Kamis, 28 Januari 2010

Yes 6:7-8 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Ratusan tahun setelah Israel dan Yehuda terpisah, kedua kerajaan ini tidak berdamai juga. Pada waktu itu hiduplah raja Uzia yang perkasa, yang mau mencari TUHAN dengan sungguh-sungguh. Hanya saja, ketika kesuksesan sudah diraihnya ia menjadi tinggi hati, merasa bisa melakukan apa saja. Uzia memaksa masuk ke Bait Allah, melangkahi para imam keturunan Harun. Maka TUHAN mendatangkan kusta kepadanya – demikianlah ia direndahkan sampai akhir masa hidupnya. Kejadian mewarnai proses yang sepertinya berulang-ulang terjadi di antara raja-raja Yehuda: awalnya bersungguh-sungguh, tetapi kemudian mereka melawan Tuhan.

Dalam keadaan inilah, di akhir masa hidup Uzia, tampil nabi Yesaya. Bangsa itu telah menjadi bangsa yang seperti berdiri di tepi jurang, di mana kesetiaan kepada TUHAN, Allah semesta alam, menjadi salah satu pilihan di antara penyembahan kepada banyak allah dan dewa dewi lain. Bahkan nabi-nabinya pun terpengaruh; melihat keadaan seperti begitu, siapakah yang dapat merasa diri benar di hadapan TUHAN? Bayangkan apa yang dirasakan oleh Yesaya. Seumur hidupnya ia telah mengetahui apa dan bagaimana tuntutan bagi umat TUHAN. Tetapi ia juga sudah melihat bagaimana dirinya berkompromi dengan kehidupan yang rusak, hanya sekedar bisa hidup sedikit lebih enak.

Kesadaran itu menggoncangkan akal dan pikiran Yesaya, ketika ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah kemuliaan TUHAN. Adakah kita juga tergoncang jika berada di tengah-tengah kemuliaan TUHAN? Betapa kita sendiri telah berkompromi dengan dunia! Bukankah anak-anak Tuhan jaman sekarang berlaku seperti bani Yehuda, yang menyembah TUHAN sekaligus membiarkan kesesatan dan penyembahan berhala kekayaan dan kesuksesan merajalela? Berapa banyak orang yang di bibirnya memuliakan TUHAN, tetapi dalam pilihan dan tindakannya, satu-satunya yang diutamakan adalah keberhasilan dan kemakmuran? Bibir ini najis, kata Yesaya, demikian juga ia tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibirnya!

Maka, ketika bara itu menyentuhnya, Yesaya tidak beranjak. Kengerian saat bara api menyentuh bibir tidak seberapa dibandingkan dengan anugerah pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan di hadapan Tuhan! Yang ada adalah penyerahan diri, dan di saat panggilan untuk menjadi utusan itu datang, Yesaya tidak ragu untuk menunjuk dirinya: "Ini aku, utuslah aku!" Apakah kita mempunyai resolusi yang sama, ketika menyadari bahwa darah Kristus telah menyucikan kita dari segala kejahatan dan memberi keampunan bagi setiap dosa? Kita diutus untuk membawa pesan penting; suatu ketetapan Ilahi tentang Yerusalem dan Yehuda. Suatu peringatan bagi umat Tuhan, untuk tidak berkompromi dengan dunia, dan tidak berpaling dari kemuliaan TUHAN mencari kemuliaan diri sendiri belaka.

Soli Deo Gloria! Terpujilah TUHAN!

Minggu, 24 Januari 2010

Angin Badai

2 Raj 2:11-12 Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan.

Elisa adalah seorang yang kuat dan perkasa. Bayangkan, ketika pertama kali Elia melihatnya, Elisa sedang membajak dengan dua belas pasang lembu – itu berarti 24 ekor lembu yang dipasang bersisian, diikat dengan kuk dan tali, serta kayu untuk membajak. Kalau bukan seorang petani yang sangat kuat, bagaimana mungkin melakukan hal semacam itu? Tetapi, Elisa juga adalah seorang yang taat dan setia, saat ia mendapati nabi Allah menjumpainya maka Elisa segera meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan ayah dan ibunya, kemudian melayani Elia dengan baik. Demikianlah hubungan antara Elia dan Elisa terbina selama beberapa tahun.

Pernahkah kita melayani seorang hamba Tuhan yang besar, sehingga kita juga turut memahami visi dan tujuan-tujuan Allah di atas dunia? Dalam satu aspek, mungkin kita juga adalah seorang yang kuat dan perkasa. Barangkali kita memiliki kepandaian dan pengetahuan yang luas dan mendalam. Barangkali kita punya koneksi dan relasi yang berpengaruh, serta memiliki kepemimpinan yang luas bagi banyak orang. Itu adalah peranan Elisa sebelumnya – yang kemudian ia tinggalkan saat menemui nabi TUHAN. Tidak jarang, sekarang ini juga ada orang-orang sukses yang meninggalkan karyanya, agar bisa melayani TUHAN dengan mengikuti seorang hamba Tuhan.

Hubungan itu berjalan baik, tetapi pada akhirnya kita mengerti bahwa yang terpenting bukanlah diri hamba Tuhan itu. Bukan diri nabi Allah. Bagi Elisa, bukan diri Elia. Yang terpenting adalah Dia yang dilayani oleh Elia, oleh nabi Allah, atau oleh hamba Tuhan. Untuk itu, yang terutama adalah mendapatkan bagian dari apa yang semula dimiliki Elia, bahkan Elisa mengharapkan dua kali lipat Roh TUHAN yang ada pada Elia. Adakah kita juga mengharapkan Roh TUHAN dua kali lipat menguatkan kita, bekerja di dalam kita? Elisa tahu bahwa ia harus menghadapi situasi yang sulit, dua kali lebih berat daripada Elia. Itu telah menjadi nubuat yang diberikan kepada Elia, bahwa Elisa harus menyandang pedang dan melawan kekafiran bangsanya!

Itulah saat yang dahsyat dalam diri Elisa, ketika ia melihat bagaimana angin badai mengangkat Elia. Api dan angin badai adalah perwujudan dari TUHAN sendiri. Dia kehilangan Elia sebagai bapanya. Bangsa Israel kehilangan Elia sebagai kereta Israel dan orang yang berkuda. Tetapi hari itu Elisa mendapatkan apa yang dimintanya, dan kehidupan Elisa pun sejak saat itu berubah total. Kehidupan baru yang dimulai dengan dukacita, sampai Elisa merobek pakaiannya sendiri, sekaligus mengalami betapa kuasa Roh TUHAN berkuasa dua kali lipat dalam dirinya. Hal ini terulang kembali dari jaman ke jaman, ketika seorang pelayan nabi menjadi Nabi itu sendiri, saat seorang pelayan pendeta menjadi Pendeta yang bekerja dua kali lebih besar daripada yang semula dilayaninya.

Kita kehilangan, sekaligus mendapatkan apa yang lebih besar daripada ia yang pergi. Terpujilah TUHAN!

Jumat, 22 Januari 2010

Putus Asa

1 Raj 19:4,13 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." … Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Seumur hidupnya Elia melayani TUHAN. Dia ini orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, yang muncul di puncak kekafiran bangsa Israel ketika Ahab menjadi raja. Kalau diperhatikan, dimulai dari Yerobeam yang meninggalkan Tuhan, kemudian Baesa dan Ela anaknya yang sama jahat. Hukuman Tuhan jatuh kepada Baesa melalui Zimri – dia ini panglima atas setengah pasukan kereta, yang juga jahat. Rakyat mengangkat Omri, seorang panglima tentara yang membinasakan Zimri, tetapi Omri lebih jahat lagi. Dialah yang membeli Semer dan membangun kota Samaria sebagai pusat penyembahan berhala bagi Israel. Ahab adalah anak Omri, yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih daripada semua orang yang mendahuluinya.

Bayangkan, betapa sukarnya kehidupan kafir bagi orang-orang yang masih setia kepada TUHAN. Mereka bersembunyi, ketakutan oleh kekuasaan jahat yang mencengkram bangsa itu. Dalam keadaan begitulah Elia lahir dan dibesarkan, tetapi ia tetap melayani TUHAN dan membawa pesan yang keras: tidak akan ada hujan yang turun di atas Israel. Biasanya, Tuhan memakai tangan-tangan manusia untuk menjatuhkan hukuman kepada raja atau orang yang jahat di mata-Nya. Tetapi kini, oleh besarnya kejahatan bangsa itu, TUHAN memakai alam yang membawa kesengsaraan kepada setiap orang. Namun, bangsa itu masih saja belum bertobat.

Elia bersembunyi dari Ahab yang dengan panik mencarinya – menyalahkannya atas bencana kekeringan itu. Tetapi akhirnya ia muncul, membuktikan penyertaan TUHAN dengan menantang nabi-nabi baal untuk mempersembahkan korban, serta menunjukkan kepada rakyat itu siapa yang harus disembah. Seharusnya ada perubahan, namun nyatanya Elia kembali ke situasi yang sama seperti sebelumnya: ketakutan oleh kekuasaan jahat yang mencengkeram bangsa. Semua yang dahsyat itu, hasilnya nihil! Izebel masih berkuasa dan berbuat seenaknya – apa yang berubah? Maka, bagi Elia justru dirinya yang berubah, sampai ia masuk ke padang gurun.

Ada kalanya, kesusahan Elia juga menjadi pengalaman kita. Mulainya dari situasi yang tidak baik, situasi sulit. Dalam bagian kita melayani TUHAN, kita membuat ini dan itu serta mengusahakan perbaikan. Tidak jarang, ada kuasa TUHAN dan mujizat yang menyertai, sehingga menjadi bukti yang seharusnya menggerakkan orang. Nyatanya tidak: orang tetap ada di keadaan semula. Akibatnya, sebaliknya dari mengubah orang yang buruk, justru kita yang berubah menjadi putus asa. Kalau mujizat TUHAN sudah diabaikan, lantas apalagi yang bisa dilakukan seorang manusia? Disinilah kita menemukan pertanyaan TUHAN: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Apa kerja kita? Adakah kita sanggup untuk mengubah sesuatu? Bukankah kita hanyalah orang-orang yang dipakai oleh TUHAN, melakukan apa yang sudah ditetapkan-Nya, sudah dipersiapkan-Nya untuk kita lakukan? Ingatlah kata-kata Tuhan Yesus: kami hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya mengerjakan apa yang harus kami kerjakan.

Apa kerjamu? Terpujilah TUHAN!

Rabu, 20 Januari 2010

Hati Penuh Hikmat

1 Raja 3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian. Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.

Salomo tidak menjadi raja karena ia berjasa. Ia bukan seorang pahlawan, bukan pula seorang yang berjuang; sebenarnya, ia adalah anak yang lahir belakangan dan mengalami kehidupan yang lebih tenteram dibandingkan semua anak Daud lainnya yang mati dibunuh Absalom. Itu adalah peperangan hebat antara Daud dan anaknya sendiri, yang berakhir menyedihkan. Daud menjanjikan tahtanya kepada Batsyeba, ibu Salomo, karena ia telah mendengarkan Firman Tuhan yang menyatakan bahwa Salomo yang kelak akan membangun Rumah bagi Allah. Salomolah yang akan membangun Bait Allah, maka ia harus menjadi raja penerus Daud.

Pengaturan ini sendiri sebenarnya tidak lazim, karena menurut kebiasaan orang saat itu, yang lebih 'dekat' sebagai pewaris tahta adalah Adonia. Dialah anak tertua setelah Absalom mati – Absalom adalah anak Daud yang dengan kejam membantai hampir semua saudara-saudaranya sendiri, sebagai balas dendam atas penderitaan Tamar, adiknya. Jadi begitulah gambaran kacau balau dari anak-anak Daud, dan dari tengah-tengah kekacauan ini Salomo menjadi raja dengan terburu-buru karena Adonia sudah lebih dahulu menyatakan diri sebagai raja! Bisakah dibayangkan bagaimana Salomo dibesarkan?

Ketika Salomo sudah menjadi raja, TUHAN memberinya kesempatan untuk meminta sesuatu. Kesempatan istimewa! Apakah yang akan diminta oleh seorang manusia kepada Allah semesta alam? Salomo meminta hati penuh hikmat! Ia tidak meminta sesuatu untuk memuaskan dirinya, melainkan memohon kemampuan untuk memikul tanggung jawab sebagai penerus tahta Daud. Salomo menyadari keadaannya dan ia melihat bahwa dirinya bertanggung jawab atas masa depan Israel. Ia bersedia untuk bertanggung jawab – maka TUHAN pun berkenan untuk memberinya hati yang penuh hikmat dan pengertian. Tidak ada lagi raja yang seperti Salomo.

Permintaan itu sendiri telah mengubah Salomo dan memberinya kehidupan yang baru, karena ia kini memahami lebih baik dibandingkan orang lain. Hanya saja, ternyata hikmat itu tidak disertai iman yang cukup besar, tidak seperti Daud, sehingga Salomo lebih melihat kesia-siaan dalam hidup dan perlahan-lahan membuat hidupnya sendiri kacau dengan meninggalkan TUHAN. Bagaimanapun, Salomo menjadi raja yang berhasil mengelola kerajaannya, menjadi sangat kaya dan sangat berpengaruh. Itulah buah dari hati yang penuh hikmat, yang diterima sebagai bagian dari kesediaan untuk bertanggung jawab. Ingin sukses? TUHAN yang memberikannya bagi orang yang layak untuk menerima.

Bertanggung jawablah. Terpujilah TUHAN!

Minggu, 17 Januari 2010

Roh TUHAN

1 Sam 16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Daud terbiasa disebut anak kecil. Kisahnya mungkin menyerupai kisah Yusuf, kecuali bahwa Daud tidak disayang dengan cara yang luarbiasa oleh ayahnya. Sebaliknya, ia seperti terbuang dengan tugasnya menggembalakan domba di padang. Itu bukan pekerjaan yang mudah atau aman, karena di sana Daud harus berhadapan dengan singa dan binatang buas lain, juga menghadapi kekerasan sesama gembala, berebut air dan rumput, menahan dinginnya angin dan panasnya matahari – menjadi anak yang terlupakan. Bukankah ia tidak diingat-ingat ketika Samuel mendatangi Isai, ayahnya?

Tujuh anak yang gagah berlalu di hadapan Samuel, semuanya nampak gagah sebagai laskar Israel yang berperang melawan Filistin. Tak ada satupun yang dipilih TUHAN. Isai mengernyitkan dahi di depan Samuel, Hakim atas Israel yang dihormati, yang sekarang datang untuk mempersembahkan korban tapi tidak mau mulai sebelum anak yang bungsu itu datang. Hah, mengapa si bungsu itu perlu datang? Tidak cukupkah ketujuh anak laki-laki untuk mengikuti ritual persembahan? Dibutuhkan waktu beberapa saat untuk memanggil Daud, dan mereka harus menunggu dan menunggu… Ketika Daud hadir di rumahnya, Samuel bangkit dan mengurapinya. Ia mengambil tanduk minyak dan menuangkannya di atas kepala Daud.

Siapa yang menyangka? Isai tidak pernah mengira anak yang kemerah-merahan itu akan diperlakukan begini rupa. Orang tua itu sering bermimpi tentang anak sulungnya dan adik-adiknya sebagai pahlawan Israel, tapi tidak pernah disangka bahwa yang terpilih justru yang bungsu! Daud sendiri juga tidak menyangka – ia hanya menurut saja ketika Samuel mengurapinya di tengah saudara-saudara. Dan disitulah mulainya satu perubahan dahsyat dalam hidup Daud, sesuatu yang dalam seketika mengubahnya secara total dan radikal. Roh TUHAN berkuasa atas Daud sejak hari itu dan seterusnya – bahkan kini Samuel tidak lagi dibutuhkan, maka ia kembali ke Rama, ke rumahnya.

Siapa di antara kita yang merasa diri paling kecil? Yang tidak berarti, yang tidak diharapkan menjadi pahlawan, dan hanya kebagian tugas yang membosankan dan dianggap tidak penting walaupun berbahaya? Sepertinya tidak ada harapan untuk maju. Seolah-olah, kehidupan yang terlihat hanyalah berada di tempat ini, melakukan hal-hal yang biasa saja, menjadi biasa saja. Tetapi TUHAN berkuasa untuk hadir dalam kehidupan, dan mengubah semua gambaran dan rancangan manusia. Apa yang biasa menjadi luar biasa karena Roh TUHAN bersamanya! Bersyukurlah, karena kini bukan hanya Daud, tetapi seluruh anak Allah memperoleh Roh TUHAN atasnya sejak hari Pentakosta. Bukankah kita patut bergembira, karena kehidupan kita pun menjadi berbeda?

Roh TUHAN menguasai kita. Terpujilah TUHAN!

Sabtu, 16 Januari 2010

Penolakan

1 Sam 8:7-8 TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.

Kehidupan Samuel berisi pengalaman langsung dengan TUHAN, sejak pertama kali ia mendengar panggilan-Nya di malam hari. Seumur hidupnya Samuel menjadi hakim atas bangsa itu, yang sudah berulangkali mengalami penindasan dan pembebasan. Itulah Israel yang diatur oleh para Hakim, yang semuanya menjadi wakil dari TUHAN yang melindungi bangsa itu setiap kali keadaan menjadi terlalu berat untuk ditanggung mereka. Tetapi Hakim-Hakim tidak cukup bagi orang Israel. Mereka tidak ingin diperintah oleh Allah yang tidak ada singgasananya di muka bumi. Mereka ingin raja.

Penolakan ini membuat kehidupan Samuel berubah total, demikian juga dengan kehidupan bangsa Israel. Apakah mereka tahu apa yang akan terjadi? Apakah mereka mengerti bahwa ketika orang menduduki tempat yang seharusnya diisi Allah, maka kekacauan dan kesusahan akan mengikuti di belakangnya? Itulah yang ditanyakan oleh Samuel, tetapi bangsa itu menjawab bahwa mereka menerima! Mereka sudah memilih, walaupun mereka tidak paham konsekuensinya! Dan kalau direnungkan, orang-orang Israel waktu itu tidak sadar bahwa mereka sedang menggadaikan kehidupan keturunan mereka kelak demi memuaskan keinginan saat ini.

Penolakan terhadap apa yang benar saat ini tidak selalu menimbulkan akibat saat ini juga – sebaliknya, anak-anak dan cucu-cucu dan cicit-cicit bangsa itulah yang harus menerima kesusahan. Orang seringkali menginginkan perubahan sekarang, termasuk menolak otoritas TUHAN dalam hidup, dan hal itu memuaskan mereka tanpa menyadari bahwa nanti anak-anak mereka akan menderita. Itulah yang dilakukan bangsa Israel sejak mereka keluar dari Mesir. Itu jugalah yang dilakukan bangsa itu terhadap Hakim mereka yang sudah tua. Rasanya hal ini bukan sesuatu yang asing…bukankah sekarang pun orang menolak Tuhan, menolak juga para hamba Tuhan?

Berapa banyak dari kita yang lebih suka memiliki 'kekuasaan' seperti yang dimiliki orang di dunia ini? Kita mau ada 'raja' dengan uang lebih banyak dan pengaruh lebih besar. Kita mendedikasikan diri bagi perusahaan dan bisnis, melebihi dedikasi untuk TUHAN. Dalam berusaha, strategi bisnis demi kemenangan lebih penting ketimbang prinsip-prinsip dari Alkitab. Bisnis dapat menjadi penguasa baru dalam hidup, tetapi kita mau mempunyai 'raja' seperti orang dunia lainnya. Tahu-tahu, orang yang saat mahasiswa jadi aktivis gereja, kini setelah kerja tidak lagi kebaktian Minggu. Yang tadinya halus dan sopan, kini menjadi kasar dan serakah – diajari untuk berbuat begitu. Tiba-tiba, ia seperti jadi orang lain, hidupnya berubah total. Tanpa TUHAN, perubahan itu menyedihkan, karena menggantikan apa yang penting di hari esok dengan apa yang memabukkan di masa sekarang. Belajarlah dari bangsa Israel, dan perhatikan bagaimana akhirnya!

Jangan menolak TUHAN. Terpujilah TUHAN!

Jumat, 15 Januari 2010

Perjumpaan

Hak 6:14-15 Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!" Tetapi jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku."

Ada saatnya menjadi orang yang percaya adalah hal yang sukar, mendekati mustahil. Sekalipun TUHAN telah membuktikan penyertaan-Nya, manusia menjadi sangat bodoh dan lemah di dalam kesulitan. Bodohnya, semakin besar kesulitan, orang pun semakin menjauh dari Allah. Sepertinya sudah menjadi tabiat manusia untuk percaya pada apapun yang dipercaya oleh sang pemenang. Apalagi jika para pemenang itu sedemikian dahsyatnya, sehingga orang Israel begitu ketakutan dan membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu. Itulah kengerian yang dibawa oleh orang-orang Midian.

Bagaimana mengalahkan orang Midian? Mungkin yang dibayangkan oleh orang Ibrani adalah persenjataan yang lebih hebat. Pengalaman dan kebijaksanaan yang lebih cerdas. Bukankah dari jaman dahulu sampai sekarang masih sama saja? Orang yang mau menang harus mengumpulkan kekuatan terlebih dahulu. Kumpulkan uang, pengaruh, kekuasaan, pengetahuan, dan segala hal yang memungkinkan orang mendapatkan kemenangan, termasuk mempunyai dewa yang hebat dan memberi kemenangan. Bagi Gideon yang paling muda di keluarganya, yaitu keluarga yang paling kecil di suku Manasye, ia tidak punya apa-apa.

Ketika perjumpaan itu terjadi dan pernyataan TUHAN diberikan, reaksi Gideon adalah kekerdilan dirinya. Dia muda! Keluarganya kecil! Sukunya tidak berarti! Memiliki penyertaan Allah tidak cukup; ia mengharapkan hal-hal lain yang lebih nyata. Bukankah kita sekarang pun mengalami hal serupa? Penyertaan Tuhan tidak memadai, orang lebih mengandalkan uang dan kepandaian (baca: titel) serta koneksi untuk mendatangkan keberhasilan. Orang yang merasa dirinya kecil mencari-cari 'nasehat' dari berbagai motivator yang heboh di hotel-hotel mewah, sedangkan keyakinannya kepada TUHAN hanya sebatas untuk ritual dan saat kelak meninggalkan dunia saja.

Maka, Gideon meminta tanda untuk meneguhkan keyakinannya. Pertama-tama ia minta tanda bahwa dirinya memang berarti, persembahannya memang diterima. Apakah kita ragu, apakah persembahan kita juga diterima oleh Tuhan? Itu adalah keraguan yang tidak berguna! Di saat TUHAN mengutus anak-anak-Nya, Dia tidak main-main dengan janji-Nya untuk menyertai. Kalau Gideon ragu, Tuhan bersedia memberi tanda. Akan lebih baik lagi jika kita percaya, tanpa harus mendapatkan segala macam tanda! Maka hidup Gideon setelah perjumpaan itu pun berubah: ia menghancurkan berhala-berhala, ia memimpin, dan ia membebaskan bangsanya dari orang Midian.

Temuilah Allah. Terpujilah TUHAN!

Rabu, 13 Januari 2010

Kuatkan Dan Teguhkanlah Hatimu

Ul 31:23 Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."

Ketika ia lahir, bangsanya adalah budak-budak yang ditindas dalam sebuah negara adikuasa, Mesir. Satu-satunya pengharapan yang menghibur bangsa itu adalah ingatan tentang Allah leluhur mereka, Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub – mereka yang telah menerima Perjanjian dengan kuasa Ilahi. Tetapi, semua itu terjadi beratus tahun lalu sedangkan realita kehidupannya adalah penindasan dan penganiayaan yang tidak tertahankan. Semua itu begitu berat, sampai tibalah Musa, orang Ibrani yang dikenal sebagai pangeran Mesir yang terbuang itu, dan melalui serangkaian peristiwa hebat membawa bangsa Israel keluar dari negeri yang besar itu.

TUHAN, memang dahsyat, tetapi berada bersama-Nya juga tidak mudah. Sejak Yosua menjadi bagian dari 10 pengintai ke negeri Kanaan, ia sudah mempunyai gambaran yang elok tentang kehidupan yang sejahtera di tanah Kanaan. Sayang, tidak semua pengintai setuju dengannya, malah hanya Kaleb yang setuju! Setelah itu mereka berbalik, berputar-putar selama 40 tahun di tengah gurun dan padang tandus. Perlahan-lahan, semua yang dikenalnya sejak keluar dari Mesir, mati satu per satu. Itu pengalaman yang tidak mudah, sekalipun bagi seorang yang percaya. Allah itu hebat, dahsyat, tapi juga mematikan.

Dan kini, Yosua tidak muda lagi. Musa yang dilayaninya pun sudah menjadi amat tua. Nampaknya ia tidak sanggup lagi membawa bangsa itu berbaris masuk ke Tanah Perjanjian – inilah saat ketika Yosua menerima firman itu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu! Bayangkan kesulitannya! Ingatlah kengeriannya! Ini bukan tugas yang mudah diterima oleh seorang manusia, kecuali ia menguatkan dan meneguhkan hati. Di seluruh pernyataan yang berkaitan dengan tugas bagi Yosua, kata-kata ini selalu diungkapkan. Yosua bahkan diperintahkan untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya.

Ada tiga hal yang bisa kita pelajari. Yang pertama, bagi Yosua tugas ini tidak mudah dan TUHAN tahu ia merasa gentar, merasa lemah dan rapuh. Itulah sebabnya Firman TUHAN memerintahkan untuk menguatkan dan meneguhkan hati. Yang kedua, tugas ini mengubah kehidupan Yosua secara drastis – dari seorang pelayan menjadi pemimpin yang membawa bangsa yang besar, melalui saat-saat yang menggetarkan hati yang lemah. Yang ketiga, satu-satunya cara untuk menjadi kuat dan teguh hati adalah dengan sepenuhnya mempercayai Allah, bahwa Dia menyertai di setiap langkah. Bagi setiap orang yang mengalami perubahan, yang menerima tugas yang berat menakutkan, ketiga hal ini juga menjadi penghiburan. Tuhan tahu kita lemah. Tuhan tahu perubahan ini menakutkan. Dan Tuhan tahu, harapan kita hanya bergantung pada kenyataan bahwa Tuhan menyertai.

Imanuel! Terpujilah TUHAN!

Senin, 11 Januari 2010

Penyertaan TUHAN

Kel 3:12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini."

Sebelum ini, Musa adalah orang yang menyedihkan. Bayangkan, ia memulai masa kecilnya dengan luar biasa, dari anak ibrani yang harusnya dibuang, justru dibesarkan di istana Firaun. Di sana ia mendapatkan pelajaran terbaik, latihan terbaik, ilmu terbaik – sebab itu sendirian saja ia bisa membunuh orang mesir, juga mengusir gembala-gembala di tanah Midian yang mengganggu gadis-gadis itu. Tetapi kasus pembunuhan terhadap orang Mesir adalah hal yang serius, maka Musa meninggalkan 40 tahun masa hidupnya sebagai pangeran Mesir dan melewati 40 tahun berikutnya sebagai gembala Midian.

Kadang-kadang, kehidupan kita juga begitu. Mulainya baik sekali, namun tiba-tiba kita terpuruk dan harus melalui suatu masa yang keras, sukar, dan sangat berat. Apa yang sudah diusahakan dan dicapai dalam puluhan tahun, tiba-tiba lenyap. Maka kita terpaksa pindah ke tempat lain, mengambil pekerjaan kasar dan jauh dari kenikmatan semula. Menjadi gembala kira-kira setara dengan menjadi buruh kasar di jaman modern, sebagai pekerja di tingkat paling bawah yang kerjanya paling berat dan gajinya paling minim. Sesuatu yang dikerjakan hanya karena tidak ada lagi yang dapat dikerjakan oleh seorang asing ditengah-tengah suku peternak – sekalipun orang asing itu adalah bekas pangeran di Mesir!

Perhatikanlah: selama 80 tahun, Musa tidak tahu bahwa ia disertai TUHAN. Sejak hidupnya di istana Firaun, ia menganggap kehidupan adalah urusannya sendiri; ia tahu dewa-dewa mesir dan juga tahu sesembahan bangsa lain, namun ia tidak memiliki pengenalan akan TUHAN sebelum pertemuannya di hari yang bersejarah ini. Tetapi TUHAN mengenalnya, bahkan menyertainya, sampai tiba waktu bagi TUHAN untuk mengutus Musa. Di saat itulah Musa tahu, Allah menyertainya – bersamanya dalam segala kekejaman pembunuhan, dalam kepahlawanan mengusir gembala-gembala pengganggu, dan dalam hidupnya di usia tua, yang membawanya dalam semak yang menyala tapi tidak terbakar.

Penyertaan Allah diikuti oleh pengutusan, demikianlah Musa diutus untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Tanda penyertaan Allah bukan kedahsyatan tulah di Mesir. Bukan kehebatan luarbiasa ketika laut Merah terbelah dua. Tanda penyertaan Allah adalah saat Musa telah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan beribadah di gunung Horeb. Di kala segenap bangsa Israel berlutut menyembah Allah, itulah tanda yang jelas bahwa Musa adalah utusan-Nya. Sebelum hari perjumpaan dengan TUHAN, Musa tidak melihat apa-apa. Setelah hari itu, hidup Musa tidak pernah sama lagi. Itulah yang diberikan oleh penyertaan TUHAN!

Pegang tangan-Nya! Terpujilah TUHAN!

Kamis, 07 Januari 2010

Kuasa

Kej 41:39-40 Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu."

Bagi seorang manusia, pencarian kekuasaan seringkali menjadi tujuan utama. Ada orang yang meniti karir dan pengaruhnya sejak muda, sehingga ia menjadi semakin besar dan semakin berkuasa. Semakin tinggi kedudukannya, semakin keras pula upaya untuk menjaga kelangsungan kekuasaan yang dimilikinya. Atau seandainya kekuasaan itu tidak bisa dipegang seterusnya, tidak jarang orang berusaha mengambil keuntungan dari apa saja yang bisa diusahakan – selagi masih ada kekuasaan. Tetapi bagi orang lain, kehidupannya adalah bau busuk penjara, di tempat di mana manusia dikerangkeng seperti binatang, bahkan juga diperlakukan sebagai binatang. Jangankan berkuasa; bisa bertahan hidup satu hari lagi saja sudah bagus.

Begitulah hari-harinya Yusuf, selama bertahun-tahun ada di penjara tanpa diadili, ada di kurungan bawah sebagai mahluk yang tidak berarti dan tidak diinginkan. Yusuf sudah membantu, dia menolong sesama tahanan mengartikan mimpinya – dan apa balasannya? Yusuf terlupakan sampai 2 tahun lamanya, padahal ia sudah membuat hal yang luarbiasa yaitu dengan tepat menafsirkan mimpi. Baru setelah Firaun bermimpi dan tidak ada seorangpun yang mampu menafsirkan, nama Yusuf diingat. Hanya setelah urusan mimpi menjadi krisis nasional, terbukalah peluang bagi tahanan yang akrab dengan bau penjara – dan dalam waktu yang tidak lama, Yusuf menerima kuasa.

Apakah Yusuf yang hebat? Bukan, tetapi Firaun melihat dengan jelas bahwa orang yang bernama Yusuf ini memiliki Allah yang berkuasa, yang memberikan akal budi dan kebijaksanaan melebihi semua orang lain. Sebagai manusia, Yusuf tidak meniti karir dan pengaruh – menjadi orang tahanan berarti menjadi orang yang terlupakan. Siapa yang mau mengingat nama seorang tahanan? Ini juga menjadi pengalaman banyak orang di jaman sekarang – dunia yang sibuk, yang diskriminatif, dan yang dengan mudah melupakan nama. Siapa yang mau mengingat nama kita, nama saya atau nama Anda? Tetapi, kuasa datang bukan dari nama kita, melainkan dari penyertaan Allah.

Ketika penyertaan Allah menjadi nyata di hadapan orang, maka tidak ada yang dapat meremehkan kuasa itu. Ketika orang melihat kuasa Tuhan bekerja dalam diri seseorang, maka orang itu menjadi penting. Ada yang berupaya keras membangun kekuasaannya – tapi begitu diperhadapkan dengan kuasa Tuhan, apapun yang dibuat manusia menjadi tidak berarti. Terlalu kecil untuk diperbandingkan, sekalipun oleh seorang Firaun yang disembah bagaikan dewa oleh rakyatnya. Demikianlah kita belajar, bahwa kuasa Tuhan juga memberikan kehidupan baru kepada Yusuf, kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Renungkanlah: sekalipun hidup kita sekarang dilupakan orang, tetapi di dalam Tuhan apapun dapat menjadi kenyataan. Kuasa Tuhan begitu besar, bersama Dia tidak ada yang mustahil!

Terpujilah TUHAN!

Selasa, 05 Januari 2010

Ganti Nama

Kej 32:27-28 Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang."

Kehidupan Yakub adalah hidup dalam pergumulan. Sejak Ishak membawa keluarganya pindah ke tanah Kanaan, mereka harus berjuang keras, sampai-sampai Esau menjual hak kesulungannya demi semangkuk bubur merah. Ketika akhirnya Yakub yang menerima berkat dari Ishak, ia melarikan diri dari hadapan Esau ke rumah Laban, orang Aram saudara ibunya. Di sana 20 tahun ia bekerja – dimanipulasi – demi cintanya kepada Rahel, walau ia juga mendapatkan Lea dan hamba-hambanya. Yakub memang diberkati, tetapi ia dikepung oleh iri hati dan keserakahan anak-anak Laban, sampai ia melarikan diri membawa segala miliknya kembali ke Kanaan, ke rumahnya dahulu… Ironis, bukan? Dahulu ia pergi karena melarikan diri. Sekarang ia pulang juga karena melarikan diri.

Segala hal yang dialami Yakub belum seberapa dibandingkan dengan apa yang dihadapinya. Ia sekarang harus menghadapi Esau. Yakub sudah mengirimkan upeti pendahuluan – untuk membujuk Esau. Malam itu, ternyata Yakub menemui apa yang lebih besar daripada Esau, ketika seseorang berkelahi, bergulat dengannya sepanjang malam sampai fajar menyingsing. Ini adalah pergulatan yang hebat, karena ternyata Yakub tidak mau kalah. Akhirnya orang itu pun mau pergi, tetapi Yakub tidak mau melepaskannya kecuali orang itu memberkatinya terlebih dahulu. Dimulai dari saat itulah, Yakub diberi nama Israel – bergumul dengan Allah dan manusia, dan menang. Bukan 'menang' seperti dalam perlombaan, melainkan tetap bertahan, tidak menyerah.

Sejak itu, kehidupan Yakub berubah. Ia takut pada Esau, tetapi kakaknya ini justru berlari menghampirinya, menyambut dengan kasih sayang. Segala hal berjalan dengan baik, segala karunia menjadi nyata – kepada Esau, Yakub mengakui bahwa segala kesejahteraannya berasal dari Allah yang tidak pernah berhenti memelihara kehidupannya. Ia berjalan terpincang-pincang, tetapi hatinya yang semula pincang kini menjadi tegar. Jika kita harus menghadapi pergumulan – lihatlah Yakub yang bertahan, yang menang setelah melalui 20 tahun pergumulan dan penderitaan. Siapa yang tahan bergumul selama itu?

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Kehidupan kita juga tidak luput dari pergumulan, dari masalah dan pihak-pihak yang memanipulasi, mengambil keuntungan seperti Laban. Semakin besar kita mendapat karunia dari Tuhan, semakin besar pula hasrat orang untuk memanfaatkan! Apakah kita bertahan untuk menjalani kehidupan yang keras dan penuh kerikil ini? Di ujungnya, ada pergulatan yang hebat menghadapi Allah – dan mungkin kita tidak melaluinya dengan utuh. Kadang kala, rasanya seperti melawan Tuhan, yang sepertinya bertindak tidak adil terhadap kita. Apakah kita bertahan hingga fajar menyingsing? Saat itu, kita justru tidak mau melepaskan Allah. Kita mau diberkati-Nya, dan Dia pun memberi nama baru bagi kita.

Pemberian nama berarti menyatakan kepemilikan. Nama baru menunjukkan hubungan baru, sesuatu yang khusus dan istimewa. Dan nama baru juga menunjukkan sebuah kehidupan baru. Yakub tidak lagi hanya seorang manusia. Ia telah menjadi Israel, menggenapi janji Allah kepada Abraham dan Ishak. Nama baru ini juga diberikan kepada kita, kalau kita terus bertahan sampai akhir, ketika Tuhan Yesus menggenapi waktu Allah dan datang untuk yang kedua kalinya. Saat itu Dia memanggil kita dengan nama yang baru.

Terimalah! Terpujilah TUHAN!

Senin, 04 Januari 2010

Mau

Kej 24:58 Lalu mereka memanggil Ribka dan berkata kepadanya: "Maukah engkau pergi beserta orang ini?" Jawabnya: "Mau."

Dari jaman dahulu, menjadi anak gadis perawan yang sangat cantik parasnya, bukan hal yang sederhana atau mudah. Kalau cantik, banyak laki-laki muda yang melihat dan mengharapkannya. Kalau laki-laki itu kasar dan semena-mena, mungkin ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dikehendakinya, yang berarti celaka bagi gadis itu. Berapa banyak anak gadis jaman sekarang yang dirusak oleh laki-laki yang memaksakan kehendaknya, di dorong oleh nafsunya? Kehidupan seperti apa yang dimiliki oleh para gadis yang cantik rupawan, yang dilirik dan diinginkan? Tetapi Ribka dahulu berjalan, mengisi buyung airnya, dan hendak naik kembali. Hamba Abraham, yang baru saja berdoa meminta petunjuk, berlari untuk meminta air.

Kalau gadis lain, didatangi dengan cara demikian mungkin akan marah. Siapa dia, orang asing yang meminta air? Namun Ribka memberikannya, bahkan memberi minum juga unta-unta itu, sesuai tanda yang diminta hamba Abraham kepada Allah. Dia menjadi seorang gadis yang tidak perlu melindungi dirinya secara berlebihan – betapapun pasti sudah punya pengalaman dengan laki-laki yang memandangnya dengan kagum, terpesona oleh kecantikan Ribka. Pertemuan dengan hamba adalah suatu peristiwa penting. Itu adalah tanda yang diberikan TUHAN, sebagai hal yang istimewa yang dipersiapkan-Nya. Mungkinkah saat itu Ribka juga mengetahui, bahwa pengalamannya hari itu menandai perubahan dalam kehidupannya? Belajarlah dari Ribka – baginya, satu-satunya kepastian hanya ada pada keyakinan, karena dalam cerita lain bisa saja si hamba itu adalah penyamun yang menyamar!

Ribka memilih untuk pergi bersama orang itu. Setelah semua penuturan tentang Abraham dan sumpah yang dibuat hamba Abraham, setelah penjelasan mengenai tanda yang diminta – Ribka percaya bahwa inilah jalan yang harus ditempuhnya. Bagi si hamba itu, keberadaan Ribka hanyalah tanda betapa TUHAN menyertai Abraham, tuannya. Tetapi bagi Ribka, tanda itu diberikan bagi dirinya, untuk memasuki suatu kehidupan baru yang belum dikenalnya. Ini adalah suatu penegasan – walaupun kalau diperhatikan, sebenarnya diri Ribka sendirilah yang menjadi tanda! Berikutnya adalah emas yang diterimanya. Ribka tidak tahu ketika ia memberi minum, tetapi emas yang menjadi gelangnya adalah tanda lain.

Apakah kita mau mengikuti tanda yang diberikan oleh TUHAN? Kebanyakan orang lebih dahulu memikirkan resikonya – justru disinilah iman berperan. Ketika kita melihat berbagai hal terangkai di depan kita dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh, apakah kita lebih memusingkan soal perubahan dan ketidakpastian di masa depan? Memang ada kemungkinan, semua yang terlihat adalah manipulasi dan rekayasa yang berujung pada kerugian dan celaka. Namun kita lebih mempercayai bahwa TUHAN melindungi kita dan membuka jalan di depan. Melangkah bersama-Nya adalah kepastian keamanan yang lebih baik dibandingkan pengetahuan tentang masa depan itu sendiri. Jadi, maukah kita pergi bersama Dia?

Mau? Terpujilah TUHAN!

Minggu, 03 Januari 2010

Pergi

Kej 12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Kehidupan Abram merupakan perjalanan, yang dimulai di Ur, sebuah tempat di Kasdim atau disebut juga Chaldea. Tempat itu dikenal sebagai tempatnya orang Kasdim yang menjadi kerajaan Babilonia kuno. Tempat itu disebut Ur sesuai dengan keyakinan orang yang tinggal di sana, yaitu para penyembah api dan bintang – demikianlah Ur berarti dalam bahasa kuno berarti api. Terah, ayah Abram, nampaknya bukan orang yang turut menyembah api, sehingga ia membawa keluarganya pindah, sampai akhirnya menetap di Haran. Perjalanan Abram sudah dimulai sejak kecil ketika Terah mengajarkannya tentang nenek moyang mereka yang bergaul dengan Allah – dan berlanjut terus hingga Abram juga bergaul degan Allah.

Tetapi perjalanan Abram sendiri baru terjadi ketika ia sudah berusia tujuhpuluh lima tahun. Ini bukan hal yang mudah bagi orang setua itu, untuk memulai sesuatu yang baru. Abram memang masih kuat – orang jaman dahulu tetap bertubuh kuat dan sehat hingga ratusan tahun – tetapi pengalaman hidupnya selama 75 tidaklah sedikit. Ia sudah memiliki banyak kenangan, ada hal-hal baru yang dibuat dan dibangunnya, yang kini semua harus ditinggalkan. Dibutuhkan tingkat hubungan yang tinggi sehingga di saat TUHAN berbicara, Abram pergi seperti yang difirmankan-Nya. Tiga hal yang dijanjikan TUHAN: Abram dibuat menjadi bangsa yang besar, nama Abram menjadi masyhur, dan Abram menjadi berkat.

Jika kita berada dalam posisi Abram, apa yang akan kita katakan? "Oh, TUHAN, Engkau tahu aku baru membuka ladang di sebelah sana dan tempat ternak di atas bukit. Aku baru membersihkannya dan mengusir binatang-binatang liarnya. Benarkah aku harus pergi?" Atau, "TUHAN, bagaimana ini, sekarang ternakku sudah ada begitu banyak. Ada begitu banyak kesulitan dan pengeluaran yang besar untuk suatu perjalanan…" Mengikuti perintah TUHAN untuk menjalankan perintah-Nya tidak mudah, juga tidak murah. Ketika seseorang sudah menetap dan menikmati hasil tangannya, dapatkah ia meninggalkannya?

Dalam suatu ketika, TUHAN juga menyuruh kita pergi. Ada yang harus ditinggalkan: kenyamanan dan rasa enak. Kepastian dan keamanan. Tempat kerja itu mungkin berisi kumpulan para penyembah uang, atau penyembah teknologi, atau popularitas dan kekuasaan – sesuatu yang sudah diusahakan bertahun-tahun, dan kini Tuhan mau kita pergi meninggalkannya. TUHAN mau kita memenuhi Firman-Nya, karena rencana-Nya jauh melampaui segala kenyamanan dan rasa enak dan kepastian dan keamanan Abram. Ada rancangan yang lebih besar daripada diri kita sendiri, dan adalah suatu anugerah untuk boleh ambil bagian di dalamnya. Itulah yang Abram lakukan: ia meninggalkan tempat tinggal dan ayahnya serta saudara-saudaranya. Itulah yang juga dapat kita lakukan, ketika TUHAN menunjukkan tempat yang baru bagi kita; perjalanan kita.

Mari! Terpujilah TUHAN!

Sabtu, 02 Januari 2010

Berkembang

Kej 8:15-17 Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi."

TUHAN memiliki kuasa untuk menekan tombol 'Reset' atas ciptaan-Nya. Demikianlah kita mengenal penuturan tentang dunia di jaman Nuh, itulah sebuah dunia yang penuh dengan kejahatan. Keadaan dunia begitu buruk, sehingga akhirnya tidak ada lagi gunanya untuk diteruskan apa adanya. Orang mungkin bertanya, "mengapa Allah tidak melakukan sesuatu sebelum keadaan menjadi begitu buruk?" Tapi itulah akibat langsung dari dosa, yaitu manusia mau menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, mau memilih sendiri jalannya tanpa kehadiran Tuhan – betapa pun ketika manusia ada dalam kesulitan, mereka mencari Tuhan!

Kejahatan itu sendiri berarti tiadanya kebenaran, dan orang tidak lagi memikirkan mengenai kebaikan – kecuali mungkin kebaikan bagi dirinya sendiri. Maka, ketika TUHAN membuat segalanya musnah, yang benar-benar hilang adalah keramaian dan kekacauan yang memenuhi bumi. Dunia dibersihkan, itulah yang dilihat Nuh ketika melangkah keluar dari bahtera itu. Satu demi satu mereka keluar dan mendapati dunia yang kosong, suatu tempat untuk mulai diisi, dipenuhi. Baik binatang yang terbang di udara atau binatang yang melangkah di bumi, semuanya berjalan keluar dan menemukan tempatnya sendiri untuk berkembang biak. Tuhan menginginkan mereka berkembang dan bertambah banyak di bumi.

Kadang, Tuhan juga melakukan hal yang serupa dalam kehidupan kita. Suatu ketika, kehidupan kita begitu buruk, begitu jahat – tidak ada gunanya, kumpulan kesia-siaan. Karena Tuhan begitu menyayangi kita, Ia menekan tombol reset dalam kehidupan kita, dan tiba-tiba saja kita kehilangan segalanya. Mungkin, kebakaran itu telah memakan semuanya. Barangkali, kejahatan itu telah merampas semua hasil usaha kita. Dunia kita yang tadinya kacau dan hiruk pikuk, tiba-tiba saja menjadi kosong. Apa yang sudah dibangun bertahun-tahun, lenyap begitu saja dalam waktu yang relatif singkat. Kita melihat, bahwa yang tersisa hanyalah diri kita sendiri – dan itu membuat kita frustasi.

Ingatlah Nuh! Semua yang dibanggakan manusia, kini lenyap. Tetapi kekosongan itu bukan sesuatu untuk ditangisi, sehingga melumpuhkan mental dan pikiran – tidak sanggup melangkah lagi. Bukan! Sebaliknya, Tuhan menginginkan kita mengisi dengan kehidupan baru. Dia mau kita berkembang, dan mengisi segalanya sesuai dengan rancangan-Nya. Dia mau kita membuat perbedaan, mengisi apa yang dari dahulu seharusnya ada di sana. Tuhan mau kita berkembang, mengisi relung-relung hampa, supaya kita memuliakan TUHAN, Allah semesta alam. Itulah bagian kita. Itulah jalan kita.

Berkembanglah! Terpujilah TUHAN!