Mat 27:24-25 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
Orang-orang itu memulai kerohanian mereka dengan peraturan yang kuat, menjadi adat istiadat yang luar biasa kaku dan keras. Perlahan-lahan, mereka menanamkan kemutlakan dari peraturan dan adat mereka sedemikian kuatnya, sehingga menjadi kebenaran yang absolut, mutlak. Itulah saat dimana keyakinan menjadi agama; ketika masih disebut keyakinan, masih boleh ada pertanyaan dan kritik serta akal sehat mempertimbangkannya. Tetapi saat telah disebut agama, maka pertanyaan dan kritik adalah suatu dosa. Orang-orang ini meletakkan agama di atas pikiran, di atas akal budi dan pertimbangan, menjadi cara yang harus diterima apa adanya, kalau memang mau menjadi pemeluk agama itu.
Yang mereka tidak sadari, agama dapat menjadi kutuk. Itulah yang terjadi dengan bangsa Israel, ketika kepada mereka diperhadapkan dua orang: Yesus dan Barabas. Yang satu tidak ada perbuatan salahnya. Yang satu lagi adalah penjahat besar. Akal sehat mengatakan bahwa seharusnya yang tidak berbuat salah, tidak dihukum. Tetapi agama mereka mengatakan bahwa yang tidak berbuat salah ini sudah menunjuk dirinya sendiri sebagai Anak Allah, dan itu adalah penghujatan yang lebih pantas diganjar oleh hukuman mati, dibandingkan si Barabas yang hanya berbuat salah. Agama membuat pernyataan diri Yesus menjadi kesalahan yang lebih besar dibandingkan perbuatan jahat Barabas. Pernyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah, terdengar jauh lebih jahat bagi mereka yang telinganya sudah ditutupi ajaran agama serta adat istiadat.
Masalahnya, dalam kebodohan itu orang Israel tidak mau menerima bahwa apa yang disampaikan Yesus merupakan hal yang benar. Mereka bahkan tidak bersedia mempertimbangkannya! Ketika para imam dan pemimpin rohani Israel berseru untuk menuntut penyaliban Yesus, keyakinan agama membuat kebenaran versi mereka sendiri tidak lagi dipertanyakan. Pasti begitu, pasti Yesus yang salah, yang harus disalibkan! Saat Pilatus melihat usaha untuk membela Yesus menjadi sia-sia – malah usaha itu mendatangkan kekacauan, ia melihat bahwa akal sehat sudah tidak ada lagi di sana. Pilatus tidak mau ambil bagian; ia mencuci tangan. Orang Yahudilah yang bersama-sama menjawab, "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
Itu adalah kutuk yang hebat, yang terwujud dengan hancurnya Yerusalem beserta seluruh wilayah Yahudi di bawah taring-taring besi Romawi. Mereka yang berseru dalam keyakinan agama itu tidak tahu, bahwa mereka sedang mengutuki diri dan keturunan sendiri dengan cara yang tidak terbayangkan, lebih parah dari kebodohan nenek moyang mereka yang meninggalkan TUHAN demi menyembah dewa-dewa asing. Sejak saat itu, kehidupan orang Israel berubah drastis, sampai hari ini. Pelajaran bagi kita: apakah kita dibutakan oleh keyakinan agama dan segala macam peraturan dan filsafat dunia? TUHAN tidak membuat kita berada dalam keyakinan agamawi yang mati dan tidak lagi berpikir, tidak lagi mempertimbangkan kebenaran yang sesungguhnya. TUHAN mau kita hidup dan bertumbuh dalam Firman-Nya, yang memiliki kuasa untuk menentukan jalan hidup manusia.
Kiranya kita dijauhkan dari kutuk yang kita buat sendiri dalam kebodohan. Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar