Ef 5:3-5 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
Setiap kehidupan mempunyai sisi yang berseberangan, di mana orang tidak dapat menerima kedua sisinya. Jika orang percaya pada kasih Tuhan, percaya bahwa dirinya sudah menerima anugerah keselamatan yang mengangkat hidupnya, memberi hidup kekal baginya -- maka orang itu tidak mungkin dapat menerima situasi di mana kegelapan dan kecemaran merusak hidup. Setelah Tuhan menyelamatkan hidup kita, bagaimana mungkin kita membiarkan dunia mencemarinya, seolah-olah kehidupan itu tidak ada harganya? Bagaimana mungkin kita bisa setuju dengan dunia yang melihat bahwa tidak ada harapan, tidak ada masa depan, karena itu mereka dengan rakus dan serakah berusaha memuaskan nafsunya sendiri?
Itulah masalahnya dengan dunia. Ketika masih kecil, kita mempunyai segala harapan dan keinginan. Pengalaman hiduplah -- yang seringkali terjadi sejak masih sangat kecil -- yang menghapuskan harapan dan keinginan itu. Sewaktu masih muda, kita menjadi orang yang "idealis" sambil berharap semua di dunia ini berjalan dengan seharusnya, semestinya, suatu kepastian yang mengikut aturan main. Pengalaman menunjukkan betapa naifnya pikiran "idealis" itu, dengan menunjukkan bahwa kenyataannya banyak hal tidak terjadi seperti seharusnya, tidak melakukan yang semestinya, dan tidak ada kepastian karena semua aturan main bisa dilanggar demi kepentingan masing-masing. Pengalaman mengajarkan bahwa di dunia ini kekuasaanlah yang menentukan apa yang benar dan salah. Kekuasaan itu sendiri bisa diperoleh melalui berbagai macam cara: merampas hak orang lain, menjadi orang kaya dan menyuap orang, dan bahkan menjual dirinya agar bisa terhubung dengan merekayang lebih berkuasa.
Perempuan-perempuan muda menggerakkan dirinya di tempat yang remang, dengan sinar laser yang berkelebat dan strobo yang berkedip-kedip, cukup untuk bisa melihat wajah tetapi tidak cukup untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan. Mereka meliukkan badannya di antara bapak-bapak yang kaya, atau menjadi pejabat, singkatnya menjadi penguasa. Sebagian dari mereka berharap kemolekan tubuh cukup untuk menarik perhatian, agar bisa mendapatkan keamanan dan pengharapan. Sebagian lagi datang dari kalangan yang kaya dan banyak harta, mencari kesenangan dari orang yang "setara" agar bisa mengisi diri mereka yang terasa hampa. Bagus jika bisa berhubungan dengan pejabat atau anak pejabat, karena paling tidak bisa melanggengkan kekuasaan yang sudah ada di tangan, bukan?
Pria-pria muda juga menjadi "orang gagah" yang bergerak di antara wanita-wanita tua yang kaya dan berpengaruh, dengan harapan yang kurang lebih sama: mendapatkan koneksi ke arah mereka yang berkuasa. Berharap di sana ada penghasilan, di sana ada jaminan keamanan karena mereka tidak melihat masa depan yang terjamin di tangan mereka sendiri. Tanpa koneksi, mereka tidak bisa maju. Tanpa pengaruh wanita-wanita yang mereka puaskan hasratnya, para pria muda ini tidak memandang dirinya berarti di tengah-tengah dunia yang bermain kekuasaan ini. Mereka menikmati peran mereka, menikmati rasa aman mereka, dan berusaha keras untuk mempertahankannya.
Apa yang mereka pikirkan? Apa yang mereka katakan? Tidak ada hal yang disebut "cabul", walaupun seluruh guyonan dan obrolan mereka berisi tentang pengalaman percabulan yang terjadi kemarin malam. Tidak ada hal yang disebut "cemar" walaupun mereka sudah berperilaku lebih rendah dari binatang. Tidak ada hal yang disebut "serakah" karena mereka tahu bahwa pada akhirnya semua orang berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya, merampas sebesar-besarnya segala manfaat dari kesempatan yang belum tentu akan datang kedua kalinya. Tidak ada pantangan, tidak ada aturan, karena kehidupan ini adalah bertahan hidup bagi yang paling pandai menyesuaikan diri. Di dalam dunia yang tidak ada Tuhan, tidak ada kepercayaan pada Allah semesta alam, yang ada hanyalah mengambil dan menikmati hidup sepanjang mungkin sebelum masuk ke liang kubur.
Perbedaan terbesar adalah mengerti bahwa ada kasih TUHAN sudah diberikan, bahwa ada pengharapan, sehingga kita menjadi orang-orang yang berbeda dari dunia. Itulah arti sebenarnya dari "kudus", yaitu dipisahkan, dikhususkan dari antara manusia lain di dunia. Sebagai orang-orang yang memiliki jaminan keselamatan, kita memiliki pengharapan yang pasti dan kokoh. Maka percabulan, kecemaran, dan keserakahan adalah sisi yang berseberangan, yang tidak dapat diterima dalam kehidupan yang kudus.
Bagaimana hal itu dapat terlihat? Keberadaan pikiran kita pertama-tama keluar dari perkataan: jangan ada perkataan yang kotor, kosong, atau sembarangan, sembrono. Kita menghargai kehidupan lebih daripada sekedar berjuang hidup -- orang-orang kudus telah memiliki hidup kekal. Kita adalah orang-orang yang menghargai, menilai tinggi kehidupan ini, dan tidak untuk dihina, dilecehkan, atau direndahkan oleh kata-kata yang tidak pantas. Kata-kata kotor adalah perkataan yang merendahkan kemanusiaan, misalnya dengan menyamakannya dengan binatang. Kata-kata kosong adalah segala macam hal yang buruk dan negatif, yang seperti ruang hampa akan menghisap segala hal yang baik ke dalamnya. Kata-kata sembrono adalah segala ucapan yang dikeluarkan tanpa dipikir terlebih dahulu, yang emosional, dan biasanya berisi umpatan dan makian serta sumpah serapah. Hanya orang-orang yang tidak menghargai kehidupan yang mengatakan itu semua. Orang-orang kudus, yang tahu bahwa hidupnya telah ditebus dengan sangat mahal, tidak akan mengatakannya. Perkataan orang kudus adalah kata-kata syukur, suatu ucapan terima kasih yang tulus dari dalam hati bagi TUHAN.
Tuhan tidak membuat Kerajaan Allah bagi orang-orang yang tidak dapat menghargai kehidupan. Mereka yang ingin senang sekarang, ingin memperoleh sekarang, yang tidak percaya bahwa ada masa depan -- mereka semua tidak dapat masuk Kerajaan Allah. Mereka yang merusak dirinya dengan persundalan, yang mencemari diri dengan segala macam hal untuk senang sekarang: obat bius, alkohol, atau rokok, dan mereka yang serakah mengambil semua untuk dirinya sekarang -- semuanya tidak menghargai apa yang sudah Tuhan beri. Mereka tidak dapat masuk Kerajaan Allah, karena menyembah berhala kehidupan saat ini.
Renungkanlah: inti dari semua yang Tuhan berikan adalah kehidupan yang kekal. Ketika kita memandang masalah kita lebih daripada hidup yang Tuhan beri, ketika kita memilih untuk bersikap tidak menghargai, bersikap untuk mengambil semua bagi diri sendiri serta bersenang-senang sekarang sebelum mati -- kita tidak lebih baik daripada mereka yang sedang membius dirinya dengan narkotika. Menjadi orang kudus berarti menghargai dan meninggikan kehidupan yang telah Tuhan tebus dengan darah dan nyawa-Nya, sehingga bersikap bertanggung jawab penuh.
Ingatlah, bahwa pada hari penghakiman, Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari kita semua.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Sabtu, 03 September 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar