Rabu, 14 Juni 2017

Realita Alternatif

Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.
(Rom 8:6)

REALITA KEHIDUPAN adalah situasi yang harus dihadapi dan diterima orang, baik suka atau tidak suka. Orang-orang miskin tidak menyukai realita kemiskinannya. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu untuk hidup hari ini. Orang-orang kaya tidak menyukai realita keamanannya. Mereka harus berlindung dan membatasi diri di 'tempat aman' khawatir ada penjahat yang akan segera muncul.

Tetapi orang bisa menginginkan versinya sendiri dari kehidupan, maka mereka membuatnya. Mereka berkata-kata, membuat foto selfie, menunjukkan pada dunia tentang realita yang lain. Ketika kita memperoleh teknologi yang cukup untuk membuat realita baru, dengan cepat semua orang menginginkan teknologi itu, membuat realita itu nyata.

Semua yang berkaitan dengan realita baru ini, berkaitan dengan tubuh. Foto selfie? Nampak lebih cantik. Lebih ganteng. Lebih putih. Atau lebih kaya, difoto bergaya di samping mobil mewah.

Realita sebenarnya? Itu mobil mewah yang kebetulan diparkir di sebelah rumah. Buru2 pakai baju seksi dan makeup seadanya, bawa hp keluar dan shoot dengan aplikasi camera 360 mode beautify.

Hasilnya terus masukkan ke facebook. Yeayy! Banyak like dan jealous jealous...

Ada juga yang membawa realita alternatifnya ke ranah spiritual agamawi. Masih berkaitan dengan tubuh, yang ditampilkan adalah kehidupan seorang yang saleh, baik, bisa dipercaya.

Caranya? Pakai baju panjang. Pakai kalung salib. Pakai kerudung. Pakai apapun yang menunjukkan kesalehan. Lalu, di foto dong, selfie lagi. Selfie lagi beribadah. Selfie saat sedang berlutut. Atau kalau bukan foto sendiri, tolong teman fotoin lah ya.

Dari realita pakai foto-foto yang sebenarnya agak merepotkan, bagaimana kalau langsung tampil saja sebagai orang saleh? Sudah tidak butuh kamera karena kini pakaiannya memang begitu. Di kantungnya ada minyak urapan, dan dengan semangat dikeluarkan bilamana ada kesempatan "membersihkan" satu area dari kuasa gelap. Makasih buat Abigail Yulianti yang membuka wawasan.

Masalah menjadi membesar karena orang ingin lebih lagi: menjadikan realita alternatifnya menjadi nyata. Mereka ingin disebut saleh dan benar karena pakaiannya sudah serba putih. Karena kata-katanya sudah dipenuhi jargon agama, pakai istilah bahasa asing, rasanya sudah jadi "orang kudus" atau "orang suci".

Indonesia punya masalah dengan mayoritas orang beragama yang tidak realistis, mereka tidak mendalami agama, bukan orang-orang yang menguasai teologia, tetapi menguasai bagaimana cara berpidato yang hebat. Paham bagaimana cara bicara kepada publik, pandai bercerita -- bahkan cerita dongeng pun terasa sangat nyata.

Jadi, mereka membaca teks Kitab Suci keras-keras. Mungkin yang dibacanya adalah teks dalam bahasa asli Kitab itu ditulis. Dengan begitu, pendengarnya manggut-manggut terpesona, sambil bilang dalam hati, wah ini orang betul sudah menguasai kitab suci!

Tapi realitanya, ia tidak paham. Ia mengerjakan penafsiran teksnya dengan sangat sembarangan, dibantu oleh aplikasi di hp yang bisa mencari frasa tertentu dengan amat sangat cepat. Yang penting ada bahan untuk disampaikan dan membuat jemaatnya manggut-manggut manut untuk apa saja. Percaya untuk disuruh apa saja.

Keinginan daging itu telah menjatuhkan banyak pemimpin umat dalam kedagingan yang menyedihkan. Mereka menjadi lebih cabul, lebih manipulatif - berbohong, lebih serakah, dan lebih kejam demi melindungi diri. Mereka berlari-lari mengejar nafsu dagingnya, dengan pikiran yang terpatri di realita mereka sendiri.

Benar-benar percaya bahwa apa yang dilakukannya benar. Bahwa realitanya, memang TUHAN menginginkan mereka melakukan segala hal-hal itu, yang membuat terasa enak, nyaman, aman. Bukti ini berkat-berkat Tuhan! Syaratnya adalah harus melakukan ritual ini dan itu, harus berpakaian begini dan begitu, harus berbicara dengan cara tertentu.

Kebanggaannya adalah telah menyelesaikan membaca Kitab Suci. Atau selesai berpuasa. Dan tentunya bangga sekali dengan persembahan dan pemberian kepada orang-orang miskin itu, menikmati mereka menunduk-nunduk mengucapkan terima kasih dan banyak didoakan, supaya sehat, banyak rejeki...

Keinginan Roh lebih sederhana: ingin hidup. Realitanya, menjaga kehidupan hari ini, esok, sampai kekekalan. Menginginkan damai sejahtera, terutama dengan TUHAN, mengalami damai dengan-Nya itu sangat istimewa. Tapi untuk itu, orang harus hidup dalam kebenaran, dalam kejujuran. Dalam realita yang nyata.

Mungkin hanya 'hidup' saja tidak keren. Tidak mewah, tidak mentereng. Foto selfie biasa saja, tidak perlu pakai beautify, dan memang tubuhnya menjadi semakin tua namun semakin bahagia. Karena biasa hidup apa adanya, realistis, jujur, tidak pernah menyatakan diri lebih dari apa adanya.

Dalam Roh dan kebenaran, kita sungguh-sungguh menyembah Allah, Bapa di Sorga. Tidak karena pakaian, bukan karena gaya bicara atau bahasa asing yang dipakai, melainkan karena iman.

Iman yang dipahami, iman yang dipegang, dan iman yang menjadi dasar untuk berlari-lari mencapai tujuan kehidupan: TUHAN. Itulah keinginan Roh.

Apakah kita akan memuaskan keinginan daging, atau keinginan Roh?

Jumat, 08 Juli 2016

Mutiara

PEDAGANG bukan hanya sekedar menjual dan membeli. Semua orang yang sudah menjadi pedagang dalam waktu cukup lama, pasti mengetahui hal ini. Bukan kerjanya beli di sini dan jual di sana, begitu saja.

Pedagang yang tulen memilih apa yang mau dijualnya. Reputasi dan nama besar seorang pedagang berkaitan dengan kemampuannya memilih sesuatu yang berharga, beli murah -- jual tinggi, dan kemampuan menemukan pembeli yang tepat, mereka yang membutuhkan dan bisa menghargai sesuatu itu.

Jadi, pedagang bukan sekedar beli semurahnya, lantas jual setinggi-tingginya, tanpa tahu apa yang sedang ia jual, tanpa mengerti apa dan kenapa orang perlu membayar sesuatu itu sekian. Orang yang asal ambil dari grosiran dan jual eceran, itu adalah tukang jualan. Kemarin jual barang A, hari ini jual barang B, dan besok jual barang C.....

Masa bodoh dengan pembelinya. Masa bodoh mereka untung atau rugi membeli barang itu dengan harga segitu. Demikianlah tukang jualan. Makanya, tukang jualan tidak pernah punya nama.

Tapi pedagang bisa punya nama besar. Pedagang adalah agen ekonomi penting di dalam masyarakat, karena pedagang lah yang pergi ke tempat jauh, mencari apa yang benar-benar berharga, indah, penting -- dan dengan itu meningkatkan kehidupan si pembelinya.

Apa yang berharga? Ada dua hal. Yang pertama adalah benda berharga yang diolah manusia. Misalnya, manusia menggali dari tanah dan memurnikan emas. Atau manusia menggosok batu, hingga muncullah berlian. Atau manusia membuat bank dan membuat uang kertas serta sistem perbankan, dan membangun ekonomi modern.

Hal yang kedua adalah benda berharga yang diperoleh dari alam. Permata yang termahal, yang diperoleh begitu saja dari alam, adalah MUTIARA. Tidak ada pengolahan lanjutan atas mutiara; itu adalah benda langka yang ditemukan. Mutiara yang paling indah sangat jarang, hanya diperoleh dari laut di area tertentu, dari kerang tertentu.

Tidak ada manusia yang bisa membuat keindahan mutiara.

Mengambil mutiara bukan pekerjaan mudah -- seringkali kerang yang menyimpan mutiara paling besar dan indah terletak di dasar laut yang lebih dalam. Butuh kekuatan dan keahlian untuk mengambilnya, yang salah sedikit saja bisa kehilangan nyawa!

Maka, ketika seorang pedagang mengetahui ada mutiara yang benar-benar indah, benar-benar berharga -- layak untuk dimiliki para raja atau ratu, tidakkah ia akan berjuang untuk memperolehnya? Sebagai pedagang, ia tahu betapa penting dan berharganya. Dia tahu bedanya, langkanya.

Ketika pedagang itu mendengar keberadaan mutiara istimewa, dia berjuang untuk pergi mencarinya. Ketika menemukan, dia menjual semua miliknya untuk mendapatkan mutiara itu.... Berapapun harga yang dibayarkan, itu adalah beli murah -- jual tinggi sekali.

Dan saat mutiara itu benar-benar dimilikinya, mungkin tidak akan dilepaskannya lagi. Kekayaan dan harta benda bisa hilang untuk dicari lagi, tapi kesempatan memegang mutiara seindah itu, tidak bisa diulangi lagi!

Apa yang berharga seperti mutiara amat langka? Itulah Kerajaan Sorga! Tidak semua orang bisa memahaminya; yang hanya tukang jualan dan bersikap asalan, yang tidak keberatan dengan butiran plastik seperti mutiara -- mereka tidak mengerti nilainya. Hanya orang yang sungguh-sungguh mengerti penting dan berharganya Kerajaan Sorga, bersedia untuk mengejar dan memperolehnya.

Sungguh, Kerajaan Sorga ini jauh lebih berharga daripada mutiara teristimewa di dalam dunia! Seseorang sudah mati untuk mendapatkannya bagi mereka yang mencarinya.

Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
(Mat 13:45-46)

Senin, 04 Juli 2016

Musibah

Ruth In The Fields
1876 Merle Hugues
Musibah dimulai dari langit dan bumi. Ini adalah kisah keluarga Bapak Elimelekh dan Ibu Naomi, yang punya dua anak laki2 Mahlon dan Kilyon. Mereka hidup sejahtera dengan tanah pertanian yang baik hasilnya.

Lalu terjadilah bencana kekeringan. Bencana, bukan hanya kering semusim saja, melainkan benar-benar susah. Elimelekh lantas membawa keluarganya mengungsi ke balik gunung. Di sana tinggal bangsa yang kafir, agamanya beda. Punya budaya berbeda. Tapi bisa makan di sana, kan?

Di tanah asing itu mereka hidup, dan datanglah musibah berikutnya. Elimelekh meninggal dunia. Naomi tinggal bersama kedua anak laki-lakinya. Mereka menjadi dewasa, dan mendapatkan gadis-gadis dari penduduk setempat.

Sepuluh tahun mereka hidup, dan datanglah musibah lainnya. Kedua pemuda itu meninggal dunia juga. Tinggallah Naomi dan kedua menantunya Orpa dan Rut, perempuan-perempuan muda yang belum punya anak.

Musibah mengundang musibah. Setiap kali, musibah menghabiskan lebih banyak lagi. Hingga akhirnya, Naomi tidak punya apa-apa lagi. Ia pun menyuruh kedua menantu perempuannya pulang ke rumah orang tua mereka; toh usia masih muda -- mungkin masih duapuluhan, masih bisa menikah lagi.

Bayangkan kesedihannya. Tiada masa depan. Datang sekeluarga dengan tangan penuh, kini tangannya hampa. Musibah itu, terasa mengosongkan. Pahit. Naomi mau menghapus namanya, ia minta agar seterusnya dipanggil Mara saja. Si Pahit.

Dalam ketiadaan, yang diperolehnya adalah kasih sayang yang mengherankan dari Rut, menantunya yang masih muda ini. Orpa pulang, tetapi Rut ini tidak mau meninggalkan. Ia mau menyertai Naomi pulang ke negeri asalnya. "Bangsamu menjadi bangsaku, Allahmu menjadi Allahku," begitu kata Rut.

Naomi kehilangan semua yang berasal dari masa lalu, ia kini hanya membawa seorang perempuan yang berasal dari tanah asing. Seorang yang tidak punya alasan atau harapan apapun untuk mengikutinya. Seorang yang saat itu akan nampak sangat bodoh. Untuk apa mengikuti janda yang sudah kehilangan segalanya? Bodoh sekali, si Rut ini! Mengapa tidak pulang saja, seperti yang dilakukan Orpa?

Yang bodoh itulah, yang jadi harta terbesar Naomi. Yang meneruskan kehidupannya.

Tadinya, kehidupan mereka nampaknya tersendiri saja; tidak ada tetangga, tidak ada komunitas. Ketika Elimelekh mengalami kesulitan, ia tidak bahu membahu dengan orang-orang sebangsanya. Mengapa harus pergi ke tanah asing? Di sana, hidupnya berakhir, demikian pula dengan kedua anak lelakinya. Mati sebagai orang asing, di tanah yang asing.


Seandainya aja, seandainya dari awal hidup berkomunitas, saling tolong menolong -- bukankah hidup menjadi lebih ringan? Kekeringan masih terjadi, tetapi justru karena bersama-sama, semuanya bisa tetap bertahan.

Berapa banyak dari kita yang mau sendirian, dan memilih untuk pergi keluar, ke tempat asing dan menjadi orang asing karena tidak mau berkomunitas dan saling membantu dengan sesama sebangsa? Kita pikir lebih baik di tanah asing, tapi malah akhirnya kehilangan lebih banyak, hingga hidup menjadi pahit, dipenuhi kepahitan.

Kisahnya Naomi belum berakhir. Ketika Naomi dan Rut sampai di kampung halamannya, mereka masuk dalam komunitas. Bagi Rut, itu adalah komunitas yang sama sekali asing, tetapi ia konsekuen dengan niatnya. Rut mengambil bagian dari aturan yang berlaku -- ia menjadi bagian dari harta waris Elimelekh dan anak-anaknya.

Bayangkan, bagi seorang Rut yang muda, ia menjadi "warisan" yang diserahkan kepada seorang paruh baya kaya raya, yang bernama Boas. Perempuan -- janda -- muda yang menyerahkan diri kepada lelaki paruh baya, untuk suatu budaya yang asing. Sebagai suatu bakti, suatu ketaatan. Rut sama sekali tidak mengenal Boaz sebelumnya. Tidak terbayangkan, bagaimana ia melalui itu semua. Rut hanya melakukannya. Boas sedemikian terkesan dengan bakti Rut, sehingga bersikap baik padanya.

Penutup dari semua tragedi ini adalah, Rut akhirnya menjadi milik Boas, dia ia melahirkan anak-anak yang menjadi cikal bakal raja-raja, hingga Raja yang terbesar di atas muka bumi.

Musibah? Ya.
Tapi Tuhan membuat semua rangkaian kejadian itu untuk mendatangkan yang terbaik bagi rencana-Nya.

Minggu, 10 Januari 2016

Perjamuan Kudus

Hari ini, orang Kristen merayakan Perjamuan Kudus. Nah, ini mempunyai banyak penafsiran dan menjadi ritual (beberapa jadi seperti supranatural), namun kalau dipelajari, maksud asalnya adalah sebagai peringatan. Untuk mengingat, seperti yang dikatakan-Nya pada Perjamuan Terakhir itu: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Merayakan Perjamuan Kudus adalah mengingat apa yang Tuhan Yesus telah lakukan.

Dan apa yang dilakukan-Nya, adalah memberi diri ditangkap, disiksa, disalibkan sampai mati. Dikuburkan. Dan pada hari ketiga, kubur itu kosong. Ingatlah, lakukan Perjamuan Kudus untuk menjadi peringatan akan Tuhan Yesus. Inilah peristiwa dalam sejarah, dicatat dalam berbagai manuskrip. Apa yang mau diingat?

Ini adalah perbuatan kasih yang tak terukur, yang dilakukan oleh Tuhan. Manusia, orang-orang -- apapun agamanya -- sering menyebut Tuhan Yang Maha Pengasih, yang kasih-Nya sangat besar. Orang Yunani menyebut itu adalah kasih yang 'agape' -- bentuk kasih yang paling tinggi. Namun, apa persisnya perbuatan kasih yang dilakukan oleh Tuhan?

Ada yang bilang, "Tuhan sangat mengasihi saya karena saya diberkati." Ada yang menyebut soal kesehatan. Atau soal kekayaan. Atau soal kesempatan. Ayolah; jika itu adalah hal-hal yang kita alami, apa yang kita peroleh sangatlah kecil dibandingkan kekuasaan TUHAN. Bagi Tuhan, melakukan mukjizat adalah hal yang tidak terbatas bagi-Nya. Dia itu TUHAN! Melakukan mukjizat itu, bukan bukti kasih agape dari Tuhan.

Mari kita kembali pada peristiwa sejarah ini. Pikirkan hal-hal ini. Yang pertama, kita menemukan bahwa dasar dari kasih agape adalah KEBENARAN. Karena apa yang benar adalah benar. Apa yang sudah ditetapkan, itu telah ditetapkan. TUHAN adalah Pencipta kenyataan; apa yang telah Dia nyatakan menjadi ada, menjadi suatu kepastian, suatu Hukum. Kita melihat bahwa alam diatur oleh hukum-hukum yang tetap, yang matematis. Kasih agape tidak berdasarkan pada perasaan, bukan keputusan yang emosional.

Pengetahuan adalah deskripsi dari kenyataan, dan kebenaran adalah ukuran dari pengetahuan. Jika kita bilang, ini adalah pengetahuan yang benar, artinya pengetahuan itu mendeskripsikan kenyataan yang sebenar-benarnya, sesuai dengan apa yang ada, yang terjadi. Kebenaran yang mutlak adalah pengetahuan yang seutuhnya menjelaskan kenyataan. Bagi Tuhan Yang Maha Tahu, seluruh kenyataan terbuka lebar di hadapan-Nya. Bagi manusia? Ini jadi masalah; manusia tidak mampu mengamati segalanya, seutuhnya. Banyak sisi dari kenyataan yang tersembunyi bagi manusia; kita tidak bisa mengetahui apa isi hati dan pikiran orang lain, bukan? Jadi, bagi manusia ada banyak dugaan dan asumsi. Menebak-nebak. Mencoba-coba.

Kasih manusia didasarkan pada perasaan, bukan atas kebenaran -- karena manusia tidak mampu untuk menyelidiki kenyataan seutuhnya dari manusia lain. Jangankan menyelidiki orang lain, untuk mengerti hati sendiri juga susah kan! Jadi, selalu ada bagian yang tidak diketahui, yang menebak-nebak, juga yang dibuat-buat. Kita mengatakan, "saya mencintai Tuhan", tetapi kita tidak benar-benar mengerti apa artinya itu, bagaimana kenyataan tentang semua pilihan dan perbuatan serta kata-kata kita.

Yang kedua, dalam segala pengetahuan Tuhan, yang mengerti akan segala kenyataan tentang manusia dan dunia -- Dia mengetahui bahwa manusia ini berdosa. Dengan 'berdosa' artinya adalah mati, terputus dari Tuhan yang hidup, karena manusia menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat baginya. Manusia tidak mencari apa yang benar, melainkan apa yang baik. Yang dibanggakan adalah 'baik' dan 'kebaikan', semuanya ditentukan sendiri oleh manusia. Di mata Tuhan, yang mengetahui semua kenyataan, masihkah yang 'baik' itu tetap dinilai baik? Masih bisa menepuk dada menyebut diri baik di hadapan TUHAN, khalik langit dan bumi?

Kalau Tuhan menemukan manusia tidak lagi baik di mata-Nya, Dia dapat membuat ciptaan yang baru. Namun, karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini.... Dia tidak membuat yang baru, Dia juga tidak membengkokkan kenyataan yang telah ditetapkan-Nya, tidak mengubah kebenaran mutlak tentang dosa manusia. TUHAN mengurus dosa manusia dengan mengambil alih hukuman yang seharusnya ditanggung manusia. Dengan demikian, maka manusia dapat jalan untuk kembali berdamai dengan Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Yesus, dan hanya bisa dilakukan oleh Yesus, Putra tunggal Allah, karena syarat dari Dia yang bisa menebus dosa adalah tidak berdosa.

Dia yang tidak berdosa, bersedia mati dengan cara yang paling terkutuk, untuk menanggung dosa kita, manusia yang masih berdosa, yang tidak bisa mengangkat muka baik di hadapan Tuhan. Itulah realita. Itulah yang perlu diperingati.

Apakah ini disebut agama? Dari peristiwa ini, bisa banyak penafsiran, dan dengan begitu timbul agama.... Orang menafsirkan peristiwa Perjamuan Kudus dengan berbagai macam cara. Apapun penafsirannya, tidak mengubah fakta sejarah, kebenaran bahwa pada hari Kamis itu, dua hari sebelum hari Sabbat, Yesus berkumpul dalam Perjamuan Paskah bersama murid-murid-Nya. Kenyataan bahwa setelahnya, Ia melalui proses yang panjang dan menyakitkan, hingga mati dan dikuburkan. Untuk bangkit pada hari yang ketiga. Itu adalah kasih yang tak terukur, yang melampaui semua asumsi manusia tentang 'baik', yang nyata dan benar terjadi.


Supaya manusia tetap mengingatnya, memperingatinya. Selamat hari Minggu!

Minggu, 25 Mei 2014

Dosa Itulah

Amsal 16:2  Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. 

Ketika manusia pertama, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, apakah yang sebenarnya terjadi? Kita berpikir, itu karena perbuatan mereka yang salah, tidak melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Tapi, mari kita pikirkan, seperti apa keadaannya, bagaimana kejadiannya. Hal pertama yang perlu dicatat adalah, TUHAN menciptakan manusia serupa dan segambar Diri-Nya. Pada manusia ada suatu hal yang khusus dan istimewa, yaitu kebebasan untuk berkehendak, kebebasan untuk mengelola, kebebasan untuk mengembangkan diri.

Dalam kebebasan itu, manusia tidak diberi kemampuan setara dengan TUHAN. Manusia tidak bisa mengetahui segala sesuatu, seperti TUHAN tahu. Manusia, dari sejak diciptakan, tidak mungkin mengerti apa jalan pikiran TUHAN. Maka, dari semula Manusia bergaul dengan TUHAN, pasti melakukan kesalahan-kesalahan. Hanya dengan demikianlah kehendak bebas itu bisa dinyatakan, yaitu jika manusia bisa berbuat salah. Adam diberi mandat untuk mengurus Taman Eden, segala sesuatu merupakan hal baru baginya. Berapa banyak kesalahan yang sudah diperbuatnya, karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu apa yang menjadi kehendak TUHAN. Namun, TUHAN adalah Bapa yang baik, yang mengajar manusia pertama merangkak, lalu berjalan, dan berlari di dalam Taman yang diciptakan-Nya.

Jadi, dosa bukanlah tentang melakukan perbuatan yang salah. Ketika manusia pertama berada bersama dengan Bapa, perbuatan salah adalah bagian dari pertumbuhan. Bapa akan mengajarkan apa yang baik dan apa yang jahat, dari segala kesalahan yang diperbuat anak-anak-Nya. Manusia pertama sangat bergantung kepada TUHAN untuk semua pandangan baik dan jahat, sama seperti seorang anak yang selalu bertanya kepada orang tuanya.

Dosa dimulai ketika Hawa menginginkan untuk menjadi sama seperti TUHAN, bisa menentukan sendiri apa yang baik dan yang jahat. Dikatakan, "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya." Bukan niat buruk sebenarnya, menginginkan punya pengertian. Masalahnya, TUHAN sudah menegaskan hal ini: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Bacalah kembali perintah TUHAN. Itu bukan larangan menyangkut tindakan yang tidak bermoral. Sebenarnya, ini lebih seperti larangan yang tertulis pada sebotol racun, siapa yang memakannya pastilah akan mati. Jika suatu perbuatan salah dilakukan, TUHAN bisa mengajari apa salahnya dan apa yang harus dilakukan, bagaimana memperbaikinya. Tetapi jika manusia memakan sesuatu yang membuat mereka mati, apalagi yang bisa dilakukan oleh TUHAN? Kematian adalah keterpisahan dari sumber hidup. Tidak ada lagi bersama dengan Yang Hidup. Demikianlah Hawa memakan buah itu, tetapi ternyata nafasnya tidak langsung berhenti, maka Hawa bisa memberikan buah itu kepada suaminya, mereka memakannya bersama-sama.

Yang terjadi adalah, buah itu mengubah manusia secara mendasar. Buah itu memberi kemampuan kepada manusia untuk menimbang sendiri apa yang baik dan apa yang jahat. Reaksi pertama setelah memakan buah itu adalah pengertian tentang diri mereka sendiri: Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Apakah ketelanjangan buruk, atau jahat? Tidak. Dari semula manusia diciptakan, mereka berdua sama sekali tidak berpakaian dan hal ini dipandang BAIK di mata TUHAN. Ketelanjangan bukan hal yang buruk. Seluruh bagian tubuh manusia adalah karya TUHAN yang sempurna, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tetapi manusia, sesudah bisa menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, memutuskan bahwa telanjang dipandang JAHAT di mata mereka. Mereka tidak ingin alat kelamin mereka terlihat, memutuskan bahwa aurat harus ditutupi. Dan demikianlah TUHAN membuktikan bahwa manusia telah memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu. Mereka mati, bukan dalam pengertian berhenti nafasnya, namun harus terpisah dari TUHAN. Karena tidak bisa lagi terjadi, manusia mengikuti apa yang TUHAN nyatakan tentang yang baik dan yang jahat.

Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."

Begini, dosa itu bukan soal melakukan suatu perbuatan, melainkan menilai suatu perbuatan. Orang akan melakukan sesuatu yang baik, yang dipikirnya baik, yang dipercayainya baik. Tetapi dalam ketidakmampuan untuk memahami segala sesuatu, manusia hanya bisa menginginkan. Dalam kebodohannya, manusia mempercayai apa yang ingin dipercayainya, dan dari sana orang menentukan apa yang baik dan apa yang jahat.

Coba saja lihat bagaimana seorang penjahat berpikir. Apakah ia meyakini bahwa dirinya jahat, bahwa perbuatannya jahat? Tidak, ia meyakini bahwa dirinya baik. Ia melakukan kejahatannya atas alasan yang baik. Ia mempercayai bahwa dunia ini begitu tidak adil, sehingga ia boleh melakukan ketidakadilan. Ia percaya bahwa keinginannya harus dipuaskan, walaupun untuk itu orang lain harus menjadi korban. Segala jalan orang bersih dalam pandangannya sendiri!

Jika orang sadar bahwa ia telah berbuat jahat, maka ia bisa dikoreksi dan memperbaiki kelakuannya. Tetapi jika orang tetap berpikir bahwa apa yang diperbuatnya baik, dan didukung oleh orang-orang lain disekelilingnya bahwa apa yang dilakukan adalah baik, bagaimana cara untuk memperbaiki kelakuannya? Apakah hal yang baik bisa diperbaiki?

Karena dosa pada dasarnya adalah menentukan sendiri apa yang baik dan yang jahat, maka tidak ada cara bagi manusia untuk lepas dari dosa. Manusia menimbang sendiri apa yang baik dalam pandangannya, lalu hidup berdasarkan apa yang baik itu. Memang dalam hati nurani manusia masih menyimpan pengetahuan tentang apa yang baik menurut TUHAN, tetapi keputusan akan apa yang baik dan jahat sepenuhnya ada di tangan manusia itu sendiri. Kehidupan seringkali memberi tantangan antara situasi-situasi yang saling bertentangan, di mana manusia harus memilih. Bahkan untuk TUHAN pun, pilihannya masih ada di tangan manusia: bagi TUHAN segala hal yang terbesar dan terbaik! --tetapi apakah yang terbaik itu? Siapakah yang menilainya? Siapakah yang menentukannya?

Kalau manusia berpikir sendiri, bisa saja terjadi pikirannya tentang yang terbaik bagi TUHAN ternyata adalah sampah di mata-Nya. Lihat saja rasul Paulus, sebelum ia bertemu dengan Tuhan dalam perjalanan ke Damaskus, ia merasa menjadi orang yang amat sangat baik. Menjadi orang yang harusnya diteladani semua orang lain, menjadi farisinya orang farisi. Itu seperti menjadi polisinya para polisi, menegakkan hukum Taurat bagi bangsa yang harus ditekan dan ditindas untuk taat. Namun setelah mengenal TUHAN dan mendapat bagian dalam Roh Kudus yang membukakan pikiran, rasul Paulus memandang semua hal lama itu sebagai sampah. Sesuatu yang harus dibuang, ditanggalkan. Memalukan.

Tuhan Yesus sudah memberi syarat ini: barangsiapa hendak mengikuti-Nya, harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya setiap hari. Penyangkalan diri pada dasarnya adalah mengembalikan hak menentukan apa yang baik dan yang jahat kepada TUHAN. Sebagai gantinya, Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran, akan menunjukkan segala hal yang baik dan jahat itu bagi manusia. Tetapi penyangkalan diri itu akan menimbulkan masalah karena tidak lagi sesuai dengan pandangan tentang apa yang baik dari masyarakat, dari dunia. Itu adalah salib yang harus dipikul. Itu adalah konsekuensi dari menjadi berbeda dari dunia. Dan yang ketiga adalah mengikuti-Nya, melakukan apa yang ingin dilakukan-Nya.

Dosa adalah masalah serius, karena pertama-tama dosa tidak dirasakan atau dilihat sebagai masalah. Hanya oleh anugerah TUHAN saja kita dapat lepas dari dosa, yaitu dengan lahir baru, dan bebas dari hukum dosa yaitu maut. Jangan lagi berpikir sendiri tentang baik dan jahat, sebaliknya marilah kita mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.

Terpujilah TUHAN!

Sabtu, 10 Mei 2014

Perang

Bil 13:27  Mereka menceritakan kepadanya: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya.

Bil 13:32-33 Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.

Kita mau hasilnya, tapi tidak mau resikonya. Kita mau mendapatkan apa yang terbaik, terindah, terbanyak, tapi kita tidak mau ada masalah dalam mengambilnya. Kita ingin semuanya baik-baik saja, lancar-lancar saja. Tapi, di depan sana kenyataannya ada masalah, tantangan, dan bahkan mustahil untuk menang.

Lihat saja; dalam satu sisi apa yang dikatakan oleh para pengintai Israel yang mencari tahu soal Kanaan tidak salah. Mereka menemukan tanah yang berlimpah susu dan madunya, berlimpah binatang ternak, berlimpah hasil ladang, penuh bunga-bunga indah. Tetapi di antara keindahan itu hiduplah manusia yang digambarkan sebagai monster: mereka memakan orang, tubuhnya tinggi besar, orang Enak yang berasal dari keturunan raksasa. Orang Israel berlalu seperti belalang, kecil, tidak diperhatikan. Mereka tidak berdusta saat mengatakan kabar busuk ini. Ada berita baik, ada berita busuk.

Dan itulah yang harus dilawan, diperangi. Harus dibasmi, karena tanah yang indah itu telah dijanjikan TUHAN bagi bangsa Israel.

Apakah bangsa Israel itu kuat, hebat? Tidak. Mereka tadinya adalah budak-budak di Mesir yang hidupnya menyedihkan. Kurang makan. Kurang tidur. Anak laki-laki dibuang. Saat Musa membebaskan orang Israel dari Mesir, kemungkinan ada lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Mereka tidak tahu senjata. Mereka gemetar melihat pedang. Memang TUHAN yang membebaskan Israel, telah menekan Mesir dengan tulah yang mengerikan. Tetapi bangsa ini tidak mengerikan; sebaliknya mereka lemah, menyedihkan. Tidak tahu soal disiplin, tidak tahu soal strategi... dan  yang seperti ini harus melawan penduduk Kanaan yang mengerikan itu.

Kalau dipikir begini, memang tidak adil. Memang hidup mengerikan! Di Mesir, hidup sebagai budak yang melarat dan sengsara. Dibebaskan, dibawa ke tanah Kanaan yang dijanjikan pada leluhur, ketemu monster-monster menakutkan dan pasti akan membasmi habis semua belalang, seperti api menghanguskan serangga. Jadi, pilih mana? Mungkin kita akan memilih kembali ke Mesir, karena di sana masih ada kemungkinan tetap hidup. Di Kanaan, kita akan dibantai oleh monster-monster itu. Semua lelaki akan dibunuh, perempuan diperkosa, dan mungkin mereka akan memakan anak-anak kita.

Walaupun kita jadi budak di Mesir, tapi kita tahu sampai di mana batas kekejaman orang Mesir. Kita sudah hidup bergenerasi-generasi di Mesir; bukankah ayah, kakek, kakek dari ayah, kakek dari kakek, orangtuanya kakek dari kakek, semuanya lahir di Mesir? Kita tahu semua hal tentang Mesir, tentang Firaun, tentang imam-imam dan ahli-ahli sihirnya. Kita tahu tentang dewa Ra yang bercahaya, tentang Osiris yang menghakimi orang mati, tentang Horus yang berkepala elang. Kita tahu orang Mesir juga punya pesta, punya perayaan yang ramai menyenangkan, dan di sana ada sedikit kehidupan. Di sini nampaknya cuma ada kematian.

Jadi, bagaimanapun juga, mustahil untuk masuk Kanaan dan merebutnya. Bisakah serangga selamat melalui lidah-lidah api?

Baiklah. Itu orang Israel. Bagaimana dengan orang yang mau percaya, di jaman sekarang?

Perbudakan manusia adalah ketundukan manusia pada dosa. Dosa adalah keadaan yang diterima sejak manusia memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat: sejak itulah manusia menentukan sendiri apa yang baik dan jahat. Seluruh manusia terlahir dengan kemampuan dan keinginan untuk menentukan segala hal yang baik untuk diterimanya, atau untuk dilakukannya. Dosa ini, keinginan ini, membuat manusia terpisah dari Tuhan sumber hidup. Terpisah dari hidup berarti mati, itulah yang terjadi.

Kalau orang mencuri, ia punya alasan untuk melakukan itu, di mana ia memandang alasannya baik. Mencuri demi kebaikan. Berbohong demi kebaikan. Korupsi demi kebaikan. Membunuh demi kebaikan.Mungkin mencuri, berbohong, korupsi, bahkan membunuh itu salah, tapi itu adalah hal yang memberi kebaikan saat hasilnya diterima. Tentu saja, setelah itu ada akibat yang timbul; tapi manusia bisa berusaha untuk mengubah konsekuensinya, bukan? Kita bisa berlindung dari 'cobaan' yang datang. Kita punya akal untuk mengubah segala sesuatu.

Tapi, manusia begitu diikat oleh dosa, diikat oleh apa yang 'baik' baginya sendiri. Tidak ada lagi kepentingan untuk memikirkan apa yang benar dan salah. Kebenaran saat ini telah menjadi relatif, tergantung dari situasi. Dan dalam kesuksesan dan kekayaan yang timbul, manusia menjadi semakin tertindas, kesepian, sendirian. Kerja tanpa henti. Kita tahu bahwa ada pesta-pesta, ada perayaan-perayaan saat hari raya datang dan liburan bisa diisi dengan segala hal yang seru asik gila. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas yang menekan, perbudakan yang tidak ada habisnya.

Mungkin Tuhan menjanjikan Surga, tetapi kita menemukan ada monster yang harus dihadapi. Kita menemukan monster itu dalam bentuk kekejaman dari sesama kita, yang tidak suka melihat kita berubah. Kita bisa dikucilkan. Kita bisa dimakan, secara finansial, dan hidup tidak lagi sejahtera. Kita berhadapan dengan sistem politik yang tidak berpihak pada orang percaya, sebaliknya berniat menegakkan hukum agama dari tetangga. Mustahil kita bisa bertahan dan memenangkan perang. Mustahil kita bisa masuk ke Surga, karena musuh yang kita hadapi terlalu besar.

Mungkin ada banyak hal indah di Surga, tetapi jalannya sama sekali tidak baik. Lebih baik tetap hidup dalam dosa, karena kita tahu seperti apa bentuknya. Kita tahu seperti apa enaknya, dan tidak enaknya. Bersama-sama dengan bangsa Israel, kita marah pada Musa, marah pada pemimpin rohani kita, dan marah pada Tuhan. Seharusnya jalan ke Sorga jauh lebih enak dan nyaman, penuh kebaikan.

Apa yang menjadi lanjutan perjalanan orang Israel? Tuhan membuat mereka berbalik arah, menuju ke gurun, dan bangsa Israel berputar-putar di sana selama empat puluh tahun sampai hampir habis semua yang lahir di Mesir. Kalau kita marah pada Tuhan, Dia mungkin akan membuat kita juga berputar-putar dalam gurun rohani, gersang. Kita tidak lagi dapat memikirkan apa yang tersedia. tidak bisa baca Firman Tuhan, tidak bisa berdoa. Kita butuh disodori makanan, seperti bangsa Israel yang memungut manna setiap pagi. Seperti anak bayi yang harus diberi susu.

Masalah sebenarnya pada orang Israel, masalah sebenarnya pada orang Kristen, adalah kepercayaan kepada Tuhan. Perhatikanlah: orang Israel telah melihat sendiri seperti apa kuasa TUHAN menulahi bangsa Mesir. Orang Kristen telah melihat sendiri dan mencatatkan dalam sejarah, seperti apa karya Yesus Kristus yang mati di salib, turun ke dunia orang mati, dan bangkit pada hari ketiga serta naik ke Sorga. Tetapi, semua itu tidak serta merta membuat orang menjadi percaya untuk menyerahkan hidupnya.

Percaya bukan soal meyakini ada atau tidak ada Tuhan, bukan soal memikirkan Tuhan bisa melakukan apa. Percaya adalah menyerahkan secara total pada Tuhan dan mengikuti jalan-Nya, walaupun ada 1001 alasan yang valid dan masuk akal untuk tidak melakukannya. Percaya adalah menyangkal apa yang baik menurut diri sendiri, dan menyerahkan penilaian itu kepada TUHAN.

Lanjutan dari bangsa Israel, selama di padang gurun lahirlah anak-anak yang lebih kecil badannya, kurus tulangnya, walau tetap sehat dan kuat. Mereka tumbuh di gurun, dibesarkan dalam pergaulan yang erat dengan tiang api dan tiang awan, serta ritual penyembahan sesuai yang ditetapkan. Mereka tidak lebih kuat dibanding orang Israel yang keluar dari Mesir, tetapi mereka lebih percaya. Mereka yang lahir di gurun, tidak menginginkan kembali ke Mesir.

Kita yang lahir baru dalam Roh, seharusnya juga tidak menginginkan kembali ke dunia yang berdosa. Kita bukan menjadi lebih kuat, melainkan lebih percaya, lebih bergantung pada TUHAN. Saat itulah Dia membawa kita berperang, dimana TUHAN berjalan maju di depan. Saat itulah kita melihat bahwa semua yang semula kita takuti itu, ternyata tidak ada apa-apanya.

Jadilah berani, dan ikutilah TUHAN! Jangan menjadi seperti orang Israel.

Terpujilah TUHAN!

Senin, 09 Desember 2013

Renungan Natal 2013

Filipi 2:5-7  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Natal saat ini adalah ajang pemasaran. Natal adalah kesempatan untuk bertransaksi lebih besar, berkaitan juga dengan malam tahun baru. Waktu berbelanja. Waktu banyak orang Kristen -- termasuk gereja -- mengeluarkan uang untuk berbagai-bagai macam keperluan. Di dalam berbagai-bagai transaksi ini, bisa terjadi aksi dan peristiwa khusus dari Natal: lebih banyak cinta, lebih banyak perhatian, juga pemberian pengampunan. Kebaikan yang dilakukan untuk orang yang lemah, yang kurang, yang terbelakang. Betapa indahnya melihat semua kebaikan itu! Dilengkapi dengan indahnya pohon Natal, demikianlah Natal menjadi sesuatu yang berharga bagi semua orang, percaya atau tidak percaya.

Tidak ada yang salah dengan kebaikan. Hanya saja, ketika kita melihat kebaikan-kebaikan manusia, kita tidak lagi melihat kehebatan Tuhan. Apa yang baik (good) dapat menutupi apa yang hebat (great) ketika orang lebih memperhatikan kemegahan dan kemewahan yang ditampilkan dunia. Tambah lagi ada satu kenyataan tentang "peningkatan nilai" yang sengaja diberikan, untuk memperoleh keuntungan ekonomi dalam citra merek dan perolehan pangsa pasar.

Dalam pemasaran, ada langkah-langkah untuk memperlihatkan 'wajah' dari suatu usaha, yang diharapkan akan disukai, dicintai masyarakat sehingga mendorong terjadi lebih banyak transaksi, lebih banyak omzet, lebih banyak keuntungan. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan adalah aksi dengan modal kecil, lalu direkam, dituliskan, dan diberitakan melalui sarana komunikasi -- hari ini dunia memiliki internet dimana semuanya bisa memberitakan apa saja. Membangun citra, membuat sebuah usaha tampak baik dengan cara mengajarkan dan membagikan kebaikan, serta menempatkan usaha tersebut sebagai teladan, sebagai pemimpin yang perlu diikuti.

Dunia menyukai cara-cara seperti ini. Heal The World. Love Your Neighbour. You Can Do It. Segala hal yang terlihat bijaksana, baik, menarik. Tidak ada yang salah dengan pesan-pesan yang baik, yang mengangkat moral dan kebijaksanaan yang lebih. Tidak ada yang salah untuk memberi kebaikan kepada sesama. Namun ada sesuatu yang sangat salah ketika semua kebaikan ini menutupi kehebatan Tuhan.

Kehebatan Tuhan itu adalah karya-Nya di dunia. Yang terhebat dimulai dari fakta bahwa untuk melakukan ini, Tuhan harus mengeluarkan modal yang teramat sangat besar. Renungkanlah ini: dunia mengeluarkan sedikit modal, tidak banyak usaha (seringkali, bergantung pada insiden-insiden yang dilakukan oleh para karyawan yang hatinya baik luar biasa) untuk mendapatkan citra perusahaan, citra merek, yang hebat. Tetapi TUHAN memulai dengan mengesampingkan citra-Nya sebagai Tuhan.

Natal adalah saat di mana TUHAN tidak lagi tampil sebagai Tuhan, melainkan menjadi manusia.

Sebelum Natal pertama, sosok Putra Tunggal Allah Yang Maha Mulia adalah serupa dan setara dengan Allah. Ini adalah suatu Pribadi yang luar biasa, yang melampaui pikiran manusia. Bagi manusia, Hukum yang diberikan Allah sangat jelas: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi." (Kel 20:3-4)

Tidak ada allah lain yang boleh dipikirkan atau dibuat manusia, tidak ada yang boleh dibuat patung menyerupai apapun di atas, di bawah, dan di dalam air di bawah bumi. Pada langit dan bumi ciptaan, tidak ada apapun yang dapat serupa dan setara dengan Allah. Tidak ada apapun yang dapat dipikirkan manusia tentang sosok Allah. Tidak ada apapun yang layak untuk disembah manusia, karena sesungguhnya manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sehingga menjadi lebih utama diatas segala ciptan lain -- tapi manusia tidak memiliki rupa Allah. Manusia tidak memiliki wajah Allah; sudah tentu tidak setara dengan Penciptanya.

Tuhan Yesus sudah memiliki rupa Allah, Dia sungguh setara dengan Allah. Dia sudah ada sebelum dunia ada; segala sesuatu diciptakan melalui-Nya. Di bawah kolong langit ini tidak ada yang dapat melebihi-Nya, tidak ada yang memiliki kemuliaan seperti yang Tuhan Yesus miliki. Kemuliaan yang melebihi segala hal di bumi dan di Sorga.

Bayangkan, apa yang Tuhan Yesus pikirkan, apa yang Dia rasakan, ketika memutuskan untuk mengosongkan Diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia?

Natal adalah peristiwa istimewa, ketika langit tertekuk turun hingga menyentuh bumi, dalam diri bayi yang lahir di kandang binatang, yang dibalut kain lampin yang kasar dan ditidurkan dalam palungan tempat makan ternak. Bagi manusia, kondisi seperti ini adalah kehinaan luar biasa. Hanya dialami orang-orang yang benar-benar tidak punya apa-apa. Tidak ada kemuliaan. Tidak ada keindahan -- meskipun orang berusaha menggambarkan suasana di kandang itu dengan indah, sampai menjadi hiasan kartu Natal yang mewah.

Kenyataannya, Tuhan membuat situasi paling ekstrim, dari posisi yang paling mulia, turun ke posisi yang paling hina. Itu adalah anugerah Natal, suatu awal dari misi Tuhan di atas bumi. Misi hebat yang akhirnya memperhadapkan Tuhan dengan sang maut di atas salib, dan pada puncaknya mengalahkan kuasa maut dengan kebangkitan-Nya. Semua dimulai dari Natal, yang diberitakan oleh para malaikat: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:14)

Kita jarang mendengar kata-kata ini di dunia. Apa yang baik bagi dunia adalah peningkatan citranya sendiri. Tetapi Natal sejatinya mengungkapkan kemuliaan TUHAN, Allah semesta alam di tempat yang mahatinggi. Natal hakekatnya membawa damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Ini adalah awalnya. Selebihnya adalah anugerah demi anugerah, karena dalam Kristus Yesus ada nasehat, ada penghiburan kasih, ada kasih mesra dan belas kasihan. Kasih Allah yang melepaskan citra-Nya sendiri.

Jika Natal dirayakan, apa yang kita pikirkan? Apakah kita turut mengikuti pencitraan - mengejar kemegahan dan citra, menjadi yang terbesar dan terbaik serta terkenal? Apakah yang sedang kita muliakan, apa yang sedang kita harapkan, yang sedang kita kejar? Apakah citra kita yang baik, jemaat yang besar, gereja yang terkenal?

Atau, kita mentaati Firman Tuhan yang diberikan melalui Rasul Paulus ini: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus .....?

Selamat Hari Natal!
Desember 2013

Donny A. Wiguna