Selasa, 06 September 2011

Renungan Sehari - 6 September 2011


Ef 5:8-10 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

Perubahan adalah nyata. Jika kita memasuki ruangan yang gelap, perubahan biasanya terjadi ketika kita menekan sakelar lampu. Seandainya kita sudah menekan sakelar namun ternyata ada kerusakan pada lampunya, tetap saja tidak ada perubahan, bukan? Jadi, bukan niat dan tindakan yang menjadi ukuran, melainkan kenyataan yang berubah. Demikianlah hal-hal diukur di dalam dunia. Bukankah demikian juga yang terjadi dalam Kerajaan Allah? Kebenaran terlihat di dalam kenyataan yang berubah; jika keadaan akhir semakin serupa dengan apa yang Tuhan kehendaki, maka perubahannya benar. Jika keadaan akhir tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tidak mentaati prinsip-prinsip dan asas-asas Firman Tuhan, maka perubahannya salah.

Masalahnya, manusia seringkali lebih melihat pada tindakan yang dilakukan, seperti tindakan menekan sakelar lampu. Jika orang mau masuk ruangan yang gelap, ia akan menekan sakelar lampunya -- jika lampu tidak menyala, ia akan mengusahakan terang di dalam ruangan. Tetapi dalam kehidupan seringkali orang merasa sudah cukup dengan melakukan sesuatu, tapi tidak peduli dengan perubahan apa yang terjadi setelahnya. Apakah kita sudah merasa cukup dengan hanya datang ke Gereja setiap hari Minggu? Apakah kita merasa cukup hanya mengikuti sebuah seminar yang bersemangat dan penuh berkat di Gereja, untuk dapat disebut "orang baik" di mata Tuhan?

Jangan salah: tindakan menekan sakelar adalah tindakan yang benar dan sudah seharusnya. Sudah seharusnya kita datang kebaktian di Gereja setiap hari Minggu. Sudah sewajarnya kita mengikuti seminar yang bersemangat dan penuh berkat di Gereja. Sudah semestinya kita melakukan hal-hal yang memang perlu dilakukan oleh setiap orang percaya. Tidak ada lampu yang akan menyala di ruangan yang gelap kalau tidak ada yang menekan sakelarnya. Tetapi, menjadi terang berarti membawa perubahan yang nampak dalam kenyataan. Dahulu kita adalah kegelapan, tetapi sekarang kita adalah terang di dalam Tuhan. Ada akibat yang nyata dari terang, ada yang membawa hal-hal baik karena membuat jalan menjadi nampak jelas dan tujuan dapat terlihat, ada juga yang membawa krisis karena terang juga menelanjangi perbuatan-perbuatan yang tadinya mau disembunyikan dalam gelap.

Ketika kita hidup sebagai anak-anak terang, perubahannya tidak mungkin gelap, serba manipulasi, serba korupsi. Firman Tuhan melalui surat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus ini sangat jelas: ada buah yang nyata dari kehidupan anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. Tidak ada kemungkinan terang menghasilkan penipuan atau manipulasi tersembunyi yang gelap dan jahat. Hal-hal ini belum tentu berkaitan dengan rasa senang atau gembira dari manusia, karena mungkin saja ada orang yang lebih senang bila rahasianya tidak terungkap dan dustanya tidak terbongkar, karena dengan demikian ia bisa memperoleh lebih banyak keuntungan. Di antara para penipu, mereka berkata-kata seolah hidup sepenuhnya dalam terang tetapi langkah yang mereka ambil, perubahan yang mereka ciptakan adalah kejahatan dan ketidakadilan dan dusta. Meskipun demikian, mereka tetap saja berkata-kata dan berdalih bahwa semuanya benar, bahkan kalau perlu mengutip beberapa ayat Alkitab.

Sebelum Tuhan melakukan sesuatu, bukankah lebih baik jika kita yang menguji apa yang berkenan kepada Tuhan? Tuhan menginginkan terang. Lihatlah lampunya, apakah menyala? Tidak perlu menunggu Tuhan bertindak atas dasar kuasa-Nya dan ketegasan-Nya, karena kita membandel melawan kehendak Bapa di Surga. Jika kita berdusta, dapatkah kita mendustai Allah? Lebih tepat, kita merendahkan diri dan menguji setiap hal yang disebut "berkenan kepada Tuhan" -- memastikan bahwa itu bukan sekedar kata-kata kosong belaka. Firman Tuhan cukup memberi dasar-dasar agar kita bisa peka dan tahu tentang kehendak-Nya. Apa yang diberikan-Nya, Roh Kudus yang menyertai kita, cukup untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Tinggal kita harus bersikap menerima tuntunan Tuhan, tidak membuat acuan sendiri.

Mari, kita membuat perubahan yang menyenangkan Tuhan.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: