Eph 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
Ucapan syukur senantiasa berkaitan dengan sikap merendahkan diri. Coba renungkan: bukankah ucapan syukur merupakan suatu pengakuan akan keterbatasan diri sendiri? Karena kita terbatas, maka kita mengalami ketidakmampuan padahal kita masih membutuhkan. Maka, pertolongan Tuhan membuat apa yang kita butuhkan itu tersedia -- dan kita mengucap syukur. Jika kita tidak mengalami ketidakmampuan, maka diri kita sendirilah yang dianggap dapat memperoleh apa yang dibutuhkan itu -- maka kita tidak akan merasa perlu mengucap syukur. Kalaupun mulut kita mengucap syukur, hati kita tahu bahwa itu hanya basa basi ritual, suatu ungkapan yang dikeluarkan sebagai sikap 'saleh' yang baik di mata orang lain. Hanya jika kita benar-benar tidak mampu saja, kita sungguh-sungguh mengucap syukur; sebaliknya ucapan syukur menjadi pengakuan keterbatasan diri sendiri.
Ucapan syukur juga menyatakan bahwa sebenarnya kita tidak pantas untuk menerima apa yang kita terima. Tidak ada alasan bagi Tuhan untuk memberikan karunia-Nya, selain dari kasih-Nya yang besar. Kalau kita menerima segala hal baik dari Tuhan, itu adalah pemberian dan bukan upah. Orang tidak bisa sungguh-sungguh mengucap syukur atas upah, karena apa yang disebut "upah" merupakan bagian dari pertukaran atau transaksi. Bisa saja orang merasa sudah berjasa bagi Tuhan karena sudah melakukan hal-hal berat dan besar. Karena ia sudah bekerja keras, maka sewajarnyalah Tuhan memelihara hidupnya, bukan? Walau ia rajin berdoa dan rajin mengucap syukur, namun ia memahami segala sesuatu adalah upah atas segala pekerjaan dan pelayanannya bagi Tuhan. Sudah sepantasnya Tuhan membayar upah orang yang bekerja, bukan? Maka, ucapan syukur itu lebih tepat disebut ucapan terima kasih, sama seperti yang dikatakan seorang pegawai kepada bosnya saat pembagian upah. Hanya basa basi, karena kalau si bos tidak membayar sesuai perjanjian, sang pegawai bisa marah-marah. Begitu juga orang bisa marah-marah kepada Tuhan karena merasa mendapatkan upah lebih sedikit daripada yang sudah dikeluarkannya.
Ucapan syukur itu sendiri mempunyai konteks yang jelas, yaitu disebutkan secara terus menerus atas segala sesuatu. Artinya, ucapan syukur menyatakan bahwa seluruh kehidupan adalah karunia. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan sudah menolong kita dalam hal pertama dan kedua, sedangkan hal ketiga dan keempat merupakan hasil kemampuan kita sendiri. Kita seperti mau mengatakan, bahwa segala perkara di hari Minggu adalah sesuatu yang "diluar jangkauan" dan patut disyukuri, sedangkan apa yang ada di hari Senin sampai Sabtu adalah perkara bisnis dan dagang yang benar-benar kita kuasai, jadi kita tidak pernah benar-benar bersyukur atasnya. Sikap seperti ini sama sekali tidak benar; sesungguhnya segala sesuatu yang benar, baik, dan kudus selalu ada di luar jangkauan manusia yang berdosa, baik di hari Minggu, Senin, Selasa, dan seterusnya sampai Sabtu. Coba renungkan, apakah yang benar-benar dapat kita bangun dalam hidup, jikalau kita tidak diberi oleh Tuhan? Kalau kita mau merusak, itu mudah. Kalau kita mau berkelahi, atau berperang, atau merusak alam, itu tidak memerlukan banyak hal. Tetapi untuk membangun sesuatu, manusia membutuhkan karunia Ilahi dalam hikmat dan pengertian.
Kita tidak dapat menyebutkan ucapan syukur tanpa menaruhnya dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Segala karunia yang kita terima, mengalir karena Tuhan Yesus Kristus. Hanya karena karya Kristus, ada satu jalan menuju Bapa di Sorga. Kita tidak berbuat baik untuk menemukan jalan ke Sorga. Kita berbuat baik karena kita telah memperoleh jalan ke Surga dan sekarang kita mau berjalan melaluinya. Kita selalu disertai oleh Roh Kudus, yang diutus oleh Bapa dan Anak, bersama-sama ke dalam dunia. Tuhan Yesus Kristus adalah segala-galanya di dalam hidup, yang memampukan kita untuk berbuat benar dalam segala hal. Maka, kita mengucap syukur dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. Hanya dalam Tuhan Yesus Kristus.
Masalahnya, semua hal-hal dalam mengucap syukur ini memang merendahkan diri kita di hadapan Allah. Ada orang yang mau merendahkan di hadapan Allah selama ia bisa meninggikan diri di hadapan manusia. Tetapi, bagi Allah kondisi tersebut tidak masuk akal: jika orang benar-benar merendahkan diri, ia juga akan merendahkan diri di hadapan sesama manusia -- paling sedikit orang akan merendahkan diri di hadapan orang yang paling dekat dengannya, yaitu istri atau suaminya. Kenapa istri atau suami? Karena tiga alasan. Yang pertama, istri atau suami seharusnya mendampingi seluruh waktu dalam kehidupan kita. Yang kedua, istri atau suami merupakan orang yang mengalami segala hal, yang baik maupun yang buruk, bersama-sama. Yang ketiga, Tuhan yang telah mempersatukan suami istri, maka Tuhan juga memandang pasangan sebagai satu kesatuan.
Ketika suami atau istri merendahkan diri, pasangannya juga harus turut tunduk dalam merendahkan diri. Alasannya bukan karena takut kepada pasangan, melainkan karena baik suami maupun istri sama-sama takut akan Kristus. Sikap tunduk dan merendahkan diri ini memungkinkan ucapan syukur yang tulus, sekaligus membentuk sikap dari suami dan istri untuk saling merendahkan diri satu sama lain. Tidak mungkin merendahkan di hadapan Kristus sambil meninggikan diri terhadap pasangannya sendiri, kecuali orang itu bersikap munafik dalam ucapan syukurnya. Tentu saja, Tuhan mengetahui isi hati manusia sampai sedalamnya.
Hubungan suami istri menjadi istimewa karena bisa menjadi ukuran dari ketulusan dalam pengucapan syukur. Ini adalah hal yang penting, karena ucapan syukur juga menjelaskan bagaimana hubungan kita dengan Tuhan dan sejauh mana kita memahami maksud dan tujuan Tuhan di dalam kehidupan kita. Mengucap syukur dengan tulus adalah hasil dari hubungan yang diikat dalam Kristus. Sungguh, betapa hati kita bersyukur!
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar