Selasa, 06 November 2007

KE(TIDAK)PERCAYAAN

Ibr 2:1-4 Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan kesempatan sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.

Pemberitaan tentang Yesus Kristus merupakan hal yang amat sukar dipercaya.
Mulai dari kelahiran-Nya, betapa sukarnya untuk mempercayai bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang anak dara bernama Maria, perawan suci yang tak pernah dijamah oleh lelaki. Betapa sukarnya untuk menerima berita tentang seorang Yesus yang baru berusia 12 tahun tapi sudah dapat berdiskusi dengan para ahli-ahli Taurat di Bait Allah, bahkan membuat mereka tercengang karena jawaban-jawaban yang diberikan-Nya. Betapa sukarnya untuk menerima segala penuturan tentang perjalanan Kristus, sampai puncak kematian-Nya di kayu salib. Dan betapa sukarnya untuk menerima bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati, keluar dari kubur yang sudah ditutup batu.

Semua hal ini menyangkal pikiran dan logika manusia, sehingga tidak sedikit pula orang yang menganggapnya tak lebih dari dongeng atau mitos kuno. Ada banyak pelajaran yang benar yang bisa diambil dari dongeng, namun tidak perlu menerima keseluruhan kisahnya sebagai kenyataan yang benar terjadi. Maka, tak heran jika orang-orang merayakan Natal atau Paskah seringkali hanya sebagai upacara agama yang meriah belaka, lengkap dengan Sinterklas di hari Natal atau kelinci dan telur di hari Paskah. Ada pelajaran yang baik tentang kasih dan berbagi, namun kenyataan atas peristiwanya sendiri tidak perlu diakui atau dipercaya. Mereka merasa tidak perlu percaya kepada Yesus, sentral dari kekristenan yang dirayakan itu.

Ketidakpercayaan ini menjadi arus kuat yang menghanyutkan, yang tak urung menyeret pula orang-orang yang mulanya sungguh-sungguh percaya. Di antara berbagai macam pokok ajaran itu, penulis surat ibrani mengungkapkan Kristus dalam hal yang paling sukar untuk dipercaya, yaitu bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah, duduk di sebelah kanan Allah Bapa, jauh lebih tinggi dari segala malaikat yang suci. Bagaimana manusia bisa mempercayai hal ini, sedangkan Yesus sendiri juga adalah seorang manusia? Walaupun ada banyak tulisan sejarah, kesaksian, serta bukti-bukti, masih banyak yang tetap tidak percaya. Apalagi orang terbiasa untuk mendengarkan sepintas lalu, tidak menyimak atau memperhatikan benar-benar. Begitu sesuatu terasa tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan pengertiannya, orang cenderung untuk mengabaikan detil-detil karena sudah lebih dahulu menetapkan bahwa yang didengarnya itu tidak layak dipercaya. Untuk apa menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak mau dipercayainya?

Tetapi, siapakah manusia sehingga bisa menetapkan apa yang penting dan tidak penting untuk dipercayainya? Manusia bisa memilih untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu, tetapi tidak bisa menetapkan kebenaran melalui kepercayaannya. Orang bisa menganggap sesuatu penting atau tidak penting, namun tidak bisa mengatur nilai yang sesungguhnya. TUHAN penting dan patut dipercayai bukan karena manusia memilih untuk meninggikan dan mempercayai-Nya, demikian juga kebenaran ada karena memang benar dan nyata pada kebenaran itu sendiri, bukan karena penetapan atau keputusan manusia.
Jika manusia memilih untuk tidak percaya dan menolak-Nya, tidak sedikitpun ketidakpercayaan itu mengecilkan makna keberadaan-Nya.

Demikianlah, Tuhan Yesus Kristus berjalan di antara manusia sebagai manusia seutuhnya. Namun perhatikanlah -- sesuai dengan pemberitaan Firman Allah -- Kristus adalah juga seutuhnya Allah. Kita mengetahui hal ini dengan memperhatikan baik-baik apa yang disampaikan oleh Firman seperti yang disampaikan oleh penulis surat kepada orang Ibrani, sehingga kita tidak terbawa arus ketidakpercayaan. Jangan tidak percaya karena orang lain tidak percaya, atau karena orang lain mengajarkan untuk meragukan, sehingga kita keburu menutup pikiran kita sebelum mempelajari seluruh pernyataan yang disampaikan. Pertimbangkanlah: jika kita menutup diri terhadap pemberitaan firman, bukankah kita merugikan diri kita sendiri karena resiko yang besar akibat mengabaikan pernyataan Allah?

Ketika pernyataan itu dibawa oleh malaikat Allah, tidak mungkin dapat kita abaikan – betapa pun mustahilnya dan kedengaran tidak masuk akal. Tambahan pula, Firman Allah bersifat kekal melampaui batasan-batasan waktu, sehingga tetap berlaku, sampai dengan saat ini. Apa yang sudah kerjakan oleh Kristus tetap berlaku, hingga sampai sekarang juga. Di dalamnya ada konsekuensi yang harus kita hadapi, setimpal dengan pilihan yang kita ambil. Dapatkah kita menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui kebenaran dengan cara menolaknya karena ketidakpercayaan?

Jadi, jangan berbuat bodoh dengan bersikap mengabaikan. Perhatikanlah, dan putuskan dengan hati-hati. Pada kita telah diberitakan bahwa Kristus yang datang dari Allah telah hadir sebagai manusia, untuk memberikan keselamatan. Dapatkah kita mempercayainya? Pelajarilah baik-baik. Tidak ada tuntutan untuk harus segera percaya, tetapi juga jangan buru-buru mengambil keputusan sebelum mempelajari seluruh kebenarannya. Ada orang yang karena tidak percaya telah memberikan berbagai argumen, tetapi mereka mengabaikan semua bukti dan saksi; jangan mengikuti arus ketidakpercayaan itu dan berbuat bodoh.

Hal pertama yang perlu kita pelajari adalah sumbernya: dari mana pernyataan itu berasal? Ternyata, sumbernya pertama-tama adalah Tuhan Yesus sendiri. Hal ini membuat satu kondisi, di mana pernyataan tentang diri-Nya itu hanya dapat diterima seluruhnya atau ditolak seluruhnya.
Seandainya saja sumber pertama tentang ke-Allah-an Yesus berasal dari orang lain, kita bisa mengatakan bahwa pernyataan itu merupakan bentuk pemuliaan atau pemujaan dari pengikut kepada idola mereka, dimana pernyataan itu bisa diterima setengah benar – setengah salah. Tetapi karena sumber ini berasal dari Tuhan Yesus sendiri, kita hanya dapat menerima-Nya atau menolak-Nya, tak bisa setengah-setengah. Kita tidak bisa mengatakan pada-Nya, ‘Tuhan, Engkau salah, sebenarnya Engkau tidak persis seperti yang Engkau katakan.” Tak mungkin kita mengatakan demikian, karena bagaimana kita bisa tahu tentang seseorang lebih daripada orang itu sendiri?

Pernyataan Tuhan Yesus diterima dan disampaikan kembali oleh murid-murid-Nya kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai. Artinya, pemberitaan tentang Yesus Kristus diteruskan karena murid-murid yang mendengarkan-Nya telah mempercayai-Nya. Sampai di sini mungkin di antara kita ada yang bersikap skeptis; bukankah selama ini sudah sering dilakukan kebohongan-kebohongan terhadap publik, di mana berita-berita dipalsukan dan diubah agar sesuai dengan kehendak penguasa? Bahkan dikatakan bahwa kebenaran adalah milik penguasa; yang benar adalah apa yang dinyatakan benar oleh penguasa! Bagaimana orang dapat tahu apa yang benar dan palsu atas pemberitaan tentang Allah?

Dalam hal ini dibutuhkan otorisasi oleh Allah sendiri atas kesaksian mereka. Ketika Tuhan Yesus Kristus hadir, pernyataan diri-Nya dibuktikan oleh demonstrasi kuasa-Nya, sedemikian rupa sehingga orang-orang mustahil mengabaikan-Nya. Demikianlah, Allah juga mengotorisasi kesaksian yang diberikan, meneguhkan berita mereka dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat sebagai penyataan kuasa-Nya atas diri murid-murid sehingga kita dapat mengetahui bahwa mereka sedang mengatakan hal yang benar tentang Allah dan Kristus. Bukan itu saja, Allah juga mengutus Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya. Karunia Roh Kudus menjadi tanda dan bukti atas pekerjaan Allah di antara umat manusia.

Karena itu, sebenarnya orang harus lebih dulu menjawab semua bukti-bukti ini untuk bersikap tidak percaya. Baik bukti berupa catatan sejarah, kesaksian, serta pengungkapan dalam hidup maupun tanda-tanda dan mujizat menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Orang tidak bisa hanya mengandalkan pikirannya, membuat asumsi-asumsi lalu menolak segala bukti-bukti itu hanya dari pengamatan sepintas lalu.

Di sisi lain, untuk bersikap percaya pun dibutuhkan pengamatan yang sama.
Jika kita mempercayai sesuatu tentang TUHAN, kita perlu tahu bahwa apa yang kita percayai itu benar, sesuai dengan Firman-Nya. Ujilah segala sesuatu, kata rasul Paulus. Bukan artinya kita meragukan kepercayaan itu, melainkan kita berusaha agar kita tidak keliru dalam mempercayai-Nya. Iman kita dimulai dengan percaya, tetapi harus bertumbuh dalam pengenalan yang benar tentang TUHAN. Syukur kepada TUHAN, kita telah disertai oleh Penolong, yaitu Roh Kudus, yang mengajarkan dan membawa kita kepada kebenaran.

Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: