Jumat, 09 September 2011

Renungan Sehari - 9 September 2011


Ef 5:14-16 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 

Sepuluh tahun yang lalu, pada tanggal 9 September 2001, kematian memenuhi udara New York City saat menara kembar WTC rubuh oleh kejahatan tergelap. Apa yang timbul kemudian adalah kegelapan lain: rasa marah, takut, dan pembalasan. Perang terhadap terorisme membawa Amerika ke dalam berbagai perang di timur tengah, mulai dari Afghanistan yang sampai sekarang juga masih tetap berada dalam kegelapan. Ketakutan menaruh kecurigaan dalam hubungan atas dasar dugaan teroris, yang dibalas dengan kemarahan orang-orang yang tertolak untuk memasuki Amerika dan Eropa. Perang juga menguras dana dalam jumlah besar dan terus menerus untuk membiayai pasukan di berbagai tempat, juga menuntut korban jiwa. Akibat dari perang bukan hanya dibayar oleh uang dan nyawa, tetapi juga hilangnya stabilitas ekonomi yang didanai oleh hutang. Saat ini hutang Amerika begitu besarnya, sehingga jika seluruh Amerika berproduksi selama setahun hasilnya belum cukup untuk membayar hutang, padahal produktivitas Amerika adalah yang terbesar di dunia. Kegelapan di atas kota New York kini menjadi kegelapan yang menyelimuti dunia.

Di mana orang Kristen? Beberapa menjadi waspada dan bersiap untuk menghadapi situasi apapun. Tetapi, banyak juga yang sudah lama merasa nyaman dan aman, tertidur dalam masyarakat yang ingin serba damai dan tidak mau pusing memikirkan konflik. Banyak yang lebih berkonsentrasi untuk mengadakan acara refreshing course yang berisi sedikit seminar dan sedikit doa, lalu banyak permainan, makan-makan, dan hal-hal menyenangkan dalam kebersamaan. Kehidupan berjalan dengan baik tanpa ada masalah, sekaligus tanpa ada kepedulian kepada lingkungan, kepada negara, kepada dunia di sekitar yang sedang runtuh bagian demi bagian. Di mana gereja yang masih peduli bahwa di Eropa terjadi kegelisahan  yang amat sangat, sehingga di London kemarin dulu terjadi kerusuhan, juga di Yunani dan Italia karena program pengetatan ikat pinggang, serta di Jerman yang didemo rakyatnya agar pemerintah tidak memberikan lagi dana talangan bagi negara eropa lain yang bermasalah? Siapa yang peduli bahwa di Amerika jumlah pengangguran sudah sangat banyak, sehingga muncul segerombolan anak muda yang merampok toko minimarket? Siapa yang memikirkan bahwa badai kini bertubi-tubi menghantam berbagai pesisir pantai, karena perubahan iklim yang ekstrim telah terjadi?

Apakah gereja, apakah kita sekalian, masih cukup peduli untuk melihat bahwa kegelapan semakin luas menutupi bumi? Kita memiliki terang Kristus, kita seharusnya menyinarkan terang TUHAN, tetapi kita tertidur. Banyak orang Kristen yang tertidur, sehingga Rasul Paulus menggedor pintu dan berseru, "Bangunlah, hai kamu yang tidur!" Kita begitu tenteram dalam kesibukan sendiri, senang dengan terang kita sendiri serta berkat Tuhan yang melimpah sampai terlelap di tengah orang-orang mati. Coba dengarkan doa-doa kita, apakah kita menyebut para penjahat di dalamnya? Mereka dalam gelapnya melakukan korupsi dan manipulasi, bahkan melibatkan media massa dan social networking begitu rupa; tetapi orang-orang kristen mungkin lebih senang dengan versi berita yang menentramkan dan memutuskan untuk tidur kembali karena tidak ada apa-apa. Lebih baik mencari tempat aman dan tersembunyi, tidak usah ikut-ikutan politik atau pemberantasan korupsi atau menerangi apa yang gelap dan jahat sampai nampak terlihat telanjang. Lebih baik aman sendiri... hanya, apakah benar demikian?

Tidak ada dunia yang berubah jika kita tidak merubahnya. Kegelapan akan tetap gelap sampai ada terang yang menunjukkan segalanya. Jika terang itu menolak untuk menerangi, lalu apa yang bisa nampak? Tetapi, hal itu membutuhkan perhatian, kepekaan, dan kepedulian kita terhadap apa yang terjadi di sekitar. Tidak cukup bagi orang Kristen untuk terus berkutat dengan bagaimana cara memperoleh berkat dan menikmati kedamaian serta kesejahteraan, sementara dunia disekitarnya sengsara! Perhatikanlah dengan saksama bagaimana kita hidup! Apakah kita serba tidak tahu dan serba tidak sadar, sehingga kita bisa disebut sebagai orang-orang bebal?

Menyedihkan, tetapi kenyataannya orang bebal adalah bebal, entah dia memilih melakukan yang jahat terhadap orang lain atau memilih tidak mau mengurusi dunia kecuali dirinya sendiri. Ketika kita merasa "saya tidak pernah menjahati orang lain" kita lupa bahwa kita juga tidak pernah membawa terang bagi orang lain. Kita memang berbuat baik kepada orang lain, tetapi kebaikan itu diterjemahkan sebagai perilaku yang menyenangkan orang lain. Kita membuat orang lain lebih senang dengan membawa bantuan sembako, memberikan pelayanan gratis, mendirikan puskesmas dan membangun sekolah dasar negeri -- tetapi kita tidak menerangi kehidupan mereka. Kita tidak menyatakan kebenaran di atas kesalahan. Kita tidak membuat orang sadar untuk lebih produktif agar dapat menyediakan sembakonya sendiri. Kita tidak membuat orang mengantisipasi kebutuhan pelayanan saat ia memerlukannya. Kita tidak membuat orang lebih peduli untuk menjaga kesehatannya. Kita mendirikan gedung sekolah, tetapi tidak menaruh banyak kepedulian mengenai pendidikan apa yang diajarkan di sana. Bukankah sekarang ini banyak juga sekolah kristen yang telah menjadi pusat bisnis pendidikan yang tersedia hanya bagi keluarga yang cukup kaya untuk membayarnya?

Barangkali, kita memang patut dimarahi Tuhan karena menjadi orang bebal yang tidak memikirkan bahwa kegelapan itu turun sesuai wahyu Allah, dan itu berarti kedatangan Tuhan sungguh sudah dekat. Apa yang dapat kita berikan sebagai pertanggungjawaban -- apakah kita akan menunjukkan laporan rugi laba dari Yayasan Kristen yang kita dirikan, menunjukkan betapa berhasil dan menguntungkannya usaha ini bagi Tuhan? Kita menyebutnya "bagi kemuliaan Tuhan" namun siapakah yang sebenarnya memperoleh hasil akhir dari segala kesibukan kita ini? Kita berpikir waktunya masih lama, masih panjang, dan bisa dihabiskan untuk mencapai impian yang jauh dan panjang.

Tetapi, waktu sebenarnya tidaklah berlangsung tanpa henti. Ada batas waktu bagi setiap orang. Ada batas waktu bagi dunia. Ketika Paulus menulis, itu adalah hari-hari yang jahat -- tetapi seandainya bisa mungkin Rasul Paulus akan lebih terkejut melihat betapa jahatnya hari-hari saat ini, lebih jahat daripada hari-harinya dahulu! Saat Paulus, kejahatan dimiliki oleh sekelompok kecil penguasa yang menjadi raja melalui kekuatan militernya dan orang ditindas oleh tangan orang lain. Jaman sekarang kejahatan dimiliki oleh semua orang, bahkan hanya oleh anak sekolah. Orang sekarang bukan hanya ditindas secara fisik, tetapi juga ditindas melalui informasi, ditindas secara ekonomi, ditindas secara hukum, bahkan ditindas oleh agama dan kepercayaan yang mencabut martabat manusia, seperti yang terjadi 10 tahun lalu di New York. Tuhan tidak akan membiarkan kejahatan terus berkuasa. Seperti pada masa Nabi Nuh, waktu adalah terbatas. Hanya orang yang sungguh-sungguh peduli, yang taat melakukan kehendak Bapa, yang melakukan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Tuhan sebelumnya -- mereka yang bergantung pada Tuhan akan mendapatkan apa yang tidak pernah dipikirkan atau diduga oleh manusia.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: