Selasa, 06 November 2007

PENCIPTA ALAM SEMESTA

Ibr 1:1-2 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

Apa yang penting dan pertama kali perlu disampaikan pada kalimat pembuka dari sebuah surat?

Biasanya, orang membuat salam. "Apa kabar?" atau "Salam sejahtera bagimu" atau yang sejenisnya. Jika komunikasi dilakukan antara dua orang, di mana yang satu sedang berusaha menjelaskan hal-hal penting untuk di dengar, tentu kesan pertama yang baik dibutuhkan. Demikianlah jika kita hendak membuat presentasi: mulailah dengan hal-hal yang menarik dan menyenangkan, dengan cerita atau ilustrasi yang menggugah perhatian.

Begitulah yang diajarkan tentang membuat presentasi, atau memulai suatu komunikasi. Pembukaan yang baik akan menentukan langkah selanjutnya, kata seorang grandmaster catur. Makanya, dalam catur ada berbagai macam pembukaan, sampai-sampai ditulis buku khusus membahas pembukaan, langkah-langkah pertama dari permainan catur. Strategi yang hebat.
Dibutuhkan untuk memulai suatu pertandingan catur yang bisa memakan waktu berjam-jam.

Tetapi, orang yang bermain catur mempunyai banyak waktu. Demikian pula dengan seseorang yang mau membuat presentasi untuk menjual ide-idenya; di situ ada cukup waktu, tidak ada tuntutan untuk bertindak tergesa-gesa. Semuanya disiapkan dengan cermat, dengan hati-hati untuk mencapai hasil yang memuaskan. Karena di situ ada cukup waktu.

Bagaimana bila tidak ada waktu lagi? Coba lihat di ruang gawat darurat di rumah sakit, saat orang berlari-lari mendorong pasien korban kecelakaan ke ruang operasi. Apakah ada waktu untuk mempersiapkan strategi? Apakah ada kesempatan untuk pesan-pesan pembuka, ucapan terima kasih kepada para penolong yang baik hati, penghargaan yang tinggi dan setulusnya kepada para perawat dan dokter jaga, dan seterusnya? Tidak, tidak ada kesempatan. Ketika nyawa berada di ujung badan, tindakan medis merupakan keharusan yang menghargai setiap detik dengan nilai yang amat tinggi. Amat penting.

Sekarang, bagaimana bila pada kita ada sebuah pesan yang amat sangat penting, yang menentukan hidup-atau-mati untuk disampaikan, sedangkan sudah tidak ada waktu lagi? Apakah kita bisa cukup tenang untuk memikirkan langkah-langkah aman yang tidak menyinggung perasaan, yang memastikan bahwa ide yang disampaikan akan diterima dengan baik? Rasanya tidak, sama sekali berbeda. Kita tidak memulai dengan basa basi yang menyenangkan, seolah-olah tidak ada sesuatu yang amat kritis, yang harus sekarang juga dipikirkan. Sebaliknya, mungkin kita akan berteriak keras-keras, membuat penjelasan singkat tapi jelas, mengharapkan tindakan sekarang juga. Langsung! Jangan tunda lagi!

Begitulah kita menemukan pembukaan dari Surat Ibrani ini. Pesannya dimulai dengan fakta yang jelas dan sudah diketahui semua orang ibrani:
zaman dahulu Allah sudah berbicara kepada nenek moyang dengan perantaraan nabi-nabi. Perhatikan satuan waktu di sini: ZAMAN DAHULU.
Penulis Surat Ibrani langsung kepada fakta bahwa Allah sudah lama sekali berbicara, sudah seringkali memperdengarkan suara-Nya, kata-kata-Nya melalui perantaraan nabi-nabi.

Dan jika waktunya sudah sekian lama, maka lama-lama orang akan kehabisan waktu. Lalu pada ZAMAN AKHIR ini Allah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya. Apakah kita dapat melihat perbandingan ini? Zaman Dahulu versus Zaman Akhir. Dulu Allah sudah bicara melalui nabi. Kini berbicara melalui Anak-Nya. Bukankah di sini kita melihat suatu peningkatan yang amat berbeda? Dahulu hanya nabi, orang suruhan.
Sekarang Anak, bagian dari Allah sendiri. Dan waktunya habis.

Dengan kedua perbedaan kualifikasi itu: zaman akhir dan Anak sebagai pembawa pesan, penulis Surat Ibrani sedang menekankan betapa pentingnya memperhatikan pesan dari Allah. Penting, penting, amat penting. Ini bukan proses yang baru dimulai sebulan yang lalu, atau setahun yang lalu. Ini adalah proses yang sudah dimulai lama sekali, sejak berabad-abad sebelumnya. Saat ini sudah semakin mendekati akhir dari zaman, ujung dari suatu masa dalam kehidupan. Orang yang hidup dan mendengar pesan dari Surat Ibrani mungkin tidak terlalu tertarik, tetapi Roh Kudus melalui penulisnya jelas sedang menunjukkan suatu fakta yang krusial untuk dipertimbangkan.

Dan pesan ini sudah dituliskan dua millenium lalu. Bayangkan, jika mereka saja sudah sedemikian dekatnya, apa lagi kita. Betapa penting untuk memahami pesan dari Allah yang disampaikan Anak-Nya: tidak tertunda lagi, tidak tertahankan lagi waktu akhir zaman akan tiba. Orang tentu menginginkan kesiapan, seperti hendak mengadakan perayaan besar di saat kedatangan-Nya. Apakah kita mempersiapkan diri?

Mungkin ada yang berkata, "siapa sih, Yesus itu? Orang Kristen ribut sekali sih membicarakan orang ini." Tetapi mereka tidak tahu siapa Yesus, atau apa kedudukan-Nya di hadapan Allah. Tuhan Yesus bukan hanya seorang baik yang bijaksana, bukan sesosok orang suci dari jaman dahulu kala. Bukan, tetapi Tuhan Yesus adalah seorang yang amat sangat penting.
Sangat berpengaruh, bukan hanya di waktu itu saja, melainkan juga terhadap seluruh jaman dan waktu, hingga ke diri kita saat ini, karena Yesus adalah Allah.

Inilah berita penting yang disampaikan oleh Roh Kudus, sedemikian kuatnya sehingga penulis Surat Ibrani tidak menghabiskan waktu untuk menulis salam pembuka. Ia berbicara secara lugas dan langsung, bahwa di zaman akhir ini Allah telah berbicara dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada, termasuk kita juga. Anak-Nya berhak atas segala sesuatu, termasuk diri kita, kehidupan kita. Segala yang ada.

Mungkin pula, ada yang protes, "enak saja! Atas dasar apa mengatakan bahwa Yesus berhak atas kehidupan kita?"

Jawaban atas protes ini sudah disiapkan, tegas dan langsung: oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Kita ada oleh Dia, maka kita adalah milik-Nya secara sah. Tuhan Yesus yang menciptakan segala sesuatu, maka Tuhan Yesus pula yang berhak atas segala sesuatu. Jalan-Nya adalah hak-Nya, dan kebenaran berada dalam diri-Nya. Hal ini bisa digambarkan dengan melihat bagaimana seorang pengrajin sedang mengerjakan tanah liat untuk membentuk sesuatu. Lihatlah, ia sedang membuat sebuah piring dari tanah liat, yang siap untuk dibakar.

Setelah masuk ke dalam tanur besar yang amat panas selama beberapa jam, akhirnya piring keramik yang indah itu selesai. Nah, coba kita katakan:
siapa yang berhak atas ciptaan itu? Apakah pemakai piring? Bukan, yang berhak adalah penciptanya. Dia yang membuat, dia pula yang berhak atas segala buatannya. Dan bukan itu saja: sebagai pembuat, ia juga berhak menentukan kebenaran dari piring buatannya. Ia berhak memutuskan apa fungsi atau kegunaan dari piring itu, serta bagaimana memelihara dan merawatnya.

Tentu saja, orang bisa memakai piring itu dengan berbagai macam cara.
Ada yang membuatnya menjadi hiasan di lemari kaca. Ada yang memakainya untuk dilemparkan kepada pasangan hidup, dalam kemarahan yang memuncak.
Sekali waktu dalam sebuah seminar, kami bicara tentang perubahan paradigma. Pada waktu itu ada sebuah piring untuk menyimpan kue.
Pembicara lalu mengambil piring itu; para peserta disuruh memikirkan apa saja yang dapat dilakukan dengan piring yang dipegangnya. Tahukah, bahwa ternyata kemungkinannya ada begitu banyak sehingga tidak bisa didiskusikan semuanya?

Tetapi, kenyataan bahwa piring itu bisa dipakai untuk berbagai macam cara tidak membebaskan cara pakai yang seharusnya. Kebenarannya bukan berada pada pemakai piring, melainkan pada pembuatnya, penciptanya. Cara yang dinyatakan oleh pencipta adalah cara yang benar, itulah kebenaran yang menjadi tolok ukur. Orang bisa memakai piring itu untuk dilemparkan menjadi piring terbang, tetapi itu adalah cara pakai yang salah. Ketika pada akhirnya sang pencipta datang untuk melihat bagaimana piring buatannya dipakai, ia akan menilai dan bertindak: ini piring untuk alat makan, bukan dilempar di saat marah.

Demikian pula dengan kehidupan manusia; kita adalah piringnya. Tuhan Yesus, Anak Allah, sebagai Pencipta berhak atas segala sesuatu berarti juga berhak menentukan apa tujuan serta kebenaran. Dia yang memutuskan apa yang benar untuk kita lakukan, dan Ia sudah menyampaikan semua yang perlu kita dengar untuk menghadapi zaman akhir. Bukankah Allah telah menciptakan alam semesta? Ia juga yang membuat rancangan atas segala sesuatunya.

Surat Ibrani selanjutnya membahas semua hal yang perlu kita dengar itu; hal-hal yang amat penting untuk kita perhatikan. Di sini ada kebenaran yang mutlak, yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta. Marilah kita memperhatikan baik-baik!

Terpujilah TUHAN!

Untuk didiskusikan:
1. Apa yang dipakai Allah untuk berbicara kepada manusia sejak jaman dahulu? Apakah pesan-Nya masih berlaku?

2. Apa yang diperhatikan oleh penulis Surat Ibrani tentang zaman akhir?
Apa yang penting?

3. Diskusikanlah, apa maksudnya Anak-Nya yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.

4. Apa maknanya "Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta." bagi Anda? Di sini ada pernyataan langsung bahwa alam semesta adalah suatu ciptaan. Apakah Anda setuju?

Tidak ada komentar: