Ef 5:11-13 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
Setiap orang bisa memilih untuk melakukan sesuatu. Ada yang memilih untuk melakukan hal-hal yang jujur, benar, kerja keras. Yang lain memilih untuk berbohong, manipulasi, dan membiarkan dirinya menjadi malas. Yang pertama melakukan perbuatan terang. Yang lain melakukan perbuatan gelap. Lalu, orang dunia mengatakan bahwa tidak ada yang benar-benar hitam dan putih, semuanya serba abu-abu. Orang bisa melakukan apa yang terang dan apa yang gelap secara bergantian, di mana hidup adalah "keseimbangan". Jadi bisa saja melakukan sedikit kecurangan, sedikit manipulasi di sana sini, asal kemudian juga berbuat amal dan perbuatan baik untuk mengimbangi. Lebih baik lagi kalau perbuatan baiknya lebih banyak daripada kejahatannya. Hanya, orang sebenarnya tidak bisa mengukur apa yang jahat dan apa yang baik. Satu perbuatan terang dilakukan dengan susah dan diperhitungkan benar. Sepuluh perbuatan gelap dilakukan sambil tertawa-tawa, itupun masih dirasakan kurang dan merupakan hasil "membatasi diri".
Dunia membohongi kita ketika mengatakan soal keseimbangan dan apa yang abu-abu. Yang dilakukan dunia adalah membahas satu buah tindakan berdasarkan kepentingan manusia-manusia di sekitarnya dan terlepas dari konteks keseluruhannya. Saat sebuah tindakan dilakukan, misalnya membohongi teman, selalu ada orang yang tidak suka, juga orang yang menyukainya. Kalau orang yang menyukai kebohongan itu adalah seorang yang memiliki kekuasaan, memegang jabatan, serta berpengaruh maka tindakan yang menyukakan hati itu menjadi tindakan yang "benar". Sebaliknya, jika orang yang lebih berkuasa tidak menyukai tindakan itu, apa yang dilakukan menjadi hal yang "salah". Dunia mengatakan abu-abu karena akhirnya setiap tindakan bisa dinilai benar dan salah, menjadi relatif berdasarkan kekuasaan yang menilainya. Kekacauan pemikiran dunia terjadi karena dunia tidak mengakui TUHAN, yang benar-benar mengetahui dan kelak akan menilai dengan adil.
Kebohongan dunia yang kedua adalah mengabaikan kenyataan, bahwa tindakan gelap sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa, sebaliknya akan menghisap habis semua yang ada. Tidak ada keseimbangan dalam hal ini: satu saja perbuatan gelap cukup untuk menelan seluruh hasil perbuatan baik ke dalam lubang hitam tanpa dasar. Ketika seseorang turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, dia juga kehilangan seluruh upaya terangnya. Karena akibat dari perbuatan gelap itu sangat hebat, maka orang akan berupaya keras untuk menutupi perbuatannya dan menyembunyikan tangan dari akibat yang terjadi. Itu adalah "lempar batu, sembunyi tangan" dan menarik orang untuk lebih dalam berada di bawah bayangan yang gelap agar tidak terlihat. Ketika hal demikian terjadi, para pembawa terang menjadi musuh yang menyebalkan, karena terang mereka menelanjangi perbuatan gelap.
Apakah kita menjadi pembawa terang? Bersiaplah dimusuhi oleh orang-orang yang berbuat kegelapan -- alternatifnya kalau tidak mau dimusuhi maka terang yang dibawa itu harus ditutupi atau dipadamkan. Kalau kita menutupi terang, maka kita bisa bergaul dengan mereka, bercakap-cakap dalam obrolan kegelapan mereka, dan tidak lagi merasa malu untuk menyebutkan apa yang diperbuat orang di tempat yang tersembunyi. Apakah kita merasa malu, atau malah menyukai segala kegelapan yang kelihatannya mengasyikkan karena memenuhi segala dorongan nafsu? Tetapi kita juga tahu bahwa segala kecemaran itu merendahkan manusia, menghina martabat, dan juga menista gambar dan rupa Allah dengan bertindak seperti binatang... dan tidak ada satupun hal baik yang muncul dari sana. Kalau orang bicara pornografi adalah soal hukum, sebenarnya pornografi adalah tentang penistaan manusia yang luar biasa, yang disukai karena menyentuh hasrat badani yang terdalam sampai manusia bisa bertindak lebih liar daripada binatang liar. Pornografi adalah tentang manusia yang berbuat dosa terhadap dirinya sendiri, suatu hal yang memalukan, bahkan untuk dibicarakan.
Terang memperlihatkan perbuatan gelap apa adanya, menunjukkan apa yang asli dan tidak lagi tersembunyi, yang disimpan di dalam pikiran manusia yang paling tertutup. Ketika manusia merendahkan sesamanya, antara lain membuat perempuan menjadi objek yang yang dianggap bisa dieksploitasi, atau menganggap ras lain lebih rendah sehingga bisa diperbudak, atau menganggap orang yang berkepercayaan lain lebih buruk sehingga boleh ditumpas atas nama "allah", semua kegelapan itu menjadi nyata di bawah terang kebenaran Firman. Bahwa di balik itu ada keserakahan, ada hawa nafsu, ada kehausan akan kekuasaan yang tidak pernah berakhir. Tubuh manusia yang telanjang, entah itu laki-laki atau perempuan, sesungguhnya adalah indah dan baik di mata Tuhan, apapun rasnya, apapun latar belakangnya. Bukankah bagi pasangan suami istri, sukacita yang besar diperoleh ketika sama-sama bisa menikmati intimasi yang penuh terbuka? Tetapi pikiran yang merendahkan membuat gambaran ketelanjangan menjadi gambar yang kotor dan porno. Perbuatan gelap dimulai pada pikiran, bukan pada apa yang terlihat di matanya.
Segala hal yang diterangi, ditelanjangi oleh sang terang menjadi nampak -- itulah pertanda dari terang, yaitu terlihat. Tuhan sepenuhnya melihat segala hal sampai ke dalamnya; Ia menyukai tubuh telanjang yang diciptakan-Nya, namun Ia membenci pikiran dan perbuatan yang merendahkan, perilaku yang membuat manusia lebih rendah daripada binatang. Sinar terang Tuhan akan menyoroti segala hal memalukan -- terlalu memalukan untuk disebut -- dari segala keserakahan dan kebejatan moral, dan menunjukkan bahwa semua itu sia-sia. Dunia akan marah karena ditelanjangi secara demikian, tetapi kemarahan dunia tidak dapat menutupi cela yang jatuh atasnya. Di sini tidak ada "keseimbangan", karena orang yang bercela adalah orang yang bercela. Demikian juga, orang yang mati adalah orang mati, apapun penyebabnya. Jika terang itu bersinar atas diri kita, apakah yang nampak?
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar