Kamis, 31 Desember 2009

Terusir

Kej 3:23-24 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Permulaan kehidupan manusia di dunia sekarang ini dimulai dengan pengusiran. Perubahan yang terjadi bukanlah hal yang menyenangkan – bayangkan, dari kemakmuran dan kebebasan dalam Allah, kini harus berjerih lelah sendiri di tanah yang ikut mengalami kutuk dosa. Maka, jangan heran kalau kehidupan selanjutnya juga dipenuhi oleh pengusiran-pengusiran, ketika manusia harus mengalami kenyataan pahit kehilangan kenyamanan dan kemakmurannya, menempuh kehidupan yang baru yang keras dan kejam. Itulah akibat dari dosa: yaitu manusia mati, terputus dari sumber kehidupan karena ingin menjadi seperti Allah.

Ketika manusia memakan buah yang menarik hati itu, dorongannya adalah mendapatkan pengertian seperti Allah. Sampai sekarang pun manusia masih membanggakan pengertiannya sendiri, bahkan dalam kesombongan berani membandingkan pendapat sendiri dengan Firman Tuhan. Menjadi bijaksana dan berhikmat adalah keutamaan manusia, yang semakin merasa diri sanggup menguasai apa saja, membuat apa saja di atas bumi ini – tidak butuh Tuhan lagi – dan di saat yang sama membuat berbagai kerusakan. Tuhan perlu menghalau manusia dan memasang penjaga agar orang tidak datang ke pohon kehidupan, karena nampaknya kematian adalah 'obat' satu-satunya untuk mencegah seseorang merusakkan terlalu banyak.

Jika orang sudah terusir, seperti apa jalan yang perlu ditempuhnya? Beberapa berpikir, kalau sudah terusir maka ia harus hidup mandiri. Mereka mengatakan, Tuhan yang menciptakan dunia ini sudah tidak mengurusinya lagi, sehingga manusia yang berkuasa melalui rasio dan kekuatannya. Tetapi pikiran ini membuat orang semakin jauh terpisah dari sumber kehidupan – berakhir dengan kematian yang paling dingin. Tidak ada kehidupan di luar TUHAN yang menghidupkan. Maka, jalan yang harus ditempuh adalah perjalanan kembali. Perjalanan pulang.

Apakah kita sudah ada dalam perjalanan pulang? Di saat kita membuat keputusan-keputusan yang merubah kehidupan, apakah keputusan itu membawa kita lebih dekat kepada Tuhan? Atau sebaliknya, justru kita semakin tenggelam dalam sikap "ini bagian saya sendiri, tanggungan saya sendiri" lengkap dengan kekhawatiran dan keputusasaan yang membayanginya? Dahulu, nenek moyang kita telah terusir dari Tuhan. Itu adalah pilihan mereka, keputusan mereka, yang akibatnya ditanggung oleh setiap orang yang terlahir di muka bumi ini. Namun bagi setiap orang yang percaya, ia dapat memilih untuk kembali, untuk pulang.

Maukah? Terpujilah TUHAN!

Kamis, 26 November 2009

Peringatan dan Keyakinan

Ibr 6:9-10 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.

Kata-kata yang diucapkan dapat mempunyai beberapa maksud dan tujuan. Ada yang dilontarkan sekedar basa basi. Ada yang mengekspresikan perhatian yang tulus, suatu bentuk empati yang membentuk persahabatan. Lebih serius, ada yang mengajar, menegur, memperingatkan. Lalu ada juga kata-kata yang diberikan dengan pisau di dalamnya, melukai pendengarnya – bahkan menikam dengan fitnah yang kejam. Yang satu menyenangkan, yang lain membuat sebal orang yang mendengarkan. Sayangnya, perasaan senang atau sebal saat mendengar itu tidak menentukan apa yang menjadi nilai dari kata-kata yang dilontarkan.

Bayangkan tentang kata-kata yang berbicara tentang murtad, tentang ladang yang sudah diurus dengan baik tetapi hanya menumbuhkan semak duri! Mendengarnya saja, rasanya tidak enak. Merenungkan bagian surat Ibrani ini tidak mudah – bisa dibayangkan bagaimana dahulu para penerima surat ini mengernyitkan dahi membaca mengenai kemurtadan. Bagaimana mungkin orang bisa murtad? Bukankah rasul Paulus mengajarkan bahwa orang diselamatkan karena iman, di mana Roh Kudus menjadi meterai – siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan? Penganiayaan, kesesakan, penderitaan, itu semua memang dialami tetapi tidak memisahkan kasih ilahi yang kita terima.

Bagi orang Kristen, kita belajar tentang kepastian keselamatan yang tidak diragukan. Tidak ada orang lain yang bisa merenggut keselamatan itu dari orang percaya, karena apapun yang mereka lakukan hanya sanggup menyentuh tubuh badani. Tidak ada yang dapat menyentuh Roh yang ada pada kita, bahkan sebaliknya roh mereka yang biasa menyiksa dan mengancam itu nampak kerdil dibandingkan sosok yang berlumuran darah sambil tetap memanjatkan doa pengampunan dosa bagi para perajamnya – itulah Stefanus yang dirajam (baca: Kisah Para Rasul, pasal 7).

Jadi, bagaimana sikap kita saat membaca dan merenungkan tentang kemurtadan? Mengapa surat ini begitu keras berkata-kata tentang para pendengarnya, yang diantaranya termasuk kita juga? Satu hal yang harus kita perhatikan, kenyataan bahwa peringatan ini diberikan menunjukkan bahwa kemungkinan untuk murtad itu tetap ada. Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa seorang manusia tetap bisa memilih untuk menolak segala sesuatu yang baik yang telah diterimanya, sebagai sebuah pilihan yang dibuat dengan sadar dan tanpa paksaan. Menjadi Kristen yang telah menikmati karunia Roh tidak menghilangkan kemungkinan orang ini membuang apa yang dimilikinya.

Kata-kata yang diberikan penulis surat Ibrani adalah perkataan yang keras, tetapi perlu. Kita perlu diperingatkan untuk menjaga pikiran kita sendiri, karena manusia bisa berubah dengan segala pertukaran pikiran sehingga apa yang semula nampak baik, tidak lagi diterima. Orang bisa berubah sedemikian jauhnya sehingga apa yang mendasar, yang fundamental, tidak lagi dilihat sebagai keharusan. Lihat saja, ada yang tidak lagi mau menikah, atau justru mau menikah dengan sesama jenis. Lelaki menikah dengan lelaki, perempuan menikah dengan perempuan. Ada yang masih mengaku sebagai Kristen, tetapi tidak mengakui Yesus adalah Tuhan. Ada yang aktif dan menunjukkan diri saleh, tetapi tidak ragu-ragu untuk berbuat licik dalam usaha.

Repotnya, saat kita berubah, yang kita lihat adalah lingkungan yang berubah. Seperti orang yang naik pesawat terbang, sepintas terasa dirinya diam sedangkan dunia yang melaju pesat di sekeliling. Kita berpikir bahwa diri kita masih seperti yang dulu, dunialah yang berubah. Padahal, dunia masih tetap sama – manusialah yang berubah. Itulah sebabnya John Calvin dahulu memperingatkan, agar gereja yang terbaharui tetap terus menerus dibaharui, agar kembali ke Alkitab dan dasar-dasar iman. Kalau tidak begitu, pada suatu hari gereja akan "menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman" dan tanpa terasa menjadi berbeda melalui proses perubahan yang tidak terasa.

Baiklah, gereja memang telah memperhatikan orang-orang kudus. Betul, gereja telah memberikan kebutuhan-kebutuhan baik fisik maupun fasilitas kepada mereka yang melayani jemaat. Itu adalah suatu pekerjaan yang baik, suatu perwujudan dari kasih kepada TUHAN yang dinyatakan kepada pendeta dan gembala serta penginjil – orang-orang yang mengabdi bagi Tuhan. Semua itu tidak akan dilupakan, karena Allah kita sungguh adil. Semua yang baik itu membuktikan bahwa ada hal yang baik yang dimiliki gereja, sesuatu yang mengandung keselamatan. Untuk setiap orang yang terlibat, mereka mempunyai bagian dari hal baik ini. Perbuatan dan pengorbanan orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah bukti yang tidak terbantahkan.

Karena itu, betapa ironisnya kalau yang sudah memiliki keselamatan itu kemudian membuangnya! Jangan heran dengan kata-kata yang keras, mengingat gawatnya situasi yang muncul dari kemurtadan. Kita diingatkan untuk tetap dalam Tuhan, karena setelah memiliki keselamatan belum tentu kita sendiri selamanya menginginkan keselamatan itu – apalagi setelah kita dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dunia yang memang tidak kenal Tuhan. Teguhkan tekad dan tetaplah berpegang pada Tuhan, seperti kita juga masih melayani orang-orang kudus sampai sekarang. Jangan berhenti, dan jangan menengok lagi ke belakang.

Terpujilah TUHAN!

Jumat, 13 November 2009

Hasil (Semak Duri)

Ibr 6:7-8 Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran.

Ada satu pertanyaan yang penting untuk dijawab. Jika Allah begitu mengasihi manusia, apakah Dia mengharapkan pamrih? Adakah Dia membutuhkan sesuatu dari manusia? Sama seperti para petani yang mengolah lahan pertanian, mereka menghabiskan waktu dan tetesan keringat, karena mengharapkan buah yang baik diterima dari tanah mereka. Begitukah maksud Tuhan terhadap manusia, bumi, dan segala isinya?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul dalam relasi antar-manusia. Terbuka atau tertutup, dinyatakan dengan kejujuran atau kebohongan, satu hal ini sering menjadi pokok dalam pikiran: ABS – Apa Buat Saya. Untuk hal-hal yang sepele dan murah, perhitungannya sederhana seperti ingin mendapatkan kesenangan bersama. Tetapi untuk hal yang lebih mahal, lebih menuntut dan butuh pengorbanan, orang akan bertanya lebih detail. Apa yang bisa diharapkan untuk diterima setelah berjam-jam kerja keras dan memeras pikiran?

Apa betul, orang bisa memberikan pelayanan kepada orang lain secara cuma-cuma? Jangan salah; dalam kompleksitas hubungan antar manusia, tidak selamanya orang mendapatkan sesuatu dari mereka yang dilayani. Ada orang yang melayani kaum miskin bukan dalam harapan agar orang miskin membalas budi melainkan agar Pemerintah menaruh lebih banyak perhatian dan uang. Ada juga yang mencari kesempatan agar dana-dana bantuan dikucurkan, sehingga mereka yang melaksanakan 'perbuatan baik' itu turut menerima bagian. Itulah manusia – tidak semua begitu, tetapi ini juga bukan hal yang asing, karena memang banyak yang begitu.

Sekarang, bagaimana tentang relasi antara manusia dengan Allah? Di sisi manusia, jelaslah banyak yang berusaha 'membujuk' Allah dengan persembahan dan kegiatan-kegiatan. Mereka melakukan itu karena mengharapkan sesuatu; ada begitu banyak hal yang bisa diminta kepada Allah. Bagaimana dengan sisi Allah, apakah yang diharapkan dari manusia? Apakah hal itu berkaitan dengan kebutuhan Allah?

Kita percaya, bahwa TUHAN, Allah semesta alam adalah Pencipta, Dia adalah Khalik langit dan bumi. Dalam kebijaksanaan dan hikmat-Nya, Tuhan menyusun segala yang ada berikut segala tujuan dan fungsinya. Mengapa Tuhan menjadikannya demikian? Itu adalah rancangan Allah, yang jauh melebihi pikiran manusia, dan yang menjadi objek bagi penelitian untuk 'ditemukan'. Begitulah kita mempelajari segala sesuatu, yang kemudian dirangkum sebagai 'ilmu pengetahuan'. Kita belajar bagaimana tumbuhan tumbuh, bagaimana binatang hidup, dan bagaimana manusia menemukan kemanusiaannya.

Adakah TUHAN mempunyai pamrih, ketika Dia menciptakan manusia serupa dan segambar dengan-Nya? Betapa kita tergoda untuk merasa diri lebih penting dan istimewa! Siapa yang masih merendahkan diri untuk melihat bahwa semua ciptaan memiliki ketergantungan kepada Pencipta, di mana esensi atau hakikatnya adalah memenuhi maksud dan tujuan yang mengikuti saat diciptakan?

Lihatlah: tanah menjadi tempat tumbuhan berakar dan bertunas. Air menjadi pelarut yang membawa berbagai zat, memungkinkan tumbuhan, binatang, dan manusia hidup. Lalu ada rantai makanan, serta berbagai mahluk yang bekerja menghancurkan sisa-sisa kematian, sehingga kembali menjadi tanah, menjadi siklus yang penuh. Di manakah posisi manusia?

Mudah saja. Kalau kita bisa membahas hal ini – ketahuilah bahwa satu-satunya mahluk yang dapat membahas dan mencoba memahami alam semesta adalah manusia. Manusia menyelidiki dan menguasai. Manusia menemukan alternatif dan kemungkinan, hingga dapat mengatur ulang segala sesuatu di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Demikianlah orang membuat 'penemuan' dan 'mencipta' – akhirnya memenuhi apa artinya segambar dan serupa Allah. Ini pun adalah rancangan-Nya.

Bagaimana jika ciptaan tidak memenuhi maksud dari penciptanya? Ketika manusia 'menciptakan' ladang, ia mengatur ulang tanah, menggemburkannya, memberinya pupuk, memberinya air, membersihkannya – hingga akhirnya ia menanam bibit dengan harapan kelak akan menerima hasil yang dibutuhkannya. Sebuah ladang terdiri dari tanah dan tanaman, yang berbeda situasinya dibandingkan padang semak yang belum digarap orang.

Ketika hujan turun, air tidak memilih kemana akan jatuh. Air jatuh ke atas padang semak, juga jatuh ke atas ladang garapan. Saat air jatuh ke atas ladang semak, tidak terjadi sesuatu yang bermakna bagi manusia – itu hanya membuat semak-semak menjadi lebih lebat. Tetapi ketika jatuh ke ladang, air hujan menjadi berkat karena memberikan pertumbuhan bagi tanaman, menjadi sangat bernilai bagi petani. Renungkanlah: bukankah hujan itu sendiri tetap sama? Tetapi karena ladang adalah tanah yang sudah digarap, ada harapan pertumbuhan, nilai yang berbeda.

Bagaimana seandainya tanah yang sudah digarap itu ternyata masih menghasilkan semak, serupa dengan padang semak di luar sana yang tidak berguna? Maka perlakuannya pun kurang lebih sama: petani membakar semak-semak – itulah tanah yang kena kutuk, yang terjadi sejak Adam jatuh dalam dosa.

Allah tidak mempunyai pamrih dari ciptaan-Nya, sebaliknya setiap ciptaan memiliki tujuan, setiap garapan mempunyai maksud. Allah bukan sekedar menciptakan, lalu meninggalkannya begitu saja, seperti orang yang iseng membuat sebuah mesin untuk bekerja lalu meninggalkannya tetap hidup di dalam gudang belakang. Tujuan ini mendefinisikan makna, menjadi ukuran nilai. Dia menginginkan ciptaan menghidupi maksud dan tujuan-Nya – dan begitulah alam bekerja, kecuali pada manusia yang bisa mengatur ulang kehidupannya menurut kehendaknya sendiri.

Bagaimana manusia memenuhi maksud dan tujuan Allah? Karena jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah. Seperti tanah menghasilkan semak dan duri, demikianlah manusia gagal di mata Tuhan. Manusia jadi padang semak duri.

Tapi, Tuhan tidak menyerah. Padang semak duri pun bisa dibuat menjadi ladang kembali. Manusia juga diselamatkan-Nya dengan harga yang sangat mahal – dengan daging dan darah Kristus. TUHAN mengasihi dunia ini sehingga Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Jika Tuhan adalah petani, dia sudah mengorbankan yang paling berharga demi tanah yang dikasihi-Nya.

Bagaimana seandainya manusia yang sudah diselamatkan itu ternyata masih menghasilkan semak duri, serupa dengan manusia di luar sana yang tidak kenal TUHAN? Orang yang sudah mengecap hal baik, menerima karunia yang istimewa – seperti tanah yang dipupuki dengan tekun, tapi toh memilih bersikap menentang dan menantang Tuhan. Itulah perbedaan antara manusia dan tanah: pada tanah, tumbuhnya semak duri adalah karena bibit semak terbawa angin dan jatuh di tanah yang sudah disuburkan. Itu bukan pilihan yang diambil oleh tanah, benda mati tidak bisa menolak apapun yang jatuh di atasnya. Tetapi manusia bisa memilih apa yang mau diikutinya.

Orang memang tidak bisa melarang burung yang terbang melintas di atas kepalanya, tapi dia bisa mencegah burung bersarang di sana. Bagaimana jika manusia itu ternyata sengaja memilih membiarkan kotoran menempel di kepalanya? Saat manusia memilih untuk tetap kotor – betapapun dia sudah diperkenalkan dan merasakan nikmatnya bersih – tidak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya tetap bersih. Berkat-berkat dari Allah sudah diterimanya, tapi ia tetap memilih untuk menolak Tuhan, menolak ajaran-Nya, menolak perintah-Nya. Ia memilih untuk berdamai dengan dunia dan menikmatinya – itu adalah pilihan yang dibuat manusia, menjadi semak duri bagi Allah.

Pertanyaannya: orang seperti apakah kita? Waktu kita berpikir tentang pamrih Allah, adakah kita juga berpikir bagaimana sikap kita di hadapan-Nya? Ini bukanlah tentang pamrih, melainkan tentang maksud dan tujuan, yang memberi makna kehidupan. Itulah kehidupan kita.

Minggu, 18 Oktober 2009

Murtad

Ibr 6:4-6 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Manusia adalah mahluk yang bebas untuk berpikir. Badan bisa diikat, mulut bisa dibungkam, mata bisa ditutup, tetapi pikiran tidak bisa dihentikan. Pikiran tidak terlihat, orang yang kelihatan begitu tenang dan damai mungkin memiliki pikiran yang bergejolak dan penuh pergumulan. Yang terlihat bijaksana dan berpengetahuan, bisa saja hanya merupakan topeng dan sandiwara untuk menutupi kecemasan dan kebimbangan, karena hati yang sebenarnya adalah serba-tidak-tahu dan serba-ragu. Tidak semua pikiran terwujud dalam tindakan, bahkan mungkin orang mempunyai dua atau tiga set pikiran yang berbeda, seperti mengikuti naskah-naskah yang sesuai dengan panggungnya.

Sementara manusia memainkan naskah di panggungnya, yang terlihat oleh Tuhan adalah hati manusia. Siapa yang bisa menyembunyikan isi hatinya dari Tuhan, Allah semesta alam? Kalau pikiran manusia dibukakan begitu rupa, siapa yang bisa menyangkal bahwa sudah seharusnya orang dihukum karena dosanya? Tetapi sebaliknya, justru TUHAN menyelamatkan! Dia memberi hati yang baru, keberadaan yang baru – itulah lahir baru. Dalam hati mereka kini ada pelita yang menjadi terang dalam pengertian, sekaligus memperoleh pengalaman-pengalaman rohani.

Bagi manusia, apa yang mereka dapatkan adalah karunia sorgawi – sesuatu yang tidak berasal dari bumi. Beberapa mendapatkan kemampuan khusus, seperti melihat dan membedakan roh, bicara berbahasa roh, mampu membaca pikiran, hal-hal supranatural lainnya. Tapi ada juga yang mendapat kemampuan yang lebih halus seperti mampu mengampuni kesalahan yang tidak terampuni, menjadi tetap berani saat orang yang paling kuat pun terbirit-birit lari ketakutan, atau mampu melepaskan semua keamanan dan kenyamanan demi melayani orang yang menderita di tengah medan perang atau tengah hutan – yang sekali masuk ke sana mungkin tidak dapat pulang lagi. Ini jelas bukan sesuatu yang berasal dari bumi!

Keberadaan karunia ini menunjukkan bahwa ada Roh Kudus yang menyertainya, karena apa yang bisa dilakukan manusia bukan berasal dari dirinya sendiri. Semua karunia itu dikerjakan oleh Roh yang satu yang mengerjakannya dalam semua orang. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Bagi manusia itu, ia diberi makan Firman yang dari Tuhan untuk terus hidup, menikmati makanan rohani yang lezat dan nikmat, memberi pengertian dan kepastian akan masa depan. Itu adalah suatu cicipan pengalaman tentang apa yang akan diterimanya di masa yang akan datang.

Bayangkanlah, bukankah manusia itu hidup karena visinya? Ketika orang sudah merasakan apa yang akan sepenuhnya diterima kelak, seharusnya ia menjalani kehidupan di jalur yang mengarah ke Sorga, bukan? Seharusnya dia berani berkorban sekarang, menderita sekarang, karena tahu bahwa semua bayaran itu masih lebih murah dan ringan dibandingkan kemuliaan yang diterimanya – bukankah begitu?

Tetapi, sekali lagi kita melihat bahwa manusia adalah mahluk yang bebas untuk berpikir. Sebagaimana penderitaan tidak dapat mengekang pikiran, ternyata kenikmatan dan kesejahteraan pun tidak dapat mengikatnya. Meskipun dalam kenyataannya ada orang-orang yang pikirannya berhasil ditaklukkan – entah oleh susah atau oleh senang – ada orang yang memilih untuk berpikir secara berbeda. Ini adalah pilihan yang sadar, yang diputuskan oleh orang itu sendiri.

Bagaimana orang berpikir? Ini adalah proses mengumpulkan informasi dan menyusunnya berdasarkan apa yang paling bernilai, menimbang-nimbang apa yang lebih berharga dibandingkan yang lainnya. Dalam pikiran ada suatu alat yang disebut logika, suatu cara untuk memahami informasi, nilai-nilai, dan membuat kesimpulan-kesimpulan. Dari satu kesimpulan muncul kesimpulan yang lain – itulah berpikir. Kita bisa mempelajari bagaimana logika yang baik dilakukan – karena masalah orang antara lain adalah tidak memiliki logika yang baik. Tetapi kalau ada dua orang yang mempunyai logika sama baiknya berpikir tentang hal yang sama, mereka bisa memunculkan kesimpulan yang berbeda. Ini bukan karena perbedaan dalam logika, melainkan perbedaan dalam nilai-nilainya.

Pertanyaan berikutnya menjadi: bagaimanakah orang membuat nilai-nilai? Ini muncul dari wawasan dunianya, dibangun oleh seluruh pengalaman, perasaan, dan pengetahuan yang diterima seseorang sejak lahir. Itulah yang dibentuk ketika seseorang mendapatkan karunia sorgawi – ia bisa membuat penilaian tentang hal-hal yang akan datang, yang bisa diterimanya dalam Tuhan di Sorga. Iman juga menjadi dasar dari wawasan dunia, karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang belum kita lihat. Tidak dibutuhkan pengalaman duniawi untuk percaya, walaupun ada juga orang yang tidak mau percaya kalau tidak melihat.

Dengan semua pengalaman itu, nyatanya, ada juga orang yang memilih untuk berbeda. Mereka menginginkan yang lain, tidak menghendaki nilai-nilai iman. Sebagian karena pengalaman, misalnya mengalami bagaimana orang yang seharusnya 'kudus' bersikap munafik dan tidak benar. Sebagian lagi karena filsafat yang muncul dari pemikiran kontemporer, dibentuk oleh penderitaan dan perang dan kesusahan ekonomi. Pada hakekatnya, mereka melihat bahwa ada gambaran masa depan yang diberikan oleh dunia, yang sama sekali tidak sesuai dengan gambaran masa depan yang diterimanya melalui iman.

Allah tidak melarang orang untuk berpikir, sekalipun hal itu bertentangan. Mereka ini mungkin saja sudah mengalami semua pengalaman rohani yang hebat, tetapi di akhir kesimpulan, mereka tidak menerima nilai-nilai Kristus. Mereka meragukan ketuhanan Yesus Kristus. Mereka sudah mengalami kelahiran baru, namun segala hal yang seharusnya dimuliakan, justru mereka rendahkan demi meninggikan apa yang ingin mereka tinggikan – demi masa depan yang ingin mereka bentuk sendiri.

Bukankah Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakan, kedatangan-Nya akan menimbulkan perpecahan? Karena Tuhan dengan jelas menempatkan diri-Nya berbeda dengan dunia, bukan berasal dari dunia. Tetapi orang-orang ini menginginkan dunia yang bersatu, dunia yang tidak ada perpecahan atau konflik atau keributan – apapun dapat dilakukan, kalau bisa tidak perlu ada agama dan perdebatan di atas muka bumi ini. Nilai keselamatan menjadi sesuatu yang tidak berarti, karena lebih penting keselamatan selama masih bernafas di atas muka bumi ini daripada selamat di kehidupan setelah kematian – toh mereka tidak bisa melihatnya, mengukurnya, apalagi mempercayainya.

Bagaimana dengan nilai kesetiaan? Itu pun tidak berarti, karena yang penting adalah mempertahankan ketenangan dan bebas konflik, sekalipun itu berarti menjaga status quo. Jika memuridkan segala bangsa menjadi hal yang kontraproduktif bagi kedamaian dunia, maka upaya penginjilan menjadi hal yang buruk untuk dilakukan. Bagaimana satu kematian di kayu salib dahulu cukup berharga untuk mereka, kalau yang dilihatnya adalah jumlah jutaan kematian orang-orang karena keyakinan kepada Kristus? Mereka bilang, seandainya Kristus dahulu tidak mati, mungkin jutaan orang itu tidak perlu mati sekarang.

Dapatkah mereka mengingat pengalaman rohani? Ya, tetapi kemudian ada banyak penjelasan lain diberikan terhadap pengalaman-pengalaman itu. Mereka sekarang meragukan pengalaman mereka sendiri, membuat tafsir baru atas apa yang mereka ketahui selama ini. Ada banyak penjelasan yang bisa diberikan orang yang tidak percaya, bahkan dengan penjelasan yang sangat tidak masuk akal – itu mereka terima karena bagi mereka lebih tidak masuk akal lagi untuk mempercayai Kristus.

Itulah murtad. Sikap murtad bukanlah tentang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bukan tentang mengikuti suatu perintah, kemudian tidak lagi mengikutinya – perubahan dalam tindakan belum tentu disebabkan perubahan dalam tata nilai. Ini adalah kematian kedua dari orang yang telah lahir baru, saat nilai-nilai yang kudus dan mulia dari Roh Kudus dicampakkan, ditanggalkan, demi pikiran sendiri. Mereka yang telah murtad tidak dapat dibaharui lagi, tidak ada lagi kelahiran baru kedua atau pertobatan baru, karena sekali lagi mereka membunuh karakter Kristus dalam hati mereka, bahkan menghina-Nya di muka umum dengan segala "pendapat ahli" berdasarkan label-label kehormatan manusia.

Ironisnya, orang-orang yang murtad ini seringkali masih menduduki posisi-posisi di berbagai organisasi keagamaan, menjadi pemimpin-pemimpin gereja. Tentunya, mereka adalah orang-orang yang berkelakuan baik dan terhormat di masyarakat, tidak ada masalah perilaku – kalau adapun pasti tersembunyi dengan baik. Mereka menjadi "pemikir-pemikir Kristen" tetapi apa yang mereka tinggikan sama sekali bukan Kristus atau tujuan dan kehendak-Nya. Dalam posisi mereka, seperti yang terjadi sejak dahulu, orang-orang yang mempunyai nilai berbeda menjadi objek untuk 'pendidikan' dan 'pencerahan', tidak jarang dengan cara yang represif. Ada pertimbangan untuk melakukan sedikit kekerasan pada segelintir orang, demi mencegah kekerasan terjadi bagi lebih banyak orang. Itulah orang yang murtad di bawah tekanan dan ancaman agama dan perdamaian dunia.

Hari ini, kita melihat bagaimana sikap meninggikan perdamaian dunia menjadi pokok utama, dengan hadiah Nobel yang memicu berbagai polemik. Kita juga melihat sikap orang-orang yang semula menyebut diri Kristen, untuk meninggalkan tujuan-tujuan dan nilai-nilai Kristiani demi merangkul berbagai pihak, termasuk memuaskan mereka yang selama ini bersikap agresif, fanatik, dan menekan. Dimanakah kebenaran? Tidak perlu bicara kebenaran, karena semuanya kini bersifat relatif – tetapi semua ini mengikis segala fondasi kuat yang berabad-abad lalu diletakkan. Kita pun melihat bagaimana Tuhan meninggalkan bangsa dan negara yang murtad – mereka yang semula hebat dan menjadi pusat kekristenan, mereka yang beberapa tahun ini masih bisa dianggap sebagai negara adikuasa – perlahan-lahan kehilangan nilai dan makna, habis dalam kerusakan moralitas dan kepercayaan.

TUHAN tidak dapat, tidak bersedia, untuk dipermainkan. Ketika orang kehilangan rasa takut yang sehat kepada-Nya dan bersikap tidak peduli serta merendahkan-Nya demi kepentingan ekonomi dan politik, hanya doa orang benar yang masih membuat Tuhan hadir, untuk menyelamatkan mereka yang masih teguh percaya. Setelah itu, Dia akan datang kembali, setelah dunia jatuh dalam murtad dan salib tidak lagi berarti bagi umat manusia. Demikianlah tanda-tanda akhir jaman diberikan: terlebih dahulu akan dinyatakan dia yang murtad dan meninggikan diri lebih daripada Allah, dan seluruh dunia mengikutinya.

Semoga, kita tetap setia kepada Tuhan dan tidak turut murtad – awaslah, itu ada dalam pikiran, bukan tindakan. Terpujilah TUHAN!

Senin, 05 Oktober 2009

Menjadi Dewasa

Ibr 6:1-3 Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya.

Menjadi tua adalah pertumbuhan alami, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Mengalami perubahan adalah peristiwa yang tidak bisa dielakkan manusia, namun menjadi pemenang adalah keputusan yang tidak selalu mudah. Enak ya, mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini. Siapa yang tidak mau menjadi dewasa? Siapa yang tidak mau menjadi pemenang? Bagi orang percaya, bahkan ingin menjadi lebih daripada pemenang!

Masalahnya, kata-kata saja tidak mengubah kehidupan orang, jika kata-kata itu tidak menyatu dengan perbuatannya. Renungkanlah: ketika dikatakan bahwa menjadi dewasa adalah pilihan, siapa yang memberikan pilihan? Bagaimana orang bisa menyadari pilihan-pilihan yang ada, untuk mengambil sebuah keputusan yang tidak selalu mudah? Ini adalah masalah penting, karena kalau orang tidak menyadari adanya pilihan, maka ia tidak memilih. Untuk hampir segala perkara, orang sudah berpikir bahwa satu-satunya cara yang 'benar' adalah cara ini, jalan yang secara tradisional diturunkan dari leluhur kepada buyut, kepada kakek, kepada ayah, dan kepada anak.

Kebenaran akhirnya menjadi suatu pengekalan dari kebiasaan, di mana sesuatu dianggap benar karena selama waktu yang panjang, kebiasaan itu terbukti 'benar' dalam ukuran manusia. Bayangkan jika kita menjadi bangsa Israel: selama berabad-abad, ada hal-hal mendasar yang 'benar' bagi seorang Yahudi. Lakukanlah hukum Taurat. Penuhilah ritual-ritual mendasar, mulai dari sunat di masa kecil dan segala upacara rumit setiap tahun di Yerusalem.

Ketika orang-orang Yahudi menjadi Kristen, beberapa hal tidak berubah. Apa yang harus dipenuhi tetaplah harus dipenuhi, namun sekarang dilakukan dengan cara dan tujuan yang berbeda. Sekarang yang penting adalah melakukan ritual 'Kristen', cara pembaptisan, penumpangan tangan, menyatakan keyakinan tentang kebangkitan orang mati, dan menegaskan pembebasan dari hukuman kekal. Memang bukan lagi membahas tentang mengikuti Hukum Taurat, melainkan suatu tradisi yang baru, cara beragama yang baru. Muatannya berbeda, tetapi esensinya masih tetap sama: lakukanlah ini dan itu – begitulah caranya memahami kebenaran, serta memperoleh keselamatan.

Satu hal yang utama dalam keselamatan adalah tentang bagaimana membangun saluran keselamatan dari Bapa kepada manusia; dan di sini orang Kristen pun tetap mengenal jabatan imam, yang disusun secara terstruktur dari suatu Gereja pusat hingga pelosok terjauh dari orang Kristen perantauan – yang disebut juga orang Kristen diaspora. Tetapi, ketika orang-orang membahas siapa yang jadi pemimpin dan berpengaruh, ada banyak kepentingan yang terlibat.

Kalau kita berpikir bahwa hal ini hanya masalah yang terjadi di masa lalu, perhatikanlah bahwa sampai sekarang pun keberadaan Pendeta dan "Hamba Tuhan" masih melibatkan banyak kepentingan. Yang diributkan juga masih belum jauh berbeda, yaitu tentang bagaimana menjalankan ritual yang 'benar' setepat-tepatnya, karena di sana ada pokok-pokok syarat keselamatan. Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa penting untuk mengikuti imam yang benar, atau Pendeta yang benar, jika memang bersungguh-sungguh mau menerima keselamatan, kesehatan, dan kemakmuran.

Pertanyaannya menjadi ini: apa yang menjadi dasar pertobatan? Demikianlah orang menjawab: jika orang sudah mengikuti upacara baptisan yang benar (dan sampai hari ini, masih banyak denominasi yang mengklaim bahwa inilah cara baptis yang paling benar), jika sudah mengalami mujizat, jika sudah menerima penumpangan tangan, dan seterusnya. Orang yang 'bertobat' adalah orang yang bersedia mengikuti segala ketentuan-ketentuan ini, serta menjalankan sejumlah kebiasaan dan aturan yang bisa diamati, seperti menghadiri kebaktian di Gereja setiap hari Minggu.

Semua hal yang menandai kekristenan adalah baik, selama masih tetap ada dalam posisinya yaitu sebagai tanda. Jika TUHAN mengizinkan, kita akan melakukan semua itu: baptisan, penumpangan tangan, serta entah apa lagi yang ditetapkan oleh Gereja. Tetapi itu bukanlah bagian dari kedewasaan, itu adalah sesuatu yang alami untuk dilakukan. Itulah tradisi, suatu asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus.

Perhatikanlah: bukan asas-asas pertama yang menandai kedewasaan – yang pertama itu adalah bagi orang yang masih baru percaya, masih bayi dalam hal rohani. Karena kekristenan bersentuhan dengan banyak pikiran yang belum mengenal Kristus, maka ada banyak hal yang disederhanakan, dipermudah, dengan maksud agar dapat diterima dengan lebih mudah. Jalannya sederhana, dan hampir tidak ada pilihan untuk diambil.

Apakah orang hanya berhenti di sana? Penulis Ibrani mengajak untuk menjadi dewasa, beralih kepada perkembangan yang penuh. Keselamatan yang sudah diperoleh adalah keselamatan yang harus diisi dengan tanggung jawab, dan dalam hal inilah kita menemukan pilihan-pilihan. Bisakah kita menjadi dewasa? Siapkah kita mengambil keputusan yang sukar, agar menjadi lebih dari pemenang?

Ada banyak konsekuensi dari menjadi orang Kristen; bukan saja dalam hal menerima kuasa dan mendapatkan berkat serta karunia, tetapi juga dalam hal bertanggung jawab atas talenta yang telah diberikan pada kita. Ketika kita berkembang sepenuhnya, kita berfungsi sepenuhnya bagi TUHAN yang telah menjadikan kita, melahirkan kita kembali dalam keselamatan dan kekekalan. Urusannya bukan lagi soal menerima dan mendapat, bukan tentang menerima kasih dan mengalami mujizat yang terjadi bagi diri kita sendiri.

Urusan kita adalah mematuhi hukum yang pertama dan terutama, yaitu mengasihi TUHAN Allah dengan segenap kekuatan, hati, dan akal budi. Urusan kita juga adalah mengasihi sesama manusia, seperti mengasihi diri sendiri. Ini bukan hal yang mudah, karena yang disebut bukan mengasihi hanya istri dan anak-anak, melainkan sesama manusia – yang dalam perumpamaan Tuhan Yesus juga meliputi pihak yang secara ekstrim berbeda, bahkan bersikap bermusuhan, seperti antara orang Samaria dan orang Yahudi. Segala sesuatu tidak lagi semudah membahas tentang baptisan, tetapi itulah yang akan kita lakukan.

Mari kita lakukan.

Jumat, 04 September 2009

Menangis Bagi Kita

Ibr 5:7-10 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.

Pernah dengar anak kecil menangis? Tentu, di mana saja kita bertemu dengan sekumpulan anak, ada kemungkinan besar kita menemukan tangisan. Tetapi bagaimana seandainya yang menangis itu adalah anak kita sendiri? Nah, ini menjadi mimpi buruk orang tua, ketika anaknya menangis meraung-raung di tempat umum; barangkali di pasar, mungkin di mall. Atau di gereja. Semua orang menoleh, memandang dengan prihatin. Beberapa memandang dengan muka sebal, terganggu, sungguh tidak menyenangkan.

Hal pertama yang perlu dipahami orang tua, anak tidak menangis tanpa sebab. Tangisan itu menunjukkan sesuatu, kadang-kadang merupakan hal yang gawat untuk diatasi (seperti, kalau popoknya basah), kadang-kadang hanya hal yang sepele (seperti, ingin mainan yang jatuh di lantai). Anak kecil tidak sekedar 'iseng' menangis keras-keras. Ada alasan-alasan, beberapa merupakan alasan yang bagus, yang lainnya alasan yang ego-sentris, yang pada intinya ingin agar kemauannya dituruti. Apapun juga alasannya, di sana ada perasaan menderita, yang berangkat dari kesadaran akan kelemahan, ketidak-mampuan, menyadari diri kecil dan tergantung kepada orang tua untuk menyediakan segala kebutuhan.

Menjadi manusia adalah menjadi mahluk yang tidak berdaya. Perhatikanlah: di alam ini, mahluk hidup biasanya sudah mempunyai kemampuan tertentu pada saat dilahirkan, namun manusia terlahir dalam kondisi sepenuhnya tidak berdaya. Manusia tidak punya tanduk atau taring, tidak ada kaki yang berlari secepat angin, atau sengatan racun yang mematikan. Bayi terlahir dengan kulit yang halus dan tipis, tulang yang lembek, disertai kehalusan dan kelembutan yang menunjukkan kelemahan. Dibutuhkan naluri kuat dari ibu untuk melindungi dan membesarkan anak, sampai ia cukup tangguh untuk bertahan menghadapi dunia.

Sekarang bayangkanlah seandainya seorang yang gagah perkasa, pahlawan perang yang sakti mandraguna, pada suatu hari berubah kembali menjadi seorang bayi dengan segala kelembutan dan kelemahannya. Ia kehilangan semua kekuatan, semua kekebalan, dan juga semua kemuliaannya dalam sosok yang lemah itu. Celakanya, Sang Pahlawan harus berhadapan dengan musuh bebuyutan, yang masih tetap kuat dan perkasa. Renungkanlah; bisakah membayangkan apa yang dirasakan?

Kira-kira begitulah yang terjadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Ketika Dia menjadi manusia, segala kekuatan, keperkasaan, serta kemuliaan-Nya ditanggalkan. Dia terlahir sebagai seorang bayi, sama dengan manusia lain. Ia mengalami segala rasa sakit, perasaan yang tidak enak, juga perasaan tertekan – semua hal yang kita punya. Dia juga mengerti tuntutan dari keinginan, seperti dosa yang memanggil-manggil dari balik pintu dan menunggu satu keputusan salah dilakukan. Dia mengalami bagaimana hormon-hormon itu menciptakan dorongan-dorongan yang banyak menjerumuskan anak muda dalam jurang kesulitan. Namun Tuhan Yesus bertahan, dengan menangis.

Tangisan Tuhan Yesus bukan sebuah tangisan perlahan-lahan, isak sedu-sedan yang samar-samar. Bukan. Tangisannya adalah tangisan kuat, sebuah ratapan, sebagai doa permohonan kepada Bapa yang sanggup menyelamatkan. Jika melihatnya, tangisan itu digambarkan seperti jeritan seorang anak bayi di tengah malam. Mendesak, seperti terancam maut, karena memang hanya dengan menjerit kepada Bapa saja satu-satunya cara untuk terlepas dari kuasa dosa. Di sana ada hubungan yang mendalam antara Bapa dan Anak, yang disebut sebagai kesalehan, yaitu sikap takut akan Allah. Dari sanalah kekuatan-Nya.

Hubungan tidak mengurangi ketaatan Anak kepada Bapa. Betapa banyaknya orang yang suka akan status sebagai 'anak' tanpa berusaha menghidupi ketaatan kepada Bapa yang mengangkatnya. Itulah pelajaran dari penderitaan: belajar untuk taat selagi melalui kesulitan. Renungkanlah: tidak sulit untuk taat dikala sedang tenang, senang, tidak ada kesusahan. Tetapi waktu kesulitan tiba, rasanya ada alasan untuk bersikap tidak taat, ada alasan untuk tidak melakukan apa yang harusnya dilakukan – bukankah sekarang ini memang lagi susah, jadi orang lain harus maklum dan memberi toleransi? Apalagi ini adalah Anak, tentu saja seharusnya mendapatkan toleransi yang lebih besar!

Mungkin begitulah orang tua di dunia. Anak Allah tetap taat dalam kesulitan, tanpa toleransi atau kompromi; Tuhan Yesus tetap menanggung beban sepenuhnya. Hidup-Nya tidak menjadi lebih mudah, penderitaan-Nya tidak berkurang, tetapi Ia tetap taat walaupun sampai menangis menjerit kepada Bapa di Sorga. Tangisan-Nya bukan hanya bagi diri-Nya, seperti orang-orang yang ego-sentris, tetapi Tuhan Yesus juga menangis bagi Yerusalem, bagi Israel, dan bagi dunia. Bagi kita semua. Dia menangis, dalam ketaatan, agar manusia diselamatkan. Agar orang-orang yang tidak tahu bahwa mereka ini celaka, akhirnya bisa diselamatkan.

Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, pertama-tama karena Dia sendiri mengalami kesusahan manusia, kemudian Dia memberikan diri-Nya sendiri sebagai tebusan bagi dosa manusia, dalam ketaatan yang sempurna. Untuk mendapatkan-Nya, pertama-tama kita perlu percaya kepada-Nya, dan kemudian kita harus mentaati-Nya – karena tidak mungkin seseorang benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Allah, kalau tidak mau taat kepada-Nya. Relasi Allah-manusia adalah relasi yang ditandai oleh ketaatan.

Relasi itu juga menjadikan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar, sesuai panggilan Allah menurut peraturan Melkisedek. Kita meletakkan semua hal dalam hubungan kita ke dalam tangan Tuhan Yesus, seperti umat yang meletakkan segala sesuatu dipundak Imam yang mewakili mereka. Dan kita terdiam mendengar tangisan-Nya bagi kita... karena kita berdosa dan melanggar ketetapan-Nya. Apakah kita tidak terus berhenti dari segala kejahatan, supaya Tuhan Yesus juga tidak perlu lagi menangis bagi kita? Menjadi taat melakukan kehendak Bapa – itulah sukacita-Nya!

Selasa, 25 Agustus 2009

Anak-Ku Engkau

Ibr 5:5-6 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini", sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."

Dari jaman dahulu, pengakuan adalah hal yang penting. Pengakuan berkaitan dengan aktualisasi diri, itulah saat seseorang menemukan bahwa keberadaannya 'aktual', artinya sungguh-sungguh bermakna di masyarakat. Kehidupan orang banyak akan berbeda seandainya orang yang aktual itu tidak hadir di sana. Dan betapa banyak orang yang menginginkan dirinya diakui penting! Mereka berlomba-lomba menyatakan diri sebagai orang penting, kadang-kadang dengan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak penting, melainkan jarang orang lain mau melakukannya.

Bagaimana dengan status rohani? Sama juga, ada yang menyukai keberadaan dirinya yang 'penting' sebagai rohaniwan. Tidak bisa dipungkiri, nyatanya orang menyadari 'tingkat' rohani. Maka, ada yang menjadi 'gembala senior' atau 'pendeta senior'. Lain lagi, ada orang yang menunjukkan dirinya memiliki karunia dan melakukan mujizat. Orang demikian tentunya lebih rohani daripada orang awam lainnya, bukan? Jadinya, betapa orang berdoa ingin mendapatkan karunia, supaya bisa buat mujizat, memuliakan TUHAN, sekaligus menempatkan dirinya jadi penting!

Siapa yang bisa menyatakan bahwa peran seseorang benar-benar penting? Di sinilah kita menemukan bahwa secara mutlak, penentuan diberikan oleh TUHAN, Allah Bapa, Allah semesta alam. Jika orang memuliakan dirinya sendiri, dia tidak bisa menilai dengan benar. Bukankah ada orang merasa diri penting, tetapi sesungguhnya peran dia tidak berarti? Waktu yang menjadi penentu, apakah orang ini benar-benar berharga atau tidak. Tetapi Allah tidak dibatasi waktu, Dia mengetahui masa depan sebaik masa lalu.

Panggilan Allah menyatakan pengakuan-Nya. Ketika Harun dipanggil, ia merupakan pilihan yang tepat, sekalipun ada hal-hal yang menunjukkan respon Harun tidak pantas. Itu menunjukkan, TUHAN tidak memilih berdasarkan kesempurnaan manusia untuk suatu fungsi; bagaimanapun juga, manusia memang penuh kelemahan, tidak ada yang sempurna. Tetapi, panggilan itu menjadi berbeda ketika yang dinyatakan bukanlah tentang fungsi, melainkan relasi.

Hal ini perlu kita pahami. Harun dipanggil dalam konteks fungsi, yaitu menjadi imam. Ini adalah suatu peran, sebuah posisi yang diemban, bahkan diwariskan kepada seluruh suku Lewi. Posisi ini bisa dijabat oleh banyak orang, beberapa melakukannya dengan baik, lainnya dengan buruk. Sama seperti posisi yang diberi istilah "Pendeta" di jaman sekarang, beberapa menjadi saluran berkat, tapi ada juga yang mendatangkan kutuk bagi jemaat.

Sangat berbeda keadaannya ketika Allah Bapa memanggil dengan "Anak-Ku Engkau!" Ini adalah suatu relasi, suatu hubungan yang khusus dan khas. Hubungan ini telah dinyatakan dengan jelas pada suatu saat oleh Bapa, seperti yang diketahui oleh pemazmur tentang ketetapan TUHAN: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini." (Mzm 2:7). Relasi yang diakui oleh Allah dan dipahami oleh manusia, menunjukkan kualitas hubungan yang istimewa – sebagai Anak Allah.

Relasi ini juga ditetapkan dalam konteks waktu Allah, di luar waktu manusia. Hubungannya dipertegas dengan sebuah pengakuan lain, yaitu penetapan sebagai Imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Anak TUHAN ditetapkan sebagai Imam yang kekal sesuai dengan peraturan yang penetapannya juga di luar waktu manusia – itulah Melkisedek, yang menerima persembahan dari Abraham.

Kekhususan relasi dan fungsi ini menyatu pada Kristus, tetapi juga menjadi contoh bahwa kita pun memiliki peluang yang serupa, untuk menjadi anak-anak Allah. Tentu kita tidak mempunyai relasi yang khusus itu, atau menjadi Imam untuk selama-lamanya – sebaliknya justru kita dapat turut punya relasi yang istimewa karena Kristus, sebagaimana Dia menjadi Imam bagi kita untuk selama-lamanya. Kita juga mempunyai relasi, bukan hanya fungsi, dengan Bapa.

Renungkanlah: mari kita bersyukur karena Kristus! Maka kita memiliki relasi sebagai anak, yang tidak pernah terputus lagi – apa yang dapat memisahkan kita dari Kristus? Di dalam Dia kita mempunyai perantara yang kekal, karena Dialah Imam yang menjadi Raja, sebagaimana Melkisedek adanya.

Terpujilah TUHAN!

Rabu, 12 Agustus 2009

Mengerti Orang Jahil

Ibr 5:1-4 Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun.

Siapa yang paling baik dalam gedung gereja? Mari kita perhatikan. Ke mana mata kita tertuju? Barangkali, pertama-tama kita akan melihat ke arah mimbar. Bukankah di sana Pak Pendeta berdiri? Dia tentunya, seharusnya, menjadi yang paling baik dalam gedung gereja – walau nyatanya sekarang ini banyak juga orang yang tidak suka pada pendetanya sendiri (tanya kenapa?). Kalau bukan Pak Pendeta yang paling baik, kita melihat orang-orang yang duduk di sisi, mungkin anggota Majelis, mungkin Penatua, mungkin Diaken, atau sebutan apapun bagi mereka yang bertanggung jawab mengurus organisasi gereja. Dan kita mulai menimbang-nimbang, mengukur kebaikan orang...

Bagaimana kita mengukur kebaikan orang, sehingga kita bisa memutuskan siapa yang paling baik dalam gedung gereja? Pada manusia ada yang disebut dengan sekumpulan pemahaman di dalam sebuah sistem nilai, yaitu sistem untuk memberikan penilaian. Cara kerja sistem ini tergantung dari wawasan dunia, yang dibentuk oleh pengetahuan, perasaan, dan pengalaman orang tersebut. Sistem nilai akan mensortir apa yang kita temukan di sekitar kehidupan kita, membuat yang satu penting dan lain tidak penting, menghargai yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Kemudian, ketika sistem nilai ini dihubungkan dengan proses manusia membuat keputusan, kita mendapati apa yang disebut dengan paradigma, yaitu pemikiran yang mendorong dan membatasi perilaku manusia berdasarkan apa yang dilihat dan dipahaminya.

Apa paradigma kita tentang orang yang baik di gereja? Barangkali (karena, setiap orang bisa memiliki paradigma sendiri) kita mempunyai kondisi ideal di mana orang yang baik adalah orang yang tidak bergaul dengan orang yang jahat. Hal ini tidak mungkin terjadi, bukan? Air tidak bersatu dengan minyak. Orang yang berpakaian bersih tidak duduk bersisian di samping yang pakaiannya kotor – nanti kotoran bisa berpindah, bukan? Dan tentu saja kita ingat amsal yang menyatakan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bagaimana nanti orang baik bisa bergaul dengan orang yang tidak baik? Di atas semuanya, orang baik justru bergaul dengan TUHAN, merenungkan Firman itu siang dan malam, mengucapkan pujian dan mazmur serta kata-kata bijak. Itulah orang baik!

Apakah itu yang kita harapkan dari Bapak atau Ibu Pendeta? Begitu juga yang diharapkan dari seorang imam, dan kali ini mari kita melihat imam yang hidup di antara orang Israel. Bukankah dia seharusnya menjadi orang baik yang dikuduskan dari pergaulan yang sesat? Tetapi, apa yang dituntut sebagai tanggung jawab seorang imam adalah menghubungkan manusia dengan Allah. Karena ada begini banyak manusia, orang Israel, yang telah menjadi jahil dan sesat, yang penuh kelemahan dan berdosa – semua itu bermaksud untuk berdamai dengan Allah melalui imam. Sebagai penghubung demi perdamaian, imam harus menjadi orang yang paling baik. Tidak boleh ada cacatnya, tidak boleh ada celanya.

Masalahnya, di saat yang sama imam juga harus mengerti orang-orang yang penuh cacat dan cela. Bagaimana ia bisa mengerti mereka? Imam tidak bisa membaca pikiran orang lain, bukan? Dia tidak tahu apa yang benar-benar ada dalam hati orang, dan betapa mudah mata dan telinga manusia dipermainkan oleh penampilan sandiwara! Ada orang yang terlihat bersih sekali, baik sekali, ternyata belakangan diketahui ia mempunyai hati yang busuk, rencana yang jahat, dan tangan yang diam-diam berlumuran darah. Mereka pada awalnya tampil sebagai orang yang bijaksana, siap membela orang miskin, siap untuk berkorban – sampai tiba waktunya mereka tidak mendapat apa yang mereka inginkan, mereka menunjukkan taring kemarahannya dan tidak peduli kalau ada orang miskin yang terluka akibat perbuatannya itu.

Sebaliknya, ada juga yang berpenampilan aneh, dengan rambut yang barangkali jarang sekali dicuci sampai menjadi gimbal, dengan kata-kata yang membingungkan, antara serius dan bercanda tidak ketahuan, tetapi dia bisa menghibur dunia hanya dengan tertawa ha ha ha. Dalam kesempatan lain, bertemu orang seperti itu mungkin mendatangkan perasaan tidak nyaman, meski toh orang sekarang melihat sosok seperti ini sebagai lambang kebebasan yang baik. Jika imam bertemu orang seperti ini, apakah ia tidak lantas berpikir tentang dosa-dosa yang perlu disucikan, dengan membawanya ke hadapan Tuhan?

Jadi kita kembali pada kesulitan imam untuk mengerti orang-orang yang harus diwakilinya. Masalahnya adalah keberpihakan; apakah imam itu memihak manusia, umatnya? Jika ia tidak menjadi pihak manusia, sedangkan ia sendiri masih tetap seorang manusia, lantas bagaimana ia dapat membawa segala pergumulan manusia ke hadapan TUHAN? Sebaliknya, jika ia mau menjadi bagian dari umat yang berdosa, ia sendiri harus mengerti tentang dosa. Bagaimana caranya, mengingat kenyataan bahwa imam sendiri membawa dosa dalam dirinya? Jika imam masuk dalam kehidupan orang-orang itu, ia dapat turut jatuh dalam kesalahan yang sama. Ada seorang pendeta muda yang tadinya mau menolong para wanita tuna susila, akhirnya ia sendiri jatuh dalam percabulan. Dalam kenyataan, manusia tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melindungi sistem nilainya sendiri. Pengalaman dan perasaan bisa mempengaruhi orang dengan kuat sehingga wawasan dunianya berubah, paradigmanya berubah.

Apapun juga kesulitan yang muncul, kita kembali kepada tanggung jawab imam yang sudah ditetapkan baginya untuk mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ini adalah kehidupan yang diperjuangkan, termasuk bagi mereka yang jahil dan berdosa, menempatkan imam di posisi yang penting dan terhormat. Siapa yang bisa mendapatkan kehormatan, itu bukan dari pilihan manusia melainkan ketetapan Allah, seperti panggilan Allah bagi Harun. Panggilan yang sempurna, yang direspon dengan tidak sempurna karena kita tahu betapa Harun justru tunduk pada kehendak bangsa Israel dan membuat patung anak lembu emas, yang mengingkari TUHAN, Allah semesta alam.

Memikirkan demikian, maka kita tahu bahwa sebenarnya tidak ada manusia yang dapat mewakili umat untuk menghadap Allah. Satu-satunya cara adalah Tuhan datang dari Sorga dan menjadi bagian dari manusia, mengerti dengan benar karena Tuhan Yesus tahu isi hati orang, untuk dibawa ke dalam hubungan dengan Bapa di Sorga. Tuhan Yesus menjadi Pahlawan bagi kita sekalian, karena memberikan kehidupan yang kekal bagi orang yang percaya.

Terpujilah TUHAN!

Senin, 10 Agustus 2009

Iman Dari Kepemilikan

Heb 4:14-16 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Bagaimana seseorang dapat melangkah maju dalam hidupnya? Ada dua hal yang menjadi syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang pertama adalah syarat kepemilikan. Syarat yang kedua adalah syarat kesadaran, yaitu sadar tentang kepemilikan itu. Kedua hal ini menjadi kesatuan yang menyatu dan menjadi landasan dari semua keputusan yang diambil manusia, entah dia tahu atau tidak mengenai prinsip ini. Coba kita renungkan.

Misalnya saja, bagaimana seorang bisa melangkah dari tempat ini ke tempat itu? Pertama-tama, syaratnya ia harus memiliki kesehatan dan kekuatan yang cukup. Kalau orang sakit atau lumpuh, membuat satu langkah pun tidak bisa, bukan? Yang kedua, ia harus sadar bahwa ia punya kesehatan dan kekuatan yang cukup, sehingga ia berani melangkah. Ingat tentang orang lumpuh yang disembuhkan oleh Tuhan? Orang itu tidak bergerak sebelum diberitahu Tuhan Yesus untuk bergerak, "Angkatlah tilammu!"

Bagaimana dengan kenekatan manusia, misalnya yang bermain judi? Kedua syarat inipun berlaku: pertama-tama orang harus memiliki kesempatan untuk memenangkan judi itu. Dia bisa memperoleh kesempatan dengan membeli undian, atau memasang taruhan. Yang kedua, dia harus menyadari kemungkinan menang; dalam hal judi seringkali kesadaran ini muncul dari pengalaman orang lain. Bukankah dia melihat ada orang yang menang judi besar-besaran, sehingga menjadi sadar bahwa dirinya pun bisa memperoleh peruntungan yang sama? Kalau ada judi yang tidak pernah dimenangkan orang, tentunya tidak ada seorang pun yang mau bertaruh di sana.

Yang tidak diketahui orang, kesadaran itu sendiri bisa dimanipulasi. Ada bandar judi yang sengaja 'bermain' dengan bawahannya dalam sebuah sandiwara kemenangan judi yang besar, memberi kesan orang bisa menang besar padahal semua itu sudah diatur. Karena itu, kesadaran tidak boleh hanya bertumpu pada pengalaman, tetapi juga pada hikmat dan pengertian.

Dalam hal beriman, prinsip ini juga berlaku. Orang bisa beriman karena memiliki sesuatu dan sadar akan kepemilikan itu. Kita bisa beriman karena kita memiliki Imam Besar Agung. Bagi orang Israel, pengertian soal Imam Besar sangat penting dan mendasar dalam iman, yaitu sebagai penghubung antara manusia dan Allah. Satu kenyataan mutlak adalah: manusia dan Allah terpisah oleh jurang yang sangat lebar dan dalam, sehingga mustahil orang bisa mencapai Allah sendiri.

Untuk menjembatani jurang yang luar biasa ini, ada manusia yang berupaya dengan kesungguhan luar biasa sejak kecil, itu pun dalam rahmat dan berkat Allah, sehingga ia boleh menjadi seorang Imam Besar di masa tuanya. Sudah umum dipahami bahwa imam sama sekali tidak kebal dari salah, sehingga setiap Imam Besar yang masuk ke ruang Maha Suci datang dengan tali dan bel-bel kecil terikat di pinggangnya. Kalau ia berbuat salah dan mati di dalam, orang akan menarik tali itu untuk mengeluarkan jenazahnya. Jadi, kalau orang yang sudah sedemikian keras berusaha sejak kecil dapat mati oleh sebuah kesalahan – dan malangnya, tidak ada yang tahu apa kesalahan yang diperbuat di dalam sana – lantas bagaimana dengan orang-orang awam?

Karena dari sisi manusia tidak ada penghubung yang cukup layak, maka satu-satunya harapan yang benar adalah Penghubung yang datang dari sisi Allah. Inilah yang disebut sebagai Imam Besar Agung – sebelumnya tidak ada Imam Besar yang cukup Agung untuk disebut 'agung', 'great', atau dalam bahasa aslinya, 'mega'. Inilah Imam Besar yang datang melintasi semua langit sampai ke bumi, yaitu Yesus, Anak Allah. Kita sekarang mempunyainya, memiliki jalan, kebenaran, dan hidup!

Satu hal tentang Imam Besar, sebagai penghubung ia harus membawa keadaan manusia ke hadapan Allah. Untuk itu, Imam Besar harus memahami persoalan manusia, tahu tentang kelemahan manusia dan kejatuhannya. Kalau tidak, bagaimana ia dapat menjadi penghubung? Bayangkan saja, seandainya ada sekelompok anak kecil, yang mau memohon sesuatu kepada Sekolah yang dikelola orang dewasa. Tapi yang menjadi penghubungnya adalah sebuah terminal komputer dengan bahasa yang asing, dengan protokol dan prosedur yang telah dipahami semua orang dewasa, tetapi sama sekali asing bagi anak-anak. Bagaimana mereka dapat menyampaikan keluhan, keinginan, persoalan, atau apa pun kepada sekolahnya? Tetapi, kalau ada anak yang maju menjadi wakil, anak itu pun terbatas dalam kekanakannya, sehingga betapapun ia berusaha keras, anak kecil tidak bisa maju menghadapi orang dewasa.

Satu-satunya harapan adalah datangnya seorang dewasa yang ingat bahwa dirinya dahulu juga anak kecil (sekarang banyak orang dewasa yang lupa dia dulu pernah kecil) dan memahami dunia anak-anak. Ia mengerti kelemahan anak-anak, tahu bagaimana pikiran anak-anak, bisa mengenali mana permintaan yang serius dan mana permintaan yang main-main, serta membawa hal-hal esensial yang serius ini ke hadapan dewan Sekolah dengan cara orang dewasa berbicara.

Ini gambaran yang sangat buram, karena kalau bicara antara manusia dan Allah, perbedaannya jauh lebih besar daripada antara anak dan orang dewasa. Di sinilah kita menemukan bahwa Tuhan Yesus hadir sebagai manusia serta mengerti segala kelemahan, sudah turut menerima pencobaan, hanya Ia tidak berdosa. Kita memiliki Imam Besar Agung yang sungguh-sungguh mampu dan menguasai kemanusiaan, tanpa jatuh dalam kelemahannya.

Kalau demikian, apakah kita juga menyadari tentang kepemilikan itu? Ketika kita sadar, maka kita mempunyai iman. Kita bisa melangkah dalam iman, untuk mendekati takhta kasih karunia, sumber kasih dan karunia yang kita butuhkan untuk hidup benar di hadapan TUHAN. Apakah kita sungguh-sungguh menyadarinya?

Kesadaran ini penting, sebagai dasar keberanian kita untuk melangkah karena ada pertolongan yang dapat kita andalkan. Kita perlu menyadari kepemilikian ini sama seperti kita sadar tentang berapa jumlah uang kita dalam tabungan dan investasi, yang mungkin selama ini kita andalkan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita. Apa yang kita miliki dalam Tuhan jauh lebih besar, lebih penting, dan lebih berharga, sekaligus lebih sukar untuk dipahami karena bukan sesuatu yang ada dalam kendali kita.

Tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan Allah sebagaimana kepemilikan yang lain. Sebaliknya, ketika kita memiliki Tuhan, kitalah yang dikendalikan oleh-Nya, melalui Roh-Nya yang menunjukkan jalan kita. Bagi kita sendiri, yang kita harapkan adalah rahmat dan karunia untuk memperoleh pertolongan di setiap belokan, sampai kita menjumpai Tuhan di tempat-Nya. Dialah yang menjadi penghubung, dia yang membawa kita, dan pada Dia juga kita mendapat pertolongan kita!

Terpujilah TUHAN!

Sabtu, 01 Agustus 2009

Penilai Manusia

Heb 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Siapa yang bisa menilai orang lain dengan tepat? Itulah yang mereka katakan: dalamnya hati siapa yang tahu? Masalah yang kita temukan adalah kenyataan bahwa kita tidak bisa bertelepati dan membaca pikiran orang lain. Akibat dari masalah ini: orang bisa membohongi orang lain. Ia memanipulasi penampilan dirinya, membuat orang berpikir lain tentang keberadaannya. Dari diri sendiri, orang lantas membangun usaha yang manipulatif, membentuk sistem yang tidak jelas, tidak nampak dalamnya, sampai akhirnya kita tidak tahu lagi apa yang benar-benar bisa dipercaya. Bagaimana bisa yakin akan ketulusan orang lain, sekalipun ia adalah seorang pendeta?

Dari soal kepercayaan, orang mempunyai masalah dalam relasi karena akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa dipercayainya, sebagaimana orang lain juga tidak bisa mempercayainya. Relasi manusia akhirnya mulai berubah menjadi relasi berdasarkan aturan dan norma, bukan kepercayaan. Ketika kita menghadapi seseorang, yang kita harapkan adalah orang itu mengikuti hukum atau peraturan yang sama, sehingga kita bisa menduga apa yang akan dipikirkannya, memprediksi apa yang akan dilakukannya. Kita tidak tahu apakah hatinya suka melakukan itu, atau sebaliknya ia merasa terpaksa – kita hanya menaruh kepercayaan sejauh ada jaminan atas kepercayaan yang diberikan.

Lalu, bagaimana dengan hubungan antara manusia dengan Allah? Bagaimana hubungan itu bisa dilakukan, jika manusia bahkan tidak mampu membangun kepercayaan, bahkan dengan dirinya sendiri? Bayangkanlah, jika seseorang tidak bisa mempercayai dirinya sendiri untuk melakukan hal benar, tidak sanggup mempercayai orang lain untuk berbuat benar – dapatkah ia meyakini bahwa Allah yang serba berkuasa dan tidak terbatas dalam memenuhi keinginan, juga menjadi Allah yang dapat dipercaya?

Pertanyaan ini terbawa dalam berbagai agama dan kepercayaan. Dalam mitologi kuno, entah di asia atau di eropa jaman dahulu, para dewa menjadi sosok berkuasa yang bisa berdusta, memanipulasi, dan bersenang-senang dengan permainannya. Dalam agama besar masa kini pun, ada yang menggambarkan Allah dapat melakukan apapun, termasuk memanipulasi, untuk menghukum orang-orang kafir, atau siapapun juga yang menjadi musuhnya. Memanipulasi musuh itu hal yang diperbolehkan; bukankah itu yang dilakukan dalam setiap peperangan? Hanya saja, ketika orang berhubungan dan 'berperang' dengan kepentingan masing-masing, siapakah yang dapat secara jelas disebut kawan yang berbeda dari lawan? Siapakah yang menjadi kawan dari Allah, dan siapakah yang menjadi lawan-Nya?

Ada begitu banyak pertanyaan. Pemikiran tentang semua ini mengganggu orang sejak jaman dahulu kala, dan itulah yang muncul ketika kita membahas tentang suatu hari perhentian yang disediakan oleh Allah. Siapakah yang dapat dianggap orang yang taat, sehingga layak untuk masuk di hari perhentian yang disediakan TUHAN, Allah semesta alam?

Inilah kebenaran yang diberikan oleh penulis surat Ibrani: bukan Allah yang misterius dan luas dan tak terpahami yang menjadi penilai manusia. Kalau Allah itu sedemikian misterius dan jauh, maka apapun penilaian Allah akan menjadi rahasia-Nya yang tidak terjangkau manusia, menjadi rahasia yang tidak dapat diungkapkan – sampai tiba saat Allah mengungkapkannya sendiri (dan saat itu sudah terlambat bagi orang untuk melakukan sesuatu). Yang menjadi penilai manusia adalah Firman Allah.

Ada dua pengertian dari istilah Firman Allah, yang berjalan bersama dan tidak terpisahkan. Yang pertama, Firman Allah merujuk kepada Tuhan Yesus Kristus, yaitu Firman yang menjadi manusia. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Artinya, Firman itu mempunyai kuasa dan kemuliaan Allah, suatu kesetaraan sehingga kita menyembah Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah, bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus.

Yang kedua, Firman adalah sesuatu bentuk yang dipahami oleh manusia. Jika Allah secara keseluruhan merupakan sesuatu yang tidak terpahami, maka Firman Allah adalah sesuatu yang bisa dipahami manusia, bisa dipelajari, bisa ditaati. Kalau orang tidak memahami Firman Allah, bagaimana ia dapat mentaati-Nya? Firman Allah mengungkapkan sesuatu, menjadi Wahyu bagi manusia, sesuai dengan kesanggupan manusia untuk paham. Demikianlah Tuhan Yesus hadir sebagai sosok yang sepenuhnya dipahami manusia, karena Ia menjadi sama dengan manusia. Ini juga berarti Firman itu sepenuhnya dapat menilai manusia, karena berada dalam kesanggupan manusiawi. Bukankah Yesus hidup sebagai manusia, yang cara hidupnya dapat ditiru oleh manusia lain?

Pertimbangkanlah hal ini: walaupun Tuhan Yesus dapat melakukan berbagai-bagai mujizat, tidak pernah disebutkan bahwa Ia menggantungkan hidup-Nya pada kemampuan melakukan mujizat itu. Ia tidak hidup sebagai penyembuh atau tabib, yang jika sanggup melakukan apa yang Yesus lakukan pasti sudah dari awal menjadi kaya raya dan makmur sejahtera. Ia juga tidak hidup sebagai Guru dan Imam yang diikuti oleh banyak orang, sehingga menikmati kesejahteraan dari tunjangan dari orang banyak; itulah yang dilakukan oleh orang farisi, orang saduki, dan ahli-ahli Taurat. Tidak, Tuhan Yesus besar sebagai tukang kayu, dan kemudian hidup dalam kesederhanaan sedemikian rupa sampai tidak mempunyai tempat untuk menaruh kepala-Nya, kiasan dari kemiskinan yang melingkupi-Nya.

Ironi bukan, kalau sekarang ini justru ada yang berkotbah tentang kekayaan yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Justru Yesus, Anak tunggal Allah, hidup tanpa kekayaan materi dan tidak punya harta apa-apa – hanya jubah saja yang melekat di badan, di mana orang mengundi barang itu sementara Yesus tergantung di atas salib. Kemiskinan bukanlah hal yang asing bagi Allah – demikianlah Dia sanggup menilai manusia, sebagaimana manusia juga sanggup memahami cara hidup-Nya.

Karena manusia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Allah, maka segala sesuatu nyata dihadapan-Nya. Tidak ada pedang yang bisa menebas jiwa dan roh, tetapi kata-kata Firman serta pengertiannya dapat membedakan, di mana tidak ada orang yang dapat mengelak. Firman Allah menjadi sumber yang cukup untuk menjelaskan keberadaan manusia, termasuk hal-hal yang lebih 'modern' karena nyatanya manusia masih sama saja seperti ribuan tahun yang lalu dalam hal nafsu dan keinginan. Kita masih saja ingin menyembunyikan hal-hal seperti ini, namun kata-kata Firman menyatakan kebenaran yang mutlak dan tetap – dan manusia akhirnya tunduk dan mengakui kebenaran betapapun ia tidak menginginkannya!

Satu contoh yang terjadi adalah seperti ini: apakah yang diimani oleh kita tentang Allah? Ada orang yang beriman pada Allah yang memberi, Allah yang menyediakan. Yang dimaksudkannya adalah Allah yang menyediakan segala harta dan sumber yang dibutuhkan, seperti air yang mengalir keluar dari batu yang dipukul Musa. Mereka berharap Allah memberi uang masuk kuliah untuk anak, memberi uang untuk jalan-jalan ke luar negeri saat mereka inginkan, memberi mobil, memberi rumah, memberi segala kemakmuran. Percaya bahwa sebagai "Anak Allah", seharusnya mereka menjadi Pangeran yang mendapatkan segala perkara yang terbaik, entah itu baju yang paling bagus, mobil yang paling baru, atau rumah yang paling mewah. Seharusnya mereka menyadari kuasa yang ada dalam diri, sehingga dengan menumpangkan tangan maka semua penyakit hilang, seperti juga klaim dapat dilakukan atas segala hal yang diinginkan.

Untuk mendapatkan itu semua, konon ada dua hal yang harus manusia lakukan. Yang pertama, hendaklah meminta dengan iman dan jangan ragu-ragu menyatakannya. Jangan ragu, Tuhan pasti memberikan mobil atau uang yang kita butuhkan. Nyatakanlah dan bersikaplah seolah-olah semua itu sudah kita terima. Yang kedua, hendaklah kita pertama-tama memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian-Nya, yaitu persepuluhan dan persembahan, disertai dengan doa dan puasa. Kalau kita lakukan kedua hal ini dengan yakin dan setia, pastilah Tuhan akan memberikan semua yang kita mau.

Apa yang Firman Tuhan katakan? Firman Allah memang memberitahu bahwa Dia memberikan apa yang kita minta dalam iman, tetapi permintaan itu bukan sesuatu untuk kita konsumsi sendiri! Jika doa kita hanya berisi permintaan untuk memuaskan ego dan keinginan sendiri, Tuhan tidak mempedulikannya – jangan salah, itu karena kita sendiri barangkali tidak peduli kepada lingkungan. Sebagai orang Kristen, apakah kita sungguh-sungguh mempedulikan sesama manusia?

Firman Allah berkata tentang hikmat dan kesanggupan yang diberikan secara cuma-cuma, supaya anak-anak Tuhan bisa bekerja dengan lebih baik. Berkat itu diberikan dalam bentuk potensi untuk berproduksi, yang digambarkan dengan perumpamaan tentang talenta. Modal itu menuntut sikap manusia untuk mengerjakannya – di sanalah iman kita diuji. Apakah kita beriman dapat bekerja dengan baik, walaupun kita terbatas dalam pengalaman dan pengetahuan? Apakah kita beriman dapat mampu menangani masalah, walaupun latar belakang kita bukan dari lingkungan yang paling ideal?

Bacalah Firman Tuhan, dan di sana semua keraguan itu terjawab. Tuhan menyediakan segala yang kita perlukan, tinggal sekarang apakah kita memutuskan untuk bekerja atau tidak. Apakah kita masih cukup tekun untuk bekerja, atau kita hanya ingin bersenang-senang saja sambil menikmati hasilnya? Ketika Firman itu datang, mungkin kita ingin menghindar, dengan cara hanya membaca setengah dari kalimat atau ayat yang ada. Tetapi selama Alkitab masih bisa dibaca seluruhnya, kita tidak bisa mengelak dari hujaman pedang kebenaran. Pikiran yang salah dan mau menang sendiri tidak dapat bertahan di hadapan kebenaran Firman Allah. Dan bukan hanya itu saja.

Firman Allah yang dapat dipahami ini, juga memberikan peringatan tentang sebab-akibat yang bisa dimengerti manusia. Kalau manusia taat, ada berkat. Kalau manusia tidak taat, ada kutuk. Firman Allah sanggup menilai manusia sampai ke dalam-dalamnya tanpa kecuali. Pertimbangan dan pikiran hati kita adalah hal-hal yang berbeda secara nyata bagi-Nya, tidak peduli apa kata orang, bahkan kata hamba Tuhan sekalipun. Apapun respon manusia terhadap Firman, kata-kata ini berkuasa dan menentukan jalan kehidupan manusia. Tidak ada yang tertutup, semuanya telanjang di hadapan TUHAN. Dan di akhir kelak, kita semua harus memberikan pertanggung jawaban kepada TUHAN.

Terpujilah TUHAN!

Kamis, 30 Juli 2009

UJUNG PERJUANGAN

Ibr 4:8-11 Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.


 

Bayangkanlah orang-orang yang berperang. Mereka bangun pagi-pagi, mempersiapkan diri. Mereka berkasih-kasihan dengan orang yang dicintai di rumah, mereka berpelukan seperti tidak akan bertemu lagi, sampai akhirnya sang prajurit mengambil perisai dan pedangnya lalu pergi tanpa menoleh lagi. Ia pergi, bersama-sama dengan segala teman dari kaumnya, dari suku bangsa, dari bangsanya, lalu berbaris, berlari, dan bertempur. Kalau tidak bertempur, mereka melakukan hal-hal lain seperti membangun, membuat sesuatu, atau mengangkut-angkut barang. Perang bukan hanya soal saling serang, tetapi juga tentang bergerak dan menduduki suatu area.

Peperangan berakhir ketika wilayah musuh sudah dikuasai, ditaklukkan. Bukankah bangsa Israel dahulu juga berperang? Mereka telah dipersiapkan selama 40 tahun di panasnya padang gurun bersama Musa. Setelah itu, di bawah kepemimpinan Yosua mereka mulai bergerak. Mereka menyerang Yerikho, benteng yang luar biasa kuat. Mereka menyeberang sungai Yordan. Mereka memasuki tanah perjanjian. Perang berlangsung bertahun-tahun, mengalahkan musuh satu per satu dan menghapuskan mereka dari muka bumi, seperti yang TUHAN perintahkan kepada mereka. Sampai akhirnya, semua tanah itu dikuasai. Semua bisa memperoleh milik pusakanya, sebagaimana tanah itu dibagi-bagi sesuai titah Allah dan setiap suku berdiam.

Perang berakhir. Pedang diganti alat tani, perjuangan yang tadinya bertujuan membinasakan, kini bertujuan untuk menghidupkan – menumbuhkan tanaman di ladang dan kebun, mengembangbiakkan ternak, dan membangun keluarga memenuhi bumi. Itu adalah apa yang dilakukan Israel di bawah Yosua. Itu dahulu.

Sekarang, perjuangan kita pada umumnya bukan lagi berperang untuk menguasai daerah yang jelas dan pasti. Perjuangan kita telah berubah menjadi peperangan dalam dagang, industri, dan teknologi. Orang bertempur untuk meraih segmen pasar yang lebih besar, berperang untuk memenangkan persaingan yang tidak habis-habisnya, tidak henti-hentinya, bahkan semakin lama semakin sengit. Pedang digantikan oleh pena, dan pena digantikan oleh tuts komputer. Kapan ini semua berakhir?

Renungkanlah. Orang yang dulu berperang bersama Yosua berpikir bahwa perang sudah usai, tapi mereka salah. Orang yang dahulu berperang bersama Gideon berpikir mereka sudah tenteram, tetapi mereka keliru. Demikian juga dengan yang berperang bersama Daud, atau berjuang membangun negeri bersama Salomo, dan begitu seterusnya hingga jaman modern ini. Mereka salah. Perjuangan terus muncul, tantangan baru harus terus dihadapi, dan tidak urung membuat orang-orang merasa frustasi.

Maka perhentian menjadi sesuatu yang didamba-dambakan. Waktu orang Israel berperang bersama Yosua, mereka mendambakan tempat perhentian tetapi Allah berkata tentang "hari ini, jangan keraskan hatimu!" Mereka yang menginginkan perhentian mungkin bersikeras bahwa sekaranglah waktunya duduk diam dan beristirahat, tapi Allah menegaskan bahwa mereka harus menundukkan hati, jangan tegar tengkuk, dan terus berjuang. Terus berjalan, bergerak memenuhi rancangan TUHAN sampai pada hari-Nya nanti. Sekarang ini, turutilah perintah-Nya – itulah yang diserukan Daud dalam mazmurnya yang indah. Belum tiba waktunya untuk berhenti.

Kapan dunia ini akan berhenti? Manusia lahir dan mati – yang belum dilahirkan belum melakukan apa-apa, sedang yang sudah mati tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Namun yang masih hidup berjuang semakin hebat, sementara jumlah manusia menjadi semakin banyak. Itulah dunia yang masih berputar, teratur seperti terbit dan tenggelamnya matahari demikianlah manusia lahir dan mati, setelah sejenak menerangi tanah, air, dan langit. Adakah semuanya ini akan berakhir?

TUHAN, Allah semesta alam, menyediakan suatu hari perhentian. Inilah hari ketujuh bagi umat Allah. Inilah tempat dan waktu di mana ujung perjuangan berada, saat orang berhenti dari segala pekerjaannya – sama seperti Allah juga berhenti. Tempat perhentian ini sedemikian penting, sehingga Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk menguduskan hari Sabat, agar kita senantiasa ingat dan tidak lupa; inilah hal yang didambakan, suatu pengharapan yang pasti yang telah diberikan TUHAN.

Masalahnya, banyak orang yang melupakan hari perhentian. Sekarang saja, orang mulai terbiasa dengan pola bekerja 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Waktu istirahat adalah saat khusus yang disebut dengan "hari cuti" yang tujuannya adalah untuk beristirahat sejenak setelah perjuangan yang panjang. Hari cuti sama sekali tidak mengingatkan kita pada hari perhentian, karena semua yang mengambil cuti tahu betul bahwa hari itu akan berakhir dan perjuangan akan dimulai lagi. Betapa banyaknya yang cukup keras kepala untuk terus berperang!

Apa sebabnya orang terus mau berjuang walaupun mendambakan perhentian? Itulah hasil dari hasrat manusia, yang masing-masing berupaya menempati posisi di tengah dunia. Kita berperang demi diri kita sendiri, memenuhi keinginan dan cita-cita kita, sampai kita tidak lagi mau mentaati siapapun juga – juga tidak taat kepada Tuhan – karena kita mau menjadi penentu, pemimpin, penguasa, dan pemilik dari segala yang kita mau. Kita tidak memikirkan tentang hari perhentian, karena kita tetap menginginkan kesempatan baru untuk berjuang lebih jauh lagi, ambil selangkah lebih maju. Kalau hari berhenti, bukankah semua juga berakhir? Dan kalau manusia tidak berjuang lagi, lalu apa makna hidup manusia?

Sampai ada yang berpikir, bahwa nanti di dalam Surga pun orang akan berjuang dan bekerja, karena bagaimanapun manusia harus mengambil peluang untuk posisinya yang lebih tinggi. Apakah di Surga masih ada makna dari usaha seorang manusia?

Kita memang seringkali terlalu keras kepala untuk menetapkan makna bagi diri kita sendiri. Bukankah makna yang sesungguhnya, yang benar dan sejati, hanya datang dari Pencipta kita? Apa artinya berjuang dan menempati posisi yang dipandang semua orang di muka bumi, padahal TUHAN memandang posisi itu tidak lebih dari sebuah titik di puncak gunung sampah yang tidak berarti? Entah ada di atas, entah ada di bawah tumpukan sampah, semuanya akan bernasib sama: dihancurkan dan dibinasakan. Lalu mengapa tidak mulai untuk menyerahkan diri kepada TUHAN yang memposisikan kita di tempat yang dikehendaki-Nya?

Di posisi yang telah diberikan-Nya, ada makna hidup yang paling bernilai, yang tidak dapat lebih tinggi lagi. Di hari perhentian, Tuhan meletakkan anak-anak-Nya di tempat yang disediakan-Nya; itulah tempat yang paling mulia yang bisa diharapkan seorang manusia, mahluk yang diciptakan Allah. Marilah kita berusaha masuk ke tempat perhentian itu! Jangan ada seorangpun yang gagal, karena tidak taat dan keras kepala!

Terpujilah TUHAN!