Kis 9:4-6 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."
Pada dasarnya, Saulus berusaha berbuat benar menurut pandangannya sendiri. Baginya, Hukum harus ditegakkan! Orang yang sesat dan menyimpang harus disingkirkan! Dengan berbuat demikian, ia berusaha mempertahankan kemurnian agama. Salahkah bila seseorang berusaha menjaga agar agamanya tetap lurus dan tepat, sesuai dengan segala hal yang telah digariskan oleh para pendahulunya selama berabad-abad? Di satu sisi, sikap ini mungkin bisa dimaklumi. Tetapi di sisi lain, kenyataannya ini adalah sikap yang melukai, bukan saja sesama manusia, melainkan telah menganiaya TUHAN sendiri. Betapa Saulus terkejut!
Perubahan terbesar dalam hidup Saulus bukanlah mengenai perpindahan agama atau mengubah kepercayaan yang satu dengan yang lainnya. Kita sekarang ini mungkin juga mengalami hal yang serupa: memikirkan pertentangan yang terjadi saat orang berubah agamanya dari satu ke yang lain. Tetapi, mengubah agama tidak mengubah kehidupan secara mendasar. Perubahan terbesar terjadi karena tiba-tiba saat itu Saulus menyadari bahwa segala tindakannya berkaitan dengan TUHAN – suatu realitas bahwa Yang Maha Kuasa dapat terluka oleh karena perbuatan seorang manusia.
Renungkanlah teguran itu: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" – inilah pertanyaan yang mengejutkan, menggoncangkan Saulus sampai ke dasarnya. Tiba-tiba saja, keberadaan TUHAN yang semula nampak begitu jelas – bukankah Dia adalah Allah YHWH yang dituliskan dalam Taurat Musa? – tidak lagi sejelas sebelumnya. Dalam hukum, posisi Allah ada di tempat yang begitu tinggi, di mana Ia bertindak sebagai pengawas, atau sebagai Hakim Terakhir. Itulah sebabnya manusia harus takut dan tunduk kepada Allah. Bagaimana mungkin, sekarang kehadiran TUHAN datang dengan teguran bahwa Saulus telah menganiaya-Nya?
Dalam kebingungan, Saulus akhirnya mempertanyakan keberadaan TUHAN, "Siapakah Engkau, Tuhan?" Untuk pertama kalinya Saulus mempertanyakan eksistensi Tuhan dalam hidupnya. Itulah saat di mana Tuhan memperkenalkan Diri-Nya: Akulah Yesus! Maka, semua maksud Saulus untuk mendukung dan mempertahankan agamanya menjadi absurd. Semakin keras ia berusaha meninggikan agama, semakin dalam luka Yesus olehnya. Pertanyaan ini harus menjadi pertanyaan kita juga, karena mungkin sekali kita melakukan apa yang Saulus lakukan, yaitu menganiaya Yesus. Kiranya, kita bisa melangkah dalam kesadaran penuh, sehingga bukan agama yang kita utamakan melainkan TUHAN yang kita muliakan.
Perubahan hidup terbesar adalah ketika keberadaannya bersentuhan dengan keberadaan TUHAN. Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar