"Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,"
sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: "Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya." Dan dalam nas itu kita baca:
"Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku."
Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka. Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu "hari ini", ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas:
"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!"
..oo00O8O00oo..
Ketika beberapa bulan lalu proyek instalasi selesai dirampungkan, pekerjaan yang berat nampaknya sudah selesai. Setelah hasil uji coba mesin menunjukkan angka-angka yang menggembirakan, nampaknya bagian terberat sudah selesai.
Ya, memang nampaknya melegakan banyak pihak, mulai dari manajer proyek, manajer pembelian, ahli instalasi listrik, instalasi mesin, staf lapangan, sampai petugas gudang inventaris yang selama berbulan-bulan harus selalu siap sedia dari pagi sampai malam. Sekarang mesin baru sudah terpasang, sudah siap beroperasi. Tinggal tekan tombol, mesin berjalan, dan semua senang.
Tetapi sekarang, baru nampak bahwa sebenarnya saat itu bukanlah akhir, melainkan awal dari proses yang lebih panjang dan melelahkan. Rencana instalasi hanyalah bagian awal dari keseluruhan rencana bisnis. Setelah mesin bisa berproduksi, bagian pemasaran langsung dibebani target berlipat-lipat. Bagian pembelian harus menambah jumlah pemasok dan barang-barangnya. Bagian inventaris dan logistik harus menyediakan lebih banyak tempat dan melakukan lebih banyak kontrol terhadap arus barang yang meningkat pesat.
Sebenarnyalah, ketika segala sesuatunya selesai disusun, pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai.
Jika kita mau meluangkan waktu untuk mengamati berbagai macam proses di sekitar, kita akan menemukan pola-pola yang serupa. Mulai dari kehamilan, nampaknya ada proses panjang dan melelahkan yang harus dialami seorang ibu.
Tetapi perjalanan sebenarnya baru dimulai ketika sang bayi dilahirkan. Atau proses pendidikan, waktu bertahun-tahun yang dipakai untuk kegiatan belajar di sekolah dan berakhir dengan acara wisuda. Sekali lagi, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai ketika ijazah sudah diterima, suatu perjalanan yang penuh perjuangan di antara para pencari kerja di seluruh dunia.
Pola ini terjadi sejak awal, bahkan dari saat Allah menciptakan langit dan bumi. Allah menjadikan segalanya dalam 6 hari penciptaan, di mana pada hari
ke-7 Ia memberkati ciptaan-Nya. Tetapi, pekerjaan-Nya belum berhenti.
Sebaliknya, justru kehidupan baru dimulai, di mana Allah terlibat penuh di dalamnya, karena Ia adalah sumber kehidupan. Berhentinya Allah pada hari ke tujuh bukanlah berarti bahwa bagian pekerjaan-Nya sudah usai. Sebenarnya, pada hari itu Allah berhenti untuk memberkati segala ciptaan-Nya, karena mulai sejak saat itu roda kehidupan mulai berputar dan bergulir. Ini adalah permulaan-Nya, permulaan suatu proses yang panjang dalam rencana dan kendali Allah.
Allah tidak membuat waktu yang berputar-putar, atau sejarah yang berulang-ulang. Sejarah kehidupan bergerak menurut sebuah garis lurus, ada awal dan akhirnya. Tentu, kita sekarang belum sampai di akhir sejarah, karena kita tahu bahwa roda kehidupan saat ini masih berputar. Tetapi akan tiba saatnya, ada suatu hari perhentian: Suatu keadaan di mana segalanya berhenti dan manusia tidak lagi dapat mengubah posisinya. Di manakah tempat kita berhenti kelak? Apakah tempat kita berhenti adalah sama dengan tempat Allah? Apakah kita ada bersama-sama dengan Dia?
Masalahnya, kita tidak tahu kapan hari-hari akan berhenti. Secara individu, hari itu adalah saat di mana kita mati, tubuh kita berhenti berfungsi, dan kita tidak lagi dapat memilih melakukan sesuatu di muka bumi. Secara global, hari itu adalah saat di mana Tuhan datang kembali untuk menghakimi dunia, dan tidak ada seorang pun --baik yang masih hidup maupun sudah mati-- dapat mengingkari keadaannya. Yang berada dalam Kristus, tetap dalam Kristus. Yang di luar Kristus, tetap di luar. Allah sudah memulainya dahulu kala, dan waktu bergerak lurus hingga mencapai hari-Nya. Ia telah membuat sebuah jalan yang dapat dipilih atau ditolak orang.
Tuhan adil dalam membuat keputusan-Nya. Ia tidak diam-diam membuat jalan yang tidak diketahui orang, sebaliknya Tuhan memberitakan kabar tentang jalan-Nya ke seluruh dunia. Ia melakukan ini melalui murid-murid-Nya, para pengikut-Nya dari jaman ke jaman, termasuk kita sekalian. Bukankah itu yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, sebagai amanat agung bagi kita?
Beritakanlah, jadikanlah segala bangsa menjadi murid-Ku, kata Yesus. Ini pun suatu proses: dimulai pada hari Pentakosta, dan berlangsung terus hingga berangsur-angsur seluruh dunia benar-benar menerima kabar keselamatan, kabar baik dari Tuhan: Yesus Kristus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Dan proses ini akan berakhir, di suatu ujung di mana seluruh dunia telah mendengar-Nya, dan tibalah hari perhentian-Nya.
Karena itu, di hari perhentian-Nya tidak banyak orang yang masih hidup dapat mengelak dan mengaku tidak pernah mendengar apa pun juga tentang Kristus.
Kabar keselamatan itu saat ini telah dinyatakan, bahkan dirayakan setiap tahun, seperti hari Natal yang sekarang diperingati di seluruh dunia. Dan kabar itu pun tidak sukar untuk dipahami: barangsiapa percaya kepada Kristus, ia tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Tidak dibutuhkan syarat yang aneh atau bermacam-macam, tidak diharuskan ada upacara ritual yang rumit, atau kehidupan yang serba ketat mengikuti aturan agama. Tuhan tidak membuatnya sulit, yang dibutuhkan hanya hati yang remuk dan hanya menaruh harap dengan mempercayai Tuhan Yesus Kristus.
Namun untuk hal yang sederhana ini, tidak semua orang mau mentaati-Nya.
Tuhan sudah memberikan banyak, amat banyak, tetapi manusia yang keras kepala masih memilih untuk mengagungkan perbuatannya sendiri, sehingga menolak untuk percaya pada Kristus. Ada saja orang yang mendengar kabar keselamatan, tetapi berita itu tidak ada gunanya bagi mereka. Tidak ada artinya, tidak menarik untuk dipikirkan dan dibicarakan. Banyak orang lebih suka untuk membicarakan tentang para pahlawan, daripada membahas bagaimana seseorang tidak berdaya untuk menolong dirinya sendiri. Orang pada umumnya lebih tertarik dengan kisah-kisah kepahlawanan dan kesuksesan, daripada tentang hidup yang pas-pasan, diisi penderitaan, dan penuh ketergantungan, walaupun kepada Allah, Pencipta langit dan bumi. Dan di hari Natal pun, semakin banyak orang yang tidak lagi mengirimkan kartu "Merry Christmas" yang memberitakan tentang kelahiran Kristus. Mereka menggantinya dengan "Happy Holiday" dan "Seasons Greetings" -- seperti yang dikirimkan oleh Presiden Amerika kepada 1,4 juta relasinya. Kristus tidak lagi menarik untuk dirayakan, mereka hanya menginginkan libur saja.
Kalau semua pokok pikiran ini dirangkum, coba bayangkan keadaaannya. Allah sudah menciptakan langit dan bumi, sudah memberkatinya, dan memberi kehidupan bagi seluruh mahluk. Tetapi manusia, mahluk yang berdosa dalam ciptaan-Nya, justru menolak bergantung kepada-Nya karena ingin menentukan sendiri hidupnya, menentukan sendiri apa yang baik dan yang jahat bagi dirinya. Allah memberi Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi jalan keselamatan, yang diberitakan oleh para Rasul dan murid Kristus, tetapi dunia menolak-Nya, menolak Firman, menolak kabar baik tentang kebenaran dan hidup dalam Kristus. Sekarang, coba renungkan: wajar dan adilkah bila kemudian Allah memurkai dunia yang menolak-Nya?
Wajar sekali. Adakah alasan yang dapat membenarkan ketidaktaatan manusia?
Adakah sesuatu yang dapat diajukan sebagai dalih kekeraskepalaan kita, bila kita bersikeras ingin menjadi pahlawan dengan kekuatan dan kepandaian dan sumber-sumber kita sendiri? Apakah kita dapat mengatakan, bahwa di dunia yang pluralistis ini, ada banyak arah yang ditempuh orang dan kita tidak bisa mengatakan bahwa arah yang ini benar dan yang lain salah? Jika kita berjalan berbeda arah dengan Tuhan, semakin lama akan semakin jauh jarak kita dengan-Nya. Pada akhirnya, kita tidak akan sampai di tempat-Nya, tidak akan memasuki hari perhentian-Nya. Tidak peduli berapa banyak orang yang mempunyai arah yang berbeda, sebenarnya hanya ada satu saja arah yang benar dalam hidup, karena Allah itu Esa.
Keadaan ini dapat diilustrasikan dengan gambaran matematika tentang dua titik dalam koordinat kartesian. Jika kita meletakkan dua buah titik dalam bidang koordinat, hanya ada satu garis lurus yang dapat menghubungkan kedua titik itu. Hanya ada satu arah yang dapat membawa kita dari titik yang pertama ke titik yang kedua dalam satu garis. Jika kita membuat penyimpangan arah, cukup satu derajat saja, maka tidak mungkin kita akan mencapai titik yang diharapkan karena jarak antara kedua titik itu amat sangat jauh.
Cobalah gambarkan ini dengan selembar kertas yang besar, pensil dan penggaris.
Renungkanlah: Allah sudah amat mengasihi kita, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menjalani garis itu, turun dari Allah ke dalam dunia. Ia telah menunjukkan arah-Nya, hingga Ia kembali kepada kemuliaan-Nya di Sorga. Apakah kita masih tetap berkeras kepala dengan jalan yang lain?
Ada orang yang keras kepala dengan dalih sosial dan masyarakat, lalu menjadi orang-orang yang tidak taat. Mereka sudah lebih dahulu mendengar Firman Allah, tetapi mereka mengabaikannya. Demi kedamaian dunia, mereka mengikuti arah mana saja yang dapat dipikirkan orang, bahkan juga jalan sesat yang ditunjukkan oleh iblis! Demi kemerdekaan manusia, mereka menolak semua petunjuk dan jalan dan pengajaran. Apakah kemerdekaan manusia dapat menentukan keputusan Allah?
Hari ini, saat mendengar seruan-Nya ini, janganlah keraskan hati. Tuhan tidak menyediakan hari-Nya dengan sia-sia, Ia menyediakan kehidupan kekal yang terbaik bagi manusia, bagi kita yang percaya pada-Nya. Betapa indahnya bila kita sekalian dapat bersama-sama berkumpul di hari-Nya, di tempat perhentian-Nya, dan tidak ada yang hilang binasa karena tersesat arah langkah dalam kehidupan. Ya, berdoalah, kiranya Allah yang menjagai langkah hidup kita setiap hari.
Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar