Selasa, 06 November 2007

ANAK ALLAH

Ibr 1:5-8 Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini," dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku." Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia." Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata:
"Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api." Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.

Dalam dunia roh, ada banyak yang ditakuti manusia. Yang paling jahat tentu saja adalah iblis, raja semua kejahatan yang jahat total, lalu ada berbagai macam jin (jinn, djinn, jinni, atau genie tergantung bahasanya), khususnya setan (sheitan, shaytan) yaitu golongan jin yang paling jahat.
Juga ada hantu-hantu yang gentayangan, serta berbagai macam mahluk lain yang menakutkan. Repotnya pula, mahluk-mahluk ini dikenal cerdas luar biasa; setan, misalnya, adalah jin yang berpengetahuan luas dan paham lebih dari seribu satu macam cara untuk menyesatkan dan membunuh manusia.
Selain setan, ada bentuk lain dari jin yang disini tidak begitu populer seperti ghoul (jin yang bisa berubah bentuk menyerupai apa saja), ifrit (jin jahat yang bisa kelihatan baik, padahal amat menyesatkan) dan si'la (kumpulan jin yang terdiri dari berbagai macam bentuk).

Keberadaan mahluk-mahluk ini tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah, namun telah nyata melalui praktek-praktek sihir dan magis, yang sudah berlangsung berabad-abad di berbagai tempat, mulai dari Afrika sampai Asia Tenggara, juga di Indonesia. Secara rasional mereka tidak nyata, tetapi pengaruh dari perbuatan mahluk-mahluk ini sudah disaksikan oleh jutaan orang selama berabad-abad. Memang sebagian hanya merupakan khayalan dan trik sulap yang mahir mengelabui, tetapi ada sebagian lain yang sungguh terjadi, tidak dapat dijelaskan. Tak heran kalau akhirnya ada sebagian orang yang menjadi skeptis, sementara ada sebagian orang lain yang benar-benar percaya bahkan kemudian terlibat dalam praktek sihir untuk mendapatkan keuntungan dari mahluk-mahluk ini. Maka ada sebagian orang yang merasa mampu 'menundukkan' jin dan menjadikan mahluk halus itu sebagai anak buah yang bisa diperintah sesukanya.

Sementara jin mewakili golongan mahluk halus yang jahat dan dianggap lebih rendah dari manusia, di sisi lain ada malaikat yang mewakili Allah. Karena mewakili Allah, maka tentu saja malaikat adalah mahluk yang baik dan setia kepada Allah, serta mendapat kuasa dari Allah. Manusia yang terbesar di bumi -- seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus -- tidak ada yang lebih besar dari yang paling kecil di Sorga. Para malaikat melayani Allah serta menyembah dan memuji-Nya, tetapi mereka juga menjadi utusan Allah untuk masuk dalam kehidupan manusia serta memberi pengaruh yang baik lewat berbagai macam cara. Malaikat pun terdiri dari berbagai bentuk, kita mengenal antara lain serafim dan kerub (cherubim, cheroubim) yang mempunyai peran khusus di hadapan Tuhan.

Dalam pengajaran apokaliptik di antara orang Yahudi, dikenal pula yang disebut archangel, yaitu tujuh pemimpin malaikat yang mengatur bala tentara Surga. Mereka adalah Uriel (pemimpin malaikat di Surga dan penjaga pintu ke dunia orang mati), Rafael (Raphael, yang menjaga jiwa-jiwa manusia di bumi), Raguel (yang menjadi tangan Allah melawan kesesatan dunia), Michael (penjaga Israel), Sariel (yang menjadi tangan Allah untuk menghukum mereka yang bersalah dalam roh), Gabriel (penjaga Firdaus, pemimpin serafim dan kerub), dan Remiel (malaikat yang menjaga jiwa manusia di dunia orang mati, sampai pada hari penghakiman Allah). Kita sudah pernah menemukan beberapa nama archangel ini dalam Alkitab, antara lain Gabriel dan Michael. Malaikat-malaikat ini sungguh misterius, kudus, dan....menakutkan.

Ya, manusia takut pada malaikat. Mungkin orang masih bisa bernegosiasi dengan jin, bahkan bekerja sama dengannya, namun tidak ada yang dapat bernegosiasi dengan malaikat. Orang bisa membuat berbagai tayangan televisi tentang jin dan setan, tetapi tidak ada yang dapat menggambarkan malaikat, paling-paling hanya bisa membuat sinetron tentang bidadari atau peri. Malaikat terlalu kudus dan ilahi, di luar kemampuan manusia memahaminya. Orang yang merasa diri cukup suci merasa sanggup menghadapi jin dan mengusir roh jahat (sampai dijadikan tontonan televisi), tetapi mereka akan tersungkur ketakutan di depan malaikat, apalagi malaikat pencabut nyawa. Selama berabad-abad tidak sedikit orang yang jatuh dalam kesesatan menyembah para malaikat, menempatkan malaikat sebagai penghubung antara manusia dengan Allah. Bagaimana dengan orang Kristen?

Bagi orang Kristen -- yaitu pengikut-pengikut Kristus -- telah ada Kristus yang menghubungkan manusia dengan Allah. Telah ada Roh Kudus yang menyertai kehidupan orang percaya. Tetapi, apa artinya? Bagaimana jika kita hendak membandingkan antara Tuhan Yesus dengan ketujuh archangel yang menakutkan? Orang mungkin tersungkur di depan malaikat, tetapi apakah orang juga akan tersungkur di hadapan Tuhan Yesus Kristus? Ada saja orang yang merasa Tuhan Yesus tidak se-istimewa malaikat. Dia hadir sebagai manusia biasa, yang sama-sama makan ikan di pinggir danau, tidak melayang-layang dan tubuhnya tidak bercahaya menyilaukan.

Bagi kita pun, mungkin merasa berhubungan dengan Yesus Kristus adalah hal yang wajar dan biasa, sedangkan berjumpa dengan malaikat adalah hal yang luar biasa. Jika kita bisa berdoa dan berkata-kata kepada Tuhan Yesus, rasanya biasa saja. Sejak sekolah minggu kita sudah melakukannya, bukan?
Tetapi, ada kegentaran yang hebat untuk berjumpa dengan malaikat, apalagi berbicara kepadanya. Jika saja ada yang mengalami perjumpaan itu, tentu ia akan memberi kesaksian dengan penuh semangat. Adakah yang merasa bersemangat untuk memberi kesaksian karena dapat berdoa dan berbicara dengan bebas kepada Tuhan Yesus?

Jangan heran, sudah lama orang Ibrani gemetar di hadapan malaikat, sehingga orang-orang Yahudi Kristen pun masih ragu untuk menempatkan Tuhan Yesus di atas malaikat. Penulis surat kepada orang Ibrani menjawab hal ini dengan jelas, sehingga kita juga mendapat kepastian. Ada tiga Firman yang ia tegaskan, yang diberikannya di awal surat ini.

Yang pertama adalah kenyataan bahwa Allah menyatakan diri sebagai Bapa-Nya, dalam suatu pernyataan yang tidak pernah terucap kepada para malaikat, sekalipun pada malaikat yang paling besar di Sorga: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini," dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku." Artinya, Tuhan Yesus bukan sekedar utusan. Bukan hanya mahluk yang menerima kuasa dari Allah untuk melakukan sesuatu. Bukan, melainkan suatu pernyataan kesatuan -- sama seperti seorang anak adalah bagian yang tidak terpisah dari orang tuanya.

Tuhan Yesus adalah Anak sulung dari Bapa, bukan anak angkat melainkan "Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini". Dia berasal dari Bapa, selalu bersama-sama Bapa. Pada hari Tuhan Yesus dibaptis, keberadaan-Nya sebagai Anak Allah dinyatakan -- karena sebelumnya manusia tidak mengetahui apalagi memahami tentang keberadaan-Nya. Pada hari itu, baru manusia mengetahui bahwa ada Anak Allah -- seperti sebuah pengumuman kelahiran yang datang terlambat. Yang penting bukan waktu kelahiran, melainkan kenyataan bahwa Yesus adalah Anak, yang berarti sepenuhnya memiliki kemuliaan Bapa, kekuasaan Bapa, dan Kerajaan Sorga. Sebab seorang anak turut memiliki segala kepunyaan ayahnya, mempunyai hak sepenuhnya.

Hak ini tidak dimiliki oleh malaikat, sekalipun malaikat archangel yang bercahaya terang. Pada mereka tidak ada kemuliaan seperti yang dimiliki oleh Allah, tidak ada kekuasaan yang mereka miliki sendiri. Malaikat tidak pernah diangkat lebih tinggi dari Anak, karena itu janganlah menyembah malaikat seolah-olah mahluk itu adalah Tuhan!

Yang kedua adalah kenyataan bahwa malaikat tidak lain dari pelayan-pelayan Allah, bagaimanapun dahsyat dan hebat nampaknya. Posisi malaikat adalah penyembah Allah, maka mereka harus menyembah Tuhan Yesus Kristus ketika Ia datang ke dunia. Hal ini menegaskan bahwa memang keberadaan sejumlah malaikat ada di atas muka bumi ini, di mana mereka harus menyembah Dia yang melangkah di jalan-jalan di Yehuda. Allah sudah berfirman: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia."

Jika malaikat diharuskan menyembah Dia, maka semua manusia -- yang pasti lebih kecil daripada malaikat -- juga harus menyembah Dia, bukan menyembah malaikat. Orang perlu menaruh hormat kepada malaikat, tetapi tidak menyembah karena malaikat tidak memiliki kemuliaan Allah. Mereka adalah pelayan, sama seperti umat-Nya di muka bumi ini.

Yang ketiga adalah pernyataan tentang keberadaan malaikat sebagai pelayan, "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api." Di sini kita menemukan bahwa malaikan memang tampil menakutkan, siapa yang tidak takut pada badai dan nyala api yang berkobar-kobar? Manusia bisa saja gentar dan gemetar terhadap badai dan api, tetapi ingatlah bahwa semua hanyalah bagian dari pelayan-pelayan Allah. Yang lebih penting adalah Dia yang dilayani, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah. Di sini dibutuhkan pemahaman: tidak semua hal yang menakutkan adalah hal yang harus dijunjung tinggi oleh manusia.

Yang keempat, inilah pernyataan final tentang Anak, yaitu, "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. " Di sini Anak disebut sebagai Allah, karena memang Allah adalah Anak di dalam diri Yesus Kristus. Dia disebut Allah, karena memang Dialah Allah. Bagian ini merupakan salah satu bagian yang eksplisit di luar Injil menyatakan ke-Allah-an Yesus Kristus, menjadi bukti bahwa Alkitab menyatakan Yesus adalah Allah. Tuhan Yesus memiliki takhta Kerajaan yang tetap untuk selamanya, dengan pemerintahan berdasarkan kebenaran, karena Dia adalah kebenaran.

Keempat pandangan ini, jika dirangkum bersama-sama, memberi pengertian tentang posisi Yesus Kristus dengan malaikat. Jelas bahwa malaikat ada di bawah Kristus, bahkan harus menyembah-Nya. Jika kita hormat kepada malaikat, kita harus lebih hormat lagi kepada Kristus. Jika kita tunduk kepada malaikat, kita harus lebih tunduk lagi kepada Kristus. Biarlah kita memiliki pandangan yang jelas, betapa mulianya Tuhan Yesus Kristus.

Maka, adalah suatu anugerah yang luar biasa besar, jika kita saat ini boleh menyapa-Nya sebagai sahabat. Betapa hebat anugerah itu, bila kita bisa berdoa dan berkata-kata dengan bebas kepada Tuhan Yesus, yang mendengarkan setiap doa yang tulus dari umat-Nya. Sudah sepantasnya dan seharusnya kita memberikan segala puji syukur kepada-Nya, memuliakan Dia dalam segenap kehidupan kita. Dia adalah Tuhan, Raja, dan Juruselamat kita!

Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: