Jumat, 09 Maret 2012

Renungan Sehari - 8 Maret 2012

Ef 6:5-8 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

Relasi yang paling rumit di luar keluarga adalah hubungan kerja, antara mitra usaha, antara majikan dengan karyawan, atau antara pembeli dan penjual. Kerumitan muncul karena di dalam hubungan ini ada benturan kepentingan antara yang satu dengan yang lain sementara semua pihak berusaha mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya.

Dalam banyak hal, yang menjadi majikan mempunyai lebih banyak keunggulan dibandingkan karyawannya, karena ia yang mempunyai tempat usaha, memiliki kewenangan untuk mengatur, serta mengetahui rahasia tentang bagaimana menjalankan usaha. Namun seorang karyawan juga mempunyai kelebihan dalam pengetahuan dan keterampilannya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh majikan karena terbatas dalam pekerjaan mendetail, baik dalam waktu maupun tenaga. Jadi, sebenarnya ada kebutuhan timbal balik antara majikan dan karyawan.

Namun majikan memiliki lebih banyak modal dan kekuatan untuk memaksa orang lain bekerja sebagai karyawannya, dan keserakahan membuat keadilan menghilang. Majikan mulai membayar tukang pukul untuk memaksa pegawai-pegawainya bekerja dengan gaji rendah -- karena kalau dihitung lebih murah membayar beberapa tukang pukul daripada menggaji seluruh pekerja dengan gaji yang pantas. Malah di jaman dahulu, seorang majikan bisa membeli budak bagi dirinya; suatu pembayaran harga sekali seumur hidup atas tenaga kerja yang dirampas semua haknya. Puluhan abad manusia saling memperbudak sesamanya, baru pada tiga abad terakhir muncul kesadaran yang menghapuskan perbudakan dan mengakui kesetaraan seluruh manusia.

Kesetaraan itu tidak menghilangkan kerumitan dalam hubungan kerja -- perbudakan mungkin menghilang atau setidaknya tersembunyi, namun perilaku manusia memanfaatkan sesamanya tetap terjadi. Demikian juga dengan perilaku pegawai yang berusaha mendapatkan hati dan simpati majikan, mencari keamanan dan penghasilan dengan mengeluarkan tenaga secukupnya saja, sambil bersaing dengan pegawai lainnya. Walaupun sekarang ada banyak motivator yang mendorong orang untuk bangkit dan menjadi pengusaha serta tuan bagi diri sendiri, masih banyak orang yang lebih memilih menjadi bawahan serta tunduk kepada atasan.

Di dalam pilihan menjadi bawahan, tidak berarti hati orang dengan rela tunduk, apalagi jika atasan atau majikan bersikap lunak dan tidak tegas, tidak terhormat, serta melakukan kebodohan-kebodohan yang merugikan semua orang, termasuk para pegawainya. Bagaimana mentaati tuan yang kacau balau dalam pikiran dan tindakannya?

Firman Tuhan pagi ini menunjukkan bahwa seorang tuan patut dihormati karena ia adalah tuan; ia telah memiliki usaha dan menyediakan kesempatan bagi orang lain untuk ambil bagian dalam usaha itu. Hamba-hambanya, yaitu pegawai-pegawainya, harus mentaati sang tuan. Istilah 'taat' di sini dalam bahasa Yunani adalah hupakouo berarti mendengarkan dengan seksama, memperhatikan dengan sepenuhnya. Kata ini tidak berarti bekerja tanpa berpikir lagi, melainkan memberikan apa yang diharapkan oleh sang tuan. Dengarkanlah apa permintaan tuan, majikan, atau atasanmu. Penuhilah keinginannya dengan takut dan gentar, dengan suatu sikap menghadapi krisis yang harus diselesaikan.

Tuhan memahami bahwa setiap majikan mempunyai permasalahannya sendiri, ia harus berjuang. Setiap orang yang berada di bawah si majikan ini juga harus turut berjuang bersama-sama mengejar tujuan. Tantangan yang dihadapi atasan adalah tantangan para bawahannya juga. Krisis tidak bisa dihadapi dengan santai atau main-main, melainkan dengan takut dan gentar yang membuat keseriusan penuh untuk bekerja, melakukan apa yang harus dilakukan. Bahkan ketika si majikan adalah seorang bodoh yang tidak paham tantangan di mukanya, seorang karyawan yang baik akan berjuang agar perusahaan tetap bisa berjalan.

Dalam hal berjuang dibutuhkan ketulusan. Jika seorang karyawan tidak tulus, maka tidak ada usaha untuk majikan; asal gaji dibayarkan sudah cukuplah. Kalau gaji kecil maka tenaga yang diberikan juga sedikit, bukan? Kalau pendapatan tidak cukup untuk membeli segala hal yang diidamkan hati, maka tidak ada gunanya bekerja lebih keras lagi, bukan? Semua sikap hitung-hitungan ini adalah tanda ketidak-tulusan, dan sebenarnya juga tanda kemalasan dan keserakahan.

Ada yang mengatakan bahwa para majikan itu jahat: mereka mengambil untung paling besar dan menggaji paling sedikit. Karena itu, para karyawan boleh membalas dengan mengeluarkan tenaga sedikit sambil menuntut gaji sebesar-besarnya. Yang seperti ini dibenarkan oleh etika situasional, lantas dianggap wajar dan normal, tanpa memikirkan lebih jauh bahwa dengan demikian para karyawan mengakui bahwa mereka juga jahat, sama jahatnya dengan majikan yang mereka benci. Apakah itu keadilan, membalas sikap jahat dengan sikap jahat lainnya?

Ketulusan hanya dapat diberikan karena kita memiliki orientasi kepada Tuhan, yang melebihi majikan atau atasan. Kita melakukan hal baik karena memang harus melakukan hal baik, bukan karena atasan kita baik. Kita tidak sedang mentaati atasan, melainkan sedang mentaati Kristus. Kita adalah hamba-hamba Allah, yang mengatakan "kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami melakukan apa yang harus kami lakukan," sebagaimana Tuhan sudah mengutus kita. Jika majikan kita tidak memahami, maka kita menolong memberi pengertian. Jika majikan kita tidak bisa, kita memberi hasil yang kita bisa. Jika majikan kita menjadi jahat dan berbuat kejahatan, maka kita boleh meninggalkannya -- karena kita tidak melayani perbuatan jahat. Itu adalah ketulusan.

Kita melayani kepentingan Tuhan di dalam dunia, melalui apa yang kita kerjakan dan hasilkan. Kita bekerja bagi majikan, bagi perusahaan, namun di sana kita melayani Tuhan. Ada majikan atau atasan yang menghargai pegawai atau anak buahnya, ada juga yang tidak. Sekalipun majikan tidak menghargai, ingatlah bahwa Tuhan menghargai kerja keras dan tulus yang baik, Dia memberikan upah-Nya yang lebih baik dan adil dibandingkan majikan mana pun lainnya di dunia. Balasan dari Tuhan lebih penting, lebih utama, dan lebih berharga melampaui jumlah nilai uang yang bisa diterima.

Marilah kita bekerja dengan baik. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: