Selasa, 06 November 2007

ALLAH MENGURAPI KRISTUS

Ibr 1:9-14 Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu." Dan: "Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan." Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?

Marilah kita bahas tentang Tuhan Yesus Kristus. Semoga kita tidak merasa bosan atau malas memikirkan tentang Dia, karena sesungguhnya Ia adalah kehidupan kita sendiri, orang-orang Kristen. Bagaimana mungkin seseorang merasa bosan memikirkan tentang kehidupannya sendiri? Tidak perlu menjadi seorang teolog untuk memikirkan tentang-Nya, tidak usah menjadi pendeta atau aktivis kristen untuk merenungkan Kristus dalam kehidupan kita.
Bahkan bisa dikatakan bahwa seseorang menjadi seorang kristen karena memikirkan Kristus serta mengikuti-Nya sepanjang hidupnya.

Satu hal pokok yang amat penting dari Kristus adalah kenyataan bahwa Allah Bapa sepenuhnya berkenan atas Kristus. Jika ada seorang yang patut dijadikan teladan yang paling utama, contoh yang sempurna dalam hidup, orang itu adalah Yesus Kristus. Hal ini bukan karena Yesus adalah manusia yang paling baik di mata masyarakat, atau menjadi orang yang paling disukai seluruh dunia. Bukan, melainkan karena Yesus adalah orang yang diperkenan oleh Allah, sempurna di hadapan Sang Pencipta. Dikatakan bahwa Allah telah mengurapi-Nya dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Nya. Lebih dari segala hal dan orang baik yang ada di sekitarnya.

Mengapa demikian? Karena Yesus mencintai keadilan dan membenci kefasikan.
Di sini, kita menemukan satu hal penting lain, yaitu Tuhan membedakan antara apa yang adil dan yang fasik sesuai dengan Allah. Ini adalah pembedaan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, bahkan orang yang paling bijaksana sekali pun. Ada satu kuasa dan sifat pada diri manusia biasa yang menghalanginya untuk bersikap benar dalam mencintai keadilan dan membenci kefasikan, karena seorang manusia tidak mungkin bisa sepenuhnya membedakan antara apa yang adil dan apa yang fasik, apalagi sesuai dengan Allah.

Mungkin hal ini sepintas terdengar aneh, tetapi ini benar. Coba pikirkan, apa yang biasa kita sebut 'adil' dan 'fasik' itu? Jika ada seseorang yang miskin mencuri makanan seorang kaya, mungkin kita akan menyebut dia seorang yang 'fasik'. Padahal, mari kita perhatikan, bahwa pelaku pencurian adalah seorang yang benar-benar miskin dan tidak punya uang, sedang tidak ada yang mau memberikan pekerjaan padanya. Ia mengambil dari orang yang berkelimpahan makanan, karena orang kaya itu tidak pernah peduli pada orang miskin. Bukankah tidak ada banyak kerugian pada orang kaya yang diambil makanannya? Dalam hal ini, bukan hal yang aneh bila seseorang yang kekurangan mengambil dari orang yang kelebihan, malah bisa dikatakan bahwa itu adalah hal yang adil! Masalahnya bukan pada pembagian atau pemerataan, melainkan kejahatan yang dilakukan; biar bagaimanapun alasannya, mencuri adalah perbuatan jahat. Ada hal yang buruk terjadi pada diri orang kaya itu.

Tapi jika demikian, adil dan fasik tergantung pada hal-hal yang 'baik' dan 'buruk'. Kalau terasa baik -- misalnya saja, si orang kaya itu membagikan makanannya pada temannya yang sama-sama kaya -- maka perbuatan itu dianggap adil. Sebaliknya, jika dirasakan tidak enak, terasa jahat, maka perbuatan itu dianggap fasik. Tidak banyak orang yang memikirkan: sudah adilkah bila seorang kaya membagi-bagikan keuntungan di antara teman-temannya yang sama saja kayanya? Kita bisa lihat, di mana-mana uang orang kaya dihambur-hamburkan di antara sesama orang kaya. Inilah yang 'adil' dalam pembagian rejeki, terasa menguntungkan dan menyenangkan.
Sebaliknya, hal-hal yang tidak enak, terasa merugikan, dianggap sebagai hal-hal yang fasik. Orang fasik adalah orang yang mendatangkan keburukan pada orang lain di sekitarnya.

Sampai di sini, kita bisa melihat betapa kacaunya tata nilai manusia tentang baik dan buruk, adil dan fasik. Seorang kaya yang kecurian makanannya telah marah-marah bukan main, seolah-olah kehilangan harta besar sekali. Sebaliknya, ia sudah melakukan korupsi besar-besaran, merugikan negara habis-habisan, tetapi masih merasa apa yang diperolehnya sepadan dengan 'modal' suap dan sogok yang dahulu telah dikeluarkan untuk mendapat posisinya sekarang. Rasanya sudah 'adil' dan 'benar' bila ia mendapat fasilitas dan kesempatan untuk korupsi, setidaknya untuk mengembalikan 'modal' yang telah dikeluarkan berikut bunganya. Sungguhkah itu benar-benar adil?

Kita mungkin mengerutkan kening sambil berpikir, "kita kan tidak seperti itu!" Baiklah. Bagaimana tentang berkat? Ada seorang yang marah karena melihat saudaranya yang berkekurangan mendapat banyak berkat, sementara dirinya tidak mendapat rejeki sebesar itu. Pasalnya, ia merasa selama ini sudah memberi banyak persembahan, pula tidak pernah lupa untuk berdoa dan mengikuti sesi penyembahan dan pujian. Ada yang kelepasan bicara, "Allah tidak adil!" -- sesungguhnya itulah isi hatinya, merasa tidak menerima sebanyak yang seharusnya. Tak sedikit pula yang merasa Allah tidak lagi setia pada janji-Nya. Benarkah Allah lupa? Atau apakah orang ini yang sebenarnya sama sekali tidak mencintai keadilan, melainkan mencintai dirinya sendiri?

Maka kita kembali pada pokok semula: Yesus Kristus mencintai keadilan dan membenci kefasikan, dan Allah yang tahu segala sesuatu telah berkenan kepada-Nya serta mengurapi-Nya. Artinya, penilaian adil dan fasik yang ada pada Yesus adalah penilaian yang benar, yang dapat menjadi teladan semua manusia. Dalam diri-Nya ada standar mutlak tentang apa yang adil dan apa yang fasik, yang melampaui semua penilaian manusia. Bagaimana bisa demikian, sedangkan seorang Yesus Kristus adalah manusia juga?

Di sinilah kita menemukan, bahwa Tuhan Yesus Kristus memang 100% manusia DAN 100% Allah. Penulis surat kepada orang Ibrani mengungkapkan satu kebenaran lain tentang diri Tuhan Yesus Kristus: "Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan."

Tuhan Yesus Kristus sanggup untuk menetapkan keadilan di atas kefasikan, karena Ia adalah yang menciptakan bumi dan langit. Ia yang menentukan segala ciptaan, memutuskan maksud-maksud-Nya dan menetapkan batas-batas-Nya. Ia mengetahui siapa saja yang akan hadir di muka bumi, sementara segala sesuatu akan muncul dan binasa namun Ia tetap ada.
Hal-hal yang lama menghilang dan berganti menjadi baru, yang baru pun akan menjadi usang pula, namun Tuhan tetap sama sampai selama-lamanya. Ia tahu bagian yang tepat untuk setiap hal, memahami porsi yang adil untuk segala sesuatu sebagaimana telah diciptakan-Nya.

Karena itulah, Tuhan tahu apa yang benar, yang adil. Ia juga tahu apa yang fasik; Ia sanggup mempertimbangkannya karena Ialah yang menciptakan segalanya. Ia tahu apa yang patut diterima dan diambil dari setiap orang, tanpa terganggu oleh kepentingan seperti yang terjadi pada manusia lainnya. Pertimbangan-Nya tentang apa yang baik dan buruk bukan berdasarkan pada perasaan-Nya menurut keuntungan atau kerugian-Nya, melainkan pada maksud dan tujuan-Nya yang ada dalam setiap ciptaan. Dari sinilah kita dapat benar-benar tahu, bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah sepenuhnya TUHAN, Allah pencipta.

Dengan demikian, Allah adalah Yesus Kristus. Tetapi bagaimana dengan Allah Bapa di Surga? Apakah Kristus adalah sosok yang sama dengan Allah Bapa?
Sekali lagi, penulis surat kepada Ibrani membuka kebenaran ini kepada kita, yaitu Firman Allah kepada Kristus, "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu." Perkataan ini tidak diberikan kepada malaikat, sekalipun malaikat yang paling tinggi tingkatnya. Tetapi perkataan ini juga tidak diberikan kepada diri sendiri, karena Allah dengan jelas mengatakan untuk duduk di sebelah kanan-Nya, sejajar dengan-Nya. Allah Bapa duduk di Takhta-Nya, dan Tuhan Yesus Kristus duduk di sebelah-Nya. Dan bukan itu saja; Allah juga membuat musuh-musuh Kristus menjadi tumpuan kaki-Nya.

Ini adalah pengungkapan yang luar biasa. Tuhan Yesus Kristus mencintai keadilan dan membenci kefasikan sesuai dengan Allah, sehingga menerima pengurapan-Nya. Ia telah menciptakan segala sesuatu. Ia bertakhta di sisi TUHAN, Allah Sang Khalik dan berkuasa sebagaimana Allah sendiri. Tetapi Kristus adalah Pribadi yang berbeda dari Allah. Sedikit pun Kristus tidak kurang dari Allah sendiri, dan di dalam Dia ada ke-Allah-an yang penuh sebagaimana juga kasih setia-Nya dan cinta-Nya pada keadilan serta kebenciannya pada kefasikan. Dan dalam semua itu, Tuhan Yesus Kristus adalah juga seorang manusia, bukan malaikat. Bukan mahluk sorgawi yang jauh mengatasi manusia.

Apa artinya ini bagi kita? Satu hal yang pasti, kita memiliki teladan untuk kita ikuti dengan sepenuh hati. Nilai-nilai kita tentang keadilan dan kefasikan bukan berasal dari diri kita sendiri -- karena kita sudah tahu betapa palsunya pamrih manusia -- melainkan berasal dari Kristus.
Seperti Kristus mencintai keadilan dan kefasikan, demikian pulalah seharusnya kita mencintai keadilan dan membenci kefasikan. Dan apa yang Kristus lakukan bukanlah hal yang mustahil bagi manusia, karena dalam hal ini Kristus juga adalah seorang manusia.

Hal kedua adalah, kita tidak mengikuti Kristus seperti mengikuti seorang manusia, betapa pun bijaksananya. Kristus lebih dari Kong Hu Cu, lebih dari Mohammad, lebih dari Siddharta Gautama; lebih dari mereka semua karena Kristus adalah Allah. Mengikuti Kristus berarti mengikuti Allah sendiri, melakukan kehendak Kristus sama dengan melakukan kehendak TUHAN.
Segala sesuatu ciptaan di muka bumi ini berubah, hal-hal muncul dan menghilang, tetapi Yesus Kristus tetap sama karena Ia bukanlah ciptaan, melainkan Sang Pencipta. Mengikuti-Nya berarti berjalan menuju kekekalan, serta menjadi sempurna di dalam Dia.

Hal ketiga, kemanusiaan kita bukanlah hal yang rendah karena Kristus sendiri telah memilih untuk menjadi manusia. Bahkan para malaikat sebenarnya adalah roh-roh yang diutus bertugas untuk melayani manusia yang harus memperoleh keselamatan. Karena itu, perhatikanlah bagaimana kita hidup, jangan menyia-nyiakannya! Biarlah kita mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh, agar keberadaan kita sebagai manusia dapat menyerupai Yesus Kristus, sehingga berkenan bagi Bapa di Surga. Marilah menyatakan hidup yang berharga, sebagaimana Allah sudah memberikannya pada kita, dengan memuliakan TUHAN.

Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: