Senin, 15 Februari 2010

Mesias

Mat 16:15-16 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Simon bin Yunus telah menjadi Petrus ketika ia menyadari bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Ini bukan urusan sederhana bagi bangsa Yahudi, karena tiga hal. Yang pertama, bangsa ini mempunyai sejarah yang panjang dan erat dengan keberadaan YHWH, sejak menjadi Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub, kemudian membangkitkan Musa, Yosua, dan Para Hakim, kemudian jaman raja-raja besar seperti Daud dan Salomo. Semuanya berkaitan dengan TUHAN yang dahsyat dan menakutkan. Yang kedua, bangsa ini bertekad untuk menghidupi Perintah Allah, karena sejak jaman Ezra mereka sudah tahu betul pedihnya dihukum Allah. Dalam hal ini, mereka benar-benar pantang menyebut nama Allah sembarangan. Yang ketiga, ada sistem religius yang sangat ketat di antara orang Yahudi, yang masih tetap ketat sampai jaman sekarang.

Jadi, ketika Petrus menyatakan bahwa inilah Mesias, Anak Allah yang hidup, ia sedang mengambil suatu resiko yang amat sangat besar. Bagi orang Farisi dan kebanyakan orang Yahudi waktu itu, pernyataan demikian sama dengan penghujatan, yang patut dihukum mati. Lebih lagi, yang mengucapkannya hanyalah seorang bekas nelayan biasa, yang bukan orang terdidik dalam Hukum Musa, yang bukan orang terpandang atau dihormati. Pengalaman Petrus telah memberikan penegasan yang tidak terbantahkan tentang Yesus, yang kini patut disebut Kristus – atau Mesias, artinya Yang Diurapi – sekaligus telah membuat hidup Simon berubah. Perubahan ini terjadi karena Tuhan sendiri yang menyatakannya; demikianlah mulai sejak itu Simon disebut Petrus.

Apakah kita memiliki kesadaran yang sama? Kadang, karena pengetahuan ini sudah dibawa sejak kita masih kecil, saat ini kita tidak lagi mengapresiasi artinya. Kita dengan mudah begitu saja menerima bahwa Yesus adalah Tuhan, Mesias, Anak Allah yang hidup. Itu karena kita tidak cukup menggali dan memikirkan betapa Yesus adalah sesosok manusia yang dibesarkan di Nazaret, yang bergaul dengan semua orang lainnya seperti manusia biasa pada umumnya. Memikirkan bahwa Yesus adalah Mesias, sungguh tidak masuk akal! Bagaimana pikiran manusia biasa dapat mengerti, bahwa TUHAN sekaligus adalah Manusia yang hadir bersama-sama orang lainnya?

Karena kita tidak memikirkannya secara mendalam, maka kenyataan ini juga tidak mengubah kehidupan kita, sampai kita benar-benar bersedia mempercayainya. Itulah permulaannya: dari iman orang dapat memikirkan secara mendalam, mengambil kesimpulan dan membuat keputusan. Jika kita turut bersama-sama Petrus menyuarakan pengakuan iman ini, maka kita pun dapat mengambil bagian dalam bangunan yang dibuat-Nya, yaitu Kerajaan Sorga di atas bumi. Inilah pengalaman dan pengakuan yang luar biasa, yang memberikan kehidupan kekal bagi semua orang yang percaya.

Dialah Kristus! Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: