Sabtu, 27 Februari 2010

Menjadi Pelaku

Kis 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Menjadi murid Kristus dimulai dengan pengalaman. Para rasul mengalami perjumpaan dan kebersamaan, dari kehidupan seorang nelayan atau pemungut cukai menjadi saksi dari kehadiran Yesus. Itu adalah pengalaman yang luar biasa, di mana segala tanda dan mujizat mereka lihat, di mana semua pengajaran yang penuh kuasa mereka dengarkan. Dalam satu hal, pengalaman itu membuka pikiran dan wawasan orang-orang yang biasa-biasa saja ini, sampai muncul pengakuan bahwa Yesus adalah Kristus, yaitu Mesias – orang yang diurapi Allah.

Tetapi dalam hal lain, mereka tetap hadir sebagai saksi. Menjadi saksi adalah seperti menjadi penonton di pinggir lapangan, yang tidak turut ambil bagian dalam pertandingannya. Mereka melihat dan mendengar, tentunya mereka terus menerus membicarakan semua pengalaman tentang Yesus – namun bukan bagian dari Yesus. Ini menjadi hal yang serupa dengan banyak orang Kristen, sampai saat ini juga, bukan? Kita juga memulai dari pengalaman – entah kita melihat tanda dan mujizat, atau mendengar pengajaran yang penuh kuasa dan membuka pikiran dan wawasan. Kita kemudian mengambil keputusan untuk mempercayainya, namun tidak ambil bagian di dalamnya.

Keputusan untuk mempercayai adalah hak dari setiap manusia, yang tidak pernah dipaksakan oleh Tuhan. Namun apakah manusia itu akan masuk ke dalam pekerjaan Tuhan, itu adalah hak-Nya sendiri yang tidak bisa dipaksa oleh manusia. Yang membedakan adalah Roh Kudus, seperti yang terjadi di hari Pentakosta dan mulai saat itu mengubah seluruh kehidupan Para Rasul secara total. Roh Kudus memenuhi orang-orang pilihan Tuhan dan memberikan karunia – anugerah kemampuan untuk mengikuti pertandingan. Dari hanya sekedar penonton, Para Rasul sejak saat itu menjadi pelaku yang memberikan tanda yaitu berkata-kata dalam bahasa lain.

Renungkanlah: seperti apa kekristenan yang kita miliki? Apakah kita hanya menjadi penonton, yang rajin datang ke kebaktian setiap minggu, yang komunitas dan pergaulannya adalah sesama orang Kristen, dan yang sesekali aktif dalam berbagai kegiatan gereja? Atau, kita bukan saja mengamati dan beridentitas 'Kristen', tapi benar-benar menyerahkan pikiran, tujuan, bahkan seluruh keberadaan untuk dipenuhi Roh Kudus, dan dengan begitu menjadi pelaku-pelaku dalam membangun Kerajaan Allah? Tuhan telah memilih, apakah kita bersedia untuk dipilih? Jika YA, maka lihatlah bahwa hidup berubah – secara total. Selamat mengalami hidup baru!

Roh Kudus mengubah yang lama menjadi baru. Terpujilah TUHAN!

Sabtu, 20 Februari 2010

Kutuk Sendiri

Mat 27:24-25 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"

Orang-orang itu memulai kerohanian mereka dengan peraturan yang kuat, menjadi adat istiadat yang luar biasa kaku dan keras. Perlahan-lahan, mereka menanamkan kemutlakan dari peraturan dan adat mereka sedemikian kuatnya, sehingga menjadi kebenaran yang absolut, mutlak. Itulah saat dimana keyakinan menjadi agama; ketika masih disebut keyakinan, masih boleh ada pertanyaan dan kritik serta akal sehat mempertimbangkannya. Tetapi saat telah disebut agama, maka pertanyaan dan kritik adalah suatu dosa. Orang-orang ini meletakkan agama di atas pikiran, di atas akal budi dan pertimbangan, menjadi cara yang harus diterima apa adanya, kalau memang mau menjadi pemeluk agama itu.

Yang mereka tidak sadari, agama dapat menjadi kutuk. Itulah yang terjadi dengan bangsa Israel, ketika kepada mereka diperhadapkan dua orang: Yesus dan Barabas. Yang satu tidak ada perbuatan salahnya. Yang satu lagi adalah penjahat besar. Akal sehat mengatakan bahwa seharusnya yang tidak berbuat salah, tidak dihukum. Tetapi agama mereka mengatakan bahwa yang tidak berbuat salah ini sudah menunjuk dirinya sendiri sebagai Anak Allah, dan itu adalah penghujatan yang lebih pantas diganjar oleh hukuman mati, dibandingkan si Barabas yang hanya berbuat salah. Agama membuat pernyataan diri Yesus menjadi kesalahan yang lebih besar dibandingkan perbuatan jahat Barabas. Pernyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah, terdengar jauh lebih jahat bagi mereka yang telinganya sudah ditutupi ajaran agama serta adat istiadat.

Masalahnya, dalam kebodohan itu orang Israel tidak mau menerima bahwa apa yang disampaikan Yesus merupakan hal yang benar. Mereka bahkan tidak bersedia mempertimbangkannya! Ketika para imam dan pemimpin rohani Israel berseru untuk menuntut penyaliban Yesus, keyakinan agama membuat kebenaran versi mereka sendiri tidak lagi dipertanyakan. Pasti begitu, pasti Yesus yang salah, yang harus disalibkan! Saat Pilatus melihat usaha untuk membela Yesus menjadi sia-sia – malah usaha itu mendatangkan kekacauan, ia melihat bahwa akal sehat sudah tidak ada lagi di sana. Pilatus tidak mau ambil bagian; ia mencuci tangan. Orang Yahudilah yang bersama-sama menjawab, "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"

Itu adalah kutuk yang hebat, yang terwujud dengan hancurnya Yerusalem beserta seluruh wilayah Yahudi di bawah taring-taring besi Romawi. Mereka yang berseru dalam keyakinan agama itu tidak tahu, bahwa mereka sedang mengutuki diri dan keturunan sendiri dengan cara yang tidak terbayangkan, lebih parah dari kebodohan nenek moyang mereka yang meninggalkan TUHAN demi menyembah dewa-dewa asing. Sejak saat itu, kehidupan orang Israel berubah drastis, sampai hari ini. Pelajaran bagi kita: apakah kita dibutakan oleh keyakinan agama dan segala macam peraturan dan filsafat dunia? TUHAN tidak membuat kita berada dalam keyakinan agamawi yang mati dan tidak lagi berpikir, tidak lagi mempertimbangkan kebenaran yang sesungguhnya. TUHAN mau kita hidup dan bertumbuh dalam Firman-Nya, yang memiliki kuasa untuk menentukan jalan hidup manusia.

Kiranya kita dijauhkan dari kutuk yang kita buat sendiri dalam kebodohan. Terpujilah TUHAN!

Jumat, 19 Februari 2010

Pengkhianat

Mat 26:14-16 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Orang bisa berubah, kadang-kadang perubahannya adalah menjadi semakin buruk. Bayangkan, bagaimana perjalanannya Yudas Iskariot. Bukankah dia menyertai Yesus dengan segala pengajaran dan tanda serta mujizat-Nya? Bukankah apa yang diajarkan oleh Yesus telah mengubah murid-murid lain, bahkan Petrus mengenali-Nya sebagai Mesias – ini semua diketahui oleh Yudas. Tidakkah dia ingat betapa Yesus naik ke atas gunung dan di sana Ia berubah, lantas disambut oleh Musa dan Elia? Semua tanda telah dilihat dan dialami Yudas. Pikiran yang paling sederhana pun menyimpulkan bahwa Yesus adalah sosok yang mulia, melebihi manusia biasa.

Tapi, Yudas pergi meninggalkan teman-temannya. Ia pergi dari komunitasnya, untuk menemui musuh-musuh-Nya. Ya, Yudas berkhianat, walaupun sudah melihat dan mengetahui semua hal yang besar dan ajaib dari Tuhan Yesus. Apakah yang membuat Yudas pergi? Kita tidak tahu persis. Ada yang mengatakan, bahwa Yudas melihat kesempatan untuk mendapatkan untung besar, maka inilah pertanyaannya: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Tetapi, bisa juga ini hanya suatu pembuka, karena Yudas ingin melihat Yesus melepaskan kuasa-Nya melawan Imam dan penjajah Romawi.

Apapun juga, Yudas ingin memainkan kisahnya sendiri. Dia ingin mendapatkan keuntungan lebih, ingin melihat kepentingannya terpuaskan. Dia bersedia menukarkan apa yang dilihatnya penting, demi sesuatu bagi dirinya sendiri. Inilah hal yang mengubah orang, sekalipun dia adalah murid langsung dari Tuhan Yesus. Perhatikan betapa besarnya bahaya itu! Jika Yudas yang sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri segala sesuatu mengenai Yesus, tetapi masih juga memilih untuk menguntungkan diri sendiri – apakah kita kebal dari keinginan untuk mendapat untung yang sama?

Kenyataannya, saat ini banyak orang Kristen yang memanfaatkan kekristenannya. Dari semula mengagumi Kristus, kita beralih ke tujuan-tujuan mencari keuntungan sendiri, dari segala berkat yang disediakan TUHAN. Lantas kekristenan kita menjadi sumber keuntungan, karena kita bisa berbisnis dengan nilai yang besar. Jika orang mau membayar kita milyaran untuk menjatuhkan kekristenan, untuk menghentikan penginjilan, untuk melemahkan kebenaran Alkitab – maukah kita menerimanya? Lihatlah Yudas. Hidupnya berubah secara drastis, dari salah seorang rasul menjadi pengkhianat.

Biarlah kesetiaan tetap beserta kita. Terpujilah TUHAN!

Senin, 15 Februari 2010

Mesias

Mat 16:15-16 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Simon bin Yunus telah menjadi Petrus ketika ia menyadari bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Ini bukan urusan sederhana bagi bangsa Yahudi, karena tiga hal. Yang pertama, bangsa ini mempunyai sejarah yang panjang dan erat dengan keberadaan YHWH, sejak menjadi Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub, kemudian membangkitkan Musa, Yosua, dan Para Hakim, kemudian jaman raja-raja besar seperti Daud dan Salomo. Semuanya berkaitan dengan TUHAN yang dahsyat dan menakutkan. Yang kedua, bangsa ini bertekad untuk menghidupi Perintah Allah, karena sejak jaman Ezra mereka sudah tahu betul pedihnya dihukum Allah. Dalam hal ini, mereka benar-benar pantang menyebut nama Allah sembarangan. Yang ketiga, ada sistem religius yang sangat ketat di antara orang Yahudi, yang masih tetap ketat sampai jaman sekarang.

Jadi, ketika Petrus menyatakan bahwa inilah Mesias, Anak Allah yang hidup, ia sedang mengambil suatu resiko yang amat sangat besar. Bagi orang Farisi dan kebanyakan orang Yahudi waktu itu, pernyataan demikian sama dengan penghujatan, yang patut dihukum mati. Lebih lagi, yang mengucapkannya hanyalah seorang bekas nelayan biasa, yang bukan orang terdidik dalam Hukum Musa, yang bukan orang terpandang atau dihormati. Pengalaman Petrus telah memberikan penegasan yang tidak terbantahkan tentang Yesus, yang kini patut disebut Kristus – atau Mesias, artinya Yang Diurapi – sekaligus telah membuat hidup Simon berubah. Perubahan ini terjadi karena Tuhan sendiri yang menyatakannya; demikianlah mulai sejak itu Simon disebut Petrus.

Apakah kita memiliki kesadaran yang sama? Kadang, karena pengetahuan ini sudah dibawa sejak kita masih kecil, saat ini kita tidak lagi mengapresiasi artinya. Kita dengan mudah begitu saja menerima bahwa Yesus adalah Tuhan, Mesias, Anak Allah yang hidup. Itu karena kita tidak cukup menggali dan memikirkan betapa Yesus adalah sesosok manusia yang dibesarkan di Nazaret, yang bergaul dengan semua orang lainnya seperti manusia biasa pada umumnya. Memikirkan bahwa Yesus adalah Mesias, sungguh tidak masuk akal! Bagaimana pikiran manusia biasa dapat mengerti, bahwa TUHAN sekaligus adalah Manusia yang hadir bersama-sama orang lainnya?

Karena kita tidak memikirkannya secara mendalam, maka kenyataan ini juga tidak mengubah kehidupan kita, sampai kita benar-benar bersedia mempercayainya. Itulah permulaannya: dari iman orang dapat memikirkan secara mendalam, mengambil kesimpulan dan membuat keputusan. Jika kita turut bersama-sama Petrus menyuarakan pengakuan iman ini, maka kita pun dapat mengambil bagian dalam bangunan yang dibuat-Nya, yaitu Kerajaan Sorga di atas bumi. Inilah pengalaman dan pengakuan yang luar biasa, yang memberikan kehidupan kekal bagi semua orang yang percaya.

Dialah Kristus! Terpujilah TUHAN!

Rabu, 10 Februari 2010

Tinggalkan

Mat 9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

Matius duduk di bangkunya yang nyaman. Seperti biasa, ia menunggu orang datang ke mejanya untuk membayar retribusi alias cukai, dan kalau mereka lalai membayar maka ada tentara yang akan datang untuk menagih. Tidak ada yang suka ditagih oleh tentara, bukan? Jadi mereka dengan wajah murung memaksakan diri datang dan membayar cukai kepada orang ini, yang menjadi sasaran kebencian. Tidak heran, bukankah saat ini Yehuda dijajah oleh Romawi? Dan cukai itu begitu memberatkan serta tidak peduli pada situasi; entah mereka kelaparan atau ditekan oleh kebutuhan, setiap orang yang bekerja tetap harus bayar cukai.

Pada hari itu, Matius melihat bahwa yang datang tidak bermaksud untuk memberikan cukai. Yang datang adalah serombongan orang; mungkin dalam kesan pertama ada perasaan panik pada Matius, kalau-kalau serombongan orang ini mau melakukan suatu kerusuhan. Tetapi di tengah-tengahnya, ia melihat sosok yang tenang, dengan wibawa yang tidak tertahankan, dan untuk pertama kalinya ia merasa berjumpa dengan kuasa yang lebih besar daripada yang pernah dilihatnya. Orang itu berkata singkat, "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikuti Dia.

Di situ tidak ada tanya jawab mengenai kebusukan apa yang pernah dilakukannya. Tidak ada kebencian atau penghukuman yang ditujukan padanya. Yang Matius terima adalah perintah untuk mengikuti Yesus, yang berarti meninggalkan posnya di rumah cukai. Semua yang dianggap buruk, yang menjadi sasaran caci maki orang, kini dilepaskannya. Saat itu juga ada perubahan dahsyat dan drastis terjadi dalam diri Matius, orang yang semula telah tersingkir dari pergaulan masyarakat karena dianggap berdosa. Adakah kita menemukan bahwa apa yang kita kerjakan juga salah dan berdosa?

Matius tidak berhenti dengan meninggalkan posnya di rumah cukai. Ia terus mengikuti Yesus dan menuliskan segala pengalamannya, hingga kelak dialah yang menuliskan Injil Matius. Renungkanlah: jika kita saat ini melakukan apa yang keliru, Tuhan tidak menghukum kita sekarang. Tetapi Dia memanggil dengan tegas agar kita mengikuti-Nya, dengan demikian kita berhenti secara total dari kehidupan berdosa yang biasa kita lakukan. Panggilan-Nya sungguh tegas, sekaligus lembut dengan menawarkan kepemimpinan terhadap orang yang bersalah.

Ikutlah Yesus! Terpujilah TUHAN!

Jumat, 05 Februari 2010

Berita Buruk

Neh 1:3-4 Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit…

Kadang-kadang, kehidupan seseorang berubah drastis karena berita, tepatnya suatu berita buruk. Ada orang yang mendengar berita buruk lantas tertunduk lesu, tidak mau melangkah, tidak memiliki lagi semangat. Orang lain lagi, seperti Nehemia, juga duduk menangis dan berkabung – tetapi berita buruk itu justru membangunkannya dari situasi yang sekarang. Berita buruk mengubahnya dari seorang yang hidup dalam kesenangan dan berperan penghibur di depan Raja. Bukankah Nehemia ini seorang juru minuman raja? Dia mengenal betul jenis-jenis anggur. Yang harum, yang manis, ada yang menghangatkan, ada yang memabukkan. Semuanya menyenangkan. Nehemia adalah orang yang menjadi sumber kesenangan.

Bagaimana seseorang bekerja sebagai juru minuman raja, kalau ia tidak terlatih dalam kesenangan-kesenangan? Hidupnya adalah menghindari kesusahan, sebaliknya belajar apa yang mengasyikkan orang, yang paling utama untuk jaman dahulu kala: anggur. Sejak jaman Nuh, inilah buah yang sarinya bisa memabukkan orang. Tetapi satu berita tentang Yerusalem, tentang kemelaratan yang menimpa sisa-sisa orang Yahudi yang bertahan, lebih keras dan menyakitkan daripada segala kesenangan anggur. Hanya, sebenarnya Nehemia memilih untuk menderita karena berita itu, betapapun sebenarnya ia baik-baik saja di istana. Inilah yang membuatnya berubah.

Berita itu sendiri tidak memiliki kuasa untuk mengubah orang. Nehemia mendengarnya, orang Yahudi lain juga mendengarnya. Tetapi di sini Nehemia yang benar-benar bereaksi, sampai berdoa dan berpuasa ke hadirat Allah semesta langit. Orang lain tidak bereaksi dengan cara yang sama, sampai mereka melihat kepemimpinan Nehemia, yang tadinya hanya juru minuman, menjadi Jendral yang siap berperang, yang memerintahkan membangun tembok sambil menyandang pedang! Apakah kita juga dapat bereaksi dengan cara yang sama ketika mendengar berita buruk?

Kebanyakan dari orang Kristen, rupanya, tidak bereaksi – selama berita itu tidak mempengaruhi kehidupan mereka sendiri. Adakah kita bersedia untuk berubah ketika mengetahui bahwa tanah air kita, bangsa kita, saudara-saudara kita, telah jatuh dalam kemelaratan dan kesusahan karena dosa? Apa yang timbul dalam hati ketika mendengar bahwa mereka sedang dalam proses merusakkan dan memiskinkan diri sendiri, dengan hidup yang tidak bertanggung jawab? Adakah yang berubah hidupnya, meninggalkan lingkungan penuh kesenangan dan kegembiraan, untuk diganti dengan ketegangan dan bersiap berperang melawan kuasa dosa?

Berita ini buruk. Berubahlah! Terpujilah TUHAN!

Kamis, 04 Februari 2010

Tanggung Jawab Peranan

Est 2:17 Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.

Hadasa sejak kecil diasuh oleh Mordekhai, masih tergolong sepupunya sendiri, karena ia tidak lagi beribu bapa. Gadis kecil yang cantik ini mengikuti Mordekhai dalam kehidupan yang keras di benteng Susan. Mereka adalah bagian dari komunitas Ibrani yang tidak suka membaur, yang punya kebiasaan hidup berbeda dari bangsa lainnya. Orang Yahudi ini dibenci Hamman, yang berikhtiar untuk membinasakan mereka semua dalam sebuah pembersihan bangsa. Kita sekarang mengenal tindakan keji ini dengan istilah genosida.

Gadis yang cantik membawa berkah dan kutukan – diinginkan sekaligus dimangsa; bagi Hadasa keadaannya tidak mudah. Ketika ia diambil dari Mordekhai dan menjadi Ester, kehidupannya berubah. Sebagai Ester, ia mendapatkan kasih dari baginda raja yang berkuasa dari India sampai Etiophia – raja diraja yang disembah seperti dewa. Ia lebih disayangi lebih daripada semua anak dara lain, betapapun mereka telah bersolek selama 12 bulan penuh, dengan segala minyak dan wewangian serta semua pelajaran tentang bagaimana menyenangkan raja. Ester menjadi kekasih pilihan, menerima mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan menjadi ratu.

Hadasa adalah gadis Yahudi yang bersembunyi. Ester adalah ratu pendamping raja segala bangsa. Tetapi ini adalah orang yang sama, yang mendapatkan semua keistimewaan itu karena TUHAN mengaruniakannya. Bukankah kecantikan adalah karunia dari TUHAN? Bukankah kasih raja Ahasyweros juga ditimbulkan oleh TUHAN, karena sesungguhnya raja ini pun manusia biasa? Hadasa alias Ester tidak melakukan sesuatu, tidak memilih jalannya, tetapi ia harus berperan dan bertanggung jawab untuk menjalankan perannya. Inilah satu bagian yang penting dalam kehidupan orang Israel, maka sampai hari ini pun mereka merayakan hari raya Purim.

Bagaimana dengan kita, yang juga telah menerima anugerah TUHAN? Kita tidak memilih di mana kita dilahirkan, atau seperti apa rupa kita, seperti apa kepandaian kita. Ada yang terlahir pandai, ada yang kuat, ada yang cantik atau tampan, atau buruk rupa. Ada yang lahir di keluarga raja, ada yang lahir di rumah pengusaha, ada juga yang lahir di gubuk jelata. Di manapun juga, ada peran yang diberikan. Apakah kita bertanggung jawab untuk menerima peran tersebut, seperti Ester yang dikasihi raja dan menerima mahkota serta kuasa? Ketika kesempatan itu datang, bertanggung jawablah. Berikan apa yang terbaik, walaupun masa lalu penuh kesulitan dan masa depan diisi rasa kesepian; mungkin TUHAN sedang menaruh kita untuk menyelamatkan bangsa.

Terimalah peran itu! Terpujilah TUHAN!

Rabu, 03 Februari 2010

Pengetahuan Dan Kepandaian

Dan 1:17 Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.

Serbuan orang Kasdim bukanlah hal yang remeh atau begitu saja; itulah penyerbuan yang dahsyat, mengerikan, dan penuh kekejaman. Mereka datang dan menghancurkan, membunuh, merampas, memperkosa, serta melakukan apa saja sekehendak hati. Betapa orang-orang Yehuda gemetar dan menggigil ketakutan di tengah amukan yang merampas semua kesenangan dan ketenangan – habis sudah hari-hari yang santai dan seenaknya itu. Mereka semula masih berpegang pada 'nubuat' para nabi yang menyatakan bahwa TUHAN akan melindungi, segala sesuatu akan aman sentosa dalam lindungan-Nya – betapapun orang Yehuda membiarkan saja penyembahan berhala terjadi di sana sini yang merupakan perzinahan keji melawan Allah. Siapa yang dapat menahan murka Allah, yang datang bagai api yang menghanguskan?

Dalam keadaan hancur, tidak semua orang diperlakukan sama. Mereka yang muda, yang belum cukup umur untuk berperang, serta yang berlatar belakang bangsawan dan anak-anak istana – yaitu orang-orang muda yang sejak kecil telah menerima pendidikan, diambil untuk dididik dalam lingkungan istana Babel. Ini adalah cara yang cerdik untuk membuat agar seluruh negara taklukan tidak berontak, karena setiap bangsa mempunyai 'wakil' mereka di sana. Sebagai orang taklukan, banyak yang melihat bahwa inilah kesempatan untuk meneruskan masa depan. Bagi anak-anak muda dari taklukan itu, kerajaan mereka dahulu sudah hancur, kini mereka berlomba-lomba mengabdi pada Kerajaan Babilonia yang perkasa. Kalau dahulu masih menyembah Allah, kini mereka menyembah apa saja yang diagungkan oleh Nebukadnezar.

Berapa banyak yang seperti demikian, ketika semua yang terlihat baik, keluarga dan orang tua baik, tiba-tiba dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi yang tidak disangka-sangka? Mendadak saja, orang harus belajar sistem keuangan. Orang dituntut harus mengikuti 'aturan main' dari Babel modern, yang penuh persaingan dan tidak jarang saling menghancurkan. Yang muda kini berlomba-lomba belajar manajemen baru, di dalam prosesnya mengabaikan semua kebijaksanaan lama, melupakan iman dan Firman Tuhan. Pada pokoknya, orang kuatir kalah pandai, kalah pengetahuan mengenai segala hal yang dibutuhkan untuk maju ke depan. Tapi, tidak demikian dengan Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya. Mereka tidak tunduk pada persaingan, tidak perlu menuruti jalan orang-orang lain yang menajiskan diri.

Keempat orang muda itu bukan kuat, bukan lebih pintar daripada orang muda lainnya. Tetapi mereka mendapatkan pengetahuan dan kepandaian dari Allah – itulah yang selamanya mengubah kehidupan mereka, orang-orang muda yang sebelumnya biasa-biasa saja di istana Israel hingga menjadi pembesar di Babel. Orang berpikir bahwa harusnya mengikuti jalan dunia dengan segala kenajisannya untuk maju, tapi keempat anak muda ini memperlihatkan bahwa TUHAN memberi kesanggupan lebih dahsyat daripada yang bisa diberikan oleh dunia. Kepada siapakah kita bergantung untuk mendapatkan pengetahuan dan kepandaian? Siapakah yang bisa mengajarkan tentang penglihatan dan mimpi; sesuatu yang sampai sekarang merupakan misteri? Hanya TUHAN!

Mintalah HIKMAT kepada Tuhan, yang memberikannya dengan cuma-cuma! Terpujilah TUHAN!

Senin, 01 Februari 2010

Memerangi

Yer 1:17-19 Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.

Yeremia adalah seorang keturunan imam di Anatot, di tanah Benyamin. Ia mendapatkan Firman dari TUHAN, artinya menjadi seorang nabi, sejak tahun ketigabelas pemerintahan Yosia. Ini adalah saat di mana penyembahan berhala telah meracuni Yehuda karena Manasye – kakek Yosia – sangat jahat, demikian pula dengan Amon, ayahnya. Yosia diangkat saat ia baru berusia delapan tahun, tetapi hidupnya justru berbalik kepada Allah, sehingga ia kembali mentaati Hukum Taurat, yang ditemukannya saat delapan belas tahun pemerintahan Yosia.

Bagi Yeremia, ia melihat kehidupan yang bobrok, yang jatuh dalam kekejian penyembahan berhala. Ia terlahir sebagai keturunan imam, tetapi ia sendiri tidak menjadi imam, karena memang tidak ada pekerjaan menyembah TUHAN; orang Yehuda melupakannya. Namun TUHAN telah menetapkan Yeremia sejak awal, bahkan sebelum ia dikandung ibunya, untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Ia tidak menjadi imam, melainkan menjadi pembawa Firman TUHAN mengenai Yehuda dan Yerusalem. Ia memberitakan kata-kata Ilahi yang tajam, yang tidak ingin didengar oleh orang baik raja maupun rakyat jelata.

Bagaimana jika kita mendapat tugas untuk memberitakan sesuatu yang tidak menyenangkan siapapun juga, walaupun berita itu benar? Dalam perkara ini, rasanya sukar untuk berkata-kata. Sungguh sukar untuk mengingatkan bahwa orang harus bertanggung jawab atas pilihannya, mereka harus bersiap menerima malapetaka akibat ketidak-pedulian dan kebodohan mengikuti allah-allah bisu dan mati, dengan meninggalkan Allah yang hidup. Siapa yang mau mendengar teguran? Entah raja atau pemuka, entah imam atau rakyat negeri akan marah dan memerangi Yeremia seorang, yang bicaranya benar dan jelas menyampaikan Firman.

Tidak ada manusia yang dapat menghadapi seluruh negeri, kecuali orang itu disertai oleh TUHAN. Maka Yeremia menjadi kuat, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga. Inilah orang yang disertai TUHAN untuk mengabarkan teguran-Nya! Sejak itu, kehidupan Yeremia tidak pernah lagi sama – sampai tiba datangnya hukuman TUHAN. Adakah kita juga siap untuk memberitakan kebenaran? Mungkin berita ini tidak menyenangkan, ditentang orang. Mereka tidak mau bertanggung jawab, tidak mau tahu tentang masa depan, karena masih terbenam dalam ketidak-pedulian dan kebodohan. Mereka tidak mau sungguh-sungguh mengikuti TUHAN, mereka mengabaikan keluarga dan bahkan melalaikan usaha untuk hidupnya sendiri di masa depan! Marilah kita berdiri dan mengingatkan, seperti Yeremia lakukan. Jika kita tidak sanggup, ingatlah bahwa TUHAN menyertai kita untuk melepaskan kita, demikianlah firman TUHAN.

Terpujilah TUHAN!