Ibr 3:1-2 Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya.
Jadi orang Kristen itu caranya mudah. Apapun keadaannya dahulu, bagaimana pun jelek dan jahatnya perilaku di masa lalu, seseorang bisa datang kepada Kristus, mempercayai-Nya dan mengikuti-Nya. Jadilah dia seorang Kristen yang artinya: pengikut Kristus. Gampang? Gampang sekali! Sedemikian gampangnya, sehingga banyak orang merasa hal ini harus sedikit dipersulit.
Setidaknya, orang harus banyak belajar terlebih dahulu sebelum dapat menyatakan diri percaya. Yang harus dipelajari jumlahnya cukup banyak dan mendetail, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menguasainya. Ada yang enam bulan, ada yang setahun. Setelah itu, barulah seseorang bisa dibaptis dan menjadi bagian dari jemaat, lantas disebut 'Kristen'. Atau, ya, kira-kira begitulah (karena di mana-mana ada saja orang Kristen yang perilakunya tidak menunjukkan kekristenan).
Padahal, jika kita pikirkan lagi, apakah yang dituntut dari seseorang untuk menjadi 'Kristen' selain sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus Kristus? Percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Percaya bahwa Ia datang untuk menebus dosa, dengan menjalani kematian di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga. Paulus mengatakan, "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." Cukup. Tidak perlu mendalami seluk beluk berbagai doktrin atau teologia. Jika orang sungguh-sungguh mempercayai pokok ini, dia bisa dibaptis dan menjadi bagian dari umat, seperti sida-sida Etiopia yang dibaptis oleh Filipus. Atau kepala penjara yang dibaptis oleh Paulus dan Silas.
Tentu saja, doktrin diperlukan, teologia dibutuhkan. Tak salah lagi, seorang Kristen harus mempelajari berbagai hal tentang Tuhan, karena itulah caranya manusia dapat mengenal Allah. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi seorang Kristen, tetapi tidak memahami apa yang Tuhan tetapkan dan kehendaki? Bagaimana kita dapat mempertimbangkan langkah kita sebagai anak Tuhan, jika kita mengerti pokok-pokok kebenaran dan prinsip yang sesuai dengan Tuhan? Jadi, tak diragukan lagi, orang Kristen perlu mengetahui segala sesuatu tentang iman Kristen, serta segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan.
Hanya saja, apakah orang harus belajar semuanya itu sebelum dibaptis?
Seberapa banyak yang harus dipahami seseorang, sebelum ia dapat mengaku percaya?
Salah satu pokok kebenaran yang dinyatakan Firman adalah kenyataan bahwa keselamatan adalah anugerah. Ini ditegaskan rasul Paulus pula: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah" -- pemberian, bukan upah. Tak peduli seberapa ringan atau seberapa keras orang berusaha, Tuhan memberikan keselamatan kepada manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu saja, tanpa prasyarat atau pre-kondisi. Jadi, mengapa ada banyak ujian sebelum seseorang bisa dibaptis?
Jika direnungkan, maka ada satu kenyataan lain yang perlu kita perhatikan.
Mungkin kita bisa perhatikan orang-orang di Gereja. Atau di rumah. Atau, kita bisa mengingat dan memperhatikan kehidupan kita sendiri. Dan inilah kenyataan itu: walaupun menjadi Kristen itu mudah, namun MENJALANI kehidupan Kristen itu sukar. Susah! Apakah kita heran? Apakah kita bingung melihat bahwa banyak orang telah menjadi Kristen, namun tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Kristen, serta apa bedanya dengan kehidupan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan?
Coba, pikirkan satu saja tentang kebutuhan pokok untuk hidup sebagai anak
Tuhan: merenungkan Firman Tuhan. Seberapa banyak di antara kita yang berhasil membaca Firman Tuhan secara teratur setiap hari? Mungkin banyak.
Dan seberapa banyak yang sanggup untuk merenungkan dan mengambil sikap terhadap Firman yang dibacanya? Rasanya lebih sedikit. Dan seberapa banyak yang berhasil membangun komitmen untuk melaksanakan segala perintah dan kehendak Tuhan, sesuai dengan yang telah didapatnya? Rasanya lebih sedikit lagi. Bahkan sesungguhnya, merenungkan Firman -- seperti yang kita lakukan sekarang -- tidak serta merta membuat kita menjadi pelaku Firman. Lebih mudah merenungkan dan menuliskan kata-kata ini, tetapi sukar untuk menjalankannya dengan benar dan setia. Oleh karena itu, apakah kita menjadi anak Tuhan karena demikianlah keterangan di KTP kita?
Tetapi, kita tidak menjadi anak Tuhan berdasarkan informasi di KTP. Kita tidak menjadi anak Tuhan yang hanya hafal ayat-ayat belaka. Tuhan Yesus berkata, kita menjadi sahabat-Nya bila kita MELAKUKAN apa yang diperintahkan-Nya. Jadi, jelaslah tuntutan bagi kita adalah melakukan kehendak Tuhan, yang sama sekali tidak mudah. Bagaimana caranya?
Sanggupkah? Betapa lemahnya kita! Padahal, itu baru satu pokok tentang mendengarkan dan melakukan Firman. Masih ada banyak pokok lain yang perlu dinyatakan dalam kehidupan seorang Kristen. Kalau satu saja susah, bagaimana harus melakukan dua atau tiga atau seratus pokok kehidupan Kristen?
Kalau kita hanya berusaha sendiri saja, bisa dipastikan kita akan gagal.
Jika hitungannya hanyalah seberapa lama kita telah berupaya sendiri, maka tidak banyak yang dapat kita harapkan. Akan lebih sangat membantu bila sebelumnya seseorang telah memahami semua kebenaran-kebenaran Kristen, mengetahui semua doktrin-doktrin paling penting, kemudian mengajarkannya pada kita. Dengan demikian, kita menjadi orang yang sungguh-sungguh memahami apa yang kita percaya, sebelum kita mengaku percaya. Oleh karena itu, gereja-gereja memulai persyaratan bagi orang untuk mengikuti pelaksanaan baptis dengan suatu program pendidikan seperti yang sudah kita bahas. Pelajaran yang diberikan menjadi penting bukan untuk proses baptisan, melainkan untuk kehidupan berikutnya, setelah dibaptis.
Diharapkan, segera setelah selesai dibaptis, orang itu dapat langsung menjalani kehidupan Kristennya dengan baik. Apakah pendidikan ini cukup?
Pertimbangkanlah: pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita untuk mengikuti Kristus. Pendidikan dan pengajaran yang panjang sebelum orang dibaptis dibutuhkan bukan untuk membuat seseorang sempurna ketika dibaptis, melainkan agar orang itu mempunyai hati untuk terus mengikuti Kristus SETELAH ia menjadi bagian dari jemaat. Orang dikuduskan dan menjadi saudara Tuhan Yesus Kristus bukan hanya untuk duduk diam-diam saja, melainkan untuk terus bertumbuh dan berkarya memuliakan TUHAN. Tuhan Yesus telah menjadi saudara dan sahabat kita yang mengetahui benar segala kesusahan dan penderitaan manusia, sehingga Ia sanggup menolong kita untuk maju bersama-Nya. Tidakkah hal ini indah dan luar biasa? Ketika kita membutuhkan seseorang untuk menolong, yang hadir adalah Roh Tuhan sendiri, yang menyampaikan pengajaran Tuhan Yesus Kristus!
Inilah yang dibawa oleh penulis surat Ibrani: marilah kita memandang kepada Yesus! Dia adalah Rasul, utusan Allah di Surga. Dia adalah Imam Besar, yang menjadi penghubung, menjadi jalan bagi kita untuk mencapai Allah Bapa. Kita menjadi bagian dari jemaat yang bergerak, berjalan maju menuju Surga di dalam Dia. Menjadi Kristen baru langkah awal, tetapi menjalani kehidupan Kristen berarti meniti jalan yang sempit menuju Allah.
Memang tidak mudah, dan mungkin juga tidak nyaman. Menjalani jalan-Nya berarti turut mengambil bagian dalam penderitaan-Nya karena dunia menolak-Nya. Tidak pernah mudah.
Karena itu, rasul Paulus sendiri kepada jemaat di Korintus mengatakan bahwa kesanggupannya adalah karya Allah. Kita ini dimampukan, dalam perkembangan yang tumbuh setahap demi setahap. Yang kita harus lakukan adalah melihat Yesus. Melihat kesetiaan-Nya menjalani kehidupan yang sukar, sebagaimana Musa juga setia. Demikianlah kita harus setia untuk menjalani kehidupan Kristen, mengikuti Tuhan dengan melakukan perintah-Nya, kehendak Bapa di Surga. Renungkanlah: sampai di mana kita sekarang? Apakah kita setia?
Banyak orang Kristen yang berhenti belajar setelah ia selesai dibaptis.
Setelah kelas-kelas selesai, upacara pembaptisan dirayakan, sudah. Mengapa sudah melangkah masuk melalui pintu, tetapi tidak terus berjalan ke dalam?
Banyak pula yang berpikir bahwa pelajaran sebelum baptisan -- yang banyak dan lama -- itu sudah cukup untuk menjadikannya seorang Kristen. Sayang sekali, mereka yang beranggapan demikian itu keliru, karena sebenarnya pelajaran menjadi Kristen harus dipelajari seumur hidup. Setahun (itupun biasanya hanya seminggu sekali) adalah waktu yang amat pendek untuk mengerti betapa dalamnya kebenaran Tuhan dalam hidup.
Setialah dalam berjalan. Setialah dalam belajar untuk mengenal Dia yang menjadi jalan! Karena hanya dengan sungguh-sungguh mengenal jalan, baru kita dapat menjalaninya untuk sampai ke tujuan. Itulah yang kita harus
lakukan: setia. Selebihnya adalah pekerjaan Allah, karena Ia yang akan memampukan kita melakukannya. Ia yang memberi kesanggupan, bahkan Roh-Nya yang mengajarkan kepada kita segala sesuatu tentang TUHAN dan kebenaran-Nya. Jika ini kita lakukan, maka tidak ada lagi bedanya antara mengikuti kelas katekisasi atau pengajaran selama setahun atau enam bulan atau tiga bulan. Karena kelas katekisasi bukanlah kelas yang akan berakhir, melainkan menjadi awal dari proses belajar seumur hidup. Bukan sekedar mempelajari buku-buku dan kitab-kitab Firman Allah, melainkan mengalaminya dan melakukannya sepanjang hidup kita.
Pandanglah kepada Tuhan Yesus. Ia setia melakukan ketetapan TUHAN, tidak kalah dari Musa yang menjadi orang paling setia dan paling penting dalam sejarah bangsa Israel. Marilah mengikuti-Nya, mengikuti jalan yang telah diberikan-Nya. Ada kehidupan yang tersedia di sana, bukan hanya saat baptisan. Bukan hanya untuk kegiatan gereja, melainkan seluruh kehidupan kita.
Terpujilah TUHAN!
Ref. Rom 10:9, Kis. 8:37, 16:33, Ef. 2:8, Yoh 15:14, 2 Kor 3:5
Selasa, 06 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar