Senin, 29 Maret 2010

Perubahan Terakhir

Wah 21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."

Kehidupan di bumi adalah pengulangan di bawah matahari. Adakah yang benar-benar baru? Selama manusia masih seperti ini, perjuangannya mungkin berbeda namun pengalamannya sama. Lihatlah sang calon ayah yang menunggu-nunggu. Sang ibu yang meregang nyeri berkontraksi. Manusia lahir dari air dan darah, menangis minta susu, dan setelah sekian puluh tahun berlalu akan meninggalkan raga yang renta dan rapuh. Apa bedanya orang miskin dan kaya? Apa bedanya orang baik dan jahat? Selama indra manusia masih begini saja, mampukah manusia menafsirkan pengalamannya dengan cara baru?

Banyak pengalaman manusia adalah pengulangan dari pengalaman orang lain di masa lalu. Hanya, manusia yang merindukan sesuatu yang baru selalu membuat perubahan, mencari tahu dan "menemukan" serta "menciptakan" – dan tahu-tahu manusia kini memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghancurkan dunia. Tentu saja, niat semula adalah untuk kebaikan, tapi bukankah yang dilahirkan adalah kejahatan? Ada hal baik yang timbul, namun kemudian kuasa dosa menunjukkan kekuatannya mendatangkan maut. Cukup satu orang gila bekerja, maka hal yang bagus untuk seluruh dunia itu menjadi monster kengerian! Tahu-tahu, hidup tidak jelas arahnya, tidak kelihatan ujungnya.

Apa artinya "Kehidupan Baru" bila akhirnya semua terulangi dan terperosok dalam spiral menurun yang menuju tempat gelap? Ada orang yang menunjukkan kesuksesan dalam sebuah masa, tetapi sejarah menunjukkan bahwa itupun akhirnya sia-sia. Siapa yang ingat dan tahu seperti apa kayanya dan suksesnya Raja Salomo di jaman purbakala? Itulah pelajaran sejarah! Apa arti dari usaha dan kemenangan manusia, kalau hari ini semua yang ada dahulu telah terlupa? Akhirnya, kebesaran masa lalu hanya menjadi miliknya ahli arkeologi, yang mengais-ngais debu mencari tanda.

Meskipun begitu, toh kita melihat bahwa masa lalu berbeda dengan masa kini. Renungkanlah dan ketahuilah, ternyata dunia tidak berjalan berputar. Pengalaman manusia bisa terulang, tetapi tidak pernah dalam situasi, dalam tempat yang sama. Memang bumi berputar mengelilingi matahari, tapi bumi tidak menempati ruang yang sama karena tata surya juga senantiasa bergerak mengelilingi galaksi. Apakah ada yang tahu seperti apa ujung akhirnya? Adakah yang putus asa? Sebaliknya, TUHAN sudah melihat ujung sejarah: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!"

Itulah kehidupan baru yang sesungguhnya. Itulah perubahan besar yang terakhir. Itulah harapan kita. Itulah yang perlu diingat, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.

Sungguh, semuanya kelak akan menjadi baru.

Terpujilah TUHAN!

Jumat, 19 Maret 2010

Berguna

Flm 1:10-12 mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus --dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. Dia kusuruh kembali kepadamu--dia, yaitu buah hatiku--.

Paulus berada dalam tahanan. Dia didakwa dengan tuduhan yang tidak terbukti, tetapi karena orang-orang Yahudi bersepakat membunuhnya, Paulus lantas naik banding kepada Kaisar – menghabiskan waktunya di tempat tahanan tapi bukan dengan penjahat kejam. Di situlah ada Onesimus, anak muda itu. Bagaimanakah seorang anak muda dapat berada dalam sebuah tahanan? Tentunya dia telah melakukan sesuatu yang salah. Ia sudah merugikan tuannya, dalam sebuah perbuatan yang cukup untuk membuatnya ada di penjara.

Berapa banyak anak muda yang berbuat keliru, hingga harus dipenjara? Inilah hasil dari masa lalu yang suram, pendidikan yang salah, sehingga bertumbuh secara keliru. Inilah yang membuat seseorang menjadi tidak berguna, sampai disebut sampah masyarakat yang patut dibuang. Tetapi, kalau memang ukurannya adalah mengenai kegunaan, kita sendiri bisa melihat bahwa banyak orang muda yang tidak berguna, baik di jaman dahulu maupun saat ini. Mungkin mereka tidak sampai masuk penjara, tetapi juga tidak mengerjakan apa-apa yang berguna. Atau tidak sanggup mengerjakan sesuatu yang bermakna, apalagi di jaman seperti sekarang ini.

Kehidupan Onesimus sepertinya berakhir ketika ia masuk penjara, namun kehadiran Paulus di sana membuat seluruh hidupnya berubah. Prinsip ini berlaku dahulu, berlaku juga saat ini: kehidupan berubah ketika seseorang mendapatkan TUHAN dalam hidup, melalui orang-orang yang menjadi hamba-Nya. Pertemuan Onesimus dengan Paulus, walaupun dalam suasana penjara, telah menghidupkan anak muda ini, merubahnya menjadi baru. Dia bukan lagi orang yang tidak berguna; sebaliknya sekarang sangat berguna bagi Paulus, juga bagi Filemon.

Onesimus dapat kembali kepada Filemon – di waktu itu, untuk mengeluarkan seorang pelayan atau budak dari penjara dibutuhkan persetujuan tuannya. Saat seseorang sudah berubah menjadi baik dan berguna, ia tidak perlu lagi dipenjara. Ketika kita telah menemukan kebenaran dan mengalami perubahan dalam Kristus, jangan lagi membiarkan diri dipenjara oleh kehidupan lama. Ada banyak hal yang dapat dilakukan, termasuk membangun kembali hubungan-hubungan lama yang sempat rusak oleh kebodohan masa lalu. Ada pertobatan, juga ada pemulihan, jika kita telah dilahirkan kembali dalam Tuhan.

Bukan kita yang bisa, melainkan TUHAN membuat kita jadi berguna. Terpujilah TUHAN!

Kamis, 18 Maret 2010

Fitnah

Kis 21:30 Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup.

Bait Allah adalah pusat kehidupan bagi orang Yahudi. Entah dia tinggal di Yerusalem, atau tinggal jauh di Asia, tempat yang menjadi sumber mereka adalah Bait Allah, tempat di mana Allah bersemayam dengan segala kekudusan-Nya. Di tempat ini pula orang Yahudi menyatakan kesetiaan kepada Hukum Taurat, yaitu Hukum Allah, dengan berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan Hukum, bahkan sesuai dengan 'petunjuk pelaksanaan' yang secara periodik ditinjau, diperbaharui, dan ditambahkan oleh para Ahli Taurat, Imam-Imam, dan orang-orang Farisi. Ini adalah bagian yang dikhususkan bagi keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub – maka tidak ada orang asing yang boleh ambil bagian.

Selama berabad-abad Bait Allah senantiasa terbuka bagi umat Yahudi, orang-orang Israel. Setiap orang Yahudi berhak untuk ambil bagian dalam hubungan dengan Allah, sebagai warisan yang tidak terhapuskan. Begitulah teorinya, sampai terjadi hari yang menegangkan itu. Hari di mana pintu Bait Allah ditutup bagi seorang Yahudi, yang sebelumnya hidup sebagai 'Farisinya orang Farisi' karena ketaatan yang luar biasa kepada Hukum Taurat. Hari di mana pintu ditutup bukan karena sesuatu yang nyata, melainkan karena fitnah yang diteriakkan oleh orang-orang yang gagal memahami rancangan Allah yang sesungguhnya.

Renungkanlah: Paulus hari itu datang menuruti Roh Kudus, untuk membawa persembahan serta memberi kesaksian mengenai karya Tuhan. Ia sudah menjelaskan kepada saudara-saudara seiman mengenai kehidupannya sendiri, bahwa Paulus tidak melanggar Hukum Taurat. Ada empat orang yang bernazar, suatu penyataan bahwa hidup mereka masih mentaati Taurat, dan Paulus mau mengambil bagian di dalamnya. Paulus bersedia melakukan pentahiran bersama mereka, karena ia tidak menolak Hukum Taurat, apalagi merendahkannya. Namun fitnah itu dengan cepat meluas, mengeluarkan Paulus dari Bait Allah dan dalam seketika semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup.

Ketika pintu itu telah ditutup manusia, mereka tidak dapat membukanya lagi. Maka Bait Allah pun tidak bermakna lagi – sampai akhirnya dihancurkan beberapa tahun kemudian oleh pasukan jendral Titus yang menyerbu Yerusalem. Tanpa disadari oleh orang Yahudi, peristiwa itu menandakan suatu babak di mana kehidupan orang Israel akan berubah secara total, karena Bait Allah terus dimusnahkan dan tidak ada lagi sumber utama kehidupan.

Apakah kita memiliki pelayanan? Apakah kita selama ini masih membuka pintu Gereja bagi sesama orang percaya? Awaslah dan waspadalah, agar kita tidak menutup pintu bagi sesama, apalagi saudara seiman. Kalau ada seruan, suatu fitnah, ingin dilontarkan maka lebih baik kita kembalikan kepada Allah yang menyediakan segala kebutuhan anak-anak-Nya. Terpujilah TUHAN!

Selasa, 16 Maret 2010

Beralih

Kis 17:34 Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Dionisius adalah seorang Yunani yang sepenuhnya, sejak lahirnya, hidup dalam ajaran dan kepercayaan Yunani. Dia bukan hanya seorang biasa, melainkan seorang anggota majelis Areopagus – ini semacam senat yang mengatur kehidupan orang-orang di Athena. Isinya adalah para pemuka masyarakat, yang duduk di sebuah dataran terbuat dari batu di atas bukit – Areopagus disebut juga bukit Mars (ing: Mars' Hill) – kemudian kepada mereka diperhadapkan perkara-perkara, mulai dari pembunuhan sampai sekedar berita mengenai sesuatu yang baru. Dalam prakteknya, mereka lebih suka mendengarkan berita-berita tentang segala hal yang baru.

Ada beberapa hal yang menarik di sini. Yang pertama, walaupun orang-orang Athena menyukai hal-hal baru, mereka tetap memegang kepercayaan lama mereka kepada dewa-dewa yang bersemayam di gunung Olympus. Yang kedua, orang Yunani sangat senang berfilsafat dan mempertanyakan segala sesuatu – dari sinilah landasan pemikiran modern diletakkan, begitu juga dengan pengembangan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dari orang-orang Yunani muncul filsafat Epikuros (kesenangan adalah tujuan hidup) dan Stoa (kebijaksanaan adalah pokok hidup), yang mempengaruhi banyak orang saat di dalam kekaisaran Romawi. Yang ketiga, saat itu Paulus berdiri sebagai terdakwa, yang harus menjelaskan ajarannya kepada majelis Areopagus.

Apa yang disampaikan oleh Paulus berbeda secara fundamental dari semua yang dipahami oleh orang Yunani. Sebagian besar dari orang-orang itu tidak dapat menerima perkataan Paulus, karena isinya secara total mengubah kehidupan mereka, mengubah dasar etika mereka. Tadinya, apa yang benar dan salah secara relatif ditentukan oleh rasa enak, rasa 'baik', dan kesenangan banyak orang. Kini, dalam pengajaran Paulus, apa yang benar dan salah secara mutlak ditentukan oleh Allah, yang membangkitkan orang mati. Tujuan hidup bukan sekedar kesenangan di dunia ini saja, melainkan keselamatan dan hidup kekal. Siapa yang dapat menerima pengajaran bahwa tujuan hidup yang sebenarnya ada melampaui umur manusia di atas muka bumi?

Ketika Dionisius memutuskan untuk menjadi percaya, ini bukan keputusan yang biasa. Ini adalah suatu perubahan hidup yang radikal, yang konsekuensinya adalah perubahan total dalam segala hal yang telah menjadi kebiasaan. Bayangkan, seorang anggota majelis Areopagus, hari itu memilih untuk menggabungkan diri dan menjadi percaya! Dari catatan Eusebius, kita tahu bahwa belakangan Dionisius menjadi uskup pertama di Athena. Jadi, pertobatan Dionisius hari itu bukan sembarangan saja, melainkan sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Semua terjadi karena perkataan Paulus, yang hari itu berada di kursi terdakwa yang harus menjelaskan keyakinannya. Itulah kekuatan dari pemberitaan Injil!

Kadang-kadang hambatan pertobatan begitu besar, tapi TUHAN lebih besar lagi dari semua masalah kita. Terpujilah TUHAN

Sabtu, 13 Maret 2010

Terbelenggu

Kis 16:29-31 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."

Biasanya dia berlaku bengis. Biasanya, dia menjadi tuan yang paling berkuasa di antara orang-orang kasar yang ada di bawah kekuasaannya – ya, begitulah sosok kepala penjara jaman dahulu kala. Dahulu penjara adalah tempat menghukum, bukan lembaga pemasyarakatan seperti di jaman kita sekarang. Orang jahat ada di situ untuk dihukum, bukan dikembalikan ke masyarakat. Kalau algojo bertugas mengakhiri hidup tahanan, kepala penjara bertugas memastikan kehidupan tahanan tetap seperti di neraka, membuat mereka kerja paksa dan sengsara. Begitulah penjara di abad pertama.

Kepala penjara menjaga tempat itu dengan taruhan kepalanya sendiri – kalau ia lalai atau lengah, ia dan keluarganya akan dihukum mati. Maka, kepala penjara akan berbuat sebisanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang selamat kabur dari penjaranya, bahkan tidak ada yang hidupnya selamat; tahanan harus selalu ada di tempatnya, pintu harus selalu terkunci, dan mereka harus sedemikian menderita sampai tidak punya kesanggupan untuk kabur. Tetapi, ketika Paulus dan Silas memasuki penjara – neraka ciptaannya – mereka bernyanyi dan tiba-tiba saja semua pintu terbuka. Itulah akhir dari penjara, yaitu saat semua belenggu terlepas dan pintu-pintu terbuka. Itulah akhir hidup kepala penjara.

Hanya saja, tidak ada yang kabur. Belenggu terlepas, pintu terpentang, tapi tidak ada yang pergi – semua orang hukuman masih ada di situ. Saat itu sang kepala penjara mendapati sebuah kenyataan, bahwa ada perbedaan besar antara dirinya dengan Paulus dan Silas. Sementara ia masih menjadi kepala penjara dan kelihatan berkuasa, sebenarnya ia sendiri terbelenggu dalam penjara kehidupannya yang juga terasa seperti neraka. Tetapi orang-orang ini, yang tubuhnya diikat dan dikunci, justru menjadi orang merdeka, yang juga sanggup memilih untuk tetap ada di penjaranya padahal semua sudah terlepas bebas!

Siapa yang merasa seperti Kepala Penjara, yang masih terbelenggu dalam hidupnya? Orang yang terbelenggu, hidupnya sedemikian keras dan tidak takut untuk membelenggu orang lain, supaya memberikan kesengsaraan yang sama. Mereka tidak punya hidup yang mereka pilih sendiri, dan karenanya memaksa orang lain untuk juga hidup tanpa pilihan. Pada akhirnya, mereka tidak punya keselamatan, maka itulah pertanyaannya: "apa yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Dalam keselamatan ada kemerdekaan, kebebasan memilih. Dalam keselamatan ada kehidupan – keluar dari penjara kehidupan. Dalam keselamatan ada hidup yang kekal.

"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Terpujilah TUHAN!

Jumat, 12 Maret 2010

Cahaya

Kis 9:4-6 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."

Pada dasarnya, Saulus berusaha berbuat benar menurut pandangannya sendiri. Baginya, Hukum harus ditegakkan! Orang yang sesat dan menyimpang harus disingkirkan! Dengan berbuat demikian, ia berusaha mempertahankan kemurnian agama. Salahkah bila seseorang berusaha menjaga agar agamanya tetap lurus dan tepat, sesuai dengan segala hal yang telah digariskan oleh para pendahulunya selama berabad-abad? Di satu sisi, sikap ini mungkin bisa dimaklumi. Tetapi di sisi lain, kenyataannya ini adalah sikap yang melukai, bukan saja sesama manusia, melainkan telah menganiaya TUHAN sendiri. Betapa Saulus terkejut!

Perubahan terbesar dalam hidup Saulus bukanlah mengenai perpindahan agama atau mengubah kepercayaan yang satu dengan yang lainnya. Kita sekarang ini mungkin juga mengalami hal yang serupa: memikirkan pertentangan yang terjadi saat orang berubah agamanya dari satu ke yang lain. Tetapi, mengubah agama tidak mengubah kehidupan secara mendasar. Perubahan terbesar terjadi karena tiba-tiba saat itu Saulus menyadari bahwa segala tindakannya berkaitan dengan TUHAN – suatu realitas bahwa Yang Maha Kuasa dapat terluka oleh karena perbuatan seorang manusia.

Renungkanlah teguran itu: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" – inilah pertanyaan yang mengejutkan, menggoncangkan Saulus sampai ke dasarnya. Tiba-tiba saja, keberadaan TUHAN yang semula nampak begitu jelas – bukankah Dia adalah Allah YHWH yang dituliskan dalam Taurat Musa? – tidak lagi sejelas sebelumnya. Dalam hukum, posisi Allah ada di tempat yang begitu tinggi, di mana Ia bertindak sebagai pengawas, atau sebagai Hakim Terakhir. Itulah sebabnya manusia harus takut dan tunduk kepada Allah. Bagaimana mungkin, sekarang kehadiran TUHAN datang dengan teguran bahwa Saulus telah menganiaya-Nya?

Dalam kebingungan, Saulus akhirnya mempertanyakan keberadaan TUHAN, "Siapakah Engkau, Tuhan?" Untuk pertama kalinya Saulus mempertanyakan eksistensi Tuhan dalam hidupnya. Itulah saat di mana Tuhan memperkenalkan Diri-Nya: Akulah Yesus! Maka, semua maksud Saulus untuk mendukung dan mempertahankan agamanya menjadi absurd. Semakin keras ia berusaha meninggikan agama, semakin dalam luka Yesus olehnya. Pertanyaan ini harus menjadi pertanyaan kita juga, karena mungkin sekali kita melakukan apa yang Saulus lakukan, yaitu menganiaya Yesus. Kiranya, kita bisa melangkah dalam kesadaran penuh, sehingga bukan agama yang kita utamakan melainkan TUHAN yang kita muliakan.

Perubahan hidup terbesar adalah ketika keberadaannya bersentuhan dengan keberadaan TUHAN. Terpujilah TUHAN!

Rabu, 10 Maret 2010

Meretas Batas

Kis 8:4-6 Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.

Bagi orang-orang Yahudi, berhubungan dengan orang Samaria adalah suatu kebobrokan yang memalukan. Mereka mempunyai sejarah yang panjang, yang bermula dari pecahnya Israel antara suku Yehuda dan Benyamin serta 10 suku lainnya. Yang dua masih menyembah Allah di Yerusalem, tapi selebihnya menjadi penyembah berhala yang menjijikkan. Bukankah mereka ini telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk menyembelih anak-anak mereka sendiri? Anak-anak keturunan Abraham yang menyembah dewa-dewa penuh kesia-siaan, bukankah itu menghina Perjanjian yang kudus antara Abraham dengan Allah?

Pusat penyembahan itu adalah kota Samaria, dan itulah yang menjadi nama bagi bangsa yang telah meninggalkan Allahnya. Karena itu, antara Yahudi dan Samaria ada perbatasan yang jelas, suatu pemisahan yang nyata. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria, walaupun dalam keseharian mereka harus melintasi tanah Samaria untuk pergi menuju ke tempat lain. Ini sudah terjadi berabad-abad, menjadi kebudayaan yang diikuti dengan patuh.

Tetapi berita Injil tidak perlu mematuhi aturan Taurat, atau memperhatikan pembedaan yang dibuat. Pada akhirnya, orang-orang Yahudi ternyata juga sama bobroknya dengan orang Samaria. Kalau di Samaria orang menyimpang dengan paganisme – menyembah dewa-dewa lain, maka di Yehuda orang menyimpang dengan legalisme – mengutamakan hukum di atas segala-galanya, bahkan lebih utama daripada maksud dan kehendak TUHAN. Berita Injil melampaui itu semua, dan demikianlah yang dilakukan oleh Filipus. Berita disiarkan dan tanda-tanda dinyatakan.

Apakah kehidupan kita terjebak dalam pencarian akan kemakmuran dan kesenangan, sehingga kita menyembah dewa-dewa modern seperti materialisme (mengutamakan materi) atau hedonisme (mengutamakan kenikmatan)? Di sisi lain, mungkin kita juga jatuh dalam legalisme yang mengutamakan hukum, sehingga dengan keras kita menunjuk dan menyalahkan. Lihatlah Filipus! Jika TUHAN bersedia menyentuh kota-kota Samaria dengan Injil dan tanda-tanda kuasa-Nya, tidakkah kita juga bersedia menyentuh orang yang berdosa, karena pada awalnya kita sama saja dengan mereka? Maka buatlah perbedaan yang dahsyat, suatu kehidupan yang baru yang dibawa oleh Injil Kristus.

Orang Samaria yang baik hati pun membutuhkan Injil bagi keselamatannya. Terpujilah TUHAN!