Sabtu, 26 Februari 2011

Renungan Sehari - 26 Februari 2011

Ef 4:7-10 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia." Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. 

Manusia terlahir dengan kemampuan yang berbeda-beda. Lihat saja anak kecil: ada anak yang lebih dahulu pandai berjalan baru berbicara, ada pula yang sebaliknya pandai bicara baru bisa lancar berjalan. Ada yang pandai berhitung, lainnya pandai menghafal. Kita masih berdebat tentang apakah kesuksesan itu datang dari kelahiran, atau ditumbuhkan-kembangkan selama hidup. Ada yang bilang, 90% keberhasilan berasal dari pilihan dan perjuangan. Tapi ada juga yang menunjukkan -- seperti Malcolm Gladwell dalam "Outliers" -- bahwa tanggal lahir turut berperan penting menentukan keberhasilan. Jadi, mana yang benar? Kalau kita mau mempercayai "nasib" maka kita menerima bahwa kelahiran kita di tempat yang salah, di waktu yang salah, adalah sumber dari kegagalan dalam hidup.

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika orang-orang dikumpulkan dalam satu lokasi, misalnya di gereja. Di satu sisi, Tuhan menghendaki ada kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Namun dalam kenyataan, ada perbedaan-perbedaan, yang menimbulkan gesekan. Dan gesekan sosial seperti itu dapat menimbulkan luka-luka batin yang cukup serius untuk membuat orang tidak lagi mau datang ke gereja. Bagaimana bisa bersatu, ketika yang satu adalah pengusaha besar yang terbiasa mengatur dan yang lain adalah karyawan biasa yang sudah lelah diatur-atur di tempat kerjanya? Ada yang terpelajar dan mengerti banyak hal. Ada yang kurang berpengetahuan, tetapi sangat berpengalaman. Tambah dengan masalah kepribadian, di mana tidak semua orang mampu berkata-kata dengan tepat, atau mampu mendengarkan tanpa prasangka dan kecemburuan serta iri hati.

Seandainya saja, semua orang dengan setulusnya melayani Tuhan di gereja. Mungkin tidak akan ada sebanyak itu kepahitan dan kegeraman, perpecahan dan pertengkaran. Namun orang mengikuti aktivitas gereja karena berbagai alasan, dan tidak semuanya adalah demi melayani Tuhan.... meskipun tentunya kita juga tidak dapat menghakimi atau menilai niat dari seseorang yang datang ke gereja dan beraktivitas di tengah jemaat. Tetapi mungkin kita berpaling kepada Tuhan dan bertanya dengan penuh penasaran, jika Tuhan memang menghendaki kesatuan Roh, mengapa keadaan kita sedemikian berbeda-beda?

Tuhan yang membuat kita berbeda. Kepada masing-masing orang, ada kasih karunia yang dianugerahkan menurut ukuran-Nya -- sesuai takaran, tepat untuk tiap-tiap orang. Kenyataan ini membuat perbedaan penting: pertama, tidak ada yang dapat mengatakan dirinya lebih baik karena mempunyai takaran lebih besar dalam kemampuan. Itu adalah anugerah Tuhan, suatu pemberian yang diberikan bukan karena jasa atau keberhasilan manusia. Itu juga berarti tidak ada orang yang boleh merendahkan sesamanya, sekalipun mereka mempunyai takaran yang lebih kecil atau karunia yang tidak terlihat "hebat" di mata manusia. Yang kedua, tidak ada seorangpun yang dapat mengecilkan arti dari anugerah yang diterimanya, betapapun hal itu nampak sederhana. Setiap anugerah kasih karunia adalah hal yang besar, suatu hal yang penting.

Satu dasar yang kuat mengenai besarnya nilai dari kasih karunia Tuhan Yesus, adalah nas mengenai kenaikan-Nya. Perkataan "naik" hanya dapat dipahami jika Tuhan pernah tiba di bawah, di dasar yang paling rendah dari bumi. Kebenaran ini penting, karena jika Tuhan tidak sampai di bumi yang paling bawah, maka ada suatu tempat dimana Tuhan tidak "naik". Turunnya Tuhan bukan hal yang mudah, bahkan bagi diri-Nya sendiri. Maka, Tuhan tidak main-main dalam pemberian-Nya, Dia tidak bekerja setengah-setengah, tidak hanya ala kadarnya atau asal saja. Ketika Tuhan sampai di bagian paling bawah, Ia juga mengikat orang-orang yang dikasihi-Nya pada Diri-Nya sendiri agar mereka bisa dibawa naik. Kitalah yang diikat oleh Tuhan Yesus!

Pemberian yang Tuhan berikan adalah bagian dari ikatan yang dibuat-Nya -- itulah sebabnya anugerah kasih karunia itu begitu hebat, begitu penting, sekalipun kita manusia mungkin tidak memahaminya. Bagaimana kita bisa mengerti besarnya karunia Surgawi, sedang kita masih menilai secara duniawi? Kita berpikir tentang keberhasilan dan kekayaan di atas bumi ini. Kita berpikir soal pengaruh dan kuasa, kenyamanan hidup selagi ada di dunia. Kita menilai seperti, "ini karunia yang hebat, itu karunia yang biasa saja" berdasarkan akibat yang ditimbulkan karunia itu terhadap kehidupan di atas bumi. Mungkin, kita sepenuhnya keliru. Mungkin karunia yang nampak biasa saja, seperti kemampuan memperhatikan sesama dengan tulus, justru menjadi karunia yang paling penting untuk membawa orang ke dalam Kerajaan Sorga. Itulah tempat kemana Tuhan Yesus membawa kita sekalian.

Akan tiba waktunya, semua menjadi jelas. Ketika Tuhan Yesus naik sampai ke tempat yang paling tinggi, jauh lebih tinggi daripada segala sesuatu, Ia telah memenuhkan segala sesuatu. Lengkap, komplit, sempurna. Saat itu, semua perbedaan menjadi tidak berarti, selain bahwa semuanya berasal dari Tuhan, semuanya hebat, dan amat berharga. Saat itu perbedaan menjadi hal yang indah, ketika kita semua disatukan oleh Tuhan Yesus dalam Diri-Nya sendiri. Pemiikiran semacam ini tidak perlu menunggu lama, tidak harus menanti kita semua bersatu dengan-Nya. Ini bisa dimulai sekarang, saat ini juga -- ketika kita melihat bahwa walaupun kita berbeda-beda, namun semuanya adalah karya Tuhan juga yang memberi sesuai takaran-Nya. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Kamis, 24 Februari 2011

Renungan Sehari - 24 Februari 2011

Ef 4:3-6 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. 

Apa artinya menjadi satu?
Satu tubuh
Satu Roh
Satu pengharapan
Satu Tuhan
Satu iman
Satu baptisan
satu Allah dan Bapa dari semua.
Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Nah, itu adalah pengungkapan yang kuat, karena kebanyakan orang tidak menginginkan kesatuan semacam ini. Kebanyakan bisa menerima kesatuan yang terbatas, seperti "bersatu mengalahkan musuh" karena mempunyai kepentingan yang sama. Beberapa yang lain diikat oleh emosi, atau oleh satu misi (dan, kadang-kadang, satu visi) yang sama mengenai dunia di sekitarnya, seperti bersatu melestarikan alam. Tapi siapa yang menginginkan kesatuan dalam hal kepercayaan? Bahkan, yang sudah menjadi suami istri beda agama, yang tubuhnya secara fisik telah dipersatukan oleh kegiatan yang disebut "bersetubuh", tetap menghormati kepercayaan satu sama lain dan tidak memaksakan kesatuan. Dan disinilah kita menemukan hal pertama tentang kesatuan.

Bagaimana kesatuan terjadi? Melalui berbagai cara dan pengaturan, manusia membuat sesamanya bersatu dalam aktivitas. Contoh yang paling jelas adalah kegiatan baris-berbaris, di mana mereka bisa menyatukan derap langkah, sama langkahnya, arahnya, bahkan juga jarak langkahnya. Orang yang berbaris mengatur dirinya, atau dipaksa diatur, untuk mengikuti perintah pemimpin barisan. Kesatuan manusia adalah dalam aktivitas, melakukan suatu rencana bersama, gerak gerik bersama. Dari baris berbaris, manusia bersatu dalam organisasi, sampai disebut suatu "badan", atau "tubuh". Ciri-ciri dalam tubuh adalah: ada bagian-bagiannya, ada aturannya, dan ada kepemimpinannya. Orang bersedia masuk dalam suatu organisasi karena motivasi tertentu: ada yang menginginkan pendapatan, ada yang menginginkan pengaruh (atau dipengaruhi), ada juga yang sedang mengejar suatu idealisme.

Apakah gereja merupakan sebuah "tubuh"? Bisa ya, bisa juga tidak. Kalau gereja mempunyai anggota, memiliki aturan yang jelas, dan ada kepemimpinan -- kita dengan aman dapat menyebutnya sebagai "tubuh". Namun, seringkali organisasi gereja terdiri dari gedung, struktur organisasi, uang yang tersedia, orang-orang, dan kesepakatan bersama tentang aturan yang disebut Tata Gereja. Namun di sana tidak ada kepemimpinan, sehingga setiap orang mempunyai kepentingannya sendiri, keyakinannya sendiri, dan juga kesenangannya sendiri. Kalau dalam gereja minus kepempinan, tentunya lembaga gereja masih merupakan suatu organisasi, tetapi tidak tepat jika disebut sebagai "tubuh".

Yang menarik untuk direnungkan, yang disebut pertama kali oleh Rasul Paulus bukanlah soal tubuh, melainkan Roh. Bukan kesatuan tubuh, melainkan kesatuan Roh yang menggerakkan manusia diikat oleh damai sejahtera. Roh menjadi  dasar untuk motivasi manusia, karena Tuhan membuat manusia ingin mempertahankan Roh yang menyatu dengan tubuhnya. Jika roh terpisah dari tubuh, bukankah orang itu mati? Demi menjaga roh dan tubuhnya, orang berjuang untuk makan, minum, dan segala hal lain untuk bertahan hidup. Tetapi setelah itu, manusia juga menginginkan ketenteraman dengan orang lain, penerimaan dalam rasa cinta, hingga pada puncaknya termotivasi untuk menyatu dengan Sumber Kehidupan. Roh-lah yang sesungguhnya bersatu, bukan tubuh, sekalipun secara biologis kegiatan suami-istri disebut persetubuhan.

Dalam kesatuan, selalu ada kehadiran bersama. Namun, kita tidak dapat memastikan sebaliknya: jika hadir bersama-sama, belum tentu ada kesatuan. Seorang laki-laki dan seorang perempuan dapat dipersatukan dalam pernikahan, dapat menghabiskan sebagian besar waktu dalam satu rumah yang sama, namun tetap saja di antara keduanya tidak ada kesatuan. Sebaliknya di sana ada permusuhan, kepahitan, dan kemarahan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Sekalipun suami dan istri bersetubuh, mempunyai banyak anak-anak, roh mereka tidak menjadi satu, tidak ada ikatan damai sejahtera di sana. Mengapa demikian? Karena walaupun hidup bersama, impian mereka tentang masa depan berbeda. Keegoisan dapat menarik segala sesuatu bagi dirinya sendiri, entah di diri suami atau istri, menimbulkan harapan yang tidak melibatkan orang lain termasuk pasangannya.

Kesatuan Roh terjadi jika dan hanya jika ada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilan kepada setiap pihak. Orang beraktivitas, bersedia melakukan sesuatu dan termotivasi untuk sesuatu, adalah karena mempunyai pengharapan atas masa depan. Hanya orang yang mempunyai harapan yang masih hidup seutuhnya; tanpa impian atau kemampuan berharap, orang itu pada dasarnya telah mati walaupun tubuhnya masih hidup. Pengharapan adalah hal yang dipegang manusia atas masa depan yang belum diketahui akan datang seperti apa. Ketika sejumlah besar orang berkumpul bersama-sama, pengharapan yang sama menggerakkan orang untuk bekerja sama demi suatu masa depan yang lebih baik. Roh menginginkan kehidupan yang kekal; pengharapan terbesar yang dicari manusia adalah harapan untuk hidup kekal.

Bagaimana orang dapat berharap memiliki hidup kekal, kecuali dengan memohon kepada TUHAN yang menjadi sumber kehidupan? Masalahnya, di atas muka bumi ada banyak keyakinan, banyak pandangan mengenai sumber kehidupan. Satu-satunya cara yang masuk akal untuk memiliki kesatuan Roh adalah dengan memiliki keyakinan kepada satu Tuhan yang sama. Keyakinan ini melibatkan banyak hal yang harus dipercaya, tanpa dapat dibuktikan atau diteliti oleh manusia -- itulah satu iman yang sama. Untuk memiliki iman yang sama, manusia harus bersedia memalingkan pandangannya, bertobat dari segala kebiasaannya, menuju satu iman, kepada satu Tuhan. Demikianlah kita perlu dipersatukan oleh satu baptisan.

Kalau bicara satu baptisan, esensinya bukan tentang caranya dibaptis. Baptis adalah suatu tindakan penyucian, suatu 'penenggelaman' diri yang lama, pandangan yang lama, kepercayaan yang lama, untuk timbul kembali dalam iman yang sepenuhnya tertuju kepada Tuhan. Cara dibaptis tidak sepenting hakekat ini; sekalipun orang dibaptis dengan cara ditenggelamkan dalam air sungai Yordan, tapi jika ia masih memegang keyakinan yang lama, masih berpandangan menurut filosofi semula, maka baptis orang itu tidak bermakna lebih dari sekedar upacara agama. Sebaliknya, seorang yang hanya dibaptis dengan mempercik kepalanya dengan air, tetapi ia sepenuhnya berubah -- maka baptis itu mengubah seluruh hidupnya. Kita dipersatukan oleh satu baptisan, karena dengannya kita memiliki satu esensi yang serupa.

Pusat dari segala perubahan, tujuan dari semua perombakan, adalah memiliki Tuhan Yesus Kristus di tengah-tengah kehidupan. Namun Tuhan Yesus sendiri menunjuk kepada Bapa-Nya di Surga, karena Yesus dan Bapa-Nya adalah satu kesatuan. Kita sendiri semua dipersatukan dalam Tuhan Yesus -- akhirnya, kita semua dipersatukan dalam Allah, Dia yang di atas semua, oleh semua, dan di dalam semua -- ketika Roh Kudus turun dan berada di dalam kita, mengerjakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Roh Kudus satu dan sama, mengikat roh kita semua, dalam berbagai perbedaan kita, menjadi kesatuan di dalam Tuhan. Anda dan saya, betapapun sangat jauh terpisah, dipersatukan oleh Roh yang sama, membawa kepada perubahan hidup yang mempunyai arah sama, iman yang sama kepada Tuhan yang sama, dan mempunyai pengharapan yang sama. Bukankah hal itu indah?

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Rabu, 16 Februari 2011

Renungan Sehari - 16 Januari 2011

Ef 4:1-2 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

 

Semua orang mempunyai peran. Di rumah, seorang anak menjadi anak dan seorang pria dewasa menjadi ayah. Di kantor, sang ayah menjadi manager -- dia mempunyai karyawan anak buah, mempunyai rekan-rekan sejawat, dan juga mempunyai atasan yang harus ditaati. Di gereja, ia mungkin menjadi bagian dari pelayanan, misalnya menjadi diaken, yang harus berkomitmen untuk melayani jemaat lainnya. Jadi, setiap orang mempunyai tempat, dan di tempatnya itu ada tuntutan peran yang harus dipenuhi.

 

Masalahnya, seorang pria yang berusia cukup tua ternyata tidak selalu dewasa; menjadi tua adalah alamiah namun menjadi dewasa adalah pilihan. Pria ini menjadi tua dan mempunyai anak, tetapi ia tidak menjalankan perannya sebagai ayah yang baik dan mendidik, sebaliknya ia mengumbar keegoisan dan memaksa semua anggota keluarga untuk hormat dan tunduk -- betapapun ada banyak alasan untuk tidak menghormati dan tidak mengikuti kemauannya yang aneh dan sesat itu. Di kantor, ia menjadi manager yang buruk karena bersikap serba menjilat dan manipulatif, bukan menjadi penyelesai masalah sebaliknya menjadi sumber masalah. Di gereja, ia menjadi orang yang berusaha "menegakkan aturan" dan menjadi hakim, bukan seorang pelayan, walaupun ia merasa telah menjadi pelayan Tuhan yang baik dengan melakukan hal itu.

 

Pada akhirnya, ada banyak orang yang melakukan apa saja sekehendak hatinya sendiri, memainkan perannya sesukanya, dan merasa bangga dengan itu. Anugerah yang diterima dari Tuhan menjadi pembenaran atas perasaan lebih tinggi, terpilih, dan patut lebih dihormati dibandingkan orang-orang lainnya. Tidak sedikit orang yang merasa bangga ketika telah menjadi ayah, atau manager, atau menjadi diaken di gereja -- di sisi lain, pilihan yang dibuat komunitas juga mencerminkan keyakinan itu: hanya orang yang "sukses", mempunyai kekayaan dan berpengaruh yang dianggap lebih layak untuk menempati posisi manager atau diaken, apalagi majelis. Dalam masyarakat yang meyakini demikian, sosok seorang pendeta bukan hanya saleh dan berkharisma, tapi juga seharusnya mempunyai kekayaan yang nyata: rumah dan mobil yang bagus, anak-anak yang sekolah di luar negeri, dan lain sebagainya. Anak-anak Tuhan seharusnya tampil sebagai orang-orang yang diberkati, bukan?


Bayangkan, apa jawaban mereka yang percaya pada berkat dan kebebasan berperan, ketika mendapat nasihat dari seorang hamba Tuhan di balik penjara. Tidak ada kekayaan yang bisa dibanggakan. Tidak ada pengaruh dari seorang yang  hidup dipenjara, sekalipun bentuknya adalah penjara rumahan. Dan dalam hal ini, sang hamba Tuhan tidak mendefinisikan sendiri perannya. Ia tidak memilih bagaimana harus bersikap, atau memilih apa yang baik menurut pikirannya, menurut perasaannya sendiri.


Bukan berarti Paulus tidak tahu seperti apa rasanya kenikmatan menjadi orang yang berkuasa -- ia sudah tahu seperti apa rasanya. Sebagai orang yang dahulu penting, Paulus tahu seperti apa kesejahteraan yang dapat dinikmati orang yang dihormati, yang terpilih sebagai farisinya orang farisi. Paulus tahu bagaimana dahulu ia mendapatkan peran sebagai orang farisi, kemudian memaksakan aturan berdasarkan pendapatnya sendiri. Paulus sendiri -- dahulu waktu namanya Saulus -- yang meminta otoritas untuk "membereskan" orang-orang Yahudi Kristen di tempat-tempat jauh. Ia menjadi "pelayan Tuhan" namun pada akhirnya menjadi seorang diktator, sebelum Tuhan Yesus menghentikannya dalam perjalanan ke Damaskus.


Perbedaan antara manusia dan hamba Tuhan terletak pada responnya atas peran yang diberikan Tuhan. Anugerah, ketika diberikan kepada manusia, direspon dengan kebanggaan, dipajang di atas lemari pajangan, foto bersama Presiden dicetak besar-besar dan dipasang di ruang tamu. Anugerah, ketika diberikan kepada hamba Tuhan, direspon dengan ucapan syukur dan ketaatan, membuatnya lebih rendah hati dan melayani. Manusia yang menerima anugerah, merasa bisa menuntut orang lain untuk melayaninya, menghormatinya. Hamba Tuhan  yang menerima anugerah, merasa harus melayani orang lain sebagai perpanjangan tangan Tuhan membagikan berkat.


Manusia, saat menerima Anugerah, menginginkan lebih banyak. Hamba Tuhan, saat menerima Anugerah, memberikan lebih banyak.


Apakah hidup kita berpadanan dengan panggilan Tuhan untuk menjadi hamba-hamba-Nya? Atau justru kita menonjolkan kemanusiaan, karena merasa menjadi manusia yang "lebih" dibandingkan orang-orang berdosa lain? Bukankah seharusnya kita menjadi lebih rendah hati, lemah lembut, dan sabar?


Kehidupan orang Kristen hanya berhasil jika sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia. Sekalipun orang terlihat kaya dan makmur diberkati, belum tentu ia diterima di hadapan Tuhan. Bukan orang yang berseru "Tuhan! Tuhan!" yang diterima, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa di Surga. Dialah TUHAN yang mengasihi, yang memberikan kasih karunia, dan betapa kita pun seharusnya memahami kedalaman kasih-Nya! Itulah hukum yang Tuhan berikan pada kita, hukum kasih. Dan ketika orang saling mengasihi, keegoisan tidak ada tempat. Menjadi farisinya orang farisi adalah sampah, kata Paulus, karena hal itu sama sekali tidak berguna.


Apakah kita menjadi bagian dari gereja yang kembali menegakkan doktrin dan kebanggaan, melupakan kasih mula-mula? Itulah yang terjadi dengan Efesus, dan betapa jemaat Efesus ditegur keras! Marilah kita menunjukkan kasih dalam hal saling membantu, bukan hanya omong-omong saja. Kasih itu memberi tanpa perlu dibayar. Kasih itu merendah karena mau melayani yang dikasihi, bukan supaya ditinggikan.


Terpujilah TUHAN!


Salam kasih,

Donny

Minggu, 13 Februari 2011

Renungan Sehari - 13 Februari 2011

Ef 3:20-21 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin. 

Kasih Tuhan mempunyai efek samping yang tidak terduga. Ketika kita memikirkan tentang kasih Tuhan, betapa Tuhan itu mengampuni, menerima kembali manusia yang berdosa, sadarkah bahwa ada sesuatu yang hilang dari benak kita? Yang hilang itu adalah suatu kenyataan, bahwa sesungguhnya Tuhan itu harus ditakuti. Dia tidak menakutkan, karena kita tidak mampu melihat-Nya begitu saja -- dan persis itulah sebabnya kita harusnya gemetar memikirkan tentang Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Seharusnya kita berlutut -- kurang tepat, seharusnya bertiarap -- di hadirat-Nya. Kita memikirkan tentang kasih-Nya yang menggendong anak kecil, seorang gadis yang berdoa dengan tulus kepada Kristus. Tapi itu anak kecil. Jika sudah dewasa, kita tidak berdoa sambil digendong, bukan? Namun, berapa banyak yang masih bersikap kekanak-kanakan di hadapan Tuhan, karena Kasih Tuhan yang besar?

Betapa sering, karena kita menganggap kasih Tuhan sangat besar, maka kita mengambil alih kendali. Kalau Tuhan begitu baiknya sehingga barangkali mau saja menerima pertobatan dari si jahat itu, kita yang "lebih tahu lapangan" membutuhkan bukti-bukti pertobatan terlebih dahulu. Dalam kesempatan lain, manusia mengatakan bahwa tidak ada jalan pertobatan bagi sekelompok orang jahat itu, tidak bisa ada pengampunan bagi mereka yang begitu kejam dan menghancurkan, mereka patut dihukum mati. Karena kasih Tuhan besar, maka kita tidak bertanya terlebih dahulu kepada-Nya, karena kita tidak ingin diganggu oleh kasih-Nya. Sejarah manusia dan gereja menunjukkan, betapa sering orang yang mengaku sebagai orang saleh, justru menindas orang lain dalam nama Tuhan. Kasih Tuhan terlihat hanya tersedia bagi anggota gereja yang taat kepada pimpinannya; tidak tersedia bagi mereka yang tinggal di luar sana!

Di sisi lain, ada juga yang menerima kasih Tuhan yang besar sebagai tanda bahwa semua orang, semua kepercayaan, harusnya diterima. Karena kasih Tuhan itu begitu besar, maka semua orang diterima-Nya, sekalipun orang itu tidak bertobat atau percaya. Dikatakan bahwa rahmat Tuhan tersedia sama bagi setiap orang, bahkan semua allah sebenarnya adalah Allah yang sama, yang Maha Esa itu. Jadi tidak perlu lagi ada pembedaan, kita harus mengasihi semua orang dan tidak perlu repot-repot menjelaskan kabar baik dari Kristus. Kalau kasih Tuhan begitu besar, bukankah apapun pilihan kepercayaannya dia tetap diterima, asal berperilaku cukup baik juga? Tanpa sadar, manusia dengan cepat mewakili Tuhan dalam hal menerima atau menolak sesamanya. Dalam beberapa keadaan yang menyedihkan, bahkan orang Kristen yang liberal lebih lebar membuka tangan kepada orang yang berlainan iman, daripada membuka tangan bagi saudara sendiri yang dengan tekun memberitakan Injil.

Baik bersikap serba keras dan kaku dalam doktrin atau sebaliknya bersikap liberal dan serba-menerima, kita yang melakukannya lupa bahwa seharusnya kita takut akan Allah. Kita tidak dapat menggantikan TUHAN menjadi penentu nasib seseorang, atau nasib sebuah komunitas, atau nasib sebuah bangsa. Kita juga tidak dapat menukar standar yang TUHAN tetapkan, membuatnya menjadi serba-mudah dan serba-menerima tanpa konsekuensi dan komitmen. Tuhan tidak dapat dipermainkan! Kasih Tuhan besar dan dahsyat, mengubah kehidupan dan membelokkan jalan manusia. Bukan jalan-Nya yang berbelok mengikuti keinginan dan harapan manusia, melainkan kita semualah yang akan berbelok mengikuti-Nya, jika kita tetap berkomitmen untuk berada di dalam-Nya.

Itulah arti dari "kemuliaan". Sesuatu yang mulia, suatu "doxa", dalam bahasa Yunani, menarik segala sesuatu untuk mengikutinya, karena itulah hal terpenting dan terutama, paling tinggi dibandingkan seluruh hal lain. Tuhan Yesus Kristus sanggup melakukan segala sesuatu, jauh lebih banyak daripada yang dapat dipikirkan manusia. Jalan-Nya adalah mulia, terbentang di dalam kehidupan kita -- di dalam diri kita sendiri. Kuasa-Nya tidak bekerja diluar, melainkan di dalam kita. Bagaimana kita masih saja berani bersikap seolah-olah masih memegang seluruh kendali, masih bisa menepuk dada dan mengangkat dagu atas segala "kepandaian" dan "keberhasilan" kita? Tapi kita diam-diam mau mengambil kemuliaan itu dari-Nya.

Kalau kita bersikap keras dan saleh, saat kita menunjukkan kesalehan kepada semua orang lain, menuntut semua orang lain juga bersikap saleh -- mungkinkah kita sedang bermimpi bahwa orang-orang ini akhirnya kita kendalikan jalannya? Kita menjadi orang yang mulia sebagai penjaga kesucian, orang saleh yang menjadi teladan dan diikuti banyak orang lainnya. Kita menjadi imam dan mereka menjadi umat, yaitu umat milik kita.

Kalau kita bersikap humanis (serba manusia) dan pluralis (serba bermacam-macam), saat kita memperlihatkan kompromi kepada semua orang lain, mengajak semua orang untuk bersatu dalam persaudaraan manusia -- mungkinkah kita sedang bermimpi bahwa semua orang mau kita kendalikan jalannya? Kita menjadi tokoh pluralis yang dihormati, seorang yang bersikap terbuka dan mesti menjadi contoh bagi banyak bangsa lainnya. Kita menjadi selebriti dan mereka menjadi fans, yang mengidolakan kita.

Bagaimanapun jalannya, kita mengambil kemuliaan itu dari-Nya. Kita tidak takut pada Allah. Di dalam jemaat, bukan Kristus yang terbesar melainkan diri kita. Apakah kita sangka, karena kasih Tuhan begitu besar maka Dia berdiam diri saja? Orang yang bertanya, "mengapa Tuhan tidak menindak kejahatan, jika Dia benar-benar Maha Kasih dan Maha Kuasa?" perlu mengingat satu hal ini: jika TUHAN tidak menahan Diri-Nya oleh kasih-Nya yang besar, maka seluruh bumi sepatutnya hangus di hadapan-Nya, termasuk manusia yang menganggap diri baik dan bisa mempertanyakan-Nya!

Tuhan tidak berubah, dari dahulu, sekarang, sampai selamanya. Kemuliaan hanya patut diterima oleh TUHAN, di dalam jemaat dan di dalam Kristus, dimulai dari gereja pertama, kemudian diteruskan turun temurun sampai selama-lamanya. Tidak ada jalan yang sempurna, tidak ada pendapat atau pengetahuan yang bebas dari kesalahan manusia. Kasih Tuhan yang besar justru membuat kita harus berkomitmen untuk memuliakan Tuhan dalam segala perkara, sebagaimana seharusnya.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Sabtu, 12 Februari 2011

Renungan Sehari - 12 Februari 2011

Ef 3:18-19 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Betapa mudahnya kita membeda-bedakan orang. Betapa dalamnya orang berakar pada apa yang diyakini, sehingga dengan kesadaran penuh sanggup membantai orang-orang lain yang dipandang berbeda kepercayaan, berbeda keyakinan -- sekalipun mengenakan atribut yang sama. Sama-sama mengaku Kristen, tetapi merasa tidak cocok satu sama lain. Sama-sama mengaku Islam, tetapi pengikut Ahmadiyah boleh diserang dan dibinasakan karena dianggap membawa kepercayaan yang "sesat". Sejarah manusia menunjukkan bahwa pembedaan dan penganiayaan ini tidak hanya terjadi di sini, tetapi juga dalam banyak tempat lain, dalam waktu-waktu lain, dengan satu alasan yang sama: "sesat".

Dalam satu hal yang mendasar, kenyataannya memang ada perbedaan antara satu kepercayaan dengan kepercayaan lain, sekalipun berada dalam satu agama. Kita menyebutnya perbedaan denominasi -- dan di sana harus dilihat bahwa memang ada hal-hal yang berbeda. Ada perilaku religius yang berbeda, karena berakar pada pendekatan yang berbeda, prinsip berbeda, dan teologia yang berbeda. Adalah suatu kebohongan jika kita melihat perbedaan, tetapi mengatakan bahwa semuanya sama saja. Berbeda adalah berbeda, tidak sama, tidak sejalan. Kesadaran akan perbedaan membutuhkan kejujuran, karena kita suka pada "kesatuan" dan "kesamaan", sekalipun hal itupun harus diteliti kembali. Benarkah memang sama dan menyatu?

Ketika orang menyadari perbedaan, muncul tantangan persepsi. Perbedaan yang terlihat membuat orang ditantang untuk membuktikan persepsinya, atau cara pandangnya. Misalnya, kita selama ini memandang bahwa "politik itu jahat" atau "pajak itu memeras". Ketika kita bertemu dengan seseorang yang mengatakan, "saya mau ikut politik" atau "saya mau bayar pajak", padahal kita tahu bahwa orang ini baik, jujur, dan bisa diandalkan -- apa yang kita pandang semula menjadi ditantang. Dalam satu sisi, jelaslah bahwa kita dan orang ini berbeda. Kita menganggap politik jahat, tapi orang baik ini mau ikut politik. Apakah berarti, bahwa politik itu sebenarnya tidak jahat? Atau, mungkin orang ini masih terlalu polos, lugu, dan agak bodoh karena tidak tahu jahatnya politik atau kerasnya pajak memeras?

Tantangan persepsi dapat dijawab dengan berbagai cara. Yang satu menjawabnya secara ilmiah: melakukan pengumpulan data, membuat analisa-analisa, dan membuat kesimpulan. Yang lain menjawab berdasarkan prinsip dan kepemimpinan: melihat apa tujuan besarnya dan mengukur apakah pandangan itu sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai. Tapi ada juga yang menjawab menggunakan emosinya, tanpa melakukan penalaran lebih lanjut, langsung memberikan perlawanan atas dasar "kesetiaan pada keyakinan agama" dan "orang percaya harus teguh imannya." Seperti apa cara kita menjawab tantangan persepsi?

Tantangan yang paling sukar terjadi ketika berhadapan dengan "label" yang dikenakan kepada orang-orang lain. Misalnya, orang memandang orang-orang Israel adalah penipu dan pembohong, penjajah yang jahat, yang harus dibasmi dari muka bumi. Inilah yang dijejalkan kepada anak-anak kecil di kota-kota timur tengah, juga kepada anak-anak di Indonesia. Hasilnya adalah keyakinan yang aneh tentang kejahatan orang-orang di seberang lautan yang tidak pernah dijumpai, namun dibenci setengah mati. Jika kita memikirkannya lebih jauh, maka kita mendapati bahwa keanehan itu juga terjadi pada banyak bangsa dan suku bangsa lainnya. Perjumpaan selama berabad-abad, sejarah relasi yang panjang (jika mau ditelusuri) tidak menghapuskan kecurigaan dan persepsi negatif mengenai orang lain.

Saat terjadi peristiwa atau pengalaman yang menunjukkan kebaikan dari orang-orang yang kita labeli "jahat", tantangan persepsi yang muncul lebih sering dijawab dengan kecurigaan -- dikatakan bahwa semua kebaikan itu hanya pura-pura belaka. Bagaimana orang dapat mengatasi keyakinan yang berakar mendalam, kacamata hitam yang menggelapkan pandangan kepada orang lain, sehingga apapun yang mereka lakukan selalu dicurigai tanpa alasan?

Kasih. Itulah yang didoakan oleh Rasul Paulus bagi jemaat di Efesus. Paulus berdoa demikian bukannya tanpa alasan, karena ia tahu bahwa ada tanda-tanda orang Efesus akan kehilangan kasih mula-mulanya. Manusia kehilangan kasih ketika memakai persepsi negatif terhadap orang lain, namun pemahaman tentang betapa dalamnya kasih Kristus lebih besar daripada pengetahuan yang dijejalkan sejak masa kecil. Ketika kita menyadari betapa hebatnya kasih Kristus terhadap orang-orang yang dibenci, seperti kebencian terhadap Israel, bagaimana mungkin kita dapat turut membenci dengan cara serupa? Kristus mencabut setiap label "jahat" atau "baik" dari bangsa dan suku bangsa di dunia. Kejahatan bukanlah bagian dari ras, bukan sifat suatu bangsa. Tidak ada bangsa atau suku bangsa yang "jahat" atau "malas" atau "serakah". Hanya individu-individu yang jahat, malas, atau berkarakter buruk lainnya, di mana individu-individu buruk ada di setiap bangsa dan suku bangsa di dunia. Sebaliknya, TUHAN juga memilih orang-orang dari setiap bangsa dan suku bangsa untuk menjadi anak-anak-Nya, mereka diangkat dan diubah-Nya menjadi seperti Kristus, dipersatukan dalam-Nya.

Kristus menarik orang Israel, juga orang Arab atau Pakistan atau India atau Cina atau Indonesia -- kita bisa sebut semua negara di sini -- menjadi pengikut-Nya yang disebut "Kristen", artinya pengikut Kristus. Di manapun mereka berada, pengikut Kristus menghadapi tekanan yang sama dari dunia, karena dunia tidak mengenal Kristus serta tidak mengakui-Nya sebagai TUHAN. Hanya dengan bersama Tuhan kita sanggup menanggung tekanan itu, sekaligus melepaskan diri dari tantangan persepsi negatif terhadap orang lain. Saat kita dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah, kita mampu untuk memandang dari tempat yang lebih tinggi serta memiliki wawasan yang lebih jauh.

Sungguh, kiranya kita dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah! Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Selasa, 01 Februari 2011

Renungan Sehari - 1 Februari 2011

Eph 3:14-17 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 

Kapan kita berdoa, dan mengapa kita berdoa? Kita diajar untuk pertama-tama mengucap syukur, kemudian mendoakan orang yang mengajari kita, orang yang menjadi penopang kita, orang yang ada dalam lingkup pengaruh kita, dan berdoa bagi diri kita sendiri. Itu termasuk atasan dan bawahan, orang tua, guru, murid, keluarga -- istri/suami, anak -- juga Pemerintah. Beberapa memiliki sebuah daftar nama untuk didoakan, dan lihatlah betapa besar kuasa doa orang yang sungguh percaya! Baiklah. Apa yang kita pelajari dari tulisan Paulus saat ini bukan mengenai kuasa doa. Sebenarnya, kuasa doa tidak pernah perlu dipertanyakan, sama seperti kita tidak perlu bertanya-tanya tentang kuasa Allah.

Satu hal yang sering kita sebut, kita pertanyakan, kita gumulkan, adalah apa rencana Tuhan dalam hidup kita. Maka kita berdoa agar memperoleh pengertian, agar kita diberitahu tentang rencana atas diri kita. Bukan hal yang buruk jika kita berdoa tentang hal-hal ini; bukankah memang kita membutuhkan tangan Tuhan di sepanjang perjalanan hidup? Namun, ketika doa kita hanya berputar di sana, ketika dalam semua bagian doa terkandung kata "kita" atau "aku", ada baiknya kita merenungkan satu hal ini: apakah kita memikirkan rancangan TUHAN tentang dunia? Jika kita bertanya-tanya tentang rencana Tuhan bagi hidup kita, apakah kita telah mempelajari apa rencana Tuhan bagi dunia?

Kita tidak mengetahui apa rencana Tuhan bagi diri kita secara pribadi, karena hal itu tidak tertulis. Dibutuhkan kepekaan dan relasi yang akrab dengan Tuhan sampai seseorang dapat memahami rencana Tuhan secara pribadi baginya. Namun, kita dapat mengetahui apa rencana rahasia yang Tuhan telah susun bagi dunia, karena hal itu tertulis di Alkitab. Kita semua dapat membacanya. Kita semua dapat berusaha mengerti, atau paling sedikit memikirkannya. Yang dibutuhkan adalah ketaatan dan telinga seorang murid, jika kita mau belajar. Sayangnya, tidak semua orang ingin belajar. Banyak yang ingin mendapatkan apa yang mereka mau, memiliki sebuah "ideal" tentang apa yang baik dan mau dicapainya. Banyak yang mengharapkan berkat, bahkan menjadikan "berkat" sebagai ukuran iman, sedemikian rupa sampai anak Tuhan tidak boleh sakit, atau miskin, atau berkesusahan.

Entah apa yang akan dikatakan oleh para pencari berkat itu, jika disebutkan bahwa Rasul Paulus mengalami kesesakan untuk kemuliaan jemaat Efesus, yaitu orang-orang bukan Yahudi, yang menerima rencana rahasia Tuhan yang telah menetapkan mereka sejak sebelum dunia dijadikan untuk diselamatkan dalam Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana ukuran "berkat" dapat dipakai atas kenyataan hidup Paulus yang dipenjara, sedangkan ia sujud kepada Bapa agar iman jemaat Efesus diteguhkan?

Rasul Paulus tidak mengutamakan doa bagi "kita" atau "saya", berisi berbagai harapan atau permohonan -- bukannya tidak penting, melainkan bukan yang terpenting. Paulus menunjukkan kebenaran ini: pada akhirnya, apa yang TUHAN rencanakan, jauh lebih penting daripada apa yang kita rencanakan. Rancangan-Nya bukan suatu skema acak yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya, melainkan semua ada dalam rencana besar TUHAN bagi dunia, untuk mewujudkan kasih karunia TUHAN, karena begitu besar kasih-Nya bagi dunia. Bisa dibayangkan, bahwa ketika kita telah mengetahui rancangan TUHAN, masihkah kita memikirkan dan bertanya-tanya apa yang TUHAN inginkan pada kehidupan kita? Tidakkah cukup jelas bahwa seharusnya, kita yang menyesuaikan diri dengan rencana Tuhan, dan bukan sebaliknya?

Pengakuan pertama Paulus adalah mengenai kedaulatan Bapa, karena semua turunan di sorga dan bumi menerima nama-Nya -- itu berarti Bapa berkuasa atas seluruhnya. Kita bersama segala alam semesta, harus tunduk di hadapan-Nya -- maka betapa luarbiasa jika kita dapat memanggil-Nya Bapa! Yang Paulus harapkan dari Bapa adalah peneguhan oleh Roh di dalam setiap orang yang masuk dalam Kristus, supaya oleh iman Kristus diam dalam hati kita dan kita berakar serta berdasar di dalam kasih. Paulus tahu apa yang sedang mengubah jemaat. Paulus tahu, bahwa kasih mula-mula mulai hilang dari jemaat di Efesus. Pada akhirnya, jika orang tidak menaruh diri dalam rencana besar Allah, urusan gerejawi membuat orang terpisah dari orang lain, dan maksud rancangan TUHAN sama sekali tidak dijalankan -- sekalipun mereka merasa telah melakukan ritual dengan tekun dan disiplin.

Renungkanlah: rencana rahasia Allah adalah kasih karunia yang diberikan bukan hanya kepada Yahudi, tetapi juga bagi segala bangsa sampai ke ujung bumi -- seluruh dunia. Itu adalah kabar yang hebat, karena tiga alasan. Yang pertama, rencana itu menerobos batas-batas yang dibuat manusia atas dasar "kebudayaan". Yang kedua, berita itu mempunyai kuasa untuk secara mendasar mengubah kehidupan. Dan yang ketiga, berita Injil disertai oleh kuasa yang luar biasa, melampaui semua kuasa di dunia -- jika saja manusia bersedia meletakkan diri di dalam rancangan itu, mengambil bagian dalam rencana-Nya. Semua sudah ditetapkan, sudah dibuka -- walau masih menjadi rahasia terhadap orang-orang yang tidak menaruh peduli. Apa yang kita lakukan, setelah mengerti tentang rencana Tuhan?

Apakah kita bersedia mengikuti-Nya? Atau kita tetap berkutat dengan urusan kita sendiri? Sebenarnya, TUHAN memberi kebebasan, kehendak bebas, bagi anak-anak-Nya. Kita dapat memilih, dan kita harus bertanggung jawab atas konsekuensi pilihan. Kalau kita bertanya tentang apa rencana Tuhan, adakah itu muncul dari kepasrahan, atau kita diam-diam ingin lepas dari akibat suatu pilihan dengan cara meminta Tuhan yang memilih? Kita bisa memilih banyak bagian di dalam hidup kita, dan apapun juga pilihan itu, Tuhan memberkatinya. Namun makna hidup yang sesungguhnya kita alami, ketika kita memilih untuk masuk dalam rencana rahasia Allah, dalam kasih karunia, dan membagikan kasih Tuhan kepada dunia.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny