1 Sam 8:7-8 TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.
Kehidupan Samuel berisi pengalaman langsung dengan TUHAN, sejak pertama kali ia mendengar panggilan-Nya di malam hari. Seumur hidupnya Samuel menjadi hakim atas bangsa itu, yang sudah berulangkali mengalami penindasan dan pembebasan. Itulah Israel yang diatur oleh para Hakim, yang semuanya menjadi wakil dari TUHAN yang melindungi bangsa itu setiap kali keadaan menjadi terlalu berat untuk ditanggung mereka. Tetapi Hakim-Hakim tidak cukup bagi orang Israel. Mereka tidak ingin diperintah oleh Allah yang tidak ada singgasananya di muka bumi. Mereka ingin raja.
Penolakan ini membuat kehidupan Samuel berubah total, demikian juga dengan kehidupan bangsa Israel. Apakah mereka tahu apa yang akan terjadi? Apakah mereka mengerti bahwa ketika orang menduduki tempat yang seharusnya diisi Allah, maka kekacauan dan kesusahan akan mengikuti di belakangnya? Itulah yang ditanyakan oleh Samuel, tetapi bangsa itu menjawab bahwa mereka menerima! Mereka sudah memilih, walaupun mereka tidak paham konsekuensinya! Dan kalau direnungkan, orang-orang Israel waktu itu tidak sadar bahwa mereka sedang menggadaikan kehidupan keturunan mereka kelak demi memuaskan keinginan saat ini.
Penolakan terhadap apa yang benar saat ini tidak selalu menimbulkan akibat saat ini juga – sebaliknya, anak-anak dan cucu-cucu dan cicit-cicit bangsa itulah yang harus menerima kesusahan. Orang seringkali menginginkan perubahan sekarang, termasuk menolak otoritas TUHAN dalam hidup, dan hal itu memuaskan mereka tanpa menyadari bahwa nanti anak-anak mereka akan menderita. Itulah yang dilakukan bangsa Israel sejak mereka keluar dari Mesir. Itu jugalah yang dilakukan bangsa itu terhadap Hakim mereka yang sudah tua. Rasanya hal ini bukan sesuatu yang asing…bukankah sekarang pun orang menolak Tuhan, menolak juga para hamba Tuhan?
Berapa banyak dari kita yang lebih suka memiliki 'kekuasaan' seperti yang dimiliki orang di dunia ini? Kita mau ada 'raja' dengan uang lebih banyak dan pengaruh lebih besar. Kita mendedikasikan diri bagi perusahaan dan bisnis, melebihi dedikasi untuk TUHAN. Dalam berusaha, strategi bisnis demi kemenangan lebih penting ketimbang prinsip-prinsip dari Alkitab. Bisnis dapat menjadi penguasa baru dalam hidup, tetapi kita mau mempunyai 'raja' seperti orang dunia lainnya. Tahu-tahu, orang yang saat mahasiswa jadi aktivis gereja, kini setelah kerja tidak lagi kebaktian Minggu. Yang tadinya halus dan sopan, kini menjadi kasar dan serakah – diajari untuk berbuat begitu. Tiba-tiba, ia seperti jadi orang lain, hidupnya berubah total. Tanpa TUHAN, perubahan itu menyedihkan, karena menggantikan apa yang penting di hari esok dengan apa yang memabukkan di masa sekarang. Belajarlah dari bangsa Israel, dan perhatikan bagaimana akhirnya!
Jangan menolak TUHAN. Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar