Selasa, 06 November 2007

HATI YANG TERPERDAYA

Ibr 3:12-19 Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. Tetapi apabila pernah
dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman", siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Kehidupan berjalan seperti sebuah kapal di tengah laut. Di kala langit cerah, matahari dan bulan nampak gagah, perjalanan tidaklah sukar.
Senantiasa ada petunjuk arah ke pantai, di mana orang tahu di sebelah sana ada daratan dan di sisi lain ada lautan dalam. Tetapi, jika langit mendung, berkabut, dan bahkan gelap, perjalanan di laut tidaklah terlalu jelas. Orang membutuhkan peralatan lain untuk menunjukkan arah, untuk memastikan bahwa di arah itu ada pelabuhan yang perlu segera dituju sebelum badai datang menerjang.

Selama berabad-abad, manusia tidak dapat meninggalkan daratan terlalu jauh, karena mereka tidak dapat menemukan jalan pulang. Orang dapat menjalankan kapalnya terlalu jauh dari pantai, lalu kehilangan arah dan tersesat. Sebuah kapal sederhana bisa terkatung-katung berbulan-bulan di perairan dalam, terbawa arus ke sana ke mari, ke arah yang semakin menjauh dari pantai dan daratan. Tak urung, seluruh penumpang kapal mati karena kelaparan dan kehausan, atau karena terkena penyakit yang dengan cepat menular di antara awak kapal. Orang baru bisa berlayar lebih jauh ketika manusia berhasil menemukan kompas dan penunjuk arah. Tak lama setelah manusia mengembangkan gelombang radio dan alat komunikasi jarak jauh, perjalanan di laut menjadi semakin jelas. Jaman sekarang orang berhasil menempatkan satelit di orbit bumi, dengan GPS orang bisa menentukan letaknya dengan tepat di mana saja ia berada.

Apakah dengan teknologi ini, orang tidak lagi tersesat di tengah laut?
Mungkin kita berpikir tidak akan terjadi. Tetapi, nyatanya tiap tahun ada saja orang yang tersesat, satu atau dua tidak cukup beruntung ditemukan dan ditolong sebelum meninggal di atas kapal yang terkatung-katung.

Apa yang terjadi? Kita tidak tahu. Mungkin alat mereka rusak. Mungkin, mereka terlalu ceroboh. Baiklah, apa yang kita dapatkan dari hal-hal ini?

Jika dalam pelayaran di laut orang bisa tersesat, demikian pula dalam perjalanan rohani. Untuk itu, mari kita mundur dalam waktu. Tidak terlalu lama, hanya sekitar tiga ribu lima ratus tahun saja. Oh, maafkan, ini bukan rentang waktu yang pendek, bukan? Tetapi kita mengetahui bahwa apa yang diberitakan ini benar terjadi, sebagaimana Alkitab telah memberitakannya.
Inilah tentang perjalanan rohani bangsa Israel.

Ketika pertama kali orang Israel tiba di Mesir, keluarga Yakub adalah keluarga yang telah mengenal Allah. Yakub secara pribadi telah mengalami perjumpaan dengan Allah, yang secara total mengubah kehidupan dan pandangan rohaninya. Pandangan ini diwariskan kepada seluruh anaknya, mulai dari Ruben yang tertua hingga Benyamin si bungsu. Kita mengenal Yusuf yang dipimpin secara luar biasa oleh Tuhan, menjadi jalan keselamatan bagi keluarganya dari ancaman kelaparan hebat. Dan bangsa Israel pun beranak-pinak di Mesir, di tanah yang terbaik untuk beternak, bercocok tanam, dan menjadi semakin banyak.

Namun empat abad kemudian, bangsa Israel yang telah banyak sekali jumlahnya itu menjadi budak bagi penguasa Mesir. Dan saat itu Mesir telah menjadi kerajaan yang amat besar, sebuah adikuasa di dunia jaman kuno. Saat itu, benua amerika masih merupakan tanah kosong, asia masih jarang penduduknya, eropa masih barbar. Tetapi benua afrika telah menjadi benua yang maju sekali, seperti juga daerah amerika selatan yang terisolasi dengan bagian dunia lainnya. Mesir benar-benar menjadi kerajaan yang paling maju, bahkan mampu menciptakan keajaiban dunia dengan piramidnya.

Apa yang lebih ajaib adalah, ternyata bangsa budak yang tertindas itu dapat bebas dari perbudakan, keluar dari Mesir. Jalannya tidak sederhana, sebaliknya amat dahsyat dan mengerikan dengan tulah yang bertubi-tubi menghantam kerajaan itu. Puncaknya, tak ada anak sulung laki-laki yang hidup, bahkan anak Firaun pun tak lagi bernyawa. Seperti sebuah badai hebat yang menghantam pelabuhan, sebuah kapal berhasil keluar dan menuju lautan lepas. Itulah bangsa Israel, yang mengalami seluruh keajaiban itu, dan kini mereka merdeka di bawah pimpinan Musa dan Harun, dan untuk pertama kalinya memulai perjalanan rohani menuju rumah, Tanah Perjanjian yang sejak dahulu telah dimiliki Abraham dan Ishak dan Yakub turun temurun.

Sebelum Musa memimpin mereka keluar, perjalanan rohani bangsa Israel hanyalah kerohanian yang tidak jauh dari pantai. Mereka tahu bagaimana berdoa dan berseru-seru kepada Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub, tetapi mereka tidak melangkah lebih jauh untuk mempercayai-Nya. Mereka hanya tahu dari nenek moyang, bahwa dahulu Yakub mengenal Allah yang besar, yang tidak kalah dengan Ra, dewa matahari bangsa Mesir, atau segala dewa lain. Mereka tahu bahwa dahulu nenek moyang mereka Abraham telah membuat perjanjian dengan Allah, tetapi semua itu dikisahkan turun temurun dari mulut ke mulut, menjadi serupa legenda atau dongeng yang tidak dipahami. Bangsa Israel mencoba untuk berbicara kepada Allah, tetapi kehidupan berjalan seperti apa adanya, sebagai budak yang tidak berdaya.

Di saat perjalanan itu dimulai, bangsa Israel telah memiliki semua peralatan yang dibutuhkan. Mereka mempunyai harta dari Mesir. Mereka memiliki kapten yang andal, Musa. Dan yang terpenting mereka memiliki Allah yang memimpin seluruh perjalanan bangsa itu melalui tempat yang tidak pernah mereka lalui, ke negeri yang hanya diketahui dari dongeng orang tua. Seharusnya semua berjalan dengan baik, karena Allah pun telah memberikan hukum Taurat yang tiada duanya, untuk menata kehidupan yang sempurna di tanah yang baik sekali.

Tetapi, mereka tersesat. Bukan karena kekurangan tuntunan. Bukan karena kekurangan pertolongan. Tetapi hati mereka telah terperdaya. Pikiran mereka telah dikelabui oleh dosa. Bukan terkelabui oleh suatu perbuatan salah atau keliru, tetapi oleh keadaan mereka yang telah terpisah dari Allah yang hidup. Bangsa Israel terputus hubungannya dari Allah Abraham, Ishak, dan Yakub; mereka tidak mengenal seperti apa Allah, seberapa besar kuasa-Nya, atau apa yang dapat dilakukan-Nya. Bahkan disaat Allah menunjukkan diri-Nya kepada bangsa itu, mereka tetap tidak bersedia mengenal-Nya dan memilih mendirikan anak lembu emas, sebagai sesembahan yang bisa mereka lihat dan raba dan kagumi keindahannya.

Dan pada puncaknya, bangsa Israel tidak juga mempercayai Allah yang sudah membawa mereka ke perbatasan tanah perjanjian. Mereka tidak perlu melakukan apa-apa, selain percaya kepada Allah, mengikuti pimpinan-Nya. Tetapi bangsa itu tidak percaya. Maka Allah membawa bangsa itu berputar-putar, 40 tahun lamanya, sampai matilah semua orang yang keluar dari Mesir, yang tidak bisa berubah dari ketidakpercayaan dan kekeraskepalaan mereka. Bangsa itu terkatung-katung di padang gurun, bergelimpangan mati di bawah sengatan matahari.

Bagaimana dengan kita sekarang? Seperti apakah perjalanan rohani kita?
Apakah kita bebas dari kesalahan yang sama, seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel? Seharusnya tidak, tetapi peringatan ini tetap berlaku:
awaslah, jangan sampai hati kita terperdaya.

Karena, kita pun berangkat dari kondisi yang sama: terputus dari Allah. Kita tidak mengenal-Nya, walaupun sejak kecil kita samar-samar mengerti keberadaan Allah Yang Maha Esa. Orang bisa menyebutkannya dalam berbagai kesempatan, menjadikannya sila pertama dalam Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa", tetapi sama sekali tidak mengenal-Nya. Ketuhanan hanya menjadi ide, menjadi suatu konsep dalam benak manusia, yang tidak mempunyai relasi yang hidup. Bagaimana orang bisa berelasi dengan sebuah konsep di benaknya? Kita dahulu mungkin mencoba untuk berdoa, mencoba untuk berseru kepada Allah, sebuah usaha coba-coba yang tidak ada hasilnya. Apa bedanya kita dengan seorang atheis yang berteriak, "Allah, kalau Engkau ada, tunjukkan diri-Mu padaku sekarang!" sementara hatinya yakin bahwa tidak ada apa pun yang muncul? Itulah dosa, keterpisahan dengan Allah.

Ketika kita telah menerima Injil dan menemukan bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup, yang berelasi dengan kita, yang telah berkarya melalui Anak Allah yang tunggal, kita tahu kebenaran. Allah bukan hanya konsep apa yang harus dipercaya menurut Kitab Suci, melainkan benar-benar Pribadi yang hidup dan berinteraksi dengan kita sekarang. Sama seperti orang Israel menemukan Allah dalam hidup mereka, demikian pula kita dapat menemukan Allah Roh Kudus menolong kita dan memberi kita karunia. Kita dibebaskan dari perbudakan kuasa dunia, dari ikatan perbuatan dosa yang seringkali mendikte kehidupan kita dahulu.

Namun, kita juga dihantui oleh keterpisahan kita. Allah telah melawat kita, telah mengulurkan tangan-Nya untuk mengangkat kita, tetapi kita tidak mau.
Hati kita terperdaya, kita masih lebih percaya pada kuasa uang dan politik daripada pada Tuhan. Ketika BBM naik, misalnya, urusannya bagi kita adalah melakukan langkah-langkah yang paling tepat untuk mendistribusikan kesejahteraan bagi orang yang berkekurangan. Apakah ada yang berpikir bahwa dalam keadaan seperti inilah berita Injil harusnya lebih gencar diberitakan?

Tak dapat dihindari, ada saja orang Kristen yang tidak percaya. Hatinya menjadi jahat karena ia murtad dari Allah yang hidup. Apakah hal ini bisa terjadi? Ya, bisa, karena orang Kristen adalah mahluk-mahluk bebas yang mampu memilih dengan merdeka. Allah senantiasa memelihara umat-Nya, seperti Ia memelihara orang Israel, tetapi umat-Nya itu bisa saja memilih membuat lembu emas daripada menyembah-Nya.

Jadi, bagaimana mencegahnya? Karena dalam kebebasan, Tuhan tidak mengikat orang. Kita pun tidak mungkin mengikat orang untuk hanya percaya kepada TUHAN, Allah yang hidup. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah mengingatkan, saling menjaga dan menegur dalam kasih. Kita perlu melakukannya setiap hari, selama kita masih bisa menyebut 'hari ini'.
Mungkin besok hari-hari akan berakhir. Bisa jadi, tak lama lagi Tuhan Yesus akan datang. Siapa tahu?

Dalam Kristus, kita telah memiliki bagian kita masing-masing. Ini adalah bagian yang mulia dan amat berharga, yang tidak terkatakan nilainya. Bagian yang senantiasa menjadi milik kita, selama kita dapat memelihara iman kita yang semula, yang benar, seperti yang telah diajarkan para Rasul kepada kita. Jika kita tetap memilih untuk percaya pada-Nya, bahkan di saat kita masih melakukan perbuatan yang salah dihadapan-Nya, kita tidak akan kehilangan bagian itu.

Hari ini, renungkanlah apa yang kita percayai. Jadikan renungan ini sebagai pengingat, untuk tetap percaya kepada Kristus, jangan biarkan hati kita menjadi tegar karena tipu daya dosa. Jangan biarkan ketidakpercayaan orang-orang yang tidak mengenal Allah mempengaruhi hati kita. Banyak orang membuat teori-teori, asumsi-asumsi, bahkan khayalan yang menyimpang, untuk menarik anak Tuhan berbalik lagi hatinya, menipu dengan kata-kata yang sepintas terdengar benar, namun dalam penyelidikan yang teliti terbukti salah sama sekali. Kita tidak mau mengulangi kesalahan bangsa Israel.
Semoga, kita tidak sebodoh mereka yang bergelimpangan mati di padang gurun karena ketidakpercayaan mereka.

Marilah maju terus. Sampai akhirnya, kita akan menjadi umat-Nya, jika kita tetap mempercayai Anak-Nya.

Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: