Kis 17:34 Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.
Dionisius adalah seorang Yunani yang sepenuhnya, sejak lahirnya, hidup dalam ajaran dan kepercayaan Yunani. Dia bukan hanya seorang biasa, melainkan seorang anggota majelis Areopagus – ini semacam senat yang mengatur kehidupan orang-orang di Athena. Isinya adalah para pemuka masyarakat, yang duduk di sebuah dataran terbuat dari batu di atas bukit – Areopagus disebut juga bukit Mars (ing: Mars' Hill) – kemudian kepada mereka diperhadapkan perkara-perkara, mulai dari pembunuhan sampai sekedar berita mengenai sesuatu yang baru. Dalam prakteknya, mereka lebih suka mendengarkan berita-berita tentang segala hal yang baru.
Ada beberapa hal yang menarik di sini. Yang pertama, walaupun orang-orang Athena menyukai hal-hal baru, mereka tetap memegang kepercayaan lama mereka kepada dewa-dewa yang bersemayam di gunung Olympus. Yang kedua, orang Yunani sangat senang berfilsafat dan mempertanyakan segala sesuatu – dari sinilah landasan pemikiran modern diletakkan, begitu juga dengan pengembangan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dari orang-orang Yunani muncul filsafat Epikuros (kesenangan adalah tujuan hidup) dan Stoa (kebijaksanaan adalah pokok hidup), yang mempengaruhi banyak orang saat di dalam kekaisaran Romawi. Yang ketiga, saat itu Paulus berdiri sebagai terdakwa, yang harus menjelaskan ajarannya kepada majelis Areopagus.
Apa yang disampaikan oleh Paulus berbeda secara fundamental dari semua yang dipahami oleh orang Yunani. Sebagian besar dari orang-orang itu tidak dapat menerima perkataan Paulus, karena isinya secara total mengubah kehidupan mereka, mengubah dasar etika mereka. Tadinya, apa yang benar dan salah secara relatif ditentukan oleh rasa enak, rasa 'baik', dan kesenangan banyak orang. Kini, dalam pengajaran Paulus, apa yang benar dan salah secara mutlak ditentukan oleh Allah, yang membangkitkan orang mati. Tujuan hidup bukan sekedar kesenangan di dunia ini saja, melainkan keselamatan dan hidup kekal. Siapa yang dapat menerima pengajaran bahwa tujuan hidup yang sebenarnya ada melampaui umur manusia di atas muka bumi?
Ketika Dionisius memutuskan untuk menjadi percaya, ini bukan keputusan yang biasa. Ini adalah suatu perubahan hidup yang radikal, yang konsekuensinya adalah perubahan total dalam segala hal yang telah menjadi kebiasaan. Bayangkan, seorang anggota majelis Areopagus, hari itu memilih untuk menggabungkan diri dan menjadi percaya! Dari catatan Eusebius, kita tahu bahwa belakangan Dionisius menjadi uskup pertama di Athena. Jadi, pertobatan Dionisius hari itu bukan sembarangan saja, melainkan sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Semua terjadi karena perkataan Paulus, yang hari itu berada di kursi terdakwa yang harus menjelaskan keyakinannya. Itulah kekuatan dari pemberitaan Injil!
Kadang-kadang hambatan pertobatan begitu besar, tapi TUHAN lebih besar lagi dari semua masalah kita. Terpujilah TUHAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar