Selasa, 06 November 2007

KRISTUS

Ibr 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

"Apa sih?"

Pertanyaan itu sempat timbul ketika melihat seseorang begitu "menyala"
untuk memberitakan Kristus. Jadi orang Kristen? Ya. Jadi orang yang beribadah dengan tekun? Ya. Tetapi, untuk sedemikian bersemangat memberitakan Kristus, sempat timbul perasaan aneh. Apakah Anda juga pernah merasakan demikian? Rasanya, seperti bukan melakukan hal yang tepat tetapi di dalam tulang ini rasanya ada api yang menyala-nyala.
Terasa sakit dan bodoh.

Kita sering mendefinisikan keberadaan orang Kristen dengan berbagai-bagai perbuatan baik yang mencerminkan karakter Kristus. Kita menunjukkan bahwa kita adalah orang Kristen dengan memberi kasih yang besar kepada sesama, melalui banyak pertolongan sosial dan rohani.
Wujudnya adalah berbagai proyek kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan, serta tentu saja sarana ibadah yang nyaman lengkap dengan organisasi Kristen yang melayani setiap orang yang datang. Ukurannya adalah seberapa baik orang-orang dilayani, berapa banyak orang yang mendapatkan kesejahteraannya meningkat, pendidikannya semakin baik, dan tubuh mereka semakin sehat.

Sedemikian seriusnya, sehingga usaha-usaha baik itu menjadi yang paling utama. Semua hal yang nampaknya merintangi upaya yang baik akan disingkirkan, dikesampingkan. Demi perdamaian, demi kesejahteraan seluruh umat manusia, semua penghalang jalan perdamaian harus dihilangkan, dipertimbangkan ulang, atau dihapuskan.

Bagaimana jika penghalang itu adalah KRISTUS sendiri?

Banyak orang yang tidak percaya kepada Kristus. Mereka tidak mau menerima Kristus adalah Juruselamat, apalagi Tuhan. Karena itu pula, mereka menolak usaha kemanusiaan yang terkait dengan Kristus; bagi mereka kemanusiaan berpusat pada manusia, bukan pada sosok yang tidak dipercaya. Dengan demikian, usaha menolong orang lain menjadi terhambat karena nama Kristus -- solusinya, jangan membawa-bawa nama Yesus Kristus dalam pelayanan sosial. Kalau masih berani membawa Nama itu, pelayanan akan ditolak, bahkan dituduh melakukan 'kristenisasi' dan 'pemurtadan' serta 'pelanggaran hak asasi manusia'. Semuanya dianggap sebagai tindakan yang menyinggung perasaan, karena itu lebih baik tidak usah membantu sama sekali daripada menolong sambil memberitakan Kristus kepada orang yang belum percaya.

Untuk penolakan ini, tidak sedikit orang Kristen yang menyetujui -- bukankah keberadaan mereka sebagai orang Kristen didefinisikan oleh perbuatan mereka? Dengan alasan "kami menjadi saksi Kristus lewat perbuatan kami", mereka ikut-ikutan menolak untuk membawa nama Kristus.
Pokoknya perbuatan saja yang baik, kemanusiaan saja yang ditunjukkan.
Soal ketuhanan Yesus Kristus, itu hanya hal untuk dibahas di kalangan sendiri, bukan untuk disampaikan kepada orang luar.

Ada sebuah ilustrasi yang menarik, yang mungkin sesuai dengan keadaan ini. Ceritanya berkisar di seputar jalan raya luar kota, di mana terdapat sejumlah kios makanan berderet-deret, hampir semuanya menjual mie baso. Dan sebagaimana layaknya semua yang berjualan mie baso, kecap adalah bumbu yang amat penting. Konon, semua mie baso rasa dasarnya kurang lebih sama, tetapi kecap menentukan rasa akhir yang berbeda.

Untuk menghindari persaingan, para pemilik warung sepakat untuk memakai kecap dari merek A. Tetapi salah satu pemilik warung tahu bahwa kecap yang lebih enak dan lebih murah adalah kecap merek B. Sayang, para pemilik warung yang lain tidak percaya; mereka sudah meyakini bahwa kecap A adalah yang terbaik dan termurah, tidak mau tahu bahwa kenyataannya kecap B lebih enak dan lebih murah. Jadi, mereka marah sekali kepada pemilik warung yang memakai kecap B. Pemilik warung ini dianggap tidak menghormati kesepakatan cara mereka berjualan di tempat itu.

Akhirnya, pemilik warung dengan kecap B ini mengalah. Apa yang ia lakukan? Ia mencabut label merek kecapnya; kini semua botol kecap di warungnya adalah botol kecap yang tidak ada mereknya. Kalau ada pengunjung yang bertanya apa merek kecap yang enak itu, ia hanya senyum-senyum saja, tidak memberikan jawaban. Karena itu, para pengunjung berpikir bahwa tentu kecap yang dipakai mereknya sama dengan kecap di warung lain, yang masih ada labelnya. Mereka hanya heran, mengapa rasanya bisa lebih enak, lantas mengambil kesimpulan bahwa tentu yang memasak mie baso di warung itu lebih pandai. Padahal, tanpa kecap istimewa itu, mie baso buatan warung ini sama saja dengan warung lainnya, malah ada yang lebih enak lagi. Kunci rasanya ada pada kecapnya!

Demikianlah kita juga membuka 'warung' tempat orang dilayani dan kemanusiaan disajikan. Apa yang kita lakukan sebenarnya biasa saja, tetapi karena ada Kristus maka menjadi istimewa bagi orang yang dilayani. Bukan kita yang hebat 'memasak' pekerjaan kemanusiaan sehingga terasa enak, melainkan kuasa Tuhan yang menentukan 'rasa' pelayanan kita. Tapi kita takluk kepada tekanan dunia, tunduk pada ancaman dari kiri dan kanan, sehingga kita membuang labelnya, membuang Nama-Nya.
Orang pada akhirnya melihat apa yang kita lakukan sama saja dengan semua orang lain; bahkan tak sedikit yang keliru mengira tindakan kemanusiaan kita adalah dari 'label' agama dan kepercayaan lain.

Tentu, ini hanya sebuah kiasan yang amat sederhana. Kenyataannya, Tuhan Yesus jauh-jauh-jauh lebih besar daripada semua yang ada di dunia. Jika 'kecap' dunia tak lain dari lumpur hitam yang wujudnya menyerupai kecap, maka Kristus adalah kecap asli yang merajai semua kecap yang memberikan kehidupan kepada orang yang menerima-Nya. Dan bukan itu saja!

Kita melihat bahwa penulis surat kepada orang Ibrani menunjukkan bahwa Kristus jauh lebih besar. Sesungguhnya, Kristus adalah alasan keberadaan kita semua: oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Apakah kita bisa memahami seberapa besar alam semesta ini? Dapatkah kita mengerti betapa besarnya dan luasnya dan hebatnya alam ini? Dan kita tidak perlu melihat terlalu jauh. Lihat saja segala sesuatu yang ada di atas permukaan bumi ini; dapatkah kita memahami keajaiban alam di sekeliling kita?

Apakah kita terpesona dengan ciptaan? Betapa lebih hebat dan mulianya Dia yang menciptakan!

Dari jaman ke jaman, orang senantiasa memuji-muji keindahan alam. Selalu takjub dengan segala sesuatu yang ada, yang terjadi dari waktu ke waktu. Bukankah seharusnya manusia lebih kagum lagi, lebih keras lagi memuji Dia yang menciptakan? Kristus bukan sekedar hal baik yang menjadi penentu rasa 'enak' dalam pelayanan. Ia amat sangat jauh lebih mulia daripada rajanya kecap, sementara yang lain hanyalah lumpur hitam belaka! Kristus menjadi penentu keberadaan segala sesuatu, termasuk warung-warung di pinggir jalan itu, termasuk saya dan Anda juga. Semua ada oleh Dia.

Karena itu, penulis surat Ibrani dengan lantang menyatakan tentang keberadaan-Nya demikian: "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. " Dengan kenyataan ini, mungkinkah kita mengabaikan-Nya, merendahkan-Nya dan menyembunyikan-Nya hanya agar bisa mengerjakan program kemanusiaan? Kekristenan tidak didefinisikan menurut perbuatan orang Kristen. Tidak ditentukan melalui perbuatan baik -- betapa pun baiknya -- karena pusatnya bukan pada manusia, melainkan pada Tuhan.

Tuhan adalah cahaya kemuliaan Allah, sinar yang memancar dan menerpa kehidupan manusia. Tuhan adalah gambar wujud Allah, yang mengungkapkan Diri Allah kepada manusia seturut kemuliaan-Nya. Dia menjadi ukuran dan acuan dari segala aspek kekristenan, segalanya dalam kehidupan orang Kristen. Hal ini bisa dibandingkan dengan Musa, yang mukanya bercahaya karena memantulkan pancaran kemuliaan Allah. Rasul Paulus mengatakan, "Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!"

Tuhan Yesus Kristus adalah cahaya itu, bukan pantulan atau refleksi. Dia menjadi cahaya yang terpancar pada kita, di mana diri kitalah yang merefleksikan-Nya. Kalau orang Kristen berbuat baik, mengulurkan tangan dan menolong sesamanya di dunia, tujuannya adalah meneruskan karya Kristus, mengambil bagian dalam mengerjakan pekerjaan Kristus. Maka mustahil orang boleh mencabut identitas Kristus -- melakukan hal itu berarti memutuskan relasi antara pekerjaan baik dengan Kristus sendiri.
Dan apa artinya suatu pekerjaan baik bila tidak memuliakan Tuhan?

Keberadaan Kristus adalah di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi. Ini adalah posisi yang sejajar dengan Allah Bapa -- menunjukkan kesetaraan Kristus dengan Bapa. Tempat itu jauh lebih tinggi daripada tempatnya para malaikat, padahal malaikat sendiri jauh lebih berkuasa terhadap manusia. Jadi, tidak bisa dibayangkan betapa tingginya Kristus, Tuhan kita. Pada-Nya kita dapat menggantungkan seluruh keberadaan kita, karena tangan Tuhan tidak pernah terlalu pendek merangkul tiap orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Dia memampukan kita meletakkan dengan baik.

Terpujilah TUHAN!


Ref 2 Kor 3:7b-8

Tidak ada komentar: