Kis 21:30 Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup.
Bait Allah adalah pusat kehidupan bagi orang Yahudi. Entah dia tinggal di Yerusalem, atau tinggal jauh di Asia, tempat yang menjadi sumber mereka adalah Bait Allah, tempat di mana Allah bersemayam dengan segala kekudusan-Nya. Di tempat ini pula orang Yahudi menyatakan kesetiaan kepada Hukum Taurat, yaitu Hukum Allah, dengan berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan Hukum, bahkan sesuai dengan 'petunjuk pelaksanaan' yang secara periodik ditinjau, diperbaharui, dan ditambahkan oleh para Ahli Taurat, Imam-Imam, dan orang-orang Farisi. Ini adalah bagian yang dikhususkan bagi keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub – maka tidak ada orang asing yang boleh ambil bagian.
Selama berabad-abad Bait Allah senantiasa terbuka bagi umat Yahudi, orang-orang Israel. Setiap orang Yahudi berhak untuk ambil bagian dalam hubungan dengan Allah, sebagai warisan yang tidak terhapuskan. Begitulah teorinya, sampai terjadi hari yang menegangkan itu. Hari di mana pintu Bait Allah ditutup bagi seorang Yahudi, yang sebelumnya hidup sebagai 'Farisinya orang Farisi' karena ketaatan yang luar biasa kepada Hukum Taurat. Hari di mana pintu ditutup bukan karena sesuatu yang nyata, melainkan karena fitnah yang diteriakkan oleh orang-orang yang gagal memahami rancangan Allah yang sesungguhnya.
Renungkanlah: Paulus hari itu datang menuruti Roh Kudus, untuk membawa persembahan serta memberi kesaksian mengenai karya Tuhan. Ia sudah menjelaskan kepada saudara-saudara seiman mengenai kehidupannya sendiri, bahwa Paulus tidak melanggar Hukum Taurat. Ada empat orang yang bernazar, suatu penyataan bahwa hidup mereka masih mentaati Taurat, dan Paulus mau mengambil bagian di dalamnya. Paulus bersedia melakukan pentahiran bersama mereka, karena ia tidak menolak Hukum Taurat, apalagi merendahkannya. Namun fitnah itu dengan cepat meluas, mengeluarkan Paulus dari Bait Allah dan dalam seketika semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup.
Ketika pintu itu telah ditutup manusia, mereka tidak dapat membukanya lagi. Maka Bait Allah pun tidak bermakna lagi – sampai akhirnya dihancurkan beberapa tahun kemudian oleh pasukan jendral Titus yang menyerbu Yerusalem. Tanpa disadari oleh orang Yahudi, peristiwa itu menandakan suatu babak di mana kehidupan orang Israel akan berubah secara total, karena Bait Allah terus dimusnahkan dan tidak ada lagi sumber utama kehidupan.
Apakah kita memiliki pelayanan? Apakah kita selama ini masih membuka pintu Gereja bagi sesama orang percaya? Awaslah dan waspadalah, agar kita tidak menutup pintu bagi sesama, apalagi saudara seiman. Kalau ada seruan, suatu fitnah, ingin dilontarkan maka lebih baik kita kembalikan kepada Allah yang menyediakan segala kebutuhan anak-anak-Nya. Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar