Selasa, 06 November 2007

SETIA MENJADI BATU

Ibr 3:5-11 Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan. Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus:

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku."

Jika Musa setia sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, kita setia sebagai apa? Kita mengatakan, "ah, itu kan Musa." Tetapi, Musa juga manusia biasa, sama seperti kita. Manusia yang mendapat bagian dalam kasih karunia Allah, lengkap dengan segala kekurangan dan kelemahan. Manusia, yang masih membutuhkan banyak orang untuk mencapai sesuatu -- tetapi, Musa setia. Maka permasalahannya bukanlah seperti apa kemampuan Musa, melainkan sejauh mana kesetiaannya. Bagi kita juga timbul pertanyaan yang sama: bukan sebesar apa kemampuan kita, melainkan sejauh mana kesetiaan kita kepada Tuhan.

Mengapa kesetiaan penting? Karena, kita adalah bagian dari rumah Allah.
Kemuliaan sebuah rumah tidak terletak pada batu-batu pembentuknya, melainkan pada orang-orang yang membangun dan mendiaminya. Tuhan telah membangun kita dan meletakkan kita pada tempat-tempat yang tepat, sesuai dengan kehendak-Nya. Porsi kita adalah berada pada tempat itu dan menjadi seperti apa yang dikehendaki-Nya; dengan demikian kita memuliakan Allah. Tetapi kita sendiri hanyalah batu.

Mari kita membayangkan sebuah dinding yang terbuat dari batu bata.
Bayangkan, bila pada suatu ketika ada sebuah bata yang mengatakan, "saya sudah bosan di sini. Saya ingin pindah saja." Lantas batu itu bergeser keluar dari tempatnya, untuk menempati sebuah lubang di tepi jalan. Dan lihatlah, tembok itu berlubang. Dinding itu masih berdiri kokoh, tetapi kini ada lubang di tengahnya. Sebagai dinding, sama sekali tidak terjadi pengurangan fungsi atau kualitas, tetapi ada cacat yang buruk. Hal yang buruk tentu menghilangkan kemuliaan karena rusaknya tembok itu.

Batu itu sendiri kehilangan nilainya, tidak ada lagi fungsinya. Mungkin memang sang batu bosan berada di dinding, tetapi keberadaannya di lubang jalan sama sekali tidak berarti dibandingkan tempatnya semula. Kemuliaan berkaitan dengan kesetiaan; begitu kesetiaan hilang, hilang pula kemuliaannya. Betapa pun batu itu nampak lebih jelas di pinggir jalan, lebih menonjol atau menarik perhatian, namun benda itu tidak berarti, tidak bermakna apa-apa.

Kembali kepada Musa, apa makna dari kesetiaannya? Ia telah mengerjakan hal-hal yang luarbiasa untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Musa sendiri hanyalah bagian dari seluruh kemuliaan yang diberitakannya. Jika kita mengingat kehidupannya Musa, ia hanyalah seseorang yang hanya bisa bersujud di hadapan Allah setiap kali masalah datang menghampirinya. Musa sama sekali tidak mengambil kemuliaan untuk dirinya sendiri, ia tidak terlepas dari pekerjaan Allah. Memang Musa terletak di posisi pemimpin bangsa Israel, berada di ujung tertinggi dari struktur bangsa yang keluar dari tanah Mesir, namun hakekatnya Musa adalah bagian dari bangunan Kerajaan Allah, sama seperti orang-orang lain yang setia kepada Allah dan tidak dikenal namanya.

Kehidupan di dunia seringkali menganjurkan jalan yang sama sekali berbeda.
"Yang penting berbeda" dan "be different" -- menjadi motto banyak orang.
Manusia merasa mulia karena dirinya berbeda, menjadi perhatian orang. Jika perlu, penampilannya dicat hingga berwarna warni, dengan asesoris yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dengan tampil berbeda, seseorang merasa dunia memperhatikannya. Dan jika dunia memperhatikan, maka di sana ada kemuliaan, ada kekaguman dan puji-pujian. Penting sekali mengupayakan agar nama diri dikenal, semakin terkenal semakin baik adanya. Apakah kita turut mengikuti trend ini?

Sedemikian pentingnya nampak "berbeda", sehingga kesetiaan menjadi hal yang menggelikan. Bagaimana bisa setia diam di dalam barisan batu-batu, tidak terkenal dan tidak diperhatikan orang? Maka, bagi banyak orang lebih baik keluar dan berdiri sendiri, walaupun akibatnya ada lubang di dinding. Orang tidak menyadari lagi kemuliaannya berada di dalam barisan, karena dalam pandangannya lebih baik dan lebih menarik menjadi batu yang berada di tengah jalan. Soal makna, siapa lagi yang masih peduli?

Perhatikanlah orang-orang yang nampak gemerlap, yang wajahnya terpampang dalam berbagai tabloid dan namanya digosipkan di mana-mana. Tidak jarang kehidupan yang mereka tunjukkan adalah hidup yang rusak: perselingkuhan di sini dan perceraian di sana. Semenjak masa pacaran, lalu menikah, hingga proses perceraiannya, semua menjadi bahan berita bagi tabloid gosip dan selebritis. Coba renungkan: mereka menjadi orang-orang yang hidupnya dirayakan (selebritis=celebrate=perayaan), padahal apa yang ditunjukkan sebenarnya hidup yang menyedihkan, bahkan mengerikan. Apa yang bernilai untuk dirayakan dari hidup seperti itu? Apa artinya menjadi orang yang dikenal orang di seluruh dunia, sebagai seorang yang berkali-kali kawin cerai dan merana? Uang memang banyak, tetapi untuk apa segala kemewahan dan kekayaan itu bila untuk tersenyum tulus saja susah sekali?

Ironisnya, orang berduyun-duyun mengikuti audisi untuk menjadi selebritis.
Orang bermimpi untuk menjadi terkenal, sehingga rating reality show selalu tinggi di mana-mana. Dan keadaan ini juga menghinggapi komunitas Kristen, di mana ada saja orang yang menginginkan namanya terdengar spektakuler, keberadaannya dilihat dan dihargai, sekalipun harus menanggalkan kesetiaannya. Tidak sedikit yang menginginkan posisi pemimpin di gereja, dan bila posisi itu tidak diperoleh maka ia mencari gereja yang lain. Kalau perlu, mendirikan gereja sendiri.

Renungkanlah: apa artinya "jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan" Kemegahan diri sendirikah yang dibicarakan di sini? Kepercayaan apa, pengharapan apa yang ada pada kita? Apakah kita sampai pada akhir hidup kita dengan memegang kepercayaan dan pengharapan itu? Bagi banyak orang Kristen, permulaan kehidupan rohaninya dipenuhi dengan kepercayaan dan pengharapan kepada Kristus, yang setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya. Hidup adalah milik-Nya, seluruhnya diserahkan kepada-Nya, karena kita adalah bagian dari bangunan rumah Allah di mana kepalanya adalah Kristus.

Tetapi dengan berjalannya waktu, kepercayaan dan pengharapan itu memudar, digantikan dengan keinginan untuk tampil ke muka. Tampil sebagai pemimpin, tampil sebagai orang yang menjadi tumpuan harapan jemaat. Setelah cukup lama, banyak aktivis merasa dirinya cukup berpengalaman dan berpengetahuan untuk membangun gereja yang lebih baik, dan merasa seharusnya hal-hal dikerjakan sesuai dengan pandangan dan pengalamannya selama bertahun-tahun.
Seharusnya orang melihat dirinya sebagai pemimpin, karena padanya ada petunjuk untuk membangun gereja. Ia tidak lagi berada bersama-sama dalam pelayanan, tidak lagi menempati tempatnya semula.

Dan sekali lagi, kita melihat ironinya sebuah batu yang jenuh berada di dinding, lalu berpindah ke lubang di jalan. Batu yang tahu betul bagaimana mengisi sebuah lubang, sehingga tanpa sadar justru meninggalkan lubang di tempatnya semula.

Dalam prosesnya, bukan berarti tidak ada masalah. Sebaliknya, ada banyak kekecewaan. Ada banyak pertengkaran, tuduh menuduh, seperti bangsa Israel yang menuduh dan menista Musa dan Allah. Bangsa itu merasa Allah dan Musa berkonspirasi hendak memunahkan mereka, walau pada mereka ada kenyataan penyertaan Allah yang nampak jelas dalam tiang awan dan tiang api. Demikian juga terjadi keresahan dan kekecewaan di gereja, di mana tidak sedikit orang lama yang merasa jenuh dan bosan dan marah.

Di satu sisi, orang merasa tidak diperhatikan dalam posisinya semula; sudah begitu lama terlibat pelayanan, tetapi tidak ada yang memperhatikan, apalagi berterima kasih. Di sisi lain, orang merasa membutuhkan alasan untuk keluar dari pelayanan, keluar dari kesetiaan. Dibutuhkan alasan untuk menjadi tidak setia, karena ada suara di hati kecil yang menegur dan mengingatkan: ini tidak benar, diamlah di tempatmu semula. Alasan-alasan ini menjadi pembenaran bagi ketidaksetiaan kita, mendamaikan suara-suara yang meresahkan itu. Dan tidak jarang, alasan-alasan ini keluar dengan suara yang keras, dalam berbagai kekecewaan yang diekspresikan secara nyata.

Bagi Allah, tindakan bangsa Israel yang mencobai-Nya selama 40 tahun adalah hal yang menyakitkan. Tidakkah mereka cukup melihat segala perbuatan Allah terhadap Mesir, dan segala kuasa-Nya di sepanjang perjalanan? Mengapa mereka tidak bisa berdiam diri di tempat yang Tuhan inginkan, melakukan apa yang Tuhan sudah persiapkan untuk mereka kerjakan? Tanah perjanjian itu sudah begitu dekat, begitu baik dan kaya isinya, tetapi bangsa itu menolak untuk masuk karena takut pada penghuninya. Tidakkah mereka ingat bagaimana Allah sudah bertindak hebat terhadap negeri terbesar di jaman itu? Bukankah penduduk tanah perjanjian tidak lebih besar dari bangsa mesir? Tetapi orang Israel menemukan alasan bagi ketidaksetiaan mereka.

Demikian juga kita seringkali berusaha menemukan alasan bagi ketidaksetiaan kita. Bukankah Tuhan sudah menunjukkan kuasa dan penyertaan-Nya di sepanjang sejarah gereja? Tak ada satupun alasan bagi kita untuk mengangkat diri sebagai orang yang "hebat" atau "dapat diandalkan", karena semuanya adalah hasil pekerjaan Allah. Maka, mengapa menggerutu karena tidak mendapatkan imbalan atau hormat dan terima kasih karena hal-hal yang memang sudah seharusnya kita kerjakan? Mengapa tidak tetap setia dengan apa yang Tuhan tunjukkan bagi kita?

Allah murka kepada bangsa Israel karena ketidaksetiaan mereka, maka Allah membuat bangsa itu berbalik dan berkelana di padang gurun selama 40 tahun sampai seluruh bangsa yang tidak percaya itu binasa, kecuali Kaleb dan Yosua. Selebihnya dari yang lahir di tanah Mesir, tidak dapat menginjakkan kaki di tanah yang dijanjikan itu.

Hal yang sama juga berlaku bagi kita sekarang: jika kita telah melihat dan mengalami segala karunia yang Tuhan berikan, telah menikmati semua pengalaman kuasa Allah, lalu kita pun berbalik dalam ketidaksetiaan, bukankah Allah patut murka pada kita? Kesetiaan dan ketidaksetiaan bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan; itu adalah suatu bentuk keputusan yang berasal dari kehendak bebas manusia. Tuhan akan memelihara hati, pikiran, dan jiwa kita dengan Roh-Nya yang menyertai dan menolong kita sekalian, namun Ia tidak memaksakan kesetiaan pada kita. Kita dapat membiarkan hati kita berjalan sendiri, dan tersesat dalam belantara filosofi manusia. Bisa saja kita menolak untuk mengenal jalan-Nya, karena kita memilih jalan kita sendiri. Namun, apabila kita memilih untuk menjadi tidak setia, sudah sepatutnya Allah murka, bukan?

Dalam murka-Nya, Allah bertindak. Ia mungkin akan memangkas bagian-bagian kehidupan kita, membuang apa yang membusuk dengan paksa. Tentu akan terasa menyakitkan, tetapi jika kita sadar, kita dapat kembali ke tempat kita semula. Namun ada kalanya kita pun terlalu keras kepala dalam kesombongan yang berurat-berakar dalam diri, sehingga dengan sadar kita semakin menolak Tuhan. Jika sudah demikian, salahkah bila Tuhan tidak lagi mengijinkan kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya?

Sejujurnya, ini adalah hal yang amat sukar dibayangkan. Sama sukarnya untuk membayangkan bagaimana bangsa Israel bisa tetap menolak Allah, sekalipun mereka telah melihat segala keajaiban kuasa-Nya. Jangan mengulangi kesalahan bangsa itu; ingatlah bahwa Allah yang menyertai kita sekarang adalah Allah yang sama yang menyertai bangsa Israel dahulu kala. Ia telah menyediakan tempat yang dijanjikan, sebuah tempat yang istimewa bagi umat-Nya. Tetaplah setia, di manapun kita berada, agar kehidupan ini bernilai di mata Tuhan.
Jika hidup kita telah dihargai oleh Allah, masih perlukah mencari-cari penghargaan dan hormat dari manusia di dunia yang akan binasa?

Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: