Rabu, 10 Maret 2010

Meretas Batas

Kis 8:4-6 Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.

Bagi orang-orang Yahudi, berhubungan dengan orang Samaria adalah suatu kebobrokan yang memalukan. Mereka mempunyai sejarah yang panjang, yang bermula dari pecahnya Israel antara suku Yehuda dan Benyamin serta 10 suku lainnya. Yang dua masih menyembah Allah di Yerusalem, tapi selebihnya menjadi penyembah berhala yang menjijikkan. Bukankah mereka ini telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk menyembelih anak-anak mereka sendiri? Anak-anak keturunan Abraham yang menyembah dewa-dewa penuh kesia-siaan, bukankah itu menghina Perjanjian yang kudus antara Abraham dengan Allah?

Pusat penyembahan itu adalah kota Samaria, dan itulah yang menjadi nama bagi bangsa yang telah meninggalkan Allahnya. Karena itu, antara Yahudi dan Samaria ada perbatasan yang jelas, suatu pemisahan yang nyata. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria, walaupun dalam keseharian mereka harus melintasi tanah Samaria untuk pergi menuju ke tempat lain. Ini sudah terjadi berabad-abad, menjadi kebudayaan yang diikuti dengan patuh.

Tetapi berita Injil tidak perlu mematuhi aturan Taurat, atau memperhatikan pembedaan yang dibuat. Pada akhirnya, orang-orang Yahudi ternyata juga sama bobroknya dengan orang Samaria. Kalau di Samaria orang menyimpang dengan paganisme – menyembah dewa-dewa lain, maka di Yehuda orang menyimpang dengan legalisme – mengutamakan hukum di atas segala-galanya, bahkan lebih utama daripada maksud dan kehendak TUHAN. Berita Injil melampaui itu semua, dan demikianlah yang dilakukan oleh Filipus. Berita disiarkan dan tanda-tanda dinyatakan.

Apakah kehidupan kita terjebak dalam pencarian akan kemakmuran dan kesenangan, sehingga kita menyembah dewa-dewa modern seperti materialisme (mengutamakan materi) atau hedonisme (mengutamakan kenikmatan)? Di sisi lain, mungkin kita juga jatuh dalam legalisme yang mengutamakan hukum, sehingga dengan keras kita menunjuk dan menyalahkan. Lihatlah Filipus! Jika TUHAN bersedia menyentuh kota-kota Samaria dengan Injil dan tanda-tanda kuasa-Nya, tidakkah kita juga bersedia menyentuh orang yang berdosa, karena pada awalnya kita sama saja dengan mereka? Maka buatlah perbedaan yang dahsyat, suatu kehidupan yang baru yang dibawa oleh Injil Kristus.

Orang Samaria yang baik hati pun membutuhkan Injil bagi keselamatannya. Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: