Selasa, 06 Maret 2012

Renungan Sehari - 6 Maret 2012

Ef 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Menjadi seorang bapa, seorang ayah, bukanlah sesuatu yang mudah. Mari kita pikirkan. Pertama-tama, tidak pernah ada sekolah untuk menjadi seorang ayah. Anak laki-laki sedari kecil dididik untuk mengejar impiannya, untuk berprestasi, untuk membangun nama dan reputasi, juga untuk membangun kekayaan dan kemakmuran. Di dalamnya ada cerita kerja keras, tekanan, dimarahi, juga bersenang-senang bersama teman-teman. Isinya adalah tentang hasrat, tentang gairah, juga tentang cinta seperti ketika seorang laki-laki jatuh cinta kepada perempuan. Tapi, di dalam semuanya itu, tidak ada pelajaran tentang menjadi bapa.

Walaupun tidak pernah diajarkan, menjadi seorang bapa adalah hal yang amat sangat penting di dalam keluarga, di dalam masyarakat, bahkan di dalam dunia yang menjadi global. Seorang bapa menurunkan nilai-nilai kepada anak-anaknya, baik dari apa yang dikatakan tapi lebih banyak lagi dari apa yang dilakukan. Jika seorang laki-laki tidak dapat mengendalikan apa yang diperbuatnya, maka ia juga tidak dapat mendidik anak-anaknya, meskipun ia telah berusaha keras untuk banyak berkata-kata, memberi nasehat, memarahi, atau melakukan "pengajaran" lain.

Sayangnya, banyak ayah hanya berkata-kata saja -- seperlunya -- atas dasar prinsip "seluruh keluarga harus mentaati ayah sebagai kepala keluarga". Pernyataan bapa dalam rumah menjadi hukum yang harus ditaati oleh segenap anggota keluarga; inilah prinsip yang berlaku secara umum, baik di dunia barat maupun timur. Ketidakpatuhan akan dihukum. Celakanya, seorang laki-laki yang baru menikah, atau yang baru menjadi seorang ayah, tidak tahu banyak soal membuat hukum yang benar dalam keluarga. Ia bisa membuat hukum yang tidak masuk akal, yang keluar dari khayalannya sendiri yang ia sendiri tidak pernah dapat memenuhinya. Dalam rumah bisa timbul standar ganda: seorang ayah membuat peraturan bagi semua orang kecuali dirinya sendiri. Ia bisa melukai istri dan anak-anaknya, sementara ia sendiri berlindung di balik mantra "tidak pernah salah" di dalam rumah. Pada kenyataannya, laki-laki yang bersikap demikian justru adalah orang yang merasa tidak aman, tidak dihargai, dan terasing dari komunitas sekitarnya.

Hal kedua dari menjadi seorang ayah adalah, bahwa kenyataannya seorang ayah berhadapan dengan anak-anak, manusia yang dapat berpikir bagi dirinya sendiri. Seorang ayah dapat berkata-kata apa saja, bisa memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, namun tak ada seorang ayah yang dapat mengatur isi hati. Tidak ada anak yang dapat diperintah untuk merasa bahagia, atau merasa puas.

Banyak bapa yang berusaha membahagiakan dan mamuaskan keluarganya dengan memakai satu logika sebab-akibat sederhana: "jika bapa menyediakan semua yang diinginkan anak-anaknya, tentu mereka berbahagia". Tetapi dalam hal ini pun ada masalah, karena bagaimana seorang bapa mengetahui semua yang diinginkan anak-anaknya? Ia hanya dapat mendengar permintaan yang terucap dari mulut. Dapatkah seorang bapa mengerti kebutuhan dan keinginan anak yang tidak pernah terucapkan, yang hanya terungkap melalui pandangan mata, kerutan muka, dan pundak yang tertunduk lesu?

Lagipula, seorang bapa memiliki keterbatasan dalam menyediakan apa yang diinginkan hati. Seorang ayah dibatasi oleh prinsip kebenaran dan apa yang baik bagi anak. Jika seorang anak menginginkan barang atau kesenangan yang tidak benar dan tidak baik, ayah tidak dapat menyediakan hal-hal itu walaupun bertentangan dengan keinginan hati anaknya. Seorang ayah juga dibatasi oleh kemampuannya untuk menyediakan apa yang diinginkan, karena mungkin saja seorang ayah tidak punya cukup uang atau tenaga atau waktu untuk memenuhi keinginan hati sang anak. Di antara kedua keterbatasan ini, kebanyakan orang tua lebih memikirkan soal kemampuan daripada perihal prinsip kebenaran. Maka, saat mereka mampu membeli apapun yang diinginkan anak -- sejauh hal itu tidak melanggar hukum -- mereka akan membelikannya.

Di sinilah kita menemukan Firman bagi para bapa: janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah di dalam ajaran dan nasehat Tuhan, Bagian pertama dari ayat ini adalah tentang jangan membangkitkan amarah. Lihatlah, di sini bukan dibicarakan soal kekecewaan, seperti "janganlah kecewakan hati anakmu". Seorang bapa tidak dapat menghindar dari situasi di mana anak kecewa karena keinginannya tidak dipenuhi; tidak ada gunanya untuk selalu berusaha tidak mengecewakan anak. Sebaliknya, yang digunakan di sini adalah amarah. Dan bagaimana seorang anak menjadi marah?

Tuhan telah menaruh hukum-Nya di dalam hati manusia, sehingga secara alami manusia mengetahui jika seseorang bertindak tidak benar. Kemarahan sejatinya muncul karena hukum telah dilanggar dan mengorbankan diri orang yang marah. Jika ada sesuatu dicuri, atau didustai, atau diperalat dari diri anak, ia mengetahui bahwa dirinya dirugikan. Tapi bagi sang anak, ia diikat oleh keharusan tunduk kepada ayahnya dan mungkin tidak pernah dapat menentang pelanggaran yang dilakukan terhadapnya. Ia marah, tetapi tidak pernah dapat mengekspresikan kemarahan itu, karena seorang anak seharusnya tidak boleh marah kepada orang tuanya, bukan?

Sekali lagi, seorang ayah tidak dapat memerintahkan perasaan tertentu timbul dalam hati anaknya. Jika sang anak menjadi marah, ayah tidak dapat menyuruhnya untuk tidak marah -- jika ayah yang bodoh tetap menyuruh seperti itu, ia hanya menambah kemarahan anaknya. Satu-satunya cara bagi sang ayah untuk meluruskan hal-hal yang salah adalah dengan bersikap benar, serta menyelaraskan baik perkataan maupun perbuatannya dengan prinsip kebenaran. Ia tidak boleh mencuri dari anaknya. Ia tidak boleh mendustai anaknya. Ia tidak boleh memperalat anak-anaknya. Seorang bapa harus melakukan apa yang diatur oleh Tuhan terlebih dahulu, sebelum dapat memaksa keluarganya melakukan hal demikian. Hanya dengan jalan demikian saja, bapa tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anaknya.

Bagian kedua dari Firman ini adalah tentang mendidik. Bagi kebanyakan ayah, prinsip yang diturunkan kepada anaknya adalah prinsip yang diterima dari ayahnya sendiri -- demikianlah adat istiadat dan tradisi dipelihara serta diteruskan dalam masyarakat. Tetapi ada tiga masalah dalam menurunkan tradisi: pertama, tradisi seringkali tidak lagi sesuai keadaan jaman sekarang, kedua, tradisi tidak sepenuhnya dipahami oleh si bapa yang mengajarkannya (entah bagaimana mengajar hal yang belum dipahami), dan yang ketiga, seorang bapa bisa mengubah tradisi sekehendak hatinya karena tidak ada yang mengatur bagaimana tradisi harus diturunkan.

Maka, seorang bapa tidak dapat bersandar pada prinsip berdasarkan tradisi. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan agar mendidik dalam ajaran dan nasehat Tuhan. Karena ini adalah prinsip kebenaran mutlak dari Tuhan, maka prinsip-prinsip ini berlaku di segala abad dan tempat. Firman Tuhan tepat bagi orang yang hidup di masa Rasul Paulus di Efesus, juga tepat bagi orang yang hidup di millenium ketiga di Indonesia. Seorang manusia harus belajar Firman Tuhan bagi dirinya sendiri; ia harus memahami prinsip-prinsip kebenaran dan melakukannya -- baik ia sebagai orang tua atau tidak. Yang ketiga, seseorang tidak dapat menyimpangkan Firman Tuhan, karena ada kuasa Tuhan yang menyertai penyampaian. Sejarah membuktikan bagaimana manusia menyimpangkan Firman Tuhan, kemudian kuasa Tuhan meluruskannya kembali.

Pada akhirnya, kita semua ditundukkan dalam prinsip dan aturan yang sama dari Tuhan -- dan itulah yang harus diteruskan oleh bapa kepada anak-anaknya. Hiduplah dengan integritas -- mengerjakan apa yang dikatakan, dan memperkatakan apa yang dikerjakan -- bukan saja terhadap orang luar, tapi lebih lagi kepada anggota keluarga sendiri. Seorang ayah seharusnya menjadi pelindung bagi seisi rumahnya, bukan menjadi sumber rasa takut dan masalah karena pilihan sikap dan kebodohannya yang menindas anak-anak sebagai pelampiasan nafsunya sendiri, yang timbul karena tidak dapat melawan orang lain yang menindas. Bergantunglah pada Tuhan, dan belajarlah menjadi ayah yang baik.

Renungan dari seorang ayah.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: