Senin, 12 Maret 2012

Renungan Sehari - 12 Maret 2012

Ef 6:9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Apa yang diinginkan orang, selain dari memegang seluruh kendali di dunia ini? Menjadi penguasa adalah perjuangan meraih kendali, mula-mula atas orang yang dekat, kemudian orang  yang jauh, hingga seluruh dunia berada dalam genggamannya. Walaupun semua orang ketika mati hanya membutuhkan lubang 1x2 meter, namun kendali yang diikatnya melampaui tanah dan laut, membentang melewati benua dan samudra. Ada yang berpendapat tidak penting bagaimana jika sudah mati nanti, asal selama hidup bisa memegang kendali sesuka hati. Ada juga yang ingin kendali selalu ada pada dirinya, bahkan setelah kematian.

Ketika orang menginginkan kendali dalam tangannya, ia ingin mencapai tujuannya sendiri. Semakin besar kekuasaan di tangan, semakin kuat tujuan sendiri menjadi acuan. Bahkan ketika visi pribadinya adalah "baik" dalam penilaian orang, misalnya berupaya mewujudkan bantuan sosial bagi masyarakat -- tetap saja tujuannya dibuat berdasarkan penilaian sang penguasa. Apa yang "baik" menjadi subjektif, tergantung pengendali, sesuai dengan idenya sendiri. Bahkan ketika orang memikirkan kebaikan itu adalah bagi Tuhan, memberikan "yang terbaik, terbesar, terindah bagi Allah" -- belum tentu ukurannya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.

Kesulitan terbesar dari menjadi anak Tuhan yang jadi pengusaha yang memiliki anak buah adalah, pada akhirnya ia sendiri harus mau menjadi hamba yang menunduk dan mentaati Tuhan. Akhirnya, si pengusaha ini juga harus menjadi pegawai yang mengerjakan kehendak Tuhan, Rajanya. Ia harus melakukan pekerjaan dengan takut dan gentar agar melaksanakan rancangan Tuhan, suatu pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.

Apa yang menjadi parameter dalam rancangan Tuhan? Apakah Ia memperhatikan besarnya saldo rekening di bank, atau volume transaksi dalam sehari? Kepada siapa dan bagaimana kasih Tuhan ditujukan? Bukankah di mata Tuhan, manusialah yang menjadi fokus utama? Amanat yang diberikan Tuhan bukan soal membangun kekayaan dan kekuasaan di dunia, melainkan memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa mruid-Nya. Orang-orang adalah fokusnya -- lebih daripada pekerjaan atau aktivitas, yang hanya menjadi alat bantu.

Beginilah kita seharusnya memandang pekerjaan: bahwa semua yang dilakukan, semua aktivitas, semua peralatan, juga semua uang yang beredar di dalam usaha, adalah alat untuk mensejahterakan manusia. Kalau perusahaan melayani pelanggannya, maka pertama-tama usaha yang diberikan itu adalah untuk meningkatkan kehidupan pelanggan. Yang kedua, seharusnya usaha ini juga membangun orang-orang yang bekerja melayani di dalamnya, yaitu para karyawan, para pemasok, termasuk para pembantu. Setelah itu baru pemilik mengambil bagiannya -- mungkin bukan bagian yang terbesar.

Itulah yang ditegaskan oleh Firman Tuhan melalui Rasul Paulus: perbuatlah demikian juga -- yaitu seperti pegawai terhadap majikannya -- terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Tidak dibutuhkan paksaan, manipulasi, intimidasi, untuk melakukan pekerjaan yang benar.

Pusat dari sikap ini adalah pengakuan bahwa setiap posisi diberikan oleh Tuhan sesuai dengan rencana-Nya, bukan semata-mata hasil pekerjaan manusia. Tuhan memandang dan menghakimi setiap orang dengan adil, baik dia di posisi hamba maupun tuan, bawahan maupun atasan. Kalau atasan hanya mengejar omzet, hanya mencari pendapatan yang lebih tinggi, dan meneriakkan "SUKSES!" ketika kaya raya -- ia tetap harus menjawab dan memberi pertanggungjawaban pada Tuhan. Tidak ada perbedaan antara karyawan dan majikan ketika sama-sama berdiri di depan Tuhan, selain ada penghakiman yang adil. Yang diberi sedikit, dituntut sedikit. Yang diberi banyak, dituntut banyak.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny


Tidak ada komentar: