Minggu, 02 Desember 2012

Renungan Sehari - 21 Oktober 2012

Efesus 6:21-24  Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu.
Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Akhirnya, semua perlu mengetahui. Hubungan yang benar-benar akrab tidak mungkin terjadi tanpa mengetahui keadaan yang sesungguhnya satu sama lain. Malah bisa dibilang, ukuran keakraban adalah sampai sejauh mana yang satu tahu yang lain, dengan sesungguhnya. Tidak ada rahasia. Tidak ada yang ditutupi.

Apakah pemimpin jemaat sungguh akrab dengan jemaatnya? Lihatlah, sejauh mana jemaat mengetahui keadaan si pemimpin. Sebaliknya, apakah pemimpin tahu keadaan jemaatnya? Lihatlah, sejauh mana pemimpin mengenal jemaatnya. Kebanyakan berpikir satu arah: pemimpin harus tahu soal jemaat. Kebanyakan orang mau diperhatikan oleh pemimpinnya. Tapi, apakah di arah sebaliknya terjadi pemahaman yang sama?

Mengetahui keadaan dan hal ihwal pemimpin bukan sekedar untuk melayani atau memberi sesuatu bagi si pemimpin. Bukan bermaksud mendorong jemaat tahu apa saja yang pemimpin butuhkan dan inginkan, agar dipenuhi mereka. Bukan! Sesungguhnya, mengenal keadaan dan hal ihwal pemimpin berarti meneruskan semangat dan kegairahan si pemimpin. Meneruskan apa yang menjadi hasrat, dan mengerti apa yang menjadi alasan si pemimpin untuk bertindak, bergerak, bahkan berkorban.

Seorang pemimpin mungkin telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. Banyak pemimpin jemaat kehilangan waktu bagi keluarganya, kehilangan kesehatannya, kehilangan kekayaannya. Menjadi Hamba Tuhan seperti mengambil jalan yang bertolak belakang dengan tujuan-tujuan duniawi, kehilangan kekayaan, harus masuk ke tempat terpencil, mengambil resiko kena penyakit menular, kelaparan, kedinginan.... untuk sesuatu yang tidak selalu jelas atau langsung terlihat.

Lihat saja Rasul Paulus, bukankah keadaan dan hal ihwalnya bukan jalur yang cemerlang dalam ukuran dunia? Dia kehilangan dukungan, malah sebaliknya diburu orang Farisi. Ia berkeliling ke daerah pedalaman, menemukan jemaat kecil di kota terpencil, mengalami sakit mata, mengalami penganiayaan.... ia melakukan semua itu dengan setia. Mengumpulkan uang bagi Yerusalem dengan setia, membawanya ke sana dengan susah, yang berujung penangkapan dirinya. Ditangkap, tidak diadili dengan adil, dipukuli, lalu di bawa ke Roma, dijadikan tahanan rumah. Ujung akhir hidup Rasul Paulus di dunia adalah hukuman pancung.

Rasul Paulus ingin sekali lagi mengunjungi Efesus, namun niatnya tidak kesampaian. Ia menyuruh Tikhikus untuk memberitahu, bukan mengajukan permintaan untuk dukungan atau pemberian, melainkan agar jemaat Efesus terhibur. Hal ihwal yang disampaikan adalah penghiburan -- menunjukkan bagaimana Tuhan tetap memelihara, bagaimana kesulitan bisa teratasi walau kondisi tidak menyenangkan, dan apa sebabnya Paulus tetap berjuang di jalan Tuhan.

Kehidupan mungkin sulit bagi pemimpin jemaat, namun ada damai sejahtera yang dimiliki, yang jauh lebih baik daripada kenikmatan menjadi pemimpin di dunia. Kondisi mungkin tidak terlalu enak, tetapi ada Kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus. Perhatikanlah: iman itu bukan menuju kepada Allah, melainkan dari Allah. Iman yang dari Allah itu membawa juga Kasih dalam kehidupan pemimpin jemaat, dan demikian pula diteruskan bagi jemaatnya.

Kasih karunia, pemberian yang dari Surga bagi setiap orang yang mengasihi Tuhan, merupakan sumber kekuatan yang tidak pernah habis. Karunia itu memampukan, memberikan kesanggupan, untuk melakukan segala hal yang harus dilakukan orang percaya. Yang harus dikerjakan oleh pemimpin, dan itulah yang dapat disaksikan oleh jemaat, agar mereka mengerti bahwa karunia yang sama juga tersedia bagi mereka. Itulah sebabnya, sangat penting untuk membagikan pengetahuan tentang keadaan pemimpin. Sangat penting untuk mengerti -- bukan saja agar terhibur, melainkan juga agar bertumbuh.

Nah, saat ini memang ada saja yang memiliki pandangan lain tentang menjadi Hamba Tuhan atau Pendeta, atau Penginjil atau aktivis.... Hubungan yang dipersepsikan secara populer adalah pertukaran jasa: Hamba Tuhan memberikan pencerahan rohani bagi jemaatnya, sedang jemaat memberikan fasilitas yang baik bagi sang Hamba Tuhan. Dalam hal ini, jemaat tidak benar-benar mengetahui apa kondisi dan hal ihwal pemimpin mereka, kecuali hal-hal seperti sakit, atau mendapat kelahiran anak, atau ada yang meninggal, atau menikahkan, serta segala seremonial lainnya.

Pengetahuan tentang Hamba Tuhan adalah hal-hal yang ada di permukaan, biasanya memberikan sinyal bagi jemaat untuk melakukan sesuatu. Coba pikirkan: adakah kita terhibur karena mengetahui kondisi dan hal ihwal Hamba Tuhan kita masing-masing, serta terbangun secara rohani? Masalahnya, mungkin kita tidak begitu akrab dengan Hamba Tuhan kita sendiri. Mungkin kita tidak mengerti hasratnya, kegairahannya, juga kegalauannya. Hamba Tuhan hanya menjadi orang yang melakukan pelayanan di mimbar, dan sesekali berkeliling dalam pelayanan perlawatan. Kita tidak tertarik untuk lebih dalam mengetahui apa isi hati dan hasratnya, karena kita sibuk dengan hasrat diri kita sendiri.

Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Amin, Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Sabtu, 20 Oktober 2012

Renungan Sehari - 8 Juni 2012

Ef 6:14-20 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Jadi berdirilah tegap. Syarat pertama untuk mengenakan perlengkapan perang adalah berdiri tegap. Jangan bayangkan perlengkapan itu seperti baju tempur jaman sekarang yang bisa dipakai sambil duduk. Bukan kain polyester yang kuat dan ringan. Bayangkanlah perlengkapan itu berasal dari jaman Rasul Paulus, terbuat dari besi dan perunggu, dalam ikatan cincin-cincin besi yang rapat, pelat logam yang berat, dan tali pengikat dari kulit yang kuat dan tebal. Upaya untuk memakai baju perang membutuhkan tubuh yang kuat dan tegap, berdiri perlu tegak karena harus menahan beban. Perlengkapan perang yang melindungi juga merupakan peralatan yang berat dan tidak mudah memakainya.

Di permulaan persiapan perang ini, ada tiga ujian yang harus orang hadapi. Yang pertama adalah ujian ketaatan: seorang tentara mengenakan baju perangnya bukan karena ia suka, melainkan karena ia harus. Yang kedua adalah ujian kekuatan: baju perang itu memiliki berat yang lumayan, yang akan melelahkan bagi orang yang tidak kuat badannya. Yang ketiga adalah ujian daya tahan: tentara tidak memakai baju perang untuk sesaat saja, melainkan memakainya seharian, bahkan mungkin juga berhari-hari dalam perang yang berkepanjangan. Tidak ada yang tahu berapa lama baju perang itu harus dipakai, atau apakah ada waktu untuk beristirahat dan melepaskan beban berat ini. Jika bajunya dilepas, butuh waktu dan tenaga ekstra -- seringkali membutuhkan bantuan orang lain -- untuk memakainya kembali. Tujuan memakai perlengkapan perang bukan pada keberhasilan bisa mengenakannya, melainkan agar bisa bertahan lebih lama, bisa bertempur lebih baik, dan memenangkan peperangan.

Jadi, berdiri tegap juga bisa diartikan menjadi taat, kuat, dan bertahan. Rasul Paulus sebelumnya menulis tentang bertahan sampai akhir, menguatkan diri sampai tujuan, tetap berdiri di saat segala sesuatunya selesai. Perlengkapan senjata Allah, atau perlengkapan senjata apapun, tidak ada gunanya bila tidak taat, tidak kuat, dan tidak dikenakan terus sampai pertempuran berakhir. Waktu perang dimulai, maka pikiran tidak lagi ditujukan kepada beban dari perlengkapan, melainkan difokuskan pada musuh dan upaya memenangkan perang. Untuk itu, proses mengenakan perlengkapan perang harus benar, harus detil, harus teguh, dan kuat ketika ada tebasan pedang musuh ke dada atau punggung, tidak terlepas saat terjatuh, serta tidak pecah saat terhantam.

Apa saja perlengkapan senjata Allah? Lihatlah daftar yang diberikan: sebagian besar bukan alat menyerang, melainkan peralatan untuk bertahan. Peperangan yang hebat ini tidak membutuhkan pemenang yang menyerbu mengalahkan setiap musuh, melainkan prajurit yang bertahan di tengah badai amukan perang. Jika dibandingkan, mungkin serupa dengan perahu yang dibuat oleh Nuh; perahu yang tanpa layar, tanpa tenaga penggerak, tanpa meriam, dan satu-satunya tujuan adalah tetap bertahan saat dunia mulai tenggelam dan binasa. Nuh menjadi pemenang karena tetap hidup, sementara yang lain binasa. Kenakanlah semuanya, dan bertahanlah dengan setia. Mari kita lihat apa saja yang mau dipakai.

Ikat pinggang kebenaran. Semua dipersatukan oleh ikat pinggang. Jika ikat pinggang tidak kuat, maka celana melorot, kaki terbelit, dan tubuh terjatuh. Betapapun besar dan kuatnya baju pelindung dada, perisai yang kuat, atau pedang yang mengkilat -- jika ikat pinggang terlepas maka semuanya sia-sia. Orang bisa memakai berbagai skenario dan kecerdasan untuk mengatasi suatu masalah, tapi tanpa kebenaran maka setiap saat  ada resiko semuanya berantakan sampai akhirnya sia-sia bahkan dipermalukan. Betapa sering kita ketahui dan mungkin telah alami, bagaimana seseorang membangun reputasi dan karirnya diatas kebohongan dan bualan... sampai suatu hari semuanya terbongkar dan si penipu masuk penjara dengan kepala tertunduk lesu. Ikat pinggangnya terlepas, karena bukan kebenaran yang mengikatnya.

Orang jaman dahulu tahu pentingnya ikat pinggang yang baik, bukan hanya untuk mode atau untuk gaya belaka. Kebenaran adalah bahan terbaik bagi ikat pinggang, yang tidak akan gagal dalam situasi apapun juga. Masalahnya, orang mungkin tidak menyukai ikat pinggang kebenaran, karena ikat pinggang yang baik juga bisa membuat tubuh terasa sesak dan berat. Kebenaran juga bisa membuat nafas sesak, ketika harus mengungkapkannya, ketika membayangkan akibatnya seperti perasaan yang terluka, emosi yang meledak, juga permusuhan yang timbul. Di dunia yang menyukai relativisme -- segala sesuatu relatif -- kebenaran menjadi bahan beracun yang dihindari. Lebih baik berbohong, walaupun untuk itu harus berjuang untuk menjaga kebohongan, hingga akhirnya terjatuh ketika kebohongan itu akhirnya terbongkar. Aneh, tapi nyatanya orang masih lebih memilih berbohong daripada bicara yang sebenarnya. Kebenaran itu berat, menyesakkan, tetapi itulah hal pokok pertama yang memampukan laskar Kristus maju berperang.

Baju zirah keadilan. Tubuh terlindungi oleh baju zirah dari segala arah. Kehidupan terlindungi oleh keadilan, aman dari serangan yang muncul di segala arah. Keadilan adalah memperlakukan semua orang sesuai dengan porsinya, sesuai dengan kebutuhannya dan perannya. Orang yang mengerjakan sedikit mendapat sedikit. Orang yang mengerjakan banyak mendapat banyak. Butuh sedikit mendapat sedikit. Butuh banyak mendapat banyak. Untuk pengerjaan diatur demikian: orang yang membutuhkan banyak diberi kesempatan untuk bekerja lebih banyak. Seseorang yang bisa memastikan keadilan terjadi di sekitarnya, akan menjadi orang penting bagi lingkungannya. Orang yang penting akan dilindungi; akhirnya keadilan itu akan melekat dan melindungi setiap orang percaya terhadap dunia yang jahat.

Masalah terbesarnya adalah, dunia ini menginginkan semuanya dengan bekerja sesedikit mungkin. Itulah "hukum ekonomi". Pertentanganlah yang membuat pertukaran terjadi, di mana harga dan jumlah barang atau jasa disepakati. Namun, pertukaran tidak selalu adil, karena dunia berpikir keras bagaimana caranya memberi sedikit tapi memperoleh banyak, sebanyak-banyaknya, jauh lebih banyak daripada apa yang ia butuhkan. Dunia mengajar orang untuk menaruh impiannya setinggi bintang, diterjemahkan menjadi berharap untuk mendapatkan segala-galanya karena impian manusia umumnya berkaitan dengan memperoleh hal-hal di dunia ini: kekayaan, ketenaran, kekuasaan, kenikmatan, dan ke-an lainnya. Karena itu, orang tidak ragu untuk mencederai sesamanya. Orang yang tidak kuat, lantas mencari perlindungan dari "ketidakadilan", karena ia sendiri tidak sanggup untuk melawan.

Ada orang yang berpikir bahwa ia bisa mencari perlindungan dari seseorang, atau dari suatu kelompok. Tetapi untuk mendapatkan perlindungan itu, ia harus berkorban -- akhirnya mungkin harga yang harus dibayar menjadi terlalu tinggi. Tetapi, orang yang adil akan menerima perlindungan dari orang-orang yang menerima keadilan darinya. Mereka menjadi pelindung yang setia karena mendapatkan keadilan, yang memberi kepastian di tengah dunia yang tidak pasti ini. Ingin mendapatkan perlindungan? Jadilah adil, dan tegakkanlah keadilan! Baju zirah keadilan bukanlah sesuatu yang diterima, melainkan bersikap adil terhadap dunia.

Kaki berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil. Kasut alias alas kaki adalah perlengkapan yang memungkinkan orang berjalan lebih jauh. Tanpa alas kaki jarak yang bisa dicapai terbatas pada area yang biasa dilalui. Kaki yang telanjang beresiko menginjak benda-benda tajam sehingga terluka. Perhatikanlah: orang yang terluka tangannya masih bisa berperang namun jika telapak kaki terluka, ia tidak berdaya untuk melangkah. Telapak kaki menopang seluruh berat tubuh beserta segala yang dikenakan, menentukan apakah seseorang masih bisa berdiri atau tidak. Pernah mencoba berdiri dengan telapak kaki terluka karena tertusuk paku?

Orang bisa menjadi aktivis di Gereja, bisa menjadi seorang yang religius bagi dirinya sendiri. Ia mungkin juga mengikuti program Gereja untuk memberitakan Injil - selama ia masih berjalan di area yang nyaman di dalam komunitasnya. Ini seperti bertelanjang kaki dan berjalan-jalan di kamar yang lantainya berlapis karpet tebal dan lembut, rasanya enak dan nyaman sehingga betah untuk berlama-lama beraktivitas. Ketika harus berperang, harus bertemu dengan orang-orang di luar komunitasnya, perjalanan tidak lagi terasa nyaman dan bahkan mungkin melukai.

Saat kekristenan menjadi sulit, pelindung yang memampukan kita tetap melangkah adalah kerelaan untuk memberitakan Injil. Jika dikatakan "rela", maka harus dipahami bahwa pengertian dasarnya berkaitan dengan "tidak ada untungnya". Memberitakan Injil tidak berkaitan dengan untung dan rugi secara duniawi, tidak menghitung nilai ekonomi dan apa yang diperoleh. Sayangnya, banyak orang Kristen masih tidak rela jika merugi -- mereka mau memberikan persembahan, tetapi tidak mau rugi dalam berjemaat. Persembahan adalah sesuatu yang bisa diatur, diukur, dan direlakan, tapi kerugian, ketersinggungan, penghinaan, bahkan kehilangan hal yang berharga -- itu tidak terkendali. Jika kita rela untuk memberitakan Injil, maka tidak ada perhitungan tentang rugi atau untung.

Perisai Iman. Perisai dibutuhkan ketika ada serangan -- dan hidup dalam dunia berarti siap untuk menerima banyak serangan. Bukan hanya orang Kristen yang menerima serangan; sebenarnya manusia saling serang satu sama lainnya. Sejarah kekristenan menunjukkan bahwa orang Kristen tidak terkecuali sebagai pihak yang menyerang. Bagi dunia, pertahanan yang terbaik adalah dengan menyerang, karena hanya dengan menyerang dan menghancurkan sumber serangan musuh baru hidup bisa aman, untuk sementara. Perang di dunia bisa berlangsung selama bertahun-tahun, karena pihak-pihak bergantian saling serang untuk "aman".

Perisai menjadi pilihan yang lebih dicari, karena manusia masa kini dapat membuat alat penghancur massal yang mengerikan: senjata nuklir, yang diharapkan tidak lagi pernah digunakan, atau senjata biologi yang efeknya mengerikan. Lebih baik berupaya agar lawan tidak bisa menyerang masuk, karena tidak ada orang yang siap untuk memakai kekuatan penghancur atas dasar alasan kemanusiaan. Tetapi, bukankah saat ini banyak negara berupaya memiliki kekuatan nuklirnya sendiri? Mungkin akan tiba saatnya, banyak negara memiliki senjata nuklir dan mungkin tidak semua orang sependapat soal kemanusiaan. Lalu, apakah yang menjadi perisai sesungguhnya bagi manusia?

Perisai iman adalah kepercayaan yang melindungi sepenuhnya, sehingga orang yang memakainya tidak lagi perlu menyerang untuk menghancurkan musuh. Iman menjadi dasar bagi segala sesuatu yang diharapkan, bukti dari segala hal yang belum terlihat. Dunia menyerang dengan menghancurkan dasar dari harapan, meniadakan apa yang terlihat sebagai sumber kekuatan. Dikatakan, si jahat mengirimkan panah api, yaitu sebuah serangan jarak jauh yang tujuannya adalah untuk membakar habis kehidupan orang percaya. Perisai iman memadamkan semua usaha untuk menghanguskan kehidupan sampai tidak dapat pulih lagi, karena iman selalu menghadirkan kembali pengharapan. Tidak ada satupun yang dapat menghancurkan janji keselamatan yang telah Tuhan berikan, bahkan ketika orang Kristen melakukan kesalahan.

Jika orang-orang lain meluncurkan tuduhan dan fitnahan, kita mungkin dapat menepisnya. Tapi, jika kita sendiri melakukan kesalahan, maka tuduhan itu kita benarkan. Kita mungkin merasa harus menerima hukumannya, kehilangan harta yang berharga berupa nilai diri. Jika diri tidak bernilai, maka tidak ada hal bernilai yang patut kita miliki. Itulah sebabnya, begitu banyak orang berusaha keras menampilkan dirinya berharga sehingga berkelahi oleh sebab "harga diri yang terinjak". Namun orang tidak bisa memungkiri hatinya sendiri; ia tahu betul apa yang dilakukannya, dan nuraninya tahu seperti apa nilai sebenarnya.

Perisai iman menjadi pelindung karena tidak bergantung pada manusia, melainkan sepenuhnya bergantung pada anugerah Tuhan yang menyelamatkan. Kita memiliki hal yang paling berharga, yaitu keselamatan dan hidup kekal, bukan karena kita layak untuk menerima melainkan karena Tuhan mengasihi kita. Kita memang harus dihukum, tetapi Kristus telah menanggung hukuman itu bagi kita. Setelah kita memegang hal yang paling berharga yang bisa dimiliki manusia, maka kita layak untuk memiliki hal apapun lainnya, karena tidak ada satu pun di dalam dunia yang lebih berharga daripada karya keselamatan Tuhan Yesus Kristus.

Ketopong keselamatan. Perhatikan: Itulah yang diberikan, dianugerahkan, bukan dibuat atau diambil oleh pemakainya. Keselamatan diberikan sebagai ketopong, yaitu topi atau helm yang dikenakan ksatria. Perhatikanlah: ketopong memberikan perlindungan terhadap kepala pemakainya dari benturan, melindungi kesadaran manusia. Saat kehidupan terasa begitu menekan dan menghancurkan sehingga membuat kesadaran hilang, keselamatan menjadi penjaga kewarasan kita. Saat gada masalah menghantam, keselamatan dari Kristus menjaga kita dari gila, menahan semua nilai tetap ada pada tempatnya.

Berapa banyak kita melihat orang, termasuk orang Kristen, melakukan tindakan yang tidak masuk akal karena mengalami musibah dalam keluarganya? Ada orang yang pasangannya berselingkuh. Ada yang anaknya kecanduan narkoba. Ada yang terjerat dalam hutang setelah sebelumnya ditipu orang. Yang lain lagi mengalami sakit yang berat dan menghabiskan seluruh kekayaan. Ada juga yang suaminya atau istrinya meninggal dunia, meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Dan bagi sang anak, kehilangan orang tua sungguh menyakitkan, sulit untuk diterima. Akibatnya orang-orang ini kehilangan pegangan, tidak lagi memiliki ketenangan. Merasa takut, merasa gentar, kehilangan pijakan.

Ketopong keselamatan bekerja dua arah. Yang pertama, dari luar ke dalam, ketopong keselamatan menjaga agar hantaman masalah tidak menjungkir-balikkan nilai-nilai dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Yang utama dan termulia tetap adalah TUHAN, yang selalu menjaga dan menyertai anak-anak-Nya. Yang kedua dari dalam ke luar, ketopong keselamatan juga membuat orang tidak memandang ke terlalu banyak arah, tidak mendengar terlalu banyak suara. Ketopong membuat pemakainya hanya melihat ke depan, melihat salib Kristus yang sedang berperang melawan musuh di depannya. Pemakai ketopong keselamatan bukan berdiri di garis depan, melainkan berdiri di belakang Tuhan yang berperang. Tidak perlu memikirkan hal lain, tidak usah kuatir serangan iblis dari belakang dan samping dan atas dan bawah, karena perlindungan Tuhan berputar di seluruh arah. Kita hanya perlu melihat Tuhan memenangkan pertempuran ini, karena keselamatan sudah kita kenakan.

Tak ada yang bisa melepaskan ketopong keselamatan, kecuali tangan kita sendiri yang melepasnya. Tapi, mengapa kita melepaskan ketopong saat sedang perang masih berkecamuk di sekeliling kita? Jangan berhenti karena ingin mendengarkan dunia, karena tertarik bujuk rayu bisikan iblis. Kenakanlah terus, tetaplah selamat.

Pedang Roh adalah Firman Allah. Pedang merupakan senjata dengan dua sisi tajam. Itulah satu-satunya senjata yang kita pegang. Ada yang berkata bahwa senjata orang Kristen adalah doa; mungkin itu benar, namun yang lebih jelas di sini, pedang itu adalah kata-kata Tuhan sendiri. Sabda-Nya melebihi segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang dapat menentang kehendak Tuhan, sebaliknya ukuran bagi segala hal adalah kesesuaian dengan kehendak-Nya yang mulia. Tuhan Yesus pernah menegaskan, bukan orang yang berkata-kata religius (atau menadakan mujizat) yang benar, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa di Surga. Sifatnya final dan mutlak, sempurna.

Masalahnya ada tiga. Pertama, pedang itu terasa berat, melelahkan, bahkan menakutkan. Ada orang yang tidak mau bawa pedang, karena tidak mau berperang. Mereka berharap dengan bertangan kosong, maka musuh tidak akan menyerang. Salah. Kalau tidak bawa pedang, tidak ada kemungkinan bisa memenangkan pertempuran. Kalau orang Kristen menolak membawa Firman Allah, tidak mungkin ia mampu melawan tipu muslihat iblis. Ini bukan perang melawan sesama manusia; ini adalah perang melawan penguasa kerajaan angkasa. Yang tidak mau menyandang pedang, tidak dapat menghadapi serangan dalam pikiran.

Masalah kedua, orang memilih membawa pedang yang lain. Mereka bisa memegang berbagai filsafat dunia dan kata-kata motivasi yang terasa suci. Ada yang memegang keyakinan pada kemampuan pikir manusia, dalam rasionalisme. Lainnya lagi berpegang pada pengetahuan yang luas dan mendalam tentang alam, dalam naturalisme. Ada yang merasa ajaran agama dan kepercayaan temannya nampak menarik, jadi mereka ambil itu sebagai pedang pengganti Firman Allah. Mereka masih menjadi Kristen dalam warna corak baju dan umbul-umbul dan panji yang diangkat, tapi pedangnya diambil dari tempat lain.

Masalah ketiga, orang memegang pedang yang benar namun dengan cara yang salah. Memegang pedang itu seharusnya di bagian gagangnya, bukan? Kristuslah yang kita pegang. Karakternyalah yang kita jadikan acuan. Tapi, ada orang yang tidak mau memegang gagangnya, mereka meremas bagian tajam dan melukai diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mengakui keutamaan doktrin Kristen, namun tidak memegang Kristus. Mereka melukai diri mereka sendiri, dalam usaha gila-gilaan untuk menjadi benar di hadapan Allah.

Semua perlengkapan ini diterima dalam komunikasi yang tidak terputus dengan Tuhan, suatu doa dan permohonan dalam Roh yang tidak terhenti dan tiada terputus. Doa bukan senjata, melainkan saluran energi dimana semua kemampuan kita berasal. Semua doa dan permohonan berangkat dari satu kenyataan: tidak ada manusia yang sanggup mengenakan sendiri semua senjata pelengkapan Allah. Untuk menjadi taat, kuat, dan bertahan, seorang manusia harus dimampukan, diberi kemampuan untuk melakukannya. Tidak ada cara lain.

Bahkan untuk Rasul Paulus, ia masih butuh berdoa. Ia masih butuh didoakan sama seperti semua orang kudus lainnya. Jika tidak demikian, bagaimana Paulus dapat berkata-kata dengan benar? Sebagai manusia, kesulitan terbesar adalah menghadapi diri sendiri. Walaupun seorang bisa berdoa, ia mungkin berdoa demi dirinya sendiri. Bahkan di saat ia berkata bahwa harapannya adalah pertumbuhan orang lain, ukuran yang dipakai adalah diri sendiri.

Bayangkanlah posisi seorang pemimpin jemaat seperti Rasul Paulus. Kata-katanya diperhatikan secara seksama. Penilaiannya, pendapatnya diterima sebagai kebenaran mutlak. Bukankah saat ini pun, Perjanjian Baru berisi paling banyak tulisan Rasul Paulus? Kita mengakui bahwa setiap tulisannya diberi nafas Allah, di bawah kuasa Roh Kudus, sehingga membawa kebenaran mutlak Ilahi.

Tapi, Paulus sendiri tetaplah seorang manusia biasa. Ia sendiri harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, harus berperang. Paulus juga harus memerangi dirinya dari penyalahgunaan kuasa yang dianugerahkan padanya; itu peperangan yang lebih hebat, lebih keras. Bersama kekuasaan dan kekuatan datang juga tanggung jawab di pundak penguasa. Doanya sendiri tidaklah cukup, ia butuh orang lain mendoakannya. Pemimpin butuh doa yang dipanjatkan para pengikutnya.

Tiga hal yang dibutuhkan pemimpin perang ini. Yang pertama adalah kebenaran dalam perkataan. Bukan kata-kata yang "politically correct" seperti para politikus. Bukan propaganda. Bukan bujuk rayu agar rakyat menurut. Bukan ajakan dan bujuk rayu agar orang-orang memilihnya sebagai pemimpin, atau terus mendukung. Benar adalah benar. Tidak kurang, tidak lebih.

Yang kedua, pemimpin butuh keberanian untuk menyatakannya. Keberanian seorang utusan yang dipenjarakan. Penjara adalah tempat buruk, seorang utusan dapat dihukum karena pesan yang dibawanya. Ia mungkin dipenggal karena pesan yang dibawanya itu! Maka, keberanian untuk tetap menyatakan berita Injil bukan keberanian yang kecil atau mudah. Bukan keberanian tanpa rasa takut, sebaliknya mungkin keberanian tanpa pengharapan dapat bebas dari penjara. Tetap saja, berani untuk menyatakan kebenaran itu tidak surut dari diri sang pemimpin. Apapun resikonya.

Yang terakhir, pemimpin butuh jalan untuk menyatakan kebenaran. Ia butuh kesempatan agar suaranya terdengar. Ia perlu didukung untuk berkata-kata kepada publik. Dukungan agar kata-katanya disebarkan, diteruskan, diperdengarkan kepada banyak orang lain. Seorang pemimpin tidak dapat menjangkau banyak orang, hanya jaringan kerja pengikutnyalah yang membuat kebenaran, berita Injil tersebar. Dari keberanian untuk menyatakan apa yang seharusnya dikatakan, ada dorongan agar semua kebenaran itu disampaikan hingga semua orang mendengarnya.

Inilah peperangan kita. Siapkah kita untuk taat, kuat dan bertahan?

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Minggu, 01 April 2012

Renungan Sehari - 1 April 2012

Ef 6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

Perang itu  bukan permainan yang asing. Perang itu tertanam dalam sanubari manusia, sehingga kita lihat bagaimana anak-anak sejak kecil suka bermain perang-perangan. Sudah besar, orang suka menonton tinju dan gulat -- yang entah bagaimana bisa disebut "pertandingan" jika orang yang satu berlomba untuk menghajar orang lain. Orang suka melihat  olah raga seperti sepak bola, yang di dalamnya ada perang.

Dari sepak bola, beberapa orang yang bijak melihat hal-hal serupa pada persaingan usaha. Jadi apa yang ada dalam laga di lapangan hijau menjadi inspirasi untuk berlaga di dalam persaingan bisnis. Kekuatan, kecepatan, kegigihan mengolah kesempatan saat bola berada di kaki, dalam kerja sama tim yang kuat -- itulah yang juga dibutuhkan dalam persaingan hebat para pengusaha. Cara-cara yang sama juga berlaku dalam perang yang sesungguhnya, ketika pasukan yang satu berhadapan dengan pasukan yang lain, sama-sama berusaha menghancurkan musuh.

Ketika dahulu ahli-ahli perang menuliskan ilmunya, tujuannya adalah memenangkan perang yang berdarah-darah. Tidak ada yang indah atau menyenangkan dari perang, namun kemampuan dan kesiapan berperang dibutuhkan untuk melindungi negara. Jika sebuah kerajaan atau negara tidak siap untuk berperang, ia harus rela ditaklukkan kerajaan lain. Dilihat dari dekat, persiapannya berisi kekerasan, kedisiplinan, bahkan kekejaman. Dilihat dari jauh, semua hal yang mengerikan ini dibutuhkan demi keutuhan dan ketenteraman rakyat. Maka ilmu perang yang terkenal seperti "Seni Perang" yang ditulis Sun Tzu bukan berisi tentang kekejaman atau cara terbaik membantai musuh, melainkan bagaimana mempertahankan negara.

Seni ini menjadi mata pelajaran penting dalam sekolah-sekolah bisnis. Persaingan bisnis adalah peperangan yang kejam, yang bisa membuat pengusaha yang lemah menjadi bangkrut, karyawannya menganggur, hartanya disita. Seringkali untuk menjadi pengusaha yang tangguh dibutuhkan mental yang kuat, yang berarti mampu untuk bersikap kejam terhadap bawahan, kejam terhadap supplier, mampu memanipulasi situasi sehingga tetap memperoleh keuntungan, tetap menjadi pemenang di antara pengusaha lainnya. Seni perang menjadi seni bisnis yang sukar dan tidak mudah dipahami. Kadang pengusaha yang berusaha "berperang" hanya mampu meniru-niru saja, bersikap kejam dan bengis pada karyawannya, tanpa memahami seninya. Pengusaha yang meniru saja tentunya akan jatuh dalam kebodohan dan hancur melawan pengusaha yang benar-benar memahami seninya. Kekejaman memang dibutuhkan, tetapi itu untuk memberikan kesejahteraan bagi semua yang ada dalam perusahaan, menyelamatkan hidup semua keluarga yang bernaung di dalamnya.

Masalahnya, seni perang ini sangat sukar dipahami karena dua hal. Yang pertama, orang tidak menginginkannya. Yang kedua, sebelum manusia bisa benar-benar memasuki peperangan di dunia, ia harus berperang melawan kekuasaan jahat yang mengikat dirinya dari dalam. Manusia harus berperang menghadapi kejahatan dalam dirinya sendiri. Tanpa menyelesaikan dan memenangkan perang yang kedua, tindakan memasuki perang di dunia hanya berarti menjadi bulan-bulanan dan permainan iblis yang memanipulasi pikiran. Seorang manusia yang hatinya masih dikuasai iblis, bisa merasa sangat berkuasa dan menjadi pemenang di dunia tanpa sadar bahwa dirinya sedang dirusak dan diremukkan, sehingga ia akan terbenam dalam sejarah hitam, dikenang umat manusia sebagai pribadi tercela dan jahat. Cobalah tanya pada diri sendiri, bagaimana cara kita mengenang Adolf Hitler?

Kesulitan terbesarnya, perang itu datang pada diri kita sekaligus. Kita harus berperang melawan kejahatan di dalam diri, sekaligus berperang melawan tekanan dunia. Kita harus waspada pada setiap manipulasi iblis yang bekerja siang dan malam menggerogoti kepercayaan dan iman, dan di saat yang sama juga harus berjuang dalam persaingan usaha, dalam persaingan merebut pangsa pasar, membangun kesadaran dan citra merek, agar tetap mendapatkan penghasilan. Tidak ada perang yang dengan mudah dimenangkan; iblis menjadi semakin kejam dan terang-terangan, demikian juga persaingan bisnis menjadi semakin sengit. Setiap hari orang-orang kehilangan pekerjaan, kita lihat anak-anak muda yang kuat menjadi pengemis dan mengerumuni mobil-mobil di lampu merah. Tidak sedikit yang jatuh menjadi pencuri, menjadi pelacur, menjadi apapun juga yang dikehendaki setan-setan di jalanan karena mereka sudah kalah dalam kedua perang di dalam dan di luar dirinya.

Bagaimana kita bisa bertahan? Bagaimana kita bisa memenangkan kedua medan perang di saat yang sama? Apakah belajar seni perang ada artinya? Sementara itu, waktu terus berjalan dan peperangan menjadi semakin sengit sampai mencapai puncaknya. Inilah hari yang dimaksud oleh Roh Kudus, yang dituliskan melalui Rasul Paulus, inilah hari yang jahat. Hari yang paling jahat dalam sejarah manusia, adalah hari di mana kedua perang menjadi sangat kejam dan nyata. Hari-hari di mana angkara murka merajalela; manusia memerangi satu sama lainnya dalam semua tingkatan: negara melawan negara, politisi melawan politisi, perusahaan melawan perusahaan, komunitas melawan komunitas. Manusia juga harus melawan kejahatan di dalam, ketika moralitas dihilangkan dalam hukum rimba dan evolusioner: yang benar adalah yang terkuat dan bertahan dalam seleksi alam.

Tidak ada seni perang yang berarti jika manusia hanya mengandalkan dirinya. Satu-satunya harapan, satu-satunya peluang, adalah dengan mengenakan semua yang Tuhan sediakan. Bapa kita yang di Surga tidak hanya mengirimkan anak-anak-Nya untuk disembelih di medan perang. Ia juga memberikan perlengkapan yang kita butuhkan. Tetapi, untuk mengenakan perlengkapan-Nya, pertama-tama kita harus mengambilnya. Ini adalah bagian kita, aktivitas yang harus kita lakukan. Kita tidak dapat menunggu, tidak dapat berpangku tangan dan berharap perlengkapan itu menempel begitu saja. Kita harus bergerak, berderap, mengambil semua perlengkapan senjata Allah.

Setelah kita mengambil dan mengenakan senjata Allah, kita harus mengadakan perlawanan. Perhatikan: kita tidak duduk di balik batu, tidak bersembunyi di balik benteng. Kata "mengadakan" menunjukkan bahwa peran kita adalah aktif, membuat perlawanan di saat tidak ada yang melawan. Saat orang lain sudah menyerah, saat tidak ada lagi pertahanan, kita bangkit dan membuat perlawanan dan berperang di kedua medan perang, di hari yang paling kejam dalam sejarah manusia. Berperang dan memenangkannya.

Apakah hal ini mudah? Tidak. Bahkan, kemungkinan besar di akhir peperangan itu kita menjadi pemenang yang kelelahan. Kita tidak lagi kuat untuk berlari dan bersorak sorai; kita hanya bisa berdiri, memandangi medan yang dipenuhi sosok-sosok yang kalah tergeletak berdarah-darah. Orang-orang yang jatuh dalam sihir dan narkoba dan merusak dirinya. Orang-orang yang dilanda kemiskinan, usahanya bangkrut dan seluruh hartanya dirampas dan harga dirinya diinjak-injak. Negara-negara yang sangat miskin dan dilanda hutang yang tidak mampu dibayar oleh tujuh turunan rakyatnya. Negara yang kematian tiap hari terjadi dalam terorisme dan bom, di mana orang bisa mati dibunuh hanya untuk kesenangan si pembunuh. Di antara semua itu, kita hanya berdiri, tetap utuh, tetapi tidak bisa melangkah lebih jauh.

Tuhan menginginkan kita mengerjakan bagian kita. Ada peran yang harus kita lakukan, dan kita harus mentaatinya sampai akhir, sampai kita menyelesaikan segala sesuatu. Ya, ada akhir yang Tuhan berikan; Dia tidak akan membiarkan iblis terus-menerus memberikan perang yang membinasakan manusia. Jika iblis dibiarkan semua orang akan mati -- tetapi Tuhan tidak akan membiarkannya.

Sampai saat itu tiba, kenakanlah semua perlengkapan senjata Allah dan adakanlah perlawanan, dan tetaplah berdiri bagi Tuhan. Karena saat itu, di saat tidak ada lagi kekuatan selain untuk berdiri, Tuhan akan turun kembali. Itulah yang dijanjikan-Nya, itulah pengharapan kita yang pasti.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Selasa, 13 Maret 2012

Renungan Sehari - 13 Maret 2012

Efesus 6:10-12  Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Kita sedang berperang. Walaupun semua nampak tenang tenteram, santai sejuk nyaman, sadarilah bahwa perang belum berakhir. Mungkin kita bertanya, perang apa yang dihadapi? Bukankah kita sedang hidup dalam masa damai, tanpa perseteruan atau perkelahian? Lagipula, anak-anak Tuhan harusnya jadi pembawa damai, bukan?

Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan." Ayah bertentangan dengan anak, saudara sekandung berkelahi, apalagi antara tetangga dan kampung yang jauh. Pertentangan ini bukan hal yang bisa dihindari, betapapun kita tidak menginginkannya. Sumbernya bukan karena persaingan atau perebutan kekuasaan, melainkan karena pertentangan antara yang Kudus dengan yang cemar, antara benar dan salah, antara terang dan gelap. Perang yang tidak bisa dikompromikan atau dinegosiasikan.

Perang adalah pergumulan, di mana ada satu hal yang diperebutkan yang berakhir dengan kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lain. Perang bisa dilakukan dengan membinasakan pihak lawan, namun bisa juga mematahkan harapan dan semangat musuh, tanpa kematian siapapun. Pihak yang menang bisa menguasai wilayah - tanah dan air - bisa menguasai orang pengikut, bisa juga menguasai pikiran. Hitungannya bisa pengaruh, atau kekayaan, atau kemuliaan dan kenikmatan.

Bayangkan jika ada orang yang melakukan penipuan dan kelicikan, hingga ia bisa mencapai kedudukan yang mulia, menikmati segala kesenangan dan kenikmatan. Lalu ada seorang lain yang mengetahui semua dusta, memiliki bukti kejahatan yang dilakukan orang pertama tadi. Kira-kira, seperti apa perbuatan si penipu itu untuk mengamankan dirinya? Selama suaranya terancam terbongkar, si penipu tidak bisa tinggal diam. Ia harus mengenyahkan ancaman, harus menyingkirkan orang kedua. Mungkin, ia harus membuat agar tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan kata-kata orang kedua. Mungkin ia akan membuat fitnah, agar orang kedua diasingkan. Mungkin juga, ia merencanakan pembunuhan terhadap orang kedua.

Semua itu dilakukan hanya karena orang kedua memiliki terang atas kebenaran yang ingin digelapkan. Kegelapan memberi perlindungan atas kejahatan, sedikit terang sudah cukup mengancam hancurnya kegelapan. Terang dan gelap menjadi pertentangan yang tidak bisa didamaikan. Jika kita menjadi orang kedua, apa yang akan kita lakukan? Permusuhan terjadi hanya karena keberadaan kita dan apa yang kita ketahui.

Ada orang yang menghindari permusuhan dan perang dengan cara menjadi orang lain. Berpura-pura tidak mengetahui dan memusnahkan semua bukti dusta. Ada lagi orang yang menafsirkan ulang pengetahuannya, menganggap salah beberapa bagian, membangun ulang pengetahuan baru yang lebih cocok dan tidak terlalu menyinggung atau menantang. Pokoknya, kedamaian dan ketentraman bisa dijaga, dan si penipu itu tidak perlu merasa terancam. Masalahnya kalau si penipu itu marah, dia bisa membunuh dengan semena-mena. Apa yang menjadi sikap kita?

Si penipu itu tak lain dari si iblis sendiri. Dia adalah malaikat yang dibuang, tetapi dia menampilkan diri sebagai raja di antara manusia. Si penipu menyesatkan manusia dengan agama dan kepercayaan buatan, yang dikokohkan melalui cara licik dan kekerasan, paksaan. Dia adalah pembunuh manusia, yang berkuasa lewat manipulasi dan kebohongan. Ketika Tuhan Yesus datang, Ia menyatakan kebenaran. Ia mengusir setan dari manusia, menunjukkan apa sebenarnya setan itu: yang terbuang dan ternista. Iblis tidak mau manusia memahami kebenaran. Ia membuat perang melawan pembawa kebenaran, melawan orang-orang yang berpegang pada Firman Tuhan. Perang ini bukan pilihan kita, maka juga tidak dapat kita hindari.

Tidak ada perang yang mudah. Ada hal-hal yang harus dikorbankan. Tuhan Yesus menghancurkan kuasa maut dengan tubuh dan daging-Nya sendiri. Kita juga harus bersedia memikul salib, juga mengalami kesulitan dan penderitaan. Karena itu, kita harus kuat. Hendaklah kamu kuat, firman Tuhan. Perhatikanlah, sama sekali tidak ada keluhan atau keraguan soal berperang. Yang dinyatakan justru soal kekuatan. Soal persiapan. Kuatlah di dalam Tuhan! Milikilah kekuatan kuasa-Nya! Kita tidak perlu berpikir soal gencatan senjata, atau berdamai dengan iblis. Mahluk ini berniat mengenyahkan anak-anak Tuhan, karena terang yang kita miliki. Kita tidak dapat menjadi gelap, atau menutupi terang yang ada pada kita, tanpa meninggalkan Tuhan yang menyertai kita. Iblis membenci Roh Kudus yang ada pada diri orang percaya. Ia berusaha keras agar kita menolak Tuhan, dengan tipuan yang paling canggih untuk mengacaukan pikiran.

Tipu muslihat Iblis tidak boleh diremehkan atau dianggap enteng. Kalau orang menjadi sombong secara rohani, ia telah terperangkap tipu daya hebat, yang membuat orang tidak sadar betapa dalam kejatuhannya dalam dosa.

Kita terbiasa untuk melihat musuh kita, entah berupa binatang atau manusia atau monster. Kita mempersiapkan diri untuk melawan musuh yang bisa dilihat dan dilukai. Bagaimana kita dapat melawan pikiran yang menyimpang dan emosi yang meledak-ledak? Musuh kita tidak menampilkan wajah yang menyeramkan, sebaliknya tampil begitu baik dan menarik. Kesesatan dipresentasikan dengan logika yang kuat dan masuk akal, sehingga sangat wajar untuk diikuti. Dalam kesesatan itu, kita dihasut untuk membenci sesama manusia. Orang-orang yang dipandang buruk dan jahat, harus dibinasakan. Persis itulah yang diinginkan: dari hukum untuk mengasihi Allah, keluar tindakan yang melanggar hukum mengasihi sesama manusia. Kebencian menjadi masuk akal, demikian juga dengan keputusan untuk melawan dan membunuh para pendosa. Lagipula, bukankah hal yang sama juga diajarkan oleh banyak agama dan kepercayaan lainnya? Pemurnian dan penyucian berarti pemisahan, penghukuman.

Aturan untuk menghukum si pendurhaka adalah aturan yang biasa. Harus jaga kesucian umat, harus menindak pendosa. Sayangnya, banyak orang lupa bahwa hukum itu diberikan dalam konteks Perjanjian. Iblislah yang membawa tindakan menghukum itu keluar dari konteksnya, serta membuat hukuman menjadi norma yang semena-mena. Iblislah yang seharusnya dibenci, harusnya dilawan. Ini adalah perang, yang sudah dimulai sejak manusia mati dalam dosa.

Perang ini sukar, karena kita melawan pihak yang berkuasa. Perhatikan peringatan Paulus: yang dilawan adalah pemerintah, penguasa, penghulu dunia yang gelap. Sosok yang dilawan bukan sosok manusia, melainkan roh-roh -- artinya ada lebih dari satu -- jahat di udara. Melayang, tidak terlihat, namun jahat luar biasa. Penipu, bapa segala pendusta, pembunuh manusia. Dalam perang ini, kita berjuang melawan kegelapan dengan perlengkapan senjata Allah. Melawan gelap dengan terang, artinya berpegang pada kebenaran dan menyatakannya. Memberitakan kabar baik dan kebenaran, sekalipun ada orang-orang yang marah karena rahasianya dibongkar. Kita dimusuhi karena terang yang kita bawa, tentang kebenaran yang paling penting untuk diketahui manusia.

Kebenaran itu adalah, bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya ada keselamatan, selain Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain untuk sampai kepada Allah, hanya Tuhan Yesus saja. Praktis hal ini bertentangan dengan setiap agama dan kepercayaan lain, dan tentunya ada yang marah. Ada yang memerangi, tidak ada tempat aman. Namun, kita bisa menjadi kuat!

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Published with Blogger-droid v2.0.4

Senin, 12 Maret 2012

Renungan Sehari - 12 Maret 2012

Ef 6:9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

Apa yang diinginkan orang, selain dari memegang seluruh kendali di dunia ini? Menjadi penguasa adalah perjuangan meraih kendali, mula-mula atas orang yang dekat, kemudian orang  yang jauh, hingga seluruh dunia berada dalam genggamannya. Walaupun semua orang ketika mati hanya membutuhkan lubang 1x2 meter, namun kendali yang diikatnya melampaui tanah dan laut, membentang melewati benua dan samudra. Ada yang berpendapat tidak penting bagaimana jika sudah mati nanti, asal selama hidup bisa memegang kendali sesuka hati. Ada juga yang ingin kendali selalu ada pada dirinya, bahkan setelah kematian.

Ketika orang menginginkan kendali dalam tangannya, ia ingin mencapai tujuannya sendiri. Semakin besar kekuasaan di tangan, semakin kuat tujuan sendiri menjadi acuan. Bahkan ketika visi pribadinya adalah "baik" dalam penilaian orang, misalnya berupaya mewujudkan bantuan sosial bagi masyarakat -- tetap saja tujuannya dibuat berdasarkan penilaian sang penguasa. Apa yang "baik" menjadi subjektif, tergantung pengendali, sesuai dengan idenya sendiri. Bahkan ketika orang memikirkan kebaikan itu adalah bagi Tuhan, memberikan "yang terbaik, terbesar, terindah bagi Allah" -- belum tentu ukurannya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.

Kesulitan terbesar dari menjadi anak Tuhan yang jadi pengusaha yang memiliki anak buah adalah, pada akhirnya ia sendiri harus mau menjadi hamba yang menunduk dan mentaati Tuhan. Akhirnya, si pengusaha ini juga harus menjadi pegawai yang mengerjakan kehendak Tuhan, Rajanya. Ia harus melakukan pekerjaan dengan takut dan gentar agar melaksanakan rancangan Tuhan, suatu pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.

Apa yang menjadi parameter dalam rancangan Tuhan? Apakah Ia memperhatikan besarnya saldo rekening di bank, atau volume transaksi dalam sehari? Kepada siapa dan bagaimana kasih Tuhan ditujukan? Bukankah di mata Tuhan, manusialah yang menjadi fokus utama? Amanat yang diberikan Tuhan bukan soal membangun kekayaan dan kekuasaan di dunia, melainkan memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa mruid-Nya. Orang-orang adalah fokusnya -- lebih daripada pekerjaan atau aktivitas, yang hanya menjadi alat bantu.

Beginilah kita seharusnya memandang pekerjaan: bahwa semua yang dilakukan, semua aktivitas, semua peralatan, juga semua uang yang beredar di dalam usaha, adalah alat untuk mensejahterakan manusia. Kalau perusahaan melayani pelanggannya, maka pertama-tama usaha yang diberikan itu adalah untuk meningkatkan kehidupan pelanggan. Yang kedua, seharusnya usaha ini juga membangun orang-orang yang bekerja melayani di dalamnya, yaitu para karyawan, para pemasok, termasuk para pembantu. Setelah itu baru pemilik mengambil bagiannya -- mungkin bukan bagian yang terbesar.

Itulah yang ditegaskan oleh Firman Tuhan melalui Rasul Paulus: perbuatlah demikian juga -- yaitu seperti pegawai terhadap majikannya -- terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Tidak dibutuhkan paksaan, manipulasi, intimidasi, untuk melakukan pekerjaan yang benar.

Pusat dari sikap ini adalah pengakuan bahwa setiap posisi diberikan oleh Tuhan sesuai dengan rencana-Nya, bukan semata-mata hasil pekerjaan manusia. Tuhan memandang dan menghakimi setiap orang dengan adil, baik dia di posisi hamba maupun tuan, bawahan maupun atasan. Kalau atasan hanya mengejar omzet, hanya mencari pendapatan yang lebih tinggi, dan meneriakkan "SUKSES!" ketika kaya raya -- ia tetap harus menjawab dan memberi pertanggungjawaban pada Tuhan. Tidak ada perbedaan antara karyawan dan majikan ketika sama-sama berdiri di depan Tuhan, selain ada penghakiman yang adil. Yang diberi sedikit, dituntut sedikit. Yang diberi banyak, dituntut banyak.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny


Jumat, 09 Maret 2012

Renungan Sehari - 8 Maret 2012

Ef 6:5-8 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

Relasi yang paling rumit di luar keluarga adalah hubungan kerja, antara mitra usaha, antara majikan dengan karyawan, atau antara pembeli dan penjual. Kerumitan muncul karena di dalam hubungan ini ada benturan kepentingan antara yang satu dengan yang lain sementara semua pihak berusaha mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya.

Dalam banyak hal, yang menjadi majikan mempunyai lebih banyak keunggulan dibandingkan karyawannya, karena ia yang mempunyai tempat usaha, memiliki kewenangan untuk mengatur, serta mengetahui rahasia tentang bagaimana menjalankan usaha. Namun seorang karyawan juga mempunyai kelebihan dalam pengetahuan dan keterampilannya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh majikan karena terbatas dalam pekerjaan mendetail, baik dalam waktu maupun tenaga. Jadi, sebenarnya ada kebutuhan timbal balik antara majikan dan karyawan.

Namun majikan memiliki lebih banyak modal dan kekuatan untuk memaksa orang lain bekerja sebagai karyawannya, dan keserakahan membuat keadilan menghilang. Majikan mulai membayar tukang pukul untuk memaksa pegawai-pegawainya bekerja dengan gaji rendah -- karena kalau dihitung lebih murah membayar beberapa tukang pukul daripada menggaji seluruh pekerja dengan gaji yang pantas. Malah di jaman dahulu, seorang majikan bisa membeli budak bagi dirinya; suatu pembayaran harga sekali seumur hidup atas tenaga kerja yang dirampas semua haknya. Puluhan abad manusia saling memperbudak sesamanya, baru pada tiga abad terakhir muncul kesadaran yang menghapuskan perbudakan dan mengakui kesetaraan seluruh manusia.

Kesetaraan itu tidak menghilangkan kerumitan dalam hubungan kerja -- perbudakan mungkin menghilang atau setidaknya tersembunyi, namun perilaku manusia memanfaatkan sesamanya tetap terjadi. Demikian juga dengan perilaku pegawai yang berusaha mendapatkan hati dan simpati majikan, mencari keamanan dan penghasilan dengan mengeluarkan tenaga secukupnya saja, sambil bersaing dengan pegawai lainnya. Walaupun sekarang ada banyak motivator yang mendorong orang untuk bangkit dan menjadi pengusaha serta tuan bagi diri sendiri, masih banyak orang yang lebih memilih menjadi bawahan serta tunduk kepada atasan.

Di dalam pilihan menjadi bawahan, tidak berarti hati orang dengan rela tunduk, apalagi jika atasan atau majikan bersikap lunak dan tidak tegas, tidak terhormat, serta melakukan kebodohan-kebodohan yang merugikan semua orang, termasuk para pegawainya. Bagaimana mentaati tuan yang kacau balau dalam pikiran dan tindakannya?

Firman Tuhan pagi ini menunjukkan bahwa seorang tuan patut dihormati karena ia adalah tuan; ia telah memiliki usaha dan menyediakan kesempatan bagi orang lain untuk ambil bagian dalam usaha itu. Hamba-hambanya, yaitu pegawai-pegawainya, harus mentaati sang tuan. Istilah 'taat' di sini dalam bahasa Yunani adalah hupakouo berarti mendengarkan dengan seksama, memperhatikan dengan sepenuhnya. Kata ini tidak berarti bekerja tanpa berpikir lagi, melainkan memberikan apa yang diharapkan oleh sang tuan. Dengarkanlah apa permintaan tuan, majikan, atau atasanmu. Penuhilah keinginannya dengan takut dan gentar, dengan suatu sikap menghadapi krisis yang harus diselesaikan.

Tuhan memahami bahwa setiap majikan mempunyai permasalahannya sendiri, ia harus berjuang. Setiap orang yang berada di bawah si majikan ini juga harus turut berjuang bersama-sama mengejar tujuan. Tantangan yang dihadapi atasan adalah tantangan para bawahannya juga. Krisis tidak bisa dihadapi dengan santai atau main-main, melainkan dengan takut dan gentar yang membuat keseriusan penuh untuk bekerja, melakukan apa yang harus dilakukan. Bahkan ketika si majikan adalah seorang bodoh yang tidak paham tantangan di mukanya, seorang karyawan yang baik akan berjuang agar perusahaan tetap bisa berjalan.

Dalam hal berjuang dibutuhkan ketulusan. Jika seorang karyawan tidak tulus, maka tidak ada usaha untuk majikan; asal gaji dibayarkan sudah cukuplah. Kalau gaji kecil maka tenaga yang diberikan juga sedikit, bukan? Kalau pendapatan tidak cukup untuk membeli segala hal yang diidamkan hati, maka tidak ada gunanya bekerja lebih keras lagi, bukan? Semua sikap hitung-hitungan ini adalah tanda ketidak-tulusan, dan sebenarnya juga tanda kemalasan dan keserakahan.

Ada yang mengatakan bahwa para majikan itu jahat: mereka mengambil untung paling besar dan menggaji paling sedikit. Karena itu, para karyawan boleh membalas dengan mengeluarkan tenaga sedikit sambil menuntut gaji sebesar-besarnya. Yang seperti ini dibenarkan oleh etika situasional, lantas dianggap wajar dan normal, tanpa memikirkan lebih jauh bahwa dengan demikian para karyawan mengakui bahwa mereka juga jahat, sama jahatnya dengan majikan yang mereka benci. Apakah itu keadilan, membalas sikap jahat dengan sikap jahat lainnya?

Ketulusan hanya dapat diberikan karena kita memiliki orientasi kepada Tuhan, yang melebihi majikan atau atasan. Kita melakukan hal baik karena memang harus melakukan hal baik, bukan karena atasan kita baik. Kita tidak sedang mentaati atasan, melainkan sedang mentaati Kristus. Kita adalah hamba-hamba Allah, yang mengatakan "kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami melakukan apa yang harus kami lakukan," sebagaimana Tuhan sudah mengutus kita. Jika majikan kita tidak memahami, maka kita menolong memberi pengertian. Jika majikan kita tidak bisa, kita memberi hasil yang kita bisa. Jika majikan kita menjadi jahat dan berbuat kejahatan, maka kita boleh meninggalkannya -- karena kita tidak melayani perbuatan jahat. Itu adalah ketulusan.

Kita melayani kepentingan Tuhan di dalam dunia, melalui apa yang kita kerjakan dan hasilkan. Kita bekerja bagi majikan, bagi perusahaan, namun di sana kita melayani Tuhan. Ada majikan atau atasan yang menghargai pegawai atau anak buahnya, ada juga yang tidak. Sekalipun majikan tidak menghargai, ingatlah bahwa Tuhan menghargai kerja keras dan tulus yang baik, Dia memberikan upah-Nya yang lebih baik dan adil dibandingkan majikan mana pun lainnya di dunia. Balasan dari Tuhan lebih penting, lebih utama, dan lebih berharga melampaui jumlah nilai uang yang bisa diterima.

Marilah kita bekerja dengan baik. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Selasa, 06 Maret 2012

Renungan Sehari - 6 Maret 2012

Ef 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Menjadi seorang bapa, seorang ayah, bukanlah sesuatu yang mudah. Mari kita pikirkan. Pertama-tama, tidak pernah ada sekolah untuk menjadi seorang ayah. Anak laki-laki sedari kecil dididik untuk mengejar impiannya, untuk berprestasi, untuk membangun nama dan reputasi, juga untuk membangun kekayaan dan kemakmuran. Di dalamnya ada cerita kerja keras, tekanan, dimarahi, juga bersenang-senang bersama teman-teman. Isinya adalah tentang hasrat, tentang gairah, juga tentang cinta seperti ketika seorang laki-laki jatuh cinta kepada perempuan. Tapi, di dalam semuanya itu, tidak ada pelajaran tentang menjadi bapa.

Walaupun tidak pernah diajarkan, menjadi seorang bapa adalah hal yang amat sangat penting di dalam keluarga, di dalam masyarakat, bahkan di dalam dunia yang menjadi global. Seorang bapa menurunkan nilai-nilai kepada anak-anaknya, baik dari apa yang dikatakan tapi lebih banyak lagi dari apa yang dilakukan. Jika seorang laki-laki tidak dapat mengendalikan apa yang diperbuatnya, maka ia juga tidak dapat mendidik anak-anaknya, meskipun ia telah berusaha keras untuk banyak berkata-kata, memberi nasehat, memarahi, atau melakukan "pengajaran" lain.

Sayangnya, banyak ayah hanya berkata-kata saja -- seperlunya -- atas dasar prinsip "seluruh keluarga harus mentaati ayah sebagai kepala keluarga". Pernyataan bapa dalam rumah menjadi hukum yang harus ditaati oleh segenap anggota keluarga; inilah prinsip yang berlaku secara umum, baik di dunia barat maupun timur. Ketidakpatuhan akan dihukum. Celakanya, seorang laki-laki yang baru menikah, atau yang baru menjadi seorang ayah, tidak tahu banyak soal membuat hukum yang benar dalam keluarga. Ia bisa membuat hukum yang tidak masuk akal, yang keluar dari khayalannya sendiri yang ia sendiri tidak pernah dapat memenuhinya. Dalam rumah bisa timbul standar ganda: seorang ayah membuat peraturan bagi semua orang kecuali dirinya sendiri. Ia bisa melukai istri dan anak-anaknya, sementara ia sendiri berlindung di balik mantra "tidak pernah salah" di dalam rumah. Pada kenyataannya, laki-laki yang bersikap demikian justru adalah orang yang merasa tidak aman, tidak dihargai, dan terasing dari komunitas sekitarnya.

Hal kedua dari menjadi seorang ayah adalah, bahwa kenyataannya seorang ayah berhadapan dengan anak-anak, manusia yang dapat berpikir bagi dirinya sendiri. Seorang ayah dapat berkata-kata apa saja, bisa memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, namun tak ada seorang ayah yang dapat mengatur isi hati. Tidak ada anak yang dapat diperintah untuk merasa bahagia, atau merasa puas.

Banyak bapa yang berusaha membahagiakan dan mamuaskan keluarganya dengan memakai satu logika sebab-akibat sederhana: "jika bapa menyediakan semua yang diinginkan anak-anaknya, tentu mereka berbahagia". Tetapi dalam hal ini pun ada masalah, karena bagaimana seorang bapa mengetahui semua yang diinginkan anak-anaknya? Ia hanya dapat mendengar permintaan yang terucap dari mulut. Dapatkah seorang bapa mengerti kebutuhan dan keinginan anak yang tidak pernah terucapkan, yang hanya terungkap melalui pandangan mata, kerutan muka, dan pundak yang tertunduk lesu?

Lagipula, seorang bapa memiliki keterbatasan dalam menyediakan apa yang diinginkan hati. Seorang ayah dibatasi oleh prinsip kebenaran dan apa yang baik bagi anak. Jika seorang anak menginginkan barang atau kesenangan yang tidak benar dan tidak baik, ayah tidak dapat menyediakan hal-hal itu walaupun bertentangan dengan keinginan hati anaknya. Seorang ayah juga dibatasi oleh kemampuannya untuk menyediakan apa yang diinginkan, karena mungkin saja seorang ayah tidak punya cukup uang atau tenaga atau waktu untuk memenuhi keinginan hati sang anak. Di antara kedua keterbatasan ini, kebanyakan orang tua lebih memikirkan soal kemampuan daripada perihal prinsip kebenaran. Maka, saat mereka mampu membeli apapun yang diinginkan anak -- sejauh hal itu tidak melanggar hukum -- mereka akan membelikannya.

Di sinilah kita menemukan Firman bagi para bapa: janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah di dalam ajaran dan nasehat Tuhan, Bagian pertama dari ayat ini adalah tentang jangan membangkitkan amarah. Lihatlah, di sini bukan dibicarakan soal kekecewaan, seperti "janganlah kecewakan hati anakmu". Seorang bapa tidak dapat menghindar dari situasi di mana anak kecewa karena keinginannya tidak dipenuhi; tidak ada gunanya untuk selalu berusaha tidak mengecewakan anak. Sebaliknya, yang digunakan di sini adalah amarah. Dan bagaimana seorang anak menjadi marah?

Tuhan telah menaruh hukum-Nya di dalam hati manusia, sehingga secara alami manusia mengetahui jika seseorang bertindak tidak benar. Kemarahan sejatinya muncul karena hukum telah dilanggar dan mengorbankan diri orang yang marah. Jika ada sesuatu dicuri, atau didustai, atau diperalat dari diri anak, ia mengetahui bahwa dirinya dirugikan. Tapi bagi sang anak, ia diikat oleh keharusan tunduk kepada ayahnya dan mungkin tidak pernah dapat menentang pelanggaran yang dilakukan terhadapnya. Ia marah, tetapi tidak pernah dapat mengekspresikan kemarahan itu, karena seorang anak seharusnya tidak boleh marah kepada orang tuanya, bukan?

Sekali lagi, seorang ayah tidak dapat memerintahkan perasaan tertentu timbul dalam hati anaknya. Jika sang anak menjadi marah, ayah tidak dapat menyuruhnya untuk tidak marah -- jika ayah yang bodoh tetap menyuruh seperti itu, ia hanya menambah kemarahan anaknya. Satu-satunya cara bagi sang ayah untuk meluruskan hal-hal yang salah adalah dengan bersikap benar, serta menyelaraskan baik perkataan maupun perbuatannya dengan prinsip kebenaran. Ia tidak boleh mencuri dari anaknya. Ia tidak boleh mendustai anaknya. Ia tidak boleh memperalat anak-anaknya. Seorang bapa harus melakukan apa yang diatur oleh Tuhan terlebih dahulu, sebelum dapat memaksa keluarganya melakukan hal demikian. Hanya dengan jalan demikian saja, bapa tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anaknya.

Bagian kedua dari Firman ini adalah tentang mendidik. Bagi kebanyakan ayah, prinsip yang diturunkan kepada anaknya adalah prinsip yang diterima dari ayahnya sendiri -- demikianlah adat istiadat dan tradisi dipelihara serta diteruskan dalam masyarakat. Tetapi ada tiga masalah dalam menurunkan tradisi: pertama, tradisi seringkali tidak lagi sesuai keadaan jaman sekarang, kedua, tradisi tidak sepenuhnya dipahami oleh si bapa yang mengajarkannya (entah bagaimana mengajar hal yang belum dipahami), dan yang ketiga, seorang bapa bisa mengubah tradisi sekehendak hatinya karena tidak ada yang mengatur bagaimana tradisi harus diturunkan.

Maka, seorang bapa tidak dapat bersandar pada prinsip berdasarkan tradisi. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan agar mendidik dalam ajaran dan nasehat Tuhan. Karena ini adalah prinsip kebenaran mutlak dari Tuhan, maka prinsip-prinsip ini berlaku di segala abad dan tempat. Firman Tuhan tepat bagi orang yang hidup di masa Rasul Paulus di Efesus, juga tepat bagi orang yang hidup di millenium ketiga di Indonesia. Seorang manusia harus belajar Firman Tuhan bagi dirinya sendiri; ia harus memahami prinsip-prinsip kebenaran dan melakukannya -- baik ia sebagai orang tua atau tidak. Yang ketiga, seseorang tidak dapat menyimpangkan Firman Tuhan, karena ada kuasa Tuhan yang menyertai penyampaian. Sejarah membuktikan bagaimana manusia menyimpangkan Firman Tuhan, kemudian kuasa Tuhan meluruskannya kembali.

Pada akhirnya, kita semua ditundukkan dalam prinsip dan aturan yang sama dari Tuhan -- dan itulah yang harus diteruskan oleh bapa kepada anak-anaknya. Hiduplah dengan integritas -- mengerjakan apa yang dikatakan, dan memperkatakan apa yang dikerjakan -- bukan saja terhadap orang luar, tapi lebih lagi kepada anggota keluarga sendiri. Seorang ayah seharusnya menjadi pelindung bagi seisi rumahnya, bukan menjadi sumber rasa takut dan masalah karena pilihan sikap dan kebodohannya yang menindas anak-anak sebagai pelampiasan nafsunya sendiri, yang timbul karena tidak dapat melawan orang lain yang menindas. Bergantunglah pada Tuhan, dan belajarlah menjadi ayah yang baik.

Renungan dari seorang ayah.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Senin, 02 Januari 2012

Renungan Sehari - 2 Januari 2012

Ef 6:1-3 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Anak-anak harus taat pada orang tuanya. Itu kata-kata yang sering terdengar di seluruh dunia, terutama di Tiongkok, karena Kong Hu Cu menyebutkan bakti kepada orang tua adalah hal yang terutama dalam hidup. Namun, pernyataan itu baru membawa setengah dari kebenaran, itu tidak salah melainkan tidak lengkap. Firman Tuhan mengatakan keseluruhannya: taatilah orang tuamu di dalam Tuhan.

Pernyataan ini menegaskan dua hal. Yang pertama, posisi seorang anak adalah mentaati orang tuanya, demikianlah ia menghormati mereka. Banyak sekali pengajaran tentang "taat pada orang tua" dalam berbagai bangsa dan budaya, bahkan ada yang menyembah leluhur mereka seperti menyembah para dewa, dipercaya memberikan rejeki dan keberuntungan, kesehatan dan kesejahteraan. Ini adalah kebenaran yang dapat dipahami, karena perjalanan hidup seorang manusia dimulai dari kebergantungan kepada ibu dan ayahnya. Jika seorang anak tidak mentaati orang tuanya, bagaimana lagi ia dapat hidup terus di dunia?

Tetapi ketaatan itu sendiri tidak bisa dipergunakan dengan semena-mena oleh orang tua. Ada batas-batas yang didirikan Tuhan, yaitu prinsip Tuhan yang ditentukan bagi manusia. Orang tua tidak memiliki hak ditaati jika ia berada di luar batas-batas itu -- ketaatan hanya benar jika di dalam Tuhan. Jika orang tua menyuruh anaknya untuk mencuri, atau berbohong, atau melakukan kejahatan, maka haknya untuk ditaati menjadi hilang. Jika orang tua menyiksa anaknya, menjual anak perempuannya, memperalat mereka hanya untuk kepentingannya sendiri, maka haknya juga dapat hilang karena orang tua berada di luar prinsip Tuhan atas kebenaran, keadilan, dan kebaikan.

Kedua bagian ini merupakan suatu keharusan, baik bagi anak maupun bagi orang tua. Hubungan yang dibentuk adalah hubungan kasih dan hormat -- apapun situasinya, anak harus menghormati ayah dan ibunya. Dalam hal ini, yang perlu kita perhatikan adalah ada pemisahan kalimat antara taat dan hormat. Rasul Paulus tidak mengatakan, "taati dan hormati" orang tua, seperti yang banyak dikatakan orang dan diajarkan tradisi. Bagi kebanyakan orang, taat dan hormat kepada orang tua adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Tetapi, di sini ada kualifikasi yang berbeda.

Kita lihat, jika seorang tua keluar dari batas-batas prinsip Tuhan, maka haknya untuk ditaati akan hilang, namun haknya untuk dihormati tetap melekat padanya. Orang tua mungkin melakukan kesalahan perintah yang serius, dan dengan begitu ia tidak perlu ditaati oleh anak, namun bagaimanapun juga seorang anak harus menghormati orang tuanya. Tantangan yang jelas adalah: bagaimana menghormati orang tua yang sudah berbuat kesalahan?

Itulah prinsip hormat yang paling utama: hormat yang diberikan karena keberadaan, bukan karena perbuatan. Orang tua mungkin melakukan perbuatan yang bodoh, jahat, dan sangat tidak pantas -- namun seorang anak tetap menghormati karena ia bisa ada di dunia hanya melalui ayah dan ibunya. Seorang manusia tidak boleh menajiskan piring tempat makannya sendiri, apalagi mencemarkan orang-orang yang sudah mendatangkannya ke dunia!

Rasul Paulus memahami bahwa ini adalah perintah yang penting, harus dicermati, harus diikuti! Perintah ini membawa serta janji dari Tuhan: "supaya kamu berbahagia dan panjang umur di bumi" -- itulah rahasia kebahagiaan dan panjang umur. Orang yang menghormati asalnya, akan menerima kehidupan yang panjang dan berbahagia. Orang yang tidak menghormati orang tuanya, tidak menghormati kehidupan yang dimiliki, maka hidupnya pun tidak mungkin dapat berbahagia dan panjang. Sebenarnya, betapa hidup yang panjang dapat terasa sebagai kutukan jika tidak diisi oleh kebahagiaan!

Masalahnya, sekarang ini banyak orang yang tidak menghormati orang tua, sehingga juga tidak menghormati kehidupan yang dimilikinya. Kehidupan menjadi suatu beban, sampai disebut "hidup enggan, mati tak mau" -- dan itulah persisnya yang membuat orang jatuh dalam pencarian ilusi kenikmatan melalui narkoba dan aktivitas untuk melupakan diri. Banyak dari masalah ini dimulai dari hilangnya hormat kepada orang tua -- tidak jarang disebabkan oleh orang tua yang gagal bersikap benar. Hormat kepada orang tua tidak tergantung kepada orang tua; hal ini sepenuhnya tergantung pada anak untuk menghormati, tidak peduli seperti apapun orang tuanya.

Dan janji Tuhan tetap berlaku: bahagia dan panjang umur. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny