Minggu, 04 September 2011

Renungan Sehari - 4 September 2011

Ef 5:6-7 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.

Siapa yang mau kita dengarkan? Secara alami ada banyak suara yang berkata-kata, dan tidak ada satupun yang bersedia untuk diabaikan. Ada yang menjadi pejabat dan merasa memegang kekuasaan, maka ia berharap orang mendengarkan kata-katanya. Ada yang menjadi guru dan beranggapan sudah seharusnya digugu dan ditiru, karena itu harusnya didengarkan. Ada yang menjadi teman dekat, sahabat akrab, dan syaratnya menjadi sahabat harus bersedia mendengarkan. Ada yang menjadi orang tua, maka dimanapun seorang anak harus mendengarkan orang tuanya, bukan?

Perilaku mendengarkan saja sebenarnya bisa dilakukan semua orang, dan tidak ada orang yang berubah karena ia mendengarkan. Orang bisa mendengarkan dan memikirkan, kemudian mengambil keputusan. Ada juga orang yang bisa mendengarkan, kemudian mengabaikan. Kita seringkali tidak bisa memilih siapa yang berbicara kepada kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita bersikap terhadap setiap perkataan yang kita dengar. Kesulitannya, orang yang berbicara juga seringkali menuntut pendengar melakukan sesuatu sebagai bukti mereka menerima perkataannya.

Misalnya saja seorang guru, yang akan menguji murid-muridnya atas segala hal yang dikatakan di depan kelas. Jika murid "tidak memperhatikan", maka ia akan mendapatkan nilai yang buruk. Seorang guru bisa mengajar apa saja, dan ia berharap semua murid menerima setiap kata-katanya sebagai kebenaran yang harus diterima secara bulat. Demikian pula ketika seorang pemuka masyarakat, atau pejabat, atau seorang kaya berbicara. Mereka ingin masyarakat mendengar, rakyat mendengar, dan orang-orang kecil yang hidupnya mereka atur mendengarkan dengan setia serta mentaati setiap kata-katanya.

Pikirkanlah ini: seorang pejabat setingkat menteri berbicara, diteruskan oleh direktur jendral, dilanjutkan oleh kepala kantor wilayah, disebarkan oleh kepala sekolah, diingat oleh guru yang menyampaikannya kepada murid. Kalau guru mengharapkan para murid mendengarkan dengan taat dan setia, kepada siapakah para murid taat? Mereka tidak diajar taat kepada guru, atau kepala sekolah, atau pegawai negeri di departemen pendidikan nasional. Murid disuruh taat kepada menteri, yang sebenarnya sedang menjalankan program politik dari Presiden atau dari partai politik, dalam agenda yang sudah disusun untuk jangka panjang dan meluas. Kita sudah mempelajari hal ini sepanjang sejarah orde baru. Siapa yang dapat memastikan bahwa hal serupa tidak terulang dalam masa-masa reformasi?

Sekarang, bagaimanakah sikap para murid? Mereka dituntut untuk mendengarkan guru. Mereka diharuskan menghafal bahan pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Mereka diharuskan menerima pelajaran, apapun yang diajarkan. Apakah memang mereka benar-benar harus menerima begitu saja semua yang dikatakan oleh guru, sekedar untuk menerima nilai yang baik? Dapatkah kita menerima bahwa kekuasaan yang menentukan kebenaran dari setiap pernyataan?

Kenyataannya, dari abad ke abad ada banyak sekali -- sebagian besar -- guru yang mengajarkan hal-hal yang salah. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mereka-reka segala perkara yang tidak dipahami, membuat perkiraan dan dugaan, serta mengajarkan pada para murid dan pengikut sebagai suatu kebenaran mutlak. Orang menyebutnya dengan berbagai istilah: "ilmu pengetahuan", "filsafat", dan "agama". Apapun istilahnya, hal yang serupa terulang lagi, berkali-kali. Dulu ilmu pengetahuan manusia mengatakan bahwa bumi ini datar; mereka salah. Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa matahari mengitari bumi; mereka salah. Filsafat epikurean mengatakan yang penting dan benar hanyalah apa yang enak; mereka salah. Filsafat komunis mengatakan bahwa yang baik untuk semua orang adalah semua serba sama dan iman serta Tuhan adalah candu masyarakat; mereka salah. Dalam hal agama, ada lebih banyak lagi, karena agama mereka-reka jalan untuk mencapai Tuhan yang tidak manusia lihat. Mereka beraka bahwa Tuahn ada di sini, atau Tuhan ada di sana, asal mau melakukan ritual begini dan begitu -- tapi sekali lagi, mereka salah.

Ketika orang mendapatkan Firman Tuhan, mereka mendapatkan kebenaran yang mutlak. Tetapi, kita harus mempercayai hal ini, karena tidak mungkin kita dapat membuktikan kebenaran tentang keselamatan -- tidak dapat, sampai kita sendiri menemui Tuhan setelah hidup di bumi ini berakhir. Yang ada pada kita sekarang ini adalah Firman Tuhan dan bukti-bukti bahwa segala peristiwa yang dijelaskan dalam Alkitab adalah benar, prinsip-prinsipnya benar, Masalahnya, setiap bukti yang ditunjukkan dapat ditafsir dengan cara yang sangat berbeda, karena setiap orang bodoh bisa memaksa dirinya untuk mempercayai apa yang ingin mereka percayai. Orang bisa memilih sendiri kebenaran mereka, bisa menentukan sendiri apa yang baik dan jahat menurut pikiran sendiri -- itulah dosa asali yang diwariskan oleh Adam dan Hawa!

Ketika kebenaran itu datang dan berkontradiksi dengan segala ajaran dan kepercayaan dan filsafat dan ideologi serta kepentingan -- pertanyaannya, mana yang kita akan dengarkan? Kita harus mendengarkan banyak suara, tetapi kepada apa, kepada siapa, perhatian kita ditujukan? Apakah kita mendengarkan Firman Tuhan, mendengarkan apa yang benar, prinsip benar, jalan yang benar?

Atau, kita memilih mendengar kata-kata yang terdengar hebat, canggih, rumit, tetapi hanya kemasan luar yang meriah -- sedang isinya sendiri adalah kehampaan dan kesia-siaan? Mereka berbicara tentang kekuasaan, pengaruh, kekayaan -- mereka yang berkata-kata itu dengan jelas memamerkan semua itu -- tetapi mereka sendiri hidupnya hampa. Kosong. Tidak ada maknanya untuk hidup, selain untuk memuaskan nafsunya sesaat selagi hidup. Itukah yang kita pilih?

Sedihnya, tidak sedikit orang-orang yang berkata hampa itu berasal dari kalangan orang Kristen, dari antara keluarga orang percaya. Kata-kata hampa muncul dari orang yang sejak pertama bermaksud mencari alternatif dari Firman Tuhan, hanya karena mereka tidak bersedia mempercayainya. Dan jangan salah: Allah sama sekali tidak menyukainya. Sebenarnya, Allah murka! Siapa yang tidak takut kepada Allah semesta alam?

Mungkin orang berkata-kata tentang sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan, yang mengajarkan bahwa tidak apa-apa memuaskan nafsu, memuaskan hasrat keserakahan atas kekayaan, karena bukankah itu yang diinginkan orang? Mungkin ada yang menggambarkan Tuhan itu seperti dewa pemberi berkah dan rejeki, asal manusia setia memberi persembahan dan sesajen padanya. Maukah kita mendengarkan hanya karena kita senang mendengarnya? Jangan mau disesatkan! Ingatlah kemurkaan Allah!

Lebih baik tidak perlu berkawan dengan orang-orang yang durhaka. Ya, serius sekali, jangan berkawan dengan mereka.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: