat dan masuk akal, sehingga sangat wajar untuk diikuti. Dalam kesesatan itu, kita dihasut untuk membenci sesama manusia. Orang-orang yang dipandang buruk dan jahat, harus dibinasakan. Persis itulah yang diinginkan: dari hukum untuk mengasihi Allah, keluar tindakan yang melanggar hukum mengasihi sesama manusia. Kebencian menjadi masuk akal, demikian juga dengan keputusan untuk melawan dan membunuh para pendosa. Lagipula, bukankah hal yang sama juga diajarkan oleh banyak agama dan kepercayaan lainnya? Pemurnian dan penyucian berarti pemisahan, penghukuman.

Aturan untuk menghukum si pendurhaka adalah aturan yang biasa. Harus jaga kesucian umat, harus menindak pendosa. Sayangnya, banyak orang lupa bahwa hukum itu diberikan dalam konteks Perjanjian. Iblislah yang membawa tindakan menghukum itu keluar dari konteksnya, serta membuat hukuman menjadi norma yang semena-mena. Iblislah yang seharusnya dibenci, harusnya dilawan. Ini adalah perang, yang sudah dimulai sejak manusia mati dalam dosa.

Perang ini sukar, karena kita melawan pihak yang berkuasa. Perhatikan peringatan Paulus: yang dilawan adalah pemerintah, penguasa, penghulu dunia yang gelap. Sosok yang dilawan bukan sosok manusia, melainkan roh-roh -- artinya ada lebih dari satu -- jahat di udara. Melayang, tidak terlihat, namun jahat luar biasa. Penipu, bapa segala pendusta, pembunuh manusia. Dalam perang ini, kita berjuang melawan kegelapan dengan perlengkapan senjata Allah. Melawan gelap dengan terang, artinya berpegang pada kebenaran dan menyatakannya. Memberitakan kabar baik dan kebenaran, sekalipun ada orang-orang yang marah karena rahasianya dibongkar. Kita dimusuhi karena terang yang kita bawa, tentang kebenaran yang paling penting untuk diketahui manusia.

Kebenaran itu adalah, bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya ada keselamatan, selain Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain untuk sampai kepada Allah, hanya Tuhan Yesus saja. Praktis hal ini bertentangan dengan setiap agama dan kepercayaan lain, dan tentunya ada yang marah. Ada yang memerangi, tidak ada tempat aman. Namun, kita bisa menjadi kuat!

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Published with Blogger-droid v2.0.4

Senin, 12 Maret 2012

Renungan Sehari - 12 Maret 2012

Ef 6:9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Apa yang diinginkan orang, selain dari memegang seluruh kendali di dunia ini? Menjadi penguasa adalah perjuangan meraih kendali, mula-mula atas orang yang dekat, kemudian orang  yang jauh, hingga seluruh dunia berada dalam genggamannya. Walaupun semua orang ketika mati hanya membutuhkan lubang 1x2 meter, namun kendali yang diikatnya melampaui tanah dan laut, membentang melewati benua dan samudra. Ada yang berpendapat tidak penting bagaimana jika sudah mati nanti, asal selama hidup bisa memegang kendali sesuka hati. Ada juga yang ingin kendali selalu ada pada dirinya, bahkan setelah kematian.

Ketika orang menginginkan kendali dalam tangannya, ia ingin mencapai tujuannya sendiri. Semakin besar kekuasaan di tangan, semakin kuat tujuan sendiri menjadi acuan. Bahkan ketika visi pribadinya adalah "baik" dalam penilaian orang, misalnya berupaya mewujudkan bantuan sosial bagi masyarakat -- tetap saja tujuannya dibuat berdasarkan penilaian sang penguasa. Apa yang "baik" menjadi subjektif, tergantung pengendali, sesuai dengan idenya sendiri. Bahkan ketika orang memikirkan kebaikan itu adalah bagi Tuhan, memberikan "yang terbaik, terbesar, terindah bagi Allah" -- belum tentu ukurannya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.

Kesulitan terbesar dari menjadi anak Tuhan yang jadi pengusaha yang memiliki anak buah adalah, pada akhirnya ia sendiri harus mau menjadi hamba yang menunduk dan mentaati Tuhan. Akhirnya, si pengusaha ini juga harus menjadi pegawai yang mengerjakan kehendak Tuhan, Rajanya. Ia harus melakukan pekerjaan dengan takut dan gentar agar melaksanakan rancangan Tuhan, suatu pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.

Apa yang menjadi parameter dalam rancangan Tuhan? Apakah Ia memperhatikan besarnya saldo rekening di bank, atau volume transaksi dalam sehari? Kepada siapa dan bagaimana kasih Tuhan ditujukan? Bukankah di mata Tuhan, manusialah yang menjadi fokus utama? Amanat yang diberikan Tuhan bukan soal membangun kekayaan dan kekuasaan di dunia, melainkan memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa mruid-Nya. Orang-orang adalah fokusnya -- lebih daripada pekerjaan atau aktivitas, yang hanya menjadi alat bantu.

Beginilah kita seharusnya memandang pekerjaan: bahwa semua yang dilakukan, semua aktivitas, semua peralatan, juga semua uang yang beredar di dalam usaha, adalah alat untuk mensejahterakan manusia. Kalau perusahaan melayani pelanggannya, maka pertama-tama usaha yang diberikan itu adalah untuk meningkatkan kehidupan pelanggan. Yang kedua, seharusnya usaha ini juga membangun orang-orang yang bekerja melayani di dalamnya, yaitu para karyawan, para pemasok, termasuk para pembantu. Setelah itu baru pemilik mengambil bagiannya -- mungkin bukan bagian yang terbesar.

Itulah yang ditegaskan oleh Firman Tuhan melalui Rasul Paulus: perbuatlah demikian juga -- yaitu seperti pegawai terhadap majikannya -- terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Tidak dibutuhkan paksaan, manipulasi, intimidasi, untuk melakukan pekerjaan yang benar.

Pusat dari sikap ini adalah pengakuan bahwa setiap posisi diberikan oleh Tuhan sesuai dengan rencana-Nya, bukan semata-mata hasil pekerjaan manusia. Tuhan memandang dan menghakimi setiap orang dengan adil, baik dia di posisi hamba maupun tuan, bawahan maupun atasan. Kalau atasan hanya mengejar omzet, hanya mencari pendapatan yang lebih tinggi, dan meneriakkan "SUKSES!" ketika kaya raya -- ia tetap harus menjawab dan memberi pertanggungjawaban pada Tuhan. Tidak ada perbedaan antara karyawan dan majikan ketika sama-sama berdiri di depan Tuhan, selain ada penghakiman yang adil. Yang diberi sedikit, dituntut sedikit. Yang diberi banyak, dituntut banyak.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny


Jumat, 09 Maret 2012

Renungan Sehari - 8 Maret 2012

Ef 6:5-8 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

Relasi yang paling rumit di luar keluarga adalah hubungan kerja, antara mitra usaha, antara majikan dengan karyawan, atau antara pembeli dan penjual. Kerumitan muncul karena di dalam hubungan ini ada benturan kepentingan antara yang satu dengan yang lain sementara semua pihak berusaha mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya.

Dalam banyak hal, yang menjadi majikan mempunyai lebih banyak keunggulan dibandingkan karyawannya, karena ia yang mempunyai tempat usaha, memiliki kewenangan untuk mengatur, serta mengetahui rahasia tentang bagaimana menjalankan usaha. Namun seorang karyawan juga mempunyai kelebihan dalam pengetahuan dan keterampilannya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh majikan karena terbatas dalam pekerjaan mendetail, baik dalam waktu maupun tenaga. Jadi, sebenarnya ada kebutuhan timbal balik antara majikan dan karyawan.

Namun majikan memiliki lebih banyak modal dan kekuatan untuk memaksa orang lain bekerja sebagai karyawannya, dan keserakahan membuat keadilan menghilang. Majikan mulai membayar tukang pukul untuk memaksa pegawai-pegawainya bekerja dengan gaji rendah -- karena kalau dihitung lebih murah membayar beberapa tukang pukul daripada menggaji seluruh pekerja dengan gaji yang pantas. Malah di jaman dahulu, seorang majikan bisa membeli budak bagi dirinya; suatu pembayaran harga sekali seumur hidup atas tenaga kerja yang dirampas semua haknya. Puluhan abad manusia saling memperbudak sesamanya, baru pada tiga abad terakhir muncul kesadaran yang menghapuskan perbudakan dan mengakui kesetaraan seluruh manusia.

Kesetaraan itu tidak menghilangkan kerumitan dalam hubungan kerja -- perbudakan mungkin menghilang atau setidaknya tersembunyi, namun perilaku manusia memanfaatkan sesamanya tetap terjadi. Demikian juga dengan perilaku pegawai yang berusaha mendapatkan hati dan simpati majikan, mencari keamanan dan penghasilan dengan mengeluarkan tenaga secukupnya saja, sambil bersaing dengan pegawai lainnya. Walaupun sekarang ada banyak motivator yang mendorong orang untuk bangkit dan menjadi pengusaha serta tuan bagi diri sendiri, masih banyak orang yang lebih memilih menjadi bawahan serta tunduk kepada atasan.

Di dalam pilihan menjadi bawahan, tidak berarti hati orang dengan rela tunduk, apalagi jika atasan atau majikan bersikap lunak dan tidak tegas, tidak terhormat, serta melakukan kebodohan-kebodohan yang merugikan semua orang, termasuk para pegawainya. Bagaimana mentaati tuan yang kacau balau dalam pikiran dan tindakannya?

Firman Tuhan pagi ini menunjukkan bahwa seorang tuan patut dihormati karena ia adalah tuan; ia telah memiliki usaha dan menyediakan kesempatan bagi orang lain untuk ambil bagian dalam usaha itu. Hamba-hambanya, yaitu pegawai-pegawainya, harus mentaati sang tuan. Istilah 'taat' di sini dalam bahasa Yunani adalah hupakouo berarti mendengarkan dengan seksama, memperhatikan dengan sepenuhnya. Kata ini tidak berarti bekerja tanpa berpikir lagi, melainkan memberikan apa yang diharapkan oleh sang tuan. Dengarkanlah apa permintaan tuan, majikan, atau atasanmu. Penuhilah keinginannya dengan takut dan gentar, dengan suatu sikap menghadapi krisis yang harus diselesaikan.

Tuhan memahami bahwa setiap majikan mempunyai permasalahannya sendiri, ia harus berjuang. Setiap orang yang berada di bawah si majikan ini juga harus turut berjuang bersama-sama mengejar tujuan. Tantangan yang dihadapi atasan adalah tantangan para bawahannya juga. Krisis tidak bisa dihadapi dengan santai atau main-main, melainkan dengan takut dan gentar yang membuat keseriusan penuh untuk bekerja, melakukan apa yang harus dilakukan. Bahkan ketika si majikan adalah seorang bodoh yang tidak paham tantangan di mukanya, seorang karyawan yang baik akan berjuang agar perusahaan tetap bisa berjalan.

Dalam hal berjuang dibutuhkan ketulusan. Jika seorang karyawan tidak tulus, maka tidak ada usaha untuk majikan; asal gaji dibayarkan sudah cukuplah. Kalau gaji kecil maka tenaga yang diberikan juga sedikit, bukan? Kalau pendapatan tidak cukup untuk membeli segala hal yang diidamkan hati, maka tidak ada gunanya bekerja lebih keras lagi, bukan? Semua sikap hitung-hitungan ini adalah tanda ketidak-tulusan, dan sebenarnya juga tanda kemalasan dan keserakahan.

Ada yang mengatakan bahwa para majikan itu jahat: mereka mengambil untung paling besar dan menggaji paling sedikit. Karena itu, para karyawan boleh membalas dengan mengeluarkan tenaga sedikit sambil menuntut gaji sebesar-besarnya. Yang seperti ini dibenarkan oleh etika situasional, lantas dianggap wajar dan normal, tanpa memikirkan lebih jauh bahwa dengan demikian para karyawan mengakui bahwa mereka juga jahat, sama jahatnya dengan majikan yang mereka benci. Apakah itu keadilan, membalas sikap jahat dengan sikap jahat lainnya?

Ketulusan hanya dapat diberikan karena kita memiliki orientasi kepada Tuhan, yang melebihi majikan atau atasan. Kita melakukan hal baik karena memang harus melakukan hal baik, bukan karena atasan kita baik. Kita tidak sedang mentaati atasan, melainkan sedang mentaati Kristus. Kita adalah hamba-hamba Allah, yang mengatakan "kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami melakukan apa yang harus kami lakukan," sebagaimana Tuhan sudah mengutus kita. Jika majikan kita tidak memahami, maka kita menolong memberi pengertian. Jika majikan kita tidak bisa, kita memberi hasil yang kita bisa. Jika majikan kita menjadi jahat dan berbuat kejahatan, maka kita boleh meninggalkannya -- karena kita tidak melayani perbuatan jahat. Itu adalah ketulusan.

Kita melayani kepentingan Tuhan di dalam dunia, melalui apa yang kita kerjakan dan hasilkan. Kita bekerja bagi majikan, bagi perusahaan, namun di sana kita melayani Tuhan. Ada majikan atau atasan yang menghargai pegawai atau anak buahnya, ada juga yang tidak. Sekalipun majikan tidak menghargai, ingatlah bahwa Tuhan menghargai kerja keras dan tulus yang baik, Dia memberikan upah-Nya yang lebih baik dan adil dibandingkan majikan mana pun lainnya di dunia. Balasan dari Tuhan lebih penting, lebih utama, dan lebih berharga melampaui jumlah nilai uang yang bisa diterima.

Marilah kita bekerja dengan baik. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Selasa, 06 Maret 2012

Renungan Sehari - 6 Maret 2012

Ef 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Menjadi seorang bapa, seorang ayah, bukanlah sesuatu yang mudah. Mari kita pikirkan. Pertama-tama, tidak pernah ada sekolah untuk menjadi seorang ayah. Anak laki-laki sedari kecil dididik untuk mengejar impiannya, untuk berprestasi, untuk membangun nama dan reputasi, juga untuk membangun kekayaan dan kemakmuran. Di dalamnya ada cerita kerja keras, tekanan, dimarahi, juga bersenang-senang bersama teman-teman. Isinya adalah tentang hasrat, tentang gairah, juga tentang cinta seperti ketika seorang laki-laki jatuh cinta kepada perempuan. Tapi, di dalam semuanya itu, tidak ada pelajaran tentang menjadi bapa.

Walaupun tidak pernah diajarkan, menjadi seorang bapa adalah hal yang amat sangat penting di dalam keluarga, di dalam masyarakat, bahkan di dalam dunia yang menjadi global. Seorang bapa menurunkan nilai-nilai kepada anak-anaknya, baik dari apa yang dikatakan tapi lebih banyak lagi dari apa yang dilakukan. Jika seorang laki-laki tidak dapat mengendalikan apa yang diperbuatnya, maka ia juga tidak dapat mendidik anak-anaknya, meskipun ia telah berusaha keras untuk banyak berkata-kata, memberi nasehat, memarahi, atau melakukan "pengajaran" lain.

Sayangnya, banyak ayah hanya berkata-kata saja -- seperlunya -- atas dasar prinsip "seluruh keluarga harus mentaati ayah sebagai kepala keluarga". Pernyataan bapa dalam rumah menjadi hukum yang harus ditaati oleh segenap anggota keluarga; inilah prinsip yang berlaku secara umum, baik di dunia barat maupun timur. Ketidakpatuhan akan dihukum. Celakanya, seorang laki-laki yang baru menikah, atau yang baru menjadi seorang ayah, tidak tahu banyak soal membuat hukum yang benar dalam keluarga. Ia bisa membuat hukum yang tidak masuk akal, yang keluar dari khayalannya sendiri yang ia sendiri tidak pernah dapat memenuhinya. Dalam rumah bisa timbul standar ganda: seorang ayah membuat peraturan bagi semua orang kecuali dirinya sendiri. Ia bisa melukai istri dan anak-anaknya, sementara ia sendiri berlindung di balik mantra "tidak pernah salah" di dalam rumah. Pada kenyataannya, laki-laki yang bersikap demikian justru adalah orang yang merasa tidak aman, tidak dihargai, dan terasing dari komunitas sekitarnya.

Hal kedua dari menjadi seorang ayah adalah, bahwa kenyataannya seorang ayah berhadapan dengan anak-anak, manusia yang dapat berpikir bagi dirinya sendiri. Seorang ayah dapat berkata-kata apa saja, bisa memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, namun tak ada seorang ayah yang dapat mengatur isi hati. Tidak ada anak yang dapat diperintah untuk merasa bahagia, atau merasa puas.

Banyak bapa yang berusaha membahagiakan dan mamuaskan keluarganya dengan memakai satu logika sebab-akibat sederhana: "jika bapa menyediakan semua yang diinginkan anak-anaknya, tentu mereka berbahagia". Tetapi dalam hal ini pun ada masalah, karena bagaimana seorang bapa mengetahui semua yang diinginkan anak-anaknya? Ia hanya dapat mendengar permintaan yang terucap dari mulut. Dapatkah seorang bapa mengerti kebutuhan dan keinginan anak yang tidak pernah terucapkan, yang hanya terungkap melalui pandangan mata, kerutan muka, dan pundak yang tertunduk lesu?

Lagipula, seorang bapa memiliki keterbatasan dalam menyediakan apa yang diinginkan hati. Seorang ayah dibatasi oleh prinsip kebenaran dan apa yang baik bagi anak. Jika seorang anak menginginkan barang atau kesenangan yang tidak benar dan tidak baik, ayah tidak dapat menyediakan hal-hal itu walaupun bertentangan dengan keinginan hati anaknya. Seorang ayah juga dibatasi oleh kemampuannya untuk menyediakan apa yang diinginkan, karena mungkin saja seorang ayah tidak punya cukup uang atau tenaga atau waktu untuk memenuhi keinginan hati sang anak. Di antara kedua keterbatasan ini, kebanyakan orang tua lebih memikirkan soal kemampuan daripada perihal prinsip kebenaran. Maka, saat mereka mampu membeli apapun yang diinginkan anak -- sejauh hal itu tidak melanggar hukum -- mereka akan membelikannya.

Di sinilah kita menemukan Firman bagi para bapa: janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah di dalam ajaran dan nasehat Tuhan, Bagian pertama dari ayat ini adalah tentang jangan membangkitkan amarah. Lihatlah, di sini bukan dibicarakan soal kekecewaan, seperti "janganlah kecewakan hati anakmu". Seorang bapa tidak dapat menghindar dari situasi di mana anak kecewa karena keinginannya tidak dipenuhi; tidak ada gunanya untuk selalu berusaha tidak mengecewakan anak. Sebaliknya, yang digunakan di sini adalah amarah. Dan bagaimana seorang anak menjadi marah?

Tuhan telah menaruh hukum-Nya di dalam hati manusia, sehingga secara alami manusia mengetahui jika seseorang bertindak tidak benar. Kemarahan sejatinya muncul karena hukum telah dilanggar dan mengorbankan diri orang yang marah. Jika ada sesuatu dicuri, atau didustai, atau diperalat dari diri anak, ia mengetahui bahwa dirinya dirugikan. Tapi bagi sang anak, ia diikat oleh keharusan tunduk kepada ayahnya dan mungkin tidak pernah dapat menentang pelanggaran yang dilakukan terhadapnya. Ia marah, tetapi tidak pernah dapat mengekspresikan kemarahan itu, karena seorang anak seharusnya tidak boleh marah kepada orang tuanya, bukan?

Sekali lagi, seorang ayah tidak dapat memerintahkan perasaan tertentu timbul dalam hati anaknya. Jika sang anak menjadi marah, ayah tidak dapat menyuruhnya untuk tidak marah -- jika ayah yang bodoh tetap menyuruh seperti itu, ia hanya menambah kemarahan anaknya. Satu-satunya cara bagi sang ayah untuk meluruskan hal-hal yang salah adalah dengan bersikap benar, serta menyelaraskan baik perkataan maupun perbuatannya dengan prinsip kebenaran. Ia tidak boleh mencuri dari anaknya. Ia tidak boleh mendustai anaknya. Ia tidak boleh memperalat anak-anaknya. Seorang bapa harus melakukan apa yang diatur oleh Tuhan terlebih dahulu, sebelum dapat memaksa keluarganya melakukan hal demikian. Hanya dengan jalan demikian saja, bapa tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anaknya.

Bagian kedua dari Firman ini adalah tentang mendidik. Bagi kebanyakan ayah, prinsip yang diturunkan kepada anaknya adalah prinsip yang diterima dari ayahnya sendiri -- demikianlah adat istiadat dan tradisi dipelihara serta diteruskan dalam masyarakat. Tetapi ada tiga masalah dalam menurunkan tradisi: pertama, tradisi seringkali tidak lagi sesuai keadaan jaman sekarang, kedua, tradisi tidak sepenuhnya dipahami oleh si bapa yang mengajarkannya (entah bagaimana mengajar hal yang belum dipahami), dan yang ketiga, seorang bapa bisa mengubah tradisi sekehendak hatinya karena tidak ada yang mengatur bagaimana tradisi harus diturunkan.

Maka, seorang bapa tidak dapat bersandar pada prinsip berdasarkan tradisi. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan agar mendidik dalam ajaran dan nasehat Tuhan. Karena ini adalah prinsip kebenaran mutlak dari Tuhan, maka prinsip-prinsip ini berlaku di segala abad dan tempat. Firman Tuhan tepat bagi orang yang hidup di masa Rasul Paulus di Efesus, juga tepat bagi orang yang hidup di millenium ketiga di Indonesia. Seorang manusia harus belajar Firman Tuhan bagi dirinya sendiri; ia harus memahami prinsip-prinsip kebenaran dan melakukannya -- baik ia sebagai orang tua atau tidak. Yang ketiga, seseorang tidak dapat menyimpangkan Firman Tuhan, karena ada kuasa Tuhan yang menyertai penyampaian. Sejarah membuktikan bagaimana manusia menyimpangkan Firman Tuhan, kemudian kuasa Tuhan meluruskannya kembali.

Pada akhirnya, kita semua ditundukkan dalam prinsip dan aturan yang sama dari Tuhan -- dan itulah yang harus diteruskan oleh bapa kepada anak-anaknya. Hiduplah dengan integritas -- mengerjakan apa yang dikatakan, dan memperkatakan apa yang dikerjakan -- bukan saja terhadap orang luar, tapi lebih lagi kepada anggota keluarga sendiri. Seorang ayah seharusnya menjadi pelindung bagi seisi rumahnya, bukan menjadi sumber rasa takut dan masalah karena pilihan sikap dan kebodohannya yang menindas anak-anak sebagai pelampiasan nafsunya sendiri, yang timbul karena tidak dapat melawan orang lain yang menindas. Bergantunglah pada Tuhan, dan belajarlah menjadi ayah yang baik.

Renungan dari seorang ayah.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny