Kis 16:29-31 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."
Biasanya dia berlaku bengis. Biasanya, dia menjadi tuan yang paling berkuasa di antara orang-orang kasar yang ada di bawah kekuasaannya – ya, begitulah sosok kepala penjara jaman dahulu kala. Dahulu penjara adalah tempat menghukum, bukan lembaga pemasyarakatan seperti di jaman kita sekarang. Orang jahat ada di situ untuk dihukum, bukan dikembalikan ke masyarakat. Kalau algojo bertugas mengakhiri hidup tahanan, kepala penjara bertugas memastikan kehidupan tahanan tetap seperti di neraka, membuat mereka kerja paksa dan sengsara. Begitulah penjara di abad pertama.
Kepala penjara menjaga tempat itu dengan taruhan kepalanya sendiri – kalau ia lalai atau lengah, ia dan keluarganya akan dihukum mati. Maka, kepala penjara akan berbuat sebisanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang selamat kabur dari penjaranya, bahkan tidak ada yang hidupnya selamat; tahanan harus selalu ada di tempatnya, pintu harus selalu terkunci, dan mereka harus sedemikian menderita sampai tidak punya kesanggupan untuk kabur. Tetapi, ketika Paulus dan Silas memasuki penjara – neraka ciptaannya – mereka bernyanyi dan tiba-tiba saja semua pintu terbuka. Itulah akhir dari penjara, yaitu saat semua belenggu terlepas dan pintu-pintu terbuka. Itulah akhir hidup kepala penjara.
Hanya saja, tidak ada yang kabur. Belenggu terlepas, pintu terpentang, tapi tidak ada yang pergi – semua orang hukuman masih ada di situ. Saat itu sang kepala penjara mendapati sebuah kenyataan, bahwa ada perbedaan besar antara dirinya dengan Paulus dan Silas. Sementara ia masih menjadi kepala penjara dan kelihatan berkuasa, sebenarnya ia sendiri terbelenggu dalam penjara kehidupannya yang juga terasa seperti neraka. Tetapi orang-orang ini, yang tubuhnya diikat dan dikunci, justru menjadi orang merdeka, yang juga sanggup memilih untuk tetap ada di penjaranya padahal semua sudah terlepas bebas!
Siapa yang merasa seperti Kepala Penjara, yang masih terbelenggu dalam hidupnya? Orang yang terbelenggu, hidupnya sedemikian keras dan tidak takut untuk membelenggu orang lain, supaya memberikan kesengsaraan yang sama. Mereka tidak punya hidup yang mereka pilih sendiri, dan karenanya memaksa orang lain untuk juga hidup tanpa pilihan. Pada akhirnya, mereka tidak punya keselamatan, maka itulah pertanyaannya: "apa yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Dalam keselamatan ada kemerdekaan, kebebasan memilih. Dalam keselamatan ada kehidupan – keluar dari penjara kehidupan. Dalam keselamatan ada hidup yang kekal.
"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar