Ibr 3:3-4 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah.
Hari ini, ada banyak anak yang mulai bersekolah dengan impian besar. Itulah cita-cita, yang menurut Bung Karno harus ditaruh setinggi langit, di antara bintang-bintang. Tentu saja, seiring dengan waktu, cita-cita itu semakin lama semakin rendah letaknya, hingga kembali mendarat di bumi dan bisa dicapai. Namun jangan keliru: ada juga yang mencapai hal-hal yang luar biasa. Tetapi bila diperhatikan benar, pencapaian itu bukan sekedar karena cita-cita yang tinggi, melainkan karena upaya yang tidak kenal menyerah untuk membuat diri menjadi lebih baik, dan lebih baik, dan lebih baik lagi.
Jadi begitulah: ketika masih kecil, seorang anak menaruh cita-cita yang tinggi. Mereka berdoa kepada Tuhan, minta pertolongan untuk mencapai bintang-bintang. Di saat sudah besar, kesadarannya berkata bahwa inilah hasil usahaku, jerih payahku, susah dan lelahku. Sudah sepantasnya aku menerima bagianku, kemuliaanku. Dan di sanalah terdapat harga diriku. Juga harga dirimu. Kesadaran ini menempatkan seseorang di antara masyarakat ketika mereka menjadi dewasa: ada yang merasa minder, merasa bersyukur, atau merasa diri tinggi, sombong. Ada suatu mekanisme yang terjadi dalam pikiran:
aku sudah kerja lebih keras, maka sewajarnyalah mendapat lebih banyak. Atau sebaliknya, orang merasa gagal dalam berusaha, gagal dalam bekerja, sehingga mengakui bahwa dirinya bukan apa-apa, karena tidak berusaha sebaik orang lain yang berhasil itu.
Sampai di sini, ada sebuah alasan yang dikemukakan, baik tentang keberhasilan maupun tentang kegagalan. Coba sekali-sekali perhatikan percakapan tetangga, mungkin kita akan menemukan kalimat-kalimat seperti
ini:
"Oh, ya dia tentu berhasil karena orang tuanya kaya."
"Ah, anak miskin dari keluarga sederhana itu memangnya bisa apa?"
Lihat, dunia sudah memaklumkan hukum sebab-akibat. Dari jaman dahulu sudah ada pepatah seperti "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" yang maksudnya kurang lebih sama: seperti itu bibitnya, demikian juga timbul buahnya. Jika menanam biji mangga, tidak bisa mengharapkan buah durian, bukan? Dan pohon mangga tidak bisa menghasilkan biji pohon durian! Demikianlah orang memandang keberhasilan dan kegagalannya adalah hasil sebab-akibat segala latar belakang kehidupannya. Pertimbangannya kurang lebih begini: karena latar belakangnya kaya, maka seseorang mampu untuk bekerja lebih keras, mencapai kemuliaan yang lebih besar. Sebaliknya, orang miskin kekurangan sumber daya untuk mengembangkan diri -- kurang pendidikan, kurang modal -- sehingga dengan sendirinya tidak akan berhasil seperti orang kaya.
Sedikit banyak, alasan ini begitu kuat mempengaruhi orang. Seorang anak yang dilahirkan dari keluarga pengusaha kaya akan cenderung untuk melihat dirinya menjadi pengusaha juga. Seorang anak yang dilahirkan di tengah keluarga buruh, hanya berani berharap mendapat posisi tertinggi sebagai pengawas, tidak lebih. Kalau ada yang keluar dari 'jalur', sudah dicap sebagai orang yang aneh, tidak tahu diri, berpikiran macam-macam. Alasan 'latar belakang'
adalah alasan yang kuat untuk memotivasi seseorang, yang akhirnya benar-benar membuat orang itu menjadi seperti yang dipikirkannya.
Apa yang sering luput dipertimbangkan adalah hal ini: kenyataan bahwa manusia bukanlah pohon. Tidak ada keharusan bagi manusia untuk menjadi sesuatu (atau seseorang) kelak. Sebuah keluarga pengusaha bisa memiliki anak yang menjadi ilmuwan. Sebuah keluarga buruh bisa memiliki anak yang menjadi pengusaha. Dan dari keluarga buruh bisa datang seorang raja! Bagi orang-orang yang berhasil mencapai puncak prestasi, tersedia kemuliaan dan penghormatan yang setinggi-tingginya. Perjalanan mereka diamati dengan penuh decak kagum, biografi mereka dituliskan dengan cermat, untuk dipelajari dengan tekun oleh banyak orang yang ingin meniru keberhasilannya. Tetapi sebaliknya, ada pula orang kaya yang jatuh miskin dan melarat. Lahir sebagai anak perempuan keluarga kaya, tetapi masa tuanya menjadi pembantu rumah tangga. Itulah hidup. Tak ada jaminannya, aturan sebab-akibat pasti terjadi dalam kehidupan ini. Selalu saja ada 'kelainan' yang muncul, yang sukar untuk dijelaskan sebab dan akibatnya.
Tetapi, di antara semua 'kelainan' itu, ada satu yang begitu luar biasa, sehingga tidak pernah terpikirkan manusia. Tidak masuk akal, sampai banyak orang berusaha menyangkalnya habis-habisan. Inilah keadaan yang luar biasa
itu: TUHAN menjadi manusia. Menjadi sama dengan kita semua, merasakan susah dan senang, hanya Ia tidak berdosa. Dia yang bersemayam dalam kemulian, rela mengosongkan diri-Nya untuk menolong manusia dari kebebalan dan kebodohannya sendiri. Itulah pesan yang jelas dan kuat dari penulis kitab Ibrani, suatu langkah yang tak terpikirkan dari TUHAN. Jika kita perhatikan bagian-bagian awal dari surat ini, jelas sekali nampak pembedaannya.
Dan apakah yang dihasilkan? TUHAN menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya. Ia mengangkat manusia dari keberdosaannya sendiri, dari kegagalannya untuk hidup. Dengan demikian, Ia membentuk orang-orang yang diselamatkan-Nya -- bukan dengan jalan paksaan atau ancaman, melainkan dengan cara memberikan nyawa-Nya sendiri. Tuhan meruntuhkan segala bangunan keangkuhan ciptaan manusia, merubuhkan dan mencabut fondasi-fondasi kehidupannya, agar dapat mendirikan bangunan baru yang ilahi. Dengan demikian, apa yang buruk dan rusak dari manusia dapat ditanggalkan, dilepaskan. Orang terbebas dari masa lalunya, bebas dari latar belakangnya, untuk menjadi manusia yang baru, yang mendapat pertolongan Tuhan.
Kalau dipikirkan, ini menjadi semacam pertukaran yang ajaib. Tuhan mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia, agar manusia yang kosong bisa terisi oleh anugerah, menerima karunia yang sebenarnya terlalu besar dan berharga. Tuhan memberikan diri-Nya runtuh dan binasa selama tiga hari, agar manusia bisa berdiri di hadapan Tuhan selama-lamanya! Tak ada seorang pun yang dapat menyatakan diri layak menerima anugerah Tuhan, tetapi nyatanya Tuhan memberikan diri-Nya sedemikian rupa. Dan bukan itu saja, Ia juga membantu manusia untuk melalui tahap demi tahap pengenalan akan TUHAN, mengungkapkan diri-Nya melalui Firman yang hidup dan kekal.
Kalau sudah demikian, dapatkah kita membanggakan diri?
Sesungguhnya, kita adalah bangunan-bangunan yang didirikan TUHAN dalam Kerajaan Allah. Ada yang sederhana. Ada yang megah. Mungkin ada yang terpesona memandang kehidupan kita (di antara banyak orang lain yang tidak peduli), tetapi ingatlah bahwa masing-masing orang adalah bangunan, di mana mereka sendiri menerima banyak karunia Allah. Dapatkah sebuah bangunan berbangga diri? Tidak! Namun bila memang ada hal yang baik dan mengagumkan dari sebuah bangunan, sesungguhnya upah terbesar haruslah dinikmati Pencipta bangunan itu.
Coba lihat Musa. Bukankah dia itu hebat sekali? Seorang pangeran Mesir.
Seorang yang terlatih untuk berkelana di padang pasir. Sanggup menghadapi Firaun yang penuh kuasa. Di mata orang Israel, Musa adalah sosok yang amat mulia, amat dihormati dan diagung-agungkan di antara manusia. Tetapi, Musa juga adalah bangunan, yang dibangun oleh Allah. Semulia-mulianya Musa, lebih mulia lagi Allah yang membangunnya. Sebesar-besarnya Musa, lebih besar lagi Allah yang memilikinya. Tak ada sesuatu apa pun yang dapat menjadi dasar bagi Musa untuk membanggakan diri, juga tidak ada sesuatu dasar bagi kita untuk menghargai Musa lebih dari perasaan kagum. Kenyataannya, Musa bisa demikian hanya karena Allah yang berada di baliknya, yang mengatur segala sesuatu.
Karena itu, yang ada adalah segala kekaguman dan puji-pujian bagi Allah yang telah membuat Musa sedemikian rupa. Yang ada adalah semua puji dan hormat dan kemuliaan bagi Allah yang telah menjadikan kita seperti apa adanya. Kita boleh saja menaruh cita-cita setinggi bintang, tetapi ketika kita mencapai bintang itu, bukan kita yang hebat. Bukan kita yang menyusunnya demikian, bukan kepandaian dan kekuatan atau kekuasaan kita. Kita berhasil karena Tuhan menjadikannya demikian. Karena Tuhan yang sudah mengambil langkah yang mengherankan, menjadi sama seperti manusia sehingga kita bisa bangun dari kebinasaan kita sendiri.
Jadi, itulah harga diri kita. Itulah kebanggaan kita. Pada saat kita sudah mencapai cita-cita, berhasil melakukan sesuatu yang 'besar' dan 'hebat', ingatlah bahwa kita ini hanya batu-batu dari bangunan Kerajaan Allah. TUHAN sendirilah yang menjadi ahli bangunannya, yang layak menerima segala hormat dan pujian, kemuliaan dan hormat. Jauhkanlah kesombongan dari diri kita: tak ada sesuatu pun yang layak menjadi dasar kesombongan itu. Juga jauhkanlah minder dan rendah diri, karena di balik segala kehidupan kita -- betapa pun nampaknya tidak berarti di mata manusia -- ada TUHAN yang mengerjakan segala sesuatu yang baik, termasuk mengerjakan kebenaran dalam kehidupan kita.
Kiranya ini menjadi kemuliaan bagi kita, bahwa hidup kita menjadi hidup yang memuliakan Tuhan.
Terpujilah TUHAN!
Selasa, 06 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar