Ibr 2:5-9 Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya." Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.
Dunia datang, dunia pergi. Kadang, untuk sesaat orang sepertinya menerima segala sesuatu yang baik dari dunia, bertubi-tubi ia mendapat keuntungan dan kekayaan serta segala sesuatu yang baik di atas muka bumi ini. Baru saja ia mencoba untuk menikmati harta yang berlimpah itu, tiba-tiba pula secepat datangnya, dunia pergi bersama hartanya. Dan orang itu kembali tidak memiliki apa-apa. Hidup terasa seperti mengendarai roller coaster yang jungkir balik dengan sedemikian cepatnya, sehingga orang kehilangan orientasi dan tidak tahu kepalanya ada di atas atau di bawah.
Karena perubahan dalam kehidupan ini sedemikian cepat dan luar biasa, banyak orang yang merasa dipermainkan. Rasanya tidak banyak yang dapat dikatakan tentang keadilan atau bagian yang baik, karena apa yang baik dan enak itu umurnya singkat saja. Baru saja menikmati sebentar, tiba-tiba datang kesusahan dan penderitaan. Bagaimana, misalnya, baru saja sepasang muda mudi melangsungkan pernikahan dengan penuh gaya dan kemeriahan, tahu-tahu mereka sudah mau bercerai setelah hidup berkeluarga selama tiga bulan. Rupanya kegembiraan menjadi pengantin baru dengan cepat pudar, digantikan dengan serangkaian pertengkaran yang panas dan merusak. Segala hasrat dan gairah cinta telah lenyap, digantikan nafsu amarah dan kebencian yang memuncak.
Entah mengapa, mereka mau saja merusak dirinya sendiri beserta hidup orang lain. Apakah kehidupan ini tidak lagi berharga dan bernilai tinggi untuk dipelihara?
Dalam banyak perkara, orang merendahkan dirinya sendiri dengan menjadi budak kejahatan, seolah-olah manusia bukan mahluk yang mempunyai akal budi untuk mempertimbangkan segala tingkah lakunya. Segala keputusan ditentukan oleh nafsu yang menguasainya, sehingga manusia tidak lagi sanggup untuk mengendalikan diri. Ketika dunia datang dan pergi, hal terpenting yang dipikirkan orang adalah bagaimana memegang dan menguasai dunia sebanyak-banyaknya selama mungkin. Apakah ini suatu keserakahan? Bukan, kata mereka. Ini bukan keserakahan, melainkan upaya untuk mempertahankan diri, di mana yang bertahan hingga akhir adalah mereka yang paling pandai beradaptasi dengan situasi. Tentu saja "beradaptasi" di sini artinya memiliki sebanyak mungkin cadangan yang dapat digunakan ketika kesusahan datang, tanpa memperdulikan orang lain. Ini adalah kompetisi, bukan kejahatan. "Kami sedih dan prihatin dengan kemalangan yang diderita orang lain, tetapi apa boleh buat: lebih baik mereka susah daripada kami mengalami kerugian."
Kalau kita dapat menarik satu kesimpulan, banyak masalah dimulai ketika manusia tidak lagi menghargai kehidupan. Yang berharga adalah pemenuhan nafsu, baik nafsu untuk memiliki, nafsu untuk memperoleh semuanya, atau nafsu untuk menguasai. Mereka beranggapan bahwa lebih baik memenuhi segala kebutuhan hidup daripada menjaga kehidupan itu sendiri. Lebih perlu untuk mendapatkan apa yang diinginkan, walau untuk itu taruhannya adalah kehidupan dan masa depan. Ironis memang, bagaimana untuk "beradaptasi" demi memenuhi segala kebutuhan hidup, orang mengorbankan hidupnya!
Itulah dunia masa lalu dan masa kini. Seperti apa dunia di masa yang akan datang?
Karena manusia saat ini sudah merendahkan diri dan merusak dirinya sedemikian rupa, maka tidak sedikit orang yang berpikir bahwa masa depan tidak akan lebih baik. Dalam sesaat memang manusia merasa dapat bergantung kepada teknologi dan rasio untuk mengangkat kehidupan, tetapi buktinya terjadi Perang Dunia I dan II yang membuyarkan semua harapan itu. Mungkin dunia harus dihuni oleh para malaikat, baru ada perbaikan yang sesungguhnya. Tak ada harapan dalam diri manusia yang pandai merusak dirinya sendiri. Hanya kota yang diisi oleh para malaikat saja yang bebas dari kejahatan dan penderitaan. Itukah yang dipikirkan oleh TUHAN? Untuk malaikat-kah Allah menyediakan langit dan bumi?
Bukan! Allah menaklukkan dunia yang akan datang bukan untuk malaikat atau mahluk-mahluk sorgawi. Sesungguhnya, bumi diciptakan untuk Allah sendiri, yang menyatakan diri-Nya kepada manusia yang diciptakan-Nya segambar dan serupa dengan Allah. Manusia memang telah jatuh ke dalam dosa, namun TUHAN sendiri telah menjadi manusia - lebih rendah dari malaikat-malaikat - untuk menebus dosa. Maka kepada Tuhan Yesus Kristus diberikan segala sesuatu yang ada di dalam dunia, termasuk keberadaan kita sekalian.
Di sini kita menemukan suatu hal yang luar biasa: di saat manusia kehilangan harapannya, justru TUHAN menjadi manusia, bahkan menjalani kehidupan yang paling tragis dan tanpa pengharapan, sampai mati di kayu salib. Sementara banyak orang di seluruh dunia menjadi pesimis dengan kehadiran manusia (dan tidak sedikit yang lebih mencintai binatang daripada orang!), justru Tuhan memberi diri-Nya bagi manusia. Dengan memberi diri-Nya itu, Tuhan memberikan kelahiran kembali bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Manusia belajar untuk menemukan kembali kemuliaan TUHAN dalam kehidupan, karena bagi Tuhan Yesus telah diberikan segala kemuliaan dan hormat. Manusia belajar untuk kembali menguasai dan memelihara bumi beserta segenap isinya, karena kepada Tuhan Yesus segala sesuatu telah takluk. Semuanya, tanpa kecuali. Termasuk nafsu. Termasuk dosa dan upahnya, yaitu maut.
Apa artinya semua ini bagi kita? Bagaimana hal-hal ini dapat menjadi bagian dari hidup kita?
Yang pertama, kita mendapatkan harapan. Orang-orang lain bisa saja menunjuk kepada kenyataan hidup manusia yang bobrok dan nampaknya tidak bisa diperbaiki lagi, tetapi dalam Tuhan senantiasa ada harapan. Ketika Tuhan Yesus telah menjadi manusia, Ia telah siap menanggung dosa yang paling buruk dalam kehidupan manusia. Tak ada orang yang terlalu bobrok atau jahat yang tidak dapat menerima keselamatan dari Kristus. Di sisi lain, juga tidak ada orang jahat yang dapat mengelak dari Tuhan, ketika Ia berkenan untuk menyadarkannya. Tak ada yang tidak takluk kepada Kristus, ketika Ia menyatakan diri-Nya.
Yang kedua, kehidupan manusia menjadi amat berharga. Ketika Allah sedemikian tinggi menghargainya, sampai memberikan Anak-Nya yang tunggal, kita pun sepatutnya menghargai dengan sepenuh hati. Mungkin, kehidupan tidak berjalan seperti yang kita inginkan, tidak mulus dan tidak bebas hambatan.
Sebaliknya, kehidupan bisa nampak membingungkan, menakutkan. Dan mungkin pula, kita menemukan orang-orang yang merendahkan arti kehidupan, mereka menyia-nyiakan hidup mereka. Semua ini tidak menghilangkan kenyataan bahwa Allah menghargai kehidupan, di mana kita juga harus menghargai, baik hidup kita maupun hidup orang lain.
Yang ketiga, apa yang kita terima dari Allah jauh lebih besar dan mulia daripada apa yang ditawarkan dunia. Selama ini orang berharap pada dunia, tetapi dunia ini - sekali lagi - datang dan pergi begitu saja, berlalu seperti angin yang tidak kelihatan bayangannya. Dunia memang seperti itu, tetapi dalam Tuhan kita mendapatkan hal-hal yang lebih baik, yang kekal.
Sebagaimana Tuhan telah menghargai kehidupan ini, Dia juga memberikan hal-hal yang baik dalam hidup, hal-hal yang tidak akan hilang ditelan waktu, tidak akan rusak oleh karat, dan tidak akan lenyap dicuri. Kepada Yesus Kristus, Allah telah memberi kemuliaan dan hormat, yang juga menjadi bagian milik setiap orang yang berada di dalam Kristus.
Yang keempat, segala sesuatu telah Allah taklukkan di bawah kaki Kristus, termasuk keberadaan diri kita. Saat ini memang belum kelihatan semua hal takluk di bawah Dia, tetapi kita telah melihat awalnya, yaitu saat maut takluk kepada-Nya dan tidak lagi berkuasa. Kita juga dapat menyerahkan nafsu-nafsu kita, karena diri kita pun takluk kepada Kristus. Tidak ada lagi kuasa nafsu yang melebihi Tuhan yang berkuasa. Urusan memenuhi nafsu bukan lagi hal yang berharga, apalagi perlu dibela dengan taruhan nyawa. Dalam takluk kepada Kristus, segala hal yang paling berharga berada di dalam Kristus. Yang terutama adalah mentaati-Nya, menuruti segala kehendak-Nya, berada di dalam Dia.
Yang kelima, sampai di sini mungkin kita berpikir bahwa semua ini hanyalah filosofi, pendapat, opini, atau apa saja yang tidak perlu terlalu serius dipikirkan, tidak harus sungguh-sungguh ditanggapi. Pada kita ada pilihan untuk menerima atau menolak, dan kita dibebaskan memilih. Di samping itu, Tuhan juga belum melakukan semua rencana-Nya, karena nyata bahwa saat ini masih banyak (atau malah semakin banyak?) hal-hal yang menolak Allah. Orang yang senang mengumbar nafsu masih dapat seenaknya berlalu lalang. Tidak ada sesuatu yang terjadi, tidak ada api yang turun dari langit dan menghanguskan.
Pertimbangkanlah baik-baik apa yang ada, yang dapat kita pelajari. Tentu kita tidak menghendaki kesia-siaan, bukan? Ini bukan sesuatu dalam pikiran belaka, melainkan menjadi bagian dari apa yang kita pilih dan putuskan setiap hari, menentukan bagaimana kita mau menjalani kehidupan. Kalau hanya pikiran atau perkataan, bisa saja kita merenung hal-hal yang baik dan mengatakan hal-hal yang benar, tetapi perilaku kita sama sekali tidak menunjukkannya. Kita bertindak sepertinya di dunia ini tidak ada harapan lagi, membuat hidup kita tidak berarti dan tiada berharga. Kita mengatakan Tuhan mengasihi, tetapi kita tertekan oleh perasaan putus asa. Dalam renungan kita bersyukur, tetapi dalam realitanya kita berharap bisa menjadi malaikat yang tidak pernah susah. Dan kita mengatakan mau memerangi nafsu, tetapi nyatanya kita menghamba kepada nafsu yang menguasai.
Apa yang kita terima adalah bagian dari pilihan, yang dinyatakan oleh kehidupan kita. Tuhan sudah memberikan diri-Nya bagi kita, apakah yang akan kita lakukan untuk menerima-Nya? Maukah kita menaklukkan diri di bawah kaki Kristus?
Terpujilah TUHAN!
Selasa, 06 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar