Selasa, 06 November 2007

MENUJU TEMPAT PERHENTIAN

Ibr 4:1-7 Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan:

"Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,"

sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: "Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya." Dan dalam nas itu kita baca:
"Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku."

Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka. Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu "hari ini", ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas:

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!"

..oo00O8O00oo..

Ketika beberapa bulan lalu proyek instalasi selesai dirampungkan, pekerjaan yang berat nampaknya sudah selesai. Setelah hasil uji coba mesin menunjukkan angka-angka yang menggembirakan, nampaknya bagian terberat sudah selesai.
Ya, memang nampaknya melegakan banyak pihak, mulai dari manajer proyek, manajer pembelian, ahli instalasi listrik, instalasi mesin, staf lapangan, sampai petugas gudang inventaris yang selama berbulan-bulan harus selalu siap sedia dari pagi sampai malam. Sekarang mesin baru sudah terpasang, sudah siap beroperasi. Tinggal tekan tombol, mesin berjalan, dan semua senang.

Tetapi sekarang, baru nampak bahwa sebenarnya saat itu bukanlah akhir, melainkan awal dari proses yang lebih panjang dan melelahkan. Rencana instalasi hanyalah bagian awal dari keseluruhan rencana bisnis. Setelah mesin bisa berproduksi, bagian pemasaran langsung dibebani target berlipat-lipat. Bagian pembelian harus menambah jumlah pemasok dan barang-barangnya. Bagian inventaris dan logistik harus menyediakan lebih banyak tempat dan melakukan lebih banyak kontrol terhadap arus barang yang meningkat pesat.

Sebenarnyalah, ketika segala sesuatunya selesai disusun, pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai.

Jika kita mau meluangkan waktu untuk mengamati berbagai macam proses di sekitar, kita akan menemukan pola-pola yang serupa. Mulai dari kehamilan, nampaknya ada proses panjang dan melelahkan yang harus dialami seorang ibu.
Tetapi perjalanan sebenarnya baru dimulai ketika sang bayi dilahirkan. Atau proses pendidikan, waktu bertahun-tahun yang dipakai untuk kegiatan belajar di sekolah dan berakhir dengan acara wisuda. Sekali lagi, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai ketika ijazah sudah diterima, suatu perjalanan yang penuh perjuangan di antara para pencari kerja di seluruh dunia.

Pola ini terjadi sejak awal, bahkan dari saat Allah menciptakan langit dan bumi. Allah menjadikan segalanya dalam 6 hari penciptaan, di mana pada hari
ke-7 Ia memberkati ciptaan-Nya. Tetapi, pekerjaan-Nya belum berhenti.
Sebaliknya, justru kehidupan baru dimulai, di mana Allah terlibat penuh di dalamnya, karena Ia adalah sumber kehidupan. Berhentinya Allah pada hari ke tujuh bukanlah berarti bahwa bagian pekerjaan-Nya sudah usai. Sebenarnya, pada hari itu Allah berhenti untuk memberkati segala ciptaan-Nya, karena mulai sejak saat itu roda kehidupan mulai berputar dan bergulir. Ini adalah permulaan-Nya, permulaan suatu proses yang panjang dalam rencana dan kendali Allah.

Allah tidak membuat waktu yang berputar-putar, atau sejarah yang berulang-ulang. Sejarah kehidupan bergerak menurut sebuah garis lurus, ada awal dan akhirnya. Tentu, kita sekarang belum sampai di akhir sejarah, karena kita tahu bahwa roda kehidupan saat ini masih berputar. Tetapi akan tiba saatnya, ada suatu hari perhentian: Suatu keadaan di mana segalanya berhenti dan manusia tidak lagi dapat mengubah posisinya. Di manakah tempat kita berhenti kelak? Apakah tempat kita berhenti adalah sama dengan tempat Allah? Apakah kita ada bersama-sama dengan Dia?

Masalahnya, kita tidak tahu kapan hari-hari akan berhenti. Secara individu, hari itu adalah saat di mana kita mati, tubuh kita berhenti berfungsi, dan kita tidak lagi dapat memilih melakukan sesuatu di muka bumi. Secara global, hari itu adalah saat di mana Tuhan datang kembali untuk menghakimi dunia, dan tidak ada seorang pun --baik yang masih hidup maupun sudah mati-- dapat mengingkari keadaannya. Yang berada dalam Kristus, tetap dalam Kristus. Yang di luar Kristus, tetap di luar. Allah sudah memulainya dahulu kala, dan waktu bergerak lurus hingga mencapai hari-Nya. Ia telah membuat sebuah jalan yang dapat dipilih atau ditolak orang.

Tuhan adil dalam membuat keputusan-Nya. Ia tidak diam-diam membuat jalan yang tidak diketahui orang, sebaliknya Tuhan memberitakan kabar tentang jalan-Nya ke seluruh dunia. Ia melakukan ini melalui murid-murid-Nya, para pengikut-Nya dari jaman ke jaman, termasuk kita sekalian. Bukankah itu yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, sebagai amanat agung bagi kita?
Beritakanlah, jadikanlah segala bangsa menjadi murid-Ku, kata Yesus. Ini pun suatu proses: dimulai pada hari Pentakosta, dan berlangsung terus hingga berangsur-angsur seluruh dunia benar-benar menerima kabar keselamatan, kabar baik dari Tuhan: Yesus Kristus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Dan proses ini akan berakhir, di suatu ujung di mana seluruh dunia telah mendengar-Nya, dan tibalah hari perhentian-Nya.

Karena itu, di hari perhentian-Nya tidak banyak orang yang masih hidup dapat mengelak dan mengaku tidak pernah mendengar apa pun juga tentang Kristus.
Kabar keselamatan itu saat ini telah dinyatakan, bahkan dirayakan setiap tahun, seperti hari Natal yang sekarang diperingati di seluruh dunia. Dan kabar itu pun tidak sukar untuk dipahami: barangsiapa percaya kepada Kristus, ia tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Tidak dibutuhkan syarat yang aneh atau bermacam-macam, tidak diharuskan ada upacara ritual yang rumit, atau kehidupan yang serba ketat mengikuti aturan agama. Tuhan tidak membuatnya sulit, yang dibutuhkan hanya hati yang remuk dan hanya menaruh harap dengan mempercayai Tuhan Yesus Kristus.

Namun untuk hal yang sederhana ini, tidak semua orang mau mentaati-Nya.
Tuhan sudah memberikan banyak, amat banyak, tetapi manusia yang keras kepala masih memilih untuk mengagungkan perbuatannya sendiri, sehingga menolak untuk percaya pada Kristus. Ada saja orang yang mendengar kabar keselamatan, tetapi berita itu tidak ada gunanya bagi mereka. Tidak ada artinya, tidak menarik untuk dipikirkan dan dibicarakan. Banyak orang lebih suka untuk membicarakan tentang para pahlawan, daripada membahas bagaimana seseorang tidak berdaya untuk menolong dirinya sendiri. Orang pada umumnya lebih tertarik dengan kisah-kisah kepahlawanan dan kesuksesan, daripada tentang hidup yang pas-pasan, diisi penderitaan, dan penuh ketergantungan, walaupun kepada Allah, Pencipta langit dan bumi. Dan di hari Natal pun, semakin banyak orang yang tidak lagi mengirimkan kartu "Merry Christmas" yang memberitakan tentang kelahiran Kristus. Mereka menggantinya dengan "Happy Holiday" dan "Seasons Greetings" -- seperti yang dikirimkan oleh Presiden Amerika kepada 1,4 juta relasinya. Kristus tidak lagi menarik untuk dirayakan, mereka hanya menginginkan libur saja.

Kalau semua pokok pikiran ini dirangkum, coba bayangkan keadaaannya. Allah sudah menciptakan langit dan bumi, sudah memberkatinya, dan memberi kehidupan bagi seluruh mahluk. Tetapi manusia, mahluk yang berdosa dalam ciptaan-Nya, justru menolak bergantung kepada-Nya karena ingin menentukan sendiri hidupnya, menentukan sendiri apa yang baik dan yang jahat bagi dirinya. Allah memberi Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi jalan keselamatan, yang diberitakan oleh para Rasul dan murid Kristus, tetapi dunia menolak-Nya, menolak Firman, menolak kabar baik tentang kebenaran dan hidup dalam Kristus. Sekarang, coba renungkan: wajar dan adilkah bila kemudian Allah memurkai dunia yang menolak-Nya?

Wajar sekali. Adakah alasan yang dapat membenarkan ketidaktaatan manusia?
Adakah sesuatu yang dapat diajukan sebagai dalih kekeraskepalaan kita, bila kita bersikeras ingin menjadi pahlawan dengan kekuatan dan kepandaian dan sumber-sumber kita sendiri? Apakah kita dapat mengatakan, bahwa di dunia yang pluralistis ini, ada banyak arah yang ditempuh orang dan kita tidak bisa mengatakan bahwa arah yang ini benar dan yang lain salah? Jika kita berjalan berbeda arah dengan Tuhan, semakin lama akan semakin jauh jarak kita dengan-Nya. Pada akhirnya, kita tidak akan sampai di tempat-Nya, tidak akan memasuki hari perhentian-Nya. Tidak peduli berapa banyak orang yang mempunyai arah yang berbeda, sebenarnya hanya ada satu saja arah yang benar dalam hidup, karena Allah itu Esa.

Keadaan ini dapat diilustrasikan dengan gambaran matematika tentang dua titik dalam koordinat kartesian. Jika kita meletakkan dua buah titik dalam bidang koordinat, hanya ada satu garis lurus yang dapat menghubungkan kedua titik itu. Hanya ada satu arah yang dapat membawa kita dari titik yang pertama ke titik yang kedua dalam satu garis. Jika kita membuat penyimpangan arah, cukup satu derajat saja, maka tidak mungkin kita akan mencapai titik yang diharapkan karena jarak antara kedua titik itu amat sangat jauh.
Cobalah gambarkan ini dengan selembar kertas yang besar, pensil dan penggaris.

Renungkanlah: Allah sudah amat mengasihi kita, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menjalani garis itu, turun dari Allah ke dalam dunia. Ia telah menunjukkan arah-Nya, hingga Ia kembali kepada kemuliaan-Nya di Sorga. Apakah kita masih tetap berkeras kepala dengan jalan yang lain?
Ada orang yang keras kepala dengan dalih sosial dan masyarakat, lalu menjadi orang-orang yang tidak taat. Mereka sudah lebih dahulu mendengar Firman Allah, tetapi mereka mengabaikannya. Demi kedamaian dunia, mereka mengikuti arah mana saja yang dapat dipikirkan orang, bahkan juga jalan sesat yang ditunjukkan oleh iblis! Demi kemerdekaan manusia, mereka menolak semua petunjuk dan jalan dan pengajaran. Apakah kemerdekaan manusia dapat menentukan keputusan Allah?

Hari ini, saat mendengar seruan-Nya ini, janganlah keraskan hati. Tuhan tidak menyediakan hari-Nya dengan sia-sia, Ia menyediakan kehidupan kekal yang terbaik bagi manusia, bagi kita yang percaya pada-Nya. Betapa indahnya bila kita sekalian dapat bersama-sama berkumpul di hari-Nya, di tempat perhentian-Nya, dan tidak ada yang hilang binasa karena tersesat arah langkah dalam kehidupan. Ya, berdoalah, kiranya Allah yang menjagai langkah hidup kita setiap hari.

Terpujilah TUHAN!

HATI YANG TERPERDAYA

Ibr 3:12-19 Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. Tetapi apabila pernah
dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman", siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Kehidupan berjalan seperti sebuah kapal di tengah laut. Di kala langit cerah, matahari dan bulan nampak gagah, perjalanan tidaklah sukar.
Senantiasa ada petunjuk arah ke pantai, di mana orang tahu di sebelah sana ada daratan dan di sisi lain ada lautan dalam. Tetapi, jika langit mendung, berkabut, dan bahkan gelap, perjalanan di laut tidaklah terlalu jelas. Orang membutuhkan peralatan lain untuk menunjukkan arah, untuk memastikan bahwa di arah itu ada pelabuhan yang perlu segera dituju sebelum badai datang menerjang.

Selama berabad-abad, manusia tidak dapat meninggalkan daratan terlalu jauh, karena mereka tidak dapat menemukan jalan pulang. Orang dapat menjalankan kapalnya terlalu jauh dari pantai, lalu kehilangan arah dan tersesat. Sebuah kapal sederhana bisa terkatung-katung berbulan-bulan di perairan dalam, terbawa arus ke sana ke mari, ke arah yang semakin menjauh dari pantai dan daratan. Tak urung, seluruh penumpang kapal mati karena kelaparan dan kehausan, atau karena terkena penyakit yang dengan cepat menular di antara awak kapal. Orang baru bisa berlayar lebih jauh ketika manusia berhasil menemukan kompas dan penunjuk arah. Tak lama setelah manusia mengembangkan gelombang radio dan alat komunikasi jarak jauh, perjalanan di laut menjadi semakin jelas. Jaman sekarang orang berhasil menempatkan satelit di orbit bumi, dengan GPS orang bisa menentukan letaknya dengan tepat di mana saja ia berada.

Apakah dengan teknologi ini, orang tidak lagi tersesat di tengah laut?
Mungkin kita berpikir tidak akan terjadi. Tetapi, nyatanya tiap tahun ada saja orang yang tersesat, satu atau dua tidak cukup beruntung ditemukan dan ditolong sebelum meninggal di atas kapal yang terkatung-katung.

Apa yang terjadi? Kita tidak tahu. Mungkin alat mereka rusak. Mungkin, mereka terlalu ceroboh. Baiklah, apa yang kita dapatkan dari hal-hal ini?

Jika dalam pelayaran di laut orang bisa tersesat, demikian pula dalam perjalanan rohani. Untuk itu, mari kita mundur dalam waktu. Tidak terlalu lama, hanya sekitar tiga ribu lima ratus tahun saja. Oh, maafkan, ini bukan rentang waktu yang pendek, bukan? Tetapi kita mengetahui bahwa apa yang diberitakan ini benar terjadi, sebagaimana Alkitab telah memberitakannya.
Inilah tentang perjalanan rohani bangsa Israel.

Ketika pertama kali orang Israel tiba di Mesir, keluarga Yakub adalah keluarga yang telah mengenal Allah. Yakub secara pribadi telah mengalami perjumpaan dengan Allah, yang secara total mengubah kehidupan dan pandangan rohaninya. Pandangan ini diwariskan kepada seluruh anaknya, mulai dari Ruben yang tertua hingga Benyamin si bungsu. Kita mengenal Yusuf yang dipimpin secara luar biasa oleh Tuhan, menjadi jalan keselamatan bagi keluarganya dari ancaman kelaparan hebat. Dan bangsa Israel pun beranak-pinak di Mesir, di tanah yang terbaik untuk beternak, bercocok tanam, dan menjadi semakin banyak.

Namun empat abad kemudian, bangsa Israel yang telah banyak sekali jumlahnya itu menjadi budak bagi penguasa Mesir. Dan saat itu Mesir telah menjadi kerajaan yang amat besar, sebuah adikuasa di dunia jaman kuno. Saat itu, benua amerika masih merupakan tanah kosong, asia masih jarang penduduknya, eropa masih barbar. Tetapi benua afrika telah menjadi benua yang maju sekali, seperti juga daerah amerika selatan yang terisolasi dengan bagian dunia lainnya. Mesir benar-benar menjadi kerajaan yang paling maju, bahkan mampu menciptakan keajaiban dunia dengan piramidnya.

Apa yang lebih ajaib adalah, ternyata bangsa budak yang tertindas itu dapat bebas dari perbudakan, keluar dari Mesir. Jalannya tidak sederhana, sebaliknya amat dahsyat dan mengerikan dengan tulah yang bertubi-tubi menghantam kerajaan itu. Puncaknya, tak ada anak sulung laki-laki yang hidup, bahkan anak Firaun pun tak lagi bernyawa. Seperti sebuah badai hebat yang menghantam pelabuhan, sebuah kapal berhasil keluar dan menuju lautan lepas. Itulah bangsa Israel, yang mengalami seluruh keajaiban itu, dan kini mereka merdeka di bawah pimpinan Musa dan Harun, dan untuk pertama kalinya memulai perjalanan rohani menuju rumah, Tanah Perjanjian yang sejak dahulu telah dimiliki Abraham dan Ishak dan Yakub turun temurun.

Sebelum Musa memimpin mereka keluar, perjalanan rohani bangsa Israel hanyalah kerohanian yang tidak jauh dari pantai. Mereka tahu bagaimana berdoa dan berseru-seru kepada Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub, tetapi mereka tidak melangkah lebih jauh untuk mempercayai-Nya. Mereka hanya tahu dari nenek moyang, bahwa dahulu Yakub mengenal Allah yang besar, yang tidak kalah dengan Ra, dewa matahari bangsa Mesir, atau segala dewa lain. Mereka tahu bahwa dahulu nenek moyang mereka Abraham telah membuat perjanjian dengan Allah, tetapi semua itu dikisahkan turun temurun dari mulut ke mulut, menjadi serupa legenda atau dongeng yang tidak dipahami. Bangsa Israel mencoba untuk berbicara kepada Allah, tetapi kehidupan berjalan seperti apa adanya, sebagai budak yang tidak berdaya.

Di saat perjalanan itu dimulai, bangsa Israel telah memiliki semua peralatan yang dibutuhkan. Mereka mempunyai harta dari Mesir. Mereka memiliki kapten yang andal, Musa. Dan yang terpenting mereka memiliki Allah yang memimpin seluruh perjalanan bangsa itu melalui tempat yang tidak pernah mereka lalui, ke negeri yang hanya diketahui dari dongeng orang tua. Seharusnya semua berjalan dengan baik, karena Allah pun telah memberikan hukum Taurat yang tiada duanya, untuk menata kehidupan yang sempurna di tanah yang baik sekali.

Tetapi, mereka tersesat. Bukan karena kekurangan tuntunan. Bukan karena kekurangan pertolongan. Tetapi hati mereka telah terperdaya. Pikiran mereka telah dikelabui oleh dosa. Bukan terkelabui oleh suatu perbuatan salah atau keliru, tetapi oleh keadaan mereka yang telah terpisah dari Allah yang hidup. Bangsa Israel terputus hubungannya dari Allah Abraham, Ishak, dan Yakub; mereka tidak mengenal seperti apa Allah, seberapa besar kuasa-Nya, atau apa yang dapat dilakukan-Nya. Bahkan disaat Allah menunjukkan diri-Nya kepada bangsa itu, mereka tetap tidak bersedia mengenal-Nya dan memilih mendirikan anak lembu emas, sebagai sesembahan yang bisa mereka lihat dan raba dan kagumi keindahannya.

Dan pada puncaknya, bangsa Israel tidak juga mempercayai Allah yang sudah membawa mereka ke perbatasan tanah perjanjian. Mereka tidak perlu melakukan apa-apa, selain percaya kepada Allah, mengikuti pimpinan-Nya. Tetapi bangsa itu tidak percaya. Maka Allah membawa bangsa itu berputar-putar, 40 tahun lamanya, sampai matilah semua orang yang keluar dari Mesir, yang tidak bisa berubah dari ketidakpercayaan dan kekeraskepalaan mereka. Bangsa itu terkatung-katung di padang gurun, bergelimpangan mati di bawah sengatan matahari.

Bagaimana dengan kita sekarang? Seperti apakah perjalanan rohani kita?
Apakah kita bebas dari kesalahan yang sama, seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel? Seharusnya tidak, tetapi peringatan ini tetap berlaku:
awaslah, jangan sampai hati kita terperdaya.

Karena, kita pun berangkat dari kondisi yang sama: terputus dari Allah. Kita tidak mengenal-Nya, walaupun sejak kecil kita samar-samar mengerti keberadaan Allah Yang Maha Esa. Orang bisa menyebutkannya dalam berbagai kesempatan, menjadikannya sila pertama dalam Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa", tetapi sama sekali tidak mengenal-Nya. Ketuhanan hanya menjadi ide, menjadi suatu konsep dalam benak manusia, yang tidak mempunyai relasi yang hidup. Bagaimana orang bisa berelasi dengan sebuah konsep di benaknya? Kita dahulu mungkin mencoba untuk berdoa, mencoba untuk berseru kepada Allah, sebuah usaha coba-coba yang tidak ada hasilnya. Apa bedanya kita dengan seorang atheis yang berteriak, "Allah, kalau Engkau ada, tunjukkan diri-Mu padaku sekarang!" sementara hatinya yakin bahwa tidak ada apa pun yang muncul? Itulah dosa, keterpisahan dengan Allah.

Ketika kita telah menerima Injil dan menemukan bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup, yang berelasi dengan kita, yang telah berkarya melalui Anak Allah yang tunggal, kita tahu kebenaran. Allah bukan hanya konsep apa yang harus dipercaya menurut Kitab Suci, melainkan benar-benar Pribadi yang hidup dan berinteraksi dengan kita sekarang. Sama seperti orang Israel menemukan Allah dalam hidup mereka, demikian pula kita dapat menemukan Allah Roh Kudus menolong kita dan memberi kita karunia. Kita dibebaskan dari perbudakan kuasa dunia, dari ikatan perbuatan dosa yang seringkali mendikte kehidupan kita dahulu.

Namun, kita juga dihantui oleh keterpisahan kita. Allah telah melawat kita, telah mengulurkan tangan-Nya untuk mengangkat kita, tetapi kita tidak mau.
Hati kita terperdaya, kita masih lebih percaya pada kuasa uang dan politik daripada pada Tuhan. Ketika BBM naik, misalnya, urusannya bagi kita adalah melakukan langkah-langkah yang paling tepat untuk mendistribusikan kesejahteraan bagi orang yang berkekurangan. Apakah ada yang berpikir bahwa dalam keadaan seperti inilah berita Injil harusnya lebih gencar diberitakan?

Tak dapat dihindari, ada saja orang Kristen yang tidak percaya. Hatinya menjadi jahat karena ia murtad dari Allah yang hidup. Apakah hal ini bisa terjadi? Ya, bisa, karena orang Kristen adalah mahluk-mahluk bebas yang mampu memilih dengan merdeka. Allah senantiasa memelihara umat-Nya, seperti Ia memelihara orang Israel, tetapi umat-Nya itu bisa saja memilih membuat lembu emas daripada menyembah-Nya.

Jadi, bagaimana mencegahnya? Karena dalam kebebasan, Tuhan tidak mengikat orang. Kita pun tidak mungkin mengikat orang untuk hanya percaya kepada TUHAN, Allah yang hidup. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah mengingatkan, saling menjaga dan menegur dalam kasih. Kita perlu melakukannya setiap hari, selama kita masih bisa menyebut 'hari ini'.
Mungkin besok hari-hari akan berakhir. Bisa jadi, tak lama lagi Tuhan Yesus akan datang. Siapa tahu?

Dalam Kristus, kita telah memiliki bagian kita masing-masing. Ini adalah bagian yang mulia dan amat berharga, yang tidak terkatakan nilainya. Bagian yang senantiasa menjadi milik kita, selama kita dapat memelihara iman kita yang semula, yang benar, seperti yang telah diajarkan para Rasul kepada kita. Jika kita tetap memilih untuk percaya pada-Nya, bahkan di saat kita masih melakukan perbuatan yang salah dihadapan-Nya, kita tidak akan kehilangan bagian itu.

Hari ini, renungkanlah apa yang kita percayai. Jadikan renungan ini sebagai pengingat, untuk tetap percaya kepada Kristus, jangan biarkan hati kita menjadi tegar karena tipu daya dosa. Jangan biarkan ketidakpercayaan orang-orang yang tidak mengenal Allah mempengaruhi hati kita. Banyak orang membuat teori-teori, asumsi-asumsi, bahkan khayalan yang menyimpang, untuk menarik anak Tuhan berbalik lagi hatinya, menipu dengan kata-kata yang sepintas terdengar benar, namun dalam penyelidikan yang teliti terbukti salah sama sekali. Kita tidak mau mengulangi kesalahan bangsa Israel.
Semoga, kita tidak sebodoh mereka yang bergelimpangan mati di padang gurun karena ketidakpercayaan mereka.

Marilah maju terus. Sampai akhirnya, kita akan menjadi umat-Nya, jika kita tetap mempercayai Anak-Nya.

Terpujilah TUHAN!

SETIA MENJADI BATU

Ibr 3:5-11 Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan. Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus:

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku."

Jika Musa setia sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, kita setia sebagai apa? Kita mengatakan, "ah, itu kan Musa." Tetapi, Musa juga manusia biasa, sama seperti kita. Manusia yang mendapat bagian dalam kasih karunia Allah, lengkap dengan segala kekurangan dan kelemahan. Manusia, yang masih membutuhkan banyak orang untuk mencapai sesuatu -- tetapi, Musa setia. Maka permasalahannya bukanlah seperti apa kemampuan Musa, melainkan sejauh mana kesetiaannya. Bagi kita juga timbul pertanyaan yang sama: bukan sebesar apa kemampuan kita, melainkan sejauh mana kesetiaan kita kepada Tuhan.

Mengapa kesetiaan penting? Karena, kita adalah bagian dari rumah Allah.
Kemuliaan sebuah rumah tidak terletak pada batu-batu pembentuknya, melainkan pada orang-orang yang membangun dan mendiaminya. Tuhan telah membangun kita dan meletakkan kita pada tempat-tempat yang tepat, sesuai dengan kehendak-Nya. Porsi kita adalah berada pada tempat itu dan menjadi seperti apa yang dikehendaki-Nya; dengan demikian kita memuliakan Allah. Tetapi kita sendiri hanyalah batu.

Mari kita membayangkan sebuah dinding yang terbuat dari batu bata.
Bayangkan, bila pada suatu ketika ada sebuah bata yang mengatakan, "saya sudah bosan di sini. Saya ingin pindah saja." Lantas batu itu bergeser keluar dari tempatnya, untuk menempati sebuah lubang di tepi jalan. Dan lihatlah, tembok itu berlubang. Dinding itu masih berdiri kokoh, tetapi kini ada lubang di tengahnya. Sebagai dinding, sama sekali tidak terjadi pengurangan fungsi atau kualitas, tetapi ada cacat yang buruk. Hal yang buruk tentu menghilangkan kemuliaan karena rusaknya tembok itu.

Batu itu sendiri kehilangan nilainya, tidak ada lagi fungsinya. Mungkin memang sang batu bosan berada di dinding, tetapi keberadaannya di lubang jalan sama sekali tidak berarti dibandingkan tempatnya semula. Kemuliaan berkaitan dengan kesetiaan; begitu kesetiaan hilang, hilang pula kemuliaannya. Betapa pun batu itu nampak lebih jelas di pinggir jalan, lebih menonjol atau menarik perhatian, namun benda itu tidak berarti, tidak bermakna apa-apa.

Kembali kepada Musa, apa makna dari kesetiaannya? Ia telah mengerjakan hal-hal yang luarbiasa untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Musa sendiri hanyalah bagian dari seluruh kemuliaan yang diberitakannya. Jika kita mengingat kehidupannya Musa, ia hanyalah seseorang yang hanya bisa bersujud di hadapan Allah setiap kali masalah datang menghampirinya. Musa sama sekali tidak mengambil kemuliaan untuk dirinya sendiri, ia tidak terlepas dari pekerjaan Allah. Memang Musa terletak di posisi pemimpin bangsa Israel, berada di ujung tertinggi dari struktur bangsa yang keluar dari tanah Mesir, namun hakekatnya Musa adalah bagian dari bangunan Kerajaan Allah, sama seperti orang-orang lain yang setia kepada Allah dan tidak dikenal namanya.

Kehidupan di dunia seringkali menganjurkan jalan yang sama sekali berbeda.
"Yang penting berbeda" dan "be different" -- menjadi motto banyak orang.
Manusia merasa mulia karena dirinya berbeda, menjadi perhatian orang. Jika perlu, penampilannya dicat hingga berwarna warni, dengan asesoris yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dengan tampil berbeda, seseorang merasa dunia memperhatikannya. Dan jika dunia memperhatikan, maka di sana ada kemuliaan, ada kekaguman dan puji-pujian. Penting sekali mengupayakan agar nama diri dikenal, semakin terkenal semakin baik adanya. Apakah kita turut mengikuti trend ini?

Sedemikian pentingnya nampak "berbeda", sehingga kesetiaan menjadi hal yang menggelikan. Bagaimana bisa setia diam di dalam barisan batu-batu, tidak terkenal dan tidak diperhatikan orang? Maka, bagi banyak orang lebih baik keluar dan berdiri sendiri, walaupun akibatnya ada lubang di dinding. Orang tidak menyadari lagi kemuliaannya berada di dalam barisan, karena dalam pandangannya lebih baik dan lebih menarik menjadi batu yang berada di tengah jalan. Soal makna, siapa lagi yang masih peduli?

Perhatikanlah orang-orang yang nampak gemerlap, yang wajahnya terpampang dalam berbagai tabloid dan namanya digosipkan di mana-mana. Tidak jarang kehidupan yang mereka tunjukkan adalah hidup yang rusak: perselingkuhan di sini dan perceraian di sana. Semenjak masa pacaran, lalu menikah, hingga proses perceraiannya, semua menjadi bahan berita bagi tabloid gosip dan selebritis. Coba renungkan: mereka menjadi orang-orang yang hidupnya dirayakan (selebritis=celebrate=perayaan), padahal apa yang ditunjukkan sebenarnya hidup yang menyedihkan, bahkan mengerikan. Apa yang bernilai untuk dirayakan dari hidup seperti itu? Apa artinya menjadi orang yang dikenal orang di seluruh dunia, sebagai seorang yang berkali-kali kawin cerai dan merana? Uang memang banyak, tetapi untuk apa segala kemewahan dan kekayaan itu bila untuk tersenyum tulus saja susah sekali?

Ironisnya, orang berduyun-duyun mengikuti audisi untuk menjadi selebritis.
Orang bermimpi untuk menjadi terkenal, sehingga rating reality show selalu tinggi di mana-mana. Dan keadaan ini juga menghinggapi komunitas Kristen, di mana ada saja orang yang menginginkan namanya terdengar spektakuler, keberadaannya dilihat dan dihargai, sekalipun harus menanggalkan kesetiaannya. Tidak sedikit yang menginginkan posisi pemimpin di gereja, dan bila posisi itu tidak diperoleh maka ia mencari gereja yang lain. Kalau perlu, mendirikan gereja sendiri.

Renungkanlah: apa artinya "jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan" Kemegahan diri sendirikah yang dibicarakan di sini? Kepercayaan apa, pengharapan apa yang ada pada kita? Apakah kita sampai pada akhir hidup kita dengan memegang kepercayaan dan pengharapan itu? Bagi banyak orang Kristen, permulaan kehidupan rohaninya dipenuhi dengan kepercayaan dan pengharapan kepada Kristus, yang setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya. Hidup adalah milik-Nya, seluruhnya diserahkan kepada-Nya, karena kita adalah bagian dari bangunan rumah Allah di mana kepalanya adalah Kristus.

Tetapi dengan berjalannya waktu, kepercayaan dan pengharapan itu memudar, digantikan dengan keinginan untuk tampil ke muka. Tampil sebagai pemimpin, tampil sebagai orang yang menjadi tumpuan harapan jemaat. Setelah cukup lama, banyak aktivis merasa dirinya cukup berpengalaman dan berpengetahuan untuk membangun gereja yang lebih baik, dan merasa seharusnya hal-hal dikerjakan sesuai dengan pandangan dan pengalamannya selama bertahun-tahun.
Seharusnya orang melihat dirinya sebagai pemimpin, karena padanya ada petunjuk untuk membangun gereja. Ia tidak lagi berada bersama-sama dalam pelayanan, tidak lagi menempati tempatnya semula.

Dan sekali lagi, kita melihat ironinya sebuah batu yang jenuh berada di dinding, lalu berpindah ke lubang di jalan. Batu yang tahu betul bagaimana mengisi sebuah lubang, sehingga tanpa sadar justru meninggalkan lubang di tempatnya semula.

Dalam prosesnya, bukan berarti tidak ada masalah. Sebaliknya, ada banyak kekecewaan. Ada banyak pertengkaran, tuduh menuduh, seperti bangsa Israel yang menuduh dan menista Musa dan Allah. Bangsa itu merasa Allah dan Musa berkonspirasi hendak memunahkan mereka, walau pada mereka ada kenyataan penyertaan Allah yang nampak jelas dalam tiang awan dan tiang api. Demikian juga terjadi keresahan dan kekecewaan di gereja, di mana tidak sedikit orang lama yang merasa jenuh dan bosan dan marah.

Di satu sisi, orang merasa tidak diperhatikan dalam posisinya semula; sudah begitu lama terlibat pelayanan, tetapi tidak ada yang memperhatikan, apalagi berterima kasih. Di sisi lain, orang merasa membutuhkan alasan untuk keluar dari pelayanan, keluar dari kesetiaan. Dibutuhkan alasan untuk menjadi tidak setia, karena ada suara di hati kecil yang menegur dan mengingatkan: ini tidak benar, diamlah di tempatmu semula. Alasan-alasan ini menjadi pembenaran bagi ketidaksetiaan kita, mendamaikan suara-suara yang meresahkan itu. Dan tidak jarang, alasan-alasan ini keluar dengan suara yang keras, dalam berbagai kekecewaan yang diekspresikan secara nyata.

Bagi Allah, tindakan bangsa Israel yang mencobai-Nya selama 40 tahun adalah hal yang menyakitkan. Tidakkah mereka cukup melihat segala perbuatan Allah terhadap Mesir, dan segala kuasa-Nya di sepanjang perjalanan? Mengapa mereka tidak bisa berdiam diri di tempat yang Tuhan inginkan, melakukan apa yang Tuhan sudah persiapkan untuk mereka kerjakan? Tanah perjanjian itu sudah begitu dekat, begitu baik dan kaya isinya, tetapi bangsa itu menolak untuk masuk karena takut pada penghuninya. Tidakkah mereka ingat bagaimana Allah sudah bertindak hebat terhadap negeri terbesar di jaman itu? Bukankah penduduk tanah perjanjian tidak lebih besar dari bangsa mesir? Tetapi orang Israel menemukan alasan bagi ketidaksetiaan mereka.

Demikian juga kita seringkali berusaha menemukan alasan bagi ketidaksetiaan kita. Bukankah Tuhan sudah menunjukkan kuasa dan penyertaan-Nya di sepanjang sejarah gereja? Tak ada satupun alasan bagi kita untuk mengangkat diri sebagai orang yang "hebat" atau "dapat diandalkan", karena semuanya adalah hasil pekerjaan Allah. Maka, mengapa menggerutu karena tidak mendapatkan imbalan atau hormat dan terima kasih karena hal-hal yang memang sudah seharusnya kita kerjakan? Mengapa tidak tetap setia dengan apa yang Tuhan tunjukkan bagi kita?

Allah murka kepada bangsa Israel karena ketidaksetiaan mereka, maka Allah membuat bangsa itu berbalik dan berkelana di padang gurun selama 40 tahun sampai seluruh bangsa yang tidak percaya itu binasa, kecuali Kaleb dan Yosua. Selebihnya dari yang lahir di tanah Mesir, tidak dapat menginjakkan kaki di tanah yang dijanjikan itu.

Hal yang sama juga berlaku bagi kita sekarang: jika kita telah melihat dan mengalami segala karunia yang Tuhan berikan, telah menikmati semua pengalaman kuasa Allah, lalu kita pun berbalik dalam ketidaksetiaan, bukankah Allah patut murka pada kita? Kesetiaan dan ketidaksetiaan bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan; itu adalah suatu bentuk keputusan yang berasal dari kehendak bebas manusia. Tuhan akan memelihara hati, pikiran, dan jiwa kita dengan Roh-Nya yang menyertai dan menolong kita sekalian, namun Ia tidak memaksakan kesetiaan pada kita. Kita dapat membiarkan hati kita berjalan sendiri, dan tersesat dalam belantara filosofi manusia. Bisa saja kita menolak untuk mengenal jalan-Nya, karena kita memilih jalan kita sendiri. Namun, apabila kita memilih untuk menjadi tidak setia, sudah sepatutnya Allah murka, bukan?

Dalam murka-Nya, Allah bertindak. Ia mungkin akan memangkas bagian-bagian kehidupan kita, membuang apa yang membusuk dengan paksa. Tentu akan terasa menyakitkan, tetapi jika kita sadar, kita dapat kembali ke tempat kita semula. Namun ada kalanya kita pun terlalu keras kepala dalam kesombongan yang berurat-berakar dalam diri, sehingga dengan sadar kita semakin menolak Tuhan. Jika sudah demikian, salahkah bila Tuhan tidak lagi mengijinkan kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya?

Sejujurnya, ini adalah hal yang amat sukar dibayangkan. Sama sukarnya untuk membayangkan bagaimana bangsa Israel bisa tetap menolak Allah, sekalipun mereka telah melihat segala keajaiban kuasa-Nya. Jangan mengulangi kesalahan bangsa itu; ingatlah bahwa Allah yang menyertai kita sekarang adalah Allah yang sama yang menyertai bangsa Israel dahulu kala. Ia telah menyediakan tempat yang dijanjikan, sebuah tempat yang istimewa bagi umat-Nya. Tetaplah setia, di manapun kita berada, agar kehidupan ini bernilai di mata Tuhan.
Jika hidup kita telah dihargai oleh Allah, masih perlukah mencari-cari penghargaan dan hormat dari manusia di dunia yang akan binasa?

Terpujilah TUHAN!

BANGUNAN BUATAN ALLAH

Ibr 3:3-4 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah.

Hari ini, ada banyak anak yang mulai bersekolah dengan impian besar. Itulah cita-cita, yang menurut Bung Karno harus ditaruh setinggi langit, di antara bintang-bintang. Tentu saja, seiring dengan waktu, cita-cita itu semakin lama semakin rendah letaknya, hingga kembali mendarat di bumi dan bisa dicapai. Namun jangan keliru: ada juga yang mencapai hal-hal yang luar biasa. Tetapi bila diperhatikan benar, pencapaian itu bukan sekedar karena cita-cita yang tinggi, melainkan karena upaya yang tidak kenal menyerah untuk membuat diri menjadi lebih baik, dan lebih baik, dan lebih baik lagi.

Jadi begitulah: ketika masih kecil, seorang anak menaruh cita-cita yang tinggi. Mereka berdoa kepada Tuhan, minta pertolongan untuk mencapai bintang-bintang. Di saat sudah besar, kesadarannya berkata bahwa inilah hasil usahaku, jerih payahku, susah dan lelahku. Sudah sepantasnya aku menerima bagianku, kemuliaanku. Dan di sanalah terdapat harga diriku. Juga harga dirimu. Kesadaran ini menempatkan seseorang di antara masyarakat ketika mereka menjadi dewasa: ada yang merasa minder, merasa bersyukur, atau merasa diri tinggi, sombong. Ada suatu mekanisme yang terjadi dalam pikiran:
aku sudah kerja lebih keras, maka sewajarnyalah mendapat lebih banyak. Atau sebaliknya, orang merasa gagal dalam berusaha, gagal dalam bekerja, sehingga mengakui bahwa dirinya bukan apa-apa, karena tidak berusaha sebaik orang lain yang berhasil itu.

Sampai di sini, ada sebuah alasan yang dikemukakan, baik tentang keberhasilan maupun tentang kegagalan. Coba sekali-sekali perhatikan percakapan tetangga, mungkin kita akan menemukan kalimat-kalimat seperti
ini:

"Oh, ya dia tentu berhasil karena orang tuanya kaya."

"Ah, anak miskin dari keluarga sederhana itu memangnya bisa apa?"

Lihat, dunia sudah memaklumkan hukum sebab-akibat. Dari jaman dahulu sudah ada pepatah seperti "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" yang maksudnya kurang lebih sama: seperti itu bibitnya, demikian juga timbul buahnya. Jika menanam biji mangga, tidak bisa mengharapkan buah durian, bukan? Dan pohon mangga tidak bisa menghasilkan biji pohon durian! Demikianlah orang memandang keberhasilan dan kegagalannya adalah hasil sebab-akibat segala latar belakang kehidupannya. Pertimbangannya kurang lebih begini: karena latar belakangnya kaya, maka seseorang mampu untuk bekerja lebih keras, mencapai kemuliaan yang lebih besar. Sebaliknya, orang miskin kekurangan sumber daya untuk mengembangkan diri -- kurang pendidikan, kurang modal -- sehingga dengan sendirinya tidak akan berhasil seperti orang kaya.

Sedikit banyak, alasan ini begitu kuat mempengaruhi orang. Seorang anak yang dilahirkan dari keluarga pengusaha kaya akan cenderung untuk melihat dirinya menjadi pengusaha juga. Seorang anak yang dilahirkan di tengah keluarga buruh, hanya berani berharap mendapat posisi tertinggi sebagai pengawas, tidak lebih. Kalau ada yang keluar dari 'jalur', sudah dicap sebagai orang yang aneh, tidak tahu diri, berpikiran macam-macam. Alasan 'latar belakang'
adalah alasan yang kuat untuk memotivasi seseorang, yang akhirnya benar-benar membuat orang itu menjadi seperti yang dipikirkannya.

Apa yang sering luput dipertimbangkan adalah hal ini: kenyataan bahwa manusia bukanlah pohon. Tidak ada keharusan bagi manusia untuk menjadi sesuatu (atau seseorang) kelak. Sebuah keluarga pengusaha bisa memiliki anak yang menjadi ilmuwan. Sebuah keluarga buruh bisa memiliki anak yang menjadi pengusaha. Dan dari keluarga buruh bisa datang seorang raja! Bagi orang-orang yang berhasil mencapai puncak prestasi, tersedia kemuliaan dan penghormatan yang setinggi-tingginya. Perjalanan mereka diamati dengan penuh decak kagum, biografi mereka dituliskan dengan cermat, untuk dipelajari dengan tekun oleh banyak orang yang ingin meniru keberhasilannya. Tetapi sebaliknya, ada pula orang kaya yang jatuh miskin dan melarat. Lahir sebagai anak perempuan keluarga kaya, tetapi masa tuanya menjadi pembantu rumah tangga. Itulah hidup. Tak ada jaminannya, aturan sebab-akibat pasti terjadi dalam kehidupan ini. Selalu saja ada 'kelainan' yang muncul, yang sukar untuk dijelaskan sebab dan akibatnya.

Tetapi, di antara semua 'kelainan' itu, ada satu yang begitu luar biasa, sehingga tidak pernah terpikirkan manusia. Tidak masuk akal, sampai banyak orang berusaha menyangkalnya habis-habisan. Inilah keadaan yang luar biasa
itu: TUHAN menjadi manusia. Menjadi sama dengan kita semua, merasakan susah dan senang, hanya Ia tidak berdosa. Dia yang bersemayam dalam kemulian, rela mengosongkan diri-Nya untuk menolong manusia dari kebebalan dan kebodohannya sendiri. Itulah pesan yang jelas dan kuat dari penulis kitab Ibrani, suatu langkah yang tak terpikirkan dari TUHAN. Jika kita perhatikan bagian-bagian awal dari surat ini, jelas sekali nampak pembedaannya.

Dan apakah yang dihasilkan? TUHAN menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya. Ia mengangkat manusia dari keberdosaannya sendiri, dari kegagalannya untuk hidup. Dengan demikian, Ia membentuk orang-orang yang diselamatkan-Nya -- bukan dengan jalan paksaan atau ancaman, melainkan dengan cara memberikan nyawa-Nya sendiri. Tuhan meruntuhkan segala bangunan keangkuhan ciptaan manusia, merubuhkan dan mencabut fondasi-fondasi kehidupannya, agar dapat mendirikan bangunan baru yang ilahi. Dengan demikian, apa yang buruk dan rusak dari manusia dapat ditanggalkan, dilepaskan. Orang terbebas dari masa lalunya, bebas dari latar belakangnya, untuk menjadi manusia yang baru, yang mendapat pertolongan Tuhan.

Kalau dipikirkan, ini menjadi semacam pertukaran yang ajaib. Tuhan mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia, agar manusia yang kosong bisa terisi oleh anugerah, menerima karunia yang sebenarnya terlalu besar dan berharga. Tuhan memberikan diri-Nya runtuh dan binasa selama tiga hari, agar manusia bisa berdiri di hadapan Tuhan selama-lamanya! Tak ada seorang pun yang dapat menyatakan diri layak menerima anugerah Tuhan, tetapi nyatanya Tuhan memberikan diri-Nya sedemikian rupa. Dan bukan itu saja, Ia juga membantu manusia untuk melalui tahap demi tahap pengenalan akan TUHAN, mengungkapkan diri-Nya melalui Firman yang hidup dan kekal.

Kalau sudah demikian, dapatkah kita membanggakan diri?

Sesungguhnya, kita adalah bangunan-bangunan yang didirikan TUHAN dalam Kerajaan Allah. Ada yang sederhana. Ada yang megah. Mungkin ada yang terpesona memandang kehidupan kita (di antara banyak orang lain yang tidak peduli), tetapi ingatlah bahwa masing-masing orang adalah bangunan, di mana mereka sendiri menerima banyak karunia Allah. Dapatkah sebuah bangunan berbangga diri? Tidak! Namun bila memang ada hal yang baik dan mengagumkan dari sebuah bangunan, sesungguhnya upah terbesar haruslah dinikmati Pencipta bangunan itu.

Coba lihat Musa. Bukankah dia itu hebat sekali? Seorang pangeran Mesir.
Seorang yang terlatih untuk berkelana di padang pasir. Sanggup menghadapi Firaun yang penuh kuasa. Di mata orang Israel, Musa adalah sosok yang amat mulia, amat dihormati dan diagung-agungkan di antara manusia. Tetapi, Musa juga adalah bangunan, yang dibangun oleh Allah. Semulia-mulianya Musa, lebih mulia lagi Allah yang membangunnya. Sebesar-besarnya Musa, lebih besar lagi Allah yang memilikinya. Tak ada sesuatu apa pun yang dapat menjadi dasar bagi Musa untuk membanggakan diri, juga tidak ada sesuatu dasar bagi kita untuk menghargai Musa lebih dari perasaan kagum. Kenyataannya, Musa bisa demikian hanya karena Allah yang berada di baliknya, yang mengatur segala sesuatu.

Karena itu, yang ada adalah segala kekaguman dan puji-pujian bagi Allah yang telah membuat Musa sedemikian rupa. Yang ada adalah semua puji dan hormat dan kemuliaan bagi Allah yang telah menjadikan kita seperti apa adanya. Kita boleh saja menaruh cita-cita setinggi bintang, tetapi ketika kita mencapai bintang itu, bukan kita yang hebat. Bukan kita yang menyusunnya demikian, bukan kepandaian dan kekuatan atau kekuasaan kita. Kita berhasil karena Tuhan menjadikannya demikian. Karena Tuhan yang sudah mengambil langkah yang mengherankan, menjadi sama seperti manusia sehingga kita bisa bangun dari kebinasaan kita sendiri.

Jadi, itulah harga diri kita. Itulah kebanggaan kita. Pada saat kita sudah mencapai cita-cita, berhasil melakukan sesuatu yang 'besar' dan 'hebat', ingatlah bahwa kita ini hanya batu-batu dari bangunan Kerajaan Allah. TUHAN sendirilah yang menjadi ahli bangunannya, yang layak menerima segala hormat dan pujian, kemuliaan dan hormat. Jauhkanlah kesombongan dari diri kita: tak ada sesuatu pun yang layak menjadi dasar kesombongan itu. Juga jauhkanlah minder dan rendah diri, karena di balik segala kehidupan kita -- betapa pun nampaknya tidak berarti di mata manusia -- ada TUHAN yang mengerjakan segala sesuatu yang baik, termasuk mengerjakan kebenaran dalam kehidupan kita.
Kiranya ini menjadi kemuliaan bagi kita, bahwa hidup kita menjadi hidup yang memuliakan Tuhan.

Terpujilah TUHAN!

IMAM BESAR

Ibr 3:1-2 Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya.

Jadi orang Kristen itu caranya mudah. Apapun keadaannya dahulu, bagaimana pun jelek dan jahatnya perilaku di masa lalu, seseorang bisa datang kepada Kristus, mempercayai-Nya dan mengikuti-Nya. Jadilah dia seorang Kristen yang artinya: pengikut Kristus. Gampang? Gampang sekali! Sedemikian gampangnya, sehingga banyak orang merasa hal ini harus sedikit dipersulit.
Setidaknya, orang harus banyak belajar terlebih dahulu sebelum dapat menyatakan diri percaya. Yang harus dipelajari jumlahnya cukup banyak dan mendetail, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menguasainya. Ada yang enam bulan, ada yang setahun. Setelah itu, barulah seseorang bisa dibaptis dan menjadi bagian dari jemaat, lantas disebut 'Kristen'. Atau, ya, kira-kira begitulah (karena di mana-mana ada saja orang Kristen yang perilakunya tidak menunjukkan kekristenan).

Padahal, jika kita pikirkan lagi, apakah yang dituntut dari seseorang untuk menjadi 'Kristen' selain sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus Kristus? Percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Percaya bahwa Ia datang untuk menebus dosa, dengan menjalani kematian di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga. Paulus mengatakan, "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." Cukup. Tidak perlu mendalami seluk beluk berbagai doktrin atau teologia. Jika orang sungguh-sungguh mempercayai pokok ini, dia bisa dibaptis dan menjadi bagian dari umat, seperti sida-sida Etiopia yang dibaptis oleh Filipus. Atau kepala penjara yang dibaptis oleh Paulus dan Silas.

Tentu saja, doktrin diperlukan, teologia dibutuhkan. Tak salah lagi, seorang Kristen harus mempelajari berbagai hal tentang Tuhan, karena itulah caranya manusia dapat mengenal Allah. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi seorang Kristen, tetapi tidak memahami apa yang Tuhan tetapkan dan kehendaki? Bagaimana kita dapat mempertimbangkan langkah kita sebagai anak Tuhan, jika kita mengerti pokok-pokok kebenaran dan prinsip yang sesuai dengan Tuhan? Jadi, tak diragukan lagi, orang Kristen perlu mengetahui segala sesuatu tentang iman Kristen, serta segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan.

Hanya saja, apakah orang harus belajar semuanya itu sebelum dibaptis?
Seberapa banyak yang harus dipahami seseorang, sebelum ia dapat mengaku percaya?

Salah satu pokok kebenaran yang dinyatakan Firman adalah kenyataan bahwa keselamatan adalah anugerah. Ini ditegaskan rasul Paulus pula: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah" -- pemberian, bukan upah. Tak peduli seberapa ringan atau seberapa keras orang berusaha, Tuhan memberikan keselamatan kepada manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu saja, tanpa prasyarat atau pre-kondisi. Jadi, mengapa ada banyak ujian sebelum seseorang bisa dibaptis?

Jika direnungkan, maka ada satu kenyataan lain yang perlu kita perhatikan.
Mungkin kita bisa perhatikan orang-orang di Gereja. Atau di rumah. Atau, kita bisa mengingat dan memperhatikan kehidupan kita sendiri. Dan inilah kenyataan itu: walaupun menjadi Kristen itu mudah, namun MENJALANI kehidupan Kristen itu sukar. Susah! Apakah kita heran? Apakah kita bingung melihat bahwa banyak orang telah menjadi Kristen, namun tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Kristen, serta apa bedanya dengan kehidupan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan?

Coba, pikirkan satu saja tentang kebutuhan pokok untuk hidup sebagai anak
Tuhan: merenungkan Firman Tuhan. Seberapa banyak di antara kita yang berhasil membaca Firman Tuhan secara teratur setiap hari? Mungkin banyak.
Dan seberapa banyak yang sanggup untuk merenungkan dan mengambil sikap terhadap Firman yang dibacanya? Rasanya lebih sedikit. Dan seberapa banyak yang berhasil membangun komitmen untuk melaksanakan segala perintah dan kehendak Tuhan, sesuai dengan yang telah didapatnya? Rasanya lebih sedikit lagi. Bahkan sesungguhnya, merenungkan Firman -- seperti yang kita lakukan sekarang -- tidak serta merta membuat kita menjadi pelaku Firman. Lebih mudah merenungkan dan menuliskan kata-kata ini, tetapi sukar untuk menjalankannya dengan benar dan setia. Oleh karena itu, apakah kita menjadi anak Tuhan karena demikianlah keterangan di KTP kita?

Tetapi, kita tidak menjadi anak Tuhan berdasarkan informasi di KTP. Kita tidak menjadi anak Tuhan yang hanya hafal ayat-ayat belaka. Tuhan Yesus berkata, kita menjadi sahabat-Nya bila kita MELAKUKAN apa yang diperintahkan-Nya. Jadi, jelaslah tuntutan bagi kita adalah melakukan kehendak Tuhan, yang sama sekali tidak mudah. Bagaimana caranya?
Sanggupkah? Betapa lemahnya kita! Padahal, itu baru satu pokok tentang mendengarkan dan melakukan Firman. Masih ada banyak pokok lain yang perlu dinyatakan dalam kehidupan seorang Kristen. Kalau satu saja susah, bagaimana harus melakukan dua atau tiga atau seratus pokok kehidupan Kristen?

Kalau kita hanya berusaha sendiri saja, bisa dipastikan kita akan gagal.
Jika hitungannya hanyalah seberapa lama kita telah berupaya sendiri, maka tidak banyak yang dapat kita harapkan. Akan lebih sangat membantu bila sebelumnya seseorang telah memahami semua kebenaran-kebenaran Kristen, mengetahui semua doktrin-doktrin paling penting, kemudian mengajarkannya pada kita. Dengan demikian, kita menjadi orang yang sungguh-sungguh memahami apa yang kita percaya, sebelum kita mengaku percaya. Oleh karena itu, gereja-gereja memulai persyaratan bagi orang untuk mengikuti pelaksanaan baptis dengan suatu program pendidikan seperti yang sudah kita bahas. Pelajaran yang diberikan menjadi penting bukan untuk proses baptisan, melainkan untuk kehidupan berikutnya, setelah dibaptis.
Diharapkan, segera setelah selesai dibaptis, orang itu dapat langsung menjalani kehidupan Kristennya dengan baik. Apakah pendidikan ini cukup?

Pertimbangkanlah: pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita untuk mengikuti Kristus. Pendidikan dan pengajaran yang panjang sebelum orang dibaptis dibutuhkan bukan untuk membuat seseorang sempurna ketika dibaptis, melainkan agar orang itu mempunyai hati untuk terus mengikuti Kristus SETELAH ia menjadi bagian dari jemaat. Orang dikuduskan dan menjadi saudara Tuhan Yesus Kristus bukan hanya untuk duduk diam-diam saja, melainkan untuk terus bertumbuh dan berkarya memuliakan TUHAN. Tuhan Yesus telah menjadi saudara dan sahabat kita yang mengetahui benar segala kesusahan dan penderitaan manusia, sehingga Ia sanggup menolong kita untuk maju bersama-Nya. Tidakkah hal ini indah dan luar biasa? Ketika kita membutuhkan seseorang untuk menolong, yang hadir adalah Roh Tuhan sendiri, yang menyampaikan pengajaran Tuhan Yesus Kristus!

Inilah yang dibawa oleh penulis surat Ibrani: marilah kita memandang kepada Yesus! Dia adalah Rasul, utusan Allah di Surga. Dia adalah Imam Besar, yang menjadi penghubung, menjadi jalan bagi kita untuk mencapai Allah Bapa. Kita menjadi bagian dari jemaat yang bergerak, berjalan maju menuju Surga di dalam Dia. Menjadi Kristen baru langkah awal, tetapi menjalani kehidupan Kristen berarti meniti jalan yang sempit menuju Allah.
Memang tidak mudah, dan mungkin juga tidak nyaman. Menjalani jalan-Nya berarti turut mengambil bagian dalam penderitaan-Nya karena dunia menolak-Nya. Tidak pernah mudah.

Karena itu, rasul Paulus sendiri kepada jemaat di Korintus mengatakan bahwa kesanggupannya adalah karya Allah. Kita ini dimampukan, dalam perkembangan yang tumbuh setahap demi setahap. Yang kita harus lakukan adalah melihat Yesus. Melihat kesetiaan-Nya menjalani kehidupan yang sukar, sebagaimana Musa juga setia. Demikianlah kita harus setia untuk menjalani kehidupan Kristen, mengikuti Tuhan dengan melakukan perintah-Nya, kehendak Bapa di Surga. Renungkanlah: sampai di mana kita sekarang? Apakah kita setia?

Banyak orang Kristen yang berhenti belajar setelah ia selesai dibaptis.
Setelah kelas-kelas selesai, upacara pembaptisan dirayakan, sudah. Mengapa sudah melangkah masuk melalui pintu, tetapi tidak terus berjalan ke dalam?
Banyak pula yang berpikir bahwa pelajaran sebelum baptisan -- yang banyak dan lama -- itu sudah cukup untuk menjadikannya seorang Kristen. Sayang sekali, mereka yang beranggapan demikian itu keliru, karena sebenarnya pelajaran menjadi Kristen harus dipelajari seumur hidup. Setahun (itupun biasanya hanya seminggu sekali) adalah waktu yang amat pendek untuk mengerti betapa dalamnya kebenaran Tuhan dalam hidup.

Setialah dalam berjalan. Setialah dalam belajar untuk mengenal Dia yang menjadi jalan! Karena hanya dengan sungguh-sungguh mengenal jalan, baru kita dapat menjalaninya untuk sampai ke tujuan. Itulah yang kita harus
lakukan: setia. Selebihnya adalah pekerjaan Allah, karena Ia yang akan memampukan kita melakukannya. Ia yang memberi kesanggupan, bahkan Roh-Nya yang mengajarkan kepada kita segala sesuatu tentang TUHAN dan kebenaran-Nya. Jika ini kita lakukan, maka tidak ada lagi bedanya antara mengikuti kelas katekisasi atau pengajaran selama setahun atau enam bulan atau tiga bulan. Karena kelas katekisasi bukanlah kelas yang akan berakhir, melainkan menjadi awal dari proses belajar seumur hidup. Bukan sekedar mempelajari buku-buku dan kitab-kitab Firman Allah, melainkan mengalaminya dan melakukannya sepanjang hidup kita.

Pandanglah kepada Tuhan Yesus. Ia setia melakukan ketetapan TUHAN, tidak kalah dari Musa yang menjadi orang paling setia dan paling penting dalam sejarah bangsa Israel. Marilah mengikuti-Nya, mengikuti jalan yang telah diberikan-Nya. Ada kehidupan yang tersedia di sana, bukan hanya saat baptisan. Bukan hanya untuk kegiatan gereja, melainkan seluruh kehidupan kita.

Terpujilah TUHAN!

Ref. Rom 10:9, Kis. 8:37, 16:33, Ef. 2:8, Yoh 15:14, 2 Kor 3:5

PENCIPTA MENJADI SAUDARA

Ibr 2:10-18 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah--yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan--,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, kata-Nya:

"Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat," dan lagi: "Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya," dan lagi: "Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku."

Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Pernahkah terpikir, siapa dan apa yang disebut 'Allah' itu? Ini bukan tentang masalah asal kata, seperti yang diributkan orang. Mari kita pikirkan, pada apa dan siapa kita bisa mengenakan istilah 'Allah' atau 'God'
itu?

Ada yang mengatakan, yang disebut 'Allah' adalah Dia yang paling berkuasa di alam semesta. Ada pula yang mengatakan bahwa 'Allah' dinyatakan oleh orang-orang yang menyembah-Nya; dengan kata lain, tergantung dari umat yang memuliakan dan meninggikan-Nya (dan sebaliknya: kalau tidak dimuliakan, maka tidak lagi mulia). Dalam banyak hal, orang sudah memberi kesan bahwa 'Allah'
adalah Dia yang misterius, penuh rahasia dan tidak mungkin dapat dipahami oleh manusia. Orang Yunani dahulu ada yang menyebut bahwa ada "ousia" Allah yang tidak dapat dimengerti, tidak terpahami. Dan sesungguhnyalah memang
demikian: tidak mungkin manusia bisa memahami keber-ada-an Allah. Tetapi, tidak berarti kita tidak bisa mengerti apa-apa tentang Allah.

Bagian dari surat Ibrani di atas menunjukkan, bahwa 'Allah' adalah "yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan". Kita mungkin tidak bisa memahami keberadaan Allah, tetapi kita bisa melihat apa yang telah diciptakan-Nya, serta memahami bahwa segala sesuatu diciptakan bagi-Nya.
Pernahkah melihat indahnya fajar menyingsing? Indah dan agungnya alam, tumbuh-tumbuhan dan binatang? Dari abad ke abad, manusia terpesona oleh keindahan dan keagungan alam semesta. Maka, terlebih mulia dan agung adalah Allah yang telah menciptakannya. Tentu kemuliaan Allah melebihi segala ciptaan, tetapi dengan mengerti betapa agung ciptaan-Nya, kita bisa mencoba memahami bahwa Allah lebih agung lagi dari semua itu.

Karena itu, betapa mulianya orang-orang yang disebut anak-anak Allah. Ia membawa mereka kepada kemuliaan, sesuai dengan keadaan-Nya sendiri.
Anak-anak Allah ini berjalan mengikuti Yesus Kristus, yang memimpin kepada keselamatan; sebenarnya, bukan hanya 'memimpin' melainkan Ia sendiri yang menjadi 'pencipta' keselamatan. Karena kita mengikuti-Nya, maka kita mendapatkan keselamatan itu serta menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Sang Pencipta, yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu diciptakan. Dapatkah kita membayangkannya?

Sampai di sini, mari kita memikirkan juga bagaimana cara pandang kita atas dunia ini. Apakah kita menyadari keagungan alam? Masihkah kita terpesona melihat indahnya bunga-bunga di taman, lembutnya cahaya bulan purnama, atau tergetar oleh kemegahan busur pelangi sehabis hujan di langit? Dengan peralatan mutakhir, manusia bisa melihat sampai ke ukuran molekuler, serta mengamati betapa istimewa dan rumitnya rantai-rantai DNA yang membentuk kehidupan -- suatu model yang ditemukan baik pada virus dengan sel tunggal maupun pada diri manusia yang amat rumit. Sedemikian rumitnya DNA itu, sehingga para ahli (seperti, Dr. Behe) menyebutnya sebagai kerumitan yang tidak bisa dikurangi (irreducible complexity). Bagaimana kita tidak terheran-heran oleh ciptaan-Nya ini? Oleh peralatan mutakhir yang lain, manusia bisa melihat alam semesta hingga jauh sekali -- milyaran tahun cahaya jauhnya -- dan menemukan kehebatan bintang-bintang. Ada bintang cepheid yang berdenyut-denyut secara teratur, sehingga orang bisa mengukur jarak semesta. Ada bintang yang memancarkan sinar X. Ada pula bintang dengan kekuatan medan magnet yang triliunan kali lebih kuat daripada medan magnet bumi. Tidakkah kita terpesona pula memandang semua keagungan keajaiban alam ini?

Nah, kemuliaan kekuasaan-Nya melebihi segala keajaiban alam yang agung. Dan kemuliaan itu menjadi warisan kita, anak-anak-Nya. Pernahkah kita merenungkan, betapa istimewanya menjadi anak-anak Allah? Sekali lagi, coba lihat keluar, dan lihatlah langit dan bumi.

Itulah ciptaan Allah. Masihkah kita menghargai segala sesuatu yang diciptakan secara luar biasa ini? Kadang, karena begitu terbiasanya melihat segala sesuatu, kita lebih sering mendefinisikan keindahan sebagai "sesuatu yang menguntungkan" bagi diri kira sendiri. Kalau sesuatu itu menguntungkan, kita mengatakan itu baik. Sebaliknya, jika kita mengalami kerugian, kita mengatakan itu buruk. Terhadap seekor nyamuk, misalnya, kita mengatakan binatang itu buruk. Tetapi sebenarnya jika kita perhatikan baik-baik, bukankah nyamuk juga suatu ciptaan yang istimewa? Perhatikan betapa lincah dan cepatnya nyamuk terbang, sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata padahal sayapnya begitu kecil! Terlepas dari menguntungkan atau merugikan, di mana-mana kita dapat melihat keagungan Allah dalam ciptaan-Nya.

Tetapi, itu belum semuanya. Allah bukan hanya mulia dalam penciptaan, Ia terlebih besar lagi dalam keselamatan. Ciptaan adalah wujud dari kekuasaan Allah, tetapi keselamatan adalah wujud dari kasih-Nya yang besar. Allah yang sempurna dalam ciptaan juga menjadi Allah yang sempurna dalam keselamatan; Ia telah memberikan Anak-Nya yang tunggal sebagai jalan keselamatan bagi manusia ciptaan-Nya yang telah jatuh dalam dosa. Untuk itu, Anak Allah mengosongkan diri-Nya sendiri dan menjadi manusia, sama seperti mahluk ciptaan. Dia yang menciptakan kini menjadi mahluk ciptaan. Kita, sebagai manusia, mungkin tidak akan pernah bisa memahami apa dan bagaimana jalan-Nya, sehingga bisa terjadi demikian.

Memang, sekali waktu ada orang yang meributkan tentang kelahiran seorang bayi dari seorang anak dara. Mereka mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak masuk akal, hanya reka-rekaan saja. Tetapi sebenarnya, yang lebih mustahil lagi adalah ini: mana mungkin TUHAN mau menjadi manusia?
Kehadiran-Nya melalui rahim seorang dara yang tidak pernah terjamah laki-laki hanyalah bukti bahwa Ia sebenarnya tidak tercemar benih dunia, di mana keajaiban yang sebenarnya bukan terletak pada dara yang melahirkan, melainkan pada Allah yang mau melawat manusia dan menjadi salah satu dari antaranya. Kita baru saja merenungkan betapa hebat ciptaan, dan betapa lebih hebatnya lagi Allah yang menciptakan. Bagaimana mungkin, Allah yang sedemikian mulia dan agung melebihi keagungan seantero alam, mau menjadi manusia?

Nyatanya, Ia menjadi sama seperti salah seorang dari kita. Dia datang untuk menguduskan manusia, yang diterima-Nya sebagai sesama-Nya, bahkan sebagai saudara-Nya. Tuhan memandang bahwa orang-orang yang percaya dan mengikuti-Nya adalah keluarga-Nya, sahabat-sahabat-Nya. Manusialah yang menjadi saudara-Nya, terdiri dari darah dan daging, yang bodoh dan lemah, dan berdosa. Dan justru karena dosa inilah, Ia datang! Bukan sekedar hadir, tetapi menjalani suatu rancangan yang luar biasa. Ya, luar biasa karena dengan rancangan itu Tuhan memusnahkan iblis yang berkuasa atas maut. Juga luar biasa, karena untuk mencapainya Tuhan harus melalui bukit Golgota dan kematian yang penuh derita dan kengerian di atas kayu salib. Untuk manusia inilah! Syukurlah, rancangan-Nya tidak berhenti di Golgota, melainkan diteruskan dengan kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Kemenangan yang total, yang tidak terlawan oleh iblis mana pun.

Bagaimana kita tidak tunduk pada Sang Pencipta, yang telah turun sedemikian rupa untuk memberikan keselamatan dan kemenangan bagi manusia? Apa yang Ia sudah lakukan melebihi semua kuasa, semua hal yang diingini maupun ditakuti orang di kolong langit. Karya-Nya bahkan melebihi maut; apalagi yang menakutkan dari maut, sedangkan Tuhan Yesus -- yang adalah Allah -- sudah mengalahkannya, sekali untuk selamanya?

Padahal, apa yang ada pada manusia ini? Mau dibilang pandai, orang yang paling berhikmat seperti Salomo saja bisa bertindak sangat bodoh. Mau dibilang bijaksana, nyatanya mengulang-ulang kesalahan yang sama, melebihi keledai. Mau dibilang setia, baru saja ditinggal sebentar sudah berlaku khianat. Mau dibilang pemberani, nyatanya panglima perang yang perkasa harus didampingi perempuan untuk berperang. Dari berbagai segi, mungkin lebih baik malaikat saja yang ditolong -- bukankah malaikat pun ada yang berbuat dosa dan dibuang dari hadapan Allah?

Tetapi belas kasihan itu milik Allah, sepenuhnya ada dalam tangan-Nya untuk diberikan. Ia mengasihani anak-anak Abraham -- bapa orang beriman -- bukan malaikat-malaikat. TUHAN mengambil rupa manusia, bersedia terpisah dari Bapa-Nya di Surga, untuk orang percaya, yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya. Tuhan menjadi pengantara, mengambil peran sebagai Imam Besar yang menghubungkan antara manusia yang berdosa dengan Allah yang kudus.
Sebagai manusia, Tuhan Yesus tahu betul pergumulannya serta sanggup memberikan belas kasihan sesuai dengan keadaan hidup manusia. Sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus setia dan tidak tergoyahkan dalam menyatakan kehendak Bapa. Di atas kayu salib, pengorbanan-Nya mendamaikan manusia dengan Allah.

Dengan demikian, bukan saja Tuhan secara sempurna berhasil menyediakan jalan keselamatan, Ia juga sepenuhnya memahami segala keterbatasan; setiap kelemahan dan kebodohan anak-anak-Nya diketahui-Nya. Dan karena Ia tahu, Ia juga sanggup menolong saudara-saudara-Nya. Tuhan tahu seperti apa pencobaan itu bagi manusia, Ia tahu daya tariknya, ancamannya, tantangannya. Ia tahu kepedihannya mereka yang dicobai, karena diri-Nya sendiri telah mengalami cobaan yang paling hebat yang dapat dialami seorang manusia.

Mudah-mudahan renungan ini tidak menjadi terlalu berat bagi kita. Amat sukar membayangkan kemuliaan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, lebih susah lagi membayangkan bahwa Ia mau menjadi manusia, dan betapa tidak terpikirkan dan terselami jalan-Nya untuk menyelamatkan dan menolong manusia! Apakah manusia ini, sehingga TUHAN bertindak sedemikian rupa?

Maka, marilah kita memikirkan hal ini: mengetahui semua yang sudah diberikan-Nya, apakah yang akan kita lakukan? Masihkah kita terikat pada segala kehendak dan keinginan duniawi, yang bertujuan memuaskan daging manusia yang akan binasa ini? Apa masalah yang tidak dapat kita bawa kepada-Nya, seolah-olah tidak ada lagi yang dapat mengerti dan menolong kita? Dengan kasih-Nya yang tak terselami saking dalamnya itu, Tuhan yang menciptakan semesta telah menjadi manusia dan menolong setiap orang yang mau mempercayakan diri kepada-Nya. Tuntas untuk selamanya!

Terpujilah TUHAN!

NAIK TURUN

Ibr 2:5-9 Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya." Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

Dunia datang, dunia pergi. Kadang, untuk sesaat orang sepertinya menerima segala sesuatu yang baik dari dunia, bertubi-tubi ia mendapat keuntungan dan kekayaan serta segala sesuatu yang baik di atas muka bumi ini. Baru saja ia mencoba untuk menikmati harta yang berlimpah itu, tiba-tiba pula secepat datangnya, dunia pergi bersama hartanya. Dan orang itu kembali tidak memiliki apa-apa. Hidup terasa seperti mengendarai roller coaster yang jungkir balik dengan sedemikian cepatnya, sehingga orang kehilangan orientasi dan tidak tahu kepalanya ada di atas atau di bawah.

Karena perubahan dalam kehidupan ini sedemikian cepat dan luar biasa, banyak orang yang merasa dipermainkan. Rasanya tidak banyak yang dapat dikatakan tentang keadilan atau bagian yang baik, karena apa yang baik dan enak itu umurnya singkat saja. Baru saja menikmati sebentar, tiba-tiba datang kesusahan dan penderitaan. Bagaimana, misalnya, baru saja sepasang muda mudi melangsungkan pernikahan dengan penuh gaya dan kemeriahan, tahu-tahu mereka sudah mau bercerai setelah hidup berkeluarga selama tiga bulan. Rupanya kegembiraan menjadi pengantin baru dengan cepat pudar, digantikan dengan serangkaian pertengkaran yang panas dan merusak. Segala hasrat dan gairah cinta telah lenyap, digantikan nafsu amarah dan kebencian yang memuncak.

Entah mengapa, mereka mau saja merusak dirinya sendiri beserta hidup orang lain. Apakah kehidupan ini tidak lagi berharga dan bernilai tinggi untuk dipelihara?

Dalam banyak perkara, orang merendahkan dirinya sendiri dengan menjadi budak kejahatan, seolah-olah manusia bukan mahluk yang mempunyai akal budi untuk mempertimbangkan segala tingkah lakunya. Segala keputusan ditentukan oleh nafsu yang menguasainya, sehingga manusia tidak lagi sanggup untuk mengendalikan diri. Ketika dunia datang dan pergi, hal terpenting yang dipikirkan orang adalah bagaimana memegang dan menguasai dunia sebanyak-banyaknya selama mungkin. Apakah ini suatu keserakahan? Bukan, kata mereka. Ini bukan keserakahan, melainkan upaya untuk mempertahankan diri, di mana yang bertahan hingga akhir adalah mereka yang paling pandai beradaptasi dengan situasi. Tentu saja "beradaptasi" di sini artinya memiliki sebanyak mungkin cadangan yang dapat digunakan ketika kesusahan datang, tanpa memperdulikan orang lain. Ini adalah kompetisi, bukan kejahatan. "Kami sedih dan prihatin dengan kemalangan yang diderita orang lain, tetapi apa boleh buat: lebih baik mereka susah daripada kami mengalami kerugian."

Kalau kita dapat menarik satu kesimpulan, banyak masalah dimulai ketika manusia tidak lagi menghargai kehidupan. Yang berharga adalah pemenuhan nafsu, baik nafsu untuk memiliki, nafsu untuk memperoleh semuanya, atau nafsu untuk menguasai. Mereka beranggapan bahwa lebih baik memenuhi segala kebutuhan hidup daripada menjaga kehidupan itu sendiri. Lebih perlu untuk mendapatkan apa yang diinginkan, walau untuk itu taruhannya adalah kehidupan dan masa depan. Ironis memang, bagaimana untuk "beradaptasi" demi memenuhi segala kebutuhan hidup, orang mengorbankan hidupnya!

Itulah dunia masa lalu dan masa kini. Seperti apa dunia di masa yang akan datang?

Karena manusia saat ini sudah merendahkan diri dan merusak dirinya sedemikian rupa, maka tidak sedikit orang yang berpikir bahwa masa depan tidak akan lebih baik. Dalam sesaat memang manusia merasa dapat bergantung kepada teknologi dan rasio untuk mengangkat kehidupan, tetapi buktinya terjadi Perang Dunia I dan II yang membuyarkan semua harapan itu. Mungkin dunia harus dihuni oleh para malaikat, baru ada perbaikan yang sesungguhnya. Tak ada harapan dalam diri manusia yang pandai merusak dirinya sendiri. Hanya kota yang diisi oleh para malaikat saja yang bebas dari kejahatan dan penderitaan. Itukah yang dipikirkan oleh TUHAN? Untuk malaikat-kah Allah menyediakan langit dan bumi?

Bukan! Allah menaklukkan dunia yang akan datang bukan untuk malaikat atau mahluk-mahluk sorgawi. Sesungguhnya, bumi diciptakan untuk Allah sendiri, yang menyatakan diri-Nya kepada manusia yang diciptakan-Nya segambar dan serupa dengan Allah. Manusia memang telah jatuh ke dalam dosa, namun TUHAN sendiri telah menjadi manusia - lebih rendah dari malaikat-malaikat - untuk menebus dosa. Maka kepada Tuhan Yesus Kristus diberikan segala sesuatu yang ada di dalam dunia, termasuk keberadaan kita sekalian.

Di sini kita menemukan suatu hal yang luar biasa: di saat manusia kehilangan harapannya, justru TUHAN menjadi manusia, bahkan menjalani kehidupan yang paling tragis dan tanpa pengharapan, sampai mati di kayu salib. Sementara banyak orang di seluruh dunia menjadi pesimis dengan kehadiran manusia (dan tidak sedikit yang lebih mencintai binatang daripada orang!), justru Tuhan memberi diri-Nya bagi manusia. Dengan memberi diri-Nya itu, Tuhan memberikan kelahiran kembali bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Manusia belajar untuk menemukan kembali kemuliaan TUHAN dalam kehidupan, karena bagi Tuhan Yesus telah diberikan segala kemuliaan dan hormat. Manusia belajar untuk kembali menguasai dan memelihara bumi beserta segenap isinya, karena kepada Tuhan Yesus segala sesuatu telah takluk. Semuanya, tanpa kecuali. Termasuk nafsu. Termasuk dosa dan upahnya, yaitu maut.

Apa artinya semua ini bagi kita? Bagaimana hal-hal ini dapat menjadi bagian dari hidup kita?

Yang pertama, kita mendapatkan harapan. Orang-orang lain bisa saja menunjuk kepada kenyataan hidup manusia yang bobrok dan nampaknya tidak bisa diperbaiki lagi, tetapi dalam Tuhan senantiasa ada harapan. Ketika Tuhan Yesus telah menjadi manusia, Ia telah siap menanggung dosa yang paling buruk dalam kehidupan manusia. Tak ada orang yang terlalu bobrok atau jahat yang tidak dapat menerima keselamatan dari Kristus. Di sisi lain, juga tidak ada orang jahat yang dapat mengelak dari Tuhan, ketika Ia berkenan untuk menyadarkannya. Tak ada yang tidak takluk kepada Kristus, ketika Ia menyatakan diri-Nya.

Yang kedua, kehidupan manusia menjadi amat berharga. Ketika Allah sedemikian tinggi menghargainya, sampai memberikan Anak-Nya yang tunggal, kita pun sepatutnya menghargai dengan sepenuh hati. Mungkin, kehidupan tidak berjalan seperti yang kita inginkan, tidak mulus dan tidak bebas hambatan.
Sebaliknya, kehidupan bisa nampak membingungkan, menakutkan. Dan mungkin pula, kita menemukan orang-orang yang merendahkan arti kehidupan, mereka menyia-nyiakan hidup mereka. Semua ini tidak menghilangkan kenyataan bahwa Allah menghargai kehidupan, di mana kita juga harus menghargai, baik hidup kita maupun hidup orang lain.

Yang ketiga, apa yang kita terima dari Allah jauh lebih besar dan mulia daripada apa yang ditawarkan dunia. Selama ini orang berharap pada dunia, tetapi dunia ini - sekali lagi - datang dan pergi begitu saja, berlalu seperti angin yang tidak kelihatan bayangannya. Dunia memang seperti itu, tetapi dalam Tuhan kita mendapatkan hal-hal yang lebih baik, yang kekal.

Sebagaimana Tuhan telah menghargai kehidupan ini, Dia juga memberikan hal-hal yang baik dalam hidup, hal-hal yang tidak akan hilang ditelan waktu, tidak akan rusak oleh karat, dan tidak akan lenyap dicuri. Kepada Yesus Kristus, Allah telah memberi kemuliaan dan hormat, yang juga menjadi bagian milik setiap orang yang berada di dalam Kristus.

Yang keempat, segala sesuatu telah Allah taklukkan di bawah kaki Kristus, termasuk keberadaan diri kita. Saat ini memang belum kelihatan semua hal takluk di bawah Dia, tetapi kita telah melihat awalnya, yaitu saat maut takluk kepada-Nya dan tidak lagi berkuasa. Kita juga dapat menyerahkan nafsu-nafsu kita, karena diri kita pun takluk kepada Kristus. Tidak ada lagi kuasa nafsu yang melebihi Tuhan yang berkuasa. Urusan memenuhi nafsu bukan lagi hal yang berharga, apalagi perlu dibela dengan taruhan nyawa. Dalam takluk kepada Kristus, segala hal yang paling berharga berada di dalam Kristus. Yang terutama adalah mentaati-Nya, menuruti segala kehendak-Nya, berada di dalam Dia.

Yang kelima, sampai di sini mungkin kita berpikir bahwa semua ini hanyalah filosofi, pendapat, opini, atau apa saja yang tidak perlu terlalu serius dipikirkan, tidak harus sungguh-sungguh ditanggapi. Pada kita ada pilihan untuk menerima atau menolak, dan kita dibebaskan memilih. Di samping itu, Tuhan juga belum melakukan semua rencana-Nya, karena nyata bahwa saat ini masih banyak (atau malah semakin banyak?) hal-hal yang menolak Allah. Orang yang senang mengumbar nafsu masih dapat seenaknya berlalu lalang. Tidak ada sesuatu yang terjadi, tidak ada api yang turun dari langit dan menghanguskan.

Pertimbangkanlah baik-baik apa yang ada, yang dapat kita pelajari. Tentu kita tidak menghendaki kesia-siaan, bukan? Ini bukan sesuatu dalam pikiran belaka, melainkan menjadi bagian dari apa yang kita pilih dan putuskan setiap hari, menentukan bagaimana kita mau menjalani kehidupan. Kalau hanya pikiran atau perkataan, bisa saja kita merenung hal-hal yang baik dan mengatakan hal-hal yang benar, tetapi perilaku kita sama sekali tidak menunjukkannya. Kita bertindak sepertinya di dunia ini tidak ada harapan lagi, membuat hidup kita tidak berarti dan tiada berharga. Kita mengatakan Tuhan mengasihi, tetapi kita tertekan oleh perasaan putus asa. Dalam renungan kita bersyukur, tetapi dalam realitanya kita berharap bisa menjadi malaikat yang tidak pernah susah. Dan kita mengatakan mau memerangi nafsu, tetapi nyatanya kita menghamba kepada nafsu yang menguasai.

Apa yang kita terima adalah bagian dari pilihan, yang dinyatakan oleh kehidupan kita. Tuhan sudah memberikan diri-Nya bagi kita, apakah yang akan kita lakukan untuk menerima-Nya? Maukah kita menaklukkan diri di bawah kaki Kristus?

Terpujilah TUHAN!

KE(TIDAK)PERCAYAAN

Ibr 2:1-4 Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan kesempatan sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.

Pemberitaan tentang Yesus Kristus merupakan hal yang amat sukar dipercaya.
Mulai dari kelahiran-Nya, betapa sukarnya untuk mempercayai bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang anak dara bernama Maria, perawan suci yang tak pernah dijamah oleh lelaki. Betapa sukarnya untuk menerima berita tentang seorang Yesus yang baru berusia 12 tahun tapi sudah dapat berdiskusi dengan para ahli-ahli Taurat di Bait Allah, bahkan membuat mereka tercengang karena jawaban-jawaban yang diberikan-Nya. Betapa sukarnya untuk menerima segala penuturan tentang perjalanan Kristus, sampai puncak kematian-Nya di kayu salib. Dan betapa sukarnya untuk menerima bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati, keluar dari kubur yang sudah ditutup batu.

Semua hal ini menyangkal pikiran dan logika manusia, sehingga tidak sedikit pula orang yang menganggapnya tak lebih dari dongeng atau mitos kuno. Ada banyak pelajaran yang benar yang bisa diambil dari dongeng, namun tidak perlu menerima keseluruhan kisahnya sebagai kenyataan yang benar terjadi. Maka, tak heran jika orang-orang merayakan Natal atau Paskah seringkali hanya sebagai upacara agama yang meriah belaka, lengkap dengan Sinterklas di hari Natal atau kelinci dan telur di hari Paskah. Ada pelajaran yang baik tentang kasih dan berbagi, namun kenyataan atas peristiwanya sendiri tidak perlu diakui atau dipercaya. Mereka merasa tidak perlu percaya kepada Yesus, sentral dari kekristenan yang dirayakan itu.

Ketidakpercayaan ini menjadi arus kuat yang menghanyutkan, yang tak urung menyeret pula orang-orang yang mulanya sungguh-sungguh percaya. Di antara berbagai macam pokok ajaran itu, penulis surat ibrani mengungkapkan Kristus dalam hal yang paling sukar untuk dipercaya, yaitu bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah, duduk di sebelah kanan Allah Bapa, jauh lebih tinggi dari segala malaikat yang suci. Bagaimana manusia bisa mempercayai hal ini, sedangkan Yesus sendiri juga adalah seorang manusia? Walaupun ada banyak tulisan sejarah, kesaksian, serta bukti-bukti, masih banyak yang tetap tidak percaya. Apalagi orang terbiasa untuk mendengarkan sepintas lalu, tidak menyimak atau memperhatikan benar-benar. Begitu sesuatu terasa tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan pengertiannya, orang cenderung untuk mengabaikan detil-detil karena sudah lebih dahulu menetapkan bahwa yang didengarnya itu tidak layak dipercaya. Untuk apa menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak mau dipercayainya?

Tetapi, siapakah manusia sehingga bisa menetapkan apa yang penting dan tidak penting untuk dipercayainya? Manusia bisa memilih untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu, tetapi tidak bisa menetapkan kebenaran melalui kepercayaannya. Orang bisa menganggap sesuatu penting atau tidak penting, namun tidak bisa mengatur nilai yang sesungguhnya. TUHAN penting dan patut dipercayai bukan karena manusia memilih untuk meninggikan dan mempercayai-Nya, demikian juga kebenaran ada karena memang benar dan nyata pada kebenaran itu sendiri, bukan karena penetapan atau keputusan manusia.
Jika manusia memilih untuk tidak percaya dan menolak-Nya, tidak sedikitpun ketidakpercayaan itu mengecilkan makna keberadaan-Nya.

Demikianlah, Tuhan Yesus Kristus berjalan di antara manusia sebagai manusia seutuhnya. Namun perhatikanlah -- sesuai dengan pemberitaan Firman Allah -- Kristus adalah juga seutuhnya Allah. Kita mengetahui hal ini dengan memperhatikan baik-baik apa yang disampaikan oleh Firman seperti yang disampaikan oleh penulis surat kepada orang Ibrani, sehingga kita tidak terbawa arus ketidakpercayaan. Jangan tidak percaya karena orang lain tidak percaya, atau karena orang lain mengajarkan untuk meragukan, sehingga kita keburu menutup pikiran kita sebelum mempelajari seluruh pernyataan yang disampaikan. Pertimbangkanlah: jika kita menutup diri terhadap pemberitaan firman, bukankah kita merugikan diri kita sendiri karena resiko yang besar akibat mengabaikan pernyataan Allah?

Ketika pernyataan itu dibawa oleh malaikat Allah, tidak mungkin dapat kita abaikan – betapa pun mustahilnya dan kedengaran tidak masuk akal. Tambahan pula, Firman Allah bersifat kekal melampaui batasan-batasan waktu, sehingga tetap berlaku, sampai dengan saat ini. Apa yang sudah kerjakan oleh Kristus tetap berlaku, hingga sampai sekarang juga. Di dalamnya ada konsekuensi yang harus kita hadapi, setimpal dengan pilihan yang kita ambil. Dapatkah kita menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui kebenaran dengan cara menolaknya karena ketidakpercayaan?

Jadi, jangan berbuat bodoh dengan bersikap mengabaikan. Perhatikanlah, dan putuskan dengan hati-hati. Pada kita telah diberitakan bahwa Kristus yang datang dari Allah telah hadir sebagai manusia, untuk memberikan keselamatan. Dapatkah kita mempercayainya? Pelajarilah baik-baik. Tidak ada tuntutan untuk harus segera percaya, tetapi juga jangan buru-buru mengambil keputusan sebelum mempelajari seluruh kebenarannya. Ada orang yang karena tidak percaya telah memberikan berbagai argumen, tetapi mereka mengabaikan semua bukti dan saksi; jangan mengikuti arus ketidakpercayaan itu dan berbuat bodoh.

Hal pertama yang perlu kita pelajari adalah sumbernya: dari mana pernyataan itu berasal? Ternyata, sumbernya pertama-tama adalah Tuhan Yesus sendiri. Hal ini membuat satu kondisi, di mana pernyataan tentang diri-Nya itu hanya dapat diterima seluruhnya atau ditolak seluruhnya.
Seandainya saja sumber pertama tentang ke-Allah-an Yesus berasal dari orang lain, kita bisa mengatakan bahwa pernyataan itu merupakan bentuk pemuliaan atau pemujaan dari pengikut kepada idola mereka, dimana pernyataan itu bisa diterima setengah benar – setengah salah. Tetapi karena sumber ini berasal dari Tuhan Yesus sendiri, kita hanya dapat menerima-Nya atau menolak-Nya, tak bisa setengah-setengah. Kita tidak bisa mengatakan pada-Nya, ‘Tuhan, Engkau salah, sebenarnya Engkau tidak persis seperti yang Engkau katakan.” Tak mungkin kita mengatakan demikian, karena bagaimana kita bisa tahu tentang seseorang lebih daripada orang itu sendiri?

Pernyataan Tuhan Yesus diterima dan disampaikan kembali oleh murid-murid-Nya kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai. Artinya, pemberitaan tentang Yesus Kristus diteruskan karena murid-murid yang mendengarkan-Nya telah mempercayai-Nya. Sampai di sini mungkin di antara kita ada yang bersikap skeptis; bukankah selama ini sudah sering dilakukan kebohongan-kebohongan terhadap publik, di mana berita-berita dipalsukan dan diubah agar sesuai dengan kehendak penguasa? Bahkan dikatakan bahwa kebenaran adalah milik penguasa; yang benar adalah apa yang dinyatakan benar oleh penguasa! Bagaimana orang dapat tahu apa yang benar dan palsu atas pemberitaan tentang Allah?

Dalam hal ini dibutuhkan otorisasi oleh Allah sendiri atas kesaksian mereka. Ketika Tuhan Yesus Kristus hadir, pernyataan diri-Nya dibuktikan oleh demonstrasi kuasa-Nya, sedemikian rupa sehingga orang-orang mustahil mengabaikan-Nya. Demikianlah, Allah juga mengotorisasi kesaksian yang diberikan, meneguhkan berita mereka dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat sebagai penyataan kuasa-Nya atas diri murid-murid sehingga kita dapat mengetahui bahwa mereka sedang mengatakan hal yang benar tentang Allah dan Kristus. Bukan itu saja, Allah juga mengutus Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya. Karunia Roh Kudus menjadi tanda dan bukti atas pekerjaan Allah di antara umat manusia.

Karena itu, sebenarnya orang harus lebih dulu menjawab semua bukti-bukti ini untuk bersikap tidak percaya. Baik bukti berupa catatan sejarah, kesaksian, serta pengungkapan dalam hidup maupun tanda-tanda dan mujizat menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Orang tidak bisa hanya mengandalkan pikirannya, membuat asumsi-asumsi lalu menolak segala bukti-bukti itu hanya dari pengamatan sepintas lalu.

Di sisi lain, untuk bersikap percaya pun dibutuhkan pengamatan yang sama.
Jika kita mempercayai sesuatu tentang TUHAN, kita perlu tahu bahwa apa yang kita percayai itu benar, sesuai dengan Firman-Nya. Ujilah segala sesuatu, kata rasul Paulus. Bukan artinya kita meragukan kepercayaan itu, melainkan kita berusaha agar kita tidak keliru dalam mempercayai-Nya. Iman kita dimulai dengan percaya, tetapi harus bertumbuh dalam pengenalan yang benar tentang TUHAN. Syukur kepada TUHAN, kita telah disertai oleh Penolong, yaitu Roh Kudus, yang mengajarkan dan membawa kita kepada kebenaran.

Terpujilah TUHAN!

ALLAH MENGURAPI KRISTUS

Ibr 1:9-14 Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu." Dan: "Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan." Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?

Marilah kita bahas tentang Tuhan Yesus Kristus. Semoga kita tidak merasa bosan atau malas memikirkan tentang Dia, karena sesungguhnya Ia adalah kehidupan kita sendiri, orang-orang Kristen. Bagaimana mungkin seseorang merasa bosan memikirkan tentang kehidupannya sendiri? Tidak perlu menjadi seorang teolog untuk memikirkan tentang-Nya, tidak usah menjadi pendeta atau aktivis kristen untuk merenungkan Kristus dalam kehidupan kita.
Bahkan bisa dikatakan bahwa seseorang menjadi seorang kristen karena memikirkan Kristus serta mengikuti-Nya sepanjang hidupnya.

Satu hal pokok yang amat penting dari Kristus adalah kenyataan bahwa Allah Bapa sepenuhnya berkenan atas Kristus. Jika ada seorang yang patut dijadikan teladan yang paling utama, contoh yang sempurna dalam hidup, orang itu adalah Yesus Kristus. Hal ini bukan karena Yesus adalah manusia yang paling baik di mata masyarakat, atau menjadi orang yang paling disukai seluruh dunia. Bukan, melainkan karena Yesus adalah orang yang diperkenan oleh Allah, sempurna di hadapan Sang Pencipta. Dikatakan bahwa Allah telah mengurapi-Nya dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Nya. Lebih dari segala hal dan orang baik yang ada di sekitarnya.

Mengapa demikian? Karena Yesus mencintai keadilan dan membenci kefasikan.
Di sini, kita menemukan satu hal penting lain, yaitu Tuhan membedakan antara apa yang adil dan yang fasik sesuai dengan Allah. Ini adalah pembedaan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, bahkan orang yang paling bijaksana sekali pun. Ada satu kuasa dan sifat pada diri manusia biasa yang menghalanginya untuk bersikap benar dalam mencintai keadilan dan membenci kefasikan, karena seorang manusia tidak mungkin bisa sepenuhnya membedakan antara apa yang adil dan apa yang fasik, apalagi sesuai dengan Allah.

Mungkin hal ini sepintas terdengar aneh, tetapi ini benar. Coba pikirkan, apa yang biasa kita sebut 'adil' dan 'fasik' itu? Jika ada seseorang yang miskin mencuri makanan seorang kaya, mungkin kita akan menyebut dia seorang yang 'fasik'. Padahal, mari kita perhatikan, bahwa pelaku pencurian adalah seorang yang benar-benar miskin dan tidak punya uang, sedang tidak ada yang mau memberikan pekerjaan padanya. Ia mengambil dari orang yang berkelimpahan makanan, karena orang kaya itu tidak pernah peduli pada orang miskin. Bukankah tidak ada banyak kerugian pada orang kaya yang diambil makanannya? Dalam hal ini, bukan hal yang aneh bila seseorang yang kekurangan mengambil dari orang yang kelebihan, malah bisa dikatakan bahwa itu adalah hal yang adil! Masalahnya bukan pada pembagian atau pemerataan, melainkan kejahatan yang dilakukan; biar bagaimanapun alasannya, mencuri adalah perbuatan jahat. Ada hal yang buruk terjadi pada diri orang kaya itu.

Tapi jika demikian, adil dan fasik tergantung pada hal-hal yang 'baik' dan 'buruk'. Kalau terasa baik -- misalnya saja, si orang kaya itu membagikan makanannya pada temannya yang sama-sama kaya -- maka perbuatan itu dianggap adil. Sebaliknya, jika dirasakan tidak enak, terasa jahat, maka perbuatan itu dianggap fasik. Tidak banyak orang yang memikirkan: sudah adilkah bila seorang kaya membagi-bagikan keuntungan di antara teman-temannya yang sama saja kayanya? Kita bisa lihat, di mana-mana uang orang kaya dihambur-hamburkan di antara sesama orang kaya. Inilah yang 'adil' dalam pembagian rejeki, terasa menguntungkan dan menyenangkan.
Sebaliknya, hal-hal yang tidak enak, terasa merugikan, dianggap sebagai hal-hal yang fasik. Orang fasik adalah orang yang mendatangkan keburukan pada orang lain di sekitarnya.

Sampai di sini, kita bisa melihat betapa kacaunya tata nilai manusia tentang baik dan buruk, adil dan fasik. Seorang kaya yang kecurian makanannya telah marah-marah bukan main, seolah-olah kehilangan harta besar sekali. Sebaliknya, ia sudah melakukan korupsi besar-besaran, merugikan negara habis-habisan, tetapi masih merasa apa yang diperolehnya sepadan dengan 'modal' suap dan sogok yang dahulu telah dikeluarkan untuk mendapat posisinya sekarang. Rasanya sudah 'adil' dan 'benar' bila ia mendapat fasilitas dan kesempatan untuk korupsi, setidaknya untuk mengembalikan 'modal' yang telah dikeluarkan berikut bunganya. Sungguhkah itu benar-benar adil?

Kita mungkin mengerutkan kening sambil berpikir, "kita kan tidak seperti itu!" Baiklah. Bagaimana tentang berkat? Ada seorang yang marah karena melihat saudaranya yang berkekurangan mendapat banyak berkat, sementara dirinya tidak mendapat rejeki sebesar itu. Pasalnya, ia merasa selama ini sudah memberi banyak persembahan, pula tidak pernah lupa untuk berdoa dan mengikuti sesi penyembahan dan pujian. Ada yang kelepasan bicara, "Allah tidak adil!" -- sesungguhnya itulah isi hatinya, merasa tidak menerima sebanyak yang seharusnya. Tak sedikit pula yang merasa Allah tidak lagi setia pada janji-Nya. Benarkah Allah lupa? Atau apakah orang ini yang sebenarnya sama sekali tidak mencintai keadilan, melainkan mencintai dirinya sendiri?

Maka kita kembali pada pokok semula: Yesus Kristus mencintai keadilan dan membenci kefasikan, dan Allah yang tahu segala sesuatu telah berkenan kepada-Nya serta mengurapi-Nya. Artinya, penilaian adil dan fasik yang ada pada Yesus adalah penilaian yang benar, yang dapat menjadi teladan semua manusia. Dalam diri-Nya ada standar mutlak tentang apa yang adil dan apa yang fasik, yang melampaui semua penilaian manusia. Bagaimana bisa demikian, sedangkan seorang Yesus Kristus adalah manusia juga?

Di sinilah kita menemukan, bahwa Tuhan Yesus Kristus memang 100% manusia DAN 100% Allah. Penulis surat kepada orang Ibrani mengungkapkan satu kebenaran lain tentang diri Tuhan Yesus Kristus: "Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan."

Tuhan Yesus Kristus sanggup untuk menetapkan keadilan di atas kefasikan, karena Ia adalah yang menciptakan bumi dan langit. Ia yang menentukan segala ciptaan, memutuskan maksud-maksud-Nya dan menetapkan batas-batas-Nya. Ia mengetahui siapa saja yang akan hadir di muka bumi, sementara segala sesuatu akan muncul dan binasa namun Ia tetap ada.
Hal-hal yang lama menghilang dan berganti menjadi baru, yang baru pun akan menjadi usang pula, namun Tuhan tetap sama sampai selama-lamanya. Ia tahu bagian yang tepat untuk setiap hal, memahami porsi yang adil untuk segala sesuatu sebagaimana telah diciptakan-Nya.

Karena itulah, Tuhan tahu apa yang benar, yang adil. Ia juga tahu apa yang fasik; Ia sanggup mempertimbangkannya karena Ialah yang menciptakan segalanya. Ia tahu apa yang patut diterima dan diambil dari setiap orang, tanpa terganggu oleh kepentingan seperti yang terjadi pada manusia lainnya. Pertimbangan-Nya tentang apa yang baik dan buruk bukan berdasarkan pada perasaan-Nya menurut keuntungan atau kerugian-Nya, melainkan pada maksud dan tujuan-Nya yang ada dalam setiap ciptaan. Dari sinilah kita dapat benar-benar tahu, bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah sepenuhnya TUHAN, Allah pencipta.

Dengan demikian, Allah adalah Yesus Kristus. Tetapi bagaimana dengan Allah Bapa di Surga? Apakah Kristus adalah sosok yang sama dengan Allah Bapa?
Sekali lagi, penulis surat kepada Ibrani membuka kebenaran ini kepada kita, yaitu Firman Allah kepada Kristus, "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu." Perkataan ini tidak diberikan kepada malaikat, sekalipun malaikat yang paling tinggi tingkatnya. Tetapi perkataan ini juga tidak diberikan kepada diri sendiri, karena Allah dengan jelas mengatakan untuk duduk di sebelah kanan-Nya, sejajar dengan-Nya. Allah Bapa duduk di Takhta-Nya, dan Tuhan Yesus Kristus duduk di sebelah-Nya. Dan bukan itu saja; Allah juga membuat musuh-musuh Kristus menjadi tumpuan kaki-Nya.

Ini adalah pengungkapan yang luar biasa. Tuhan Yesus Kristus mencintai keadilan dan membenci kefasikan sesuai dengan Allah, sehingga menerima pengurapan-Nya. Ia telah menciptakan segala sesuatu. Ia bertakhta di sisi TUHAN, Allah Sang Khalik dan berkuasa sebagaimana Allah sendiri. Tetapi Kristus adalah Pribadi yang berbeda dari Allah. Sedikit pun Kristus tidak kurang dari Allah sendiri, dan di dalam Dia ada ke-Allah-an yang penuh sebagaimana juga kasih setia-Nya dan cinta-Nya pada keadilan serta kebenciannya pada kefasikan. Dan dalam semua itu, Tuhan Yesus Kristus adalah juga seorang manusia, bukan malaikat. Bukan mahluk sorgawi yang jauh mengatasi manusia.

Apa artinya ini bagi kita? Satu hal yang pasti, kita memiliki teladan untuk kita ikuti dengan sepenuh hati. Nilai-nilai kita tentang keadilan dan kefasikan bukan berasal dari diri kita sendiri -- karena kita sudah tahu betapa palsunya pamrih manusia -- melainkan berasal dari Kristus.
Seperti Kristus mencintai keadilan dan kefasikan, demikian pulalah seharusnya kita mencintai keadilan dan membenci kefasikan. Dan apa yang Kristus lakukan bukanlah hal yang mustahil bagi manusia, karena dalam hal ini Kristus juga adalah seorang manusia.

Hal kedua adalah, kita tidak mengikuti Kristus seperti mengikuti seorang manusia, betapa pun bijaksananya. Kristus lebih dari Kong Hu Cu, lebih dari Mohammad, lebih dari Siddharta Gautama; lebih dari mereka semua karena Kristus adalah Allah. Mengikuti Kristus berarti mengikuti Allah sendiri, melakukan kehendak Kristus sama dengan melakukan kehendak TUHAN.
Segala sesuatu ciptaan di muka bumi ini berubah, hal-hal muncul dan menghilang, tetapi Yesus Kristus tetap sama karena Ia bukanlah ciptaan, melainkan Sang Pencipta. Mengikuti-Nya berarti berjalan menuju kekekalan, serta menjadi sempurna di dalam Dia.

Hal ketiga, kemanusiaan kita bukanlah hal yang rendah karena Kristus sendiri telah memilih untuk menjadi manusia. Bahkan para malaikat sebenarnya adalah roh-roh yang diutus bertugas untuk melayani manusia yang harus memperoleh keselamatan. Karena itu, perhatikanlah bagaimana kita hidup, jangan menyia-nyiakannya! Biarlah kita mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh, agar keberadaan kita sebagai manusia dapat menyerupai Yesus Kristus, sehingga berkenan bagi Bapa di Surga. Marilah menyatakan hidup yang berharga, sebagaimana Allah sudah memberikannya pada kita, dengan memuliakan TUHAN.

Terpujilah TUHAN!

ANAK ALLAH

Ibr 1:5-8 Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini," dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku." Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia." Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata:
"Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api." Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.

Dalam dunia roh, ada banyak yang ditakuti manusia. Yang paling jahat tentu saja adalah iblis, raja semua kejahatan yang jahat total, lalu ada berbagai macam jin (jinn, djinn, jinni, atau genie tergantung bahasanya), khususnya setan (sheitan, shaytan) yaitu golongan jin yang paling jahat.
Juga ada hantu-hantu yang gentayangan, serta berbagai macam mahluk lain yang menakutkan. Repotnya pula, mahluk-mahluk ini dikenal cerdas luar biasa; setan, misalnya, adalah jin yang berpengetahuan luas dan paham lebih dari seribu satu macam cara untuk menyesatkan dan membunuh manusia.
Selain setan, ada bentuk lain dari jin yang disini tidak begitu populer seperti ghoul (jin yang bisa berubah bentuk menyerupai apa saja), ifrit (jin jahat yang bisa kelihatan baik, padahal amat menyesatkan) dan si'la (kumpulan jin yang terdiri dari berbagai macam bentuk).

Keberadaan mahluk-mahluk ini tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah, namun telah nyata melalui praktek-praktek sihir dan magis, yang sudah berlangsung berabad-abad di berbagai tempat, mulai dari Afrika sampai Asia Tenggara, juga di Indonesia. Secara rasional mereka tidak nyata, tetapi pengaruh dari perbuatan mahluk-mahluk ini sudah disaksikan oleh jutaan orang selama berabad-abad. Memang sebagian hanya merupakan khayalan dan trik sulap yang mahir mengelabui, tetapi ada sebagian lain yang sungguh terjadi, tidak dapat dijelaskan. Tak heran kalau akhirnya ada sebagian orang yang menjadi skeptis, sementara ada sebagian orang lain yang benar-benar percaya bahkan kemudian terlibat dalam praktek sihir untuk mendapatkan keuntungan dari mahluk-mahluk ini. Maka ada sebagian orang yang merasa mampu 'menundukkan' jin dan menjadikan mahluk halus itu sebagai anak buah yang bisa diperintah sesukanya.

Sementara jin mewakili golongan mahluk halus yang jahat dan dianggap lebih rendah dari manusia, di sisi lain ada malaikat yang mewakili Allah. Karena mewakili Allah, maka tentu saja malaikat adalah mahluk yang baik dan setia kepada Allah, serta mendapat kuasa dari Allah. Manusia yang terbesar di bumi -- seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus -- tidak ada yang lebih besar dari yang paling kecil di Sorga. Para malaikat melayani Allah serta menyembah dan memuji-Nya, tetapi mereka juga menjadi utusan Allah untuk masuk dalam kehidupan manusia serta memberi pengaruh yang baik lewat berbagai macam cara. Malaikat pun terdiri dari berbagai bentuk, kita mengenal antara lain serafim dan kerub (cherubim, cheroubim) yang mempunyai peran khusus di hadapan Tuhan.

Dalam pengajaran apokaliptik di antara orang Yahudi, dikenal pula yang disebut archangel, yaitu tujuh pemimpin malaikat yang mengatur bala tentara Surga. Mereka adalah Uriel (pemimpin malaikat di Surga dan penjaga pintu ke dunia orang mati), Rafael (Raphael, yang menjaga jiwa-jiwa manusia di bumi), Raguel (yang menjadi tangan Allah melawan kesesatan dunia), Michael (penjaga Israel), Sariel (yang menjadi tangan Allah untuk menghukum mereka yang bersalah dalam roh), Gabriel (penjaga Firdaus, pemimpin serafim dan kerub), dan Remiel (malaikat yang menjaga jiwa manusia di dunia orang mati, sampai pada hari penghakiman Allah). Kita sudah pernah menemukan beberapa nama archangel ini dalam Alkitab, antara lain Gabriel dan Michael. Malaikat-malaikat ini sungguh misterius, kudus, dan....menakutkan.

Ya, manusia takut pada malaikat. Mungkin orang masih bisa bernegosiasi dengan jin, bahkan bekerja sama dengannya, namun tidak ada yang dapat bernegosiasi dengan malaikat. Orang bisa membuat berbagai tayangan televisi tentang jin dan setan, tetapi tidak ada yang dapat menggambarkan malaikat, paling-paling hanya bisa membuat sinetron tentang bidadari atau peri. Malaikat terlalu kudus dan ilahi, di luar kemampuan manusia memahaminya. Orang yang merasa diri cukup suci merasa sanggup menghadapi jin dan mengusir roh jahat (sampai dijadikan tontonan televisi), tetapi mereka akan tersungkur ketakutan di depan malaikat, apalagi malaikat pencabut nyawa. Selama berabad-abad tidak sedikit orang yang jatuh dalam kesesatan menyembah para malaikat, menempatkan malaikat sebagai penghubung antara manusia dengan Allah. Bagaimana dengan orang Kristen?

Bagi orang Kristen -- yaitu pengikut-pengikut Kristus -- telah ada Kristus yang menghubungkan manusia dengan Allah. Telah ada Roh Kudus yang menyertai kehidupan orang percaya. Tetapi, apa artinya? Bagaimana jika kita hendak membandingkan antara Tuhan Yesus dengan ketujuh archangel yang menakutkan? Orang mungkin tersungkur di depan malaikat, tetapi apakah orang juga akan tersungkur di hadapan Tuhan Yesus Kristus? Ada saja orang yang merasa Tuhan Yesus tidak se-istimewa malaikat. Dia hadir sebagai manusia biasa, yang sama-sama makan ikan di pinggir danau, tidak melayang-layang dan tubuhnya tidak bercahaya menyilaukan.

Bagi kita pun, mungkin merasa berhubungan dengan Yesus Kristus adalah hal yang wajar dan biasa, sedangkan berjumpa dengan malaikat adalah hal yang luar biasa. Jika kita bisa berdoa dan berkata-kata kepada Tuhan Yesus, rasanya biasa saja. Sejak sekolah minggu kita sudah melakukannya, bukan?
Tetapi, ada kegentaran yang hebat untuk berjumpa dengan malaikat, apalagi berbicara kepadanya. Jika saja ada yang mengalami perjumpaan itu, tentu ia akan memberi kesaksian dengan penuh semangat. Adakah yang merasa bersemangat untuk memberi kesaksian karena dapat berdoa dan berbicara dengan bebas kepada Tuhan Yesus?

Jangan heran, sudah lama orang Ibrani gemetar di hadapan malaikat, sehingga orang-orang Yahudi Kristen pun masih ragu untuk menempatkan Tuhan Yesus di atas malaikat. Penulis surat kepada orang Ibrani menjawab hal ini dengan jelas, sehingga kita juga mendapat kepastian. Ada tiga Firman yang ia tegaskan, yang diberikannya di awal surat ini.

Yang pertama adalah kenyataan bahwa Allah menyatakan diri sebagai Bapa-Nya, dalam suatu pernyataan yang tidak pernah terucap kepada para malaikat, sekalipun pada malaikat yang paling besar di Sorga: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini," dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku." Artinya, Tuhan Yesus bukan sekedar utusan. Bukan hanya mahluk yang menerima kuasa dari Allah untuk melakukan sesuatu. Bukan, melainkan suatu pernyataan kesatuan -- sama seperti seorang anak adalah bagian yang tidak terpisah dari orang tuanya.

Tuhan Yesus adalah Anak sulung dari Bapa, bukan anak angkat melainkan "Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini". Dia berasal dari Bapa, selalu bersama-sama Bapa. Pada hari Tuhan Yesus dibaptis, keberadaan-Nya sebagai Anak Allah dinyatakan -- karena sebelumnya manusia tidak mengetahui apalagi memahami tentang keberadaan-Nya. Pada hari itu, baru manusia mengetahui bahwa ada Anak Allah -- seperti sebuah pengumuman kelahiran yang datang terlambat. Yang penting bukan waktu kelahiran, melainkan kenyataan bahwa Yesus adalah Anak, yang berarti sepenuhnya memiliki kemuliaan Bapa, kekuasaan Bapa, dan Kerajaan Sorga. Sebab seorang anak turut memiliki segala kepunyaan ayahnya, mempunyai hak sepenuhnya.

Hak ini tidak dimiliki oleh malaikat, sekalipun malaikat archangel yang bercahaya terang. Pada mereka tidak ada kemuliaan seperti yang dimiliki oleh Allah, tidak ada kekuasaan yang mereka miliki sendiri. Malaikat tidak pernah diangkat lebih tinggi dari Anak, karena itu janganlah menyembah malaikat seolah-olah mahluk itu adalah Tuhan!

Yang kedua adalah kenyataan bahwa malaikat tidak lain dari pelayan-pelayan Allah, bagaimanapun dahsyat dan hebat nampaknya. Posisi malaikat adalah penyembah Allah, maka mereka harus menyembah Tuhan Yesus Kristus ketika Ia datang ke dunia. Hal ini menegaskan bahwa memang keberadaan sejumlah malaikat ada di atas muka bumi ini, di mana mereka harus menyembah Dia yang melangkah di jalan-jalan di Yehuda. Allah sudah berfirman: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia."

Jika malaikat diharuskan menyembah Dia, maka semua manusia -- yang pasti lebih kecil daripada malaikat -- juga harus menyembah Dia, bukan menyembah malaikat. Orang perlu menaruh hormat kepada malaikat, tetapi tidak menyembah karena malaikat tidak memiliki kemuliaan Allah. Mereka adalah pelayan, sama seperti umat-Nya di muka bumi ini.

Yang ketiga adalah pernyataan tentang keberadaan malaikat sebagai pelayan, "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api." Di sini kita menemukan bahwa malaikan memang tampil menakutkan, siapa yang tidak takut pada badai dan nyala api yang berkobar-kobar? Manusia bisa saja gentar dan gemetar terhadap badai dan api, tetapi ingatlah bahwa semua hanyalah bagian dari pelayan-pelayan Allah. Yang lebih penting adalah Dia yang dilayani, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah. Di sini dibutuhkan pemahaman: tidak semua hal yang menakutkan adalah hal yang harus dijunjung tinggi oleh manusia.

Yang keempat, inilah pernyataan final tentang Anak, yaitu, "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. " Di sini Anak disebut sebagai Allah, karena memang Allah adalah Anak di dalam diri Yesus Kristus. Dia disebut Allah, karena memang Dialah Allah. Bagian ini merupakan salah satu bagian yang eksplisit di luar Injil menyatakan ke-Allah-an Yesus Kristus, menjadi bukti bahwa Alkitab menyatakan Yesus adalah Allah. Tuhan Yesus memiliki takhta Kerajaan yang tetap untuk selamanya, dengan pemerintahan berdasarkan kebenaran, karena Dia adalah kebenaran.

Keempat pandangan ini, jika dirangkum bersama-sama, memberi pengertian tentang posisi Yesus Kristus dengan malaikat. Jelas bahwa malaikat ada di bawah Kristus, bahkan harus menyembah-Nya. Jika kita hormat kepada malaikat, kita harus lebih hormat lagi kepada Kristus. Jika kita tunduk kepada malaikat, kita harus lebih tunduk lagi kepada Kristus. Biarlah kita memiliki pandangan yang jelas, betapa mulianya Tuhan Yesus Kristus.

Maka, adalah suatu anugerah yang luar biasa besar, jika kita saat ini boleh menyapa-Nya sebagai sahabat. Betapa hebat anugerah itu, bila kita bisa berdoa dan berkata-kata dengan bebas kepada Tuhan Yesus, yang mendengarkan setiap doa yang tulus dari umat-Nya. Sudah sepantasnya dan seharusnya kita memberikan segala puji syukur kepada-Nya, memuliakan Dia dalam segenap kehidupan kita. Dia adalah Tuhan, Raja, dan Juruselamat kita!

Terpujilah TUHAN!