Ef 5:28-33 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Sampai seperti apakah seorang suami mengasihi isterinya? Sama seperti tubuhnya sendiri! Tetapi, mungkin di sini ada masalah pertama. Karena, banyak laki-laki yang tidak memikirkan soal tubuhnya sendiri. Ia tidak terlalu peduli soal kebersihannya, tidak terlalu peduli soal kelelahannya, tidak perduli soal kebutuhannya, karena pada saat itu ia sedang berfokus pada impiannya, berkhayal tentang masa depannya. Ironi besar dari lelaki adalah, mereka bisa bermimpi tentang masa depan yang makmur dan cerah serta keadaan diri yang baik, tetapi di saat sekarang tidak menjagai badannya sendiri. Alhasil, saat masa depan itu tiba dan kemakmuran itu benar-benar nyata, hari-harinya dipenuhi oleh rutinitas makan obat, tidak boleh ini dan itu, serta harus bolak balik ke rumah sakit. Tidak jarang, yang akhirnya menerima semua hasil kekayaan yang dikumpulkan dengan susah payah adalah bagian kasir rumah sakit.
Jadi bagaimana seorang suami bisa mengasihi isterinya, sedang ia tidak mengasihi tubuhnya sendiri? Sebenarnya di sinilah TUHAN menjadikan pasangan sebagai satu tubuh. Seorang laki-laki tidak dapat mengasihi tubuhnya, tetapi ia harus mengasihi isterinya. Dengan mengasihi isterinya, maka ia menjadi mengasihi tubuhnya sendiri -- karena isteri yang baik akan menjagai suaminya, peduli soal kebersihannya, peduli soal kelelahannya, juga peduli soal kebutuhannya. Suami yang baik akan mengasihi isterinya dan membiarkan isterinya berkuasa atas keadaan dirinya, karena isteri juga mengasihi suami serta tidak akan membiarkannya tidak terawat. Tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, sekalipun banyak orang membenci kehidupan yang dijalaninya. Tidak boleh seorang suami membenci isterinya, apapun situasi kehidupan yang mereka lalui bersama.
Masalah orang jaman sekarang, keadaan ini tidak lagi demikian. Saat ini kaum pria mulai belajar untuk berdandan -- beberapa memikirkan soal keadaan tubuhnya dalam cara dan porsi yang berlebihan -- dan membawa semua pertimbangan hanya untuk dirinya sendiri. Kata-katanya adalah "badan saya, urusan saya" yang menaruh semua orang lain di luar, termasuk pasangannya. Toh saat ini ada banyak sekali jasa pelayanan dan perawatan yang diberikan untuk memanjakan kaum pria. Pegal? Ada spa. Penampilan kurang bagus? Salon buat lelaki sudah banyak. Ingin makan enak? Resto ada di setiap pojok.
Saat ini kaum wanita mulai belajar untuk memperhatikan dirinya sendiri juga, dalam fokus dan intensitas yang sangat besar sehingga tidak lagi ada waktu untuk suami dan rumah tangganya. Karena dunia sudah menawarkan banyak sekali pelayanan, maka biarlah suami dilayani dunia... isteri juga ingin dimanjakan oleh dunia yang memiliki lebih banyak lagi produk untuk kaum wanita, mulai dari atas kepala sampai ujung kaki. Bukankah yang paling menyenangkan adalah mendapatkan keamanan dan kenyamanan, merasakan kenikmatan dan gairah kehidupan seperti yang banyak ditulis di majalah dan tabloid kontemporer-modern dan feminin?
Bagi pria yang sudah dilayani dunia, bagi wanita yang sudah dilayani dunia, semua dipusatkan pada individu-individu, menjadi individualisme. Ketika pria dan wanita bertemu, hakekatnya bukan lagi saling melayani, melainkan saling memuaskan - hasrat biologis psikologis. Ada kebutuhan merasa dihargai, dihormati, dikagumi, dan "dicintai". Hubungan badan lelaki dan perempuan disebut "making love" disingkat ML, yang maksudnya bukan soal mengasihi melainkan tentang saling memuaskan. Maka kaum wanita semakin biasa menampilkan tubuhnya, demikian juga dengan kaum pria, dalam konteks seksual sekaligus individual. Pria dan wanita bisa berhubungan seks, tetapi tidak menjadi satu daging, tidak menjadi satu kesatuan. Itu hanya merupakan suatu bentuk relasi intim antara dua orang, yang tetap merupakan dua orang yang berbeda dan terpisah walaupun sudah menikah. Tidak heran, "perceraian" dengan mudah terjadi, karena memang tidak pernah menjadi satu meskipun diikat dalam "pernikahan".
Kristus dan jemaat-Nya adalah kesatuan yang tidak dapat diceraikan. Demikianlah Tuhan Yesus senantiasa merawat dan mengasuh jemaat yang merupakan anggota tubuh-Nya. Suami dan istri juga merupakan kesatuan yang tidak dapat diceraikan, kecuali oleh maut. Demikianlah suami harus selalu merawat dan mengasuh isterinya, begitu pula sebaliknya. Ketika suami berhubungan badan dengan isteri, ia menjadi satu daging. Itu bukan suatu aktivitas "making love", karena cinta tidak dibuat dengan cara demikian, melainkan suatu aktivitas penyatuan biologis yang secara harafiah mengharapkan kehadiran anak sebagai hasil penyatuan sel dari ayah dan ibu. Tidak ada individualisme di antara suami dan istri, karena bersama-sama mereka bukan lagi dua sosok yang terpisah.
Suami dan istri berasal dari dua keluarga yang berbeda. Mereka dibesarkan dalam dua situasi dan kondisi yang berbeda, sehingga hadir sebagai dua pribadi yang berbeda. Tetapi dalam kesatuan suami-istri, masing-masing meninggalkan ayah dan ibunya, meninggalkan keluarganya. Dalam penyatuan, baik suami dan istri menjadi orang yang berbeda, karena membentuk situasi dan kondisinya sendiri, keluarga di mana anak-anak lahir dan dibesarkan. Dalam penyatuan itu, suami mengasihi isteri dan isteri menghormati suami, serta tidak bergantung kepada pelayanan yang diberikan dunia.
Memang ada spa, ada panti pijat -- tetapi yang paling didambakan suami adalah pijatan isterinya. Memang ada sopir, ada layanan taksi -- tetapi yang paling diidamkan isteri adalah diantar suaminya. Mungkin isteri tidak bisa memasak sepandai chef di restoran terkenal, namun apa yang dihidangkan di rumah dari karya seorang isteri memberikan kenikmatan yang tidak dapat diberikan restoran manapun. Suami yang baik selalu menghargai usaha isteri dan isteri yang baik selalu berusaha melayani suaminya; hari ini mungkin belum pandai memasak atau membuat kue, namun tidak berarti besok tidak bisa belajar dan minggu depan tidak bisa memberi yang lebih baik, bukan?
Apakah segala idealisme ini mudah? Tidak, apalagi di jaman penuh tekanan ekonomi, sehingga suami dan isteri harus bersama-sama bekerja menghidupi keluarga. Ukurannya bukan pada hasil, karena untuk hasil paling baik harus disediakan banyak waktu dan banyak modal -- hal-hal yang semakin sukar. Ukurannya ada di dalam proses; yang dihargai adalah prosesnya, kesediaan untuk menghargai, kesediaan untuk berkorban dan berjerih lelah, serta komitmen untuk menjalankan peran. Dalam hal inilah kita semua bergantung kepada Tuhan dan percaya penuh bahwa Ia yang merawat dan mengasuh kita, jemaat-Nya, karena kita juga adalah anggota-anggota tubuh-Nya.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Jumat, 09 Desember 2011
Sabtu, 29 Oktober 2011
Renungan Sehari - 29 Oktober 2011
Ef 5:25-27 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Totalitas adalah ciri kasih yang sejati. Totalitas adalah perintah yang diberikan kepada suami dalam hal mengasihi istrinya. Tuhan Yesus Kristus mengasihi jemaat dalam totalitas, sampai Ia menyerahkan tubuh dan darah-Nya sendiri. Totalitas juga merupakan suatu proses yang berkelanjutan, seperti hubungan suami dan istri yang tidak berakhir sampai maut memisahkannya.
Ketika Tuhan Yesus Kristus memulai jemaat-Nya, Ia mengasihi secara total: menyerahkan diri-Nya. Tuhan bukan seperti seorang pencipta yang membuat sebuah barang hanya untuk dijual, diberikan pada orang lain, atau dibuang. Tidak ada seorang suami yang baik yang membuang istrinya -- apalagi Tuhan yang menciptakan konsep tentang pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Jadi, hal terpenting yang dinyatakan oleh ayat-ayat ini adalah suatu kepastian, bahwa Kristus mendampingi jemaat-Nya.
Pendampingan yang Kristus lakukan bukan sekedar "berada di rumah" seperti seorang suami yang duduk-duduk saja di depan teras. Ia membuat jemaat menjadi berbeda, menjadi khusus -- itulah artinya kata 'kudus'. Tuhan menerima jemaat apa adanya, tetapi Ia tidak akan membiarkan mereka tetap dalam keadaan buruk, berkarakter jelek, atau berkebiasaan tidak terpuji. Kalau orang datang dengan tubuh kotor, dengan pikiran kotor, Ia akan membersihkannya. Jika orang itu bersikap seperti binatang, yang setelah bersih suka kembali ke comberan kotor, Kristus akan menyeretnya dan menyemprotnya kembali sampai bersih. Kristus memakai air, suatu kiasan dari segala situasi dan peristiwa disekitar kita, dan memakai Firman, untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran.
Kristus melakukan itu, karena Ia sendiri sangat bersih. Ia tidak membiarkan jemaat yang menjadi bagian dari diri-Nya -- sama seperti istri menjadi bagian dari suami -- memiliki keadaan atau standar yang berbeda dibandingkan diri-Nya sendiri. Tuhan Yesus mau agar jemaat menyerupai diri-Nya, demikianlah jemaat bersatu dengan Kristus dalam segala cara, dalam segala peristiwa. Ia mau agar kita memahami segala peristiwa yang terjadi tidak pernah lepas dari rancangan-Nya. Manusia menikmati air dalam berbagai cara, bahkan hidup dari air, tetapi juga bisa mengalami kesakitan yang hebat karena air -- seperti dalam ombak besar atau badai hujan angin yang menderu. Manusia hidup dengan memanfaatkan air. Tuhan memanfaatkan "air" untuk mengajari manusia.
Namun, tidak cukup hanya melihat pengalaman saja untuk mengerti dan menjadi serupa dengan Kristus. Kita juga membutuhkan Firman, untuk mengerti apa yang tersembunyi dari-Nya, untuk mengerti apa pesan-Nya, dan untuk mentaati perintah-Nya. Pengalaman harus ditafsirkan dan diukur menurut Firman Tuhan. Kurang lebih serupa seperti istri perlu memahami suaminya bukan hanya dari tindak tanduknya, tapi juga dari kata-kata dan komunikasi yang disampaikan.
Semua pengalaman -- itulah 'air' dalam hidup kita -- dan Firman yang diberikan menempatkan jemaat yang sempurna di hadapan Kristus. Kesempurnaan itu bukan datang dari usaha atau jasa dari jemaat sendiri, melainkan sebagai hasil dari proses yang Kristus lakukan. Hasilnya adalah jemaat yang kudus, dikhususkan, dan suci, tidak bercela.
Sebagai tambahan dari ayat ini, ada petunjuk yang diberikan kepada para suami untuk bertindak menyerupai Kristus. Menjadi suami bukan berarti boleh menjadi penguasa yang bisa asal memerintah dan mendikte istrinya, menuntut ketaatan sempurna tanpa bantahan. Bukan juga berarti menjadi "sahabat baik" yang bisa hadir di sana tetapi tidak menjadi satu kesatuan, karena "urusan kamu adalah urusan kamu, urusanku adalah urusanku". Menjadi suami berarti memiliki seseorang untuk dicintai, untuk diterima sebagai diri sendiri.
Mengasihi istri memiliki nilai sama dengan mengasihi diri sendiri -- karena itu banyak pernikahan yang gagal karena ketidakmampuan suami menghargai dirinya sendiri, sehingga akibatnya juga tidak mampu menghargai istrinya. Suami yang tidak yakin atas nilai dirinya sendiri, akan memaksa istri untuk menghargai dan menghormati apa yang sebenarnya tidak dipandang berharga atau layak menerima hormat. Suami yang demikian menjadi penakut dan pemalu di antara lingkungan teman-temannya, sebaliknya menjadi tiran bagi keluarga. Kalau diperhatikan, akhirnya suami demikian tidak yakin bahwa dirinya layak memiliki keluarga, juga tidak yakin keluarganya akan mengasihi dan menerima dirinya apa adanya.
Suami yang mengasihi dirinya dengan cara yang sehat, juga mengasihi istri dan anak-anaknya. Kasih itu membuat seorang suami menerima apapun keadaan awal istrinya -- segala hal yang terasa atau terlihat buruk, tidak menyenangkan, tidak benar. Suami yang benar tidak mencela atau menilai rendah istrinya, melainkan berusaha membangunnya. Kasih mengubah orang. Cinta seorang suami mengubah istrinya menjadi penolong yang sepadan baginya.
Kristus membuat kita, jemaat-Nya menjadi penolong yang sepadan untuk-Nya. Sebagai mempelai Kristus, kita juga mentaati-Nya untuk mengerjakan karya-Nya di atas dunia. Demikianlah kita berkarya dan bekerja, dalam pemahaman yang tidak tergoyahkan: apapun yang terjadi, Kristus beserta kita.
Immanuel!
Salam kasih,
Donny
Totalitas adalah ciri kasih yang sejati. Totalitas adalah perintah yang diberikan kepada suami dalam hal mengasihi istrinya. Tuhan Yesus Kristus mengasihi jemaat dalam totalitas, sampai Ia menyerahkan tubuh dan darah-Nya sendiri. Totalitas juga merupakan suatu proses yang berkelanjutan, seperti hubungan suami dan istri yang tidak berakhir sampai maut memisahkannya.
Ketika Tuhan Yesus Kristus memulai jemaat-Nya, Ia mengasihi secara total: menyerahkan diri-Nya. Tuhan bukan seperti seorang pencipta yang membuat sebuah barang hanya untuk dijual, diberikan pada orang lain, atau dibuang. Tidak ada seorang suami yang baik yang membuang istrinya -- apalagi Tuhan yang menciptakan konsep tentang pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Jadi, hal terpenting yang dinyatakan oleh ayat-ayat ini adalah suatu kepastian, bahwa Kristus mendampingi jemaat-Nya.
Pendampingan yang Kristus lakukan bukan sekedar "berada di rumah" seperti seorang suami yang duduk-duduk saja di depan teras. Ia membuat jemaat menjadi berbeda, menjadi khusus -- itulah artinya kata 'kudus'. Tuhan menerima jemaat apa adanya, tetapi Ia tidak akan membiarkan mereka tetap dalam keadaan buruk, berkarakter jelek, atau berkebiasaan tidak terpuji. Kalau orang datang dengan tubuh kotor, dengan pikiran kotor, Ia akan membersihkannya. Jika orang itu bersikap seperti binatang, yang setelah bersih suka kembali ke comberan kotor, Kristus akan menyeretnya dan menyemprotnya kembali sampai bersih. Kristus memakai air, suatu kiasan dari segala situasi dan peristiwa disekitar kita, dan memakai Firman, untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran.
Kristus melakukan itu, karena Ia sendiri sangat bersih. Ia tidak membiarkan jemaat yang menjadi bagian dari diri-Nya -- sama seperti istri menjadi bagian dari suami -- memiliki keadaan atau standar yang berbeda dibandingkan diri-Nya sendiri. Tuhan Yesus mau agar jemaat menyerupai diri-Nya, demikianlah jemaat bersatu dengan Kristus dalam segala cara, dalam segala peristiwa. Ia mau agar kita memahami segala peristiwa yang terjadi tidak pernah lepas dari rancangan-Nya. Manusia menikmati air dalam berbagai cara, bahkan hidup dari air, tetapi juga bisa mengalami kesakitan yang hebat karena air -- seperti dalam ombak besar atau badai hujan angin yang menderu. Manusia hidup dengan memanfaatkan air. Tuhan memanfaatkan "air" untuk mengajari manusia.
Namun, tidak cukup hanya melihat pengalaman saja untuk mengerti dan menjadi serupa dengan Kristus. Kita juga membutuhkan Firman, untuk mengerti apa yang tersembunyi dari-Nya, untuk mengerti apa pesan-Nya, dan untuk mentaati perintah-Nya. Pengalaman harus ditafsirkan dan diukur menurut Firman Tuhan. Kurang lebih serupa seperti istri perlu memahami suaminya bukan hanya dari tindak tanduknya, tapi juga dari kata-kata dan komunikasi yang disampaikan.
Semua pengalaman -- itulah 'air' dalam hidup kita -- dan Firman yang diberikan menempatkan jemaat yang sempurna di hadapan Kristus. Kesempurnaan itu bukan datang dari usaha atau jasa dari jemaat sendiri, melainkan sebagai hasil dari proses yang Kristus lakukan. Hasilnya adalah jemaat yang kudus, dikhususkan, dan suci, tidak bercela.
Sebagai tambahan dari ayat ini, ada petunjuk yang diberikan kepada para suami untuk bertindak menyerupai Kristus. Menjadi suami bukan berarti boleh menjadi penguasa yang bisa asal memerintah dan mendikte istrinya, menuntut ketaatan sempurna tanpa bantahan. Bukan juga berarti menjadi "sahabat baik" yang bisa hadir di sana tetapi tidak menjadi satu kesatuan, karena "urusan kamu adalah urusan kamu, urusanku adalah urusanku". Menjadi suami berarti memiliki seseorang untuk dicintai, untuk diterima sebagai diri sendiri.
Mengasihi istri memiliki nilai sama dengan mengasihi diri sendiri -- karena itu banyak pernikahan yang gagal karena ketidakmampuan suami menghargai dirinya sendiri, sehingga akibatnya juga tidak mampu menghargai istrinya. Suami yang tidak yakin atas nilai dirinya sendiri, akan memaksa istri untuk menghargai dan menghormati apa yang sebenarnya tidak dipandang berharga atau layak menerima hormat. Suami yang demikian menjadi penakut dan pemalu di antara lingkungan teman-temannya, sebaliknya menjadi tiran bagi keluarga. Kalau diperhatikan, akhirnya suami demikian tidak yakin bahwa dirinya layak memiliki keluarga, juga tidak yakin keluarganya akan mengasihi dan menerima dirinya apa adanya.
Suami yang mengasihi dirinya dengan cara yang sehat, juga mengasihi istri dan anak-anaknya. Kasih itu membuat seorang suami menerima apapun keadaan awal istrinya -- segala hal yang terasa atau terlihat buruk, tidak menyenangkan, tidak benar. Suami yang benar tidak mencela atau menilai rendah istrinya, melainkan berusaha membangunnya. Kasih mengubah orang. Cinta seorang suami mengubah istrinya menjadi penolong yang sepadan baginya.
Kristus membuat kita, jemaat-Nya menjadi penolong yang sepadan untuk-Nya. Sebagai mempelai Kristus, kita juga mentaati-Nya untuk mengerjakan karya-Nya di atas dunia. Demikianlah kita berkarya dan bekerja, dalam pemahaman yang tidak tergoyahkan: apapun yang terjadi, Kristus beserta kita.
Immanuel!
Salam kasih,
Donny
Senin, 17 Oktober 2011
Renungan Sehari - 17 Oktober 2011
Eph 5:22-24 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Dalam sebuah keluarga, permulaan dari keharmonisan adalah sikap tunduk. Sebelum dua orang bersama-sama dapat membangun sesuatu yang baik, mereka terlebih dahulu harus tunduk satu sama lainnya, merendahkan satu terhadap yang lain di dalam Kristus. Dalam hal ini, ada sesuatu posisi yang istimewa yang diberikan kepada istri, sesuatu yang berharga sekaligus sering dipandang sebelah mata. Ini adalah kebebasan seorang istri untuk tunduk kepada suaminya.
Banyak yang tidak memahami bahwa dalam bagian surat Efesus ini, Rasul Paulus tidak membuat paksaan bagi istri untuk tunduk kepada suami. Ada saja para suami, dan banyak laki-laki, yang memakai ayat ini sebagai perintah bagi istri untuk tunduk. Mereka memakai ayat-ayat ini sebagai pembenaran diri, karena ingin agar istri mentaati dan mengikuti apa saja kehendak suami. Namun, pemaksaan dan penaklukkan tidak sama dengan sikap tunduk yang sungguh-sungguh, walaupun tindakannya serupa.
Perbedaan terbesar antara pemaksaan dengan penundukkan diri adalah pengakuan. Saat seorang istri dengan rela dan sadar mengakui bahwa suaminya adalah kepalanya, ia bersikap tunduk. Saat seorang istri takut kepada suaminya, ia menyerah dalam paksaan. Ketika istri takut kepada suami, ia mungkin memiliki "kepala" lain, pikiran lain, tujuan-tujuan lain, dan bahkan juga kesenangan lain -- tetapi semua itu ditutupi oleh rasa takut, dihentikan oleh rasa gentar. Ketika istri mengakui suami adalah kepalanya, ia menyeleraskan pikirannya, tujuan-tujuannya, dan juga kesenangannya berdasarkan suaminya. Ia berpikir mengikuti cara pikir suami. Ia menginginkan apa yang suaminya inginkan. Ia merasa senang dalam hal yang sama yang membuat suaminya senang.
Suami juga tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jemaat di mana Kristus adalah Kepala. Itu juga berarti, apa yang jemaat -- suami -- pikirkan adalah apa yang Kristus pikirkan. Tujuan-tujuannya adalah tujuan Kristus. Apa yang menyenangkan hati Tuhan menjadi hal yang juga menyenangkan jemaat, menyenangkan hati sang suami. Demikianlah jemaat tunduk kepada Kristus.
Hubungan ini hanya dapat terjadi karena Tuhan Yesus Kristus sudah lebih dahulu menyelesaikan karya-Nya, suatu perwujudan kasih terbesar dalam sejarah dunia dan manusia. Kita sekalian tunduk kepada Kristus bukan karena paksaan, melainkan suatu penerimaan atas anugerah beserta kehidupan yang menyertai anugerah itu. Kita tunduk bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, melainkan karena sudah menerima kehidupan kekal dari Tuhan.
Demikian juga dengan istri yang tunduk kepada suaminya, dalam prinsip yang serupa. Istri bukan tunduk karena ingin memperoleh sesuatu, melainkan karena telah menerima laki-laki ini menjadi suaminya, menerima cinta kasih dan perlindungan serta kehidupan. Ini adalah pilihan bebas untuk membangun masa depan, menaruh dasar-dasar untuk berbahagia, serta menjadi satu daging dengan suaminya, lalu bersama-sama hidup tunduk kepada Tuhan. Yang istimewa: pilihan untuk tunduk diberikan kepada istri. Syukurilah.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Dalam sebuah keluarga, permulaan dari keharmonisan adalah sikap tunduk. Sebelum dua orang bersama-sama dapat membangun sesuatu yang baik, mereka terlebih dahulu harus tunduk satu sama lainnya, merendahkan satu terhadap yang lain di dalam Kristus. Dalam hal ini, ada sesuatu posisi yang istimewa yang diberikan kepada istri, sesuatu yang berharga sekaligus sering dipandang sebelah mata. Ini adalah kebebasan seorang istri untuk tunduk kepada suaminya.
Banyak yang tidak memahami bahwa dalam bagian surat Efesus ini, Rasul Paulus tidak membuat paksaan bagi istri untuk tunduk kepada suami. Ada saja para suami, dan banyak laki-laki, yang memakai ayat ini sebagai perintah bagi istri untuk tunduk. Mereka memakai ayat-ayat ini sebagai pembenaran diri, karena ingin agar istri mentaati dan mengikuti apa saja kehendak suami. Namun, pemaksaan dan penaklukkan tidak sama dengan sikap tunduk yang sungguh-sungguh, walaupun tindakannya serupa.
Perbedaan terbesar antara pemaksaan dengan penundukkan diri adalah pengakuan. Saat seorang istri dengan rela dan sadar mengakui bahwa suaminya adalah kepalanya, ia bersikap tunduk. Saat seorang istri takut kepada suaminya, ia menyerah dalam paksaan. Ketika istri takut kepada suami, ia mungkin memiliki "kepala" lain, pikiran lain, tujuan-tujuan lain, dan bahkan juga kesenangan lain -- tetapi semua itu ditutupi oleh rasa takut, dihentikan oleh rasa gentar. Ketika istri mengakui suami adalah kepalanya, ia menyeleraskan pikirannya, tujuan-tujuannya, dan juga kesenangannya berdasarkan suaminya. Ia berpikir mengikuti cara pikir suami. Ia menginginkan apa yang suaminya inginkan. Ia merasa senang dalam hal yang sama yang membuat suaminya senang.
Suami juga tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jemaat di mana Kristus adalah Kepala. Itu juga berarti, apa yang jemaat -- suami -- pikirkan adalah apa yang Kristus pikirkan. Tujuan-tujuannya adalah tujuan Kristus. Apa yang menyenangkan hati Tuhan menjadi hal yang juga menyenangkan jemaat, menyenangkan hati sang suami. Demikianlah jemaat tunduk kepada Kristus.
Hubungan ini hanya dapat terjadi karena Tuhan Yesus Kristus sudah lebih dahulu menyelesaikan karya-Nya, suatu perwujudan kasih terbesar dalam sejarah dunia dan manusia. Kita sekalian tunduk kepada Kristus bukan karena paksaan, melainkan suatu penerimaan atas anugerah beserta kehidupan yang menyertai anugerah itu. Kita tunduk bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, melainkan karena sudah menerima kehidupan kekal dari Tuhan.
Demikian juga dengan istri yang tunduk kepada suaminya, dalam prinsip yang serupa. Istri bukan tunduk karena ingin memperoleh sesuatu, melainkan karena telah menerima laki-laki ini menjadi suaminya, menerima cinta kasih dan perlindungan serta kehidupan. Ini adalah pilihan bebas untuk membangun masa depan, menaruh dasar-dasar untuk berbahagia, serta menjadi satu daging dengan suaminya, lalu bersama-sama hidup tunduk kepada Tuhan. Yang istimewa: pilihan untuk tunduk diberikan kepada istri. Syukurilah.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Sabtu, 17 September 2011
Renungan Sehari - 16 September 2011
Eph 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
Ucapan syukur senantiasa berkaitan dengan sikap merendahkan diri. Coba renungkan: bukankah ucapan syukur merupakan suatu pengakuan akan keterbatasan diri sendiri? Karena kita terbatas, maka kita mengalami ketidakmampuan padahal kita masih membutuhkan. Maka, pertolongan Tuhan membuat apa yang kita butuhkan itu tersedia -- dan kita mengucap syukur. Jika kita tidak mengalami ketidakmampuan, maka diri kita sendirilah yang dianggap dapat memperoleh apa yang dibutuhkan itu -- maka kita tidak akan merasa perlu mengucap syukur. Kalaupun mulut kita mengucap syukur, hati kita tahu bahwa itu hanya basa basi ritual, suatu ungkapan yang dikeluarkan sebagai sikap 'saleh' yang baik di mata orang lain. Hanya jika kita benar-benar tidak mampu saja, kita sungguh-sungguh mengucap syukur; sebaliknya ucapan syukur menjadi pengakuan keterbatasan diri sendiri.
Ucapan syukur juga menyatakan bahwa sebenarnya kita tidak pantas untuk menerima apa yang kita terima. Tidak ada alasan bagi Tuhan untuk memberikan karunia-Nya, selain dari kasih-Nya yang besar. Kalau kita menerima segala hal baik dari Tuhan, itu adalah pemberian dan bukan upah. Orang tidak bisa sungguh-sungguh mengucap syukur atas upah, karena apa yang disebut "upah" merupakan bagian dari pertukaran atau transaksi. Bisa saja orang merasa sudah berjasa bagi Tuhan karena sudah melakukan hal-hal berat dan besar. Karena ia sudah bekerja keras, maka sewajarnyalah Tuhan memelihara hidupnya, bukan? Walau ia rajin berdoa dan rajin mengucap syukur, namun ia memahami segala sesuatu adalah upah atas segala pekerjaan dan pelayanannya bagi Tuhan. Sudah sepantasnya Tuhan membayar upah orang yang bekerja, bukan? Maka, ucapan syukur itu lebih tepat disebut ucapan terima kasih, sama seperti yang dikatakan seorang pegawai kepada bosnya saat pembagian upah. Hanya basa basi, karena kalau si bos tidak membayar sesuai perjanjian, sang pegawai bisa marah-marah. Begitu juga orang bisa marah-marah kepada Tuhan karena merasa mendapatkan upah lebih sedikit daripada yang sudah dikeluarkannya.
Ucapan syukur itu sendiri mempunyai konteks yang jelas, yaitu disebutkan secara terus menerus atas segala sesuatu. Artinya, ucapan syukur menyatakan bahwa seluruh kehidupan adalah karunia. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan sudah menolong kita dalam hal pertama dan kedua, sedangkan hal ketiga dan keempat merupakan hasil kemampuan kita sendiri. Kita seperti mau mengatakan, bahwa segala perkara di hari Minggu adalah sesuatu yang "diluar jangkauan" dan patut disyukuri, sedangkan apa yang ada di hari Senin sampai Sabtu adalah perkara bisnis dan dagang yang benar-benar kita kuasai, jadi kita tidak pernah benar-benar bersyukur atasnya. Sikap seperti ini sama sekali tidak benar; sesungguhnya segala sesuatu yang benar, baik, dan kudus selalu ada di luar jangkauan manusia yang berdosa, baik di hari Minggu, Senin, Selasa, dan seterusnya sampai Sabtu. Coba renungkan, apakah yang benar-benar dapat kita bangun dalam hidup, jikalau kita tidak diberi oleh Tuhan? Kalau kita mau merusak, itu mudah. Kalau kita mau berkelahi, atau berperang, atau merusak alam, itu tidak memerlukan banyak hal. Tetapi untuk membangun sesuatu, manusia membutuhkan karunia Ilahi dalam hikmat dan pengertian.
Kita tidak dapat menyebutkan ucapan syukur tanpa menaruhnya dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Segala karunia yang kita terima, mengalir karena Tuhan Yesus Kristus. Hanya karena karya Kristus, ada satu jalan menuju Bapa di Sorga. Kita tidak berbuat baik untuk menemukan jalan ke Sorga. Kita berbuat baik karena kita telah memperoleh jalan ke Surga dan sekarang kita mau berjalan melaluinya. Kita selalu disertai oleh Roh Kudus, yang diutus oleh Bapa dan Anak, bersama-sama ke dalam dunia. Tuhan Yesus Kristus adalah segala-galanya di dalam hidup, yang memampukan kita untuk berbuat benar dalam segala hal. Maka, kita mengucap syukur dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. Hanya dalam Tuhan Yesus Kristus.
Masalahnya, semua hal-hal dalam mengucap syukur ini memang merendahkan diri kita di hadapan Allah. Ada orang yang mau merendahkan di hadapan Allah selama ia bisa meninggikan diri di hadapan manusia. Tetapi, bagi Allah kondisi tersebut tidak masuk akal: jika orang benar-benar merendahkan diri, ia juga akan merendahkan diri di hadapan sesama manusia -- paling sedikit orang akan merendahkan diri di hadapan orang yang paling dekat dengannya, yaitu istri atau suaminya. Kenapa istri atau suami? Karena tiga alasan. Yang pertama, istri atau suami seharusnya mendampingi seluruh waktu dalam kehidupan kita. Yang kedua, istri atau suami merupakan orang yang mengalami segala hal, yang baik maupun yang buruk, bersama-sama. Yang ketiga, Tuhan yang telah mempersatukan suami istri, maka Tuhan juga memandang pasangan sebagai satu kesatuan.
Ketika suami atau istri merendahkan diri, pasangannya juga harus turut tunduk dalam merendahkan diri. Alasannya bukan karena takut kepada pasangan, melainkan karena baik suami maupun istri sama-sama takut akan Kristus. Sikap tunduk dan merendahkan diri ini memungkinkan ucapan syukur yang tulus, sekaligus membentuk sikap dari suami dan istri untuk saling merendahkan diri satu sama lain. Tidak mungkin merendahkan di hadapan Kristus sambil meninggikan diri terhadap pasangannya sendiri, kecuali orang itu bersikap munafik dalam ucapan syukurnya. Tentu saja, Tuhan mengetahui isi hati manusia sampai sedalamnya.
Hubungan suami istri menjadi istimewa karena bisa menjadi ukuran dari ketulusan dalam pengucapan syukur. Ini adalah hal yang penting, karena ucapan syukur juga menjelaskan bagaimana hubungan kita dengan Tuhan dan sejauh mana kita memahami maksud dan tujuan Tuhan di dalam kehidupan kita. Mengucap syukur dengan tulus adalah hasil dari hubungan yang diikat dalam Kristus. Sungguh, betapa hati kita bersyukur!
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Minggu, 11 September 2011
Renungan Sehari - 11 September 2011
Ef 5:17-19 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
Ada orang bilang bahwa kebodohan adalah bawaan dari sejak lahir. Ada yang terlahir bodoh, katanya, maka dia tidak dapat berpikir di sepanjang hidupnya. Memang ada orang-orang yang terlahir dengan kelainan pada syarafnya sehingga mengalami keterbelakangan mental, tetapi itu bukan berarti ia bodoh. Lebih tepat digambarkan, orang itu seperti terlahir dengan anggota tubuh yang tidak lengkap, dan sebenarnya tidak berarti ia tidak bisa melakukan apa-apa. Kebodohan dan kepandaian adalah hasil dari pilihan manusia. Ini adalah hasil dari pertanyaan, "apakah engkau mau berpikir agar mengerti?" Kecepatan pengertian bukan penentu kepandaian atau kebodohan -- ada orang yang cepat berpikir, ada orang yang lebih lambat berpikir, namun keduanya dapat sampai kepada pengertian yang perlu dipahami jika mereka mau. Sebaliknya, jika mereka tidak mau berpikir, "tidak mau pusing," maka sampai kapanpun mereka tidak akan mengerti.
Ada hal yang mudah dimengerti karena nampak dengan jelas, bisa diamati, bisa dipegang, bisa dibongkar, dipotong, dan ditelusuri cara kerjanya. Ada hal yang tidak mudah dimengerti, membutuhkan banyak usaha dan pemikiran karena tidak kelihatan -- bukan berarti yang tidak kelihatan itu tidak ada di sana. Ada hal-hal yang sangat besar, sehingga mustahil bisa dipahami manusia. Pertanyaan seperti, "seperti apakah Allah?" tidak mungkin dijawab dengan tuntas karena kapasitas manusia tidak mungkin cukup untuk mengerti tentang keberadaan Allah semesta alam. Namun Allah mengijinkan manusia untuk mengerti sebagian hal, misalnya tentang apa kehendak Allah akan kehidupan manusia. Dia mengungkapkan diri-Nya melalui tiga cara; pertama melalui langit dan bumi ciptaan-Nya, kedua melalui wahyu tertulis yang diberikan, Alkitab, dan ketiga melalui cara khusus saat Tuhan secara khusus berbicara kepada seseorang, atau satu bangsa. Kadang Tuhan menunjukkannya dengan jelas, tetapi sering kali tidak gampang memahaminya. Masalahnya, kita mau berusaha untuk mengerti atau tidak?
Ketika orang tidak mau mengerti dengan nalarnya, ia menanggapi dengan emosinya. Saat orang tidak mau tahu ada apa dibalik hal-hal yang terlihat, ia meletakkan diri dibawah pengaruh apapun yang dapat didengar, dilihat, diraba, dirasa, dan diciumnya. Jika orang tidak memakai kepalanya, ia tidak dapat mengerti apa yang Tuhan kehendaki, sebaliknya tawaran dunia seperti alkohol -- anggur yang memabukkan -- terasa lebih enak, lebih menyenangkan, dan membangkitkan hawa nafsu. Kalau orang menerima tawaran dunia untuk jatuh dalam keadaan mabuk, maka kemampuan berpikirnya semakin hilang dan ia menjadi bodoh. Apa yang kita pilih? Bukankah lebih baik kita memakai nalar dan menolak tawaran untuk menjadi mabuk?
Yang menarik adalah, bahwa ternyata dalam keadaan sepenuhnya bernalar orang justru mendapatkan diri dipenuhi Roh. Kita sering melihat bagaimana orang yang dipenuhi oleh 'roh' mendapatkan keadaan trance dengan mengulang-ulang membaca mantra, menyanyikan lagu yang iramanya seperti membius, dan kita menyebutnya ia sedang kerasukan. Sebagian orang menganggap bahwa jika Roh sedang memenuhi diri seseorang, maka seluruh keberadaan orang itu dikendalikan oleh Roh. Ia bisa tertawa-tawa, melompat-lompat, bahkan bergulingan di bawah kuasa roh. Tetapi kemudian, roh seperti apa yang menguasai manusia sedemikian rupa sehingga orang itu kehilangan kemampuan berpikirnya? Kalau orang sudah kehilangan kendali, apa bedanya dengan orang yang mabuk oleh anggur, atau teler oleh karena narkoba? Roh Allah tidak membuat orang mabuk! Roh justru membuat orang berpikir lebih baik, lebih tajam, lebih cepat. Roh menolong kita semua untuk mengerti apa kehendak Tuhan, menolong kita juga untuk melakukannya -- dan semuanya dikerjakan dengan berpikir serta memakai hikmat.
Hal lain dari keadaan dipenuhi oleh Roh dan berpikir cerdas adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Orang yang berpikir mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan pikirannya dengan orang lain, sehingga mampu memperoleh kesimpulan yang lebih baik. Sebaliknya orang yang kesurupan adalah orang yang hanya sendirian saja, ia tidak dapat berkata-kata dan bertukar pikiran dengan orang lain. Di dalam Roh, orang akan berpikir dan berbicara segala hal yang memuliakan Tuhan, entah hal itu adalah ungkapan kekaguman, pujian, atau suatu pengajaran, atau suatu teguran. Itulah yang digambarkan oleh Rasul Paulus: berbkata-katalah dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Dalam kita berpikir, kita menjadi mengerti bagaimana Tuhan bekerja di dalam dunia dan pengertian itu membuat kita memuji-Nya. Jika kita mengerti, kita memuji Tuhan dengan tulus. Jika kita tidak mengerti, maka pujian kita hanyalah bagian dari syair lagu belaka; kita berbohong saat menyanyikannya karena mengatakan apa yang tidak kita pahami. Apa gunanya pujian yang hanya mengulang-ulang seperti demikian?
Jika memuji Tuhan, jangan setengah-setengah. Tuhan sangat serius dengan karya-Nya, apakah kita mau bermain-main dan sekedar merasa lagunya enak didengar? Banyak orang sekarang menyukai lagu-lagu Kristen karena melodi dan musiknya, bukan karena pemahaman atau kata-kata yang diucapkan. Walaupun orang menyanyikannya dengan suara keras, ia tidak bernyanyi dan bersorak dengan segenap hati. Jika kita sungguh-sungguh ingin memuliakan TUHAN, yang kita harus lakukan adalah mengerti kehendak-Nya karena hanya dengan mentaati kehendak itu kita dapat memuliakan-Nya. Tidak ada orang yang dapat memuliakan Tuhan dengan caranya sendiri, seolah-olah dirinya adalah orang yang istimewa. Namun saat kita berusaha untuk mengerti, Roh memberi pengertian dan menolong kita untuk bekerja. Tuhan memuliakan diri-Nya sendiri melalui anak-anak yang mengasihi-Nya -- Tuhanlah yang bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya, yaitu orang-orang yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya!
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Jumat, 09 September 2011
Renungan Sehari - 9 September 2011
Ef 5:14-16 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
Sepuluh tahun yang lalu, pada tanggal 9 September 2001, kematian memenuhi udara New York City saat menara kembar WTC rubuh oleh kejahatan tergelap. Apa yang timbul kemudian adalah kegelapan lain: rasa marah, takut, dan pembalasan. Perang terhadap terorisme membawa Amerika ke dalam berbagai perang di timur tengah, mulai dari Afghanistan yang sampai sekarang juga masih tetap berada dalam kegelapan. Ketakutan menaruh kecurigaan dalam hubungan atas dasar dugaan teroris, yang dibalas dengan kemarahan orang-orang yang tertolak untuk memasuki Amerika dan Eropa. Perang juga menguras dana dalam jumlah besar dan terus menerus untuk membiayai pasukan di berbagai tempat, juga menuntut korban jiwa. Akibat dari perang bukan hanya dibayar oleh uang dan nyawa, tetapi juga hilangnya stabilitas ekonomi yang didanai oleh hutang. Saat ini hutang Amerika begitu besarnya, sehingga jika seluruh Amerika berproduksi selama setahun hasilnya belum cukup untuk membayar hutang, padahal produktivitas Amerika adalah yang terbesar di dunia. Kegelapan di atas kota New York kini menjadi kegelapan yang menyelimuti dunia.
Di mana orang Kristen? Beberapa menjadi waspada dan bersiap untuk menghadapi situasi apapun. Tetapi, banyak juga yang sudah lama merasa nyaman dan aman, tertidur dalam masyarakat yang ingin serba damai dan tidak mau pusing memikirkan konflik. Banyak yang lebih berkonsentrasi untuk mengadakan acara refreshing course yang berisi sedikit seminar dan sedikit doa, lalu banyak permainan, makan-makan, dan hal-hal menyenangkan dalam kebersamaan. Kehidupan berjalan dengan baik tanpa ada masalah, sekaligus tanpa ada kepedulian kepada lingkungan, kepada negara, kepada dunia di sekitar yang sedang runtuh bagian demi bagian. Di mana gereja yang masih peduli bahwa di Eropa terjadi kegelisahan yang amat sangat, sehingga di London kemarin dulu terjadi kerusuhan, juga di Yunani dan Italia karena program pengetatan ikat pinggang, serta di Jerman yang didemo rakyatnya agar pemerintah tidak memberikan lagi dana talangan bagi negara eropa lain yang bermasalah? Siapa yang peduli bahwa di Amerika jumlah pengangguran sudah sangat banyak, sehingga muncul segerombolan anak muda yang merampok toko minimarket? Siapa yang memikirkan bahwa badai kini bertubi-tubi menghantam berbagai pesisir pantai, karena perubahan iklim yang ekstrim telah terjadi?
Apakah gereja, apakah kita sekalian, masih cukup peduli untuk melihat bahwa kegelapan semakin luas menutupi bumi? Kita memiliki terang Kristus, kita seharusnya menyinarkan terang TUHAN, tetapi kita tertidur. Banyak orang Kristen yang tertidur, sehingga Rasul Paulus menggedor pintu dan berseru, "Bangunlah, hai kamu yang tidur!" Kita begitu tenteram dalam kesibukan sendiri, senang dengan terang kita sendiri serta berkat Tuhan yang melimpah sampai terlelap di tengah orang-orang mati. Coba dengarkan doa-doa kita, apakah kita menyebut para penjahat di dalamnya? Mereka dalam gelapnya melakukan korupsi dan manipulasi, bahkan melibatkan media massa dan social networking begitu rupa; tetapi orang-orang kristen mungkin lebih senang dengan versi berita yang menentramkan dan memutuskan untuk tidur kembali karena tidak ada apa-apa. Lebih baik mencari tempat aman dan tersembunyi, tidak usah ikut-ikutan politik atau pemberantasan korupsi atau menerangi apa yang gelap dan jahat sampai nampak terlihat telanjang. Lebih baik aman sendiri... hanya, apakah benar demikian?
Tidak ada dunia yang berubah jika kita tidak merubahnya. Kegelapan akan tetap gelap sampai ada terang yang menunjukkan segalanya. Jika terang itu menolak untuk menerangi, lalu apa yang bisa nampak? Tetapi, hal itu membutuhkan perhatian, kepekaan, dan kepedulian kita terhadap apa yang terjadi di sekitar. Tidak cukup bagi orang Kristen untuk terus berkutat dengan bagaimana cara memperoleh berkat dan menikmati kedamaian serta kesejahteraan, sementara dunia disekitarnya sengsara! Perhatikanlah dengan saksama bagaimana kita hidup! Apakah kita serba tidak tahu dan serba tidak sadar, sehingga kita bisa disebut sebagai orang-orang bebal?
Menyedihkan, tetapi kenyataannya orang bebal adalah bebal, entah dia memilih melakukan yang jahat terhadap orang lain atau memilih tidak mau mengurusi dunia kecuali dirinya sendiri. Ketika kita merasa "saya tidak pernah menjahati orang lain" kita lupa bahwa kita juga tidak pernah membawa terang bagi orang lain. Kita memang berbuat baik kepada orang lain, tetapi kebaikan itu diterjemahkan sebagai perilaku yang menyenangkan orang lain. Kita membuat orang lain lebih senang dengan membawa bantuan sembako, memberikan pelayanan gratis, mendirikan puskesmas dan membangun sekolah dasar negeri -- tetapi kita tidak menerangi kehidupan mereka. Kita tidak menyatakan kebenaran di atas kesalahan. Kita tidak membuat orang sadar untuk lebih produktif agar dapat menyediakan sembakonya sendiri. Kita tidak membuat orang mengantisipasi kebutuhan pelayanan saat ia memerlukannya. Kita tidak membuat orang lebih peduli untuk menjaga kesehatannya. Kita mendirikan gedung sekolah, tetapi tidak menaruh banyak kepedulian mengenai pendidikan apa yang diajarkan di sana. Bukankah sekarang ini banyak juga sekolah kristen yang telah menjadi pusat bisnis pendidikan yang tersedia hanya bagi keluarga yang cukup kaya untuk membayarnya?
Barangkali, kita memang patut dimarahi Tuhan karena menjadi orang bebal yang tidak memikirkan bahwa kegelapan itu turun sesuai wahyu Allah, dan itu berarti kedatangan Tuhan sungguh sudah dekat. Apa yang dapat kita berikan sebagai pertanggungjawaban -- apakah kita akan menunjukkan laporan rugi laba dari Yayasan Kristen yang kita dirikan, menunjukkan betapa berhasil dan menguntungkannya usaha ini bagi Tuhan? Kita menyebutnya "bagi kemuliaan Tuhan" namun siapakah yang sebenarnya memperoleh hasil akhir dari segala kesibukan kita ini? Kita berpikir waktunya masih lama, masih panjang, dan bisa dihabiskan untuk mencapai impian yang jauh dan panjang.
Tetapi, waktu sebenarnya tidaklah berlangsung tanpa henti. Ada batas waktu bagi setiap orang. Ada batas waktu bagi dunia. Ketika Paulus menulis, itu adalah hari-hari yang jahat -- tetapi seandainya bisa mungkin Rasul Paulus akan lebih terkejut melihat betapa jahatnya hari-hari saat ini, lebih jahat daripada hari-harinya dahulu! Saat Paulus, kejahatan dimiliki oleh sekelompok kecil penguasa yang menjadi raja melalui kekuatan militernya dan orang ditindas oleh tangan orang lain. Jaman sekarang kejahatan dimiliki oleh semua orang, bahkan hanya oleh anak sekolah. Orang sekarang bukan hanya ditindas secara fisik, tetapi juga ditindas melalui informasi, ditindas secara ekonomi, ditindas secara hukum, bahkan ditindas oleh agama dan kepercayaan yang mencabut martabat manusia, seperti yang terjadi 10 tahun lalu di New York. Tuhan tidak akan membiarkan kejahatan terus berkuasa. Seperti pada masa Nabi Nuh, waktu adalah terbatas. Hanya orang yang sungguh-sungguh peduli, yang taat melakukan kehendak Bapa, yang melakukan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Tuhan sebelumnya -- mereka yang bergantung pada Tuhan akan mendapatkan apa yang tidak pernah dipikirkan atau diduga oleh manusia.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Kamis, 08 September 2011
Renungan Sehari - 8 September 2011
Ef 5:11-13 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
Setiap orang bisa memilih untuk melakukan sesuatu. Ada yang memilih untuk melakukan hal-hal yang jujur, benar, kerja keras. Yang lain memilih untuk berbohong, manipulasi, dan membiarkan dirinya menjadi malas. Yang pertama melakukan perbuatan terang. Yang lain melakukan perbuatan gelap. Lalu, orang dunia mengatakan bahwa tidak ada yang benar-benar hitam dan putih, semuanya serba abu-abu. Orang bisa melakukan apa yang terang dan apa yang gelap secara bergantian, di mana hidup adalah "keseimbangan". Jadi bisa saja melakukan sedikit kecurangan, sedikit manipulasi di sana sini, asal kemudian juga berbuat amal dan perbuatan baik untuk mengimbangi. Lebih baik lagi kalau perbuatan baiknya lebih banyak daripada kejahatannya. Hanya, orang sebenarnya tidak bisa mengukur apa yang jahat dan apa yang baik. Satu perbuatan terang dilakukan dengan susah dan diperhitungkan benar. Sepuluh perbuatan gelap dilakukan sambil tertawa-tawa, itupun masih dirasakan kurang dan merupakan hasil "membatasi diri".
Dunia membohongi kita ketika mengatakan soal keseimbangan dan apa yang abu-abu. Yang dilakukan dunia adalah membahas satu buah tindakan berdasarkan kepentingan manusia-manusia di sekitarnya dan terlepas dari konteks keseluruhannya. Saat sebuah tindakan dilakukan, misalnya membohongi teman, selalu ada orang yang tidak suka, juga orang yang menyukainya. Kalau orang yang menyukai kebohongan itu adalah seorang yang memiliki kekuasaan, memegang jabatan, serta berpengaruh maka tindakan yang menyukakan hati itu menjadi tindakan yang "benar". Sebaliknya, jika orang yang lebih berkuasa tidak menyukai tindakan itu, apa yang dilakukan menjadi hal yang "salah". Dunia mengatakan abu-abu karena akhirnya setiap tindakan bisa dinilai benar dan salah, menjadi relatif berdasarkan kekuasaan yang menilainya. Kekacauan pemikiran dunia terjadi karena dunia tidak mengakui TUHAN, yang benar-benar mengetahui dan kelak akan menilai dengan adil.
Kebohongan dunia yang kedua adalah mengabaikan kenyataan, bahwa tindakan gelap sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa, sebaliknya akan menghisap habis semua yang ada. Tidak ada keseimbangan dalam hal ini: satu saja perbuatan gelap cukup untuk menelan seluruh hasil perbuatan baik ke dalam lubang hitam tanpa dasar. Ketika seseorang turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, dia juga kehilangan seluruh upaya terangnya. Karena akibat dari perbuatan gelap itu sangat hebat, maka orang akan berupaya keras untuk menutupi perbuatannya dan menyembunyikan tangan dari akibat yang terjadi. Itu adalah "lempar batu, sembunyi tangan" dan menarik orang untuk lebih dalam berada di bawah bayangan yang gelap agar tidak terlihat. Ketika hal demikian terjadi, para pembawa terang menjadi musuh yang menyebalkan, karena terang mereka menelanjangi perbuatan gelap.
Apakah kita menjadi pembawa terang? Bersiaplah dimusuhi oleh orang-orang yang berbuat kegelapan -- alternatifnya kalau tidak mau dimusuhi maka terang yang dibawa itu harus ditutupi atau dipadamkan. Kalau kita menutupi terang, maka kita bisa bergaul dengan mereka, bercakap-cakap dalam obrolan kegelapan mereka, dan tidak lagi merasa malu untuk menyebutkan apa yang diperbuat orang di tempat yang tersembunyi. Apakah kita merasa malu, atau malah menyukai segala kegelapan yang kelihatannya mengasyikkan karena memenuhi segala dorongan nafsu? Tetapi kita juga tahu bahwa segala kecemaran itu merendahkan manusia, menghina martabat, dan juga menista gambar dan rupa Allah dengan bertindak seperti binatang... dan tidak ada satupun hal baik yang muncul dari sana. Kalau orang bicara pornografi adalah soal hukum, sebenarnya pornografi adalah tentang penistaan manusia yang luar biasa, yang disukai karena menyentuh hasrat badani yang terdalam sampai manusia bisa bertindak lebih liar daripada binatang liar. Pornografi adalah tentang manusia yang berbuat dosa terhadap dirinya sendiri, suatu hal yang memalukan, bahkan untuk dibicarakan.
Terang memperlihatkan perbuatan gelap apa adanya, menunjukkan apa yang asli dan tidak lagi tersembunyi, yang disimpan di dalam pikiran manusia yang paling tertutup. Ketika manusia merendahkan sesamanya, antara lain membuat perempuan menjadi objek yang yang dianggap bisa dieksploitasi, atau menganggap ras lain lebih rendah sehingga bisa diperbudak, atau menganggap orang yang berkepercayaan lain lebih buruk sehingga boleh ditumpas atas nama "allah", semua kegelapan itu menjadi nyata di bawah terang kebenaran Firman. Bahwa di balik itu ada keserakahan, ada hawa nafsu, ada kehausan akan kekuasaan yang tidak pernah berakhir. Tubuh manusia yang telanjang, entah itu laki-laki atau perempuan, sesungguhnya adalah indah dan baik di mata Tuhan, apapun rasnya, apapun latar belakangnya. Bukankah bagi pasangan suami istri, sukacita yang besar diperoleh ketika sama-sama bisa menikmati intimasi yang penuh terbuka? Tetapi pikiran yang merendahkan membuat gambaran ketelanjangan menjadi gambar yang kotor dan porno. Perbuatan gelap dimulai pada pikiran, bukan pada apa yang terlihat di matanya.
Segala hal yang diterangi, ditelanjangi oleh sang terang menjadi nampak -- itulah pertanda dari terang, yaitu terlihat. Tuhan sepenuhnya melihat segala hal sampai ke dalamnya; Ia menyukai tubuh telanjang yang diciptakan-Nya, namun Ia membenci pikiran dan perbuatan yang merendahkan, perilaku yang membuat manusia lebih rendah daripada binatang. Sinar terang Tuhan akan menyoroti segala hal memalukan -- terlalu memalukan untuk disebut -- dari segala keserakahan dan kebejatan moral, dan menunjukkan bahwa semua itu sia-sia. Dunia akan marah karena ditelanjangi secara demikian, tetapi kemarahan dunia tidak dapat menutupi cela yang jatuh atasnya. Di sini tidak ada "keseimbangan", karena orang yang bercela adalah orang yang bercela. Demikian juga, orang yang mati adalah orang mati, apapun penyebabnya. Jika terang itu bersinar atas diri kita, apakah yang nampak?
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Selasa, 06 September 2011
Renungan Sehari - 6 September 2011
Ef 5:8-10 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Perubahan adalah nyata. Jika kita memasuki ruangan yang gelap, perubahan biasanya terjadi ketika kita menekan sakelar lampu. Seandainya kita sudah menekan sakelar namun ternyata ada kerusakan pada lampunya, tetap saja tidak ada perubahan, bukan? Jadi, bukan niat dan tindakan yang menjadi ukuran, melainkan kenyataan yang berubah. Demikianlah hal-hal diukur di dalam dunia. Bukankah demikian juga yang terjadi dalam Kerajaan Allah? Kebenaran terlihat di dalam kenyataan yang berubah; jika keadaan akhir semakin serupa dengan apa yang Tuhan kehendaki, maka perubahannya benar. Jika keadaan akhir tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tidak mentaati prinsip-prinsip dan asas-asas Firman Tuhan, maka perubahannya salah.
Masalahnya, manusia seringkali lebih melihat pada tindakan yang dilakukan, seperti tindakan menekan sakelar lampu. Jika orang mau masuk ruangan yang gelap, ia akan menekan sakelar lampunya -- jika lampu tidak menyala, ia akan mengusahakan terang di dalam ruangan. Tetapi dalam kehidupan seringkali orang merasa sudah cukup dengan melakukan sesuatu, tapi tidak peduli dengan perubahan apa yang terjadi setelahnya. Apakah kita sudah merasa cukup dengan hanya datang ke Gereja setiap hari Minggu? Apakah kita merasa cukup hanya mengikuti sebuah seminar yang bersemangat dan penuh berkat di Gereja, untuk dapat disebut "orang baik" di mata Tuhan?
Jangan salah: tindakan menekan sakelar adalah tindakan yang benar dan sudah seharusnya. Sudah seharusnya kita datang kebaktian di Gereja setiap hari Minggu. Sudah sewajarnya kita mengikuti seminar yang bersemangat dan penuh berkat di Gereja. Sudah semestinya kita melakukan hal-hal yang memang perlu dilakukan oleh setiap orang percaya. Tidak ada lampu yang akan menyala di ruangan yang gelap kalau tidak ada yang menekan sakelarnya. Tetapi, menjadi terang berarti membawa perubahan yang nampak dalam kenyataan. Dahulu kita adalah kegelapan, tetapi sekarang kita adalah terang di dalam Tuhan. Ada akibat yang nyata dari terang, ada yang membawa hal-hal baik karena membuat jalan menjadi nampak jelas dan tujuan dapat terlihat, ada juga yang membawa krisis karena terang juga menelanjangi perbuatan-perbuatan yang tadinya mau disembunyikan dalam gelap.
Ketika kita hidup sebagai anak-anak terang, perubahannya tidak mungkin gelap, serba manipulasi, serba korupsi. Firman Tuhan melalui surat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus ini sangat jelas: ada buah yang nyata dari kehidupan anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. Tidak ada kemungkinan terang menghasilkan penipuan atau manipulasi tersembunyi yang gelap dan jahat. Hal-hal ini belum tentu berkaitan dengan rasa senang atau gembira dari manusia, karena mungkin saja ada orang yang lebih senang bila rahasianya tidak terungkap dan dustanya tidak terbongkar, karena dengan demikian ia bisa memperoleh lebih banyak keuntungan. Di antara para penipu, mereka berkata-kata seolah hidup sepenuhnya dalam terang tetapi langkah yang mereka ambil, perubahan yang mereka ciptakan adalah kejahatan dan ketidakadilan dan dusta. Meskipun demikian, mereka tetap saja berkata-kata dan berdalih bahwa semuanya benar, bahkan kalau perlu mengutip beberapa ayat Alkitab.
Sebelum Tuhan melakukan sesuatu, bukankah lebih baik jika kita yang menguji apa yang berkenan kepada Tuhan? Tuhan menginginkan terang. Lihatlah lampunya, apakah menyala? Tidak perlu menunggu Tuhan bertindak atas dasar kuasa-Nya dan ketegasan-Nya, karena kita membandel melawan kehendak Bapa di Surga. Jika kita berdusta, dapatkah kita mendustai Allah? Lebih tepat, kita merendahkan diri dan menguji setiap hal yang disebut "berkenan kepada Tuhan" -- memastikan bahwa itu bukan sekedar kata-kata kosong belaka. Firman Tuhan cukup memberi dasar-dasar agar kita bisa peka dan tahu tentang kehendak-Nya. Apa yang diberikan-Nya, Roh Kudus yang menyertai kita, cukup untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Tinggal kita harus bersikap menerima tuntunan Tuhan, tidak membuat acuan sendiri.
Mari, kita membuat perubahan yang menyenangkan Tuhan.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Minggu, 04 September 2011
NAIK TURUN
Ibr 2:5-9 Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya." Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.
Dunia datang, dunia pergi. Kadang, untuk sesaat orang sepertinya menerima segala sesuatu yang baik dari dunia, bertubi-tubi ia mendapat keuntungan dan kekayaan serta segala sesuatu yang baik di atas muka bumi ini. Baru saja ia mencoba untuk menikmati harta yang berlimpah itu, tiba-tiba pula secepat datangnya, dunia pergi bersama hartanya. Dan orang itu kembali tidak memiliki apa-apa. Hidup terasa seperti mengendarai roller coaster yang jungkir balik dengan sedemikian cepatnya, sehingga orang kehilangan orientasi dan tidak tahu kepalanya ada di atas atau di bawah.
Karena perubahan dalam kehidupan ini sedemikian cepat dan luar biasa, banyak orang yang merasa dipermainkan. Rasanya tidak banyak yang dapat dikatakan tentang keadilan atau bagian yang baik, karena apa yang baik dan enak itu umurnya singkat saja. Baru saja menikmati sebentar, tiba-tiba datang kesusahan dan penderitaan. Bagaimana, misalnya, baru saja sepasang muda mudi melangsungkan pernikahan dengan penuh gaya dan kemeriahan, tahu-tahu mereka sudah mau bercerai setelah hidup berkeluarga selama tiga bulan. Rupanya kegembiraan menjadi pengantin baru dengan cepat pudar, digantikan dengan serangkaian pertengkaran yang panas dan merusak. Segala hasrat dan gairah cinta telah lenyap, digantikan nafsu amarah dan kebencian yang memuncak.
Entah mengapa, mereka mau saja merusak dirinya sendiri beserta hidup orang lain. Apakah kehidupan ini tidak lagi berharga dan bernilai tinggi untuk dipelihara?
Dalam banyak perkara, orang merendahkan dirinya sendiri dengan menjadi budak kejahatan, seolah-olah manusia bukan mahluk yang mempunyai akal budi untuk mempertimbangkan segala tingkah lakunya. Segala keputusan ditentukan oleh nafsu yang menguasainya, sehingga manusia tidak lagi sanggup untuk mengendalikan diri. Ketika dunia datang dan pergi, hal terpenting yang dipikirkan orang adalah bagaimana memegang dan menguasai dunia sebanyak-banyaknya selama mungkin. Apakah ini suatu keserakahan? Bukan, kata mereka. Ini bukan keserakahan, melainkan upaya untuk mempertahankan diri, di mana yang bertahan hingga akhir adalah mereka yang paling pandai beradaptasi dengan situasi. Tentu saja "beradaptasi" di sini artinya memiliki sebanyak mungkin cadangan yang dapat digunakan ketika kesusahan datang, tanpa memperdulikan orang lain. Ini adalah kompetisi, bukan kejahatan. "Kami sedih dan prihatin dengan kemalangan yang diderita orang lain, tetapi apa boleh buat: lebih baik mereka susah daripada kami mengalami kerugian."
Kalau kita dapat menarik satu kesimpulan, banyak masalah dimulai ketika manusia tidak lagi menghargai kehidupan. Yang berharga adalah pemenuhan nafsu, baik nafsu untuk memiliki, nafsu untuk memperoleh semuanya, atau nafsu untuk menguasai. Mereka beranggapan bahwa lebih baik memenuhi segala kebutuhan hidup daripada menjaga kehidupan itu sendiri. Lebih perlu untuk mendapatkan apa yang diinginkan, walau untuk itu taruhannya adalah kehidupan dan masa depan. Ironis memang, bagaimana untuk "beradaptasi" demi memenuhi segala kebutuhan hidup, orang mengorbankan hidupnya!
Itulah dunia masa lalu dan masa kini. Seperti apa dunia di masa yang akan datang?
Karena manusia saat ini sudah merendahkan diri dan merusak dirinya sedemikian rupa, maka tidak sedikit orang yang berpikir bahwa masa depan tidak akan lebih baik. Dalam sesaat memang manusia merasa dapat bergantung kepada teknologi dan rasio untuk mengangkat kehidupan, tetapi buktinya terjadi Perang Dunia I dan II yang membuyarkan semua harapan itu. Mungkin dunia harus dihuni oleh para malaikat, baru ada perbaikan yang sesungguhnya. Tak ada harapan dalam diri manusia yang pandai merusak dirinya sendiri. Hanya kota yang diisi oleh para malaikat saja yang bebas dari kejahatan dan penderitaan. Itukah yang dipikirkan oleh TUHAN? Untuk malaikat-kah Allah menyediakan langit dan bumi?
Bukan! Allah menaklukkan dunia yang akan datang bukan untuk malaikat atau mahluk-mahluk sorgawi. Sesungguhnya, bumi diciptakan untuk Allah sendiri, yang menyatakan diri-Nya kepada manusia yang diciptakan-Nya segambar dan serupa dengan Allah. Manusia memang telah jatuh ke dalam dosa, namun TUHAN sendiri telah menjadi manusia - lebih rendah dari malaikat-malaikat - untuk menebus dosa. Maka kepada Tuhan Yesus Kristus diberikan segala sesuatu yang ada di dalam dunia, termasuk keberadaan kita sekalian.
Di sini kita menemukan suatu hal yang luar biasa: di saat manusia kehilangan harapannya, justru TUHAN menjadi manusia, bahkan menjalani kehidupan yang paling tragis dan tanpa pengharapan, sampai mati di kayu salib. Sementara banyak orang di seluruh dunia menjadi pesimis dengan kehadiran manusia (dan tidak sedikit yang lebih mencintai binatang daripada orang!), justru Tuhan memberi diri-Nya bagi manusia. Dengan memberi diri-Nya itu, Tuhan memberikan kelahiran kembali bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Manusia belajar untuk menemukan kembali kemuliaan TUHAN dalam kehidupan, karena bagi Tuhan Yesus telah diberikan segala kemuliaan dan hormat. Manusia belajar untuk kembali menguasai dan memelihara bumi beserta segenap isinya, karena kepada Tuhan Yesus segala sesuatu telah takluk. Semuanya, tanpa kecuali. Termasuk nafsu. Termasuk dosa dan upahnya, yaitu maut.
Apa artinya semua ini bagi kita? Bagaimana hal-hal ini dapat menjadi bagian dari hidup kita?
Yang pertama, kita mendapatkan harapan. Orang-orang lain bisa saja menunjuk kepada kenyataan hidup manusia yang bobrok dan nampaknya tidak bisa diperbaiki lagi, tetapi dalam Tuhan senantiasa ada harapan. Ketika Tuhan Yesus telah menjadi manusia, Ia telah siap menanggung dosa yang paling buruk dalam kehidupan manusia. Tak ada orang yang terlalu bobrok atau jahat yang tidak dapat menerima keselamatan dari Kristus. Di sisi lain, juga tidak ada orang jahat yang dapat mengelak dari Tuhan, ketika Ia berkenan untuk menyadarkannya. Tak ada yang tidak takluk kepada Kristus, ketika Ia menyatakan diri-Nya.
Yang kedua, kehidupan manusia menjadi amat berharga. Ketika Allah sedemikian tinggi menghargainya, sampai memberikan Anak-Nya yang tunggal, kita pun sepatutnya menghargai dengan sepenuh hati. Mungkin, kehidupan tidak berjalan seperti yang kita inginkan, tidak mulus dan tidak bebas hambatan.
Sebaliknya, kehidupan bisa nampak membingungkan, menakutkan. Dan mungkin pula, kita menemukan orang-orang yang merendahkan arti kehidupan, mereka menyia-nyiakan hidup mereka. Semua ini tidak menghilangkan kenyataan bahwa Allah menghargai kehidupan, di mana kita juga harus menghargai, baik hidup kita maupun hidup orang lain.
Yang ketiga, apa yang kita terima dari Allah jauh lebih besar dan mulia daripada apa yang ditawarkan dunia. Selama ini orang berharap pada dunia, tetapi dunia ini - sekali lagi - datang dan pergi begitu saja, berlalu seperti angin yang tidak kelihatan bayangannya. Dunia memang seperti itu, tetapi dalam Tuhan kita mendapatkan hal-hal yang lebih baik, yang kekal.
Sebagaimana Tuhan telah menghargai kehidupan ini, Dia juga memberikan hal-hal yang baik dalam hidup, hal-hal yang tidak akan hilang ditelan waktu, tidak akan rusak oleh karat, dan tidak akan lenyap dicuri. Kepada Yesus Kristus, Allah telah memberi kemuliaan dan hormat, yang juga menjadi bagian milik setiap orang yang berada di dalam Kristus.
Yang keempat, segala sesuatu telah Allah taklukkan di bawah kaki Kristus, termasuk keberadaan diri kita. Saat ini memang belum kelihatan semua hal takluk di bawah Dia, tetapi kita telah melihat awalnya, yaitu saat maut takluk kepada-Nya dan tidak lagi berkuasa. Kita juga dapat menyerahkan nafsu-nafsu kita, karena diri kita pun takluk kepada Kristus. Tidak ada lagi kuasa nafsu yang melebihi Tuhan yang berkuasa. Urusan memenuhi nafsu bukan lagi hal yang berharga, apalagi perlu dibela dengan taruhan nyawa. Dalam takluk kepada Kristus, segala hal yang paling berharga berada di dalam Kristus. Yang terutama adalah mentaati-Nya, menuruti segala kehendak-Nya, berada di dalam Dia.
Yang kelima, sampai di sini mungkin kita berpikir bahwa semua ini hanyalah filosofi, pendapat, opini, atau apa saja yang tidak perlu terlalu serius dipikirkan, tidak harus sungguh-sungguh ditanggapi. Pada kita ada pilihan untuk menerima atau menolak, dan kita dibebaskan memilih. Di samping itu, Tuhan juga belum melakukan semua rencana-Nya, karena nyata bahwa saat ini masih banyak (atau malah semakin banyak?) hal-hal yang menolak Allah. Orang yang senang mengumbar nafsu masih dapat seenaknya berlalu lalang. Tidak ada sesuatu yang terjadi, tidak ada api yang turun dari langit dan menghanguskan.
Pertimbangkanlah baik-baik apa yang ada, yang dapat kita pelajari. Tentu kita tidak menghendaki kesia-siaan, bukan? Ini bukan sesuatu dalam pikiran belaka, melainkan menjadi bagian dari apa yang kita pilih dan putuskan setiap hari, menentukan bagaimana kita mau menjalani kehidupan. Kalau hanya pikiran atau perkataan, bisa saja kita merenung hal-hal yang baik dan mengatakan hal-hal yang benar, tetapi perilaku kita sama sekali tidak menunjukkannya. Kita bertindak sepertinya di dunia ini tidak ada harapan lagi, membuat hidup kita tidak berarti dan tiada berharga. Kita mengatakan Tuhan mengasihi, tetapi kita tertekan oleh perasaan putus asa. Dalam renungan kita bersyukur, tetapi dalam realitanya kita berharap bisa menjadi malaikat yang tidak pernah susah. Dan kita mengatakan mau memerangi nafsu, tetapi nyatanya kita menghamba kepada nafsu yang menguasai.
Apa yang kita terima adalah bagian dari pilihan, yang dinyatakan oleh kehidupan kita. Tuhan sudah memberikan diri-Nya bagi kita, apakah yang akan kita lakukan untuk menerima-Nya? Maukah kita menaklukkan diri di bawah kaki Kristus?
Terpujilah TUHAN!
Dunia datang, dunia pergi. Kadang, untuk sesaat orang sepertinya menerima segala sesuatu yang baik dari dunia, bertubi-tubi ia mendapat keuntungan dan kekayaan serta segala sesuatu yang baik di atas muka bumi ini. Baru saja ia mencoba untuk menikmati harta yang berlimpah itu, tiba-tiba pula secepat datangnya, dunia pergi bersama hartanya. Dan orang itu kembali tidak memiliki apa-apa. Hidup terasa seperti mengendarai roller coaster yang jungkir balik dengan sedemikian cepatnya, sehingga orang kehilangan orientasi dan tidak tahu kepalanya ada di atas atau di bawah.
Karena perubahan dalam kehidupan ini sedemikian cepat dan luar biasa, banyak orang yang merasa dipermainkan. Rasanya tidak banyak yang dapat dikatakan tentang keadilan atau bagian yang baik, karena apa yang baik dan enak itu umurnya singkat saja. Baru saja menikmati sebentar, tiba-tiba datang kesusahan dan penderitaan. Bagaimana, misalnya, baru saja sepasang muda mudi melangsungkan pernikahan dengan penuh gaya dan kemeriahan, tahu-tahu mereka sudah mau bercerai setelah hidup berkeluarga selama tiga bulan. Rupanya kegembiraan menjadi pengantin baru dengan cepat pudar, digantikan dengan serangkaian pertengkaran yang panas dan merusak. Segala hasrat dan gairah cinta telah lenyap, digantikan nafsu amarah dan kebencian yang memuncak.
Entah mengapa, mereka mau saja merusak dirinya sendiri beserta hidup orang lain. Apakah kehidupan ini tidak lagi berharga dan bernilai tinggi untuk dipelihara?
Dalam banyak perkara, orang merendahkan dirinya sendiri dengan menjadi budak kejahatan, seolah-olah manusia bukan mahluk yang mempunyai akal budi untuk mempertimbangkan segala tingkah lakunya. Segala keputusan ditentukan oleh nafsu yang menguasainya, sehingga manusia tidak lagi sanggup untuk mengendalikan diri. Ketika dunia datang dan pergi, hal terpenting yang dipikirkan orang adalah bagaimana memegang dan menguasai dunia sebanyak-banyaknya selama mungkin. Apakah ini suatu keserakahan? Bukan, kata mereka. Ini bukan keserakahan, melainkan upaya untuk mempertahankan diri, di mana yang bertahan hingga akhir adalah mereka yang paling pandai beradaptasi dengan situasi. Tentu saja "beradaptasi" di sini artinya memiliki sebanyak mungkin cadangan yang dapat digunakan ketika kesusahan datang, tanpa memperdulikan orang lain. Ini adalah kompetisi, bukan kejahatan. "Kami sedih dan prihatin dengan kemalangan yang diderita orang lain, tetapi apa boleh buat: lebih baik mereka susah daripada kami mengalami kerugian."
Kalau kita dapat menarik satu kesimpulan, banyak masalah dimulai ketika manusia tidak lagi menghargai kehidupan. Yang berharga adalah pemenuhan nafsu, baik nafsu untuk memiliki, nafsu untuk memperoleh semuanya, atau nafsu untuk menguasai. Mereka beranggapan bahwa lebih baik memenuhi segala kebutuhan hidup daripada menjaga kehidupan itu sendiri. Lebih perlu untuk mendapatkan apa yang diinginkan, walau untuk itu taruhannya adalah kehidupan dan masa depan. Ironis memang, bagaimana untuk "beradaptasi" demi memenuhi segala kebutuhan hidup, orang mengorbankan hidupnya!
Itulah dunia masa lalu dan masa kini. Seperti apa dunia di masa yang akan datang?
Karena manusia saat ini sudah merendahkan diri dan merusak dirinya sedemikian rupa, maka tidak sedikit orang yang berpikir bahwa masa depan tidak akan lebih baik. Dalam sesaat memang manusia merasa dapat bergantung kepada teknologi dan rasio untuk mengangkat kehidupan, tetapi buktinya terjadi Perang Dunia I dan II yang membuyarkan semua harapan itu. Mungkin dunia harus dihuni oleh para malaikat, baru ada perbaikan yang sesungguhnya. Tak ada harapan dalam diri manusia yang pandai merusak dirinya sendiri. Hanya kota yang diisi oleh para malaikat saja yang bebas dari kejahatan dan penderitaan. Itukah yang dipikirkan oleh TUHAN? Untuk malaikat-kah Allah menyediakan langit dan bumi?
Bukan! Allah menaklukkan dunia yang akan datang bukan untuk malaikat atau mahluk-mahluk sorgawi. Sesungguhnya, bumi diciptakan untuk Allah sendiri, yang menyatakan diri-Nya kepada manusia yang diciptakan-Nya segambar dan serupa dengan Allah. Manusia memang telah jatuh ke dalam dosa, namun TUHAN sendiri telah menjadi manusia - lebih rendah dari malaikat-malaikat - untuk menebus dosa. Maka kepada Tuhan Yesus Kristus diberikan segala sesuatu yang ada di dalam dunia, termasuk keberadaan kita sekalian.
Di sini kita menemukan suatu hal yang luar biasa: di saat manusia kehilangan harapannya, justru TUHAN menjadi manusia, bahkan menjalani kehidupan yang paling tragis dan tanpa pengharapan, sampai mati di kayu salib. Sementara banyak orang di seluruh dunia menjadi pesimis dengan kehadiran manusia (dan tidak sedikit yang lebih mencintai binatang daripada orang!), justru Tuhan memberi diri-Nya bagi manusia. Dengan memberi diri-Nya itu, Tuhan memberikan kelahiran kembali bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Manusia belajar untuk menemukan kembali kemuliaan TUHAN dalam kehidupan, karena bagi Tuhan Yesus telah diberikan segala kemuliaan dan hormat. Manusia belajar untuk kembali menguasai dan memelihara bumi beserta segenap isinya, karena kepada Tuhan Yesus segala sesuatu telah takluk. Semuanya, tanpa kecuali. Termasuk nafsu. Termasuk dosa dan upahnya, yaitu maut.
Apa artinya semua ini bagi kita? Bagaimana hal-hal ini dapat menjadi bagian dari hidup kita?
Yang pertama, kita mendapatkan harapan. Orang-orang lain bisa saja menunjuk kepada kenyataan hidup manusia yang bobrok dan nampaknya tidak bisa diperbaiki lagi, tetapi dalam Tuhan senantiasa ada harapan. Ketika Tuhan Yesus telah menjadi manusia, Ia telah siap menanggung dosa yang paling buruk dalam kehidupan manusia. Tak ada orang yang terlalu bobrok atau jahat yang tidak dapat menerima keselamatan dari Kristus. Di sisi lain, juga tidak ada orang jahat yang dapat mengelak dari Tuhan, ketika Ia berkenan untuk menyadarkannya. Tak ada yang tidak takluk kepada Kristus, ketika Ia menyatakan diri-Nya.
Yang kedua, kehidupan manusia menjadi amat berharga. Ketika Allah sedemikian tinggi menghargainya, sampai memberikan Anak-Nya yang tunggal, kita pun sepatutnya menghargai dengan sepenuh hati. Mungkin, kehidupan tidak berjalan seperti yang kita inginkan, tidak mulus dan tidak bebas hambatan.
Sebaliknya, kehidupan bisa nampak membingungkan, menakutkan. Dan mungkin pula, kita menemukan orang-orang yang merendahkan arti kehidupan, mereka menyia-nyiakan hidup mereka. Semua ini tidak menghilangkan kenyataan bahwa Allah menghargai kehidupan, di mana kita juga harus menghargai, baik hidup kita maupun hidup orang lain.
Yang ketiga, apa yang kita terima dari Allah jauh lebih besar dan mulia daripada apa yang ditawarkan dunia. Selama ini orang berharap pada dunia, tetapi dunia ini - sekali lagi - datang dan pergi begitu saja, berlalu seperti angin yang tidak kelihatan bayangannya. Dunia memang seperti itu, tetapi dalam Tuhan kita mendapatkan hal-hal yang lebih baik, yang kekal.
Sebagaimana Tuhan telah menghargai kehidupan ini, Dia juga memberikan hal-hal yang baik dalam hidup, hal-hal yang tidak akan hilang ditelan waktu, tidak akan rusak oleh karat, dan tidak akan lenyap dicuri. Kepada Yesus Kristus, Allah telah memberi kemuliaan dan hormat, yang juga menjadi bagian milik setiap orang yang berada di dalam Kristus.
Yang keempat, segala sesuatu telah Allah taklukkan di bawah kaki Kristus, termasuk keberadaan diri kita. Saat ini memang belum kelihatan semua hal takluk di bawah Dia, tetapi kita telah melihat awalnya, yaitu saat maut takluk kepada-Nya dan tidak lagi berkuasa. Kita juga dapat menyerahkan nafsu-nafsu kita, karena diri kita pun takluk kepada Kristus. Tidak ada lagi kuasa nafsu yang melebihi Tuhan yang berkuasa. Urusan memenuhi nafsu bukan lagi hal yang berharga, apalagi perlu dibela dengan taruhan nyawa. Dalam takluk kepada Kristus, segala hal yang paling berharga berada di dalam Kristus. Yang terutama adalah mentaati-Nya, menuruti segala kehendak-Nya, berada di dalam Dia.
Yang kelima, sampai di sini mungkin kita berpikir bahwa semua ini hanyalah filosofi, pendapat, opini, atau apa saja yang tidak perlu terlalu serius dipikirkan, tidak harus sungguh-sungguh ditanggapi. Pada kita ada pilihan untuk menerima atau menolak, dan kita dibebaskan memilih. Di samping itu, Tuhan juga belum melakukan semua rencana-Nya, karena nyata bahwa saat ini masih banyak (atau malah semakin banyak?) hal-hal yang menolak Allah. Orang yang senang mengumbar nafsu masih dapat seenaknya berlalu lalang. Tidak ada sesuatu yang terjadi, tidak ada api yang turun dari langit dan menghanguskan.
Pertimbangkanlah baik-baik apa yang ada, yang dapat kita pelajari. Tentu kita tidak menghendaki kesia-siaan, bukan? Ini bukan sesuatu dalam pikiran belaka, melainkan menjadi bagian dari apa yang kita pilih dan putuskan setiap hari, menentukan bagaimana kita mau menjalani kehidupan. Kalau hanya pikiran atau perkataan, bisa saja kita merenung hal-hal yang baik dan mengatakan hal-hal yang benar, tetapi perilaku kita sama sekali tidak menunjukkannya. Kita bertindak sepertinya di dunia ini tidak ada harapan lagi, membuat hidup kita tidak berarti dan tiada berharga. Kita mengatakan Tuhan mengasihi, tetapi kita tertekan oleh perasaan putus asa. Dalam renungan kita bersyukur, tetapi dalam realitanya kita berharap bisa menjadi malaikat yang tidak pernah susah. Dan kita mengatakan mau memerangi nafsu, tetapi nyatanya kita menghamba kepada nafsu yang menguasai.
Apa yang kita terima adalah bagian dari pilihan, yang dinyatakan oleh kehidupan kita. Tuhan sudah memberikan diri-Nya bagi kita, apakah yang akan kita lakukan untuk menerima-Nya? Maukah kita menaklukkan diri di bawah kaki Kristus?
Terpujilah TUHAN!
Renungan Sehari - 4 September 2011
Ef 5:6-7 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
Siapa yang mau kita dengarkan? Secara alami ada banyak suara yang berkata-kata, dan tidak ada satupun yang bersedia untuk diabaikan. Ada yang menjadi pejabat dan merasa memegang kekuasaan, maka ia berharap orang mendengarkan kata-katanya. Ada yang menjadi guru dan beranggapan sudah seharusnya digugu dan ditiru, karena itu harusnya didengarkan. Ada yang menjadi teman dekat, sahabat akrab, dan syaratnya menjadi sahabat harus bersedia mendengarkan. Ada yang menjadi orang tua, maka dimanapun seorang anak harus mendengarkan orang tuanya, bukan?
Perilaku mendengarkan saja sebenarnya bisa dilakukan semua orang, dan tidak ada orang yang berubah karena ia mendengarkan. Orang bisa mendengarkan dan memikirkan, kemudian mengambil keputusan. Ada juga orang yang bisa mendengarkan, kemudian mengabaikan. Kita seringkali tidak bisa memilih siapa yang berbicara kepada kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita bersikap terhadap setiap perkataan yang kita dengar. Kesulitannya, orang yang berbicara juga seringkali menuntut pendengar melakukan sesuatu sebagai bukti mereka menerima perkataannya.
Misalnya saja seorang guru, yang akan menguji murid-muridnya atas segala hal yang dikatakan di depan kelas. Jika murid "tidak memperhatikan", maka ia akan mendapatkan nilai yang buruk. Seorang guru bisa mengajar apa saja, dan ia berharap semua murid menerima setiap kata-katanya sebagai kebenaran yang harus diterima secara bulat. Demikian pula ketika seorang pemuka masyarakat, atau pejabat, atau seorang kaya berbicara. Mereka ingin masyarakat mendengar, rakyat mendengar, dan orang-orang kecil yang hidupnya mereka atur mendengarkan dengan setia serta mentaati setiap kata-katanya.
Pikirkanlah ini: seorang pejabat setingkat menteri berbicara, diteruskan oleh direktur jendral, dilanjutkan oleh kepala kantor wilayah, disebarkan oleh kepala sekolah, diingat oleh guru yang menyampaikannya kepada murid. Kalau guru mengharapkan para murid mendengarkan dengan taat dan setia, kepada siapakah para murid taat? Mereka tidak diajar taat kepada guru, atau kepala sekolah, atau pegawai negeri di departemen pendidikan nasional. Murid disuruh taat kepada menteri, yang sebenarnya sedang menjalankan program politik dari Presiden atau dari partai politik, dalam agenda yang sudah disusun untuk jangka panjang dan meluas. Kita sudah mempelajari hal ini sepanjang sejarah orde baru. Siapa yang dapat memastikan bahwa hal serupa tidak terulang dalam masa-masa reformasi?
Sekarang, bagaimanakah sikap para murid? Mereka dituntut untuk mendengarkan guru. Mereka diharuskan menghafal bahan pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Mereka diharuskan menerima pelajaran, apapun yang diajarkan. Apakah memang mereka benar-benar harus menerima begitu saja semua yang dikatakan oleh guru, sekedar untuk menerima nilai yang baik? Dapatkah kita menerima bahwa kekuasaan yang menentukan kebenaran dari setiap pernyataan?
Kenyataannya, dari abad ke abad ada banyak sekali -- sebagian besar -- guru yang mengajarkan hal-hal yang salah. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mereka-reka segala perkara yang tidak dipahami, membuat perkiraan dan dugaan, serta mengajarkan pada para murid dan pengikut sebagai suatu kebenaran mutlak. Orang menyebutnya dengan berbagai istilah: "ilmu pengetahuan", "filsafat", dan "agama". Apapun istilahnya, hal yang serupa terulang lagi, berkali-kali. Dulu ilmu pengetahuan manusia mengatakan bahwa bumi ini datar; mereka salah. Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa matahari mengitari bumi; mereka salah. Filsafat epikurean mengatakan yang penting dan benar hanyalah apa yang enak; mereka salah. Filsafat komunis mengatakan bahwa yang baik untuk semua orang adalah semua serba sama dan iman serta Tuhan adalah candu masyarakat; mereka salah. Dalam hal agama, ada lebih banyak lagi, karena agama mereka-reka jalan untuk mencapai Tuhan yang tidak manusia lihat. Mereka beraka bahwa Tuahn ada di sini, atau Tuhan ada di sana, asal mau melakukan ritual begini dan begitu -- tapi sekali lagi, mereka salah.
Ketika orang mendapatkan Firman Tuhan, mereka mendapatkan kebenaran yang mutlak. Tetapi, kita harus mempercayai hal ini, karena tidak mungkin kita dapat membuktikan kebenaran tentang keselamatan -- tidak dapat, sampai kita sendiri menemui Tuhan setelah hidup di bumi ini berakhir. Yang ada pada kita sekarang ini adalah Firman Tuhan dan bukti-bukti bahwa segala peristiwa yang dijelaskan dalam Alkitab adalah benar, prinsip-prinsipnya benar, Masalahnya, setiap bukti yang ditunjukkan dapat ditafsir dengan cara yang sangat berbeda, karena setiap orang bodoh bisa memaksa dirinya untuk mempercayai apa yang ingin mereka percayai. Orang bisa memilih sendiri kebenaran mereka, bisa menentukan sendiri apa yang baik dan jahat menurut pikiran sendiri -- itulah dosa asali yang diwariskan oleh Adam dan Hawa!
Ketika kebenaran itu datang dan berkontradiksi dengan segala ajaran dan kepercayaan dan filsafat dan ideologi serta kepentingan -- pertanyaannya, mana yang kita akan dengarkan? Kita harus mendengarkan banyak suara, tetapi kepada apa, kepada siapa, perhatian kita ditujukan? Apakah kita mendengarkan Firman Tuhan, mendengarkan apa yang benar, prinsip benar, jalan yang benar?
Atau, kita memilih mendengar kata-kata yang terdengar hebat, canggih, rumit, tetapi hanya kemasan luar yang meriah -- sedang isinya sendiri adalah kehampaan dan kesia-siaan? Mereka berbicara tentang kekuasaan, pengaruh, kekayaan -- mereka yang berkata-kata itu dengan jelas memamerkan semua itu -- tetapi mereka sendiri hidupnya hampa. Kosong. Tidak ada maknanya untuk hidup, selain untuk memuaskan nafsunya sesaat selagi hidup. Itukah yang kita pilih?
Sedihnya, tidak sedikit orang-orang yang berkata hampa itu berasal dari kalangan orang Kristen, dari antara keluarga orang percaya. Kata-kata hampa muncul dari orang yang sejak pertama bermaksud mencari alternatif dari Firman Tuhan, hanya karena mereka tidak bersedia mempercayainya. Dan jangan salah: Allah sama sekali tidak menyukainya. Sebenarnya, Allah murka! Siapa yang tidak takut kepada Allah semesta alam?
Mungkin orang berkata-kata tentang sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan, yang mengajarkan bahwa tidak apa-apa memuaskan nafsu, memuaskan hasrat keserakahan atas kekayaan, karena bukankah itu yang diinginkan orang? Mungkin ada yang menggambarkan Tuhan itu seperti dewa pemberi berkah dan rejeki, asal manusia setia memberi persembahan dan sesajen padanya. Maukah kita mendengarkan hanya karena kita senang mendengarnya? Jangan mau disesatkan! Ingatlah kemurkaan Allah!
Lebih baik tidak perlu berkawan dengan orang-orang yang durhaka. Ya, serius sekali, jangan berkawan dengan mereka.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Siapa yang mau kita dengarkan? Secara alami ada banyak suara yang berkata-kata, dan tidak ada satupun yang bersedia untuk diabaikan. Ada yang menjadi pejabat dan merasa memegang kekuasaan, maka ia berharap orang mendengarkan kata-katanya. Ada yang menjadi guru dan beranggapan sudah seharusnya digugu dan ditiru, karena itu harusnya didengarkan. Ada yang menjadi teman dekat, sahabat akrab, dan syaratnya menjadi sahabat harus bersedia mendengarkan. Ada yang menjadi orang tua, maka dimanapun seorang anak harus mendengarkan orang tuanya, bukan?
Perilaku mendengarkan saja sebenarnya bisa dilakukan semua orang, dan tidak ada orang yang berubah karena ia mendengarkan. Orang bisa mendengarkan dan memikirkan, kemudian mengambil keputusan. Ada juga orang yang bisa mendengarkan, kemudian mengabaikan. Kita seringkali tidak bisa memilih siapa yang berbicara kepada kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita bersikap terhadap setiap perkataan yang kita dengar. Kesulitannya, orang yang berbicara juga seringkali menuntut pendengar melakukan sesuatu sebagai bukti mereka menerima perkataannya.
Misalnya saja seorang guru, yang akan menguji murid-muridnya atas segala hal yang dikatakan di depan kelas. Jika murid "tidak memperhatikan", maka ia akan mendapatkan nilai yang buruk. Seorang guru bisa mengajar apa saja, dan ia berharap semua murid menerima setiap kata-katanya sebagai kebenaran yang harus diterima secara bulat. Demikian pula ketika seorang pemuka masyarakat, atau pejabat, atau seorang kaya berbicara. Mereka ingin masyarakat mendengar, rakyat mendengar, dan orang-orang kecil yang hidupnya mereka atur mendengarkan dengan setia serta mentaati setiap kata-katanya.
Pikirkanlah ini: seorang pejabat setingkat menteri berbicara, diteruskan oleh direktur jendral, dilanjutkan oleh kepala kantor wilayah, disebarkan oleh kepala sekolah, diingat oleh guru yang menyampaikannya kepada murid. Kalau guru mengharapkan para murid mendengarkan dengan taat dan setia, kepada siapakah para murid taat? Mereka tidak diajar taat kepada guru, atau kepala sekolah, atau pegawai negeri di departemen pendidikan nasional. Murid disuruh taat kepada menteri, yang sebenarnya sedang menjalankan program politik dari Presiden atau dari partai politik, dalam agenda yang sudah disusun untuk jangka panjang dan meluas. Kita sudah mempelajari hal ini sepanjang sejarah orde baru. Siapa yang dapat memastikan bahwa hal serupa tidak terulang dalam masa-masa reformasi?
Sekarang, bagaimanakah sikap para murid? Mereka dituntut untuk mendengarkan guru. Mereka diharuskan menghafal bahan pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Mereka diharuskan menerima pelajaran, apapun yang diajarkan. Apakah memang mereka benar-benar harus menerima begitu saja semua yang dikatakan oleh guru, sekedar untuk menerima nilai yang baik? Dapatkah kita menerima bahwa kekuasaan yang menentukan kebenaran dari setiap pernyataan?
Kenyataannya, dari abad ke abad ada banyak sekali -- sebagian besar -- guru yang mengajarkan hal-hal yang salah. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mereka-reka segala perkara yang tidak dipahami, membuat perkiraan dan dugaan, serta mengajarkan pada para murid dan pengikut sebagai suatu kebenaran mutlak. Orang menyebutnya dengan berbagai istilah: "ilmu pengetahuan", "filsafat", dan "agama". Apapun istilahnya, hal yang serupa terulang lagi, berkali-kali. Dulu ilmu pengetahuan manusia mengatakan bahwa bumi ini datar; mereka salah. Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa matahari mengitari bumi; mereka salah. Filsafat epikurean mengatakan yang penting dan benar hanyalah apa yang enak; mereka salah. Filsafat komunis mengatakan bahwa yang baik untuk semua orang adalah semua serba sama dan iman serta Tuhan adalah candu masyarakat; mereka salah. Dalam hal agama, ada lebih banyak lagi, karena agama mereka-reka jalan untuk mencapai Tuhan yang tidak manusia lihat. Mereka beraka bahwa Tuahn ada di sini, atau Tuhan ada di sana, asal mau melakukan ritual begini dan begitu -- tapi sekali lagi, mereka salah.
Ketika orang mendapatkan Firman Tuhan, mereka mendapatkan kebenaran yang mutlak. Tetapi, kita harus mempercayai hal ini, karena tidak mungkin kita dapat membuktikan kebenaran tentang keselamatan -- tidak dapat, sampai kita sendiri menemui Tuhan setelah hidup di bumi ini berakhir. Yang ada pada kita sekarang ini adalah Firman Tuhan dan bukti-bukti bahwa segala peristiwa yang dijelaskan dalam Alkitab adalah benar, prinsip-prinsipnya benar, Masalahnya, setiap bukti yang ditunjukkan dapat ditafsir dengan cara yang sangat berbeda, karena setiap orang bodoh bisa memaksa dirinya untuk mempercayai apa yang ingin mereka percayai. Orang bisa memilih sendiri kebenaran mereka, bisa menentukan sendiri apa yang baik dan jahat menurut pikiran sendiri -- itulah dosa asali yang diwariskan oleh Adam dan Hawa!
Ketika kebenaran itu datang dan berkontradiksi dengan segala ajaran dan kepercayaan dan filsafat dan ideologi serta kepentingan -- pertanyaannya, mana yang kita akan dengarkan? Kita harus mendengarkan banyak suara, tetapi kepada apa, kepada siapa, perhatian kita ditujukan? Apakah kita mendengarkan Firman Tuhan, mendengarkan apa yang benar, prinsip benar, jalan yang benar?
Atau, kita memilih mendengar kata-kata yang terdengar hebat, canggih, rumit, tetapi hanya kemasan luar yang meriah -- sedang isinya sendiri adalah kehampaan dan kesia-siaan? Mereka berbicara tentang kekuasaan, pengaruh, kekayaan -- mereka yang berkata-kata itu dengan jelas memamerkan semua itu -- tetapi mereka sendiri hidupnya hampa. Kosong. Tidak ada maknanya untuk hidup, selain untuk memuaskan nafsunya sesaat selagi hidup. Itukah yang kita pilih?
Sedihnya, tidak sedikit orang-orang yang berkata hampa itu berasal dari kalangan orang Kristen, dari antara keluarga orang percaya. Kata-kata hampa muncul dari orang yang sejak pertama bermaksud mencari alternatif dari Firman Tuhan, hanya karena mereka tidak bersedia mempercayainya. Dan jangan salah: Allah sama sekali tidak menyukainya. Sebenarnya, Allah murka! Siapa yang tidak takut kepada Allah semesta alam?
Mungkin orang berkata-kata tentang sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan, yang mengajarkan bahwa tidak apa-apa memuaskan nafsu, memuaskan hasrat keserakahan atas kekayaan, karena bukankah itu yang diinginkan orang? Mungkin ada yang menggambarkan Tuhan itu seperti dewa pemberi berkah dan rejeki, asal manusia setia memberi persembahan dan sesajen padanya. Maukah kita mendengarkan hanya karena kita senang mendengarnya? Jangan mau disesatkan! Ingatlah kemurkaan Allah!
Lebih baik tidak perlu berkawan dengan orang-orang yang durhaka. Ya, serius sekali, jangan berkawan dengan mereka.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Langganan:
Komentar (Atom)