Minggu, 11 September 2011

Renungan Sehari - 11 September 2011


Ef 5:17-19 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.

Ada orang bilang bahwa kebodohan adalah bawaan dari sejak lahir. Ada yang terlahir bodoh, katanya, maka dia tidak dapat berpikir di sepanjang hidupnya. Memang ada orang-orang yang terlahir dengan kelainan pada syarafnya sehingga mengalami keterbelakangan mental, tetapi itu bukan berarti ia bodoh. Lebih tepat digambarkan, orang itu seperti terlahir dengan anggota tubuh yang tidak lengkap, dan sebenarnya tidak berarti ia tidak bisa melakukan apa-apa. Kebodohan dan kepandaian adalah hasil dari pilihan manusia. Ini adalah hasil dari pertanyaan, "apakah engkau mau berpikir agar mengerti?" Kecepatan pengertian bukan penentu kepandaian atau kebodohan -- ada orang yang cepat berpikir, ada orang yang lebih lambat berpikir, namun keduanya dapat sampai kepada pengertian yang perlu dipahami jika mereka mau. Sebaliknya, jika mereka tidak mau berpikir, "tidak mau pusing," maka sampai kapanpun mereka tidak akan mengerti.

Ada hal yang mudah dimengerti karena nampak dengan jelas, bisa diamati, bisa dipegang, bisa dibongkar, dipotong, dan ditelusuri cara kerjanya. Ada hal yang tidak mudah dimengerti, membutuhkan banyak usaha dan pemikiran karena tidak kelihatan -- bukan berarti yang tidak kelihatan itu tidak ada di sana. Ada hal-hal yang sangat besar, sehingga mustahil bisa dipahami manusia. Pertanyaan seperti, "seperti apakah Allah?" tidak mungkin dijawab dengan tuntas karena kapasitas manusia tidak mungkin cukup untuk mengerti tentang keberadaan Allah semesta alam. Namun Allah mengijinkan manusia untuk mengerti sebagian hal, misalnya tentang apa kehendak Allah akan kehidupan manusia. Dia mengungkapkan diri-Nya melalui tiga cara; pertama melalui langit dan bumi ciptaan-Nya, kedua melalui wahyu tertulis yang diberikan, Alkitab, dan ketiga melalui cara khusus saat Tuhan secara khusus berbicara kepada seseorang, atau satu bangsa. Kadang Tuhan menunjukkannya dengan jelas, tetapi sering kali tidak gampang memahaminya. Masalahnya, kita mau berusaha untuk mengerti atau tidak?

Ketika orang tidak mau mengerti dengan nalarnya, ia menanggapi dengan emosinya. Saat orang tidak mau tahu ada apa dibalik hal-hal yang terlihat, ia meletakkan diri dibawah pengaruh apapun yang dapat didengar, dilihat, diraba, dirasa, dan diciumnya. Jika orang tidak memakai kepalanya, ia tidak dapat mengerti apa yang Tuhan kehendaki, sebaliknya tawaran dunia seperti alkohol -- anggur yang memabukkan -- terasa lebih enak, lebih menyenangkan, dan membangkitkan hawa nafsu. Kalau orang menerima tawaran dunia untuk jatuh dalam keadaan mabuk, maka kemampuan berpikirnya semakin hilang dan ia menjadi bodoh. Apa yang kita pilih? Bukankah lebih baik kita memakai nalar dan menolak tawaran untuk menjadi mabuk?

Yang menarik adalah, bahwa ternyata dalam keadaan sepenuhnya bernalar orang justru mendapatkan diri dipenuhi Roh. Kita sering melihat bagaimana orang yang dipenuhi oleh 'roh' mendapatkan keadaan trance dengan mengulang-ulang membaca mantra, menyanyikan lagu yang iramanya seperti membius, dan kita menyebutnya ia sedang kerasukan. Sebagian orang menganggap bahwa jika Roh sedang memenuhi diri seseorang, maka seluruh keberadaan orang itu dikendalikan oleh Roh. Ia bisa tertawa-tawa, melompat-lompat, bahkan bergulingan di bawah kuasa roh. Tetapi kemudian, roh seperti apa yang menguasai manusia sedemikian rupa sehingga orang itu kehilangan kemampuan berpikirnya? Kalau orang sudah kehilangan kendali, apa bedanya dengan orang yang mabuk oleh anggur, atau teler oleh karena narkoba? Roh Allah tidak membuat orang mabuk! Roh justru membuat orang berpikir lebih baik, lebih tajam, lebih cepat. Roh menolong kita semua untuk mengerti apa kehendak Tuhan, menolong kita juga untuk melakukannya -- dan semuanya dikerjakan dengan berpikir serta memakai hikmat.

Hal lain dari keadaan dipenuhi oleh Roh dan berpikir cerdas adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Orang yang berpikir mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan pikirannya dengan orang lain, sehingga mampu memperoleh kesimpulan yang lebih baik. Sebaliknya orang yang kesurupan adalah orang yang hanya sendirian saja, ia tidak dapat berkata-kata dan bertukar pikiran dengan orang lain. Di dalam Roh, orang akan berpikir dan berbicara segala hal yang memuliakan Tuhan, entah hal itu adalah ungkapan kekaguman, pujian, atau suatu pengajaran, atau suatu teguran. Itulah yang digambarkan oleh Rasul Paulus: berbkata-katalah dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Dalam kita berpikir, kita menjadi mengerti bagaimana Tuhan bekerja di dalam dunia dan pengertian itu membuat kita memuji-Nya. Jika kita mengerti, kita memuji Tuhan dengan tulus. Jika kita tidak mengerti, maka pujian kita hanyalah bagian dari syair lagu belaka; kita berbohong saat menyanyikannya karena mengatakan apa yang tidak kita pahami. Apa gunanya pujian yang hanya mengulang-ulang seperti demikian?

Jika memuji Tuhan, jangan setengah-setengah. Tuhan sangat serius dengan karya-Nya, apakah kita mau bermain-main dan sekedar merasa lagunya enak didengar? Banyak orang sekarang menyukai lagu-lagu Kristen karena melodi dan musiknya, bukan karena pemahaman atau kata-kata yang diucapkan. Walaupun orang menyanyikannya dengan suara keras, ia tidak bernyanyi dan bersorak dengan segenap hati. Jika kita sungguh-sungguh ingin memuliakan TUHAN, yang kita harus lakukan adalah mengerti kehendak-Nya karena hanya dengan mentaati kehendak itu kita dapat memuliakan-Nya. Tidak ada orang yang dapat memuliakan Tuhan dengan caranya sendiri, seolah-olah dirinya adalah orang yang istimewa. Namun saat kita berusaha untuk mengerti, Roh memberi pengertian dan menolong kita untuk bekerja. Tuhan memuliakan diri-Nya sendiri melalui anak-anak yang mengasihi-Nya -- Tuhanlah yang bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya, yaitu orang-orang yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya!

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: