Sabtu, 26 Februari 2011
Renungan Sehari - 26 Februari 2011
Kamis, 24 Februari 2011
Renungan Sehari - 24 Februari 2011
Rabu, 16 Februari 2011
Renungan Sehari - 16 Januari 2011
Ef 4:1-2 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
Semua orang mempunyai peran. Di rumah, seorang anak menjadi anak dan seorang pria dewasa menjadi ayah. Di kantor, sang ayah menjadi manager -- dia mempunyai karyawan anak buah, mempunyai rekan-rekan sejawat, dan juga mempunyai atasan yang harus ditaati. Di gereja, ia mungkin menjadi bagian dari pelayanan, misalnya menjadi diaken, yang harus berkomitmen untuk melayani jemaat lainnya. Jadi, setiap orang mempunyai tempat, dan di tempatnya itu ada tuntutan peran yang harus dipenuhi.
Masalahnya, seorang pria yang berusia cukup tua ternyata tidak selalu dewasa; menjadi tua adalah alamiah namun menjadi dewasa adalah pilihan. Pria ini menjadi tua dan mempunyai anak, tetapi ia tidak menjalankan perannya sebagai ayah yang baik dan mendidik, sebaliknya ia mengumbar keegoisan dan memaksa semua anggota keluarga untuk hormat dan tunduk -- betapapun ada banyak alasan untuk tidak menghormati dan tidak mengikuti kemauannya yang aneh dan sesat itu. Di kantor, ia menjadi manager yang buruk karena bersikap serba menjilat dan manipulatif, bukan menjadi penyelesai masalah sebaliknya menjadi sumber masalah. Di gereja, ia menjadi orang yang berusaha "menegakkan aturan" dan menjadi hakim, bukan seorang pelayan, walaupun ia merasa telah menjadi pelayan Tuhan yang baik dengan melakukan hal itu.
Pada akhirnya, ada banyak orang yang melakukan apa saja sekehendak hatinya sendiri, memainkan perannya sesukanya, dan merasa bangga dengan itu. Anugerah yang diterima dari Tuhan menjadi pembenaran atas perasaan lebih tinggi, terpilih, dan patut lebih dihormati dibandingkan orang-orang lainnya. Tidak sedikit orang yang merasa bangga ketika telah menjadi ayah, atau manager, atau menjadi diaken di gereja -- di sisi lain, pilihan yang dibuat komunitas juga mencerminkan keyakinan itu: hanya orang yang "sukses", mempunyai kekayaan dan berpengaruh yang dianggap lebih layak untuk menempati posisi manager atau diaken, apalagi majelis. Dalam masyarakat yang meyakini demikian, sosok seorang pendeta bukan hanya saleh dan berkharisma, tapi juga seharusnya mempunyai kekayaan yang nyata: rumah dan mobil yang bagus, anak-anak yang sekolah di luar negeri, dan lain sebagainya. Anak-anak Tuhan seharusnya tampil sebagai orang-orang yang diberkati, bukan?
Bayangkan, apa jawaban mereka yang percaya pada berkat dan kebebasan berperan, ketika mendapat nasihat dari seorang hamba Tuhan di balik penjara. Tidak ada kekayaan yang bisa dibanggakan. Tidak ada pengaruh dari seorang yang hidup dipenjara, sekalipun bentuknya adalah penjara rumahan. Dan dalam hal ini, sang hamba Tuhan tidak mendefinisikan sendiri perannya. Ia tidak memilih bagaimana harus bersikap, atau memilih apa yang baik menurut pikirannya, menurut perasaannya sendiri.
Bukan berarti Paulus tidak tahu seperti apa rasanya kenikmatan menjadi orang yang berkuasa -- ia sudah tahu seperti apa rasanya. Sebagai orang yang dahulu penting, Paulus tahu seperti apa kesejahteraan yang dapat dinikmati orang yang dihormati, yang terpilih sebagai farisinya orang farisi. Paulus tahu bagaimana dahulu ia mendapatkan peran sebagai orang farisi, kemudian memaksakan aturan berdasarkan pendapatnya sendiri. Paulus sendiri -- dahulu waktu namanya Saulus -- yang meminta otoritas untuk "membereskan" orang-orang Yahudi Kristen di tempat-tempat jauh. Ia menjadi "pelayan Tuhan" namun pada akhirnya menjadi seorang diktator, sebelum Tuhan Yesus menghentikannya dalam perjalanan ke Damaskus.
Perbedaan antara manusia dan hamba Tuhan terletak pada responnya atas peran yang diberikan Tuhan. Anugerah, ketika diberikan kepada manusia, direspon dengan kebanggaan, dipajang di atas lemari pajangan, foto bersama Presiden dicetak besar-besar dan dipasang di ruang tamu. Anugerah, ketika diberikan kepada hamba Tuhan, direspon dengan ucapan syukur dan ketaatan, membuatnya lebih rendah hati dan melayani. Manusia yang menerima anugerah, merasa bisa menuntut orang lain untuk melayaninya, menghormatinya. Hamba Tuhan yang menerima anugerah, merasa harus melayani orang lain sebagai perpanjangan tangan Tuhan membagikan berkat.
Manusia, saat menerima Anugerah, menginginkan lebih banyak. Hamba Tuhan, saat menerima Anugerah, memberikan lebih banyak.
Apakah hidup kita berpadanan dengan panggilan Tuhan untuk menjadi hamba-hamba-Nya? Atau justru kita menonjolkan kemanusiaan, karena merasa menjadi manusia yang "lebih" dibandingkan orang-orang berdosa lain? Bukankah seharusnya kita menjadi lebih rendah hati, lemah lembut, dan sabar?
Kehidupan orang Kristen hanya berhasil jika sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia. Sekalipun orang terlihat kaya dan makmur diberkati, belum tentu ia diterima di hadapan Tuhan. Bukan orang yang berseru "Tuhan! Tuhan!" yang diterima, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa di Surga. Dialah TUHAN yang mengasihi, yang memberikan kasih karunia, dan betapa kita pun seharusnya memahami kedalaman kasih-Nya! Itulah hukum yang Tuhan berikan pada kita, hukum kasih. Dan ketika orang saling mengasihi, keegoisan tidak ada tempat. Menjadi farisinya orang farisi adalah sampah, kata Paulus, karena hal itu sama sekali tidak berguna.
Apakah kita menjadi bagian dari gereja yang kembali menegakkan doktrin dan kebanggaan, melupakan kasih mula-mula? Itulah yang terjadi dengan Efesus, dan betapa jemaat Efesus ditegur keras! Marilah kita menunjukkan kasih dalam hal saling membantu, bukan hanya omong-omong saja. Kasih itu memberi tanpa perlu dibayar. Kasih itu merendah karena mau melayani yang dikasihi, bukan supaya ditinggikan.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Minggu, 13 Februari 2011
Renungan Sehari - 13 Februari 2011
Sabtu, 12 Februari 2011
Renungan Sehari - 12 Februari 2011
Betapa mudahnya kita membeda-bedakan orang. Betapa dalamnya orang berakar pada apa yang diyakini, sehingga dengan kesadaran penuh sanggup membantai orang-orang lain yang dipandang berbeda kepercayaan, berbeda keyakinan -- sekalipun mengenakan atribut yang sama. Sama-sama mengaku Kristen, tetapi merasa tidak cocok satu sama lain. Sama-sama mengaku Islam, tetapi pengikut Ahmadiyah boleh diserang dan dibinasakan karena dianggap membawa kepercayaan yang "sesat". Sejarah manusia menunjukkan bahwa pembedaan dan penganiayaan ini tidak hanya terjadi di sini, tetapi juga dalam banyak tempat lain, dalam waktu-waktu lain, dengan satu alasan yang sama: "sesat".
Dalam satu hal yang mendasar, kenyataannya memang ada perbedaan antara satu kepercayaan dengan kepercayaan lain, sekalipun berada dalam satu agama. Kita menyebutnya perbedaan denominasi -- dan di sana harus dilihat bahwa memang ada hal-hal yang berbeda. Ada perilaku religius yang berbeda, karena berakar pada pendekatan yang berbeda, prinsip berbeda, dan teologia yang berbeda. Adalah suatu kebohongan jika kita melihat perbedaan, tetapi mengatakan bahwa semuanya sama saja. Berbeda adalah berbeda, tidak sama, tidak sejalan. Kesadaran akan perbedaan membutuhkan kejujuran, karena kita suka pada "kesatuan" dan "kesamaan", sekalipun hal itupun harus diteliti kembali. Benarkah memang sama dan menyatu?
Ketika orang menyadari perbedaan, muncul tantangan persepsi. Perbedaan yang terlihat membuat orang ditantang untuk membuktikan persepsinya, atau cara pandangnya. Misalnya, kita selama ini memandang bahwa "politik itu jahat" atau "pajak itu memeras". Ketika kita bertemu dengan seseorang yang mengatakan, "saya mau ikut politik" atau "saya mau bayar pajak", padahal kita tahu bahwa orang ini baik, jujur, dan bisa diandalkan -- apa yang kita pandang semula menjadi ditantang. Dalam satu sisi, jelaslah bahwa kita dan orang ini berbeda. Kita menganggap politik jahat, tapi orang baik ini mau ikut politik. Apakah berarti, bahwa politik itu sebenarnya tidak jahat? Atau, mungkin orang ini masih terlalu polos, lugu, dan agak bodoh karena tidak tahu jahatnya politik atau kerasnya pajak memeras?
Tantangan persepsi dapat dijawab dengan berbagai cara. Yang satu menjawabnya secara ilmiah: melakukan pengumpulan data, membuat analisa-analisa, dan membuat kesimpulan. Yang lain menjawab berdasarkan prinsip dan kepemimpinan: melihat apa tujuan besarnya dan mengukur apakah pandangan itu sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai. Tapi ada juga yang menjawab menggunakan emosinya, tanpa melakukan penalaran lebih lanjut, langsung memberikan perlawanan atas dasar "kesetiaan pada keyakinan agama" dan "orang percaya harus teguh imannya." Seperti apa cara kita menjawab tantangan persepsi?
Tantangan yang paling sukar terjadi ketika berhadapan dengan "label" yang dikenakan kepada orang-orang lain. Misalnya, orang memandang orang-orang Israel adalah penipu dan pembohong, penjajah yang jahat, yang harus dibasmi dari muka bumi. Inilah yang dijejalkan kepada anak-anak kecil di kota-kota timur tengah, juga kepada anak-anak di Indonesia. Hasilnya adalah keyakinan yang aneh tentang kejahatan orang-orang di seberang lautan yang tidak pernah dijumpai, namun dibenci setengah mati. Jika kita memikirkannya lebih jauh, maka kita mendapati bahwa keanehan itu juga terjadi pada banyak bangsa dan suku bangsa lainnya. Perjumpaan selama berabad-abad, sejarah relasi yang panjang (jika mau ditelusuri) tidak menghapuskan kecurigaan dan persepsi negatif mengenai orang lain.